Desember

129apple_img_9458

Sudah Desember lagi aja ya!! Time flies!! Beneran ga kerasa banget setahun sudah hampir berlalu. Hal ini mengingatkan saya kembali akan tantangan dari BEC di awal tahun, soal kata yang akan mewakili setahun ini. Saat itu saya memilih kata “learn” alias belajar. And I got a lot of lesson to learn this year.

Saya belajar banyak hal baru, mendapat insight terhadap banyak pandangan, menanyakan banyak hal menggenai hidup, belajar merendahkan sisi egois dalam diri, mencoba untuk mudur selangkah, berhenti sejenak, banyak berbicara dengan orang lain dan diri sendiri, serta menyelesaikan setiap masalah yang ada. Terakhir tentu saja menyelesaikan tesis.

Saya belajar hal baru tahun ini. Saya belajar untuk menjahit, merajut, sampai membuat mainan dari kayu!! It was really fun to learning something new. Saya pun belajar lebih dalam lagi mengenai sistem pendidikan Waldorf dari Rudolf Steiner dan semakin mencintai pendekatan Waldorf. Untuk hal ini saya berterima kasih ke keluarga besar Jagad Alit yang mau mengajarkan dan berdiskusi dengan saya. Apalagi tahun ini ada Horst Hellman dan Edith Van Der Meer yang datang ke Bandung untuk berbagi mengenai kurikulum Waldorf, mendongeng untuk anak, mendisiplinkan anak, menjaga ritme hidup, menyederhanakan parenting, hingga menghadapi dua pola asuh yang berbeda. Saya mendapatkan pandangan baru untuk melihat permasalahan yang berkaitan dengan pendidikan dan anak-anak. Tentunya hal ini langsung saya terapkan ketika ada yang curhat soal anaknya ke saya.

Persepsi saya banyak berubah tahun ini. Saya menjadi kenal lebih dekat dengan beberapa orang dan melihat hal-hal lama dalam sudut pandang yang baru. Menyegarkan sekaligus membuat saya bertanya lebih banyak tentang hal yang lain. Yah apalagi dengan drama pilkada dan printilannya ini. Saya jadi lebih mengetahui siapa orang-orang disekitar saya dan bagaimana cara pandang mereka. Beberapa membuat saya terkejut, yang lain membuat saya sadar sejauh mana sebaiknya saya memberi garis batas.

Desember ini, saya mulai dengan banyak bertemu teman yang sudah lama tidak bertemu. Meluangkan waktu untuk mendengar kabar dari mereka semua. Tahun ini saya belajar bahwa setiap orang yang datang ke dalam hidup saya memiliki tempat tersendiri di hati.

Ngomongin tesis, bulan Agustus kemarin saya kembali ganti terapi loh. Iya, tiga kali ganti!!! Luar biasa!! Saya belajar untuk tidak mempertahankan idealisme dan ego saya. Udah buntu kak buat ngasi alasan logis ke pembimbing. Jadilah saya mengambil langkah mundur dan alhamdulillah, akhirnya pembimbing setuju dengan terapi yang saya ajukan. Empat bulan dari situ, disinilah saya bersama si tesis yang sedang memasuki babak akhir. Terima kasih banyak untuk doa, semangat, kritikan, dan juga bantuan-bantuan dari semua orang.

Bulan Desember, Bandung juga masih suka hujan. Apalagi hujan hari ini, gerimmis tipis tipis kesukaan saya. Tentu saja cokelat hangat menjadi teman yang setia menemani dalam suasana seperti ini. Kopi? Oh saya masih minum kopi kok. Tapi belakangan kembali ke asal, minum cokelat. Soal hujan dan Bulan Desember, saya langsung teringat lagu Efek Rumah Kaca. Yuk dengerin lagunya🙂

Soal tahun depan, saya punya beberapa rencana acak. Tapi saya tidak tahu, setelah lulus pintu mana yang akan terbuka lebih dulu. Manapun yang terbuka lebih dulu, maka itulah yang terbaik. Setahun belajar mengenai mindfulness membuat saya lebih sadar dan waspada dengan sekeliling. Menikmati setiap hari yang saya jalani. Melihat banyak hal dan ekspresi orang-orang.

Melihat Nu Art Lebih Dekat

129apple_img_9430

Bagian depan Nu Art

Saya sudah lama penasaran dengan NuArt Sculpture Park, sebuah galeri seni yang berada di area Setra Duta. Setiap mau ke sini, ada aja halangannya. Mulai dari hujan ga ada temen, ga ada kendaraan, hingga lagi dipugar. Sebenernya, galeri yang satu ini deket banget dari rumah. Ga perlu jauh-jauh kayak ke Selasar Sunaryo. Tapi, saking deketnya malah belum sempat untuk menginjakkan kaki di galeri ini.

Akhirnya saya berkesempatan ke sini secara dadakan. Memang ya kalau direncanakan itu suka ga jadi aja, sedangkan kalau ngedadak malah jadi. Awalnya karena saya penasaran dengan foto-foto yang diunggah seorang teman di instagramnya. Kemudian tak disangka ia mengajak saya untuk ke sana karena sedang ada pameran. Pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya ke NuArt jugaaaa!!

129apple_img_9441

NuArt Sculpture Park ini baru saja selesai di renovasi tahun ini. Sehingga berbeda dengan sebelumnya, sekarang apabila ingin masuk ke dalam Nu Art, kita perlu membayar Rp.50,000,- untuk umum dan Rp.25,000,- untuk mahasiswa. Hiduplah kartu mahasiswa jadi bisa diskon 50%!!! Jangan lupa pula untuk menitipkan tas di bagian depan.

129apple_img_9445

Galerinya sendiri terbagi menjadi dua bagian, bagian dalam dan taman. Saat ini dibagian dalam sedang ada karya Pak Nyoman Nuarta yang berkolaborasi dengan Pak Nasirun. Untuk cerita lengkap soal ini, akan saya tulis terpisah ya.

129apple_img_9447

Salah satu karya favorit saya

Sedangkan bagian taman terdapat amphitheater untuk pertunjukan tari, musik, ataupun yang mau yoga bareng. Di sekitar taman ini, kita juga dapat melihat karya-karya Pak Nyoman Nuarta seperti paus, macan tutul, dan lain lain.

Di bagian belakang agak ke bawah, terdapat workshop Pak Nyoman Nu Arta. Kemarin sih saya melihat sedikit bagian dari proyek Garuda Wisnu Kencana. Yups, semua bagian Garuda Wisnu Kencana itu dikerjakannya dari Bandung, kemudian dibawa ke Bali.

129apple_img_9448

Berasa musim gugur

 

129apple_img_9459

Cokelat hangat dan hujan

 

129apple_img_9473

Me in a dreamland

Saya sih paling suka bagian tamannya. Rasanya adem dan asyik banget buat bengong atau piknik gitu. Kalau ingin bengong sambil berkhayal, di bagian amphitheater ada tempat buat duduk di bawah pohon. Paling seneng rasanya bengong di sana sambil melihat ke arah sungai.

img_9528

Tempat tenang buat nesis

Untuk yang laper, dibagian dalam ada sebuah restoran untuk duduk sambil menikmati suara aliran sungai yang berada di samping Nu Art. Apabila sekedar ingin minum dan menikmati suasana Nu Art, ada sebuah coffee shop di bagian depan, lengkap dengan colokan listrik. Coffee shop ini juga merupakan tempat nyaman untuk mengerjakan Tesis, karena tidak terlalu ramai dan bisa memandang ke arah taman. Adem banget!!!

Berkesadaran

Masa lalu sudah berlalu, masa depan belum terjadi. Lalu mengapa cemas? Mengapa takut? Yang benar-benar kita miliki adalah saat ini, jadi sadarlah!! Panggil kembali pikiran-pikiran yang untuk pulang, ke saat ini. Sehingga badan dan pikiran ada di sini.

Menjadi sadar, menjadi mindful, bukan berari menjadi optimis maupun berpikiran positif. Tetapi menjadi sadar, berarti lebih aware dengan sekitar. Mengambil sedikit jarak, melihat sekitar, serta memberi ruang untuk pikiran dan hati berdialog. Sehingga apa yang kita lakukan bukanlah sesuatu yang reaktif dan impulsif, tetapi merespon dengan kesadaran penuh.

Menjadi sadar berarti tahu kalau sedang tidak sadar. Tidak berarti harus memaksa memikirkan saat ini. Tetapi kembali menyadari apa yang sedang dipikirkan. Tidak berusaha mengubah pikiran yang sedang pusing. Tetapi menyadari kepusingan yang ada dipikiran.

Menjadi sadar berarti mengakui apa yang sedang terjadi. Merangkul rasa. Baik bahagia, sedih, positif, negatif, serta sakit yang sedang dirasakan. Mencoba untuk menerima dan mengasihi.

Sebenarnya ketika kita sedih, marah, senang, kesal, kepada siapa semua itu tertuju? Orang lainkah? Atau diri sendiri? Emosi adalah masalah diri sendiri. Ketika terluka, saya lah yang bisa menyembuhkan luka batin yang ada dengan belajar menerimanya, merangkulnya.

Hidup itu jangan dibawa serius dan rumit. Toh hidup itu bukanlah suatu perlombaan. Ga ada yang menang dan kalah. Hidup itu ga ada yang abadi. Kesenangan akan berlalu, begitu pula dengan kesedihan.

Jadi tenanglah….
sadari saya masih bernafas…
menarik nafas dan keluarkan pelan-pelan…
terima…kasih….

*Terima kasih Mas Adjie Silarus untuk sesi ngobrol sejenak soal mindfulnes🙂
**Ditulis pertama kali di tumblr

Viatikara: Untuk Dia yang Mencintai dan Ingin Dicintai

129apple_img_9274

Saya jarang punya kesempatan untuk melihat pentas tari. Selain ga ada temen, ga tahu infonya juga. Kayaknya terakhir kali menonton adalah wayang orang yang ditampilkan dalam rangka “Tanggap Warsa”-nya PSTK ITB. Makanya saat mama memberikan tiket untuk menonton Pentas Tari Viatikara, saya bahagia banget.

Viatikara adalah grup tari yang sudah berusia 55 tahun!! Pertama kali dibentuk tahun 1961 oleh dua orang mahasiswa, Paul Kusardy dan Tanaka Hardy yang bekerja sama dengan Drs. Barli Sasmitawinata. Tema yang diusung grup tari ini adalah nasional Indonesia modern. Jadi tidak melulu tari tradisional yang dipelajari. Selama pertunjukkan pun banyak tari modern yang dipentaskan.

129apple_img_9276

Om Jaka Bimbo

Acara malam itu dimulai sedikit terlambat. Beruntung di tengah penonton ada Om Jaka Bimbo *akrab* yang diminta untuk bernyanyi sebelum acara dimulai. Selain itu kalau diperhatikan, penonton yang datang adalah oma dan opa yang ingin melihat kembali pentas tari Viatikara yang legendaris. Ada juga penonton yang datang sebagai bentuk support untuk temannya yang menari *salah tiganya adalah mama dan uwa-uwa*. Jangan salah, penari-penari yang pentas berusia mulai dari 20an hingga 60an loh!! Makanya selain menonton pentas tari, mereka pun datang sekalian reuni dengan teman-teman jaman sekolah dulu. Saya aja sampai dicuekin sama mama dan uwa. Mereka bertiga asyik menyapa teman-temannya, saya sibuk ngeliat kiri kanan. Siapa tahukan ketemu *jodoh* yang dikenal atau seumur.

 Pentas tarinya terdiri dari tiga bagian, di mana tari yang dipertunjukkan pun berbeda-beda. Bagian yang pertama dibuka dengan rampak kendang yang keren banget naikin suasana pentas. Dilanjut dengan tari kunang-kunang yang indah banget. Properti lampu kecil dan lampu panggung yang diredupkan sukses membuat seolah penonton melihat kunang-kunang berterbangan. Tarian pun dilanjutkan dengan tari potong padi, tari angin timur, serta rebana. Pada bagian kedua ada tari selendang sutra, tari nelayan, tari putri gunung, dan tari pemetik teh. Tarian di bagian kedua ini lebih memperlihatkan kehidupan masyarakat dari daerah pantai, gunung, maupun suasana berkebun.

129apple_img_9317

Tari Puteri Gunung

Bagian ketiga dari pentas tari Viatikara adalah bagian favorit saya!! Bagian ini merupakan drama musikal berjudul hari yang cerah. Menceritakan mengenai hari pernikahan antara dua suku: Minang dan Sunda. Kedatangan tamu dari berbagai suku turut memeriahkan acara pernikahan. Mereka menyajikan tarian dari Sumatera Utara, Minang, Kalimantan Timur, hingga Ambon. Kerasa banget keberagaman suku dan tarian di Indonesia. Saya senang sekali ketika mempelai pria yang berasal dari Sunda memasuki ruangan diiringi lagu Malam Bainai. Hatiku hangat. Drama musikal ini pun ditutup dengan mengangkat gelas sembari menyanyikan lagu Lisoi.

129apple_img_9319

Sedang mempersiapkan pelaminan

129apple_img_9320

Tari Tempurung

129apple_img_9321

Mempelai perempuan sudah hadir

129apple_img_9326

Berbagai suku memberikan selamat untuk pengantin

Saya tidak berhenti untuk takjub dengan tarian yang dipentaskan. Latar panggung, pencahayaan, suara, musik yang dilakukan secara live, hingga penyanyi yang bersuara prima menambah keindahan pentas tari.

Selesai pertunjukan, mama dan uwa sempat berpamitan dengan teman-temannya. Tadinya sih pengen menyapa teman SMA mereka yang sempat menari, tapi berhubung udah malem jadi kami memutuskan pulang duluan. Teman-teman SMA-nya yang lain sih masih pada ngobrol dong!! Warbiyasak sekali opa dan oma ini…malah saya yang berasa tua, udah ngantuk aja jam sepuluh x_x .

Malaysia: Berkeliling Kuala Lumpur

Seharian keliling Kuala Lumpur itu bisa banget dilakukan. Apalagi dengan adanya Bus GoKL yang mempermudah kita untuk bepergian ke daerah wisata. Hal pertama yang saya lakukan ketika sampai Kuala Lumpur adalah mencari toko Vinci buat nyari sandal😆 . Bukan berarti di Indonesia ga ada sih, hanya saja di Bandung tokonya udah tutup. Jadi mumpung ke Kuala Lumpur, sekalianlah mencari si sandal. Nyari sandal ini susah susah gampang loh karena kaki saya rada unik: panjang dan kurus. Di Bandung aja saya susah banget nemu sandal yang cantik di kaki, jadilah mumpung di Kuala Lumpur saya sekalian mencari sandal😀 .

img_5166

Menara Petronas

Saya dan Dwi memulai perjalanan dari KL Sentral. Sempet masuk dulu ke Suria KLCC buat berburu Vinci, ga dapet lah sandal yang diinginkan. Jadi kita naik GoKL menuju Bukit Bintang. Sempet masuk ke Pavillion, Fahrenheit, dan lihat Jalan Alor juga, tapi apa daya si sandal yang dicari ga ada dong😦 .Dari kawasan Bukit Bintang, kita sempat naik GoKL lagi menuju Petaling Street buat nyari oleh-oleh. Petaling Street ini adalah China Town-nya Kuala Lumpur. Kebanyakan barang yang dijual adalah tas, sandal, jam, dan dompet dengan berbagai merk. Saya sih iseng aja muter-muter di sini dan sempat ngobrol sama beberapa penjualnya.

img_5196

Bagian samping dari Pasar Seni

Dari Petaling Street sebenernya tinggal jalan kalau mau ke Pasar Seni. Di sinilah tempat buat beli oleh-oleh. Mau beli gantungan kunci, kaos, tas etnik, pembatas buku, topi, cokelat, hingga pashmina, semua ada di sini. Di Pasar Seni juga ada food court loh. Jadi kalau kelaperan abis belanja, bisa makan di lantai duanya. Harga makanannya pun relatif murah. Oia kalau mau beli gantungan kunci atau kulkas, lebih murah di Petaling Street dari pada Pasar Seni.

img_5830

Lompat dengan latar belakang bangunan Sultan Abdul Samad

Selesai belanja, kita bisa jalan menuju dataran tinggi Merdeka. Sambil jalan, kita akan melihat Mesjid Jamex dari kejauhan. Sayang saat lewat sana, daerah Mesjid Jamex lagi direnovasi. Apabila kita jalan dari belakang Pasar Seni, kita akan berjalan sampai Muzium Tekstil. Deket dong ternyata!! Di sekeliling Dataran Merdeka kita dapat melihat berbagai museum seperti muzium tekstil, muzium muzik, Kuala Lumpur City Galleries, Royal Selangor Club, Katedral St. Mary The Virgin, dan Bangunan Sultan Abdul Samad. Saran saya, kalau mau ke Dataran Merdeka mending pagi atau sore. Kalau siang panas banget kak!!

img_5723

Muzium Muzik

img_5787

Kuala Lumpur City Galleries

Saya sempat memasukin Muzium Muzik dan melihat koleksi alat musik dan perpaduan alat musik Melayu. Sedankan di Kuala Lumpur City Galleries kita akan melihat cerita mengenai Kuala Lumpur dari foto dan miniatur. Atraksi paling kerennya ada di lantai dua saat melihat keseluruhan Kuala Lumpur lewat miniatr, gambar, dan video. Selain itu kita bisa membeli merchandise dari kayu yang dibuat di sini. Saat masuk Kuala Lumpur City Galleries, kita mendapatkan voucher seharga 5MYR yang bisa ditukar untuk membeli merchandise ataupun minuman. Di bagian luar galeri ada tulisan besar “I love KL”. Tentu saja sebagai turis, saya sempat berfoto di sana😀 .

img_5739

Di dalam Kuala Lumpur City Galleries

img_5840

Katedral St.Mary The Virgin

Saya pun sempat duduk santai di taman dekat Katedral. Di sana ada kolam yang bikin pengen ngerendem kaki saking panasnya. Saya juga sempat menengok ke dalam katedralnya. Indah banget bagian dalamnya!! Kayu-kayunya yang besar menopang langit-langit katedral. Sayang ga sempet foto bagian dalemnya.

img_5876

happiness!!

Puas menjelajah Dataran Merdeka, saya dan Dwi kembali ke KL Sentral untuk beli cokelat di supermarket mallnya. Harga cokelatnya lebih murah kakak!!! Setelah puas main dan belanja oleh-oleh, kami berdua kelaparan. Saya inget diwanti-wanti sama temen untuk coba ayam Mcd di KL Sentral karena lebih enak dari ayam Mcd Indonesia. Ternyata ayamnya memang lebih gurih. Setelah itu, saya membeli Subway!! Buat pecinta drama korea, pasti penasaran bangetkan ya buat nyobain sandwich Subway😆 . Sebenarnya waktu liburan ke Singapura udah diniatin buat beli Subway, apa daya di sana ga ada sertifikat halalnya. Sedangkan di Malaysia udah pasti halal. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?! Oia di KL Sentral ini juga ada tempat mi tarik yang enak banget, Mi Tarik Warisan Asli. Cobain deh makan di sana. Mi-nya kenyal, kuah kaldunya bening, dan irisan sapinya.. hmmm enaaakkk!! Duh jadi laper ngebayanginnya.

img_5296

Dua orang yang seneng banget bisa liburan bareng

img_5902

Air mancur warna warni!!

Menjelang malam, kita balik dong ke KLCC buat foto-foto di depan Menara Petronas!! Turis banget ya. Tapi kan belum ke Kuala Lumpur kalau belum foto di sini. Apalagi ini adalah hari terakhir di Malaysia, jadi wajib banget. Puas foto-foto, kami pun masuk ke Suria KLCC buat muter mall dan makan malem. Alhamdulillah selama di Malaysia, makanannya enak terus! Puas banget. Di bagian samping Suria KLCC ini ada taman yang punya danau dengan air mancur. Mau dateng siang atau malem, sama-sama asyik untuk bengong di tepi danau.

The Hardest Day

img_9093

One more day, one last look, before I leave it all behind

Buntu…ia pun kembali menyesap cokelat hangat yang ada di samping laptop. Berharap kehangatannya bisa mengaliri otak dan hatinya yang mulai dingin. Gerimis di luar jendela membuatnya berhenti mengetik.

“Ah kembali hujan hari ini….”

Pikirannya sejenak melayang. Hari-harinya sedang penuh dengan ketegangan dan kecemasan. Menyebabkannya lebih mudah buntu dan emosinya menjadi tidak stabil. Mudah terluka, mudah kesal, mudah sedih. Sayup-sayup terdengar suara Andrea The Coors dan Alejandro Sanz yang menyanyikan lagu paling sendu yang pernah didengarnya, The Hardest Day. Ia pun menghembuskan nafas panjang. Berusaha mengeluarkan semua pikiran yang menyebabkannya lelah.

But I never forget every single day…

Dilihatnya kembali rintikan hujan yang turun. Tempat ini memang paling sempurna untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Di pojok sebuah kedai kopi, ia bisa melihat taman hijau dan sejuk untuk sekedar melepas ketegangan dari revisi yang harus dilakukannya. Apalagi dengan gerimis yang membuatnya betah memandang taman tersebut lama.

Berdiam diri tentu tidak membuat permasalahan ataupun tugasnya selesai. Ia sungguh tahu hal itu. Setiap hal harus diselesaikan. Entah akan berakhir seperti apa, semuanya perlu dihadapi. Bukan dengan melarikan diri seperti ini. Kembali ia melihat tulisannya. Tidak ada yang bertambah. Ingin menyangkal apa yang sedang dirasakannya pun bukan pilihan bijak. Teringat kembali kepada kata-kata seseorang kepadanya.

“Terima semuanya…jangan kau tinggalkan..peluk rasa sakit dan sedih itu…jangan hanya kebahagiaan yang kau peluk.”

Never gonna forget every single thing you do…..

“Harusnya bisa sederhana….” Kembali ia menghembuskan nafas panjang. Kali ini ia benar-benar meletakkan kepalanya di jendela dan memandang keluar. Berusaha mengambil sebanyak mungkin kesegaran yang ditemukannya di sana. Tak lama kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen dan wangi kopi. Kemudian mulai kembali menekuni laptopnya. Kembali mengerjakan revisian yang harus diselesaikan. Membaca kembali dari awal semuanya bahan yang dimilikinya. Kali ini dengan pelan-pelan. Tidak terburu-buru.

Mencoba Menu Vegan Di Fortunate Coffee Bandung

Satu lagi nih tempat menyepi yang rada nyempil, Fortunate Coffee. Letaknya di Kebon Sirih. Kalau dari arah Stasiun Bandung, jalannya tepat disamping  gubernuran. Saya tahu tempat ini dari seorang teman. Katanya selain kopinya yang enak, makanan yang ada di sini adalah jenis makanan vegan!! Jadi penasaran sama tempatnya. Karena itu, setelah berkeliling dari Festival Bandung Mendongeng, saya menyempatkan diri ke sini.

Begitu sampai, wah tempatnya beneran nyempil dan hijau banget!!! Resmi bakal jadi tempat kesukaan saya buat duduk lama nih. Begitu masuk ke dalam, suasananya asli enak banget untuk menyendiri ngerjain tesis *oh tesis ini emang belum kelar kelar T__T*. Sayangnya, di sini saya ga ngeliat ada colokan. Jadi pastiin aja baterai laptopnya full ya.

img_9114

Suasana di Dalam Fortunate Coffee

img_9117

Fortunate Bread

Tempatnya juga instagramable!! Banyak sudut yang bisa dibuat untuk tempat swafoto. Di setiap mejanya pun ada quote mengenai waktu. Paling menarik adalah jam yang terletak di bagian belakang. Awalnya saya pikir hanya bentuknya saja yang seperti jam. Ternyata jam asli loh!!

img_9110

Jam

img_9112

img_9120

Pilihan Kopi

Untuk pecinta kopi, di sini banyak pilihan kopinya!! Saya sih nyobain pesenan temen: susu kedelai yang dicampur dengan es kopi. Ini menarik, karena semakin mencair si es kopi, semakin terasa kopinya. Enak banget!!! Sedangkan saya sendiri sih pesen orange joyful. Rasanya asem seger!!

img_9123

Es Kopi dan Susu Kedelai

img_9127

Orange Joyful

Makanannya sendiri saya memesan nasi capcay spesial. Maklum lagi laper, jadi butuh nasi. Nasinya terdiri dari capcay, rumput laut yang digoreng kering, dan dua buah sate yang dibuat dari gluten. Saya langsung jatuh cinta sama rumput laut gorengnya!! Enak bangetttt!! Satenya juga enak!! Ga kerasa lagi makan gluten.

img_9125

Nasi Capcay Spesial

Saya juga nyicipin spaghetti mushroom punya temen. Enak banget!! Saos tomatnya ringan dan seger. Duh lain kali ke sana mesti pesen ini. Sayang ga sempet difoto karena yang punya makanannya kelaperan.

img_9111

Game Board

Buat yang iseng ke sini, mereka juga menyediakan buku bacaan loh. Kemarin yang saya lihat sih buku-buku berisi gaya hidup sehat dan juga vegan. Selain itu di sini juga ada board game seperti kartu, catur, halma, congklak, atau ular tangga. Tapi saya ga ngubek banyak sih, soalnya lebih memilih ngobrol sama temen.

img_9113

About Time

Lain kali saya pasti ke sini lagi buat ngerjain Tesis atau numpang makan sehat😀

Fortunate Coffee
Jln. Kebon Sirih No.21A
Open daily 10.00-21.00
Instagram: @fortunatecoffeebandung