Perpisahan

We’re apart …Sitting in the dark
Close the door….Begin to doubt

Perpisahan, tidak ada yang bisa memastikan kapan hal ini akan terjadi. Bisa hari ini, esok, atau beberapa tahun kemudian. Itu semua benar-benar rahasia dari Sang Pencipta. Hanya saja perpisahan akan selalu mutlak terjadi.

Perpisahan pun bisa jadi dalam bentuk apapun. Bisa saja berpisah dari orang tua karena harus pindah ke kota lain demi kuliah atau bekerja. Berpisah dengan teman-teman paska lulus kuliah. Berpisah dengan rekan satu kantor. Berpisah karena semua mulai sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Berpisah dengan pasangan baik itu pacaran atau bercerai. Serta berpisah dengan yang tersayang akibat meninggal baik pasangan hidup, saudara maupun orang tua.

Perpisahan tentu akan membuat semuanya berbeda, apapun bentuknya. Namun apapun yang kita lakukan setelah berpisah, mau kita berselisih jalan, mungkin kita tidak akan bertemu kembali di titik yang sama. Karena bagaimanapun orang berubah, perasaan pun berubah dan kita sudah tumbuh dengan keterpisahan yang membuat kita memiliki pandangan yang berbeda.

Bukan berarti jadi melupakan orang yang berpisah, namun kita tetap bisa mengenang orang tersebut dan kemudian melanjutkan hidup. Tidak malah terpaku dengan perpisahan yang terjadi. Karena bagaimana pun juga waktu terus berjalan, hidup perlu dihidupi, dan kita pun dipaksa untuk terus bergerak.

Setelah perpisahan yang bisa dilakukan pada akhirnya adalah dengan cukup berani untuk mengikhlaskan dan tumbuh semakin berakar kuat untuk mampu berdiri sendiri.

Saya tergerak membuat tulisan ini setelah mendengarkan lagu yang baru saja dirilis oleh Grace Sahertian berjudul Apart. Ah syahdu nian lagunya. Apalagi saat saya membaca liriknya yang membuat saya seketika berpikir “harusnya lagu ini rilis beberapa tahun lalu!!!”.

Mungkin lagu ini memang tidak ditakdirkan untuk saya dengarkan saat itu tapi saat ini, saat begitu banyak rizki yang ada disekitar saya. Sebut saja pertemanan mulai dari dunia blog, ketemu pembaca Readers Hangout, keluarga Waldorf Indonesia serta keluarga Bakmie Bebek Berolahraga (seriously that our wa group name!! (lol) ). Sehingga saya benar-benar bisa bersyukur dan melihat sejauh apa dampak perpisahan itu membuat saya bisa berdiri seperti saat ini.

Brave enough…To let things go
Going strong…Standing on our own

Advertisements

Perilisan Lagu Apart dari Grace Sahertian

Perkenalan saya dengan lagu-lagu Grace Sahertian melalui akun tumblr seorang teman yang mengunggah video klip Diam dari album Hela. Begitu mendengarkannya, saya segera senang dengan musik serta warna suara Grace Sahertian!! Sungguh beruntung beberapa tahun kemudian saya bisa datang dalam perilisan lagu berjudul Apart. Awalnya saya nyaris tidak datang karena salah melihat jam!! Saya mengiranya jam 9 malam, ternyata oh ternyata jam 9 pagi dong!

Saya senang sekali Grace memilih Yumaju 2.0 untuk tempat mini konsernya ini. Cuaca pagi khas Bandung, harum udara di pagi hari, desir angin yang melambai di pepohonan sekitar Yumaju, cahaya matahari yang bersinar di sela-sela pepohonan, serta tempatnya yang jauh dari kebisingan kendaraan bermotor benar-benar tempat yang sempurna!! Sayangnya Grace hanya bernyanyi sekitar 60 menit, padahal kalau lebih saya bakalan senang sekali. Beneran deh perpaduan suara Grace dan tempatnya benar-benar bikin betah dan adem banget!!

Apalagi bertempat di ruang terbuka sebuah tempat kopi membuat mini konser ini menjadi sangat intim. Saya mengetahui bahwa Grace merupakan reguler customer di sana membuatnya banyak menyapa orang-orang yang berdatangan ketika mini konser. Selain itu ia pun tak sungkan untuk menyapa setiap teman-temannya yang juga datang untuk mendengarkan suara indahnya. Suasananya pun semakin terasa akrab.

Saat jeda antar lagu, pembawa acara pada hari itu Mbak Theo (penulis puisi) mengajak Grace untuk bercerita sedikit mengenai kesibukannya, awal mula bernyanyi, serta proses pembuatan dari lagu Apart itu sendiri. Mini konser dalam rangka perilisan lagu Apart ini ditutup dengan manis saat Grace menyanyikan Better to Love.

Setelah konser usai, Grace pun ramah menyapa penonton yang ada serta berfoto bersama. Begitu juga dengan saya dan para sahabat yang didekatkan oleh Yumaju mendapat kesempatan untuk foto bersama grace. Untuk yang satu ini saya harus berterima kasih sama Mbak Pudji nih karena ia yang menyapa Grace dan membuat kami bisa berfoto bersama.

Semoga lagu barunya selalu sukses dan menggerakkan banyak hati.

Happy 10th Anniversary!!

Hari Rabu pagi saya diingatkan bahwa blog ini berulang tahun yang kesepuluh!! Wouuuww sudah lama sekali ya sejak saya pertama kali ngeblog menggunakan wordpress. Ini baru beneran ten years challange ya!!

Akhirnya saya melihat kembali ke tulisan pertama yang dibuat sepuluh tahun lalu. Ternyata sebuah puisi yang saya tujukan untuk seseorang yang saat itu sedang bersedih. Kalau diingat-ingat lagi saya membuat wordpress karena sedang butuh tempat menulis ketika patah hati dan salah satunya ya bikin puisi. Dasar ya anak muda, kalau sekarang masih banyak yang harus dikerjakan dan harus diselesaikan.

Dipikir-pikir, tujuan ngeblog saya sudah jauh berbeda dari sepuluh tahun yang lalu. Sekarang saya lebih menggunakan blog ini sebagai jurnal perjalanan serta menulis pemikiran-pemikiran yang ingin saya bagikan. Kalau dulu banyak puisi dan lirik lagu, sekarang lebih banyak bercerita dan berbagi.

Paling mencengangkan dan membuat saya bersyukur adalah saya mendapat banyak teman baru dari menulis blog ini. Beberapa ada yang sudah bertemu, beberapa ada yang belum. Percakapan di kolom komen pun ada yang berpindah ke whats app serta instagram.

Sayangnya di tahun kemarin tulisan saya tidak begitu banyak. Keinginan menulis di tahun lalu sangat menurun. Mungkin karena saya sedang banyak pekerjaan yang berhubungan dnegan menulis, mulai dari menulis proposal, laporan, serta evaluasi dari pemeriksaan psikologi. Rasanya udah ga punya tenaga buat nulis di blog. Semoga tahun ini saya kembali rajin ngeblog dan bercerita di sini.

Sampai bertemu ditulisan selanjutnya 🙂

Berbagi Ilmu

Selalu ada yang pertama untuk semua hal termasuk menjadi pembicara di wilayah pendidikan. Sebelum-sebelumnya saya selalu ga pede kalau diajakin untuk tampil berbicara dalam topik bertema edukasi dan parenting. Selain hanya punya bekal teori, saya juga belum terlatih mengalami berbagai kasus berhubungan dengan kedua bidang ini. Selain itu pekerjaan saya pun kebanyakan dari perusahaan untuk penerimaan pegawai ataupun evaluasi jabatan.

Dua tahun ke belakang, saya mulai sering membantu tk di dekat rumah yang menggunakan pendekatan Waldorf. Tentunya tidak menjadi guru tk, tetapi lebih membantu satu kali seminggu saat klab ibu dan anak. Untuk saya pribadi, membantu kegiatan klab ibu dan anak ini membuat saya punya kesempatan untuk mengenal lebih dekat tingkah laku anak dan menanganinya secara langsung. Selain itu sejak tahun lalu saya pun mengikuti pelatihan Waldorf early childhood education yang menambahkan nilai pada apa yang saya pelajari dan bisa langsung dipraktekkan saat kegiatan klab juga.

Pengalaman-pengalaman inilah yang menghantarkan saya menjadi semakin percaya diri saat berbicara mengenai permasalahan anak dan bagaimana mengatasinya. Sehingga sejak bulan lalu saya mulai berani mengambil peran untuk menjadi pembicara serta mengatur ritme kegiatan dalam acara pelatihan orang tua maupun parenting

Awalnya jangan ditanya deg-degannya, udah berasa mau disidang!! Hahahahaha. Walaupun begitu memang apa yang disampaikan dengan hati tentu akan kembali ke hati, rasanya hangat sekali ketika berdiskusi maupun melakukan kegiatan bersama orang tua. Apalagi saat selesai dan mendengarkan kesan mereka terhadap acara ini. Huhuhu yang ada saya malah berkaca-kaca karena kesannya rata-rata positif. 

Kalau sudah begini, berbagi itu rasanya sungguh menyenangkan dan menjadi nagih. Rasanya sayang sekali ketika saya memiliki ilmu yang bisa saya bagi namun belum menemukan tempat untuk berbaginya.

Semoga kembali ada kesempatan untuk berbagi mengenai pendidikan di tahun ini, aamiin!!

saat jadi salah satu pembicara di Seminar Parenting

Penghujung Tahun

Sesungguhnya banyak sekali yang ingin saya bagi di blog ini dan belum memiliki waktu untuk menuliskan semua hal tersebut. Tahu-tahu sudah di penghujung tahun aja!!! Akhirnya seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya yang tetap ingin saya lakukan, saya ingin mengucapkan selamat tinggal pada tahun 2017 yang luar biasa.

Hanya saja, tentu ada yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana tulisannya cenderung singkat, kali ini saya mau melakukan kilas balik apa saja yang terjadi dalam hidup selama 12 bulan di tahun 2017 secara backward.

Pada bulan Desember ini saya melakukan suatu hal untuk pertama kalinya yaitu bekerja untuk membantu anak-anak SD melepaskan emosinya pasca gempa bumi di daerah Kota Palu, Kabupaten Sigi, serta Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah. Cerita panjang lebar soal ini tentu akan saya ceritakan di blog tahun depan.

Di Bulan Oktober akhirnya saya melakukan liburan bareng bersama beberapa orang sahabat ke Bangkok. Kenapa di Bangkok lagi? Ini sih lebih karena mereka nyusulin saya yang habis teacher training di Bangkok. Rasanya bahagia banget ketawa-ketawa serta cerita ngalor ngidul selama beberapa hari bersama mereka.

Bulan September merupakan bulan bersejarah untuk cita-cita yang dari tahun lalu saya coba fokuskan, yaitu membangun sekolah. Di bulan ini merupakan peletakan batu pertama di lahan yang akan menjadi sekolah dasar di tahun depan. Cerita soal ini pun masih teronggok dan belum akan saya keluarkan dulu. Doakan saja ya!!

Di Bulan Agustus genap sudah usia saya menjadi kepala tiga!!! Sedangkan di Bulan Mei merupakan kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Sulawesi dengan bertandang ke Makassar untuk melihat Makassar Internsational Writer Festival. Tentunya sekalian makan-makan dan berwisata di Makassar.

Sedangkan di akhir Bulan Maret saya punya cerita yang bikin geleng-geleng kepala, tentu saja cerita soal ketinggalan passport!! Asli mengingat hal itu mengingatkan saya untuk tidak mengambil pekerjaan mendekati hari kepergian baik untuk urusan kerja maupun main.

Bulan Februari saya berkesempatan untuk bekerja di Semarang selama beberapa hari dan menikmati kota tuanya. Perjalanan pulang dari Semarang pun saya mendapat kabar kalau jalan yang akan kami lalui terendam banjir Bandang di dekat Cirebon sehingga kereta yang harusnya sampai di Bandung pukul enam pagi akhirnya telat hingga pukul tiga sore!!!

Tentu saja sepanjang tahun ini saya memperoleh banyak kenalan, teman, serta keluarga baru yang luar biasa menghiasi hari-hari saya. Semoga tahun depan saya bisa menjadi lebih baik lagi dan kembali rajin menulis blog 😀 .

Menjadi 30

Sudah nyaris sebulan setelah saya berulang tahun ke-30. Ternyata ga ada perubahan signifikan yang dirasakan. Perasaan kok lebih galau waktu menginjak umur 29 dibandingkan 30 😆 .

Pertambahan usia kali ini pun sedikit berbeda. Beberapa tahun ke belakang saya selalu menghadiahkan diri sebuah perjalanan selama beberapa hari baik ke dalam maupun ke luar negeri. Awalnya tahun ini pun terpikir untuk melakukan hal yang sama. Tapi apa daya pekerjaan dan beberapa urusan lain membuat rencana perjalanan terpaksa diundur. Sehingga saya pun memutuskan untuk tetap di Bandung saat bulan ulang tahun.

Walaupun tetap di Bandung, saya malah mendapatkan kado yang luar biasa untuk hati dan pikiran. Seorang mentor yang saya kagumi sedang berada di Bandung untuk melakukan evaluasi sekolah tk di dekat rumah. Berarti selama beberapa saat saya bisa mendatangi beliau dan mengobrol. Pada hari terakhirnya di Bandung, saya pun berbicara berdua dengannya. Saya menceritakan sebuah unek-unek yang sudah lama terpendam. Jawaban beliau sungguh membuat beban di pundak ini berkurang dan mengingatkan bahwa saya perlu melihat kembali prioritas dalam menjalankan beberapa pekerjaan. Rasanya semakin bersyukur karena saya mendapat kabar bahwa tahun depan belum tentu beliau akan kembali datang untuk melakukan evaluasi dan mentoring ke Indonesia. Kalau saya tetap pergi berlibur, tentu kesempatan ini tidak akan terjadi.

Selain itu Allah SWT juga memberikan kejutan manis di penghujung Agustus.  Saya mendapatkan pekerjaan berupa proyek rekruitmen ke sebuah kota di Sumatera yang merupakan tempat kelahiran. Rasanya seperti diberikan kesempatan untuk berkunjung ke akar kehidupan dan mengingat perjalanan yang telah dilakukan sepanjang 30 tahun hidup di dunia ini.

Ah kalau kembali mengingat 30 tahun kehidupan, sudah barang tentu banyak sekali yang berubah sejak saya dilahirkan ke dunia ini. Mulai dari fisikpun sudah jauh berbeda. Asam garam, pahit manis, terang dan gelap sudah terlewat. Berbagai peristiwa yang terjadi di dalam hidup serta pertemuan dengan banyak orang membuat saya sampai di titik 30 yang seperti ini.  Rasanya kalau keputusan kecil yang diambil dulu berbeda, mungkin saya pun tidak akan menjadi saya yang sekarang.

Dalam tulisan ini izinkan saya untuk mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah memberikan warna dan cerita di dalam hidup saya. Halo 30, mari kita bergandengan tangan untuk memulai petualangan ke depannya.

Mini Series: Love at First Flight

Saya selalu suka kalau nemu mini seri bagus yang ceritanya bikin hati hangat. Salah satunya saya temukan dari video iklannya Changi Airport. Lokasinya beneran cuma di bandara doang, tapi sukses bikin senyum mengembang dan menghangatkan hati. Apalagi sayakan tipenya suka banget ama drama-drama kayak gini, jadilah makin seneng begitu nemu mini seri ini.

Serinya beneran mini, cuma tiga episode. Rasanya kalau boleh pengen deh dibikin sampai lima atau enam episode gitu. Tapi ya berhubung memang dibikin untuk iklan ariportnya, jadi ceritanya pun juga ya segitu aja 😀 .

Setelah nonton ini saya kok jadi kangen mendarat dan terbang dari Changi Airport. Mungkin karena beberapa tahun belakangan ini selalu bepergian via KLIA, jadilah kangen menjejakkan kaki kembali ke Singapura.