Halo 2020!!

Di awal tahun ini banyak sekali kejadian yang datang silih berganti. Mulai dari senang dan sedih benar-benar datang bergantian. Berlibur bersama sepupu ke Penang serta berkesempatan menonton konser Super Junior menjadi pembuka tahun yang menyenangkan. Soal jalan-jalan dan nonton konser ini akan saya tulis terpisah. Selain hal-hal yang bikin senyum ini, beberapa kali saya mendengar kabar duka dari kerabat jauh yang meninggal, ada yang sedang sakit, serta terkena banjir di Jakarta.

Awal tahun yang luar biasa! Semoga sepanjang tahun nanti kita semua mendapatkan kesabaran, kelapangan, dan keterbukaan untuk hal-hal yang akan terjadi kelak. Baik hal yang baik, menyenangkan, menyebalkan, atau menyedihkan.

Selain itu, di tahun ini saya ingin kembali rajin menulis mengenai hal-hal yang ingin saya bagikan maupun dikristalkan secara digital di sini.

Selamat tahu baru!!!

Makan di Manado

Saat saya akan tinggal tiga minggu di Manado, beberapa orang teman mewanti-wanti untuk menjaga makan selama di sana. Maklum aja, di Manado kan terkenal dengan makanan ekstrimnya 😀 . Saat di sana tadinya saya nyaris di bawa ke pasar yang menjual segala macam hewan-hewan yang di makan oleh orang Manado, tapi berhubung saya ga tegaan dan takut trauma, akhirnya ga jadi ke sana.

Sebelum berangkat ke Manado pun, Mbak Shasya sempet memberikan link tulisan di blognya soal makanan halal di Manado. Asli terharu banget dapet list-nya!!! Seenggaknya saya ga buta mau makan apa di sana dan ga terjebak makan junk food terus-terusan.

Untuk saya yang biasa tinggal di gunung, cita-cita saat lagi ke Manado itu semudah untuk makan ikan dan teman-temannya. Alhamdulillah banget dalam seminggu saya bisa tiga sampai empat kali makan itu semua dengan harga murah!!!! Asli murah banget kalau dibandingkan makan ikan di Bandung.

Salah satu tempat makan favorit selama di sana adalah Tuna House yang ada di daerah Kawasan Mega Mas. Selain di sana sebenernya saya pernah nyobain makan di Tuna House dekat bandara dan di Bitung Karangria. Kalau soal tempat sudah tentu instagramable yang di Bitung Karangria, tapi saran saya kalau mau ke cabang sana mending satu jam sebelum laper karena lama banget nunggu makanannya!!! Soal makanannya sesuai nama, spesialis mereka adalah tuna, mulai dari rahang tuna, daging tuna bakar, hingga sashimi-nya. Harga untuk daging tuna bakar sama nasi dan sepiring kecil tumis kangkung yang paling murah adalah 35 ribu saja!!! Sedangkan untuk segunung sashimi dan singkong rebus harganya 50 ribu!!! Sedangkan udang saus menteganya dengan jumlah udang melimpah harganya pun 50 ribu!!! Muraaahhh!!!

satu set seperti ini 35 ribu gengs!!! – belum sama minum ya –
gunungan sashimi, soyu, dan singkong.

Selain Tuna House, saya sempat diajakin ke Rahang Tuna Om Iker. Kalau ini ada di Jl. Pier Tendean, sama mesti masuk ke dalam kawasan ruko gitu juga. Ini adalah pertama kali saya makan rahang tuna dan enak!!! Selain itu muraaaaahhh!! Cuma 35 ribu aja. Saya sampai bengong dong pas tahu harganya. Beneran deh menurut saya segitu tuh rahangnya gede. Kata temen saya, tuna yang sehari-hari di makan oleh orang Manado itu biasanya yang suka ditolak untuk eskport loh. Wouw banget ya, kebayang kan yang suka dikirim ke negara lain segede apa. Sayang sungguh sayang sampai tulisan ini naik cetak di blog, saya ga nemu foto rahang tuna-nya.

Duh baru dua tempat aja, saya udah kangen banget makan tuna di Manado. Selain tuna, saya juga suka sama nasi kuningnya!! Seperti di Bandung atau Makasssar, orang Manado pun menjadikan nasi kuning sebagai sarapan. Perbedaannya adalah dicara penyajian serta isinya. Nasi kuning Manado biasanya dibungkus oleh daun Woka atau daun Lontar dan di dalamnya ada ikan cakalangnya!!

Nasi Kuning Cakalang

Untuk tempat makan yang saya coba di Manado, nanti saya buat tulisannya lagi ya. Sekarang cukup tiga dulu 😀 .

Perasaan-perasaan yang Mampir di Tahun 2019

Tahun ini adalah tahun yang menguras emosi, baik dari sisi romansa, pertemanan, maupun pekerjaan. Lengkap semua silih berganti datang mengetuk. Rasanya seperti dapet tamu yang terus-terusan dateng ke rumah. Senang, kesel, sedih, serta patah hati bolak balik sepanjang tahun. Mungkin ini juga adalah jawaban dari doa tahun lalu yang saya panjatkan ketika bertanya-tanya akan mendapatkan emosi macam apa di tahun ini.

Selain emosi yang udah berasa main roller coaster, saya juga banyak melakukan evaluasi terhadap diri sendiri, saya belajar untuk mundur. Mundur karena bukan waktu yang tepat dan juga (ternyata) bukan orang yang tepat. Rasanya belajar untuk mundur dan melepaskan harapan-harapan dan angan yang saya kira mampu dilakukan itu lebih sulit dari pada menerjang maju. Benar-benar sebuah pukulan telak buat saya untuk ga bersikap terlalu percaya diri dan lupa untuk berani berkomunikasi ketika perasaan sudah tidak enak. Memang apapun bentuk hubungannya, komunikasi dan saling mendengar adalah koendji!! Ini juga kayaknya merupakan jawaban lain dari pertanyaan saya tahun lalu terkait apa lagi yang perlu saya perbaiki di tahun ini. Beneran semua kontan dijawab sama Allah SWT.

Belajar untuk nyaman ketika sendiri pun menjadi upaya yang perlu kembali saya pelajari setelah beberapa tahun ini merasa nyaman dengan diri sendiri. Kaget sendiri sih saat saya dalam keadaan seperti ini. Kalau ini sih sudah pasti berhubungan dengan sesi romansa yang sempat bertamu di tahun ini. Saya juga ga nyangka sih bakal ketemu sama rasa ini lagi, rasa senang, gemas, dan juga kembali sepi saat sendiri. Seneng juga masih bisa merasakan lucu-lucu gemasnya perasaaan ini setelah lama absen 😀 .

Tahun ini pun saya punya banyak kenalan yang berakhir menjadi teman-teman dekat. Sesuatu yang beberapa tahun lalu tidak pernah terbayang bisa mendapat banyak teman baru karena seringnya duduk bekerja dan bengong di sebuah kedai kopi.

Tahun 2019 sungguh berwarna dari berbagai sisi kehidupan. Rasanya lengkap dan nano-nano.

Terima kasih ya Ira, kamu sudah mau mendekap semua perasaan yang ada dan benar-benar memeluk semuanya sehingga ketika mereka silih berganti datang kamu bisa mengambil hikmahnya dan mau berubah menjadi lebih baik lagi untuk diri sendiri dan lingkungan. Ga papa ketika mendung menghinggapi dan hujan mulai turun, kamu pun ikut menangis, karena ini tidak selamanya. Tak lama hujan akan reda, pelangi akan muncul, udara segar akan kembali menghampiri dan kamu bisa kembali tersenyum. Mari menyamput 2020 dengan ritme hidup yang lebih pasti!!

PS, Terima kasih Mbak Gope sudah memfoto saya menggunakan kamera Fajar.

Flame of Joy Season 5

Sudah lama sekali rasanya saya ingin menonton langsung pertunjukan orkestra. Sayangnya di Bandung jarang sekali ada pertunjukkan orkestra. Kalaupun ada, tapi bukan orkestra melaikan resital ataupun musik kamar. Kalaupun mau menonton pilihannya adalah pergi ke Jakarta. Makanya saya segera membeli tiket begitu Bandug Philharmonic mengadakan konser Flame of Joy season 5 di Hilton Bandung. Selain mendpaat pengalaman menonton orkestra pertama kali, ada satu lagi alasan mengapa saya ngebet banget buat nonton, yaitu salah satu karya dari penulis puisi favorit saya, Pak Sapardi Joko Darmono akan dinyanyikan!!!

Pertunjukkan orkestra kali ini diadakan 2 kali yaitu di hari Sabtu malam dan Minggu siang. Saya sih lebih memilih pertunjukan Minggu siang karena akan menonton sendirian, jadi ga ada temen pulang. Ternyata saat saya datang ke Hilton di hari Minggu, saya tetep ketemu loh sama muka yang familiar :D.

Saat masuk ke ruangan convention hall di Hilton Bandung, saya sedikit bingung dengan tatanan panggungnya. Ternyata panggung orkestranya dibuat sedemikian rupa supaya suara yang dihasilkan dari tiap alat musik bisa terdengar tanpa adanya gema dan gaung. Memang di Bandung ini belum ada ruangan pertunjukan yang memiliki panel akustik yang bagus.

Pertunjukkan pun di mulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan terlebih dahulu. Setelah itu karya dari Lt. Kije Suite berjudul Troika pun terdengar dari panggung depan. Dilanjutkan dengan Sleigh Ride serta Terbangnya Burung yang merupakan puisi dari Pak Sapardi Djoko Darmono. Setelah 15 menit waktu istirahat, pertunjukkan pun dilanjutkan dengan Symphony no. 9 op 1225 in d minor dari Beethoven.

Pertunjukan selama dua jam ini benar-benar membuat saya bolak balik merinding saking kagumnya dengan permainan semua alat musik. Suara dari biola, bass, clarinet, cello, kontrabass, trompet, seruling, oboe, bason, perkusi, keyboard, serta suara paduan suaranya yang terdengar harmoni sekali. Begitu keluar dari ruang pertunjukkan, rasanya hati menghangat dan penuh. Semoga pertunjukkan orkestra ini akan ada lagi, saya sudah pasti salah seorang yang menantikannya.

Ngobrolin Kedai Kopi

Sudah lama sejak terakhir saya duduk lama dan diam menikmati suara hujan di dalam sebuah kedai kopi. Saya rasa sejak akhir tahun lalu, setiap ke kedai kopi rasanya selalu riuh. Mulai dari ngobrol random dengan orang yang baru saya kenal di sebuah kedai kopi yang berakhir jadi teman makan bareng dan jadi ngobrol setiap ketemu. Ini beneran random kan?! Kalau engga saya sengaja ke kedai kopi yang sepi tapi untuk bekerja. Kalau udah selesai dan ingin mencari keriuhan tinggal ke kedai kopi yang itu dan saya akan ketemu banyak orang untuk mengobrol.

Berdiam di sebuah kedai kopi yang hangat, sendiri, menyelesaikan pekerjaan, dan membuat sebuah tulisan di blog, dan berakhir melihat hujan. Kayaknya kalau tidak kejebak hujan, saya tidak menyadari hal ini deh.

Mencari kedai kopi yang hangat, enak, tidak berisik, dan harga bersahabat itu gampang-gampang susah. Ada yang enak, tempatnya tidak terlalu nyaman. Ada tempat yang nyaman, sepi, dan hangat, tapi harganya terlalu over price. Akhirnya setelah beberapa bulan ini, saya menemukan lagi melalui sebuah kedai kopi di dekat rumah. 

Terkadang memang kita perlu mencari untuk bisa menemukan kembali titik keseimbangan dalam hidup. Di saat saya ingin menyeimbangkan diri dari riuhnya ketika bekerja di kedai kopi tertentu, saya kembali mencari di mana saya bisa bekerja dengan ketenangan. 

Bukan berarti saya ga suka keriuhan ya, saya senang sekali lewat sebuah kedai kopi, kita bisa bertemu dengan teman dan menjadi kawan ataupun rekan kerja. Saya selalu mengusahakan untuk ke sana di akhir minggu untuk melepas penat setelah bekerja selama seminggu. Bertemu dengan orang-orang yang sama lelahnya dengan kerjaan dan pengen ketawa-ketawa menghadapi akhir pekan.

Ah akhir tahun sudah diujung sana, selamat berlibur, selamat menjelang akhir tahun.

Meninggalkan Sarang

Perjalanan untuk mempelajari Pendidikan Waldorf mengantarkan saya di pertengahan Bulan September ke Manado. Saya pergi meninggalkan sarang selama tiga minggu untuk berdiskusi dan membantu teman-teman di Manado mewujudkan tempat penitipan anak yang betul-betul pro terhadap anak dengan memberikan lingkungan terbaik untuk tumbuh kembang anak-anak untuk menjadi individu yang bermanfaat ketika dewasa.

Perjalanan ke Manado juga merupakan perjalanan terjauh ke Wilayah Timur Indonesia. Banyak sekali pengalaman baru yang saya dapatkan. Oh tentu selain pengalaman dan urusan pekerjaan, saya juga menyempatkan untuk jalan-jalan, melihat-lihat, dan makan banyak banget makanan yang ga saya temukan di Barat Pulau Jawa.

Semuanya akan saya ceritakan pelan-pelan di tulisan-tulisan selanjutnya. Semoga cepat selesai ya tulisan-tulisan soal Manado ini 😀 . Sementara itu, ada sepotong senja yang indah banget!! Semoga menuju liburan akhir tahun dengan bahagia yaaa~

Pengalaman Melakukan Psikososial di Sulawesi Tengah

Tidak terasa hampir sepuluh bulan yang lalu sejak saya menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah. Di sebuah provinsi yang setahun lalu dilanda gempa berkekuatan besar yang menyebabkan tsunami serta likuivaksi di beberapa daerah.

Saya pun tidak pernah terbayang akan pergi ke tempat pasca bencana tersebut untuk membantu anak-anak sekolah dasar di sana melalui kegiatan psikososial. Mengapa bukan trauma healing? Hal ini dikarenakan penanganan terhadap trauma secara psikis baru terlihat setelah empat hingga enam bulan setelah kejadian. Untuk penanganan pertama pasca bencana alam yang perlu dilakukan adalah memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Memastikan kembali mereka memiliki ritme hidup yang sempat berantakan pasca bencana terjadi.

Saat itu saya datang ke Sulawesi Tengah setelah dua bulan bencana terjadi, yaitu di bulan Desember. Rasa was-was dan cemas sudah pasti melanda. Ini akan menjadi pertama kalinya saya turun ke tempat bencana. Terbayang di benak bahwa saya masih akan melihat puing-puing bangunan dan juga tenda-tenda darurat pengungsian. Benar saja, saat sampai di bandara Palu, saya masih dapat melihat kabel-kabel yang menggantung. Sepanjang jalan pun saya dapat melihat runtuhan rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang miring. Tenda-tenda pengungsian masih terpasang di mana-mana. Namun Palu mulai bangkit. Pasar-pasar mulai kembali hidup, beberapa toko dan warung sudah kembali buka, beberapa pengungsi sudah mengosongkan tenda dan kembali ke rumah, beberapa lainnya kembali membangun rumah yang sempat hancur, serta beberapa jalan pun sudah ramai dilalui oleh kendaraan.

Selama di Sulawesi Tengah, saya serta tim yang terdiri dari guru-guru, beberapa orang dari Wanadri yang sudah biasa menghadapi bencana bepergian dari satu SD ke SD yang lain untuk bermain bersama dengan anak-anak. Tujuan dari bermain ini adalah untuk mengurangi trauma yang mereka alami dengan menggunakan prinsip-prinsip metode Waldorf, salah satu metode pengajaran yang sedang saya pelajari sejak beberapa tahun terakhir ini. Saya sungguh bersyukur dikaruniai tim guru-guru yang pernah mengikuti Pedagogical First Aid yang diberikan oleh tim Friends of Waldorf bagian emergency education program -yang merupakan organisasi nirlaba yang sering bepergian ke lokasi bencana serta zona perang- saat mereka sedang membantu mencegah terjadinya stress jangka panjang pasca bencana. Kami semua mengerjakan apa yang kami bisa untuk dapat membantu anak-anak menyesuaikan diri dan meminimalisir trauma pasca gempa.

Setiap hari kami berpencar, pergi ke dua hingga tiga sekolah untuk melakukan psikososial. Kegiatan yang biasanya dilakukan adalah membentuk lingkaran, bernyanyi, memberikan hiburan, bermain secara kolaborasi, serta memberikan dongeng yang dapat membantu mereka melalui masa-masa berat di pengungsian. Semua kegiatan dan gerakan yang diberikan memiliki makna untuk membentuk kembali ritme hidup yang berantakan dan memberikan semangat kebersamaan kepada semuanya.

Pengalaman yang luar biasa. Saya banyak sekali belajar mengenai kerja sama tim, saling mengkomunikasikan apa yang ingin dikerjakan, apa yang perlu dilakukan dalam situasi yang serba terbatas, serta meluruskan niat untuk dapat membantu anak-anak di daerah Kota Palu dan Kabupaten Sigi.

Semoga semua yang dikerjakan melalui hati ini dapat dirasakan dan membuat anak-anak serta orang dewasa yang kami temui sedikit terobati, aamiin.