Puno Letter To The Sky

Tidak pernah terbayangkan, saya yang semenit sebelumnya masih tertawa dengan kelakukan papa Puno dan Tala tiba-tiba meneteskan air mata. Rasanya dada ini ikut sesak merasakan kekalutan Tala maupun papa Puno. Hingga akhirnya perahu-perahu kertas yang berada di langit-langit diturunkan pertanda pertunjukan telah usai.

Sudah hampir satu tahun sejak saya menonton Puno Letter to The Sky yang dipentaskan oleh Paper Moon Puppet Theater di Ifi Bandung. Mereka merupakan kelompok teater boneka yang berasal dari Yogyakarta. Untuk yang udah nonton AADC2, waktu Cinta dan Rangga nonton pertunjukan boneka itu merupakan pertunjukan Paper Moon loh.

meja kerja papa Puno

Saat pertunjukan Puno Letter to The Sky mampir ke Bandung, saya nyaris ga berjodoh karena awalnya mau menonton dengan sahabat kuliah, ternyata di hari pementasan pertamanya saya masih harus bekerja ke luar kota. Untungnya ada seorang sahabat yang ingin menonton di hari Sabtu dan kami masih kebagian tiketnya!!! Jodoh ga ke mana.

Di hari H pertunjukan, saya segera menukarkan bukti pembelian dengan sebuah tiket yang berupa amplop dengan segel dibelakang bertuliskan:

Dedicated to the people who missed their beloved one who already passed away

Hati ini serasa disiapkan dengan pertunjukan yang akan menguras tidak hanya air mata, tapi juga mengolah perasaan-perasaan yang akan menghampiri selama pertunjukan.

Puno Letter To The Sky menceritakan mengenai seorang gadis kecil bernama Tala yang hidup bersama dengan papa Puno. Mereka selalu bersama hingga akhirnya apa Puno meninggal. Sebagai gadis yang masih kecil, Tala merasa marah dan sangat sedih ketika ditinggal oleh papa Puno. Hingga Tala dapat merasakan kehadiran roh papa Puno dan masih dapat bersamanya hingga 40 hari ke depan. Lalu setelah itu apa yang dilakukan Tala saat ia harus mengucapkan selamat tinggal kepada papa Puno?

salah satu perahu berisikan surat dari yang kehilangan, untuk yang telah meninggalkan mereka lebih dulu

Selama 45 menit saya diajak untuk merasakan hari-hari penuh kehangatan bersama Tala dan papa Puno hingga perjuangan Tala untuk dapat menata dirinya ketika berhadapan dengan kehilangan orang yang paling disayanginya. Tidak hanya perjuangan Tala, tapi juga kebingungan dan keresahan papa Puno ketika mengetahui umurnya tidak lama lagi serta saat-saat awal kematiannya.

Bercerita tentang kehilangan setiap orang pernah mengalami kehilangan dan perasaan kesepian, namun tidak ada yang begitu menyesakkan dada ketika orang-orang terdekat dan tersayang yang meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Puno Letter to The Sky membantu saya untuk melihat kedua sisi dari kehilangan. Bahwa semuanya bersedih dan kebingungan hingga akhirnya bisa mengatasi perasaan-perasaannya dan menerima kenyataan yang ada.

Hingga di akhir pertunjukan, penonton dapat maju ke depan dan melihat property yang digunakan selama pertunjukan serta mengobrol dengan Pupperter. Selain itu kita bisa membaca surat-surat yang ada, yang ditulis dengan berbagai bahasa, untuk orang-orang tersayangnya yang telah meninggalkan mereka terlebih dahulu. Untuk orang tua, kakek, nenek, anak, maupun sahabat. Rasanya begitu pertunjukan selesai, perasaan-perasaan yang berkecamuk di dada ini tidak serta merta menghilang. Saya dan sahabat saja sampai bengong dulu di luar untuk menenangkan diri.

Bagi yang penasaran dengan Puno Letter to The Sky, akhir bulan ini Paper Moon Puppet Theater akan mengadakan pertunjukan selama dua hari saat Makassar International Writer Festival (MIWF). Seandainya saya bisa ke Makassar, rasanya ingin kembali menonton dan berjumpa kembali dengan Tala dan papa Puno. Buat yang ke MIWF pastikan pada nonton ya dan jangan lupa bawa tisu atau saputangan.

Terima kasih banyak kepada Mbak Ria yang telah membuat Paper Moon Puppet Theater ada dan membagikan cerita yang indah kepada saya dan penonton lainnya. Semoga saya bisa segera menyaksikan kembali pertunjukan Paper Moon.

Advertisements

Kangen Makan Apa Di Makassar?

Menjelang akhir Juni saya terkena penyakit rindu ke Makassar. Rasanya baru beberapa bulan yang lalu saya main ke sana untuk melihat Makassar International Writer Festival (MIWF), ternyata sudah setahun lebih berlalu.

Selain sedih dengan tiket pesawat yang mahal banget hingga membuat saya dan kawan-kawan batal ke sana, kesedihan saya yang lain adalah tema MIWF tahun ini menarik banget!! Temanya adalah People dan ada Peppermoon Puppet Theater yang mengadakan pertunjukan Puno Letter to The Sky serta ada sederetan penulis yang ingin saya lihat diskusinya. Oh yang terbaru adalah MIWF kali ini mengupayakan untuk bebas sampah dalam festivalnya. Hal lain yang bikin pengen ke MIWF lagi adalah poetry under the sky-nya. Kebayang dong lihat bintang-bintang di langit sambil dengerin puisi dan petikan gitar?

Selain rangkaian acara MIWF dan tentunya ketemu sama beberapa sahabat yang bisa santai curcol-curcol berjamaah, saya juga kangen berat sama makanannya!! Sebenernya saya punya banyak daftar makanan yang ingin kembali dimakan saat ke Makassar, tapi mari kita lihat beberapa dulu yang paling dikangenin:

1.Pallubasa

Awalnya saya ga tahu ini jenis makanan apa dan ga paham juga bentukannya. Tapi berhubung salah seorang sahabat baik mengatakan enak, saya hanya pasrah mengikutinya. Ternyata……emang beneran enak!!! Pallubasa ini adalah jeroan dan daging sapi yang dimasak dalam waktu lama dan kemudian ditambahkan dengan rempah-rempah. Rasanya gurih tapi ringan. Inilah yang membedakannya dengan Coto Makassar. Selain itu Pallubasa ini dapat disantap bersama dengan telur mentah, menurut teman saya campuran pallubasa dan telur ini membuat kuahnya semakin creamy.

2.Sup Saudara
Ini adalah varian lain dari jeroan dan daging sapi yang dimasak lama. Bedanya beneran berada dibumbu campuran supnya. Tampilannya Sup Saudara ini sekilas mengingatkan saya sama soto betawi, tapi rasanya bedaaa!! Sayang saya ga punya fotonya karena keburu abis kita makan πŸ˜€ .

3.Jalangkote

Sebenarnya kalau di pulau Jawa kita menyebutnya pastel. Isinya memang agak beda dan lebih banyak daging cincangnya. Cocok banget buat bekal piknik malam saat MIWF πŸ˜€ .

4.Pisang Ijo

Saat ke Makassar saya baru tahu kalau pisang ijo yang selama ini saya makan di kantin kampus itu cuma pisang ijo ala-ala. Pisang ijo yang asli memiliki lembaran kulit yang cukup tebal. Selain itu ada tambahan kuah santan lembutnya. Makan satu porsi pisang ijo ini beneran bikin kenyang!!

5. Mi Titi

Awalnya saat seorang sahabat menyebut dia ingin makan mi Titi, saya sempet bengong, karena sepengetahuan saya Mi Titi itukan adanya di Medan ya. Ternyata beda bentuk. Kalau di Medan Mi Titinya adalah Mi Aceh, sedangkan di Makassar Mi Titi itu adalah mi kering yang disiram dengan kuah capcay gitu. Rasanya enak banget!!!

6. Bakso Ati Raja

Ternyata makan bakso di Makassar punya rasa yang berbeda dengan di Pulau Jawa!! Kuah baksonya bening dan ringan serta dimakan bersama dengan buras. Paling enak menurut saya adalah bakso gorengnya. Bisa loh saya ngabisin tiga biji bakso gorengnya πŸ˜€ . Hal unik lainnya adalah kalau makan bakso di Makassar itu pakai jeruk nipis untuk menambah segar kuah kaldunya.

7. Seafood

Ke Makassar rasanya kurang afdol kalau belum nyobain hidangan lautnya. Asliiii ikan-ikan dan udangnya seger semuaaa!! Apalah saya yang biasa makan seafood di Bandung ini. Kalau kata seorang kenalan saya yang bekerja di sektor perikanan, seafood di Bandung ini sudah mengalami tujuh kali kematian alias perjalanannya panjang banget!! Berhubung seafoodnya seger, tentu rasa dagingnya manis. Duh lihat fotonya aja jadi ngiler!! Apalagi di makan bareng nasi hangat, cah kangkung, serta sambel mangga yang juga seger.

Meski daftar makanannya cuma tujuh, tapi udah sukses membuat saya lapar!! Semoga ada rejeki untuk kembali ke Makassar tahun ini.

Numpang Bengong di Fillmore Coffee

Saat bermain ke Jakarta di Bulan Februari kemarin memang sudah saya niatkan untuk mengunjungi beberapa tempat ngopi. Hal ini bermula dari ngobrol-ngobrol santai bareng sahabat seperjalanan yang sama-sama doyan ngopi. Tadinya saya penasaran banget pengen ke Giyanti, apa daya kalo akhir minggu kedai kopi yang satu ini tutup. Jadilah kita akhirnya memanfaatkan google untuk mencari-cari tempat ngopi di daerah Jakarta Selatan. Maklum aja, kita berdua sama-sama menginap di daerah sana soalnya. Satu di Kuningan dan satu lagi di Benhill.

Akhirnya setelah membaca beberapa review, kami memutuskan untuk mencoba Fillmore Coffee. Letaknya berada tersembunyi di Suites at Seven, masuk ke dalam gang gitu. Saya sampai berpikir beneran nih ada tempat ngopi di sini? Yah maklumin aja yak, dua-duanya orang Bandung dan buat Jakarta πŸ˜€ . Saat akhirnya melihat Fillmore Coffee, saya langsung senang dengan tempatnya.

Terdiri dari dua lantai dengan tipe bangunan industrial, Fillmore Coffee ini nyaman banget buat numpang bengong. Lantai satunya untuk non smooking dan lantai duanya untuk smooking area. Salah satu yang saya suka, di sini ada tanaman merambat dan di seberang kedainya pun ada taman kecil yang bikin segar. Untuk tempat duduknya sendiri, karena merupakan kedai kecil, jadi kursinya pun terbatas dan jarak antar kursinya tidak begitu lebar. Meskipun begitu, saya masih cukup nyaman dan tidak terganggu dengan orang yang mengobrol di meja tengah.

Untuk menunya sendiri, selain varian dari espresso, juga ada menu kopi dengan menggunakan beberapa pilihan filter. Untuk yang lagi ga pengen ngopi ada pilihan cokelat, matcha latte, teh, serta jus. Selain minuman, Fillmore Coffee juga menyediakan berbagai pastry dan keik. Untuk yang laperan, saat saya lihat di ig-nya ternyata mereka sekarang menyediakan menu makanan berat.

Orange Mocha

Saya sendiri memesan cafe latte dingin sedangkan sahabat saya memesan orange mocha. Mungkin saat ke sana kami kurang beruntung, rasa kopi yang kami pesan sama-sama terasa gosong di akhir lidah. Kayaknya perlu sekali lagi ke sana buat mastiin. Padahal kalau ga ada rasa gosong itu, rasa kopinya beneran enak. Orange mocha-nya juga unik karena saya baru pertama ngerasain kopi dengan rasa jeruk.

Saya beneran betah banget di sini!! Tempat duduk yang segera menjadi favorit saya sudah pasti di depan jendela. Beneran asyik banget!! Lagu-lagu yang diputar pun enak untuk didengar sehingga menambah kesyahduan saat saya duduk di sana. Selain untuk tempat bengong, Fillmore juga enak untuk dipakai bekerja. Kami berdua cukup lama berada di sini dari sore hingga malam. Saya membaca buku dan bengong sedangkan sahabat saya berkutat dengan laptopnya. Sesekali kami mengobrol sebelum akhirnya kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Fillmore Coffee
Hidden inside Suites @ Seven
Ig: @fillmorecoffeejkt

*Terimakasih Oji diperbolehkan meminjam kamera dan memakai hasil fotonya untuk tulisan ini

Ngobrol Santai di Filosofi Kopi

Bulan Februari lalu akhirnya saya berkesempatan untuk mencoba beberapa kedai kopi di Jakarta. Salah satunya adalah Filosofi Kopi. Alasan saya mendatangi Filkop -kependekan dari Filosofi Kopi- tak lain dan tak bukan tentu saja karena merupakan tempat yang sengaja dibangun untuk syuting film berjudul sama yang merupakan adaptasi dari salah satu cerpen di buku berjudul sama karya Dewi lestari. Hihihi ketahuan banget ujung-ujungnya karena ngefans sama karya-karya Dewi Lestari πŸ˜€ .

Saat ke sana, suasana Filkop yang berada di dalam Blok M Square Melawai ini rame banget!! Saya lupa kalau hari itu adalah malam Minggu, saatnya warga Jakarta untuk duduk-duduk santai menikmati penghujung minggu. Saya, Oji, dan Tane pun ke sana dengan alasan yang sama, yaitu untuk duduk santai setelah selesai menonton Jazz Buzz di Salihara. Alhamdulillah banget penantian mendapatkan kursi kosong ga begitu lama. Awalnya kami hanya mendapatkan tempat duduk untuk berdua di pojok, namun salah seorang dari kami cukup jeli melihat bahwa ada tempat duduk untuk berempat yang akan diduduki oleh dua orang. Jadilah kami menawarkan untuk bertukar tempat duduk dan keduanya setuju untuk bertukar tempat.

Berbeda dengan kedai kopi yang sering saya lihat di Bandung, Filkop memiliki bar kopi yang berada di tengah ruangan sehingga pengunjung yang datang dapat melihat bar dari berbagai sisi. Tempatnya sendiri tidak begitu luas dan sekali lagi, rame banget!! Benar-benar tempat yang pas untuk mengobrol menghabiskan hari. Untuk yang mau curhat pun jadi tempat yang cocok karena berisik, sehingga ga perlu khawatir curhatan akan didengar oleh orang yang duduk di sebelah atau di belakang. Kami sendiri pun terbilang cukup berisik dan ketawa cukup keras saat mendengar curhatan seorang di antara kami yang ternyata ujung-ujungnya dagelan.

Untuk kopinya sendiri, saya sengaja membeli latte hangat. Rasa kopinya ga terlalu kuat, jadi pas banget untuk temen ngobrol malem-malem. Sementara Oji memilih untuk membeli secangkir cappucino dan Tane memesan Matcha Latte. Kami bertiga cukup puas dengan minuman yang kami pesan ini. Salah satu yang menyenangkan di sini adalah ada tap water!! Jadi kalau biasanya di kedai kopi ada teko untuk menyediakan air mineral, di sini mereka menyediakannya keran air πŸ˜€ . Selain minuman, kami pun memesan churros untuk menemani mengobrol. Untuk yang laperan, Filkop hanya menyediakan kudapan dan keik. Jadi ada baiknya makan dulu sebelum ke sini atau seperti kami, ngopi dulu baru makan.

Senang sekali rasanya bisa menghabiskan waktu dengan mengobrol dan tertawa bareng di malam Minggu seperti ini. Kalau ga inget kita bertiga laper, curiga bisa sampai nyaris tutup ada di sana.

Filosofi Kopi
Kawasan Terpadu, Blok M Square
Ig: @filosofikopi

*Terima kasih Oji sudah meminjamkan kamera hp-nya untuk mengambil gambar di Filkop.

Aladdin 2019

Ada yang sudah menonton Aladdin di bioskop? Rasanya setelah tiga hari pasca nonton filmnya, saya masih gagal move on!! Iya, filmnya sebagus itu dan sama bagusnya dengan kartunnya.

Ceritanya sendiri tidak jauh berbeda dengan versi kartun 1992. Menceritakan mengenai Aladdin, seorang pencuri jalanan yang jatuh cinta pada Putri Jasmine. Karena perbedaan kasta ini akhirnya Aladdin menerima tawaran Jafar untuk membantunya mengambil sebuah lampu ajaib di dalam gua dan sebagai gantinya ia akan diberikan kekayaan. Ternyata lampu tersebut adalah lampu ajaib dengan Jinny di dalamnya dan Aladdin pun meminta Jinny untuk menjadikannya seorang pangeran untuk memenangkan hati Putri Jasmine. Cerita selanjutnya nonton aja ya di bioskop πŸ˜€ .

Sebelum menonton di bioskop, saya sengaja tidak menonton kembali film kartunnya yang dulu pernah saya tonton melalui laser disc berulang kali. Ketahuan banget kan itu zaman kapan?! Selain menonton kartunnya, saya juga suka memainkan game Aladdin baik melalui nintendo, super nintendo, hingga play stationnya. Jadilah saat menonton film Aladdin ini saya sampai hapal dengan lagu-lagunya!! Langsung keingetan aja begitu denger musiknya πŸ˜€ .

Ngomongin soal lagu-lagunya yang paling juara tetep a whole new world ya. Sampai sekarang aja saya masih suka banget karaokean lagu a whole new world, makanya begitu Aladdin dan Putri Jasmine nyanyi lagu ini, saya juga ikutan nyanyi πŸ˜† πŸ˜† . Begitu pun saat lagu Arabian Night dan Prince Ali dinyanyikan Will Smith, tahu-tahu saya bisa ikutan nyanyi reff-nya. Ternyata udah tertanam sejak dulu lagu-lagunya πŸ˜† . Lagu terbaru dari film ini yang saya suka banget adalah Speechless yang dinyanyikan sama Putri Jasmine-nya. Liriknya girl power banget.

Dari sisi aktingnya, udah jangan ditanya betapa kerennya akting Will Smith sebagai Jinny. Selain itu saya juga suka akting Naomi Scott sebagai Putri Jasmine. Oh jangan lupakan juga Mena Massoud yang berperan sebagai Aladdin yang keren banget parkour-nya. Selain itu saya juga seneng banget sama baju-baju yang dipakai Putri Jasmine, berasa pengen punya satu buat lebaran nanti.

Saya beneran puas banget nonton Aladdin dan rasanya masih bisa nonton lagi di bioskop.

Jazz Buzz – Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga

Bulan Februari lalu, saya berkesempatan menikmati konser dari Gerald Situmorang serta Sri Hanuraga yang diadakan di Komunitas Salihara Jakarta dalam rangka Salihara Jazz Buzz 2019. Rasanya sungguh senang sekali akhirnya bisa berkesempatan menikmati kembali musik Jazz setelah lama ga pernah berjodoh dalam acara serupa di Bandung. Pas main ke Jakarta kok pas banget ada acara ini.

Seminggu sebelum kepergian ke Jakarta, saya sudah heboh mencari informasi tiket dan mengajak beberapa teman dan seorang sepupu, Tane untuk ikut menonton. The more the merrier!! Alhamdulillah pada mau diajakin nonton konser ini!!

Saat hari H saya sempat mengisi acara parenting hingga siang di daerah Jakarta Pusat, lalu mampir ke Senayan dulu karena seorang teman yang tetiba ngidam ramen dan saya udah nyaris pingsan butuh makan. Keluar dari Senayan jam tiga sore, macetnya bukan main!! Saya sampai berdoa dalam hati semoga masih sempat dan tidak telat lama. Di perjalanan, ternyata seorang teman ga jadi ke Jakarta dan Tane sempat ragu untuk datang karena sebenernya lagi ga enak badan. Walaupun begitu, akhirnya dia memutuskan datang karena butuh curhat πŸ˜€ .

Sampai di Komunitas Salihara, ternyata kami sudah telat untuk dua lagu pertama. Jadilah kudu menunggu hingga selesai baru dibolehin masuk. Alhamdulillah seenggaknya saya masih sempat menyaksikan lagu-lagu di album Meta yang baru saja dirilis.

Saya benar-benar menikmati pertunjukan sore hari itu. Dengan adanya larangan untuk merekam membuat kami penonton benar-benar menikmati setiap alunan gitar dan piano yang dimainkan. Apalagi saat melihat Sri Hanuraga memainkan organ dan piano secara bersamaan, rasanya saya sampai tidak menutup mulut saking terpukaunya!! Lucunya, di atas piano Sri Hanuraga, saya bisa melihat ada figurin Lutfi dari One piece di sana. Sepertinya digunakan untuk menyetel pianonya.

Karya-karya favorit saya sudah tentu Rintik Hujan, Curnocopic, Something New, His Spirit, Thrown Word, serta Perjalanan Menuju Ke Sana yang dimainkan secara akustik tanpa ada vocalist Ify. Rasa-rasanya merinding banget mendengarnya hingga saya segera berkeinginan untuk menuliskan tulisan yang terinspirasi dari Perjalanan Menuju Ke Sana. Ternyata malah tulisannya terbit duluan ya πŸ˜€ .

Di sela-sela permainan Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga, mereka pun bercerita mengenai apa yang membuat mereka bisa berkolaborasi dan bagaimana mereka bisa menciptakan karya-karya yang ada di album Meta. Menarik sekali kisah-kisah yang dibicarakan oleh mereka berdua.

Saat konser pun harus berakhir, rasanya saya masih tetap ingin di sana dan ikut menonton pertunjukan mereka pada jam kedua. Bahkan hingga saya kembali ke Bandung, bekerja, menulis laporan, hingga mengerjakan tugas-tugas, lagu-lagu di album Meta selalu membantu saya memiliki mood untuk menyelesaikan semuanya. Beneran setelah menonton konsernya, saya jadi gagal move on!!

Terima kasih banyak untuk Oji dan Tane yang menemani saya menonton Jazz Buzz di Komunitas Salihara πŸ™‚ .