Update Sekejap

Sudah sebulan saya tidak menulis. Sejak awal tahun, saya mulai kembali jarang menulis blog. Tidak sesering ketika tahun lalu dan saat awal-awal pandemi. Mungkin karena secara aktivitas mulai berjalan dengan normal, jadi mulai ga ada waktu juga buat nulis blog. Kalo pun ada waktu kosong pun lebih memilih leyeh-leyeh dari pada mengetik.

Saat lockdown ke-2 ini, lumayan membuat saya mental break down. Lingkaran dalam pertemanan saya mulai terkena covid. Hampir setiap hari saya mendapatkan kabar duka (mulai dari yang positif dan harus isoman, keluarganya ada yang positif, ada yang mencari plasma darah-obat-oksigen, dan juga kabar duka karena ada yang meninggal). Rasanya sedih ga selesai-selesai. huuuffft banget deh gelombang kedua pandemi ini!! Rasanya lebih intens dibandingkan gelombang pertama pandemi. Menonton drama Korea pun udah ga mempan untuk menghibur diri. Saya akhirnya kembali ke jalan variety show untuk bisa ketawa-ketawa dan melihat idola-idola lama kembali muncul di sana. Buat yang ingin tahu, saya lagi sering nonton Amazing Saturday, Men in Mission (Knowing Brothers), I live Alone, sama Sea of Hope.

Walaupun begitu tetap bersyukur, masih bisa bekerja yang tidak mengharuskan saya keluar rumah. Ini benar-benar sebuah berkah dan keistimewaan yang tidak bisa didapat semua orang. Akhir tulisan ini saya mau berdoa, semoga kita semua senantiasa dicukupkan rizkinya, mendapatkan berkah di tengah kesulitan ini dan juga selalu diberi kesehatan, aamiin.

Bandung Kembali Lockdown

Dengan tingginya kasus covid-19 akhir-akhir ini, Bandung akhirnya kembali lockdown. Kali ini istilah yang dipakai adalah PPKM – Perlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Kalo dihitung-hitung istilah yang dipakai pemerintah ini bisa dijadikan satu buku sendiri 😀 . Karena adanya PPKM ini orang-orang yang tadinya sudah mulai beraktivitas normal seperti masuk kantor setiap hari, uji coba sekolah offline, tempat makan dan nongkrong yang ramai, tempat wisata yang ga pernah sepi dari pengunjung, rapat dan seminar di hotel kembali ditiadakan.

Buat yang penasaran bahwa Bandung udah seramai itu, saya kasi beberapa pandangan mata yang pernah saya sendiri rasakan. Pertama adalah Gazibu di hari Minggu. Di masa sebelum pandemi, Gazibu di hari Minggu adalah pasar kaget yang penuh dengan orang menjual segala macam produk. Mulai dari barang baru, second, pakaian, furniture, mainan anak, hingga makanan semua ada. Dua bulan yang lalu saya pernah bepergian pagi-pagi dan melewati Gazibu di hari Minggu. Penuh sodara-sodara!! Saya sampe bengong dan amazing. Kayaknya Corona ini ga ada di sana.

Sebulan kemudian saat bulan puasa, saya pernah pergi malam-malam dan pulang tidak sengaja melewati daerah Jalan Diponegoro Bandung. Saya kejebak macet dan mobilnya diam selama 15 menit ga bergerak!! Semua karena ada pasar malam. Ini ga kalah ramai dengan Gazibu di hari Minggu pagi! Saya lagi-lagi hanya bisa melongo melihatnya.

Beberapa minggu yang lalu, saya ada urusan untuk pergi ke daerah Braga. Saat itu menjelang sore hari. Ternyata sepanjang jalan Braga penuh dengan orang yang lagi jalan-jalan dan jarang aja gitu yang pakai masker. saya sungguh shock bukan main. Begitu menyelesaikan urusan, saya langsung belok kanan buat pulang! Oia ini belum ditambah dengan banyaknya orang Jakarta yang main ke Bandung. Weekend di Bandung itu kembali macet!

Dengan semua kejadian ini wajar aja sih kalau kasus covid-19 di Bandung meningkat. Teman-teman yang bekerja di rumah sakit sebagai dokter, perawat, dan pegawai adminstrasi udah komplain terus tiap lagi wa di dalam grup. Saya juga suka stres karena tiap hari ada saja berita dari lingkungan terdekat kalau kelaurga atau mereka sendiri terpapar Covid. Makanya ketika ada kebijakan untuk kembali lockdown di Bandung ini, saya menyambutnya sebagai langkah pemerintah untuk mengurangi pergerakan manusia di Kota Bandung. Walaupun begitu, ini ga berarti menyelesaikan masalah sih. Di beberapa ruas jalan, tetap saja terjadi kemacetan karena buntut dari penutupan jalan. Saya juga sedih kalau melihat temen-temen yang bergerak di bidang FnB. Their struggle are real! Dengan adanya lockdown ini mereka kembali harus memutar otak menjalankan bisnisnya. Tapi semoga perjuangan semuanya ini bisa untuk melindungi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terdekat.

Semoga keadaan semakin baik dan kita selalu sehat, aamiin.

Unexpected Reality Show: Unexpected Business

Dramabeans Korean drama recaps

Saya beneran ga menduga akan selesai juga menonton reality show Unexpected Business. Awalnya saya ga terlalu tertarik untuk menonton karena lagi banyak daftar tontonan yang makin lama makin panjang 😀 . Apalagi durasi acaranya yang panjang sekitar 90 – 110 menit, bikin saya maju mundur untuk mulai! Tapi akhirnya tetep aja sih ditonton, karena lagi bosen banget sama drama-drama Korea yang sejak awal tahun sedang berat-berat. Apalagi di sini ada salah satu aktor kesayangan., Zoo In Sung dan melihat beberapa orang yang datang sebagai pekerja paruh waktu di Unexpected Business, jadi lah tertarik buat nonton.

Unexpected business adalah sebuah reality show mengenai Cha Tae Hyun dan Zoo In Sung yang menggantikan ibu pemilik toko kecil di daerah Woncheon-ri Provinsi Gangwon untuk mengelola tokonya selama 10 hari. Toko kecil ini seperti warung kalau di Indonesia, menjual semua barang kebutuhan sehari-hari dan juga dijadikan tempat nongkrong buat penduduk desa. Setiap harinya Cha Tae Hyun dan Zoo In Sung harus bangun pagi-pagi untuk mulai membuka toko dan baru menutup tokonya sekitar pukul 21.30. Ini karena hanya di toko ini saja yang menjual tiket bus. Tidak ada mesin pembeli tiket otomatis di Woncehon-ri, sehingga kalau butuh membeli tiket transportasi harus dateng ke toko ini. Selain tiket transportasi yang masih manual, daftar harga barang di toko pun masih berupa daftar harga yang ditulis tangan. Hanya cara pembayarannya saja di sini yang sudah bisa menggunakan kartu dan kalau tidak salah hanya di toko ini yang ada mesin penjual kopi otomatisnya. Cha Tae Hyun sama Zoo In Sung sampai pusing banget saat pertama kali melihat ini semua sampai berpikir mereka bisa survive atau engga selama 10 hari nanti 😀 .

Ketika jam makan siang dan pulang kantor, toko kecilnya sering banget dikunjungi hampir setiap warga desa mulai dari yang mau membeli barang kebutuhan rumah, cemilan, atau mau makan dan minum. Mulai dari anak-anak, remaja, pekerja di kantor sekitar, sampai nenek kakek semua nongkrongnya di sini. Ternyata memang toko kecil ini ada tepat di tengah-tengah pusat kehidupan masyarakat Woncheon-ri sehingga selalu ramai dikunjungi. Untungnya setiap harinya ada part timer yang diminta datang oleh Cha Tae Hyun dan Zoo In Sung untuk membantu mereka mengurus toko. Part timer yang datang mulai dari aktor, aktris, atlet, hingga penyanyi datang silih bergantian meramaikan toko.

Setiap menonton Unexpected Business, saya jadi teringat warung kecil milik almarhum Pak Tuo yang tinggal di Surabaya. Suasana yang ditampilkannya sama persis seperti kalau saya sedang berkunjung dan membantu di warung kecil milik almarhum Pak Tuo. Suasana hangat pengunjung yang mengobrol setelah pulang kerja, interaksi antara pemilik toko dan pengunjung pun hangat banget. Ga jarang malah jadi ngobrol macem-macem mulai dari pekerjaan, keadaan di sekitar Woncheo-ri, hingga cerita mengenai keluarganya. Saking serunya mengobrol sambil makan dan minum, bahkan ada yang sampai dijemput oleh istrinya karena ga balik-balik 😀 .Setelah lima hari mengurus toko, Cha Tae Hyun dan Zoo In Sung sudah berasa warga lokal karena kenal sama semua orang 😀 .

Saya juga suka sama obrolan antara Cha Tae Hyun, Zoo In Sung, serta para pekerja part time saat mereka sedang makan malam. Beneran berasa melihat pemikiran dari mereka yang manusiawi banget. Mulai dari ngobrolin soal keluarga, dampak covid terhadap pekerjaan mereka sebagai public figure, kehidupan mereka sehari-hari, serta curhatan ketika mereka merasa stuck dengan kehidupannya. Ceritanya mulai dari ketawa-ketawa, serius, sampai sedih semua ada.

Meski durasinya lama, bukan berarti saya menonton langsung satu episode. Malah biasanya saya udah keburu ngantuk saat masih menonton sepertiga episode. Nontonnya beneran nyantai banget dan memang ditonton sebagai penutup hari. Jadi begitu ngantuk, matiin laptop, dan langsung tidur nyenyak 😀 . Suasana yang dibangun saat nonton Unexpected Business ini sama ketika sedang menonton Korean Hostel in Spain ataupun Little Cabin in The Wood. Bawaannya rileks. Ga ada keseruan yang menggebu-gebu ataupun heboh. Beneran ngeliat keseharian warga desa aja sebagai pemilik toko kecil yang menjalani pekerjaan kesehariannya. Apalagi ketika diperlihatkan keindahan Desa Woncheo-ri yang tertutup salju ataupun sungainya yang mengeras, beneran pengen ikutan tinggal di sana juga selama beberapa hari! Rasanya adem banget nontonnya. Pantas saja banyak yang mengatakan bahwa ini adalah salah satu acara yang bertujuan untuk healing.

Satu lagi yang saya sukai dari Unexpected Business adalah lagu-lagunya! Saya bahkan sampai mencari di spotify siapa tahu sudah ada yang bikin playlist dari reality show ini dan ternyata beneran ada dong! Lagunya pun ga melulu lagu Korea. Ada lagunya Bee Gees (How deep is your love), Bill Withers (Ain’t no sunshine), Barry Manilow (Can’t smile without you), lagu-lagu korea lawas dan baru, serta lagu instrumental. Lengkap banget daftarnya! Lagu-lagunya enak untuk menemani saat bekerja maupun untuk bersantai.

Idulfitri 2021

Bulan Ramadhan telah usai, kemarin kita menyambut awal bulan Syawal dengan merayakan Idulfitri. Namun buat saya pribadi, bulan Ramadhan dan Idulfitri kali ini saya jauh dari kemenangan. Ga setiap bulan Ramadhan mudah dan menyenangkan buat saya pribadi. Sebagai manusia tetep aja ada naik turunnya, mulai dari seneng banget, pengen cepet udahan, atau ada juga masa-masa sedihnya. Untuk tahun ini saya merasa berat saat menghadapinya. Tantangannya ada aja terus. Mungkin karena saya sedang berada di titik terjenuh selama pandemi yang entah kapan akan selesainya. Entah saya sedang jenuh dengan pekerjaan yang kayaknya dua bulan terakhir ini lagi padet banget. Alhamdulillah banyak kerjaan, tapi badan capek pun ga bisa bohong. Lalu berita-berita menjelang akhir bulan Ramadhan pun bikin patah hati banget!! Lalu kemaren pun saya sempet menghadapi drama kumbara.

Mungkin bulan Ramadhan kali ini memang harus saya akui kegagalan yang dialami. Semoga tahun depan masih bisa bertemu kembali dengan bulan Ramadhan dan menjadi manusia yang lebih baik dari bulan Ramadhan tahun ini, aamiin. Saya yakin Allah SWT punya rencana yang baik. Meskipun ga tahu apa maksud dari kejadian-kejadian yang saya alami, tapi takdir Allah SWT itu adalah yang terbaik untuk hidup saya. Ia selalu memberikan yang terbaik di waktu dan tempat yang tepat.

Meski Ramadhan dan Idulfitri tahun ini masih dalam suasana pandemi Covid-19, namun buat saya terasa berbeda sekali dengan tahun lalu. Tahun ini masjid sudah ramai kembali didatangi orang-orang yang mau beribadah, sudah banyak yang buka puasa bareng, serta banyak yang pada mudik meski dilarang. Kangen dengan kehangatan keluarga setelah setahun hidup dengan ketidakpastian di tengah pandemi, tentu membuat sebagian besar orang rela untuk kembali kepada keluarga mereka. Ga bisa serta merta disalahkan juga. Mau apapun keputusan yang dibuat, semoga tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, semoga pada sehat, serta selamat.

Di akhir tulisan kali ini, ijinkan saya pun meminta maaf untuk semua tulisan yang mungkin membuat sakit hati ataupun tersinggung. Selamat Idulfitri 2021!! Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT, aamiin!

Beyond Live: SHINee World

Setiap ada poster atau tulisan mengenai konser online, saya selalu berpikir tidak akan seseru konser aslinya. Apalagi tanpa suara riuh penonton, tentu akan ada sesuatu yang dirasa kurang. Saya pikir, kalau nonton konser online akan seperti sedang menonton acara musik di tv atau youtube aja, aura konsernya ga akan dapet. Tapi pada akhirnya semua pemikiran ini kalah saat ada pemberitahuan soal konser online-nya Shinee bertajuk SHINee World di Vlive. Saya pun memutuskan untuk membeli tiket konsernya secara patungan dengan seorang kawan.

Salah satu keuntungan dari menonton konser secara online adalah bisa berbagi layar dengan membeli satu tiket konser. Untuk konser online Shinee Beyond Live: SHINee World sendiri harga satu tiketnya adalah 48,51 USD atau setara 722,000 IDR dan bisa ditonton melalyi website Vlive. Mahal? Tergantung sih. Buat saya ini terbayar banget dengan keuntungan yang didapatnya. Satu tiket untuk ditukarkan saat hari H konser ini bisa ditonton satu akun Vlive di dua layar, bisa menonton konser secara utuh selama hampir tiga jam dan mendapatkan video yang fokus kepada anggota yang ingin dilihat, serta empat kali siaran ulangnya. Serunya menonton konser idol Korea yang diatur oleh Vlive adalah suasana konser yang benar-benar dibangun, sehingga idol pun bisa melihat fansnya secara live dan berinteraksi sebagaimana layaknya konser biasa. Baik melalui kamera seperti sedang video call ataupun melalui live chat. Ini juga yang menjadi pertimbangan saya untuk mau mencoba nonton konser secara online. Walaupun energi konsernya tidak seriuh konser secara tatap muka langsung, tapi energi Idol dan fansnya tetap bisa sampai dong. Ini terasa karena sampai hari ini saja saya masih gagal move on dari konsernya.

Sebagaimana yang saya tulis di atas, konsernya berlangsung selama tiga jam!!! Udah kayak konser secara offline. Konser pun dibuka dengan lagu kesukaan saya “Good Evening” yang segera berlanjut mereka bernyanyi lima lagu “Dream Girl”, “I Really Want You”, “Heart Attack” dan “Married to the Music” sebelum akhirnya menyapa penonton live-nya. Saya cuma bisa menggelengkan kepala, karena ngeliat mereka yang keringetan parah!! Sampai mikir ini di studionya Vlive ac-nya kurang kenceng gitu ya?! Beneran keringetan yang sampai basah sebaju-baju gitu dan rambut mereka keliatan banget lepeknya. Oia karena kondisi mereka yang kayak begini, saya jadi bisa membedakan mana video yang dilakukan secara pre-record dan mana yang engga 😀 . Perlu diketahui, kalo Vlive seperti ini tentu ada beberapa lagu yang dinyanyikan secara pre-record dan buat saya ga masalah. Maklumin aja, gerakan-gerakan Shinee ini powerful semua, kalo mereka tiga jam gerak terus, yang ada saya khawatir mereka bakal pingsan!!! Walaupun begitu saya tetap terkesan banget ketika mereka beneran nyanyi menggunakan band secara live!! Jadi ga ada yang namanya lip sync sepanjang konser.

Setelah menyapa Shawol -sebutan untuk fans Shinee- dengan berbagai bahasa, mereka lanjut menyanyikan lagu “Hello” dalam versi slow dengan latar belakang Shawol. Saya yang menontonnya merinding!! Mereka pun melanjutkan menyanyi “Attention” dan “View”. Lalu anggota Shinee pun berganti kostum dan video lagu berjudul “Chemistry” pun diputar. Saat video selesai, mereka kembali ke panggung untuk bernyanyi “Code”, “Prism”, Sherlock”, dan Everbody”. Keempat lagu ini semua gerakannya rumit dan banyak loncat-nya, sampai di tengah-tengah lagu saya bisa mendengar suara mereka yang lagi memperbaiki napasnya 😀 . Dipikir-pikir Idol Korea ini staminanya kuat banget ya!! Apalagi mengingat mereka menyanyi secara live dan bergerak, tapi suaranya tetap stabil dong. Setelah selesai menyanyikan “Everybody”, untuk kedua kalinya mereka kembali menyapa penonton dan membaca komentar dari live chat. Saat sesi ini Key kebagian untuk membaca komen berbahasa Indonesia, tapi dia menggunakan logat Thai!! Duh ngakak banget ngedengernya. Mereka juga bercerita mengenai lagu-lagu yang baru saja dinyanyikan serta bercerita mengenai kostum yang mereka pakai saat ini.

Konser pun berlanjut dengan video lagu comeback mereka “Don’t call me” dan “Kind”. Diantara video pre-record yang ditunjukkan selama konser, saya paling senang dengan video “Kind” karena mereka mengenakan kostum seperti Indian Amerika. Lagu ini pun merupakan salah satu lagu yang saya sukai di album mereka. Shinee pun kemudian kembali ke panggung dan menyanyikan “Atlantis” lagu terbaru mereka di album repackage yang baru diumumkan saat konser selesai. Setelah lagu dari album baru, mereka pun bergeser kembali ke salah satu lagu lamanya yaitu “Love like Oxygen” yang dilanjut dengan lagu dari album Don’t call me, “Kiss Kiss”. Saya senang sekali dengan setlist lagu mereka yang menyanyikan lagu secara maju mundur dari berbagai album. Setelah itu kamera pun mengarah dari sudut pandang pemain band live, terlihat Shinee yang membelakangi layar penuh fans dan mulai menyanyikan “Juliette”.

Shinee saat menyanyikan Atlantis
Live ban, Shinee, Shawol

Pada bagian ketiga ini, Shinee pun kembali berbicara dengan penonton dan bergantian untuk berganti dengan kostum selanjutnya. Dua orang pertama yang berganti kostum adalah Onew dan Minho dilanjutkan dengan Taemin dan Key. Untuk kostum terakhir mereka ini simpel dan baguuusss banget!! Pada pakai jas dan kemeja putih dengan celana berwarna hitam. Tadinya saya curiga mereka mau nyanyi “Marry You” ternyata engga dong. Ini adalah kostum panggung terakhir mereka dan setelah mereka memberikan salam perpisahan untuk Shawol, mereka menyanyikan lagu “Selena 6.23”. Lagu ini merupakan lagu yang ditulis Alm. Jong Hyun untuk Shawol. Duh berasa banget deh matengnya vokal mereka nyanyi lagu ini.

Lagu terakhir yang dinyanyikan oleh Shinee adalah “An Encore”. Saat ini pun kita bisa melihat bagaimana Shinee dikelilingi oleh lautan berwarna pearl aqua dari light stick Shawol. Saat mereka menyanyikan lagu ini terlihat banget sisi sentimentalnya. Mereka pun bernyanyi dengan berpindah panggung dari panggung belakang ke depan dan hingga akhirnya mengucapkan terima kasih kepada Shawol, memberikan jempol kepada penonton, dan akhirnya berpelukan hingga panggung ditutup. Saya sebagai penonton puas banget sama konsernya. Semua emosi berasa banget!!!

Semoga suatu saat saya bisa menonton konser mereka secara langsung, aamiin!!!

*Tulisan ini mulai ditulis dari setelah konser live tanggal 4 April 2021 dan baru selesai ditulis tepat ketika delay streaming terakhir mereka tanggal 18 April 2021.

SHINee’s Back!

Shinee merupakan salah satu idol k-pop yang berada pada generasi kedua. Waktu debut mereka tidak jauh berbeda dengan Super Junior, Girls Generation, f(x), CN Blue, IU, 2pm, 2am, Bigbang, dan juga 2ne1. Saya tahu lagu-lagu mereka pun karena lagunya menjadi soundtrack di drama Boys Before Flower dan Prosecutor Princess. Lalu semakin mengenal mereka karena suka menonton acara musik seperti Inkigayo, Music Bank, dan juga Music Core. Jadi walaupun ga ngefans, tapi lagunya akrab di telinga. Lagu-lagu Shinee pun semakin akrab karena sering menjadi lagu yang saya pakai kalau maen Pump di Game Master!

Selebihnya, saya ga banyak tahu mengenai kegiatan Shinee maupun berita setiap personilnya. Bahkan saya ga ngeuh ketika menonton We Got Married season 3 ada Taemin di sana, atau ketika nonton We Got Married International ada Key. Bahkan saat menonton drama Descendant of The Sun saya ga ngeuh kalau Onew berperan sebagai dokter junior Song Hae Kyo!! Hingga tahun 2017 saat berita salah satu member Shinee, Jong Hyun meninggal karena bunuh diri di umurnya yang ke 27. Semua orang ikut berduka cita dengan berita meninggalnya tersebut. Pecah banget ngeliat keempat anggota Shinee dan idol lain yang datang ke pemakamannya. Setelah itu saya baru mengikuti berita Shinee tahun 2020 akhir, saat Choi Min Ho menjadi salah satu pemain di drama Lovestruck in The City.

Saya ikut senang ketika Onew (Lee Jin Ki), Taemin, Key (Kim Ki Bum), dan Min Ho kembali berkumpul sebagai Shinee setelah tiga tahun rehat. Mereka rehat ini karena Onew, Key, sama Min Ho bergantian wamil dan Taemin pun disibukkan dengan jadwalnya sebagai bagian dari Super M dan juga kegiatan solo-nya. Hingga awal Januari kemarin, SM mengadakan konser berjudul Culture Humanity, saat itulah ada pemberitahuan kalau Shinee’s Back!!!

Saat Shinee mulai come back, mereka jadi sering muncul di berbagai acara baik di tv maupun video youtube. Walaupun bukan Shawol (sebutan untuk fans Shinee), saya beneran ikut senang ketika mereka aktif di berbagai acara, mulai dari bersikap serius seperti di IU’s Palette dan SBS Exclusive; becanda seperti di I Can See Your Voice, Knowing Brother, Amazing Saturday; sampai berupaya untuk coping dengan kehilangan Jong Hyun. Iya, yang bikin saya makin respek sama mereka adalah bagaimana mereka berusaha untuk tetap mengenang almarhum Jong Hyun. Seperti saat di acara ODG maupun I live Alone.

Di luar kegiatan mereka di dunia hiburan, lagu di album Don’t Call Me ini emang enak semuaaa!!! Beneran deh vokal Shinee itu bagus banget dan punya warna suara yang berbeda, sampai kita yang mendengar bisa membedakan warna suara masing-masing anggotanya. Satu album pun punya berbagai warna musik, mulai dari lagu yang enak buat gerak, hip hop, EDM, reggae, dan ada lagu yang pelan juga. Lengkap banget!! Mereka berempat pun punya suara dengan tangga nada yang berbeda-beda, mulai dari nada rendah sampai tinggi ada semua di keempatnya. Jadi jangan kaget ketika dengar Onew bernyanyi dengan nada tinggi dan tiba-tiba akan ada Min Ho dengan nada rendahnya.

Koreografi gerakannya pun powerful banget!! Sama aja kayak gerakan-gerakan mereka di album yang lama. Apalagi mengingat mereka yang sudah tidak muda lagi alias udah jadi om-om, saya hanya bisa berdecak kagum. Oia anggota termuda mereka, Taemin aja sudah berusia 27 tahun sedangkan Onew berumur 31 tahun loh!! Saya pernah beberapa kali mencoba olah raga pakai lagu Don’t Call Me ini beneran sampai capek banget!! Begitu pun saat mencoba dengan lagu-lagu mereka yang lain. Jadi semakin sadar kalau hampir semua koreografi mereka ini pakai tenaga!! Pantesan paling enak dipake buat lagu zumba 😀 .

Sebagai tempat yang menaungi Shinee, saya senang akhirnya SM Entertainment memberikan ruang khusus dan cukup banyak untuk Shinee di come back-nya saat ini. Apalagi aktivitas come back ini bener-bener di maksimalin banget sebelum semua pada fokus ke come back-nya Super junior. Terutama saat mereka memutuskan mengadakan konser live melalui aplikasi Vlive tanggal 4 April 2021.

New York Style Pizza di Bandung

Saat ini di Bandung sedang ramai dengan tempat New York Style pizza. Untuk yang belum tahu, New York Style Pizza biasanya memiliki ukuran yang besar dengan roti yang tipis. Biasanya dijual per satu iris, maupun dalam bentuk pizza utuh. Saya sendiri sudah mencoba ketiga tempat New York Style Pizza yang ada di Bandung. Ada yang favorit banget sampai pesan berkali-kali, ada juga yang baru dua kali mencoba.

Tempat pizza yang pertama adalah Pizza Place yang terletak di Jalan Dago. Tempatnya persis serumah dengan Two Hands Full (THF) Coffee. Sebenernya Pizza Place Bandung ini adalah cabang dari Pizza Place yang ada di Kemang Jakarta. Menurut saya tempatnya beneran ngeliatin banget kalau ini adalah tempat New York Style Pizza. Kayak lagi nonton tv series Amerika dan mereka lagi di tempat pizza gitu loh. Lengkap dengan dinding penuh piring-piring kertas bergambar macam-macam serta kursi kayu sembilan puluh derajatnya. Walaupun tidak terlalu besar, namun ada delapan meja di dalam ruangan untuk yang mau makan di tempat. Sedangkan di luar ada dua meja lain untuk menikmati pizza. Kalau mau sambil ngopi, terakhir sih saya boleh bawa pizza dari Pizza Place buat dimakan di THF. Menurut saya Pizza Place ini memiliki ukuran pizza paling besar diantara semua tempat New York Style Pizza. Sayang toppingnya memang hanya sedikit. Saya penasaran dengan Pizza Place karena untuk cabang Bandung mereka bekerja sama dengan Carne yang terkenal dengan daging asapnya yang enak! Saya pribadi ga begitu cocok sama Pizza Place, karena kegedean pizzanya. Jadi lah suka bosen duluan di tengah-tengah makan. Akhirnya saya akali dengan cara digulung makannya atau dibagi dua untuk di makan di waktu yang lain 😀 .

Pesto Pizza di Pizza Placed

New York Style Pizza lain yang pernah saya cobain adalah Sliced Pizzeria yang ada di lantai dua kawasan Ranggamalela No. 8 . Sliced Pizza ini juga merupakan cabang dari Sliced Pizzeria Jakarta. Kalau di Bandung tempatnya modern banget dengan dominan berwarna abu-abu baik dari warna kursi, besi-besi, meja, maupun lantai beton atau semennya. Mengingatkan saya sama kebanyakan kedai kopi yang juga lagi ramai memanfaatkan concrete design. Pilihan pizzanya cukup banyak dan beragam. Dari sisi ukuran, Sliced Pizzeria memiliki ukuran pizza yang lebih kecil sedikit dari Pizza Placed. Buat saya ukurannya pas banget. Sedangkan dari sisi menu, pilihan di sini banyak dan ada menu pizza manisnya juga. Oia di sini ada menu Pizza Truffle dan Nutella yang jarang ada di tempat pizza lainnya. Sliced Pizzeria ini kesukaannya kakak saya. Menurutnya dibandingkan tempat pizza yang lain, ini yang paling enak.

Quattro zformaggi Tartufo di Sliced Pizzeria

Tempat lain yang menjual New York Style Pizza adalah Park Slope Pizzeria yang terletak di Jalan Pandawa No.30 Bandung. Tempatnya lumayan deket sama Bandara Husein Bandung. Saya sih belum pernah mengunjungi langsung tempatnya. Dari awal tahu sampai sekarang, selalu pesan via aplikasi ojek online. Pilihan menunya cukup banyak dan beragam. Saya suka tempat ini karena topping pizzanya lebih banyak dibandingkan tempat lain dan mereka juga ada menu untuk saus dasar pizzanya pakai saus putih. Ukuran pizzanya memang yang paling kecil diantara yang lain, namun buat saya sih pas. Jadi bisa makan dua menu pizza 😀 . Park Slope sendiri adalah tempat favorit saya kalau mau makan New York Style Pizza.

Laddy Liberty & Williamsburg di Park Slope Pizza

Oia saya dan kakak memiliki selera yang berbeda. Kakak saya ini lebih senang dengan Pizza Hut dari pada Domino, sedangkan saya sebaliknya. Makanya saya sempet deg-degan ketika mengajaknya untuk coba membeli New York Style pizza seperti ini. Karena dari sisi ketipisan, tipisnya New York Style Pizza ini kan mirip sama Domino ya. Siapa yang menyangka ternyata kakak saya juga suka! Meski tetep aja ya, beda selera. Walaupun saya menggebu-gebu dengan pizza di Park Slope, tapi kakak saya tetap lebih menyukai Sliced Pizzeria.

Saya jadi menantikan apa akan ada yang membuka tempat pizza dengan New York Style lagi ga ya? Atau siapa tahu ada yang membuka tempat pizza lain dengan jenis yang berbeda.

Di Mana Dirimu Setahun yang Lalu?

Di tanggal-tanggal segini, saya masih jetlag setelah pulang umroh. Badan masih terasa capek banget dan remek, namun tugas-tugas sudah menunggu. Satu hari sebelumnya saya sempet ketemu dengan teman sekomunitas untuk menyiapkan kegiatan pelatihan untuk menjadi guru SD Waldorf di akhir bulan Maret 2020, lalu besoknya saya masih masuk kerja di kantor, Saya juga masih berjalan-jalan dan bertemu dengan teman-teman sambil membagikan cerita dan oleh-oleh dari umroh.

Tentu saja kabar adanya virus Covid19 sudah terdengar dan sudah ada kasus pertama di Jakarta. Saat saya pulang umroh pun kegiatan di bandara sudah mulai berbeda. Seperti untuk para pendatang dari daerah asia harus mengisi surat kuning untuk mempermudah pencarian ketika ada kasus Covid19, sedangkan untuk pendatang dari daerah non Asia masih diperbolehkan untuk langsung mengambil bagasi. Berhubung sekali lagi masih jetlag dan ga buka media sosial maupun portal berita, saya nyaris ga tahu ada kejadian apa selama nyaris 2 minggu saya melakukan umroh. Saya masih teringat saat hari kedua sampai di Indonesia, seorang teman sampai bertanya apakah saya sudah sampai di Indonesia atau belum melalui whats app. Saya yang ga tahu apa-apa hanya menjawab “sudah”. Ternyata, saat itu Bandara Jeddah dan Madinah sudah menutup bandaranya, sehingga pesawat yang akan masuk dan pergi praktis tidak bisa melakukan kegiatannya. Beberapa jamaah umroh yang saat itu sudah sampai di bandara Jeddah maupun Madinah tidak diperbolehkan memasuki bandara dan harus terbang kembali ke Indonesia. Sedangkan jamaah yang ada di bandara, harus menunggu dan tidak diperbolehkan untuk terbang selama beberapa hari.

Seminggu kemudian, saya masih bisa nongkrong di kedai kopi kesayangan sambil menyelesaikan pekerjaan ditemani angin yang bertiup kencang. Saat itu saya dan teman berbagi meja masih sempet-sempetnya saling komen betapa kencang anginnya dan dingin banget, tapi kita tetep bertahan di sana untuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Tentu saja saat itu kami bebas mengobrol dan bekerja tanpa perlu memikirkan hand sanitizer maupun masker. Selama psbb, rasanya kami lebih rela bisa kena angin yang bertiup kencang ini dibandingkan kesetresan menghadapi pandemi seperti setahun belakangan ini.

Setahun yang lalu, di tanggal-tanggal awal Maret ini adalah saat masih bebas melakukan segala sesuatu tanpa perlu ketakutan akan terkena Covid19. Siapa yang menyangka pandemi ini berlangsung selama ini dan kita khususnya yang di Indonesia, jadi terbiasa memakai masker setiap keluar rumah.

Merindu

Pernahkah merindukan suatu hal yang belum pernah dialami sebelumnya?

Mungkin kalo pengalaman jatuh cinta pernah kali ya? Khususnya untuk perempuan di masa kehamilannya. Saat itu perasaan sayang dan jatuh cinta sudah terasa pada sebuah mahluk yang bahkan bentuknya pun masih berupa janin. Ketika melahirkan pun kembali dibuat jatuh cinta dengan tampilan lucu dan menggemaskannya si jabang bayi. Walaupun tetap saja ada beberapa yang juga mengalami ketakutan dan deg-degan saat masa kehalimannya.

Sedangkan rindu dan kangen itu bentuk perasaan dan cinta yang lain. Saya pun mungkin ga bisa menjelaskannya dengan baik, tapi pada akhirnya saya bisa memahami rasanya merindukan sebuah tempat yang bahkan belum pernah didatangi sebelumnya. Hal ini belum pernah saya alami hingga saat saya memasuki kota Maddinah saat Umroh setahun yang lalu. Mulai dari perasaan deg-degan saat memasuki kota hingga melihat ke sekeliling, saya tiba-tiba merasakan kangen yang luar biasa. Seperti sudah lama sekali ingin ke sana hingga mengeluarkan air mata. Sebuah tempat yang sering disebut sebagai rumah Rosulullah.

Sampai saya merasakannya sendiri, saya ga pernah bisa paham setiap orang yang bercerita betapa kangennya untuk pergi lagi ke Maddinah dan Mekah. Ga kebayang aja, bisa ya punya perasaan seperti itu? Ternyata jawabannya bisa.

Menjelang Maghrib

Malam ini, saya kembali kangen dengan kedua tempat itu.

Semoga masih diberi kesempatan untuk kembali berkunjung ke sana.

Ngobrolin Soal Bekerja

Kadang kita baru merasakan sesuatu itu berkah atau nikmat ketika hal tersebut diambil dari kita. Sometimes we take it for granted. Salah satunya adalah pekerjaan. Apalagi di masa pandemi seperti ini, ketika masih memiliki pekerjaan, itu merupakan salah satu berkah. Sejak pandemi saya jadi punya kesadaran kalau saya memang suka bekerja dan punya kerjaan. Rasanya saat awal-awal pandemi, bengong dan tidak mengerjakan apapun terlihat menyenangkan. Tapi setelah tiga hari, rasanya badan pegel-pegel dan malah jadi berasa sakit. Ternyata bergerak dan bekerja itu merupakan hal yang saya nikmati. Rasanya senang sekali ketika punya kesibukan. Tapiiii meskipun senang bersibuk ria, bukan berarti saya ga mengeluh ya. Tetep aja ketika kerjaan banyak, ga punya waktu buat baca buku atau nonton drama, saya suka mengeluh. Apalagi ketika dikejar-kejar garis mati a.k.a deadline, berasa kayak habis lari sprint.

Meskipun begitu bekerja dan sibuk itu perlu diimbangi dengan istirahat dan melakukan kegiatan yang menyenangkan juga. Saya merupakan penganut work life balance. I do love my work, but doesn’t mean I live to work. Jangan sampai kebalik, malah sibuk bekerja sampai lupa sama hidup sendiri. Oh jangan salah, temen-temen saya yang pegawai korporat menjadi sibuk bekerja hingga tidak ada waktu untuk kehidupan pribadinya. Beneran ga sehat. Bahkan sejak pandemi mereka bisa bekerja nyaris 24 jam 7 hari seminggu. Pelukin orang-orang yang kerjanya begini. Kalau kerjanya sudah seperti ini, ga mungkin banget kalau ga ngeluh. Mau sebersyukur dan merasa berkah masih punya pekerjaan, tapi kalo diperbudak tetep aja lelah ya.

Image result for you live to work we work to live, emely in paris
Sebuah percakapan yang saya suka dari tv series Emily in Paris

Beberapa hal yang suka saya bilang ketika temen-temen saya ini curhat dan berada dalam keadaan dilema -bersyukur punya kerja, tapi ya capek dan pengen ngambek karena ga punya waktu napas- : ga apa apa kalau mau mengeluh. Karena mengeluh juga mengeluarkan emosi negatif yang jadi stressor untuk diri sendiri. Dari pada dipendem dan ujung-ujungnya jadi sakit, lebih baik dikeluarkan.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah membangun batasan. Sampai sejauh mana pekerjaan perlu dilakukan dan hingga jam berapa. Pekerjaan itu kan ga ada habis-habisnya yah, dan setiap hari akan selalu ada pekerjaan baru yang menunggu. Ketika kita memaksakan diri terus bekerja tanpa kenal istirahat, orang-orang sekitar pun menjadi terbiasa untuk memberikan kita pekerjaan terus menerus. Makanya batasan itu penting banget. Harus submit dokumen tertentu itu penting, tapi ketika itu harus dilakukan pukul 12 malam? Apa yang menerimanya akan langsung membaca di jam itu? Atau memang korporasinya bekerja sama dengan perusahaan yang beda zona waktu? Kalau jawabannya engga, sebenarnya bisa dilakukan besok pagi ga sih?

Satu lagi yang sering saya ingatkan untuk temen-temen saya ini adalah jangan lupa buat nafas. Cara kita bernafas itu memberitahu banyak hal mengenai kehidupan kita. Apakah tipe yang cepat dan terburu-buru? Atau tipe yang lambat dan tenang? Atau tidak teratur? Saat menyadari tipe nafas kita, saat itu juga kita punya kontrol terhadap diri. Ketika lagi stres dan capek banget, coba untuk bernafas lebih pelan dari pada biasanya. Saya suka pakai perhitungan 5 ketukan untuk menarik udara masuk – 5 ketukan menahan nafas – 7 ketukan untuk mengeluarkan udara. Ketika kita bisa lebih lama mengeluarkan udara dari dalam badan, semkkin tenang diri kita.

Bekerja itu penting dan merupakan berkah, oleh karena itu jangan berakhir dengan mengorbankan fisik dan mental juga.