Liburan ke Penang

Di awal tahun, saya dan sepupu akhirnya bisa liburan bareng ke Penang. Biasanya kami hanya saling mengunjungi saat sedang berlibur ataupun bekerja ke kota masing-masing. Akhirnya keinginan lama kami untuk berlibur bersama terjadi juga!!

Koper dan Backpack

Ini bukanlah pertama kali saya ke Penang. Saat tahun 2016, saya pernah iseng sehari di Penang, untuk kali ini kami berlibur selama lima hari empat malam di Penang. Ngapain aja selama itu di Penang? Selain mendatangi tempat-tempat turis seperti kuil Kek Lok Si, Bukit Bendera, serta berkeliling George Town, saya pun bolak balik masuk ke toko buku serta cafe yang berada di sekitar George Town.

Saya pun sempat bertemu dengan seorang kawan selama saya mengikuti pelatihan menjadi guru Waldorf yang kebetulan tinggal di Penang sehingga saya sempat diajak untuk mengikuti makan malam keluarga di sebuah restoran vegan setelah mereka beberes rumah sebagai bagian dari Tahun Baru Imlek dan mengajak kami ke Avatar Garden.

Saya pun punya banyak waktu untuk bertukar pikiran dan cerita dengan sepupu selama di Penang. Selain itu tentu ada waktu kami sibuk sendiri-sendiri saat bengong di cafe. Seru sekali rasanya mengawali tahun baru dengan berjalan-jalan setelah hampir beberapa tahun terakhir tidak terpikir untuk jalan-jalan.

Mengejar Matahari Terbit di Angkor Wat

Saya selalu berusaha bertemu matahari terbit saat berada di sebuah kota maupun negara yang sedang dikunjungi. Sinar matahari pagi itu seperti memberikan energi positif dan penyemangat untuk menjalani hari yang baru. Walaupun saya bukan tipe orang yang senang bangun pagi, tapi demi bertemu matahari yang terbit diufuk Timur saya pun jadi bisa bangun sebelum alarm menyala.

Begitupun ketika berada di Siem Reap. Saya bercita-cita ingin melihat matahari terbit dari Angkor Wat. Saya, Teh Zen, dan Teh Win sudah janjian dengan supir tuk-tuk kami untuk berangkat pukul lima pagi. Malam harinya saya berusaha tidur lebih awal yang tetep aja failed karena baru tidur jam duabelasan. Alarm pun sudah dinyalakan dari mulai jam empat subuh hingga pukul empat lebih lima belas menit. Keesokan harinya, saya baru mendengar alarm saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Gawat!!! Saya telat bangun!!!

Saya segera membangunkan Teh Win dan Teh Zen sambil beranjak ke kamar mandi. Kebiasaan banget untuk selalu mandi sebelum pergi >.< . Setelah mandi kilat, gantian Teh Zen dan Teh Win yang ke kamar mandi dan bersiap-siap. Pukul lima lebih lima belas menit kami baru berangkat dari hostel.

Jarak hostel ke Angkor Wat kurang lebih tujuh hingga delapan kilo meter. Saya segera bersyukur sudah membeli tiket dulu kemarin, kalau tidak rasa-rasanya belum tentu kami sempat mengejar matahari terbit. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi dan kami baru dua pertiga perjalanan, saya sudah mulai pesimis tidak bisa melihat matahari terbit. Di dalam hati hanya bisa berdoa, Ya Tuhan YME kalau memang diridhai, semoga berjodoh bertemu dengan sang matahari terbit.

Di jalan menuju Angkor Wat, saya mulai melihat banyak tuk-tuk yang berjalan beriringan, para turis yang sedang mengendarai sepeda motornya, serta turis yang menggunakan sepeda. Kami semua mengejar waktu untuk bisa melihat matahari terbit.

Saat berada di pertigaan danau menuju Angkor Wat, saya pun melihat pemandangan yang menakjubkan. Warna oranye mulai terlihat dikaki langit. Saya, Teh Zen, dan Teh Win hanya bisa menahan nafas melihat pemandangan itu. Rasanya waktu berhenti sepersekian detik sebelum saya mulai mengeluarkan hp untuk merekam momen yang barusan saya rasakan.

IMG_0715

Tuk-tuk kamipun melaju semakin kencang untuk mengejar momen munculnya matahari dari balik tiga bangunan di Angkor Wat. saat akan berbelok ke sebelah kanan menuju pintu masuk Angkor Wat, kami merasakan ban sebelah kiri dari tuk-tuk kami terantuk kerikil dan menyebabkan ban tuk-tuk kempes. Saya sudah pasrah membayangkan tuk-tuk kami akan berhenti di pinggir danau. Ternyata saya salah. Supir kami tetap melajukan tuk-tuknya hingga batas pemberhentian. Kami segera turun dan menuju tempat para turis melihat matahari terbit.

Begitu sampai pintu masuk menuju Angkor Wat, langkah saya terhenti. Terpana melihat pemandangan di depan saya. Warna jingga menyilaukan perlahan naik di balik gerbang Angkor Wat. Saya cuma bisa bengong sebelum akhirnya mengikuti Teh Win dan Teh Zen untuk melihat matahari terbit dari jembatan. Ditengah keterpukauan kami, akhirnya kita memutuskan untuk duduk-duduk menikmati matahari terbit dari danau yang mengelilingi Angkor Wat.

IMG_0767

IMG_0773

Saya, Teh Zen, dan Teh Win menatap matahari terbit cukup lama hingga matahari naik di atas Angkor. Sesekali kami mengobrol tapi banyaknya bengong dan terkagum-kagum dengan indahnya pemandangan di depan. Kami juga sempat membuka perbekalan sarapan dan asyik sarapan dengan masih memandangi sang matahari yang beranjak naik.

IMG_0780

Kebahagian lain saat melihat matahari terbit adalah saya bisa melihat bulan yang berada tinggi di atas. Langsung heboh sendiri bisa merekam pemandangan yang jarang terlihat, bulan berada di atas sementara matahari berada di bawah.

IMG_0733

did you find the moon?

Sebenernya lokasi yang paling terkenal melihat matahari terbit itu berada di depan danau teratai di bagian dalam Angkor Wat. Dari bagian ini kita bisa memfoto matahari terbit dengan pantulan angkor wat di air danau. Tapi berhubung kami dateng telat, ngebayangin harus berdesakan mencari spot foto udah bikin males duluan. Untuk mendapatkan spot foto bagus, biasanya turis-turis sudah mulai berdatangan dari pukul lima pagi. Saya sendiri udah bahagia banget masih dikasi kesempatan memandangi matahari terbit dari danau di luar Angkor Wat. Ternyata jodoh dan rejeki itu emang ga akan ke mana. Buktinya saya masih dikasi kesempatan melihat matahari terbit dari Angkor Wat

Memperlambat Langkah di Siem Reap

Berada tiga hari di Siem Reap berarti menikmati hidup dalam mode lambat dan melakukan hal-hal yang saya sukai. Saya bisa berjam-jam berada di common room hostel tempat menginap untuk membaca novel sambil sesekali melihat jalan di luar yang panas dan sepi. Saya juga bisa berjalan santai menikmati hiruk pikuk turis dan masyarakatnya di sekitaran Pub Street dan Night Market.

IMG_0578

common roomnya bikin betah!!

Siem Reap menjadi tempat turis singgah untuk mengunjungi salah satu situs warisan dunia, Angkor Wat. Praktis dari pagi hingga sore di dalam kotanya tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Selain ke Angkor Wat, daerah wisata lainnya memang lebih banyak berada di luar pusat kota Siem Reap. Sebut saja Kulen Mountain yang terletak 60km dari kota atau Banteay Stray yang juga jauh dari kota, belum lagi ada Culture Village dan juga Floating Village di Kampong Pluk.

Untuk di dalam kota, kita bisa menikmati Angkor National Museum yang menjelaskan mengenai Kerajaan Khmer serta Kompleks Candi Angkor Wat. Untuk yang ingin duduk duduk santai, ada Royal Garden yang rindang tidak jauh dari Royal Palace. Kita juga bisa menelusuri The Old Market yang penuh dengan souvenir khas Kamboja hingga makanan khas Khmer. Supir tuk-tuk kamipun sempat menawarkan untuk mendatangi killing field yang langsung kita tolak.

IMG_0611

Di hari pertama Saya, Teh Zen, dan Teh Win menginjakkan kaki di Siem Reap, kami hanya bepergian ke Angkor National Museum sambil berkeliling kota. Menikmati hembusan angin di tengah panasnya Siem Reap. Saran saya jangan lupa pakai sun block biar ga kebakar. Sore harinya kami membeli tiket Angkor Wat yang terletak di bagian counter ticket agar besok subuh bisa langsung masuk ke Angkor Wat demi menikmati matahari tebit. Sebenernya apabila membeli tiket pukul lima sore, kita bisa masuk kawasan Angkor Wat secara cuma-cuma untuk melihat matahari tenggelam. Tapi kami lebih memilih melihat matahari tenggelam esok hari dan memutuskan untuk melihat Angkor Panorama Museum. Di dalam sini kita bisa melihat maket keseluruhan dari kawasan Angkor Wat yang mana luas banget!! Saya sampai bingung besok mau ke mana aja 😀 . Saat akan keluar dari Angkor Panorama Museum, hujan turun sangat deras. Akhirnya kita bengong dulu sambil nungguin hujan berhenti. Malam hari saatnya jalan-jalan di Pub Street dan Night Market untuk mencari souvenir, makanan, dan melihat-lihat kehidupan di malam harinya. Di sepanjang Pub Street kita ketemu banyak pedagang kaki lima yang menjual buah-buahan, durian, martabak telur, hingga makanan aneh seperti kalajengking dan kecoa. Di area Night Market saya mendapatkan buku mengenai Angkor Wat dengan harga 8 USD. Lumayan buat dibawa dan dibaca saat mengunjungi Angkor Wat besok.

IMG_0633

Ticket Counter

IMG_0665

Hari kedua sudah tentu kami seharian di Angkor Wat. Ini mah beneran dari matahari terbit hingga tenggelam kami menjelajah Angkor Wat. Kami hanya kembali ke kota saat makan siang untuk mencari makanan halal. Setelah itu kembali ke hostel sebentar sebelum akhirnya kembali lagi ke kawasan Angkor Wat. Malam harinya kami mencoba salah satu tempat pijat untuk pijat kaki. Maklum seharian dibawa jalan keluar, masuk, naik, dan turun candi membuat kaki saya, Teh Zen, dan Teh Wina pegel-pegel!! Nah di Siem Reap kita akan menemukan banyak banget tempat pijat mulai dari yang bagus sampai yang biasa banget. Dari yang harganya 1 USD sampai 30 USD. Semuanya tergantung mau pijat berapa lama.

IMG_2300

Angkor Wat

Hari ketiga pagi lebih banyak kami habiskan dengan menyelonjorkan kaki di hostel serta packing. Kami baru keluar dari hostel 30 menit sebelum waktu check out. Pokoknya memaksimalkan waktu yang dimiliki untuk selonjoran. Ini sih beneran pegel-pegel dan capek setelah kemarin menjelajahi Angkor Wat. Berhubung penerbangan kami di malam hari, backpack pun dititipkan dulu di hostel. Setelah itu kami berjalan-jalan ke Galleries yang berada di sebelah Angkor National Museum untuk membeli beberapa cinderamata khas Kamboja. Ini adalah kesempatan terakhir kalau mau beli oleh-oleh Kamboja karena nanti malam kami akan melanjutkan perjalanan ke Thailand. Kami juga sempat mengirimkan kartu pos untuk beberapa orang di Indonesia. Setelah itu kita berpikir untuk mencoba sebuah tempat kopi yang juga memiliki menu vegan. Kayaknya ada kali yah dua jam berada di sana untuk ngobrol, menikmati makanan dan minuman yang ada di sana. Kami pun berdiskusi akan ke mana lagi untuk menunggu malam tiba dan pergi ke bandara. Teh Win keingetan ingin mengunjungi beberapa sekolah yang ada di Siem Reap untuk keperluan tugas kuliahnya. Ternyata menyenangkan ya melihat beberapa sekolah di Siem Reap. Rata-rata sekolahnya memiliki halaman yang luas untuk anak-anak bermain. Supir tuk-tuk aja yang kayaknya bingung saat kami memintanya mengantar ke beberapa sekolah yang ada di Siem Reap 😀 .

Kayaknya selama di Kamboja ini kami memang lebih santai saat berjalan-jalan. Banyak duduk dan menikmati suasana yang ada di sekitar. Ini beneran kayak terapi buat saya yang seringnya grasa grusu dan mengerjakan banyak hal. Seperti dipaksa buat lebih tenang, rileks, dan menikmati semua hal yang ada disekitar mulai dari panasnya Kamboja, deretan rumah, mengobrol buanyak hal dengan Teh Zen dan Teh Win, serta mengistirahatkan badan. Menuliskan soal Siem Reap ini bikin saya kangen pengen balik lagi ke sana.

Kuala Lumpur: Batu Cave

img_5100

Batu Cave

Hari pertama di Kuala Lumpur, saya dan Dwi memilih untuk mengunjungi tempat paling mainstream di sana, Batu Cave. Sebelum ke sana, sempet baca dulu soal Batu Cave dari blog Mas Chocky dan Mas YayanMas Yayan. Kalau dari apartemen tempat menginap sih, kita tinggal jalan ke KL Sentral dan beli KTM Komuter jurusan Batu Cave seharga 2,5 MYR. Perjalanan dari KL Sentral ke Batu Cave lamanya 45 menit. Saya dan Dwi sih banyak ngobrol dan curhat colongan disertai dengan bercanda di setiap stasiun yang kami lewati.

Sampai di Batu Cave, saya segera melihat jadwal kereta selanjutnya menuju KL Sentral. Ternyata ada setiap jam. Semoga sempat mengejar kereta selanjutnya ya, karena kalau telat lumayan banget bengong nungguin keretanya.

img_5085

Patung Hanoman

Dari Stasiun Batu Cave, kita akan segera melihat pintu masuk dengan patung Hanoman yang menjulang di sebelahnya. Awalnya saya sempat bingung, di mana patung Dewa Muruga berada. Ternyata ketutupan pohon! 😆 Saya sempat penasaran dengan bangunan di dekat pintu masuk. Iseng melihat ke atas, ternyata salah satu kuil dari banyak kuil lainnya di kawasan Batu Cave. Saya melihat banyak orang yang lagi sembahyang dan juga memfoto bangunan dari dekat. Saya sih memilih turun dan berjalan menuju patung dewa yang tinggi banget itu.

img_5086

Salah satu kuil di Batu Cave

Saat di sana, saya melihat banyak turis Cina, Korea Selatan, maupun Jepang. Mungkin lagi peak season liburan untuk turis dari tiga negara ini kali ya. Walaupun begitu, jauh-jauh ke Batu Cave, ketemunya kok ya sama rombongan dari Farmasi Kampus Gajah!!

-_____-“

Saya sampai diam dulu dan memilih bermain sama merpati daripada foto dengan latar belakang turis yang bawa-bawa spanduk dengan lambang institut tersebut. Setelah turis-turis dari Bandung beres foto-foto, gantian saya sama Dwi yang foto-foto di spot sejuta umat ini. Setelah itu, kami pun berpikir bakal naik ga ya? Kalau dilihat waktunya, hmm memungkinkan sih. Sekalian melihat hasil lari beberapa minggu inikan ya. Jadilah kami berdua mencoba naik ke atas. Saya merasa bersyukur hari ini ga jadi pakai dress kebangsaan. Maklum, tangganya terjal banget!! Jadi walaupun terlihat tinggi, ini lebih karena terjalnya tangga. Saat ditengah jalan, saya rada serem juga melihat ke bawah.

Sampai di atas kita akan melihat Goa dengan beberapa kuil dan patung di dalamnya. Saya melihat tidak ada pemandu atau orang yang bisa ditanya mengenai patung-patung yang dibuat di dalam sini. Akhirnya saya lebih tertarik melihat bagian atas gua. Kami pun melihat ada tangga lagi menuju ke atas. Sepertinya ada kuil lagi di atas sana, jadilah kami kembali menaiki anak tangga. Pemandangan di atas wouw banget!! Bisa melihat langit dari dalam gua itu selalu menarik!! Saya pun melihat banyak yang mengantri untuk bersembahyang di sini.

img_5134

img_5138

Suasana di dalam Gua

img_5136

Jalan menuju kuil paling atas

img_5154

Kuil yang berada paling atas

Asyik melihat bagian atas gua, saya penasaran melihat jam. Eh ternyata tidak selama yang saya bayangkan untuk naik ke atas dan kami masih punya sekitar 15 menit untuk mengejar kereta berikutnya. Saya segera memberi tahu Dwi yang juga setuju untuk mengejar kereta. Segeralah kami berfoto untuk terakhir kalinya sebelum turun dari gua. Perjalanan turunnya mendebarkan!! Efek bisa melihat terjalnya tangga kali ya. Kita berdua sampai ga ngobrol sepanjang jalan saking fokusnya menuruni tangga.

Sampai di bawah, waktu mulai mepet. Kita berjalan cepat menuju stasiun yang berjarak ga sampai lima menit. Begitu tiba di stasiun, kami segera beli tiket dan buru-buru turun tangga. Asemnya, begitu turun tangga pintu KTM Komuternya ketutup dong. Belum berangkat sih, baru ketutup banget. Iseng saya coba buka pintunya, ga berhasil. Duh males bangetkan kalau harus nunggu kereta berikutnya >< . Dwi pun mencoba kembali, sekarang sedikit lebih menekan pintunya. Berhasil!!! Yeay!! Segera kami masuk dan duduk. Alhamdulillah ya berhasil masuk kereta dengan selamat 😀

Singapore: Shophouse The Social Hostel

IMG_8255one of the friendly staff

When I went to Holiday last February, my friends and I prefer to stay at Shophouse The Social Hostel. It located 5 minutes by walk from Bugis MRT, near Bugis Market, just a minute to Sultan Mosque, across Haji Lane, and a lot of cafe and restaurant. For the price? It just around 18 SGD!!!

At first, I was afraid to see the dorm bedroom since it wasn’t spring bed like another hostel. But after I figure it out, It was not as bad as I thought. Maybe because I lower my expectation, so what I got there really great experience.

The front desk really friendly, helpful, kind, and tell us about the tourist place around hostel. The first floor of this hostel is cafe. My friends ate there at second night we slept and said that it was delicious. The second floor is No Man’s Land for woman dormitory, the third is The Loft dorm consist of eight and 12 beds, and the fourth is Social Room consist of 12 beds , and the last floor was rooftop to eat breakfast and chill out.

IMG_8254working Title cafe

IMG_7872the computers

IMG_7873the pantry

At No Man’s Land or woman  dormitory, there are two rooms that consist of eight and 12 beds. For room with 8 beds, there is no window there. I really support you to choose beds that near the window. You can see the cute cafe around Arab Street. For one bed, there is a pillow, blanket, electrical sockets, individual lockers, and reading lights. There are also four bathrooms in this floor, but the toilet is become one with bathroom. So maybe if you not really use to it, it will be little bit inconvenient. What I love in here, they also provide you with iron, hairdryer, soap, and shampoo.

IMG_8250my dormitory

IMG_8253the bathroom

Another thing that I love is social terrace. In the rooftop, you will see room to get your breakfast and free use of the computers. Beside that there is also social lounge. There are board game, movies, television, and also books. There is also social terrace with beautiful view of Kampong Glams and Singapore buildings. My friends and I really love to sit back and talking about everything at the evening. In the morning, it was really interesting to see view from Singapore in the morning and enjoy our breakfast. We can chat with other  people in the social terrace. Event we went for Holiday at Singapore, we still see another Indonesian in here 😆 .

IMG_7888breakfast!!

IMG_7875Scenery around hostel

If you want to know more about Shophouse The Social Hostel, please visit their website.

Singapura: Henderson Wave

IMG_7890

Salah satu keinginan ketika ke Singapura adalah mengunjungi Henderson Wave yang terletak di Henderson Road, sekitar 5 halte bus dari Harbour Front. Memang ga semua orang tahu soal jembatan ini, karena bukan daerah turis. Untuk orang Singapuranya sendiri, jembatan ini lebih sebagai tempat istirahat ketika joging.

Apa yang membuat Henderson Wave istimewa? Buat saya sih jembatan ini menarik karena terbuat dari kayu!!  Selain itu jembatan untuk manusia tertinggi di Singapura ini memiliki pemandangan yang indah banget. Februari kemarin, saya berhasil meracuni temen-temen seperjalanan buat mendatangi jembatan ini.

IMG_7944Henderson Wave dari tangga

Kita sengaja dateng ke sini sebelum main ke Universal Studio Singapore dan ga nyesel dateng pagi-pagi. Matahari masih bersahabat dan sepi!! Kita turun di halte Henderson Road dan bengong liat jembatan yang tinggi banget. Saya sempet ga enak dengan temen-temen seperjalanan karena perjalanan menuju ke atas ini lumayan terjal, kudu melewati puluhan anak tangga. Udah berasa kayak mau ke kuil shaolin!!

IMG_7896puluhan anak tangga menuju Henderson Wave

Tapi semua kelelahan menuju Henderson Wave terbayar kontan saat berada di atas. Pemandangannya indah banget!! Kita bisa ngeliat laut, hutan, hingga deretan gedung. Lengkap deh. Saya juga dibuat kagum dengan deretan kayu yang membentang vertical, beneran membentuk gelombang. Sambil mengagumi pemandangan, kita duduk-duduk menikmati angin sepoi-sepoi.

IMG_7891how can I am not falling in love?

IMG_7892laut, gedung, dan hutan

IMG_7897hari yang cerah di Henderson Wave

Henderson Wave ini merupakan jembatan kayu yang memisahkan dua taman yang luas di Singapura. Kalau sore-sore ke sininya, kita bisa menikmati sunset yang cantik banget. Henderson Wave-nya sendiri juga cantik karena bakal ada lampu-lampu yang membuat suasana sore semakin hangat. Dengan kecantikan yang dimiliki Henderson Wave, ga aneh kalau tempat ini sering dipakai untuk foto pre wedding. Saat saya berkunjung pun tak lama sudah ada sekumpulan orang yang bersiap untuk foto pre wedding.

IMG_7925Berjalan di Henderson Wave

Untuk yang ingin melihat Singapura dari sudut lain, Henderson Wave bisa jadi pilihan. Tinggal bawa cemilan dan kita bisa piknik di atas sini ditemani angin sepoi-sepoi dan pemandangan indah. Kalau solo traveling, duduk di sini dan baca novel bisa jadi pilihan. Berhubung ini ‘hanya’ sebuah jembatan, tentu tempat ini buka 24 jam dan bisa dinikmati kapan saja 🙂 .

Bali: Garuda Wisnu Kencana

IMG_1116Garuda Wisnu Kencana Culture Park

Buat yang sering ke Bali, udah khatamlah ya soal Garuda Wisnu Kencana Culture Park yang terletak di bagian Selatan Bali. Saya sih penasaran aja sama tempat yang satu ini karena belum pernah 😀 . Saya makin tertarik karena seniman yang membuat patung Wisnu dan Garuda ini, I Nyoman Nuarta bermukim di Bandung dan bahkan punya galeri seni. Walau saya belum pernah ke galerinya yang bernama Nu Art, ga ada salahnya kalau melihat hasil karya beliau lewat patung Wisnu dan Garuda yang belum jadi dulu.

Saya dengar pembangunan patung GWK ini sempat berhenti karena krisis moneter dan di tahun 2013 kembali di bangun. Akan tetapi pembangunan patung GWK ini sedikit berbeda dengan sebelumnya karena akan dibangun baru. Ketika kesana tahun 2014, saya lihat bagian Selatan dari GWK memang sedang dikeruk untuk dijadikan bagian dari patung yang baru. Saya baru tahu kalau untuk pembuatan patung GWK ini, I Nyoman Nuarta melakukannya di Bandung, kemudian memindahkan potongan-potongan tersebut ke Bali. Besok-besok saya mesti ke Nu Art nih, siapa tahu bisa lihat potongan-potongan patung GWK yang sedang dikerjakan 😀 .

Kalau sekarang ke GWK Culture Park, mungkin sudah  bisa melihat pembangunan patung GWK yang baru. Selain patung dan kerennya pemandangan dari atas bukit, kita juga bisa melihat sendra tari yang selalu diadakan di amphitheater-nya.

IMG_1118Belakang saya adalah cerita Garuda Wisnu Kancana yang terdiri dari empat panel

IMG_1121Patung Wisnu tanpa lengan

IMG_1131Kepala Garuda

IMG_1161Pertunjukan tari di amphitheater

Saat saya ke sana jam 2 masih terlalu panas. Kalau mau lebih baik ke sana sekitar jam 3 atau 4 aja, biar lebih adem.

Garuda Wisnu Kencana Culture Park
Jl. Raya Uluwatu, Ungasan, Kuta Selatan
Badung 80364, Bali-Indonesia
Website: www.gwkbali.com