Menikmati Sakura di Jepang

Jepang merupakan salah satu destinasi impian saya. Alesan awalnya cetek banget: buat ngeliat sakura bermekaran!! Maklumin aja, di Indonesia saya jarang banget ngeliat ada pohon sakura. Padahal kalau kata mama, di rumah Alm nenek dulu ada pohon sakura loh. Sayangnya udah mati sebelum saya lahir ><.

gambar diambil dari sini

Tentunya alesan lihat sakura bermekaran ini tak lain dan tak bukan karena keseringan baca manga maupun nonton anime dan dorama!! Kesannya penduduk Jepang sendiri aja suka heboh kalau mendekati mekarnya bunga sakura. Bahkan karena mekarnya bunga sakura ini biasa saat Golden Week alias libur weekend terpanjang, banyak banget orang Jepang yang sengaja melakukan hanami atau piknik ke taman untuk ngeliat bunga sakura bermekaran. Bahkan ada yang sampai ngetag tempat pagi-pagi untuk ngeliat pemandangan sakura ini. Saya yang doyan piknik ini, tentu pengen ngerasain dong makan bekel serta leyeh-leyeh baca novel ditemani bunga sakura yang bermekaran.

Selain melakukan hanami, saya juga ingin melihat sakura saat sore hari yang ga kalah cantiknya. Apalagi kalau melihat sakura di dekat sungai seperti yang saya lihat dari beberapa artikel, aakkk aku igin ke sana!!

cantik bangetkan?! gambar diambil dari sini

Saya sering banget baca-baca artikel yang berhubungan sama liburan ke Jepang saat musim sakura. Ternyata oh ternyata, sakura ini cuma mekar selama dua minggu aja!! Cepet bangetkan. Makanya perlu tahu waktu yang tepat saat sakura bermekaran. Waktu sakura mekar ini kudu diprediksi jauh-jauh hari loh. Kata sepupu saya yang udah 2 kali ngejer sakura, kita sampai perlu memperhatikan kalender sakura mekar dari tiga tahun yang lalu agar dapet hari yang pas. Jangan sampai zong. Sepupu saya pernah tuh udah nyiapin semuanya dan begitu ke Jepang, sakuranya udah pada mekar dan berguguran. Ternyata tahun itu sakura mekar lebih cepat dari biasanya. Peddiiiihhh!!

Selain musim sakura yang cuma dua minggu, ternyata sakura akan lebih cepat mekar di daerah Selatan Jepang. Jadi kalau mau mengejar sakura banget, ga dapet ke Tokyo, kita bisa ngejer ke wilayah Utara seperti Hokkaido yang mekarnya lebih akhir.

Semoga tahun depan saya bisa ke Jepang saat sakura bermekaran. Syukur-syukur kalau bisa narikin orang-orang buat liburan bareng menikmati sakura di Jepang. Tolong aamiin-kan ya semua?!

*Tulisan di atas diikutsertakan untuk giveaway milik Nyonya Sepatudan Jalan2liburan

Teruntuk yang Sedang Berjuang

Mendengarkan lagu ini, mengingatkan saya sama perjuangan tesis beberapa bulan ini. Bohong banget kalau saya ga pernah ada di titik terendah dan rasanya ingin menyerah. Tapi saya percaya, saya pasti bisa menyelesaikannya!! Terbukti saya akhirnya bisa juga melewati gunung bernama tesis.

Saya ingin berbagi sebuah lagu dari Dira Sugandi. Menurut saya lagu ini diciptakan untuk yang sedang berjuang..
untuk yang sedang berkutat dengan perkuliahannya,
untuk yang sedang menyelesaikan tugas akhir dan tesis,
untuk yang sedang mencari jodoh,
untuk yang sedang berusaha kembali berdiri dalam hidupnya,
untuk pasangan dan orang tua dengan segala permasalahannya,
untuk para pekerja dengan hiruk pikuk di tempat kerja,
untuk kamu yang sedang menghadapi beratnya hidup,
Dengar dan rasakan lagu ini…

oh..sunyi yang bersuara….
kala gelap melanda…
menanti, berkabut jawabannya

kau..bertahanlah kau di sana.
waktu akan berkata, percaya…semua baik saja…

langit akan mendengar, seruan lelahmu.
yakinlah semua terlewati…
mengayuhlah doamu, sampai ia berlabuh seberat apapun itu

Dengarkan hatimu, sanubari kecilmu
disitulah berada semua harapan
tegak berdiri..kan temukan percaya, dan langitkan mendengar

Oh, saat sejuta tanya tak sanggup tuk mengerti, 
rencanaNya menyimpan pertanda.

Langit akan mendengar seruan lelahmu, seberat apapun itu…

Meredup malam sebelum fajar tiba, diantara pekat temukan sinarNya
Oo, segenap hatiku berkata terus percaya….

Saya berkaca-kaca mendengar lagu ini. Kerasa banget tulusnya Mbak Dira saat menyanyikannya. Seperti tulisan di akhir video klipnya. Jangan berhenti untuk percaya.

Cerita Tesis (3)

Pasca Seminar Proposal Penelitian, saya mulai ngebut bikin perbaikan alat ukur serta program intervensi. Semua dilakukan untuk bisa cepet-cepet intervensi. Waktunya mepet banget karena tinggal tujuh minggu sebelum Ujian Akhir Semester anak SD. Kalau ga sempet ambil data bulan November, saya mesti nunggu sampai Januari untuk ambil data!! Haduh ga akan sempat mengejar sidang awal Februari!!

Akhirnya dari ngebut bikin alat ukur, minggu kedua November saya mulai bisa ambil data dan melakukan intervensi. Saya pikir intervensinya bakal  berjalan lancar dan ga penuh drama. Ternyata tetep ada cerita dan dramanya!! Drama pertama adalah Antapani yang lagi macet-macetnya karena pembangunan Jembatan Antapani. Pulang dari Antapani ke daerah kota bisa memakan waktu satu jam ajah. Sampai saya pernah ketiduran di angkot saking macetnya >< . Drama lainnya adalah hari pertama mau mulai intervensi, orang yang bakal ngebantu intervensinya ga dateng dong. Hp-nya mati dan ga bisa dihubungin. Rasanya kesel, bt, ama sedih jadi satu. Seorang adik ketemu gede berusaha menenangkan saya sambil bilang “Ambil data itu selalu ada praharanya, kalau engga bukan tesis namanya” dan dia ngasi contoh pengalamannya yang dipikir-pikir lebih miris dari kejadian saya. Yah apalah arti Pasteur – Antapani dibandingkan Soekarno Hatta – Majalaya. Tuhan memang Maha Baik, disetiap kesulitan selalu ada kemudahan.  Tiga hari kemudian disaat saya lagi pusing memikirkan rencana B dan C, orang yang menghilang tersebut nge-whatss app dan ngejelasin kalau ternyata hp-nya rusak dan baru dibenerin. Kita akhirnya bikin kesepakatan lagi untuk bantuin intervensi. Syukurlah selama tujuh kali intervensi beneran dateng dan ngebantu terus. Terima kasih banyak ya pak pelatih!!

Minggu kedua Desember, ambil data pun selesai. Saatnya bikin pembahasan. Agak lama juga proses mengerjakannya. Bolak balik revisi sampai minggu kedua Januari. Saya sampai sakit bahu dan punggung karena kebanyakan duduk plus ngetik di laptop dan komputer. Buah perjuangan pun terbayar pada minggu ketiga Januari. Tesis saya di acc untuk maju sidang!!! Huwaaahh beneran beres juga ya ini tesis!! Nangis terharu lihat tesis sendiri *pelukin tesis*.

Akhirnya tanggal 6 Februari kemarin saya pun berusaha menjawab dan mempertahankan penelitian saya di meja hijau *beneran taplaknya warna hijau!!*. Satu jam lebih saya disidang. Beneran pasrah deh sama hasilnya. Toh selama proses hingga di dalam ruang sidang saya sudah berusaha memberikan daya dan upaya yang dimiliki.

Tepat pukul 12.30 di hari yang sama, ketua program studi pun membacakan yudisium dan saya dinyatakan lulus dengan hasil memuaskan. Alhamdulillah!!! Syukurlah.. akhirnya lulus juga!! Resmi bisa pakai gelar!! Perjuangan selama ini terbayar sudah. Lunas!!

img_2333

 NB. Foto kelegaan dan bahagianya bisa dilihat di IG saya ya 🙂 .

Carangan Ala Nasirun

img_9522

Dalam pewayangan dikenal sebuah lakon yang dinamai Carangan.

Carangan berasal dari kata dasar Cang yang dalam bahasa Jawa berarti miring, menyerong, atau menonjol, kemudian menjadi carang, dengan merujuk pada cabang-cabang kecil yang bertunas pada pepohonan. Ketika berbicara mengenai lakon Carangan berarti cerita yang tumbuh dan berkembang dari pakem yang ada.

Pada pameran Carangan Pak Nasirun di Nu Art Sculpture Park, fokusnya adalah menanggapi dari karya-karya Pak Nyoman Nu Arta yang berada di dalam galerinya. Selain itu, Iapun meletakkan berbagai karya seni yang dimilikinya dalam pojok-pojok dan ruangan yang ada di galeri. Dalam pameran ini, Pak Nasirun tidak hanya mencarang karya Pak Nyoman, tapi juga berbagai elemen yang ia temui.

Pada bagian pintu masuk, Pak Nasirun meletakkan sebuah karya  iring-iringan sebagai bentuk prosesi mengantarkan Dalang Slamet Gundono yang meninggal sebelum sempat melihat wayang Burung pesanannya kepada Nasirun. Iring-iringan ini terdiri dari wayang-wayang burung pesanan, kuda-kudaan kayu yang sudah dilukis ulang, serta perahu naga kayu dengan berbagai wayang-wayang ukuran kecil. Indah banget. Saya betah sekali melihat detail lukisan serta berbagai wayang-wayang ukuran kecil ini. Bahkan saya kaget sendiri saat melihat ada wayang berbentuk naga yang merupakan hewan di shio lahir saya.

129apple_img_9432

Pak Nasirun sedang menjelaskan karyanya

Di lantai dua, terdapat karya-karya lain dari Pak Nasirun. Terdapat sebuah gambar mengenai kemerdekaan dan juga berbagai kacamata yang dilukis oleh Nasirun. Saat datang ke sana, saya beruntung karena sedang ada Pak Nasirun yang menjelaskan karya-karyanya. Selain itu kita juga bisa melihat berbagai jenis wayang besar yang dibuat oleh Pak Nasirun.

img_2282

img_2283

img_2285

img_2286

Dalam ruangan ini kita juga bisa melihat seri stempel. Dalam seri stempel ini, Pak Nasirun memasang stempel dalam papan kayu dan merespon pola asli distempel dengan ukiran dan warna dalam pola ragam ornamen hias. Saya rasanya bisa satu jam untuk melihat detial setiap stempel yang ada.

129apple_img_9436

129apple_img_9496

129apple_img_9507

129apple_img_9508

Selain itu Pak Nasirun pun membuat seri figur tunggal di mana ia melukis dalam medium cat minyak di atas kanvas. Pada seri ini Pak Nasirun mencoba mencarang ikon-ikon simbolik yang berasal dari mitologi maupun religi. Ia juga memodifikasi figur-figur ikonik dari elemen serta gambar keseharian.

129apple_img_9504

129apple_img_9505

Di dalam galeri yang menyimpan sebagian besar karya Pak Nyoman Nu Arta, Pak Nasirun mencoba untuk mencarang patung-patung karya Pak Nyoman. Ia menghadirkannya dalam kanvas-kanvas yang diletakkan disekitar patung. Membuat saya dapat melihat dari perspektif dan persepsi yang berbeda-beda. Misalnya saja pada karya Pak Nyoman berbentuk Candi Borobudur, Pak Nasirun bisa membuat tiga lukisan dengan perspektif yang berbeda-beda.

Menurut Kurator Jim Supangkat, Proses Pak nasirun dalam berkarya ini membuatnya belajar memahami hakikat kemanusiaan dalam pencarian para seniman, yang pada setiap zaman terus mencoba memaknai, menafsir, dan menuliskan pengalamannya, sebagai kelanjutan pertumbuhan. Carangan dalam penelitian Marshal Clark merupakan proses pemikiran ulang, tidak menyangkal yang sudah ada, akan tetapi merupakan bentuk perpanjangan imajinatif terhadap karya asli. Disinilah Pak Nasirun menemukan tempat bagi dirinya dan kisahnya.

Saya sampai menghabiskan dua jam untuk melihat karya-karya yang ada. Itu pun belum sepenuhnya puas, karena karya-karya Pak Nasirun dalam ruang seni Pak Nyoman belum saya perhatikan detail satu persatu. Ingin rasanya kembali dan melihat carangan hasil karya Pak Nasirun.

Cerita Tesis (2)

img_7207

Sebelumnya baca cerita tesis (1) dulu ya 😀

Oktober 2016 kemarin, saya membuat sebuah langkah besar dalam tesis. Saya diizinkan untuk melakukan seminar proposal usulan penelitian!! Akhirnya setelah menanti satu tahun lebih serta perjuangan siang-malam dari bulan Agustus kemaren, penelitian saya dianggap cukup layak maju seminar.

Saat mau mengumpulkan proposal penelitian, dramanya bukan main. Saya stres karena masih ngerasa bab 2-nya bagai remahan rempeyek. Ga banget deh buat dimajuin seminar. Seminggu saya sampai mual ngerjain kerangka pikir di bab 2. Rasanya pengen kabur lagi. Tapi kalau kabur terus kapan beresnya coba?! Akhirnya baca lagi jurnal, teori, dan bongkar pasang kata-kata biar pas. Tidak hanya kerangka pikir, saya nyaris lupa ngeberesin bab 3 yang ga sistematis. Masih campur sari banget deh. Tapi waktu pengumpulan semakin dekat dan ga mungkin buat mundur. Akhirnya tetep dikerjain siang dan malam, semaksimal yang saya bisa.

H-1 pengumpulan saya masih ngerevisi bab 2, bab 3 serta ngerjain printilan. Printilan ini ternyata bikin senewen juga!! Gampang sih, tapi menyita waktu dan kudu teliti juga. Saran saya buat yang lagi tugas akhir, skripsi, ataupun tesis mending dicicil deh bikin printilan kayak kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar pustaka, sampai lampiran.

Saat hari pengumpulan, ada kejadian yang sebenernya bakal bikin bahagia kalau ga terjadi saat saya lagi buru-buru buat ketemu pembimbing. Pagi itu saya masih niat mau bimbingan draft final sama pembimbing sebelum ditandatangan dan dijilid ke fotokopian. Saya sengaja udah dandan rapi dan semi formal saat ke kampus jam tujuh pagi. Eh waktu mau belok ke lobi pascasarjana diteriakin satpam dong!! Diminta buat naek via basement karena dikira anak S1.

—______________________—“

Jadi lantai 5 gedung pascasarjana ini sering banget dipakai buat S1 kuliah. Berhubung anak-anak S1 ini sering bergerombol dan berisik, jadilah mereka ga dibolehin masuk lewat lobi. Kalau keadaannya lagi tenang dan cuma ngerjain tesis ke perpustakaan sih saya ga akan bete. Tapi waktu itukan lagi buru-buru mau ketemu pembimbing, jadilah mas satpamnya saya jutekin sambil bilang “saya mau ketemu kaprodi” dan tetep jalan menuju lobi. Langsung mingkem deh mas satpamnya.

Seminggu setelah pengumpulan draft, saya pun seminar proposal penelitian. Saat seminar ini, saya udah pasrah. Mau ditanyain atau disanggah mah sok aja. Sepanjang seminar pun saya selalu mengingat kata-kata pembimbing tercinta buat melihat sisi lain dari seminar yaitu buat bantu saya melihat penelitian ini dari sisi yang lain, sehingga bolongnya penelitian bisa ditutupin sebelum ambil data. Jadilah saya makin pasrah ngejalanin seminar proposalnya.

Hasil yudisium seminar proposalnya diumumin hari itu dan saya boleh melanjutkan penelitian!! Alhamdulillah!!! Yosh saatnya ngerevisi kerangka pikir dan alat ukur sebelum mulai ambil data. Apalagi waktunya mepet banget sama libur semester, natal, dan tahun baru kemaren.

Delapan Tahun Menulis

Rasanya baru kemarin saya menulis soal tujuh tahun di tanggal 23. Lalu sekarang sudah telat dua hari dari tanggal ulang tahun blog. Saya menulis di wordpress ini merupakan ajang untuk mengasah kemampuan menulis. Semacam naik kelas dari nulis di diari soal randomnya hari-hari yang dilalui 😀 . Saya ga tahu apakah kemampuan menulis saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Kalau feedback pembimbing soal penulisan tesis sih, saya masih jauh dari kata sempurna. Kadang penggunaan s-p-o-k saat menulis kalimat aja masih berantakan. Masih belum sistematis!!

Semoga bisa lebih sering lagi menulis, berbagi pengalaman, dan pemikiran di sini. Delapan tahun, mau ngomong ga kerasa kok yah bohong banget. Tulisan-tulisan di sini sudah merupakan rekam jejak dari perjalanan panjang hidup saya.

Saya selalu percaya bahwa angka delapan itu unik. Coba perhatikan baik-baik deh, angkanya membentuk garis tidak terputus dan bisa dibaca sebagai infinitity. Beda dengan angka-angka yang lain.

Well, happy birthday my dearest blog. Terima kasih wordpress sudah menjadi rumah untuk blog saya selama delapan tahun 🙂

Cerita Tesis (1)

Have you ever feel that you can’t do anything? your optimistic was drown, and all leave you was sorrow and lonely.

That is my feeling when I do my last task. Lebay bener yaaaakkkk!!!! Sampai ngerasa sesak nafas sendiri. Lelah banget rasanya. Semacam dementor yang mengambil semua kebahagiaan di dalam diri. Saya sampai pusing dan mual selama lima bulan ini. Rasanya pengen dadah-dadah aja ke kamera, nyerah!! Efek tesis bener-bener sungguh luar biasa.

Perasaan waktu ngerjain skripsi dulu ga gini-gini amat deh. Ngerjain laporan untuk sidang profesi yang berjumlah delapan aja ga segininya loh!! Tapi proses tesis ini, serasa dihempaskan semua deh nilai-nilai yang dipunya, idealisme yang dimiliki ketika berbenturan dengan realita, bahkan orang-orang yang dikira perhatian ternyata basa basi doang, dan yang dikira cuek ternyata benar-benar akan menolong di saat kritis. Edan bener!!! Kok rasanya macam cobaan hidup tingkat dewa. Pertanyaan kapan kawin langsung terlihat ringan dibandingin proses ngerjain tesis.

I feel like I am going to throw up!! Dasar anaknya butuh aja orang buat diskusi, diajak bertukar pikiran, atau meluruskan benang yang kusut di otak. Masalahnya saya kan ga bisa egois ngajak orang-orang buat ngelurusin benang kusut diotak saya. Mereka juga punya kehidupan dan kesibukan. Jadi yang ada saya berdialog tentang banyak hal dengan diri sendiri. Jadi semacam berkontemplasi terus-terusan. Mumet ama pikiran sendiri. Revisian? Maju dikit banget ciiinnn. Sampai akhirnya ketika dititik parah, saya kembali menulis. Berkat menulis saya mulai kembali menerima kalau tesis itu harus diselesaikan, bukan dihindarin. Karena masalah yang dihindarin itu malah nambah perih!! Semacam acceptance gitu 😀 . Jadi kalau tiba-tiba ada tulisan penuh kontemplasi kemaren-kemaren, berarti itu usaha saya untuk meluruskan benang kusut di otak.

Disetiap kesulitan itu ada kemudahan

Di saat mulai tenang, mulai menerima kenyataan dan tahu apa yang mesti dilakukan, tiba-tiba ada satu dua orang yang membantu. Memang mereka ga selalu ada di dekat saya. Tapi beneran deh, saat krusial dan dibutuhin banget, atau saat saya udah lemah dan putus asa, tiba-tiba aja gitu bantuan dateng. MasyaAllah….indah banget ya Allah. Memang, bantuan dari orang-orang itu ga akan ada saat saya lagi menye-menye atau manja, tapi saat krusialnya tetep aja loh ada di samping dan ngebantuin saya dengan cara mereka masing-masing. I love you guys from the moon and back!! It makes me remember what I wrote to my self in Penang. “The one who still beside you, who care of you, always be near you”. So don’t worry.

Mungkin prahara ini hanya terjadi di jurusan saya aja kali ya, atau lebih tepatnya untuk jurusan psikologi profesi.  Tekanannya sama edyannya untuk setiap jurusan profesi. Mau yang klinis dewasa, klinis anak, pendidikan, sosial, hingga industri dan organisasi. Tidak sedikit yang mengundurkan diri, pindah ke jurusan lain, pindah ke universitas lain, ataupun di DO karena sudah lebih dari 4/5 tahun. Bukan barang aneh kalau profesi psikologi ini paling cepet bisa keluar adalah 2,5 tahun. Tinggalkan impian lulus 1,5 tahun, bisa frustrasi nantinya. Eh saya ga tahu ya ke depannya bisa apa engga, kayak kejadian di S1 yang sekarang bukan barang aneh bisa lulus psikologi cuma 3,5 tahun depan IPK di atas 3. Kalau dulu..err kayaknya jungkir balik juga ga akan mampu 3,5 tahun *dadah dadah sama anak Unpad, Unisba, dan Marnat Bandung*.

Jadi gimana kabar tesisnya? Masih dikerjain. Ini pun saya sedang rehat sebentar ngerevisi tesis. Semoga segera selesai, aamiin!!