Wheeler’s Penang

Selama Pandemi ini saya paling kangen untuk minum kopi hangat yang diseduh langsung oleh barista dari sebuah kedai kopi. Rasanya bergelas-gelas dan berbotol-botol kopi susu yang saya pesan kalah nikmat dengan secangkir kopi hangat. Berhubung kangen dengan kedai kopi, saya akhirnya ngubek-ngubek foto saat liburan di Penang awal tahun kemarin. Saya jadi keingetan mau nulis soal sebuah restoran yang menyediakan kopi, makanan, dan suasana yang menyenangkan, Wheeler’s Penang.

Wheeler’s terletak di Love Lane, George Town. Tepat bersebelahan dengan restoran Mexico. Sebelum pandemi, mereka buka dari pagi hingga malam hari, sedangkan setelah pandemi bisa langsung cek instagram mereka ya! Saya suka dengan tempat ini karena suasanya nyaman banget. Meskipun tempatnya kecil, namun mereka ada dua lantai dan juga ada kursi dan meja yang di bagian luar restoran. Ketika pagi kita bisa duduk sambil menikmati matahari di depan restoran. Pilihan menu sarapannya beragam begitu pun pilihan menu minumannya. Kita bisa memilih salad, sandwich, fajita, granola, dan beberapa menu pilihan lainnya. Untuk minumannya ada jus, kopi, serta cokelat. Di pagi hari kami memilih untuk memesan I am vegan sandwich serta chicken fajita wrap ditemani cafe latte dan cold brew.

Salah dua yang menarik dan menyenangkan ketika ngobrolin soal menu pertama adalah buku menunya! Saat disodorin buku menu, berasa disodorin majalan berisi beragam makanan. Hal kedua adalah mereka menyediakan vegetarian food!!

I am vegan sandwich & chicken fajita wrap

Berbeda dengan pagi hari, saat malam hari suasana di Wheeler’s lebih temaram dan intim lengkap dengan lampu-lampu kuning yang menghiasi restoran. Apalagi setelah jam 20.00 suka ada live music juga!! Menunya pun berbeda dengan di pagi hari. Pilihan menunya beragam dari mulai light meals, pasta, pizza, steak, salad, dessert dan buanyak lagi menunya. Untuk minumannya menjadi lebih beragam dengan tambahan menu alkohol. Malam terakhir ke Penang , saya dan sepupu makan malam di sini sambil menikmati live music-nya. Kami memesan smoke salmon aglio o’lio pasta dan aragula pizza.

Smoke salmon aglio o’lio
Aragula Pizza

Makanan di Wheeler’s ini enak-enak semua. Fajitanya berisi daging ayam yang banyak, sayuran, serta saus salsa dan sour cream yang segar, pastanya di masak al dente, pizzanya pun jenis pizza tipis yang merupakan favorit saya. Untuk kopinya sendiri merupakan kopi yang light. Sedangkan cold brew-nya juga bersih dan ada rasa sedikit asamnya. Saat saya bisa berlibur ke Penang lagi, Wheele’s akan jadi salah satu tempat yang didatangi lagi.

Kabar di Bulan September

Setelah mulai kembali rajin menulis di bulan Juli dan Agustus, saya mulai kehilangan keinginan menulis di bulan September. Makanya baru kembali menulis blog lagi di pertengahan September. Tahun 2020 ini benar-benar berlalu begitu saja ya, sekarang sudah tiba di bulan September lagi. Tinggal tiga bulan ke depan dan tahun pun berganti.

Kejadian pandemi Kovid ini membuat tujuh bulan terakhir ini benar-benar di rumah aja dan hanya keluar rumah kalau penting aja. Jadi merasa perjalanan-perjalanan yang saya lakukan di bulan Januari dan Februari seperti mimpi. Sampai hari ini, saya sudah mendengar teman SMA ibuku ada yang meninggal (karena dan bukan karena Kovid), beberapa kantor ditutup, hingga beberapa teman yang sudah bolak balik di tes swap maupun rapid (dan alhamdulillah selalu negatif). Semoga pada sehat semua baik fisik maupun batin.

Perminggu ini Jakarta kembali melakukan PSBB dan orang Jakarta tidak diperkenankan untuk bepergian ke luar kota perhari Rabu ini. Semoga keadaan di jakarta menjadi lebih baik ya, karena peningkatan kasusnya juga sangat banyak. Bandung sendiri kembali berada di zona orange. Dari sisi pekerjaan, karena saya pun bekerja secara daring, jadi memang bekerja dari rumah. Akhirnya laptop impian yang saya bicarakan di tulisan yang ini benar-benar bisa kebeli dan ini mengurangi 3/4 dari drama bekerja dari rumah aja.

Semoga kita selalu diberi kesehatan dan ketenangan selama masa-masa pandemi ini, aamiin.

Ketika Penghasilan Istri Lebih Besar dari Suami

Pernah ada di situasi seperti judul tulisan saya ini ga? Atau buat yang masih single pernah terpikirkan ga kalau suatu saat ketika menikah ternyata gaji pasangan kita lebih rendah atau lebih tinggi dari kita? Akan jadi masalah ga sih ketika berumah tangga?

Sebenarnya ini juga adalah pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak saya ketika Mbak Noni dan Vinny mengajak untuk ngobrol santai di podcast mereka, single married. Ngomongin soal hal ini ternyata ga hanya ada di film-film loh, tapi juga terkadang memang kejadian di dunia nyata. Di Indonesia pun beberapa pasangan juga mengalami kondisi di mana istri memiliki penghasilan yang lebih besar dari suami.

Sebenernya ini tidak akan jadi masalah ketika dari kedua belah pihak memiliki komunikasi yang baik dan memang sudah diketahui saat awal pernikahan ataupun saat pacaran. Sayangnya kita ga hidup di dunia yang ideal. Isu-isu terkait hubungan rumah tangga saja sebenarnya cukup banyak tanpa perlu ditambah dengan hal ini. Apalagi dengan pandangan orang-orang yang masih banyak berpikir bahwa kesuksesan perempuan itu ketika bisa mengurus rumah dan anak dengan baik, dan kesuksesan laki-laki apabila memiliki pekerjaan tetap dan punya rumah serta mobil.

Yuk simak obrolan Mbak Noni, Vinny, dan saya di podcast single married untuk melihat pandangan terkait hal ini baik dari sisi yang sudah menikah, yang masih lajang, dan dari sisi psikologinya. Selain itu kami juga ngobrol beberapa kasus nyata yang ada dan pernah kami temui terkait soal penghasilan suami-istri.

Apa arti Indonesia

Satu tahun yang lalu, saat upacara bendera pertama kali di sekolah Arunika Waldorf Bandung, saya kebagian untuk mencari dan membacakan sebuah sajak. Sajak yang cocok untuk dibacakan pada upacara bendera hari kemerdekaan Indonesia. Sebuah sajak yang bisa memberikan rasa ketakjuban dan keindahan untuk anak-anak di sekolah.

Awalnya saya sangat bingung mau mencari dengan kata kunci seperti apa. Mungkin karena terlalu terpaku kalau mau cari sajak harus dari filsuf yang menelurkan pendidikan waldorf, jadi malah ga ketemu-ketemu. Sampai saya tersadar, bahwa saya bisa saja menemukan sebuah sajak indah tentang Indonesia dari presiden pertama Indonesia, Soekarno. Mulailah saya mencari-cari dari banyak sekali sajak dan kutipan yang ada. Hingga akhirnya saja menemukan sebuah sajak yang (menurut saya) indah sekali menceritakan Indonesia dan dekat dengan anak-anak.

Engkau Tahu Apa Arti Indonesia?
Indonesia adalah pohon yang kuat dan indah itu.
Indonesia adalah langit yang biru dan terang itu.
Indonesia adalah mega putih yang bergerak pelan itu.
Ia adalah udara yang hangat.
Saudara-saudaraku yang tercinta, laut yang menderu-deru, memukul-mukul ke pantai di waktu senja, bagiku adalah jiwa Indonesia yang bergejolak dalam gemuruhnya gelombang samudera.
Bila kudengar anak-anak tertawa, aku mendengar Indonesia.
Bila aku menghirup untaian bunga, aku menghirup Indonesia.
Inilah arti tanah air kita, bagiku.

Sajak ini merupakan kutipan dari Buku berjudul “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang ditulis oleh Cindy Adams. Selamat berusia 75 tahun Indonesia!

Cerita Awal Mula Ngeblog

Beberapa minggu lalu, salah seorang teman menghubungi saya via dm instagram mengajak rekaman podcast soal awal mula ngeblog. Kalau dipikir-pikir, saya sudah beberapa kali bercerita mengenai awal mula ngeblog di wordpress, tapi kalau soal awal mula ngeblog, saya sampai kudu mikir lama untuk inget kapan awalnya ngeblog dan di platform yang mana. Akhirnya jadi ngobrolin awal mula ngeblog ketika jaman friendster, pindah ke multiply, dan akhirnya pindahan lagi ke blog yang sekarang ini. Tentu saja semua beserta sejarah awal kenapa mulai ngeblog.

Kalau mau mendengar, bisa dengar di sini ya!

Saya dan Wahyu ini awalnya berkenalan karena dikenalkan oleh mantan saya dulu. Jadi jangan kaget kalo awal-awal podcast ngobrolin soal Mas Mantan ini dulu sebelum cerita-cerita soal perjalanan ngeblog.

Drama Bekerja dari Rumah

Akhirnya bisa nulis juga soal pengalaman bekerja di rumah aja ini. Selama anjuran dari pemerintah untuk di rumah aja pada awal Maret, praktis pekerjaan saya yang mengharuskan ketemu dan berinteraksi dengan orang jadi tertunda selama dua bulan. Asli dua bulan saya ga nyentuh pekerjaan-pekerjaan saya yang biasa dijalanin!! Makanya jadi punya banyak waktu buat ngulik desain, blog, podcast, ig live, dan bahkan namatin banyak drama Korea. Hingga akhirnya pertengahan Juni lalu sistem bekerja online sudah mulai berjalan dan alhamdulillah pekerjaan sudah mulai kembali berdatangan.

Meskipun sudah tersistem, tapi halangan dan drama selalu ada dan kebanyakan masalahnya teknis banget!!! Drama pertama adalah masalah latar belakang saat bekerja tatap muka daring. Kantor tempat saya ini menginginkan agar latar belakang hanya 1 warna dan tidak boleh ada latar apapun yang bisa menstimulasi klien seperti rak buku, tempat tidur, foto, dan lain-lain. Ini adalah pekerjaan rumah pertama saya, karena latar belakang kalo lagi rapat udah pasti rak buku di ruang kerja. Jadilah kudu dorong-dorong meja kerja selama ini demi dapet latar belakang dinding putih. Kegiatan dorong mendorong ini tentu selalu dilakukan saat harus bekerja tatap muka dari rumah. Anggep aja olah raga dan tetap jaga kebersihan di belakang meja yang selama ini selalu berdebu.

Apakah dramanya sudah berakhir? Tentu belum!! Drama kedua adalah laptop. Laptop saya ini berukuran 11,6 inch dengan memori “hanya” 4GB dan menggunakan processor AMD tipe Radeon R5. Alasan saya saat beli laptop ini karena hanya dipakai untuk pekerjaan mengetik tanpa perlu ngedesain grafis ataupun nonton drama, karena hal-hal itu bisa saya lakukan via hp dan komputer. Sayang beribu sayang, akhir tahun komputer saya rusak dan meninggalkan laptop seorang. Nah saat di rumah aja, sudah tentu seperti orang lain saya jadi punya aplikasi zoom, google meet, dan beberapa aplilkasi lain untuk mendukung pekerjaan. Ternyata aplikasi-aplikasi ini menjadi berat ketika dibuka bersamaan. Apalagi mengingat saya punya tiga anti virus, jadi lah menambah berat memori laptop x_x . Hingga akhirnya saya harus instal ulang laptop dan berakhir dengan pemikiran perlu membeli laptop baru untuk menunjang kebutuhan saat ini.

Drama lain sudah tentu jaringan wifi internet yang naik turun di rumah. Sudah dengan keadaan laptop seperti cerita di paragraf sebelumnya dan keadaan wifi yang begitulah di rumah, saat awal kerja daring saya sampai stres dengan segala masalah teknis ini. Di awal saya ingin zoom meeting bisa dilakukan di hp karena tahu diri dengan kemampuan laptop yang lemot ini. Eh saya baru sadar zoom meeting di hp itu sulit saat harus berbagi layar dan juga merekam. Jadilah tabah-tabahin diri bekerja dengan laptop dan wifi yang sebegininya di rumah. Maklum saya pernah merekam zoom meeting dan ternyata hasilnya suara saling bertimpa. Kalau saya ga mengetik percakapan kami waktu itu, rasanya pengen nangis dengan semua drama ini T_____T .

Kalau melihat semua drama ini, saya beneran kangen bekerja secara tatap muka, karena ga ada kendala teknis apapun. Tapi tentu saja dengan semua pandemi ini, saya tetap memilih bekerja secara daring saja dari pada harus ke kantor. Maka pilihan jatuh kepada ganti laptop dengan yang lebih mumpuni. Tapiii laptop inceran saya ternyata lagi habis di mana-mana!!! Semoga segera ada lagi ya laptop inceran saya itu dan ke depan semua pekerjaan dari rumah ini bisa berjalan lancar, aamiin.

Menyambut Bulan Agustus

Sebuah kejadian di hari Kamis tanggal 31 Juli 2020 merupakan pintu pertama untuk menyambut bulan Agustus. Obrolan yang dilakukan sepanjang hari dengan beberapa kelompok persahabatan beneran menghangatkan hati dan juga menampar diri sendiri. Saya kembali diingatkan mengenai beberapa hal yang saya lakukan belakangan ini. Beberapa diantaranya adalah megenai untuk tidak terlalu keras dalam mengkritik diri sendiri. Bagaimana pun keadaannya, seringnya saya merupakan kritikus paling ulung untuk diri sendiri. Selain itu saya diingatkan lagi untuk memfokuskan apa yang ingin saya lakukan dalam hidup ini. Semacam “kamu perlu memutuskan saat ini atau butuh waktu lama sampai ketemu lagi dengan hal ini!”. Menuju malam saya ga nyangka akan ngobrol juga dengan beberapa orang yang saya kangenin sepanjang pandemi ini. Walaupun hanya sekejap, tapi hanngatnya beneran berasa.

Memasuki bulan Agustus, saya pun mulai melakukan sebuah workshop yang ingin saya ikuti. Baru pertemuan pertama dari enam pertemuan. Mari kita lihat akan bermuara di mana kah dari sebuah workshop ini. Setelah itu belum ada lagi yang saya lakukan.

Bulan Agustus selalu spesial untuk saya. Di bulan inilah saya lahir. Biasanya saya menjadikan bulan ini sebagai bulan kontemplasi serta check point untuk hal-hal yang sempat saya rencanakan pada awal tahun. Dikarenakan pandemi covid, tentu ada beberapa rencana yang berubah, ada kejadian-kejadian yang tidak pernah disangka-sangka juga serta beberapa hal yang meluaskan cara pandang.

Berhubungn baru hari kedua, saya akan kembali menuliskan lebih jauh mengenai kontemplasi dan check point ini ketika tiba saatnya.

Semoga pada sehat semua!!

Street Food di Penang

Asia Tenggara selalu terkenal dengan street food-nya yang enak-enak. Mulai dari Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan Kamboja selalu ada pasar baik di pagi hari maupun malam yang menjual street food. Begitu pula ketika saya ke Penang di awal tahun kemarin. Dari penginapan kami di Pintal Tali Street, sangat dekat dengan tempat orang berjualan street food.

Di pagi dan malam hari, Lebuh Kimberley merupakan surganya mencari makanan. Mulai dari kopi tiam, penjual jajanan, hingga tukang char kuey teow dan nasi goreng ada semua di sini. Untuk yang mencari makanan vegan, di pagi hari di Lebuh Kimberley ada sebuah kios yang menjual makanan vegan!! Sedangkan untuk muslim yang mencari makanan halal di malam hari, ada beberapa tukang nasi goreng, nasi briyani, dan char kuey teow halal di sini.

Kios Vegan di Lebuh Kimberley

Tak jauh dari Lebuh Kimberley, ada Kuala Kangsar Street yang merupakan bagian belakang dari sebuah pasar pagi. Sudah pasti selain ramai dengan orang yang berjualan sayur mayur, daging, sampai pakaian, kita pun bisa menemukan penjual makanan seperti kopi tiam, roti, bubur, hingga mie. Tapi sayangnya di jalan ini saya tidak menemukan makanan berlogo halal. Hingga kami sampai di ujung lain Kuala Kangsar Street, Lebuh Campbell. Di sana ada satu restoran halal bernama Hameediyah dan ada kopi tiam Ton Soon Cafe.

Sedangkan di malam hari, saya dan sepupu berjalan ke arah Lebuh Carnarvon dan menemukan street food lain seperti penjaja mie, nasi, hingga makanan ringan seperti car kuih kar. Cemilan ini seperti tepung beras yang dipotong jajar genjang digoreng dengan toge dan telur. Enaaakk!! Kami sampai makan dua kali di sana, yaitu pada malam pertama dan terakhir di Penang. Di sebelah penjaja car kuih kar ini ada penjaja aneka minuman mulai dari teh tarik, thai tea, hingga kopi o. Menurut saya menyenangkan sekali ngemil sambil melihat hiruk pikuknya pejalan di malam hari seperti ini.

Car kuih kar

Tak jauh dari sana, di Chulia Street banyak bar yang juga menjajakan makanannya di depan toko. Penjual kebab dan burger bisa kita temukan di jalan ini. Untuk yang mencari makanan halal ada penjual kebab halal. SAya juga melihat penjual nasi lemak dan biryani bisa ditemukan dekat dengan belokan ke arah Love Lane.

Sedangkan apabila ingin mencari hawker food, di Gurney Drive Hawker Center kita bakal menemukan buanyak penjaja makanan. Mulai dari rujak Malay, sate dengan Malay style, seafood, daging, ayam, mie, nasi, berbagia jenis minuman dingin yang menyejukkan, bahkan ada stall vegetarian juga di sini. Saya sampai pusing karena bingung mau makan apa. Semua terlihat menggiurkan!! Lalu di sini antara makanan halal dan non halalnya di pisah gitu tempatnya. Apalagi Gurney Drive Hawker Center ini berada di seberang laut, jadinya asyik sekali menikmati sore sambil diterpa angin, lalu kalo laper tinggal nyebrang dan makan.

Malay style satay

Menulis soal street food, saya jadi kepikiran bagaimana ya keadaan stall-stall street food sekarang di tengah pandemi ini? Mengingat kalau lagi jajan street food atau ke hawker place tempatnya cenderung dempet-dempetan antara satu stall dengan yang lain, begitu pun dengan tempat duduknya. Kalau di Indonesia, kita bisa memilih go-food atau grab food untuk beli jajanan seperti bakso, cuanki, batagor, mi ayam dan street food lainnya. Sedangkan di luar seperti apa ya? Apa food panda dan aplikasi sejenis juga melayani pembelian street food?

Liebster Award 2020

Sudah lama sejak Liebster Award ini diadakan. Kalau saya ga salah saat tahun 2014/2015an deh mulai banyak yang posting Liebster Award ini. Seneng banget rasanya saat dapet awardnya, karena jadi kenalan juga dengan blogger-blogger lainnya. Begitu dapet Liesbster Award ini dari Mbak Ria, jadi nostalgia lagi.

Oia Liebster Award ini ada aturan mainnya. Saya salin dari blog-nya Mbak Ria:

Pertanyaan-pertanyaan dari Mbak Ria ada lima nih, yuk disimak:

  1. What’s your morning routine on week-days and week-ends? Begitu bangun pagi biasanya saya langsung mandi dan sarapan, lalu dilanjutkan dengan beres-beres rumah. Setelah itu kalau ada pekerjaan saya akan mulai buka laptop dan kerja sampai sore. Sedangkan kalo weekends setelah beres-beres rumah saya akan nonton tv series atau baca novel yang belum selesai. Kalau sebelum pandemi, saya suka buat nongkrong ngopi bareng temen-temen.
  2. Do you exercise in the morning or evening? Why? Saya memilih pagi-pagi walaupun belakangan ini akhirnya lebih sering sore. Kalau pagi itu udaranya lebih segar dibandingkan sore hari.
  3. Do you have Tik Tok? If yes, why? Nope, I don’t have Tik Tok.
  4. If you are working, do you always want to work for the rest of your life? If you are not working now (for whatever reasons), would you like to go back to the work environment someday? Give reasons. Sampai saat ini inginnya bisa bekerja dan memanfaatkan pengetahuan yang saya miliki untuk bisa dibagikan ke semua orang. Walaupun kalo udah 50an ke atas sih inginnya lebih fokus ke pekerjaan sebagai terapis.
  5. When travelling is allowed, where you want to go first? Jepang!! Awal tahun kemarin sya udah beli tiket untuk ke Jepang yang kayaknya untuk beberapa bulan ini ga mungkin bisa dipakai πŸ˜₯ .

Berhubung Mbak Ria menggunakan angka lima untuk pertanyaannya, saya akan menceritakan 5 fakta acak mengenai diri saya:

  1. Tinggal di Bandung sudah lebih dari 15 tahun!! Dulu saya mikirnya akan kerja atau kuliah lagi di kota lain, ternyata banyak dapet kesempatannya di sini.
  2. Ga suka menyimpan foto close up diri sendiri di akun media sosial manapun.
  3. Sekarang lagi seneng dengerin soundtrack drama Korea Dinner Mate berjudu Yummy Yummy. Cocok banget buat lagu pembuka hari sedangkan lagu berjudul Dinner Mate-nya cocok buat penutup hari.
  4. Udah tiga bulan ga tamat-tamat baca sebuah novel.
  5. Lagi mulai kembali merutinkan olahraga.

Setelah ini saya bingung mau menominasikan siapa lagi untuk Liebster Award karena beberapa blogger sudah pernah melakukannya. Jadi siapa saja yang baca boleh ikutan atau nulis di komen postingan soal pertanyaan yang akan saya ajukan. Daripada 11 pertanyaan, saya pun hanya akan menulis lima saja:

  1. Makanan apa yang biasa jadi sarapanmu?
  2. Apa sosial media pertamamu?
  3. Selama pandemi ini apa ada kebiasaan baru yang dilakukan? selain cuci tangan ya πŸ˜€ )
  4. Apa alasanmu tetap bertahan menulis blog?
  5. Apa tv series favoritmu dan ceritakan sedikit alasannya ya

Sekali lagi terima kasih Mbak Ria untuk Liebster Awardnya! Untuk yang mau join, langsung bikin tulisan sendiri di blognya atau tulis di kolom komen yaaa.

Setelah Sebulan

Setelah sebulan ga nulis di blog, apa saja yang sudah saya lakukan ya? Padahal dari awal tahun mau membangun kebiasaan baik untuk selalu rajin menulis di blog. Yah rencana tinggal rencana. Ternyata di bulan ini cukup banyak kegiatan yang saya lakukan hingga akhirnya ritme nulis blog terpaksa kegusur.

Setelah beberapa bulan proyek-proyek ditahan, akhirnya pertengahan bulan ini proyek kembali berjalan. Sudah mulai ke kantor walau hanya sekali, sisanya via daring. Ternyata persiapan asesmen daring itu emang ribet ya. Bahkan setelah disiapkan berbulan-bulan sebelumnya, tetap saja tidak menggantikan kegiatan asesmen tatap muka.

Selain proyek kantor yang mulai kembali bergulir, ada beberapa garis mati pekerjaan yang harus dilakukan. Apalagi sejak akhir bulan lalu saya memutuskan untuk berjibaku mengurus instagram kantor konsultan psikologi tempat saya bernaung. Jadilah mulai kembali ngotak ngatik desain tulisan maupun waktu yang pas untuk memuat tulisan ataupun gambar tersebut di instagram. Ternyata makan waktu yah!!! Menarik sekali urusan desain mendesain konten ini. Biasanya kan saya cuma melakukan hal ini untuk blog ataupun ig pribadi ya, tapi ketika mendesain dengan lebih serius, ternyata seru juga. Dipikir-pikir selama tiga bulan ini saya banyak belajar di area media dan komunikasi, entah itu menulis artikel untuk sekolah; mendesain logo, gambar, atau tulisan untuk proyek kecil dengan sekelompok teman; hingga terakhir menjadi admin instagram.

Ketika orang-orang mulai melakukan kebiasan baru atau kenormalan baru, saya memilih sendiri bentuk ritme yang saya bangun dengan segala hiruk pikuknya keadaan sebulan terakhir ini. Tetap bekerja dan memilih keluar rumah ketika diperlukan adalah yang akan saya lakukan. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ketika sebelum pandemi kecuali bagian nongkrong ataupun bertemu teman untuk sekedar mengobrol. Kalau soal yang ini kayaknya masih memilih lewat video call atau kalau mau ketemu sambil belanja saja.

Oia saya pun mulai mengisi podcast yang iseng dibikin. Isi di episode perrtama tak lain dan tak bukan adalah review drama korea yang malas saya tulis di sini. Lebih enak dan cepat apabila dibicarakan πŸ˜€ . Semoga ke depan saya bisa kembali rajin menulis blog seperti bulan-bulan yang lalu ya, aamiin.