Merasakan Hati

jangan lupa bahagia!!

#bahagiareceh atau #bahagiaitusederhana

Saat ini begitu banyak orang yang mengingatkan untuk tidak lupa bahagia dan bersyukur dengan hal-hal kecil yang ada disekitar saya. Saya tidak menyalahkan  bahwa kita perlu mengingat kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang ada di sekitar kita. Namun saat mencari sedikit atau setetes kebahagiaan, kita perlu mengingat bahwa untuk merasakan kebahagiaan kadang kita perlu mengetahui dan merasakan apa yang disebut dengan kecewa, sedih, atau pun marah.

Sayangnya belakangan saya jadi melihat menjadi bahagia ini malah menjadi beban. Setiap orang berlomba-lomba menunjukkan kebahagiannya di sosial media. Seolah-olah ketika merasakan emosi lain adalah sebuah kesalahan. Misalkan saja saat ada postingan sedih atau galau akan ada yang berkomentar bahwa kita baperan atau galau terus. Jadinya banyak menuntut diri sendiri harus bahagia, harus bersyukur.

Ketika kebahagiaan sudah menjadi sesuatu yang diharuskan, apakah kita sudah benar-benar jujur dengan diri sendiri? Sudahkah kita benar-benar bahagia? Atau sebenarnya sedang membohongi diri dengan pura-pura bahagia? atau bahagia secara artificial saja? padahal sedang sedih, kecewa atau marah.

Bukankah penting untuk diri mengenali emosi dan menjadi jujur dengan keadaannya?  Menjadi sadar dengan semua emosi yang dirasakan. Oleh karena itu buat saya, it’s ok to be not okay. Karena dengan mengenali emosi dan perasaan di dalam diri, kita dapat menyadari kelebihan dan kekurangan yang ada sehingga benar-benar bersyukur dengan semua yang terjadi. Menjadi sadar tentang setiap emosi menurut saya menuntun kita menjadi manusia yang humanis. Menjadi manusia yang dapat berempati dengan lingkungan sekitarnya dan dapat berbagi kebahagiaan yang dimilikinya dengan sekitarnya.

Kebayang ga sih kalau kita selalu merasa bahagia dan tidak pernah sedih? Akankah kita bisa berempati terhadap masalah orang lain? Akankah kita menjadi manusia yang egois?

Sebagaimana “sad” dalam film animasi Inside Out, semua emosi itu penting dan memainkan peranannya masing-masing. Sehingga berkesadaran dengan emosi dan perasaan sendiri menjadi lebih penting dari sekedar bahagia.

Advertisements

Berkeliling Wat Pho

IMG_0792

Wat Pho terletak di belakang kompleks Grand Palace. Kalau punya waktu sebentar ke Bangkok, dari pagi kita bisa pergi ke Grand Palace dan dilanjutkan berjalan ke Wat Pho hingga menyeberang ke Wat Arun. Ketiga tempat ini terletak berdekatan dan total waktu yang diperlukan untuk menikmati ketiga tempat ini adalah setengah hari.

Saya berkunjung di sini bulan Agustus 2017. Berbeda dengan Grand Palace yang saat saya ke sana sedang ramai peziarah yang mengunjungi almarhum Raja dan wisatawan, di Wat Pho suasananya lebih tenang. Saya sampai bingung dengan perbedaan yang terlalu jomplang ini.

Wat Pho terkenal dengan patung emas Buddha berbaringnya, tapi selain itu di sana juga dikenal dengan sekolah Thai massage-nya loh. Sayang banget saya ga sempet nyobain thai massage-nya, karena lebih pengen berkeliling Wat Pho serta melihat patung Buddha berbaring. Di Wat Pho ini saya sempat melihat banyak sekali patung Buddha dengan berbagai posisi. Patung-patung Buddha ini diselamatkan dari kuil Ayutthaya.

Saya juga melihat-lihat bahwa di Wat Pho terdapat beberapa patung panglima Cina yang terlihat menjaga gerbang masuk ke tempat Phra Maha Chedi Si Rajakarn. Ini adalah empat pagoda besar yang didekorasi dengan ubin keramik-keramik khas Cina. Pagoda-pagoda ini merupakan lambang dari pemerintahan King Rama I hingga IV. Indah banget rasanya berkeliling di sini.

IMG_1367

salah satu pagoda di Wat Pho

Senang sekali rasanya memiliki kesempatan untuk melihat patung Buddha berbaring dan melihat-lihat di dalam Wat Pho. Sayang banget saya ga nyobain Thai massage!! Lain kali ke Wat Pho mesti banget nih nyobain pijet di sana.

Untuk yang mau berkunjung ke sana jangan lupa berpakaian yang sopan dengan tidak menggunakan celana pendek ataupun tank top.

Wat Pho
Sanam Chai road and Maharaj road next to the Grand Palace.
Operating hour: 08:00 – 18:30
Admission fee: 100 Baht
http://www.watpho.com

Goodbye Tumblr

Kemarin saya dikejutkan dengan kabar mengenai salah satu platform website yang diblokir, Tumblr. Alasan pemerintah memblokir platform ini adalah karena konten pornnografi di dalamnya. Isu ini sebenarnya sudah lama hilir mudik berada di lini masa saya, tapi yang dulu kan ga jadi diblokir, jadi yang sekarang pun saya hanya melihat sekilas mengenai berita ini dan terlupakan begitu saja. Saya baru tahu kalau Tumblr benar-benar diblokir beberapa hari yang lalu, saat melihat salah satu halaman instagram story dari teman yang sama-sama sering menulis di Tumblr. Sedih rasanya karena tidak ada pemberitahuan yang jelas mengenai pemblokiran Tumblr di Indonesia. Eh ini mah bisa juga sih salah saya yang cuma baca berita sekilas-sekilas ><.

Apapun itu, nasi sudah menjadi bubur. Saya tidak sempat memindahkan tulisan-tulisan di Tumblr ke rumah barunya. Padahal saya sengaja mengisi Tumblr dengan berbagai tulisan random dan quotes-quotes yang kalau ditulis di WordPress bakal panjang dan menuh-menuhin halaman wordpress 😦 .

Eh tapi ada beberapa temen saya loh yang masih bisa mengakses Tumblr-nya!! Ini tidak adil!! *langsung kesel sendiri* . Saya ga tahu sampai kapan Tumblr diblokir sama pemerintah Indonesia. Kalau sudah tidak diblokir, saya akan segera memigrasikan tulisan-tulisan saya di sana ke rumah barunya, di blogger.

Mencari Makanan Halal Di Thailand

Thailand memiliki industri makanan halal terbesar di dunia. Oleh karena itu sebenarnya tidaklah sulit mencari produk-produk berlabel halal di negeri gajah putih. Hampir di setiap super market dan seven eleven memiliki beberapa produk halal yang bisa kita pilih.

Kalau di luar kota Bangkok, saya baru menjejakkan kaki ke Khon Kaen. Memang di kota ini sedikit sulit mencari restoran berlabel halal, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Di kompleks Khon Kaen University ada dua food court yang menjual makanan halal sedangkan di kotanya sendiri, di Pratunam Market ada satu tempat makanan halal yang bisa dicoba. Satu tempat yang paling bikin saya kangen adalah tempat makan mie berlabel halal yang ada di Maliwan Road. Tepat berada di halaman Krung Thai Bank di seberang sebuah mini market. Itu mie-nya enak banget!!! Biasanya pulang dari training di dalam Khon Kaen University, beberapa kali saya menyempatkan diri untuk makan di sana.

IMG_4277

Di Bangkok sendiri sangatlah mudah untuk mencari makanan dengan label halal baik di food court, restoran yang berdiri sendiri, maupun di dalam pasarnya. Kalau sedang di Dong Mueang Airport dan pusing mencari makanan halal, ada satu tenant halal bernama Bangmad. Letaknya di penghubung antara terminal domestik dan lantai international departure. Tepat di seberang prayer room. Di sini pilihan makanannya banyak dan bisa memilih untuk take away.

IMG_1107

Apabila ke daerah Pratunam dan sedang berbelanja di Fashion World Pratunam, di food court lantai enam ada dua tenant makan halal. Satu merupakan masakan India dan satu lagi adalah masakan khas Thai. Saya sih suka banget buat makan di kedai yang masakan Thai karena enak, halal, murah, dan porsinya pas!! Sekali makan di sini, kita hanya perlu  membayar sekitar 50 THB.

IMG_1117

IMG_1202

Apabila sedang ada di daerah Siam, saya sempat mencoba makan di MBK Center lantai lima. Di sana ada sebuah restoran keluarga berlabel halal. Cocok banget buat makan dengan sistem sharing karena porsinya yang besar. Selain itu di food courtnya ada dua tenant makanan halal dengan harga sekitar 200 THB. Kalau lihat dari displaynya sih porsinya banyak banget!!! Jadi bisa buat share. Saya sih batal makan di sini karena cuma sendirian 😦 .

Kalau sedang asyik berbelanja di Chatuchak Weekend Market, sepenglihatan saya ada tiga tempat makan halal di sini. Pertama adalah tepat di seberang clock tower dengan harga makanan sekitar 250 THB. Tempat makan halal kedua ada di jalan arah ke Section 18. Saya sudah pernah mencoba makan di sana dan cukup enak. Semangkok mie dengan bakso dan jeroan dihargai 150 THB. Tempat makan halal ketiga adalah favorit saya, nama restorannya adalah Kah Jak. Terletak agak tersembunyi di Soi 18. Ga jauh dari pedagang es kelapa yang ada di dekat clock tower. Harga makanannya dibawah 100 THB dengan porsi yang pas untuk saya. Rasa makanannya pun enak!!

IMG_1446

Makanan di Kah Jak

Untuk yang sedang bermain di Asiatique sebelum nongkrong cantik di depan Sungai Chao Praya, mending cari makanan dulu dari pada kelaparan. Satu-satunya tenant makanan halal di dalam Asiatique adalah kebab. Kalau mau mencari nasi dan mie di dekat Asiatique ada food court yang menjual banyak makanan halal!! Tepatnya di seberang KFC Asiatique, tepat diantara seven eleven dan mesjid. Pilihan makanannya cukup banyak. Saya melihat ada tiga hingga empat tenant yang menjual makanan halal. Harganya pun terjangkau banget!! Saya makan mie, baso, dan daging sapi seharga 50 THB!! Selesai makan bisa sekalian ikut shalat di mesjid sebelahnya. Baru deh nongkrong tsantik sambil menikmati lampu-lampu Asiatique.

Apabila sedang berada di Night Market maupun Day Market, biasanya akan ada satu hingga dua tenant yang memiliki label halal. Seperti saat saya ke Bangkok di Bulan Agustus 2017, saya menemukan dua tenant halal di Day Market depan Central World. Satu tenant menjual street food ala Thailand dan satu tenant lagi menjual makanan berat. Dua-duanya enak!!! Akhirnya saya bisa mencoba street food Thailand juga!!! Oia kalau ke Night Market suka ada yang menjual jagung rebus ataupun jagung bakar. Rasa jagungnya manis dan enak!!

IMG_1885

IMG_1437

Thailand memiliki banyak pedagang buah segar yang mana beneran cuma jual buah, jadi insyaAllah halal ya. Buah di Thailand ini ga pernah ada yang gagal!! Rasanya enak semua. Saya juga mencicipi jus buah di tenant yang menjual khusus jus sehingga saya tetap tenang membelinya. Begitu pun saat mencicipi durian serta mango sticky rice.

IMG_4284

IMG_1167

Untuk yang senang nyobain makanan, di seven eleven banyak memiliki menu halal. Mulai dari burger, ayam-ayam ala nugget dan chicken roll, shrimp dumpling, bahkan sosis. Kalau mau mencari tuna spread, roti, ataupun minuman halal juga banyak tersedia di seven eleven dan super market lainnya. Bahkan air mineral aja ada label halalnya dong! Di Indonesia aja ga sampai segininya. Buat penggemar Sam Yang, saya baru lihat di Thailand semua Sam Yang-nya ada label halal. Dengan semua kemudahan ini, insyaAllah urusan makan bisa tenang selama jalan-jalan di Thailand.

*beberapa foto diambil dari hp Teh Win.

 

Berkunjung Ke Kediaman Jim Thompson

 

 

Jim Thomson House

Jim Thomson House

Memasuki Museum yang juga kediaman dari Jim Thomson mengingatkan saya dengan struktur bangunan di daerah Sumatera. Rumahnya berbentuk rumah panggung dan terletak di depan sungai lokal di Bangkok, Thailand. Mungkin karena di Bangkok memiliki banyak aliran sungai sehingga bentuk rumah tradisionalnya adalah rumah panggung.

Kediaman Jim Thomson merupakan perpaduan antara gaya Barat dan tradisional Thailand. Bentuknya pun menjadi berbeda dengan rumah tradisional Thailand pada umumnya. Hal inilah yang membuat saya merasakan kemiripan dengan rumah-rumah panggung di Indonesia. Bagian dalamnya juga mengingatkan saya dengan rumah tradisional Sumatera di mana setiap ruangan selalu menggunakan ambang pintu yang lebih tinggi dari biasanya sehingga ketika akan memasuki ruangan kita harus mengangkat kaki. Bentuk jendelanya yang besar dan tinggi membuat saya pengen duduk dan memandang lama ke arah sungai. Kalau sudah begini jadi kangen pulang kampung!!

Jim Thomson House

duduk-duduk sambil menunggu giliran tur

Saat masuk ke dalam rumah, saya melihat perbedaan yang dilakukannya dengan rumah tradisional Thailand. Di ruang makan, ia memilih meja makan daripada duduk di atas lantai kayu. Ia pun memiliki ruang kerja sendiri di dalam ruamh. Perbedaan lain adalah menyatunya kamar mandi dan kamar utama. Padahal kalau menurut kepercayaan Thailand dulu, tidak baik menyatukan antara kamar mandi dan kamar utama. Selain itu di ruang tengah yang dikenal sebagai drawing room, Jim Thomson menyimpan sebuah lampu kristal di tengah ruangan yang memiliki tempat duduk khas Thailand. Bagian lain yang berbeda dengan struktur rumah tradisional Thailand adalah adanya tangga di bagian dalam rumah, karena kalau rumah yang asli tangga itu berada di luar rumah.

Pintum masuk museum Jim Thomson berada di pintu samping. Sedangkan pintu depan kediamannya sebenarnya berada di depan sungai sehingga setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya selalu melewati sungai.

Jim Thomson House

Selain rumah utamanya, terdapat empat ruangan kecil yang terpisah dari rumah  induk, yaitu spirit house, tempat penyimpanan sutera, tempat penyimpanan emas, serta tempat untuk melukis. Di sekitar bangunan penyimpanan emas dan tempat melukis terdapat sebuah kolam dan tanaman-tanaman berwarna hijau sehingga memberikan kesan tenang dan nyaman. Rasanya saya ga bosen untuk sekedar mengobrol dan mengagumi kediaman Jim Thomson ini.

Jim Thomson House

adem banget ditengah cuaca Bangkok yang panas

Awalnya saya mengetahui rumah Jim Thomson ketika mencari tempat yang perlu dikunjungi ketika di Bangkok. Saya tidak mengira bahwa Jim Thomson adalah seorang arsitek berkebangsaan Amerika yang menjadi voluntir tentara Amerika saat perang dunia kedua. Ia dikirim ke Bangkok sebagai perwira militer dan jatuh cinta kepada Thailand. Setelah meninggalkan dinas militer, Ia pun memutuskan untuk kembali dan menetap di Thailand. Perhatian Jim Thomson kemudian jatuh pada salah satu industri rumahan yang telah lama terbengkalai, tenunan sutera dengan menggunakan tangan dan ia pun mengabadikan dirinya untuk menghidupkan kerajinan tersebut. Ia juga berkontribusi terhadap pertumbuhan industri sutera Thailand. Hingga kini Jim Thomson memiliki banyak butik di mall-mall yang tersebar di Thailand.

Ketika mengunjungi museum ini petugas tidak memperbolehkan untuk memfoto bagian dalam rumah. Tas dan bawaan lainnya harus dimasukkan ke dalam loker yang disediakan. Jangan lupa untuk memakai alas kaki yang mudah dilepas, karena ketika memasuki area rumah utama kita tidak diperkenankan menggunakan sepatu ataupun sandal. Untuk yang ingin berkeliling di Jim Thomson House, mereka menyediakan pemandu lokal dengan beberapa pilihan bahasa pengantar. Saya sudah pasti mengikuti tur dengan pemandu berbahasa Inggris. Untuk info lebih jauh mengenai sejarah, lokasi, serta harga tiket mengunjungi Kediaman Jim Thomson bisa dilihat melalui websitenya.

Jim Thomson House and Museum
6 Soi Kasemsan 2, Rama 1 Road, Bangkok
Open 09:00 – 18:00
web: www.jimthomsonhouse.com

 

Berbelanja di Bangkok

Bangkok menawarkan banyak atraksi dan hiburan yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Mulai dari yang muda hingga tua, yang senang belanja, nyari yang aneh-aneh, sejarah, ataupun bangunan kuno. Semua ada di Bangkok.

Tulisan kali ini, saya mau menceritakan pengalaman belanja di Bangkok. Sungguh sebenarnya saya ga doyan-doyan banget belanja, tapi menjelajah tempat-tempat ini plus lihat harganya yang murah, saya jadi keseret dong!!!

IMG_1618

jembatan untuk berjalan ke Platinum Fashion Mall

Buat yang mau membeli baju-baju modern ala ala online shop yang bertebaran di instagram, bisa dicari di daerah Pratunam. Di sana ada dua mall besar yang memiliki banyak pilihan untuk baju, kaos, dress, tas, sepatu, bahkan oleh-oleh seperti magnet kulkas, gantungan kunci, dan dompet yaitu Platinum Fashion Mall serta Paladium World Shopping. Bentuknya mirip Trade Center di Indonesia. Kalau mau makan, ada food court yag terbilang murah di lantai atas Platinum Fashion Mall.

Kalau mau ngubek-ngubek sedikit, bisa jalan ke Pratunam Market untuk mendapatkan baju-baju dengan harga lebih miring. Beberapa teman saya memilih membeli baju di daerah Pratunam dari pada di Chatuchak Weekend Market karena harga yang lebih bagus.

Apabila ingin mencari berbagai barang saya sarankan untuk mencoba berkeliling di Chatuchak Weekend Market. Hampir semua barang yang dipikirkan ada di sini. Mulai dari perabot kayu, keramik, tas-tas oleh-oleh, gantungan kunci, baju-baju ala distro, lukisan, bahkan ngopi di dalem pasar ada semua di sini. Saking luasnya mereka punya peta sendiri loh untuk ngasi tahu distrik-distrik toko yang ada. Pengalaman saya, kalau mau ketemuan setelah muter sendiri-sendiri mending janjian di Clock Tower karena berada tepat di tengah Chatuchak Weekend Market.

Peta Chatuchak Weekend Market yang didapat dari sini

IMG_1449

Clock Tower

Sebenernya kalau mau mencari tempat oleh-oleh murah yang banyak disarankan beberapa travel blogger ada di Asiatique. Lokasinya sejajaran KFC Asiatique. Nanti akan melewati bank, lorong, dan ada sebuah toko setelahnya. Di situlah toko yang dimaksud. Kayaknya banyak banget turis Indonesia maupun Malaysia yang berbelanja di sana hingga penjualnya fasih banget ngomong Bahasa Indonesia. Saya sempat bertanya harga dompet koin, magnet kulkas, serta gantungan kunci. ternyata memang lebih murah dari pada di Chatucak maupun Pratunam.

IMG_1502

Di Asiatique ini banyak tempat untuk nongkrong dan berbelanja. Untuk yang penasaran dengan Lady Boy, di sini lah kalian bisa melihat pertunjukan Calypso Cabaret. Saya sendiri belum pernah ke sana karena tiket pertunjukan yang mahal, sekitar 900 THB. Mungkin suatu hari nanti saya akan menonton.

Apabila ingin mencari snack, makanan, serta minuman khas Thailand, saya menyukai belanja di Big C Pratunam. Spesifik banget kan? Karena hanya di sini saya menemukan banyak promo dibandingkan Big C di tempat lain. Seperti beli Nestea Milk Tea yang 14 sachet bakal dapet ukuran kecil berisi tiga sachet. Sebenarnya Big C ini semacam Carefour atau Giant di Indonesia. Awalnya saya ga nyangka kalau harga snack, Thai Tea, dan bumbu Tom Yam di sini terkadang lebih bagus dibandingkan tempat lain.

IMG_1142

Untuk yang ingin mencari barang-barang branded, di daerah Siam ada beberapa mall yang bisa didatangi seperti Siam Discovery, Siam Center, Siam Paragon, Siam Square, serta Central World. Puas-puasin nyari Onitsuga Tiger, Lush, ataupun beberapa merk lainnya. Kalau Annelo sih kayaknya hampir di semua mall ada.

IMG_3723

Central World

Kalau mau berbelanja di Bangkok siap-siap memakai baju dan alas kaki yang nyaman karena bakal banyak bawa barang dan jalan-jalan. Jangan lupa juga untuk kekepin dompet agar ga jadi kebablasan belanjanya 😀 . Selamat berbelanja di Bangkok!!!!

 

Nine Years Old

If I have a nine years old child, he or she would be in Elementary School, at grade three.

It’s been a long way for me to write on WordPress. On the way of nine years writing, I am not only writing for my own website but also other websites. I tried to be a contributor on one of the culinary website. In here I still learned to write reviews of places and foods. I also tried to make something like video with my friends -gonna tell you later if this project was done-.

This year I gain trust to manage publication of social media. In here I learn to write more objective about school, curriculum, an issue that becomes the trend. It’s really challenging to me. like a new page of my writing experience.

This whole experience came from one small step, one little post that I wrote on this blog.