Geus Lila

Ternyata tulisan terakhir itu tanggal 10 Maret 2017!! *bebersih sarang laba-laba di blog*

Sejak tanggal 10 itu, saya punya banyak kegiatan dan urusan yang bikin susah nulis. Mulai dari masuk kantor dan ngerjain semua printilannya, ngurusin persiapan ke negeri gajah, di negeri gajah selama dua minggu tanpa laptop, pulang-pulang ada kerjaan lagi dan ikut training buat persiapan ambil data penelitian dosen, dan kembali lagi bekerja tiap hari. Walau sibuk tapi aku tetep happy!!

Semua orang yang ketemu pun pada bilang kalau muka saya cerah dan bersinar.  Padahal itu lagi capek-capeknya loh. Mungkin efek lulus kali ya, jadi beban terberatnya terangkat dan membuat langkah saya ringan. Makanya meskipun sibuk, tapi semuanya memang dijalani dengan sadar dan semangat. Ga berasa ada beban walau kerjaan banyak.

Sudah lama saya tidak bercerita di sini. Beberapa minggu ga nulis itu ternyata bikin gatel ya. Banyak banget yang pengen diceritain dan dibagi. Semoga semuanya bisa ditulis ya 😀 .

Meski ga sempet nulis, saya masih menyempatkan diri untuk blog walking. Jadi ga jauh-jauh juga sih dari urusan ngeblog. Cuma memang ga nulis aja. Akhirnya lebih sering update instagram ataupun ig-story.

Walau baru sebulan setengah ga nulis, saya udah ngeliat perubahan pad atampilan dashboard dan post wordpress. Paling kerasa kagok itu ngeliat post setting-nya jadi di sebelah kanan ya.

baiklah mari kita kembali menulis. Semoga nulis blognya bisa selancar jaman nesis dulu ya. Aamiin!!

*Geus lila = sudah lama (Bahasa Sunda)

Cerita Tesis (2)

img_7207

Sebelumnya baca cerita tesis (1) dulu ya 😀

Oktober 2016 kemarin, saya membuat sebuah langkah besar dalam tesis. Saya diizinkan untuk melakukan seminar proposal usulan penelitian!! Akhirnya setelah menanti satu tahun lebih serta perjuangan siang-malam dari bulan Agustus kemaren, penelitian saya dianggap cukup layak maju seminar.

Saat mau mengumpulkan proposal penelitian, dramanya bukan main. Saya stres karena masih ngerasa bab 2-nya bagai remahan rempeyek. Ga banget deh buat dimajuin seminar. Seminggu saya sampai mual ngerjain kerangka pikir di bab 2. Rasanya pengen kabur lagi. Tapi kalau kabur terus kapan beresnya coba?! Akhirnya baca lagi jurnal, teori, dan bongkar pasang kata-kata biar pas. Tidak hanya kerangka pikir, saya nyaris lupa ngeberesin bab 3 yang ga sistematis. Masih campur sari banget deh. Tapi waktu pengumpulan semakin dekat dan ga mungkin buat mundur. Akhirnya tetep dikerjain siang dan malam, semaksimal yang saya bisa.

H-1 pengumpulan saya masih ngerevisi bab 2, bab 3 serta ngerjain printilan. Printilan ini ternyata bikin senewen juga!! Gampang sih, tapi menyita waktu dan kudu teliti juga. Saran saya buat yang lagi tugas akhir, skripsi, ataupun tesis mending dicicil deh bikin printilan kayak kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar pustaka, sampai lampiran.

Saat hari pengumpulan, ada kejadian yang sebenernya bakal bikin bahagia kalau ga terjadi saat saya lagi buru-buru buat ketemu pembimbing. Pagi itu saya masih niat mau bimbingan draft final sama pembimbing sebelum ditandatangan dan dijilid ke fotokopian. Saya sengaja udah dandan rapi dan semi formal saat ke kampus jam tujuh pagi. Eh waktu mau belok ke lobi pascasarjana diteriakin satpam dong!! Diminta buat naek via basement karena dikira anak S1.

—______________________—“

Jadi lantai 5 gedung pascasarjana ini sering banget dipakai buat S1 kuliah. Berhubung anak-anak S1 ini sering bergerombol dan berisik, jadilah mereka ga dibolehin masuk lewat lobi. Kalau keadaannya lagi tenang dan cuma ngerjain tesis ke perpustakaan sih saya ga akan bete. Tapi waktu itukan lagi buru-buru mau ketemu pembimbing, jadilah mas satpamnya saya jutekin sambil bilang “saya mau ketemu kaprodi” dan tetep jalan menuju lobi. Langsung mingkem deh mas satpamnya.

Seminggu setelah pengumpulan draft, saya pun seminar proposal penelitian. Saat seminar ini, saya udah pasrah. Mau ditanyain atau disanggah mah sok aja. Sepanjang seminar pun saya selalu mengingat kata-kata pembimbing tercinta buat melihat sisi lain dari seminar yaitu buat bantu saya melihat penelitian ini dari sisi yang lain, sehingga bolongnya penelitian bisa ditutupin sebelum ambil data. Jadilah saya makin pasrah ngejalanin seminar proposalnya.

Hasil yudisium seminar proposalnya diumumin hari itu dan saya boleh melanjutkan penelitian!! Alhamdulillah!!! Yosh saatnya ngerevisi kerangka pikir dan alat ukur sebelum mulai ambil data. Apalagi waktunya mepet banget sama libur semester, natal, dan tahun baru kemaren.

Delapan Tahun Menulis

Rasanya baru kemarin saya menulis soal tujuh tahun di tanggal 23. Lalu sekarang sudah telat dua hari dari tanggal ulang tahun blog. Saya menulis di wordpress ini merupakan ajang untuk mengasah kemampuan menulis. Semacam naik kelas dari nulis di diari soal randomnya hari-hari yang dilalui 😀 . Saya ga tahu apakah kemampuan menulis saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Kalau feedback pembimbing soal penulisan tesis sih, saya masih jauh dari kata sempurna. Kadang penggunaan s-p-o-k saat menulis kalimat aja masih berantakan. Masih belum sistematis!!

Semoga bisa lebih sering lagi menulis, berbagi pengalaman, dan pemikiran di sini. Delapan tahun, mau ngomong ga kerasa kok yah bohong banget. Tulisan-tulisan di sini sudah merupakan rekam jejak dari perjalanan panjang hidup saya.

Saya selalu percaya bahwa angka delapan itu unik. Coba perhatikan baik-baik deh, angkanya membentuk garis tidak terputus dan bisa dibaca sebagai infinitity. Beda dengan angka-angka yang lain.

Well, happy birthday my dearest blog. Terima kasih wordpress sudah menjadi rumah untuk blog saya selama delapan tahun 🙂

Cerita Tesis (1)

Have you ever feel that you can’t do anything? your optimistic was drown, and all leave you was sorrow and lonely.

That is my feeling when I do my last task. Lebay bener yaaaakkkk!!!! Sampai ngerasa sesak nafas sendiri. Lelah banget rasanya. Semacam dementor yang mengambil semua kebahagiaan di dalam diri. Saya sampai pusing dan mual selama lima bulan ini. Rasanya pengen dadah-dadah aja ke kamera, nyerah!! Efek tesis bener-bener sungguh luar biasa.

Perasaan waktu ngerjain skripsi dulu ga gini-gini amat deh. Ngerjain laporan untuk sidang profesi yang berjumlah delapan aja ga segininya loh!! Tapi proses tesis ini, serasa dihempaskan semua deh nilai-nilai yang dipunya, idealisme yang dimiliki ketika berbenturan dengan realita, bahkan orang-orang yang dikira perhatian ternyata basa basi doang, dan yang dikira cuek ternyata benar-benar akan menolong di saat kritis. Edan bener!!! Kok rasanya macam cobaan hidup tingkat dewa. Pertanyaan kapan kawin langsung terlihat ringan dibandingin proses ngerjain tesis.

I feel like I am going to throw up!! Dasar anaknya butuh aja orang buat diskusi, diajak bertukar pikiran, atau meluruskan benang yang kusut di otak. Masalahnya saya kan ga bisa egois ngajak orang-orang buat ngelurusin benang kusut diotak saya. Mereka juga punya kehidupan dan kesibukan. Jadi yang ada saya berdialog tentang banyak hal dengan diri sendiri. Jadi semacam berkontemplasi terus-terusan. Mumet ama pikiran sendiri. Revisian? Maju dikit banget ciiinnn. Sampai akhirnya ketika dititik parah, saya kembali menulis. Berkat menulis saya mulai kembali menerima kalau tesis itu harus diselesaikan, bukan dihindarin. Karena masalah yang dihindarin itu malah nambah perih!! Semacam acceptance gitu 😀 . Jadi kalau tiba-tiba ada tulisan penuh kontemplasi kemaren-kemaren, berarti itu usaha saya untuk meluruskan benang kusut di otak.

Disetiap kesulitan itu ada kemudahan

Di saat mulai tenang, mulai menerima kenyataan dan tahu apa yang mesti dilakukan, tiba-tiba ada satu dua orang yang membantu. Memang mereka ga selalu ada di dekat saya. Tapi beneran deh, saat krusial dan dibutuhin banget, atau saat saya udah lemah dan putus asa, tiba-tiba aja gitu bantuan dateng. MasyaAllah….indah banget ya Allah. Memang, bantuan dari orang-orang itu ga akan ada saat saya lagi menye-menye atau manja, tapi saat krusialnya tetep aja loh ada di samping dan ngebantuin saya dengan cara mereka masing-masing. I love you guys from the moon and back!! It makes me remember what I wrote to my self in Penang. “The one who still beside you, who care of you, always be near you”. So don’t worry.

Mungkin prahara ini hanya terjadi di jurusan saya aja kali ya, atau lebih tepatnya untuk jurusan psikologi profesi.  Tekanannya sama edyannya untuk setiap jurusan profesi. Mau yang klinis dewasa, klinis anak, pendidikan, sosial, hingga industri dan organisasi. Tidak sedikit yang mengundurkan diri, pindah ke jurusan lain, pindah ke universitas lain, ataupun di DO karena sudah lebih dari 4/5 tahun. Bukan barang aneh kalau profesi psikologi ini paling cepet bisa keluar adalah 2,5 tahun. Tinggalkan impian lulus 1,5 tahun, bisa frustrasi nantinya. Eh saya ga tahu ya ke depannya bisa apa engga, kayak kejadian di S1 yang sekarang bukan barang aneh bisa lulus psikologi cuma 3,5 tahun depan IPK di atas 3. Kalau dulu..err kayaknya jungkir balik juga ga akan mampu 3,5 tahun *dadah dadah sama anak Unpad, Unisba, dan Marnat Bandung*.

Jadi gimana kabar tesisnya? Masih dikerjain. Ini pun saya sedang rehat sebentar ngerevisi tesis. Semoga segera selesai, aamiin!!

Berkesadaran

Masa lalu sudah berlalu, masa depan belum terjadi. Lalu mengapa cemas? Mengapa takut? Yang benar-benar kita miliki adalah saat ini, jadi sadarlah!! Panggil kembali pikiran-pikiran yang untuk pulang, ke saat ini. Sehingga badan dan pikiran ada di sini.

Menjadi sadar, menjadi mindful, bukan berari menjadi optimis maupun berpikiran positif. Tetapi menjadi sadar, berarti lebih aware dengan sekitar. Mengambil sedikit jarak, melihat sekitar, serta memberi ruang untuk pikiran dan hati berdialog. Sehingga apa yang kita lakukan bukanlah sesuatu yang reaktif dan impulsif, tetapi merespon dengan kesadaran penuh.

Menjadi sadar berarti tahu kalau sedang tidak sadar. Tidak berarti harus memaksa memikirkan saat ini. Tetapi kembali menyadari apa yang sedang dipikirkan. Tidak berusaha mengubah pikiran yang sedang pusing. Tetapi menyadari kepusingan yang ada dipikiran.

Menjadi sadar berarti mengakui apa yang sedang terjadi. Merangkul rasa. Baik bahagia, sedih, positif, negatif, serta sakit yang sedang dirasakan. Mencoba untuk menerima dan mengasihi.

Sebenarnya ketika kita sedih, marah, senang, kesal, kepada siapa semua itu tertuju? Orang lainkah? Atau diri sendiri? Emosi adalah masalah diri sendiri. Ketika terluka, saya lah yang bisa menyembuhkan luka batin yang ada dengan belajar menerimanya, merangkulnya.

Hidup itu jangan dibawa serius dan rumit. Toh hidup itu bukanlah suatu perlombaan. Ga ada yang menang dan kalah. Hidup itu ga ada yang abadi. Kesenangan akan berlalu, begitu pula dengan kesedihan.

Jadi tenanglah….
sadari saya masih bernafas…
menarik nafas dan keluarkan pelan-pelan…
terima…kasih….

*Terima kasih Mas Adjie Silarus untuk sesi ngobrol sejenak soal mindfulnes 🙂
**Ditulis pertama kali di tumblr

Viatikara: Untuk Dia yang Mencintai dan Ingin Dicintai

129apple_img_9274

Saya jarang punya kesempatan untuk melihat pentas tari. Selain ga ada temen, ga tahu infonya juga. Kayaknya terakhir kali menonton adalah wayang orang yang ditampilkan dalam rangka “Tanggap Warsa”-nya PSTK ITB. Makanya saat mama memberikan tiket untuk menonton Pentas Tari Viatikara, saya bahagia banget.

Viatikara adalah grup tari yang sudah berusia 55 tahun!! Pertama kali dibentuk tahun 1961 oleh dua orang mahasiswa, Paul Kusardy dan Tanaka Hardy yang bekerja sama dengan Drs. Barli Sasmitawinata. Tema yang diusung grup tari ini adalah nasional Indonesia modern. Jadi tidak melulu tari tradisional yang dipelajari. Selama pertunjukkan pun banyak tari modern yang dipentaskan.

129apple_img_9276

Om Jaka Bimbo

Acara malam itu dimulai sedikit terlambat. Beruntung di tengah penonton ada Om Jaka Bimbo *akrab* yang diminta untuk bernyanyi sebelum acara dimulai. Selain itu kalau diperhatikan, penonton yang datang adalah oma dan opa yang ingin melihat kembali pentas tari Viatikara yang legendaris. Ada juga penonton yang datang sebagai bentuk support untuk temannya yang menari *salah tiganya adalah mama dan uwa-uwa*. Jangan salah, penari-penari yang pentas berusia mulai dari 20an hingga 60an loh!! Makanya selain menonton pentas tari, mereka pun datang sekalian reuni dengan teman-teman jaman sekolah dulu. Saya aja sampai dicuekin sama mama dan uwa. Mereka bertiga asyik menyapa teman-temannya, saya sibuk ngeliat kiri kanan. Siapa tahukan ketemu *jodoh* yang dikenal atau seumur.

 Pentas tarinya terdiri dari tiga bagian, di mana tari yang dipertunjukkan pun berbeda-beda. Bagian yang pertama dibuka dengan rampak kendang yang keren banget naikin suasana pentas. Dilanjut dengan tari kunang-kunang yang indah banget. Properti lampu kecil dan lampu panggung yang diredupkan sukses membuat seolah penonton melihat kunang-kunang berterbangan. Tarian pun dilanjutkan dengan tari potong padi, tari angin timur, serta rebana. Pada bagian kedua ada tari selendang sutra, tari nelayan, tari putri gunung, dan tari pemetik teh. Tarian di bagian kedua ini lebih memperlihatkan kehidupan masyarakat dari daerah pantai, gunung, maupun suasana berkebun.

129apple_img_9317

Tari Puteri Gunung

Bagian ketiga dari pentas tari Viatikara adalah bagian favorit saya!! Bagian ini merupakan drama musikal berjudul hari yang cerah. Menceritakan mengenai hari pernikahan antara dua suku: Minang dan Sunda. Kedatangan tamu dari berbagai suku turut memeriahkan acara pernikahan. Mereka menyajikan tarian dari Sumatera Utara, Minang, Kalimantan Timur, hingga Ambon. Kerasa banget keberagaman suku dan tarian di Indonesia. Saya senang sekali ketika mempelai pria yang berasal dari Sunda memasuki ruangan diiringi lagu Malam Bainai. Hatiku hangat. Drama musikal ini pun ditutup dengan mengangkat gelas sembari menyanyikan lagu Lisoi.

129apple_img_9319

Sedang mempersiapkan pelaminan

129apple_img_9320

Tari Tempurung

129apple_img_9321

Mempelai perempuan sudah hadir

129apple_img_9326

Berbagai suku memberikan selamat untuk pengantin

Saya tidak berhenti untuk takjub dengan tarian yang dipentaskan. Latar panggung, pencahayaan, suara, musik yang dilakukan secara live, hingga penyanyi yang bersuara prima menambah keindahan pentas tari.

Selesai pertunjukan, mama dan uwa sempat berpamitan dengan teman-temannya. Tadinya sih pengen menyapa teman SMA mereka yang sempat menari, tapi berhubung udah malem jadi kami memutuskan pulang duluan. Teman-teman SMA-nya yang lain sih masih pada ngobrol dong!! Warbiyasak sekali opa dan oma ini…malah saya yang berasa tua, udah ngantuk aja jam sepuluh x_x .

Mencoba Menu Vegan Di Fortunate Coffee Bandung

Satu lagi nih tempat menyepi yang rada nyempil, Fortunate Coffee. Letaknya di Kebon Sirih. Kalau dari arah Stasiun Bandung, jalannya tepat disamping  gubernuran. Saya tahu tempat ini dari seorang teman. Katanya selain kopinya yang enak, makanan yang ada di sini adalah jenis makanan vegan!! Jadi penasaran sama tempatnya. Karena itu, setelah berkeliling dari Festival Bandung Mendongeng, saya menyempatkan diri ke sini.

Begitu sampai, wah tempatnya beneran nyempil dan hijau banget!!! Resmi bakal jadi tempat kesukaan saya buat duduk lama nih. Begitu masuk ke dalam, suasananya asli enak banget untuk menyendiri ngerjain tesis *oh tesis ini emang belum kelar kelar T__T*. Sayangnya, di sini saya ga ngeliat ada colokan. Jadi pastiin aja baterai laptopnya full ya.

img_9114

Suasana di Dalam Fortunate Coffee

img_9117

Fortunate Bread

Tempatnya juga instagramable!! Banyak sudut yang bisa dibuat untuk tempat swafoto. Di setiap mejanya pun ada quote mengenai waktu. Paling menarik adalah jam yang terletak di bagian belakang. Awalnya saya pikir hanya bentuknya saja yang seperti jam. Ternyata jam asli loh!!

img_9110

Jam

img_9112

img_9120

Pilihan Kopi

Untuk pecinta kopi, di sini banyak pilihan kopinya!! Saya sih nyobain pesenan temen: susu kedelai yang dicampur dengan es kopi. Ini menarik, karena semakin mencair si es kopi, semakin terasa kopinya. Enak banget!!! Sedangkan saya sendiri sih pesen orange joyful. Rasanya asem seger!!

img_9123

Es Kopi dan Susu Kedelai

img_9127

Orange Joyful

Makanannya sendiri saya memesan nasi capcay spesial. Maklum lagi laper, jadi butuh nasi. Nasinya terdiri dari capcay, rumput laut yang digoreng kering, dan dua buah sate yang dibuat dari gluten. Saya langsung jatuh cinta sama rumput laut gorengnya!! Enak bangetttt!! Satenya juga enak!! Ga kerasa lagi makan gluten.

img_9125

Nasi Capcay Spesial

Saya juga nyicipin spaghetti mushroom punya temen. Enak banget!! Saos tomatnya ringan dan seger. Duh lain kali ke sana mesti pesen ini. Sayang ga sempet difoto karena yang punya makanannya kelaperan.

img_9111

Game Board

Buat yang iseng ke sini, mereka juga menyediakan buku bacaan loh. Kemarin yang saya lihat sih buku-buku berisi gaya hidup sehat dan juga vegan. Selain itu di sini juga ada board game seperti kartu, catur, halma, congklak, atau ular tangga. Tapi saya ga ngubek banyak sih, soalnya lebih memilih ngobrol sama temen.

img_9113

About Time

Lain kali saya pasti ke sini lagi buat ngerjain Tesis atau numpang makan sehat 😀

Fortunate Coffee
Jln. Kebon Sirih No.21A
Open daily 10.00-21.00
Instagram: @fortunatecoffeebandung