Dekat Tea

“Ra, lo mesti nyobain ngeteh di Dekat Tea!”

Kata-kata-nya itu lah yang mengantarkan saya untuk menembus jalanan Bandung di hari Sabtu mendung menuju Pasar Kosambi. Di lantai dua gedung pasar, ada sebuah tempat yang dinamakan Hallway Space. Sebuah ruang di mana ada toko beragam jenis barang seperti baju, topi, aksesoris, helm, dan juga penjaja makanan. Di antara pelbagai toko, di situlah ada sebuah kedai teh. Tempatnya berbeda lorong dengan area tempat makanan berjualan. Sedikit di pojok dan di kelilingi toko-toko non makanan. Namanya adalah Dekat Tea.

Mbak Arin dan beragam teh miliknya

Sahabat saya tahu betul tempat yang saya sukai untuk disambangi: kecil dan hangat. Begitulah kesan saya ketika berhadapan dengan Dekat Tea. Dari luar, saya bisa melihat berbagai poci teh yang dipajang di jendelanya. Begitu melangkahkan kaki, saya sampai bengong melihat ragam teh yang ada di lemari penyimpanannya. Sudah lama rasanya saya mencari tempat ngeteh seperti ini.

Di tengah takjubnya dengan ragam teh yang ada, saya pun disapa Mbak Arin, pemilik Dekat Tea. Saya sampai grogi ketika ditanya mau diseduhin teh apa. Untungnya Mbak Arin sabar banget nanya saya suka jenis teh seperti apa, lagi pengen yang model kayak gimana, panas atau dingin, dan akhirnya ditunjukin beberapa koleksi tehnya. Ternyata buanyak banget loh ragam tehnya. Mulai dari yang origin, tea blend, hingga tisane. Saya pun dikasi tahu bahwa tiap teh, diseduh dengan cara yang berbeda sampai dikasi tahu cara menyeduh teh supaya ga jadi pekat banget.

Disuguhi banyak ragam teh, terus kan jadi pengen nyoba semuanya!! 🤣🤣🤣
Mulai dari nyium satu-satu aroma tehnya, membandingkan yang satu dengan yang lain, bingung mau pilih tisane atau tea blend, hingga akhirnya saya memutuskan untuk ngeteh dengan tea blend Jayanti. Jayanti ini merupakan campuran dari green tea, lemon, bunga Rosella, belimbing, bunga Globe Amaranth, serta lada Andaliman. Biasanya saya lebih memilih rasa buah dan ga terlalu suka teh yang punya bunga di dalamnya, tapi hari ini pengecualian. Mbak Arin memberi tahu saya kalau rasa buah akan lebih terasa, pun aromanya akan lebih kuat dari lada Andaliman. Sedangkan bunga Globe Amaranthnya mempercantik warna teh saat diseduh dan memberikan warna akhir yang cerah. Rasa tehnya beneran lebih terasa buah-buahannya dan saya ga batuk karena pekatnya wangi bunga. Apalagi hari itu, tenggorokan saya mulai ga enak, jadi dapet seduhan campuran lemon dan lada tuh enak banget bikin anget tenggorokan.

Di saat sedang mengobrol ini, tiba-tiba ada seorang pelanggan Mbak Arin yang datang dan ingin dibuatkan teh. Ternyata oh ternyata, junior saya dulu di kampus!!! Jadilah kami reuni kecil dan bertukar kabar. Tak lupa juga bercerita mengenai jurusan kami dulu kepada Mbak Arin dan kisah-kisah di dalamnya. Dari sini saya kembali merasakan magisnya tempat kecil nan hangat yang bisa membuka obrolan dengan orang yang bertemu di dalamnya.

Tak terasa waktu sudah semakin sore, saya pun harus segera beranjak untuk pergi lagi. Tapi saya belum puas untuk menjajal teh yang lain. Akhirnya saya pun memutuskan untuk membeli segelas teh untuk dibawa pergi. Tadinya saya mau nyobain teh tarik Malaka atau teh kopi yang bernama Yuan Yang. Namun Mbak Arin memilihkan Royal milk tea untuk saya. Royal milk tea ini merupakan Earl Grey yang di cold brew bareng sama susu uht. Tentu saja saya ga bisa nolak!! Pas nyobain rasanya, enaaaakkk banget!!! Earl Grey-nya berasa banget dan bersatu padu dengan susu uht. Rasanya pun ga terlalu manis. Pas banget buat saya yang ga doyan minuman manis. Pengen dihemat-hemat pas minumnya!

Royal Milk Tea

Saya pasti akan kembali ke Hallway Space Kosambi untuk menikmati teh dari Dekat Tea dengan ragam yang berbeda. Saya penasaran pengen mencoba Hyperballad yang merupakan tea blend yang katanya cocok banget buat bikin badan rileks dan mudah tidur.

Jalan Kaki di area Viaduct Bandung

Viaduct Bandung

Minggu lalu, saya mengikuti walking tour yang diselenggarakan Bandung Good Guide dengan rute Viaduct. Viaduct di Jawa Barat khususnya Bandung lebih dikenal sebagai jembatan kereta api. Letaknya sendiri sebenarnya ada dua, yaitu di dekat patung Tentara Pelajar yang merupakan jembatan rel kereta api yang berada di atas jalan raya dan di dekat Paskal Hyper Square di mana jembatan mobil dengan rel kereta api di bawahnya. Namun orang Bandung lebih mengasosiasikan Viaduct yang pertama, yaitu jembatan rel kereta api di atas jalan raya.

Titik kumpulnya sendiri adalah di patung Tentara Pelajar dan Iki, pemandu kami mengajak untuk berjalan ke arah patung Laswi terlebih dahulu. Bertahun-tahun tinggal di Bandung, saya baru tahu kalau Laswi itu singkatan dari Laskar Wanita!! Pantesan aja Jalan Laswi itu berdekatan dengan Jalan Pelajar Pejuang. Cerita soal Laswi ini menarik sekali karena Laskar Wanita ini terbentuk pada tahun 1945 di mana pada saat itu, perempuan masih diasosiasikan dengan pekerjaan di dalam rumah. Diceritakan betapa sulitnya untuk merekrut anggotanya, dan banyak orang tua yang menolak keinginan anak perempuannya untuk masuk ke Laswi.

Perjalanan kami pun dilanjutkan ke arah gedung kantor pusat PT. KAI. Kantor yang dulu bernama Staatsspoor en Tramwegen ini merupakan bangunan Villa. Oleh karena itu bentuk bangunan depannya terlihat seperti rumah. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke arah Gedung Indonesia Menggugat. Gedung ini merupakan tempat di mana presiden pertama Indonesia, Soekarno diadili karena saat itu dianggap Belanda sebagai pemberontak. Disebut Gedung Indonesia Menggugat, karena di sanalah Soekarno membacakan pledoi yang berjudul Indonesia Menggugat. Sebelum pandemi, gedungnya suka dipakai untuk acara-acara komunitas, sayang sejak pandemi gedungnya lebih sering tutup 😦 .

Gedung Indonesia Menggugat

Dari Gedung Indonesia Menggugat, kami berjalan memasuki gang Babakan Ciamis dan melewati jembatan yang di bawahnya mengalir air sungai Cikapundung. Iki menceritakan kalau dulu, Bandung pernah terjadi banjir bandang luapan sungai Cikapundung yang dimulai dari Babakan Ciamis hingga membuat Jalan Asia Afrika pun terendam!

Kami menyusuri Babakan Ciamis hingga keluar di Jalan Kebon Sirih, tepat di sebelah pabrik es Saripetojo. Saya baru tahu kalau dulu, sebelum ada pabrik es di Indonesia, sempat ada masa di mana es batu itu diekspor dari Amerika!! Es batu bisa masuk kategori barang mewah di masanya!!

Perjalanan pun dilanjutkan masih di area Kebon Sirih dan Babakan Ciamis di area sekitar belakang Cicendo. Di wilayah Kebon Sirih ini kami melewati Vihara Maitreya Datu. Di bagian bawah Vihara, ada cafe kecil yang merupakan cafe vegan. Di dekat jembatan jalan Kebon Sirih, kami pun berbelok di sebuah gang dan menyusuri area yang dulunya merupakan pemakaman warga Tionghoa atau Sentiong yang merupakan pindahan dari Sentiong Banceuy. Hal ini dibuktikan dengan adanya Nisan Letnan Tionghoa Pertama di Bandung bernama Oey Bouw Hoen. Sayang banget nisannya terletak di gang kecil dan terhalang oleh tempat sampah 😦 .

Kami pun menyusuri jalan hingga keluar di gang sebelah rumah sakit mata Cicendo. Perjalanan pun dilanjutkan menuju SLB Negeri Cicendo dan berakhir di Gedung Pakuan yang merupakan rumah dinas gubernur Jawa Barat.

Perjalanan ini ditempuh dalam waktu dua jam dan sempat berhenti untuk ngemil batagor dulu di depan pabrik es Saripetojo. Bandung Good Guide merupakan salah satu penyedia walking tour di Bandung dan merupakan cabang dari Jakarta Good Guide. Untuk harga walking tour-nya sendiri merupakan “pay as you wish” walking tour, jadi peserta dapat menentukan sendiri harga yang dibayarkan saat tur berakhir.

Petualangan Baru

We truly never know where we go on this long journey.

Kurasa itu adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan dan pikiranku hari ini. Hari ketika aku melihat kembali apa yang kucita-citakan dan kurasakan saat bertahun-tahun yang lalu. Dulu kupikir aku akan berada di tempat A dengan segala cita-cita yang kuidamkan. Ternyata, perjalanan kehidupan berkata lain. Pada akhirnya di sini lah aku sekarang. Berada di kapal dan laut yang lain dari pada tempatku dulu. Tidak pernah terbayangkan maupun terpikirkan bahwa akan ada saatnya aku bertualang di tempat ini.

Dahulu, aku kira aku akan menikah di usia muda dan segera memiliki anak. Mana pernah terbayangkan ternyata akan benar-benar memiliki anak. Tidak hanya satu atau pun dua, tapi lebih dari itu!! Siapa yang menyangka aku akan membersamai anak-anak di jenjang usia tiga hingga enam tahun dan bersama-sama menjahit sekolah dengan teman-teman yang lain. Laut yang baru itu bernama sekolah dan kapalnya adalah tk. Aku menjadi guru tk!!

Sebuah petualangan baru yang kulakukan selama 9 bulan ini. Petualangan dengan arus laut yang berbeda, angin yang berbeda, namun bersama dengan rekan yang saling mendukung. Sudah tentu adaptasi awal begitu luar biasa. Dari pekerja yang biasa memakai heels berubah menjadi memakai sepatu. Dahulu berada di ruangann ber-ac, saat ini lebih banyak terkena sinar matahari. Menariknya, sakit bahu-ku perlahan menghilang!!

Mari menikmati perjalanan ini….

Kembali Berjalan

Setelah terakhir melakukan perjalanan di bulan Maret 2020, akhirnya saya kembali melakukan perjalanan di Desember 2021. Sebuah periode waktu terlama untuk saya berdiam di Bandung. Perjalanan pertama saya pasca pandemi kovid ini adalah ke Jakarta. Sebuah kota yang tidak ingin ditinggali, tapi terkadang dirindukan.

Tujuan awal ke Jakarta adalah bertemu dengan sepupu saya yang bekerja di Jakarta dan bermain ke sepupu kami di Bogor. Tentu saya pun ingin berjalan-jalan di Jakarta mengunjungi beberapa tempat yang sudah lama ingin saya kunjungi. Walaupun ujung-ujungnya adalah mencari tempat buat makan enak dan ga ada di Bandung dan bertemu dengan sahabat-sahabat tersayang. Karena sudah lama tak berjalan-jalan ke kota lain, memang tujuannya lebih ingin menikmati dengan tenang dan ga ada ambisi mau melakukan suatu hal. Bahkan saya memang sengaja tidak mengabari orang-orang di Jakarta untuk bertemu, eh ternyata sahabat-sahabat saya punya insting yang tajam. Satu persatu melakukan komunikasi dan berakhir dengan bertemu mereka semua. Salah satunya adalah bertemu dengan sahabat-sahabat di dunia blogger yang saya ceritakan sebelumnya. Beberapa tempat makan yang saya datangi selama di Jakarta mudah-mudahan akan saya ceritakan ditulisan selanjutnya ya.

Saya pergi ke Jakarta dengan menggunakan kereta api. Tak usah ditanya bagaimana bahagianya saya bisa kembali menjejakkan kaki di stasiun Bandung yang sekarang makin rapi dan bagus. Ternyata hampir dua tahun tidak ke sini, sekarang sudah ada jembatan/sky bridge yang menghubungkan antar peron kereta. Untuk yang menggunakan koper, tidak perlu khawatir lagi untuk mengangkat-angkat kopernya saat melewati rel kereta, karena sudah ada eskalatornya. Sepanjang perjalananpun saya disuguhi oleh pemandangan yang sudah lama tidak saya lihat: jalan tol Cipularang, sawah-sawah, lembah, sungai, dan pengunungan, hingga rumah-rumah penduduk. Saya pun kembali menikmati waktu untuk bisa membaca di dalam kereta. Selama tiga jam perjalanan, sebuah novel yang saya bawa pun tamat dibaca di kereta. Padahal saat di Bandung, hampir satu tahun lamanya novel ini tidak beres-beres saya baca.

Ternyata setelah dua tahun tidak bepergian, saya benar-benar memungut serpihan-serpihan cerita perjalanan yang dulu mungkin saya anggap biasa dan wajar ternyata adalah kemewahan tersendiri.

Lebaran 2022

Ada yang berbeda lebaran kali ini dengan dua tahun silam. Tahun ini orang-orang mulai banyak yang mudik ke kampung halaman. Tahun ini keluarga yang sudah dua tahun lamanya hanya berjumpa lewat layar, kembali bertatap muka meski masih memakai masker. Kabar yang hanya sedikit-sedikit melalui pesan dan telepon, kembali diperbaharui dengan lebih lengkap dan panjang secara langsung. Beberapa pertanyaan yang dulu kerap muncul pun tentu muncul kembali. Suka, duka, senang, sebel, dan tentu lelahnya menjadi satu paket.

Momen tradisi silaturahmi dan lebaran terasa oleh semua orang.
Selamat berlibur, selamat berkumpul bersama keluarga, mohon maaf lahir dan batin.

Kena Juga

Akhirnya saya kena covid.

Kejadiannya bermula dari hari Selasa pagi ketika saya mulai demam hingga 38 derajat celcius dan kepala rasanya sakit dan berat khususnya di bagian belakang kepala. Begitu kena demam, pikiran saya langsung “kayaknya mesti swab deh”, dan pergilah saya swab antigen. Hasilnya pun negatif. Bersyukur, tapi juga masih deg-degan sebenernya.

Sepanjang tiga hari berikutnya, demam saya sempat naik turun. Saat minum obat, ada kalanya turun lalu kemudian naik lagi. Selain itu suka berasa bagian tangan dan kaki menjadi dingin. Mulai curiga apa jangan-jangan bukan covid, tapi malah demam berdarah ya? Tapi saya tetep observasi dulu untuk mastiin keadaan sendiri. Sampai hari Jumat, demam saya mulai turun dan seharian itu ga demam lagi. Tapi hidung mulai ga enak. Sabtu pagi pun, akhirnya pilek dan sempet batuk beberapa kali. Perasaan saya mulai kembali ga enak, jadi akhirnya kembali memutuskan buat swab dan ternyata positif.

Saat ini, kondisi saya sendiri sudah cukup membaik. Udah ga demam, pilek mulai jarang, dan ga ada batuk. Kalau dilihat dari hari pertama saya bergejala, berarti ini adalah hari ke-5 saya kena covid. Sejak awal demam, saya sudah mengurung diri di kamar dan meminta anggota keluarga serumah untuk jauh-jauh kalau mau nyimpen makanan atau pun minuman. Semua ini saya lakukan untuk memastikan anggota keluarga saya yang merupakan orang tua dan sudah berumur tidak tertular.

Sepanjang beberapa hari ini sakit, saya bener-bener cuma tidur-tiduran di kasur, baca buku dan novel, hingga nyaris mengkhatamkan Rapijali dari mulai Rapijali 1, 2, hingga sekarang sedang membaca buku ketiganya. Mungkin saya dikasi waktu untuk istirahat dari semua hal yang membuat saya kemaren tergesa-gesa dan jadi ga ada waktu sejenak untuk diri sendiri. Sekarang dipaksa buat mikirin diri sendiri supaya cepet sembuh dulu.

Semoga saya bisa segera sembuh, tidak bergejala lagi dan beberapa hari lagi antigennya negatif, aamiin!! Buat yang baca blog saya pun semoga senantiasa diberi kesehatan yaaaa…aamiin!!

Memelankan Ritme

Mari menarik napas panjang, tahan sebentar, dan menghembuskan napas dengan lebih pelan dari pada saat menarik napas. Sebuah amatan yang saya lakukan sepanjang dua bulan ini bahwa ternyata, napas saya belum sepelan yang saya kira. Masih terasa sekali grasa-grusu-nya, lupa ini itu, dan di titik-titik tertentu menjadi cepat kembali. Apalagi ketika dirasa waktu semakin sempit, ingin istirahat tapi rasanya masih ada yang perlu dipikirkan. Berasa sekali bahwa memelankan ritme itu memang sebuah seni tersendiri.

Selain ritme saya yang masih belum sepelan harapan pribadi ini, juga menjadi sebuah pengingat bahwa saya merasa kesulitan mencari waktu untuk saya sendiri. Ketika waktu itu hanya benar-benar milik saya dan memikirkan diri sendiri. Selama ini walaupun saya sedang sendiri, pikirannya adalah kembali lagi ke pekerjaan yang sedang saya lakukan saat ini. Ternyata berpikir fleksibel untuk berganti apa yang dipikirkan pun tak semudah ketika saya berada di pekerjaan sebelumnya.

Mari kembali menarik napas panjang, tahan sebentar, dan menghembuskan napas dengan lebih pelan dari pada saat menarik napas. Istirahat barang sejenak dan berkualitas. Memelankan ritme yang sedang intens.

Kristal Ingatan

Awal Januari, saya bertemu dengan Mbak Dewi, kakak yang saya dapati ketika berselancar di dunia blog hingga hari ini akhirnya kami ketemu dan ngobrol ngalor ngidul dan membahas soal keluarga. Saya teringat salah satu hal yang dikatakan Mbak Dewi, “Ra, kamu mesti nulis deh soal orang tua mu ini, bagus loh dan hangat banget!”. Di mulai dari situ, beberapa minggu kemudian seorang teman datang ke rumah. Beliau adalah arsitek dan sedang membantu saya untuk merenovasi bagian pipa air di rumah. Kami pun mengobrol soal silsilah keluarga masing-masing dan kisah-kisah terkait sejarah dan masa lalu keluarga. Hingga akhirnya saya mengeluarkan dua buah buku mengenai almarhum Angku (sebutan untuk kakek) dan Mak Haji. Teman saya itu pun mengatakan “wah ini tercatat semua gini ya Ra. Foto-foto dan dokumennya pun juga masih ada.”. Untuk yang mau membaca kisah mengenai almarhum Mak Haji, bisa ketautan ini.

Berawal dari kedua hal di atas, saya jadi terpikirkan untuk bercerita mengenai mama dan papa. Kedua sosok orang tua yang mungkin orang tua biasa-biasa aja. Bukan orang tuanya Rafatar gitu yang lagi bikin rumah dengan lift untuk mobil di basementnya. Tulisan soal kedua orang tua saya ini mungkin adalah salah satu jalan saya untuk mengkristalkan ingatan hingga kelak ketika mungkin saya punya suami, anak, dan tiba saatnya saya harus berpisah dengan mereka, saya bisa menengok dan membaca kembali hal-hal yang mungkin akan terlupkan kelak.

Mau mulai kapan dan dari mana, saya pun ga tahu. Mau dibuka sampai di mana pun untuk soal privasi, saya pun ga tahu. Lihat aja nanti bentuknya gimana ya 😆😆. Sementara ini niat dan pengingatnya saja dulu.

Our Beloved Summer

Menonton episode pertama sebuah drama atau tv series merupakan hal krusial apakah saya mau memutuskan untuk mencoba menonton episode berikutnya, atau akan terseok-seok menontonnya, ataupun langsung memutuskan “yuuukk dilanjut!!”. Begitu pun dengan Our Beloved Summer. Saat saya menonton adegan Ung sedang menggambar dengan iringan suara Tae Hyung yang adem itu, saya langsung memutuskan untuk “yuuuukk dilanjut nontonnya!!”.

Our Beloved Summer bercerita mengenai Yeon Su dan Choi Ung yang saat SMA pernah mengikuti sebuah dokumenter mengenai anak pintar dan pemalas yang akhirnya disatukan. Oh sudah tentu karena sering bareng, benih-benih cinta pun muncul. Tapiii 10 tahun kemudian, mereka telah hidup masing-masing. Akhirnya mereka kembali bertemu karena pekerjaan. Di sisi lain, sahabat Choi Ung yang sekarang telah menjadi PD-Nim diminta untuk membuat seri dokumenter kembali.

Ceritanya sebenernya sudah ketebak, tapi cara penuturan, teknik pengambilan gambar, dan bagaimana alur ceritanya yang menarik, membuat saya akhirnya berlanjut nonton hingga akhir. Benar-benar tipe kesukaan saya banget deh untuk semuanya. Apalagi setelah lihat-lihat soundtrack-nya, diisinya sama penyanyi-penyanyi yang saya kenal lewat Begin Again Korea seperti 10cm, Sam Kim, dan Bibi. Kalau Tae Hyung BTS sudah pasti spesial bikin soundtrack karena pemain utama pria adalah sobatnya, Choi Woo Shik. Selebihnya adalah penyanyi yang memang mengisi soundtrack drama-drama Korea yang bagus-bagus.

Hal lain yang membuat saya seneng banget sama drama ini adalah pengembangan karakternya yang bagus banget. Ga maksa dan pelan alurnya. Jadi ga kaget ketika tiba-tiba ada yang berubah. Setiap karkaternya pun punya cerita masing-masing, sehingga ga hanya cerita soal kehidupan Yeon Su dan Choi Ung aja. Ada cerita soal Ji Ung, sahabat baiknya Choi Ung. Mulai dari temen kantornya sampai ibunya pun diceritain. Ada cerita sekilas soal Eun Ho, Sol Yi, NJ, bahkan cerita temen-temen kantornya Yeon Su. Semua dapet porsinya.

Alur cerita yang maju mundur pun membuat penontonnya bisa tahu apa yang membuat mereka jadi seperti sekarang dan apa yang membuat akhirnya mereka memilih buat berubah. Yang bikin deg-degan tuh cuma satu. Saat menjelang episode terakhir, semoga ga berakhir kentang kayak House Monthly Magazine. Ternyata menonton episode terakhirnya aku puassss!! Lumayan dapet 20 menit bahagia dan semua karakter punya penutup atas semua masalah-masalahnya.

Di episode terakhir ada sebuah kata-kata dari Yeon Su yang pernah saya rasakan dan serasa diingatkan kembali: “I always believed that I had no choice but to live this life. But now, I think this was the life that I always wanted. So I want to keep exploring the life I have now and keep going.”

Meski sudah tayang sejak awal Desember, tapi saya baru menontonnya saat minggu ke-2 Januari. Our beloved Summer ini benar-benar menjadi drama awal tahun yang menyenangkan untuk ditonton!!

Tiga Belas Tahun dan Terus Berlanjut

Selamat ulang tahun untuk blogku di wordpress yang ke-13 tahun!!! Tiga belas tahun!! Bahkan kalau punya anak, udah masuk masa remaja loh blogku ini :’). Udah jadi anak smp! Meskipun kadang ada aja masa on off blog ini didiamkan dalam waktu berbulan-bulan. Terkadang juga banyak yang ingin ditulis sampai bingung sendiri mau nulis dari mana. Ada juga kadang lebih seru main sosial media lain dibandingkan dengan menulis, padahal menulis mungkin jejaknya lebih detail dibandingkan yang lain.

Selama tiga belas tahun menulis ini, siapa yang menyangka saya akan dapet banyak temen baru dari sini. Berawal dari komen-komenan, mengikuti lini masanya di sosial media lain, hingga bertemu di dunia nyata. Bahkan jadi dekat dan curhat!! 🤣🤣🤣

Semoga apapun jejak digital yang ada di sini dapat menjadi pengingat, penyemangat, dan merefleksikan perjalanan hidup saya sendiri. Aamiin!!

Happy Anniversary Coklat dan Hujan!!