Hal-hal yang Dilakukan untuk Mengurangi Kecemasan

Judulnya panjang banget yaaaa!!!! Buat saya dengan berada di dalam rumah dan membaca whats app grup dari beberapa grup dengan berita yang simpang siur mana hoax dan mana yang benar, membuat saya punya kecemasan yang tertekan di dalam pikiran. Pada akhirnya ini mempengaruhi perubahan pola makan saya yang jadi tidak terkontrol alias banyak banget ngemilnya!!! Memasuki minggu kedua ini berat badan saya udah naik!! Ada juga yang semakin stres lihat berita ataupun grup-grup wa ga?

Saya yakin ga sendirian yang merasa sepert ini, apalagi dengan semakin bertambahnya jumlah yang terpapar Viruskorona ini. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kecemasan? Saya punya beberapa hal yang telah saya lakukan sendiri untuk mengurangi kecemasan:

  1. Membangun ritme hidup
    Dengan semua orang ada di dalam rumah dan punya berbagai kewajiban yang harus dilakukan, penting untuk mulai membangun ritme yang baru selama berada di rumah. Kapan harus bekerja, istirahat, menemani anak belajar, dan kapan saatnay untuk berhenti bekerja. Jangan sampai jam kerja yanng tadinya jam 9-17 berubah jadi 24 jam. Begitupun saat harus bekerja, untuk membangun suasana kerja, dandan sedikti atau menggunakan baju semi formal bisa menjadi pilihan.
  2. Berjemur di bawah sinar matahari
    Taman di dalam rumah serta balkon adalah tempat terbaik untuk berjemur di pagi hari. Vitamin D yang ada di sinar matahari pada pukul 09.00 – 11.00 bagus banget untuk badan. Apalagi kalau terlalu sering di dalam rumah, saya bawaannya suka gloomy, jadi dengan berjemur bisa mencerahkan suasana hati juga. Bisa juga berjemur sambil piknik dan tetap masih di rumah aja.
  3. Menggunakan mode mute untuk grup-grup whats app yang banyak update berita soal viruskorona. Kalau mau tahu soal berita terkini, alangkah baiknya langsung mengecek di aplikasi atau website kanal berita. Mengecek berita ini pun saya lakukan maksimal hanya dua kali dalam sehari. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk membentengi diri dan tetap menentramkan hati.
  4. Meditasi mindfulness
    Sekarang ini di google play atau apple store sudah banyak banget aplikasi terkait hal ini dan bisa bantu banget untuk mengurangi kecemasan. Aplikasi yang saya gunakan untuk meditasi biasanya adalah headspace. Aplikasi ini punya pilihan untuk belajar meditasi mindfulness untuk 3, 5 dan 10 menit. Jadi buat pemula enak banget belajarnya.
  5. Makan yang sehat serta tidur yang cukup juga membantu banget untuk mengurangi kecemasan dan memulai hari dengan lebih segar dan tenang.
  6. Olahraga
    Di rumah aja bukan berarti ga olahraga ya. Ada banyak program work out, yoga, ataupun zumba di hp. Kalau saya dan beberapa teman, kita sengaja video call untuk yoga bareng via google duo.
  7. Membereskan barang-barang yang ada di rumah
    Dengan kita selalu di rumah apalagi dengan terlalu banyak barang, ternyata bisa menimbulkan kecemasan tersendiri loh. Kegiatan membereskan barang-barang ini bisa sebagai terapi untuk mengurangi kecemasan. Soal in saya pernah bikin satu tulisan tersendiri.
  8. Kalau sudah mulai bosan dan ga ada temen ngobrol, saatnya untuk menyapa atau video call dengan teman-teman yang juga lagi di rumah aja bisa membantu untuk meningkatkan hormon kebahagiaan, karena pada akhirnya sebagai manusia kita tetap perlu interaksi sosial.

Kurang lebih ini adalah hal-hal yang saya lakukan untuk mengurangi kecemasan selama social distance dan di rumah aja. Kalau teman-teman yang lain biasanya apa yang dilakukan?

Kebutuhan dan Ego

Tulisan ini dibuat sebagai hasil observasi, renungan, dan pertanyaan yang saya ajukan sejak hari kedua saya menginjakkan kaki ke Kota Haram (Madinah dan Mekah). Sejak manasik umrah di minggu kedua Februari 2020, saya dan rombongan sudah diwanti-wanti oleh pembimbing kami untuk tidak ngoyo dan memaksakan untuk melaksanakan ibadah sunnah di tempat-tempat yang katanya paling mustajab atau paling sering dikabulkan doanya. Alasannya adalah karena semua orang tentu ingin mendapatkan keutamaan-keutamaan yang ada di tempat-tempat tersebut dan apabila sudah begitu, maka terkadang lebih banyak merugikannya dibandingkan faedahnya seperti jadi menyikut orang lain, mendobrak pembatas, mengambil jalan orang lain, bahkan secara ga sengaja mencelakakan orang lain. Jangan sampai demi doa kita dikabulkan, orang lain mendapat kerugian.

antrian jamaah perempuan saat ke Raudhah

Awalnya saya ga pernah terbayang bahwa hal-hal yang dikatakan di atas ini akan benar-benar saya lihat dan rasakan sendiri. Terbayangnya ibadah umrah ini kan tidak akan sepenuh seperti saat musim haji, jadi tentu akan lebih kosong yang mana tentu salah besar!!! Meski ‘hanya’ umrah, menurut saya jamaah yang berdatangan pun tetap buanyak dan berbagai negara. Saya bahkan ga sanggup memikirkan akan sepenuh dan berdesakan seperti apa ketika musim haji. Tentu cobaan untuk ga julid dan murka akan semakin besar. Sebuah informasi, Kota Madinah dan Mekah disebut tanah Haram karena selama di sana balasan akan pikiran, perkataan, dan perbuatan benar-benar akan dibayar tunai 100%. Sesimpel seperti mama dan kakak ipar saya yang kesal dengan sekelompok orang yang sering telat masuk ke bus tur kita, siangnya kita dong yang paling telat masuk bus!!

Balik lagi ke soal kebutuhan dan ego, saya melihat betapa banyaknya orang -dan mungkin saya sendiri- yang sempat memaksakan untuk bisa melakukan ibadah tanpa memperhatikan apakah sebelah saya tetap merasa nyaman atau tidak, tidak mengganggu ruang orang lain, bahkan ada yang mendorong demi bisa masuk ke tempat seperti Raudhah dan juga Hijr Ismail. Ada yang memotong jalan tanpa memperhatikan kiri dan kanannya demi bisa menyentuh Hajr Aswad. Melihat kesemuanya membuat saya termenung, beginilah hidup. Kadang kita tidak sadar sudah menyikut, mendesak, atau bahkan melompati orang lain demi bisa mencapai tujuan kita. Begitupun untuk menginginkan sesuatu yang menurut kita demi kepentingan yang mulia tapi pada prosesnya banyak menyakiti pihak-pihak lain. Benarkah sesuatu yang kita tuju ini adalah penting dan untuk kepentingan banyak orang atau sebenarnya niatan sebenarnya justru untuk memberikan makan kepada ego yang ada di dalam diri?

Apapun tujuannya, sikap kitalah yang akan memberikan jawabannya. Sepandai-pandainya kita menutup-nutupi, saat dikeadaan yang paling menantang dan genting seperti demi masuk dan menunaikan ibadah di tempat yang paling mustajab, di saat itulah niatan kita akan terlihat. Kesadaran untuk dapat mencapai tujuan pun menjadi terlihat. Mana orang yang masih sadar dan berusaha tidak merugikan orang lain atau pun ada yang kehilangan kesadaran dan menjadi emosi.

Saya jadi ingat sebuah pesan dari seorang teman yang tinggal dan bekerja di Ubud. Ubud memang terkenal dengan suasana yang tenang dan damai serta menjadi tempat retreat untuk banyak orang. Tetapi apabila tidak berhati-hati banyak juga yang pada akhirnya menjadi tidak sadar dan masuk terlalu dalam ke prosess retreat yang mereka lakukan di Ubud. Sesuatu yang juga saya lihat ketika berada di Mekah.

Semoga kita semua pun tetap dalam keadaan sadar dan tidak memenuhi keinginan dan ego semata.

Sebelas Tahun Bersama WordPress

Tepat tanggal 23 Januari 2020 lalu blog saya berulang tahun yang kesebelas. Sebelas tahun!!! Kalau punya anak, ia akan tamat SD tahun depan :D.

Meskipun tahun lalu jumlah tulisan saya sedikit sekali, namun setidaknya blog ini terus berjalan. Mungkin jumlah pembacanya tidak banyak, namun saya menulis blog dengan niat mengkristalkan isi kepala dan perasaan secara digital, jadi yah lanjut terus deh menulisnya.

Sebelas tahun bukan waktu yang sebentar, banyak sekali perubahan yang terjadi dari ranah blog sendiri. Teman-teman yang menulis blog sudah semakin berkurang. Awalnya saya merasa dengan semakin mudahnya informasi didapatkan, kegunaan blog sudah semakin menurun. Ternyata tidak sepenuhnya tepat. Mau sehingar bingar apapun tiktok, youtube, instagram, dan twitter; pada saat mencari sebuah catatan perjalanan, informasi mengenai suatu tempat, ataupun melihat informasi terkait pendidikan, fashion, dan beberapa isu lain, blog tetap menjadi pilihan saya. Mungkin karena sifatnya yang personal dan (terkadang) detail bisa membantu saya mendapatkan informasi yang subyektif. Tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang pun mulai jarang orang yang menulis blog tanpa disertai dengan ngiklan, namun tetap terasa loh mana tulisan yang ditulis secara personal dengan yang memang hanya sebagai kewajiban karena sudah diundang ke acara tertentu.

Apapun yang terjadi di dunia digital ini, saya pribadi tetap ingin menuangkan tulisan di blog wordpress. Saya ga tahu apakah perubahan tulisan dari awal ngeblog degan sekarang sudah jauh berubah atau belum, tapi yang pasti cerita-cerita dan perjalanannya semakin berbeda. Pasti lah, dulu saya masih berkutat dengan tugas kuliah, sedangkan sekarang saya berkutatnya dengan pekerjaan 😀 , pengalaman, drama, dan apa yang bikin bahagia di hidup pun sudah berbeda. Semoga saya masih bisa bercerita lebih banyak lagi di sini.

Halo 2020!!

Di awal tahun ini banyak sekali kejadian yang datang silih berganti. Mulai dari senang dan sedih benar-benar datang bergantian. Berlibur bersama sepupu ke Penang serta berkesempatan menonton konser Super Junior menjadi pembuka tahun yang menyenangkan. Soal jalan-jalan dan nonton konser ini akan saya tulis terpisah. Selain hal-hal yang bikin senyum ini, beberapa kali saya mendengar kabar duka dari kerabat jauh yang meninggal, ada yang sedang sakit, serta terkena banjir di Jakarta.

Awal tahun yang luar biasa! Semoga sepanjang tahun nanti kita semua mendapatkan kesabaran, kelapangan, dan keterbukaan untuk hal-hal yang akan terjadi kelak. Baik hal yang baik, menyenangkan, menyebalkan, atau menyedihkan.

Selain itu, di tahun ini saya ingin kembali rajin menulis mengenai hal-hal yang ingin saya bagikan maupun dikristalkan secara digital di sini.

Selamat tahu baru!!!

Ngobrolin Kedai Kopi

Sudah lama sejak terakhir saya duduk lama dan diam menikmati suara hujan di dalam sebuah kedai kopi. Saya rasa sejak akhir tahun lalu, setiap ke kedai kopi rasanya selalu riuh. Mulai dari ngobrol random dengan orang yang baru saya kenal di sebuah kedai kopi yang berakhir jadi teman makan bareng dan jadi ngobrol setiap ketemu. Ini beneran random kan?! Kalau engga saya sengaja ke kedai kopi yang sepi tapi untuk bekerja. Kalau udah selesai dan ingin mencari keriuhan tinggal ke kedai kopi yang itu dan saya akan ketemu banyak orang untuk mengobrol.

Berdiam di sebuah kedai kopi yang hangat, sendiri, menyelesaikan pekerjaan, dan membuat sebuah tulisan di blog, dan berakhir melihat hujan. Kayaknya kalau tidak kejebak hujan, saya tidak menyadari hal ini deh.

Mencari kedai kopi yang hangat, enak, tidak berisik, dan harga bersahabat itu gampang-gampang susah. Ada yang enak, tempatnya tidak terlalu nyaman. Ada tempat yang nyaman, sepi, dan hangat, tapi harganya terlalu over price. Akhirnya setelah beberapa bulan ini, saya menemukan lagi melalui sebuah kedai kopi di dekat rumah. 

Terkadang memang kita perlu mencari untuk bisa menemukan kembali titik keseimbangan dalam hidup. Di saat saya ingin menyeimbangkan diri dari riuhnya ketika bekerja di kedai kopi tertentu, saya kembali mencari di mana saya bisa bekerja dengan ketenangan. 

Bukan berarti saya ga suka keriuhan ya, saya senang sekali lewat sebuah kedai kopi, kita bisa bertemu dengan teman dan menjadi kawan ataupun rekan kerja. Saya selalu mengusahakan untuk ke sana di akhir minggu untuk melepas penat setelah bekerja selama seminggu. Bertemu dengan orang-orang yang sama lelahnya dengan kerjaan dan pengen ketawa-ketawa menghadapi akhir pekan.

Ah akhir tahun sudah diujung sana, selamat berlibur, selamat menjelang akhir tahun.

Pengalaman Melakukan Psikososial di Sulawesi Tengah

Tidak terasa hampir sepuluh bulan yang lalu sejak saya menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah. Di sebuah provinsi yang setahun lalu dilanda gempa berkekuatan besar yang menyebabkan tsunami serta likuivaksi di beberapa daerah.

Saya pun tidak pernah terbayang akan pergi ke tempat pasca bencana tersebut untuk membantu anak-anak sekolah dasar di sana melalui kegiatan psikososial. Mengapa bukan trauma healing? Hal ini dikarenakan penanganan terhadap trauma secara psikis baru terlihat setelah empat hingga enam bulan setelah kejadian. Untuk penanganan pertama pasca bencana alam yang perlu dilakukan adalah memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Memastikan kembali mereka memiliki ritme hidup yang sempat berantakan pasca bencana terjadi.

Saat itu saya datang ke Sulawesi Tengah setelah dua bulan bencana terjadi, yaitu di bulan Desember. Rasa was-was dan cemas sudah pasti melanda. Ini akan menjadi pertama kalinya saya turun ke tempat bencana. Terbayang di benak bahwa saya masih akan melihat puing-puing bangunan dan juga tenda-tenda darurat pengungsian. Benar saja, saat sampai di bandara Palu, saya masih dapat melihat kabel-kabel yang menggantung. Sepanjang jalan pun saya dapat melihat runtuhan rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang miring. Tenda-tenda pengungsian masih terpasang di mana-mana. Namun Palu mulai bangkit. Pasar-pasar mulai kembali hidup, beberapa toko dan warung sudah kembali buka, beberapa pengungsi sudah mengosongkan tenda dan kembali ke rumah, beberapa lainnya kembali membangun rumah yang sempat hancur, serta beberapa jalan pun sudah ramai dilalui oleh kendaraan.

Selama di Sulawesi Tengah, saya serta tim yang terdiri dari guru-guru, beberapa orang dari Wanadri yang sudah biasa menghadapi bencana bepergian dari satu SD ke SD yang lain untuk bermain bersama dengan anak-anak. Tujuan dari bermain ini adalah untuk mengurangi trauma yang mereka alami dengan menggunakan prinsip-prinsip metode Waldorf, salah satu metode pengajaran yang sedang saya pelajari sejak beberapa tahun terakhir ini. Saya sungguh bersyukur dikaruniai tim guru-guru yang pernah mengikuti Pedagogical First Aid yang diberikan oleh tim Friends of Waldorf bagian emergency education program -yang merupakan organisasi nirlaba yang sering bepergian ke lokasi bencana serta zona perang- saat mereka sedang membantu mencegah terjadinya stress jangka panjang pasca bencana. Kami semua mengerjakan apa yang kami bisa untuk dapat membantu anak-anak menyesuaikan diri dan meminimalisir trauma pasca gempa.

Setiap hari kami berpencar, pergi ke dua hingga tiga sekolah untuk melakukan psikososial. Kegiatan yang biasanya dilakukan adalah membentuk lingkaran, bernyanyi, memberikan hiburan, bermain secara kolaborasi, serta memberikan dongeng yang dapat membantu mereka melalui masa-masa berat di pengungsian. Semua kegiatan dan gerakan yang diberikan memiliki makna untuk membentuk kembali ritme hidup yang berantakan dan memberikan semangat kebersamaan kepada semuanya.

Pengalaman yang luar biasa. Saya banyak sekali belajar mengenai kerja sama tim, saling mengkomunikasikan apa yang ingin dikerjakan, apa yang perlu dilakukan dalam situasi yang serba terbatas, serta meluruskan niat untuk dapat membantu anak-anak di daerah Kota Palu dan Kabupaten Sigi.

Semoga semua yang dikerjakan melalui hati ini dapat dirasakan dan membuat anak-anak serta orang dewasa yang kami temui sedikit terobati, aamiin.

Bulan Pertambahan Usia

Bulan Agustus merupakan bulan kontemplasi dan juga bulan saya bertambah usia. Kalau tahun lalu banyak hal yang terjadi, tahun ini saya banyak merasa. Berbagai perasaan datang silih berganti, mulai dari perasaan seru, senang, asyik, kaget, sedih, tak berdaya, lega, semua dirasakan. Lagi-lagi saya pun memikirkan apa yang bisa dilakukan agar saya tidak berenang dan berlarut-larut dalam perasaan ini. Merasakan dan menyambut semua perasaan memang perlu, tapi diingat itu semua adalah tamu di hati kita, jadi jangan membuatnya tinggal hingga berminggu-minggu di sana.

Pengalaman setahun ini pun tidak kalah kaya. Banyak hal baru yang saya lakukan, ada kesempatan-kesempatan yang datang dan saya ambil. Beberapa ada yang saya lepas, namun beruntung tak ada yang jadi sesal.

Beberapa hari lalu saya seperti mendapat jawaban dari keresahan hati dan pertanyaan beberapa bulan terakhir ini. Saya sempat bertanya-tanya apalagi yang harus saya selesaikan saat ini hingga saya menjadi tidak fokus dengan apa yang harus dikerjakan. Saat tersadar, cukup jauh saya berjalan dan akhirnya memilih untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan saat ini.

Di akhir bulan saya mendapatkan pencerahan mengenai masalah dan halangan yang perlu dihadapi selama hidup. Seringan atau seberat apapun rintangan akan selalu datang di dalam hidup. Bentuknya bisa macam-macam dan apapun itu memiliki tujuan untuk membuat kita menjadi lebih baik. Sesederhana ketika saya memaksa diri untuk bisa menghapalkan dongeng untuk kegiatan klab ibu dan anak. Dari dulu saya ga pernah suka dengan hapalan, itu pula yang membuat saya memilih untuk masuk IPA dibandingkan IPS. Bulan ini saya dipaksa untuk dapat menghapalkan dengan tepat sebuah dongeng yang menurut saya cukup panjang. Mungkin terdengar sederhana, tapi ini lumayan bikin stres loh!!

Baru kali ini saya merasa umur itu bukan hanya masalah angka, tapi selalu ada tujuan dan maksud sendiri-sendiri dari umur yang menempel di kita.