SHINee’s Back!

Shinee merupakan salah satu idol k-pop yang berada pada generasi kedua. Waktu debut mereka tidak jauh berbeda dengan Super Junior, Girls Generation, f(x), CN Blue, IU, 2pm, 2am, Bigbang, dan juga 2ne1. Saya tahu lagu-lagu mereka pun karena lagunya menjadi soundtrack di drama Boys Before Flower dan Prosecutor Princess. Lalu semakin mengenal mereka karena suka menonton acara musik seperti Inkigayo, Music Bank, dan juga Music Core. Jadi walaupun ga ngefans, tapi lagunya akrab di telinga. Lagu-lagu Shinee pun semakin akrab karena sering menjadi lagu yang saya pakai kalau maen Pump di Game Master!

Selebihnya, saya ga banyak tahu mengenai kegiatan Shinee maupun berita setiap personilnya. Bahkan saya ga ngeuh ketika menonton We Got Married season 3 ada Taemin di sana, atau ketika nonton We Got Married International ada Key. Bahkan saat menonton drama Descendant of The Sun saya ga ngeuh kalau Onew berperan sebagai dokter junior Song Hae Kyo!! Hingga tahun 2017 saat berita salah satu member Shinee, Jong Hyun meninggal karena bunuh diri di umurnya yang ke 27. Semua orang ikut berduka cita dengan berita meninggalnya tersebut. Pecah banget ngeliat keempat anggota Shinee dan idol lain yang datang ke pemakamannya. Setelah itu saya baru mengikuti berita Shinee tahun 2020 akhir, saat Choi Min Ho menjadi salah satu pemain di drama Lovestruck in The City.

Saya ikut senang ketika Onew (Lee Jin Ki), Taemin, Key (Kim Ki Bum), dan Min Ho kembali berkumpul sebagai Shinee setelah tiga tahun rehat. Mereka rehat ini karena Onew, Key, sama Min Ho bergantian wamil dan Taemin pun disibukkan dengan jadwalnya sebagai bagian dari Super M dan juga kegiatan solo-nya. Hingga awal Januari kemarin, SM mengadakan konser berjudul Culture Humanity, saat itulah ada pemberitahuan kalau Shinee’s Back!!!

Saat Shinee mulai come back, mereka jadi sering muncul di berbagai acara baik di tv maupun video youtube. Walaupun bukan Shawol (sebutan untuk fans Shinee), saya beneran ikut senang ketika mereka aktif di berbagai acara, mulai dari bersikap serius seperti di IU’s Palette dan SBS Exclusive; becanda seperti di I Can See Your Voice, Knowing Brother, Amazing Saturday; sampai berupaya untuk coping dengan kehilangan Jong Hyun. Iya, yang bikin saya makin respek sama mereka adalah bagaimana mereka berusaha untuk tetap mengenang almarhum Jong Hyun. Seperti saat di acara ODG maupun I live Alone.

Di luar kegiatan mereka di dunia hiburan, lagu di album Don’t Call Me ini emang enak semuaaa!!! Beneran deh vokal Shinee itu bagus banget dan punya warna suara yang berbeda, sampai kita yang mendengar bisa membedakan warna suara masing-masing anggotanya. Satu album pun punya berbagai warna musik, mulai dari lagu yang enak buat gerak, hip hop, EDM, reggae, dan ada lagu yang pelan juga. Lengkap banget!! Mereka berempat pun punya suara dengan tangga nada yang berbeda-beda, mulai dari nada rendah sampai tinggi ada semua di keempatnya. Jadi jangan kaget ketika dengar Onew bernyanyi dengan nada tinggi dan tiba-tiba akan ada Min Ho dengan nada rendahnya.

Koreografi gerakannya pun powerful banget!! Sama aja kayak gerakan-gerakan mereka di album yang lama. Apalagi mengingat mereka yang sudah tidak muda lagi alias udah jadi om-om, saya hanya bisa berdecak kagum. Oia anggota termuda mereka, Taemin aja sudah berusia 27 tahun sedangkan Onew berumur 31 tahun loh!! Saya pernah beberapa kali mencoba olah raga pakai lagu Don’t Call Me ini beneran sampai capek banget!! Begitu pun saat mencoba dengan lagu-lagu mereka yang lain. Jadi semakin sadar kalau hampir semua koreografi mereka ini pakai tenaga!! Pantesan paling enak dipake buat lagu zumba 😀 .

Sebagai tempat yang menaungi Shinee, saya senang akhirnya SM Entertainment memberikan ruang khusus dan cukup banyak untuk Shinee di come back-nya saat ini. Apalagi aktivitas come back ini bener-bener di maksimalin banget sebelum semua pada fokus ke come back-nya Super junior. Terutama saat mereka memutuskan mengadakan konser live melalui aplikasi Vlive tanggal 4 April 2021.

New York Style Pizza di Bandung

Saat ini di Bandung sedang ramai dengan tempat New York Style pizza. Untuk yang belum tahu, New York Style Pizza biasanya memiliki ukuran yang besar dengan roti yang tipis. Biasanya dijual per satu iris, maupun dalam bentuk pizza utuh. Saya sendiri sudah mencoba ketiga tempat New York Style Pizza yang ada di Bandung. Ada yang favorit banget sampai pesan berkali-kali, ada juga yang baru dua kali mencoba.

Tempat pizza yang pertama adalah Pizza Place yang terletak di Jalan Dago. Tempatnya persis serumah dengan Two Hands Full (THF) Coffee. Sebenernya Pizza Place Bandung ini adalah cabang dari Pizza Place yang ada di Kemang Jakarta. Menurut saya tempatnya beneran ngeliatin banget kalau ini adalah tempat New York Style Pizza. Kayak lagi nonton tv series Amerika dan mereka lagi di tempat pizza gitu loh. Lengkap dengan dinding penuh piring-piring kertas bergambar macam-macam serta kursi kayu sembilan puluh derajatnya. Walaupun tidak terlalu besar, namun ada delapan meja di dalam ruangan untuk yang mau makan di tempat. Sedangkan di luar ada dua meja lain untuk menikmati pizza. Kalau mau sambil ngopi, terakhir sih saya boleh bawa pizza dari Pizza Place buat dimakan di THF. Menurut saya Pizza Place ini memiliki ukuran pizza paling besar diantara semua tempat New York Style Pizza. Sayang toppingnya memang hanya sedikit. Saya penasaran dengan Pizza Place karena untuk cabang Bandung mereka bekerja sama dengan Carne yang terkenal dengan daging asapnya yang enak! Saya pribadi ga begitu cocok sama Pizza Place, karena kegedean pizzanya. Jadi lah suka bosen duluan di tengah-tengah makan. Akhirnya saya akali dengan cara digulung makannya atau dibagi dua untuk di makan di waktu yang lain 😀 .

Pesto Pizza di Pizza Placed

New York Style Pizza lain yang pernah saya cobain adalah Sliced Pizzeria yang ada di lantai dua kawasan Ranggamalela No. 8 . Sliced Pizza ini juga merupakan cabang dari Sliced Pizzeria Jakarta. Kalau di Bandung tempatnya modern banget dengan dominan berwarna abu-abu baik dari warna kursi, besi-besi, meja, maupun lantai beton atau semennya. Mengingatkan saya sama kebanyakan kedai kopi yang juga lagi ramai memanfaatkan concrete design. Pilihan pizzanya cukup banyak dan beragam. Dari sisi ukuran, Sliced Pizzeria memiliki ukuran pizza yang lebih kecil sedikit dari Pizza Placed. Buat saya ukurannya pas banget. Sedangkan dari sisi menu, pilihan di sini banyak dan ada menu pizza manisnya juga. Oia di sini ada menu Pizza Truffle dan Nutella yang jarang ada di tempat pizza lainnya. Sliced Pizzeria ini kesukaannya kakak saya. Menurutnya dibandingkan tempat pizza yang lain, ini yang paling enak.

Quattro zformaggi Tartufo di Sliced Pizzeria

Tempat lain yang menjual New York Style Pizza adalah Park Slope Pizzeria yang terletak di Jalan Pandawa No.30 Bandung. Tempatnya lumayan deket sama Bandara Husein Bandung. Saya sih belum pernah mengunjungi langsung tempatnya. Dari awal tahu sampai sekarang, selalu pesan via aplikasi ojek online. Pilihan menunya cukup banyak dan beragam. Saya suka tempat ini karena topping pizzanya lebih banyak dibandingkan tempat lain dan mereka juga ada menu untuk saus dasar pizzanya pakai saus putih. Ukuran pizzanya memang yang paling kecil diantara yang lain, namun buat saya sih pas. Jadi bisa makan dua menu pizza 😀 . Park Slope sendiri adalah tempat favorit saya kalau mau makan New York Style Pizza.

Laddy Liberty & Williamsburg di Park Slope Pizza

Oia saya dan kakak memiliki selera yang berbeda. Kakak saya ini lebih senang dengan Pizza Hut dari pada Domino, sedangkan saya sebaliknya. Makanya saya sempet deg-degan ketika mengajaknya untuk coba membeli New York Style pizza seperti ini. Karena dari sisi ketipisan, tipisnya New York Style Pizza ini kan mirip sama Domino ya. Siapa yang menyangka ternyata kakak saya juga suka! Meski tetep aja ya, beda selera. Walaupun saya menggebu-gebu dengan pizza di Park Slope, tapi kakak saya tetap lebih menyukai Sliced Pizzeria.

Saya jadi menantikan apa akan ada yang membuka tempat pizza dengan New York Style lagi ga ya? Atau siapa tahu ada yang membuka tempat pizza lain dengan jenis yang berbeda.

Di Mana Dirimu Setahun yang Lalu?

Di tanggal-tanggal segini, saya masih jetlag setelah pulang umroh. Badan masih terasa capek banget dan remek, namun tugas-tugas sudah menunggu. Satu hari sebelumnya saya sempet ketemu dengan teman sekomunitas untuk menyiapkan kegiatan pelatihan untuk menjadi guru SD Waldorf di akhir bulan Maret 2020, lalu besoknya saya masih masuk kerja di kantor, Saya juga masih berjalan-jalan dan bertemu dengan teman-teman sambil membagikan cerita dan oleh-oleh dari umroh.

Tentu saja kabar adanya virus Covid19 sudah terdengar dan sudah ada kasus pertama di Jakarta. Saat saya pulang umroh pun kegiatan di bandara sudah mulai berbeda. Seperti untuk para pendatang dari daerah asia harus mengisi surat kuning untuk mempermudah pencarian ketika ada kasus Covid19, sedangkan untuk pendatang dari daerah non Asia masih diperbolehkan untuk langsung mengambil bagasi. Berhubung sekali lagi masih jetlag dan ga buka media sosial maupun portal berita, saya nyaris ga tahu ada kejadian apa selama nyaris 2 minggu saya melakukan umroh. Saya masih teringat saat hari kedua sampai di Indonesia, seorang teman sampai bertanya apakah saya sudah sampai di Indonesia atau belum melalui whats app. Saya yang ga tahu apa-apa hanya menjawab “sudah”. Ternyata, saat itu Bandara Jeddah dan Madinah sudah menutup bandaranya, sehingga pesawat yang akan masuk dan pergi praktis tidak bisa melakukan kegiatannya. Beberapa jamaah umroh yang saat itu sudah sampai di bandara Jeddah maupun Madinah tidak diperbolehkan memasuki bandara dan harus terbang kembali ke Indonesia. Sedangkan jamaah yang ada di bandara, harus menunggu dan tidak diperbolehkan untuk terbang selama beberapa hari.

Seminggu kemudian, saya masih bisa nongkrong di kedai kopi kesayangan sambil menyelesaikan pekerjaan ditemani angin yang bertiup kencang. Saat itu saya dan teman berbagi meja masih sempet-sempetnya saling komen betapa kencang anginnya dan dingin banget, tapi kita tetep bertahan di sana untuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Tentu saja saat itu kami bebas mengobrol dan bekerja tanpa perlu memikirkan hand sanitizer maupun masker. Selama psbb, rasanya kami lebih rela bisa kena angin yang bertiup kencang ini dibandingkan kesetresan menghadapi pandemi seperti setahun belakangan ini.

Setahun yang lalu, di tanggal-tanggal awal Maret ini adalah saat masih bebas melakukan segala sesuatu tanpa perlu ketakutan akan terkena Covid19. Siapa yang menyangka pandemi ini berlangsung selama ini dan kita khususnya yang di Indonesia, jadi terbiasa memakai masker setiap keluar rumah.

Merindu

Pernahkah merindukan suatu hal yang belum pernah dialami sebelumnya?

Mungkin kalo pengalaman jatuh cinta pernah kali ya? Khususnya untuk perempuan di masa kehamilannya. Saat itu perasaan sayang dan jatuh cinta sudah terasa pada sebuah mahluk yang bahkan bentuknya pun masih berupa janin. Ketika melahirkan pun kembali dibuat jatuh cinta dengan tampilan lucu dan menggemaskannya si jabang bayi. Walaupun tetap saja ada beberapa yang juga mengalami ketakutan dan deg-degan saat masa kehalimannya.

Sedangkan rindu dan kangen itu bentuk perasaan dan cinta yang lain. Saya pun mungkin ga bisa menjelaskannya dengan baik, tapi pada akhirnya saya bisa memahami rasanya merindukan sebuah tempat yang bahkan belum pernah didatangi sebelumnya. Hal ini belum pernah saya alami hingga saat saya memasuki kota Maddinah saat Umroh setahun yang lalu. Mulai dari perasaan deg-degan saat memasuki kota hingga melihat ke sekeliling, saya tiba-tiba merasakan kangen yang luar biasa. Seperti sudah lama sekali ingin ke sana hingga mengeluarkan air mata. Sebuah tempat yang sering disebut sebagai rumah Rosulullah.

Sampai saya merasakannya sendiri, saya ga pernah bisa paham setiap orang yang bercerita betapa kangennya untuk pergi lagi ke Maddinah dan Mekah. Ga kebayang aja, bisa ya punya perasaan seperti itu? Ternyata jawabannya bisa.

Menjelang Maghrib

Malam ini, saya kembali kangen dengan kedua tempat itu.

Semoga masih diberi kesempatan untuk kembali berkunjung ke sana.

Ngobrolin Soal Bekerja

Kadang kita baru merasakan sesuatu itu berkah atau nikmat ketika hal tersebut diambil dari kita. Sometimes we take it for granted. Salah satunya adalah pekerjaan. Apalagi di masa pandemi seperti ini, ketika masih memiliki pekerjaan, itu merupakan salah satu berkah. Sejak pandemi saya jadi punya kesadaran kalau saya memang suka bekerja dan punya kerjaan. Rasanya saat awal-awal pandemi, bengong dan tidak mengerjakan apapun terlihat menyenangkan. Tapi setelah tiga hari, rasanya badan pegel-pegel dan malah jadi berasa sakit. Ternyata bergerak dan bekerja itu merupakan hal yang saya nikmati. Rasanya senang sekali ketika punya kesibukan. Tapiiii meskipun senang bersibuk ria, bukan berarti saya ga mengeluh ya. Tetep aja ketika kerjaan banyak, ga punya waktu buat baca buku atau nonton drama, saya suka mengeluh. Apalagi ketika dikejar-kejar garis mati a.k.a deadline, berasa kayak habis lari sprint.

Meskipun begitu bekerja dan sibuk itu perlu diimbangi dengan istirahat dan melakukan kegiatan yang menyenangkan juga. Saya merupakan penganut work life balance. I do love my work, but doesn’t mean I live to work. Jangan sampai kebalik, malah sibuk bekerja sampai lupa sama hidup sendiri. Oh jangan salah, temen-temen saya yang pegawai korporat menjadi sibuk bekerja hingga tidak ada waktu untuk kehidupan pribadinya. Beneran ga sehat. Bahkan sejak pandemi mereka bisa bekerja nyaris 24 jam 7 hari seminggu. Pelukin orang-orang yang kerjanya begini. Kalau kerjanya sudah seperti ini, ga mungkin banget kalau ga ngeluh. Mau sebersyukur dan merasa berkah masih punya pekerjaan, tapi kalo diperbudak tetep aja lelah ya.

Image result for you live to work we work to live, emely in paris
Sebuah percakapan yang saya suka dari tv series Emily in Paris

Beberapa hal yang suka saya bilang ketika temen-temen saya ini curhat dan berada dalam keadaan dilema -bersyukur punya kerja, tapi ya capek dan pengen ngambek karena ga punya waktu napas- : ga apa apa kalau mau mengeluh. Karena mengeluh juga mengeluarkan emosi negatif yang jadi stressor untuk diri sendiri. Dari pada dipendem dan ujung-ujungnya jadi sakit, lebih baik dikeluarkan.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah membangun batasan. Sampai sejauh mana pekerjaan perlu dilakukan dan hingga jam berapa. Pekerjaan itu kan ga ada habis-habisnya yah, dan setiap hari akan selalu ada pekerjaan baru yang menunggu. Ketika kita memaksakan diri terus bekerja tanpa kenal istirahat, orang-orang sekitar pun menjadi terbiasa untuk memberikan kita pekerjaan terus menerus. Makanya batasan itu penting banget. Harus submit dokumen tertentu itu penting, tapi ketika itu harus dilakukan pukul 12 malam? Apa yang menerimanya akan langsung membaca di jam itu? Atau memang korporasinya bekerja sama dengan perusahaan yang beda zona waktu? Kalau jawabannya engga, sebenarnya bisa dilakukan besok pagi ga sih?

Satu lagi yang sering saya ingatkan untuk temen-temen saya ini adalah jangan lupa buat nafas. Cara kita bernafas itu memberitahu banyak hal mengenai kehidupan kita. Apakah tipe yang cepat dan terburu-buru? Atau tipe yang lambat dan tenang? Atau tidak teratur? Saat menyadari tipe nafas kita, saat itu juga kita punya kontrol terhadap diri. Ketika lagi stres dan capek banget, coba untuk bernafas lebih pelan dari pada biasanya. Saya suka pakai perhitungan 5 ketukan untuk menarik udara masuk – 5 ketukan menahan nafas – 7 ketukan untuk mengeluarkan udara. Ketika kita bisa lebih lama mengeluarkan udara dari dalam badan, semkkin tenang diri kita.

Bekerja itu penting dan merupakan berkah, oleh karena itu jangan berakhir dengan mengorbankan fisik dan mental juga.

Tahun Ke-12

Kemarin saya mendapatkan pemberitahuan dari wordpress kalo blog saya ini berulang tahun ke-12!!! Dua belah tahun menulis secara terus menerus di sini. Yah walaupun ada masa-masa beberapa bulan blog ini sempet dianggurin dan ga diurus, tapi hingga hari ini saya masih menulis di sini. Menurut saya memang belum ada yang bisa menggantikan sensasi menulis. Sempat terpikir apakah mengganti tulisan ini dengan ngomong aja ya di podcast? Saya pernah iseng membuat podcast dari tahun lalu. Tapi sampai hari ini isi podcast saya cuma dua episode saja. Sempat terpikirkan juga pengen bikin videoe kece ala ala keseharian karena seneng nonton video keseharian sepeti Liziqi atau video masak ala peaceful cuisine. Tapi mengingat ngedit video yang masih jadi pr sampai hari ini, kayaknya cukup ngurusin youtube sekolahan aja. Instagram dan twitter sudah tentu tidak bisa menggantikan bercerita di blog. Pada akhirnya ketika ingin menumpahkan isi pikiran, saya pun kembali menulis.

Kegiatan saya menulis blog pada tahun lalu pun terbilang cukup sering. Saat awal pandemi, saya jadi punya banyak waktu untuk bisa menyicil cerita yang ingin saya tulis di blog. Maklum saja, saat itu saya benar-benar kekurangan kegiatan karena ga bisa ke mana-mana, jadilah menulis blog adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan. Sepanjang pandemi, menulis blog berarti menuliskan apa yang sedang saya lakukan sepanjang minggu maupun bulan itu. Sesuatu yang saya butuhkan untuk memastikan kesehatan mental yang dimiliki. Jadi semacam jurnal maya dan ajang terapi untuk diri sendiri juga 😀 .

Meskipun sedih juga sih, semakin ke sini orang yang menulis blog semakin sedikit. Bahkan banyak yang sudah meninggalkan blog dan beralih untuk bercerita di media lain seperti melalui foto di instagram dan video di youtube. Akan tetapi ada yang masih menulis di blog dan ada yang baru kembali menulis. Saya selalu berbahagia ketika bertemu kembali dengan teman-teman yang memulai kembali menulis di blog. Seperti teman yang sudah lama tidak bertemu. Saya juga terkadang iseng untuk melakukan blog walking dan kembali bertemu dengan teman baru di dunia maya.

Sepanjang dua belas tahun ini, saya pun memiliki banyak teman-teman yang awalnya saya kenal di blog. Mulai dari yang awalnya ngobrol di kolom komen dan beralih hingga menjadi teman di media sosial, ada yang sudah bertemu dan menjadi teman curhat, atau bahkan menjadi teman ngobrol pun banyak. Sebuah berkah yang saya syukuri.

Selamat ulang tahun blog cokelat dan hujan!!

Hai 2021

Sudah 14 hari sejak 2021 dimulai.

Hari ini seorang Syekh bernama Ali Jaber meninggal dunia. Saya pernah mendengarkan ceramahnya dan cukup menyejukkan hati. Beliau merupakan salah seorang ulama yang saya sukai cara menyampaikan ceramahnya. Tidak banyak ulama dalam negeri yang saya sukai ceramahnya karena bebas dari judgment dan mendamaikan pendengarnya.

Kemarin orang nomer satu di Indonesia sudah diberikan vaksin covid. Oh lalu juga ada berita soal Raffi Ahmad yang divaksin sebagai salah satu influencer. Walaupun sesudahnya ada berita kalau Raffi jalan-jalan dan kumpul-kumpul serta berita-berita sesudahnya.

Kemarin pula saya mendapatkan kabar dari dua orang kawan bahwa kucing kesayangan mereka meninggal.

Beberapa hari sebelumnya, pesawat Srijiwaya air yang terbang dari Jakarta menuju Balikpapan jatuh di sekitar kepulauan seribu.

Di hari pertama tahun baru SM Entertainment memberikan konser live berjudul “Culture Humanity” secara cuma-cuma melalui channel youtube. Acaranya sendiri digelar mulai pukul jam 11 siang waktu Indonesia hingga menjelang sore. Sebagai penggemar lagu Korea, saya senang sekali disuguhi acara musik yang memompa semangat di awal tahun.

Saya harus mengoreksi, baru 14 hari sejak 2021 dimulai namun berita duka dan bahagia sudah sebanyak ini. Oh jangan lupakan pandemi ini belum berakhir ataupun masuk ke second wave, karena first wave untuk Indonesia pun belum berakhir. Hingga saat ini jumlah kasusnya semakin bertambah dan menembus angka 11 ribu.

Harapan dan doa saya untuk tahun ini semoga di semua kesulitan ini terdapat kemudahan dalam perjalanannya, semoga kita (saya dan yang membaca) selalu sehat dan selamat tidak hanya fisik namun juga psikis. Kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik loh!

Selamat tahun baru!

Penghujung 2020

Setiap tahunnya saya punya kebiasaan untuk merefleksikan apa-apa saja yang terjadi di tahun sebelumnya. Namun tahun ini menjadi tahun yang spesial karena saya biasa melakukan refleksi beberapa bulan sekali. Ini dilakukan untuk mengecek keadaan mental dan fisik juga sih selama pandemi. Makanya ketika mau membuat tulisan mengenai akhir tahun, jadi bingung mau nulis apa 😀 . Ketika mau menulis soal liburan, sudah ditulis. Mau cerita soal hal-hal yang baru dikerjakan saat pandemi? juga sering saya tulis. Mau cerita soal menjaga kewarasan juga udah.

Akhirnya yang terpikirkan dan belum pernah saya tulis adalah bercerita mengenai pekerjaan. Di tahun ini saya punya beragam model pekerjaan yang baru. Sebut saja menjadi penanggung jawab buletin untuk sekolah, guru pengganti, menjadi admin instagram biro psikologi, mendesain berbagai konten dan proposal di biro psikologi dan sekolah, mengajukan proposal bisnis ke perusahaan lain, naik level untuk melakukan asesmen psikologi, serta mencoba melihat cara melakukan umpan bali dari hasil pemeriksaan psikologi. Beneran ga pernah terbayangkan akan masuk ke berbagai jenis dan ragam kegiatan di biro psikologi! Tantangan baru, tentu tanggung jawab baru. Kecemasan dan tidak nyaman karena keluar dari zona nyaman tentu hadir. Kalau sudah begini, saya mending minta masukan dan umpan balik dari para senior untuk menajamkan hal-hal yang dianggap kurang. Stres? Jangan ditanya! Tapi senang juga sih, karena dengan begini saya tahu bahwa saya sedang belajar dan berkembang untuk menjadi lebih baik lagi.

Kalau mau dilihat sebenernya tahun 2020 ini buat saya pribadi bukan lah tahun yang buruk apalagi dibandingkan dengan orang lain ya. Saya masih bisa berdaya di tahun ini, masih punya pekerjaan, masih bisa mengerjakan inner work, ikut beragam seminar dari berbagai belahan dunia karena semua serba daring, berkenalan lebih jauh dengan beberapa orang yang dulu kayaknya ga kebayang akan sering ngobrol seperti di tahun ini. Selain hal-hal ini apalagi seminggu terakhir, saya mendapatkan dua kabar berpulangnya orang-orang yang saya hormati: pembimbing saat kami Umrah di bulan Februari kemarin, serta salah seorang inisiator dari Emergency Pedagogy Indonesia yang saya kenal saat psikososial di Palu. Jangan ditanya bagaimana patah dan sedihnya saya saat mendengar kabar duka ini karena keduanya datang dadakan. Pada akhirnya hidup ini betul-betul penuh keseimbangan dan ini benar-benar kelihatan di tahun 2020. Ada kabar duka, juga ada kabar bahagianya; ada tantangan-tantangan yang dihadapi namun juga ada hasil-hasil manis yang dipetik dari sana.

Saya ga tahu di tahun depan akan mendapatkan apa lagi. Semoga sedikit demi sedikit hal-hal yang ingin ditingkatkan serta keahlian-keahlian lain dapat dipertajam bisa terwujud, aamiin!!

Sarapan di Cici Claypot

Sudah lamaaa sekali pengen nulis soal Cici Claypot. Ini adalah salah satu makanan yang masuk kategori comford food versi saya. Sejak keinginan buat menulis soal Cici Claypot ini muncul dan akhirnya beneran ditulis, tempatnya sendiri udah pindah tiga kali!! Pertama kali warungnya buka di Jalan Sulanjana dan hanya buka sore hari. Lalu mereka pindah ke Jalan Trunojoyo dan buka dari siang hari. Sampai akhirnya pindah ke Anggrek Nomer 43 dan buka dari pagi!! Mulai dari jaraknya tinggal ngesot dari kedai kopi favorit sampai akhirnya kudu naik kendaraan.

Berhubung sekarang udah buka dari pagi, Cici Claypot jadi punya menu sarapan. Sampai tulisan ini dibuat, ada dua menu untuk sarapannya yaitu bubur ayam dan rice in pot. Dua-duanya udah saya cobain dan enak-enak!! Bubur ayam di Cici Claypot ini adalah bubur ayam Chinese Style, jadi ga ada tambahan kecap manis ataupun kuah. Bubur ayamnya disajikan bareng sama ayam suwir, cakue, pangsit goreng, sama bawang daun. Rasanya asin gurih enaaakk!! Apalagi ditambahin chili oil, makin enakk!!

Bubur Ayam

Sedangkan rice in pot ini adalah nasi gurih yang di atasnya ada ceker, ayam, dan telurnya. Kalo lagi ga pengen ayam bisa diganti sama ikan dori. Kalo ga suka ceker juga bisa diganti sama tahu. Awalnya saya pikir nasi gurih ini akan kayak nasi Hainan, ternyata engga dong! Terus kirain juga nasinya dipikir bakal lembek kayak nasi tim gitu, ternyata juga engga. Nikmat banget dimakan pagi-pagi dengan udara Bandung yang suka dingin.

rice in pot ayam dan tahu

Untuk minumannya saya suka bilang kalo teh di Cici Claypot ini enak!! Mau teh anget atau dingin, sama-sama enak!! Kalau ga mau minum teh manis, Cici Claypot juga punya es cincau hitam yang mengingatkan saya sama es cincau zaman dulu yang lembut dan manis. Sederhana aja rasanya dan ga perlu tambahan apa-apa lagi.

Es Cincau Hitam

Untuk yang mau makan langsung di Anggrek 43, saya saranin dateng pagi jam delapanan biar kebagian. Saya pernah dateng telat sekitar jam setengah sepuluh dan pas kebagian mangkuk terakhir!! Untuk yang mau dateng ke sini, jangan lupa untuk cek ricek keadaan badan sendiri ya. Saya ga nyaranin untuk bepergian dan makan di sini kalau di rasa kecapekan, kurang tidur, atau lagi ga enak badan. Buat yang pengen nyobain tapi ga mau ke mana-mana, bisa pesen via nomer wa yang ada di instagramnya cici claypot.

Buat saya, kalau mau makan ke suatu tempat pasti bakal memperhatikan beberapa hal seperti tempatnya terbuka atau engga, ramai atau engga, bersih atau engga, serta standar protokol kesehatannya diperhatiin atau engga. Cici Claypot ini adalah salah satu tempat yang memenuhi semua check list untuk makan di tempat versi saya.

Bangkitkan Semangat, Wujudkan Merdeka Belajar

Judul tulisan saya ini merupakan tema dari Peringatan Hari Guru Nasional yang diselenggarakan setiap tanggal 25 November 2020. Pada peringatan tahun ini, saya jadi penasaran dengan asal mula dari tanggal 25 November ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional. Setelah membaca beberapa sumber berita, tanggal 25 November merupakan tanggal terbentuknya Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI saat Kongres Guru Indonesia tanggal 24 dan 25 November 1945 di Surakarta. Kemudian pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 menetapkan 25 November sebagai Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tahun sebagai tanda penghormatan kepada guru yang merupakan pekerjaan tanpa tanda jasa.

Tema peringatan Hari Guru Nasional tahun ini sebenernya gatel banget pengen saya sunting. Coba deh baca kata-katanya ada yang kurang pas ga sih? Lalu kepikiran semangat apa yang perlu dibangkitkan? Semangat untuk mewujudkan merdeka belajar kah? Lalu apa yang disebut sebagai merdeka belajar?

Saya pribadi merasa untuk mewujudkan siswa-siswa yang memiliki kemerdekaan dalam belajar, sebagai sebuah yayasan, sekolah, maupun komunitas kita perlu menyediakan tempat yang aman, nyaman, dan indah untuk mengajarkan anak berbagai keterampilan yang dapat mendukungnya dalam belajar. Tempat yang aman berarti orang tua dapat nyaman melepas anaknya untuk bersekolah tanpa takut anaknya akan diculik ataupun terancam keselamatannya. Tempat yang aman bukan berarti semua bahaya disingkirkan, namun tetap ada tempat untuk anak memanjat, terjatuh, ataupun tersandung karena anak-anak butuh hal ini untuk mengasah kemampuannya bangun saat terjatuh secara real maupun nanti ketika besar mengalami kesulitan. Tempat yang nyaman berarti anak-anak memiliki kesempatan bereksplorasi terhadap berbagai hal yang ada di dekat mereka. Mereka bisa berlari, berjalan, berkebun, dan melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan berbagai keterampilam yang dibutuhkan ketika ia kelak menjadi dewasa.

Mewujudkan merdeka belajar untuk menuju manusia yang merdeka. Ini merupakan tujuan pendidikan yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah buku berjudul Menuju Manusia Merdeka. Manusia yang memiliki kebebasan untuk dapat memilih jalan hidupnya ketika ia dewasa serta tahu apa yang ingin dia lakukan. Tentunya untuk sampai ke sini guru-guru perlu memberikan beragam keterampilan dasar yang pada akhirnya bisa dimanfaatkan anak-anak ketika ia memasuki usia dewasanya. Sebuah pekerjaan rumah bagi guru serta orang tua.

Selamat Hari Guru Nasional.