Hai 2021

Sudah 14 hari sejak 2021 dimulai.

Hari ini seorang Syekh bernama Ali Jaber meninggal dunia. Saya pernah mendengarkan ceramahnya dan cukup menyejukkan hati. Beliau merupakan salah seorang ulama yang saya sukai cara menyampaikan ceramahnya. Tidak banyak ulama dalam negeri yang saya sukai ceramahnya karena bebas dari judgment dan mendamaikan pendengarnya.

Kemarin orang nomer satu di Indonesia sudah diberikan vaksin covid. Oh lalu juga ada berita soal Raffi Ahmad yang divaksin sebagai salah satu influencer. Walaupun sesudahnya ada berita kalau Raffi jalan-jalan dan kumpul-kumpul serta berita-berita sesudahnya.

Kemarin pula saya mendapatkan kabar dari dua orang kawan bahwa kucing kesayangan mereka meninggal.

Beberapa hari sebelumnya, pesawat Srijiwaya air yang terbang dari Jakarta menuju Balikpapan jatuh di sekitar kepulauan seribu.

Di hari pertama tahun baru SM Entertainment memberikan konser live berjudul “Culture Humanity” secara cuma-cuma melalui channel youtube. Acaranya sendiri digelar mulai pukul jam 11 siang waktu Indonesia hingga menjelang sore. Sebagai penggemar lagu Korea, saya senang sekali disuguhi acara musik yang memompa semangat di awal tahun.

Saya harus mengoreksi, baru 14 hari sejak 2021 dimulai namun berita duka dan bahagia sudah sebanyak ini. Oh jangan lupakan pandemi ini belum berakhir ataupun masuk ke second wave, karena first wave untuk Indonesia pun belum berakhir. Hingga saat ini jumlah kasusnya semakin bertambah dan menembus angka 11 ribu.

Harapan dan doa saya untuk tahun ini semoga di semua kesulitan ini terdapat kemudahan dalam perjalanannya, semoga kita (saya dan yang membaca) selalu sehat dan selamat tidak hanya fisik namun juga psikis. Kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik loh!

Selamat tahun baru!

Penghujung 2020

Setiap tahunnya saya punya kebiasaan untuk merefleksikan apa-apa saja yang terjadi di tahun sebelumnya. Namun tahun ini menjadi tahun yang spesial karena saya biasa melakukan refleksi beberapa bulan sekali. Ini dilakukan untuk mengecek keadaan mental dan fisik juga sih selama pandemi. Makanya ketika mau membuat tulisan mengenai akhir tahun, jadi bingung mau nulis apa 😀 . Ketika mau menulis soal liburan, sudah ditulis. Mau cerita soal hal-hal yang baru dikerjakan saat pandemi? juga sering saya tulis. Mau cerita soal menjaga kewarasan juga udah.

Akhirnya yang terpikirkan dan belum pernah saya tulis adalah bercerita mengenai pekerjaan. Di tahun ini saya punya beragam model pekerjaan yang baru. Sebut saja menjadi penanggung jawab buletin untuk sekolah, guru pengganti, menjadi admin instagram biro psikologi, mendesain berbagai konten dan proposal di biro psikologi dan sekolah, mengajukan proposal bisnis ke perusahaan lain, naik level untuk melakukan asesmen psikologi, serta mencoba melihat cara melakukan umpan bali dari hasil pemeriksaan psikologi. Beneran ga pernah terbayangkan akan masuk ke berbagai jenis dan ragam kegiatan di biro psikologi! Tantangan baru, tentu tanggung jawab baru. Kecemasan dan tidak nyaman karena keluar dari zona nyaman tentu hadir. Kalau sudah begini, saya mending minta masukan dan umpan balik dari para senior untuk menajamkan hal-hal yang dianggap kurang. Stres? Jangan ditanya! Tapi senang juga sih, karena dengan begini saya tahu bahwa saya sedang belajar dan berkembang untuk menjadi lebih baik lagi.

Kalau mau dilihat sebenernya tahun 2020 ini buat saya pribadi bukan lah tahun yang buruk apalagi dibandingkan dengan orang lain ya. Saya masih bisa berdaya di tahun ini, masih punya pekerjaan, masih bisa mengerjakan inner work, ikut beragam seminar dari berbagai belahan dunia karena semua serba daring, berkenalan lebih jauh dengan beberapa orang yang dulu kayaknya ga kebayang akan sering ngobrol seperti di tahun ini. Selain hal-hal ini apalagi seminggu terakhir, saya mendapatkan dua kabar berpulangnya orang-orang yang saya hormati: pembimbing saat kami Umrah di bulan Februari kemarin, serta salah seorang inisiator dari Emergency Pedagogy Indonesia yang saya kenal saat psikososial di Palu. Jangan ditanya bagaimana patah dan sedihnya saya saat mendengar kabar duka ini karena keduanya datang dadakan. Pada akhirnya hidup ini betul-betul penuh keseimbangan dan ini benar-benar kelihatan di tahun 2020. Ada kabar duka, juga ada kabar bahagianya; ada tantangan-tantangan yang dihadapi namun juga ada hasil-hasil manis yang dipetik dari sana.

Saya ga tahu di tahun depan akan mendapatkan apa lagi. Semoga sedikit demi sedikit hal-hal yang ingin ditingkatkan serta keahlian-keahlian lain dapat dipertajam bisa terwujud, aamiin!!

Sarapan di Cici Claypot

Sudah lamaaa sekali pengen nulis soal Cici Claypot. Ini adalah salah satu makanan yang masuk kategori comford food versi saya. Sejak keinginan buat menulis soal Cici Claypot ini muncul dan akhirnya beneran ditulis, tempatnya sendiri udah pindah tiga kali!! Pertama kali warungnya buka di Jalan Sulanjana dan hanya buka sore hari. Lalu mereka pindah ke Jalan Trunojoyo dan buka dari siang hari. Sampai akhirnya pindah ke Anggrek Nomer 43 dan buka dari pagi!! Mulai dari jaraknya tinggal ngesot dari kedai kopi favorit sampai akhirnya kudu naik kendaraan.

Berhubung sekarang udah buka dari pagi, Cici Claypot jadi punya menu sarapan. Sampai tulisan ini dibuat, ada dua menu untuk sarapannya yaitu bubur ayam dan rice in pot. Dua-duanya udah saya cobain dan enak-enak!! Bubur ayam di Cici Claypot ini adalah bubur ayam Chinese Style, jadi ga ada tambahan kecap manis ataupun kuah. Bubur ayamnya disajikan bareng sama ayam suwir, cakue, pangsit goreng, sama bawang daun. Rasanya asin gurih enaaakk!! Apalagi ditambahin chili oil, makin enakk!!

Bubur Ayam

Sedangkan rice in pot ini adalah nasi gurih yang di atasnya ada ceker, ayam, dan telurnya. Kalo lagi ga pengen ayam bisa diganti sama ikan dori. Kalo ga suka ceker juga bisa diganti sama tahu. Awalnya saya pikir nasi gurih ini akan kayak nasi Hainan, ternyata engga dong! Terus kirain juga nasinya dipikir bakal lembek kayak nasi tim gitu, ternyata juga engga. Nikmat banget dimakan pagi-pagi dengan udara Bandung yang suka dingin.

rice in pot ayam dan tahu

Untuk minumannya saya suka bilang kalo teh di Cici Claypot ini enak!! Mau teh anget atau dingin, sama-sama enak!! Kalau ga mau minum teh manis, Cici Claypot juga punya es cincau hitam yang mengingatkan saya sama es cincau zaman dulu yang lembut dan manis. Sederhana aja rasanya dan ga perlu tambahan apa-apa lagi.

Es Cincau Hitam

Untuk yang mau makan langsung di Anggrek 43, saya saranin dateng pagi jam delapanan biar kebagian. Saya pernah dateng telat sekitar jam setengah sepuluh dan pas kebagian mangkuk terakhir!! Untuk yang mau dateng ke sini, jangan lupa untuk cek ricek keadaan badan sendiri ya. Saya ga nyaranin untuk bepergian dan makan di sini kalau di rasa kecapekan, kurang tidur, atau lagi ga enak badan. Buat yang pengen nyobain tapi ga mau ke mana-mana, bisa pesen via nomer wa yang ada di instagramnya cici claypot.

Buat saya, kalau mau makan ke suatu tempat pasti bakal memperhatikan beberapa hal seperti tempatnya terbuka atau engga, ramai atau engga, bersih atau engga, serta standar protokol kesehatannya diperhatiin atau engga. Cici Claypot ini adalah salah satu tempat yang memenuhi semua check list untuk makan di tempat versi saya.

Bangkitkan Semangat, Wujudkan Merdeka Belajar

Judul tulisan saya ini merupakan tema dari Peringatan Hari Guru Nasional yang diselenggarakan setiap tanggal 25 November 2020. Pada peringatan tahun ini, saya jadi penasaran dengan asal mula dari tanggal 25 November ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional. Setelah membaca beberapa sumber berita, tanggal 25 November merupakan tanggal terbentuknya Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI saat Kongres Guru Indonesia tanggal 24 dan 25 November 1945 di Surakarta. Kemudian pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 menetapkan 25 November sebagai Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tahun sebagai tanda penghormatan kepada guru yang merupakan pekerjaan tanpa tanda jasa.

Tema peringatan Hari Guru Nasional tahun ini sebenernya gatel banget pengen saya sunting. Coba deh baca kata-katanya ada yang kurang pas ga sih? Lalu kepikiran semangat apa yang perlu dibangkitkan? Semangat untuk mewujudkan merdeka belajar kah? Lalu apa yang disebut sebagai merdeka belajar?

Saya pribadi merasa untuk mewujudkan siswa-siswa yang memiliki kemerdekaan dalam belajar, sebagai sebuah yayasan, sekolah, maupun komunitas kita perlu menyediakan tempat yang aman, nyaman, dan indah untuk mengajarkan anak berbagai keterampilan yang dapat mendukungnya dalam belajar. Tempat yang aman berarti orang tua dapat nyaman melepas anaknya untuk bersekolah tanpa takut anaknya akan diculik ataupun terancam keselamatannya. Tempat yang aman bukan berarti semua bahaya disingkirkan, namun tetap ada tempat untuk anak memanjat, terjatuh, ataupun tersandung karena anak-anak butuh hal ini untuk mengasah kemampuannya bangun saat terjatuh secara real maupun nanti ketika besar mengalami kesulitan. Tempat yang nyaman berarti anak-anak memiliki kesempatan bereksplorasi terhadap berbagai hal yang ada di dekat mereka. Mereka bisa berlari, berjalan, berkebun, dan melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan berbagai keterampilam yang dibutuhkan ketika ia kelak menjadi dewasa.

Mewujudkan merdeka belajar untuk menuju manusia yang merdeka. Ini merupakan tujuan pendidikan yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah buku berjudul Menuju Manusia Merdeka. Manusia yang memiliki kebebasan untuk dapat memilih jalan hidupnya ketika ia dewasa serta tahu apa yang ingin dia lakukan. Tentunya untuk sampai ke sini guru-guru perlu memberikan beragam keterampilan dasar yang pada akhirnya bisa dimanfaatkan anak-anak ketika ia memasuki usia dewasanya. Sebuah pekerjaan rumah bagi guru serta orang tua.

Selamat Hari Guru Nasional.

Welcome Back CN Blue!

Image

Hari ini CN Blue come back ke industri musik korea setelah beristirahat selama tiga tahun delapan bulan. Sepanjang tiga tahun ini mereka melakukan wajib militer di waktu yang hampir sama. Sebagai fans mereka sejak lama, saya senang dan sekaligus sedih melihat mereka come back. Senang karena mereka akhirnya kembali ngeband dan mengeluarkan mini album baru yang berisi lima lagu. Sedih karena mereka sekarang tinggal bertiga. Salah seorang gitarisnya, Lee Jong Hyun mengundurkan diri dari CN Blue setelah berita kontroversi mengenai dirinya tersebar di Bulan Agustus tahun lalu.

Berita mereka akan come back ini saya dapatkan sejak awal November lalu. Sejak itu pun konten mengenai come back mereka selalu ada nyaris setiap hari baik di twitter official CN Blue, maupun di instagram para anggota bandnya, Yong Hwa, Junshin, dan Min Hyuk. Selain itu di channel youtubenya selalu ada teaser mengenai salah satu single di album barunya berjudul Then, Now, and Forever. Selain itu mereka pun mereka juga syuting reality show berjumlah dua episode berjudul Secret CN Blue.

Sebagai fans yang menunggu band ini kembali, rasanya kenyang banget dapet sungguhan konten melimpah beberapa minggu ini. Hari ini dari pagi saya sudah menunggu-nunggu video klip terbaru mereka. Ternyata baru keluar sore hari. Lalu saya juga baru tahu kalau mereka ada Vlive jam lima sore untuk menyapa penggemarnya dan membicarakan mengenai album terbaru mereka. Saya bahagia banget bisa melihat mereka bertiga tampil lagi bersama!!!

Tujuh Bulan Pandemi

Tiba lah kita di bulan November!!

Dalam dua bulan berjalan ini, kita akan menyongsong pergantian tahun. Memang sudah terprediksi sih, hingga akhir tahun pandemi ini akan tetap ada. Tapi siapa yang menyangka di akhir Maret lalu bahwa pada akhirnya kita akan terbiasa menggunakan masker ketika keluar rumah, ke mana-mana membawa sabun cuci tangan maupun hand sanitizer, juga tak lupa tissue di dalam tas. Belum lagi kalau mau keluar rumah lebih lama berarti siap-siap membawa mukena dan sajadah sendiri. Benar-benar sebuah kebiasaan baru yang sebenernya juga membawa manfaat tersendiri.

Tujuh bulan yang berlalu, saya merasa tiga bulan di awal tahun lah yang seperti mimpi. Ketika saya mengupayakan tetap berangkat ke Penang meski pun banjir Jakarta baru mulai surut di awal tahun. Ketika masih dikasi kesempatan untuk nonton konser juga di pertengahan Januari. Ketika tiba-tiba kami sekeluarga memutuskan untuk Umrah di bulan Februari, serta sempat bekerja setitik di Jakarta. Sebuah keputusan-keputusan kecil yang saya syukuri.

Tujuh bulan ini tetap waras dan produktif adalah sebuah pencapaian tersendiri. Ketika dulu saya menjaga kewarasan dengan berjalan-jalan ke luar kota, sekarang jadi punya cara kreatif bagaimana bisa tetap waras meski di dalam kota. Saya cukup beruntung karena tinggal di Bandung dengan udaranya yang bersahabat, sehingga masih bisa kedataran tinggi untuk menghirup udara segar, masih bisa ke hutan kota, masih bisa duduk sejenak di tempat ngopi dengan ventilasi udara yang bagus karena ga perlu di ruangan ber-ac. Bosan berolahraga di dalam rumah, subuh-subuh saya sengaja memutari daerah rumah yang masih sepi. Tiga puluh menit cukup untuk meningkatka hormon kebahagiaan di dalam tubuh.

Tujuan bulan ini pun berubah dari yang tadinya mau bepergian ke beberapa tempat, menjadi bertahan hidup serta tetap sehat fisik, mental, dan ekonomi. Tiga hal yang ternyata cukup krusial. Selama tujuh bulan ini kehidupan tetap harus berjalan, pada akhirnya kita lah sebagai manusia yang menyesuaikan diri dengan keadaan saat ini.

Semoga kita semua tetap sehat baik fisik, mental, serta finansial, aamiin.

Semua Ada Waktu dan Tempatnya

Termasuk soal jodoh #eaaaa

Tulisan kali ini ga akan bahas soal jodoh atau pun perkembangan anak. Maklum judul tulisan ini biasanya suka saya sambungin kedua hal di kalimat sebelumnya. Tapi untuk kali ini mau saya sambungin sama perjalanan Umrah yang saya lakukan di pertengahan Februari lalu.

Di awal tahun 2020 atau bahkan tahun-tahun sebelumnya, saya memang memiliki keinginan untuk beribadah Umrah, hanya saja yah hanya sekedar sebut dan entah kapan atau juga dengan siapa akan melakukan Umrah ini. Makanya fokus kembali diarahkan untuk jalan-jalan hore yang sudah pasti bisa dilakukan sendiri. Lalu pertengahan Januari 2020 ada rejeki yang datang tiba-tiba dan membuat orang tua memutuskan untuk melakukan ibadah Umrah sekeluarga. Tadinya rencana keberangkatan akan dilakukan saat ulang tahun mama di bulan Maret, tapi mama akhirnya kekeuh banget pengen bisa segera Umrah. Menurut beliau mumpung ada rejeki dan niatan sebaiknya segera dilakukan. Jadilah kami sekeluarga berangkat Umrah tanggal 17 Februari 2020.

Kejadiannya betul-betul cepat mulai dari memilih provider tur Umrah, mendaftar Umrah, orang tua memperpanjang paspor, melakukan suntik mengitis, dan persiapan lainnya. Semuanya dilakukan hanya dalam waktu kurang dari satu bulan!! Saya? Saya sih udah pasti ketar ketir sendiri. Berasa banget overwhelmed-nya!! Pertama karena ini semua terlalu cepat, kedua saya ingat dosa yang bejibun dan setinggi gunung, dan ketiga saya juga perlu menyiapkan pakaian selama Umrah nanti. Buanyak sekali yang saya pikirkan dan cemaskan sepanjang hari sebelum berangkat Umrah. Apalagi setiap mendengar cerita yang pulang Umrah suka ada aja kejadian “dosa dibayar lunas” saat di tanah Haram. Makin cemen rasanya. Saya juga sengaja ga ngasi tahu temen-temen baik di kantor ataupun temen main sampai mendekati waktu keberangkatan. Padahal biasanya kalo pergi liburan saya paling semangat ngobrolin soal persiapan perjalanan.

Ketika lagi penuh kegetiran dan kecemasan ini, seorang senior di kantor berbaik hati untuk mendengarkan keluhan saya soal ini dan juga nemenin belanja keperluan Umrah. Ia sih seneng-seneng aja mendengar saya mau Umrah. Ia juga yang menenangkan saya dengan mengatakan bahwa Umrah itu adalah sebuah undangan dari Allah SWT kepada hambanya, makanya belum tentu semua bisa beribadah ke sana. Mau apapun suku, latar belakang, serta keadaan ekonomi, kalau diundang akan ada jalan menuju ke sana, begitupun sebaliknya. Oleh karena ibadah Umrah ini adalah memenuhi undangan, insyaAllah tentu akan dikasi yang terbaik selayaknya tamu. Asal jangan julid aja, tentu tuan rumah pun akan sedih dan kesal makanya dikasi balasan tunai saat di sana. Selain itu ia pun mengatakan bahwa nanti akan kerasa sendiri sebuah kerinduan seperti kembali pulang. Nasihat lain yang diberikan ke saya adalah meluruskan niat ibadah Umrahnya sendiri. Dari semua omongan dan nasihatnya, bisa dibilang saya cuma bisa ngangguk pasrah aja sambil ga terlalu paham maksudnya apa. Saya cuma tahu meluruskan niat untuk menemani mama beribadah sembari saya pun beribadah dengan khusuk selama di sana. Sisanya, saya baru bisa paham ketika sudah kembali ke Indonesia.

Selama ibadah Umrah, saya menghemat energi untuk melakukan ibadah. Beneran deh ibadah Umrah itu maennya fisik banget. Jadi kalo ada waktu istirahat sejenak, saya pasti segera goleran di tempat tidur untuk hemat energi. Umrah aja energinya lumayan kekuras, saya ga bisa ngebayangin bagaimana kalau ibadah Haji. Rasanya fisik dan mental bener-bener diuji selama ibadah. Sepanjang ibadah ini saya minim banget ngeliatin hp untuk cek ricek instagram dan twitter. Biasanya cuma cek whats app untuk ngeliat grup Umrah dan orang-orang yang mengirimkan saya pesan secara personal. Sedangkan grup-grup ga kebaca sama sekali! Jadilah saya ga tahu banyak berita apa yang sedang beredar selama saya Umrah.

Ketika kembali ke Indonesia hari Selasa tanggal 25 Februari 2020 itu sudah nyaris tengah malam. Kami baru tiba di Bandung sekitar pukul tiga dini hari tanggal 26 Februari 2020. Saat menyentuh kasur, saya cuma ingat bangun untuk shalat subuh dan kembali tidur sampai pukul delapan atau sembilan pagi. Seharian itu saya beneran capek dan jetlag.

Satu hari kemudian, saat hari Kamis tanggal 27 Februari 2020 beberapa pesan masuk ke whatss app menanyakan keadaan dan keberadaan saya. Tumben banget banyak yang bertanya apa saya sudah kembali dari Umrah atau belum. Awalnya saya ga ngeuh dengan semua berita di luar sana sampai akhirnya ada yang ngasi tahu bahwa mulai siang itu bandara di Jeddah ditutup. Tidak akan ada penerbangan di hari itu baik yang keluar maupun masuk ke Jeddah. Pesawat yang sudah tiba di Bandara King Abdul Aziz pun tidak dibolehkan menurunkan penumpang dan harus kembali ke negaranya masing-masing. Saya pun seperti dipaksa sadar dan mulai mencari berita-berita mengenai hal ini. Ternyata karena Covid19 yang sudah semakin menyebar hingga ke Jazirah Arab, kegiatan Umrah pun mulai dihentikan. Huhuhuhu membayangkan orang-orang yang udah sampai di Jeddah dan ga bisa turun itu pecah banget rasanya!!! Selangkah lagi padahal, tapi ketika belum waktunya tetep aja ga bisa T_______T .

Setelah semua kejadian ini, lagi-lagi saya diingatkan bahwa semua ada waktu dan tempatnya. Mungkin kita tidak bisa menduganya, tapi tempat dan waktunya sangat pas. Mengingat umur kedua orang tua saya yang sudah lewat angka 70; rejeki lagi ada; saya, kakak, dan kakak ipar memiliki waktu lowong sehingga bisa mengosongkan hari untuk Umrah; begitupun secara emosi saya sudah berada ditingkat yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Seperti memang sudah direncanakan bahwa itu lah tanggal kami sekeluarga bisa mencicipi kegiatan ibadah bersama.

Kalau mengingat pengalaman saya Umrah ini, saya semakin yakin bahwa rejeki, hidup, mati, serta jodoh itu ditangan Tuhan. Semua akan datang di waktu dan saat yang tepat. Ketika hal itu datang, kita sebagai manusia pun tidak bisa menolaknya. Seperti saya, yang ada hanya pasrah, banyakin istighfar, serta menundukkan kepala (literally) supaya ga julid sepanjang sedang Umrah.

Februari 2020

Korean Hostel in Spain – Albergue

Saya baru saja menyelesaikan sebuah variety show Korea yang menceritakan mengenai tiga orang artis dan model Korea untuk menjalankan sebuah penginapan di desa kecil Spanyol. Desa kecil ini menjadi menarik karena merupakan salah satu desa yang biasa dilewati peziarah yang melakukan Camino de Santiago. Tepatnya desa ini bernama Villafranca del Beziro yang terletak sekitar 200km dari Santiago.

TV Time - Korean Hostel in Spain (TVShow Time)

Saya pertama kali mengetahui soal Camino de Santiago ini dari seorang blogger bernama Susan yang terkenal lewat blognya Pergidulu. Saya mengikuti perjalanan Susan dan Adam selama 35 hari berjalan kaki dari St. Jean pied de Port, kota kecil di perbatasan Perancis dan Spanyol. Dari situlah saya akhirnya tahu soal apa itu Camino. Pada dasarnya Camino memiliki arti berjalan kaki, jadi Camino de Santiago berarti berjalan kaki menuju Santiago. Awal mula Camino de Santiago ini merupakan kisah sejarah dari Kekristenan di mana seorang tokoh Kristen terkenal  bernama Yakobus meninggal dan jasadnya dibawa oleh para pengikutnya dari Yerusalem menuju Santiago dengan berjalan kaki. Sejak itu rute tersebut menjadi ramai oleh para peziarah yang ingin mengunjungi makam Yakobus di Santiago de Compostela (Sumber). Akan tetapi saat ini banyak orang dari berbagai negara, ras, suku, dan latar belakang keagamaan melakukan Camino dengan berbagai alasan personalnya masing-masing.

Kembali lagi ke Korean Hostel in Spain ini, tiga orang artis dan model yang bekerja di Albergue (sebutan penginapan/ hostel di sepanjang jalur Camino de Santiago) adalah Cha Seung Wo dan Yoo Hae Jin yang merupakan anggota variety show Three Meals a Day, serta seorang lagi bernama Bae Jung Nam. Mereka bertiga bekerja sama mengelola hostel selama 10 hari dan 10 malam. Cha Seung Wo bertanggung jawab untuk urusan memasak makanan; Bae Jung Nam sebagai asisten dapur yang membantu mencuci piring, mengupas bahan makanan, serta membuat kopi; sedangkan Yoo Hae Jin mengurusi bagian resepsionis dan pemelihataan fasilitas seperti bebersih kamar, halaman, hingga membuat barang-barang dari kayu lapis.

Untuk yang biasa melihat Cha Seung Wo memasak di Three Meals a Day, akan semakin kagum melihat ia memasak untuk tamu-tamu hostel!! Dengan bahan yang bisa diperoleh dari tukang daging dan juga sayur-mayur, Cha Seung Wo membuat masakan Korea yang hangat untuk para tamu di Albergue. Bahkan Bae Jung Nam sering banget terkagum-kagum dan lapar melihat seniornya ini bisa memikirkan menu dan memasak berbagai menu makanan. Saya aja yang menonton suka jadi pengen ikutan makan rasanya dan berakhir dengan ngego-food makanan 😀 .

Sedangkan Yoo Hae Jin ini, walaupun ia model, aktor, dan juga pemain variety show; tapi ahli banget membuat barang-barang dari kayu lapis. Bahkan ketika melihat geng dapur kesulitan menyimpan barang-barang setelah di cuci, ia membuatkan rak dong!!! Ia pun membuat tempat untuk wine. Hingga ia memberi nama barang-barang hasil karyanya dengan sebutan “Ikeyo” yang merupakan plesetan dari “Ikea” 😀 . Total barang yang berhasil dikerjakannya dengan menggunakan kayu lapis selama menjalankan Albergue mencapai 14 barang. Yoo Hae Jin juga memiliki rasa humor dan sering bergurau baik dengan tamu maupun staf yang memvideokannya.

Selama 10 hari dan 10 malam ini mereka kedatangan 48 orang tamu yang sebagian besar merupakan orang Korea Selatan serta dari berbagai negara lainnya seperti Perancis, Spanyol, dan Inggris. Menonton interaksi ketiga orang di dalamnya ataupun dengan sesama tamu, saya merasakan hal yang berbeda dengan saat menonton variety show lain seperti Youn’s Kitchen yang juga berupa acara membuka restoran di luar negeri untuk mengenalkan cita rasa masakan Korea Selatan.

Bagian yang menurut saya paling menarik dari variety show ini bukan terletak dari interaksi ketiga orang yang menjalankan penginapan atau pun makanan yang mereka sajikan, namun justru saat para tamu saling berinteraksi untuk bertukar cerita baik di ruang makan, atau di pekarangan Albergue. Apabila biasanya ketika menginap di hostel kita tidak akan saling mengenal, berbeda dengan orang-orang yang menjalankan Camino karena mereka bertemu dengan orang-orang yang sama di sepanjang perjalanannya baik itu yang ada di depan maupun di belakang mereka. Mungkin juga saat memulai ada yang berjalan dengan seorang diri dan berakhir dengan bertemu teman seperjalanan, ada yang memulai perjalanan dengan grup kecil dan kemudian sempat berpisah karena perbedaan kecepatan jalan ataupun menginap di Albergue yang berbeda, ada yang bertemu kembali setelah sempat berpisah jalan, ataupun pada akhirnya berjalan sendiri karena kecepatan jalan yang berbeda. Persis seperti hidup itu sendiri di mana kita akan berjalan dan ada orang-orang yang datang dan pergi di dalam hidup kita. Tamu yang datang pun memiliki usia beragam, mulai dari yang masih di bawah 20 tahun, hingga ibu-ibu yang sudah berusia 65 tahun, semuanya berjalan kaki dengan kecepatannya dan juga pikirannya masing-masing sambil membawa backpack hingga ke Santiago.

Saya sengaja menonton Korean Hostel in Spain ini setiap hari dan sebelum tidur. Rasanya seperti menutup hari sambil ditemani cerita dari berbagai orang yang menjalankan Camino. Setiap tamu yang datang membawa cerita sendiri dan persepsi masing-masing ketika memutuskan untuk melakukan Camino. Para tamu ini pun ada yang berbicara mengenai kehidupan, atau pun cerita perasaan mereka selama menjalankan Camino. Ada yang memulai Camino karena ingin melarikan diri dari masalahnya, sekedar ingin tahu, ingin memulai sesuatu yang baru, ataupun yang melanjutkan perjalanan Camino-nya beberapa tahun yang lalu. Walaupun mungkin saat perjalanan mereka mungkin tidak menemukan jawaban dari permasalahannya, namun yang dilakukan adalah tetap berjalan pelan tapi pasti untuk mencapai sebuah tujuan, Santiago.

Pada akhirnya saya berpikir perjalanan Camino ini memang sebuah perjalan ziarah untuk mengunjungi diri sendiri. Di mana saat berjalan setiap harinya, dari satu desa ke desa lain, dengan membawa kesendirian dan pikiran sendiri. Seperti mengenal dan berteman dengan diri sendiri.

Perjalanan Camino ini tidak untuk setiap orang, karena seperti Yoo Hae Jin katakan di salah satu episode Korean Hostel in Spain, melihat para pejalan ini membuat iri, bagaimana mereka bisa memulai untuk berjalan kaki seorang diri menempuh perjalanan panjang dan kalau ia diminta melakukannya belum tentu ia memiliki kesiapan hati yang cukup. Belum lagi tentu ada persiapan fisik untuk perjalanan panjang selama kurang lebih 30 hari berjalan kaki sekitar 20km setiap harinya.

Saya pribadi rasanya jadi ingin mencoba jalur Camino ini untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda, menikmati pemandangan indah selama berjalan kaki, serta menemukan banyak kenalan baru di sepanjang perjalanan.

Life is wonderful gift

Forest Bathing

Forest bathing ini adalah istilah untuk berjalan-jalan di hutan dengan berkesadaran, melihat pepohonan yang hijau dari yang dekat dan jauh, menikmati suara gemerisik pepohonan, serta ketenangan di dalam hutan yang dapat membuat kita menjadi lebih damai, tenang, dan rileks. Berkesadaran yang saya maksud adalah berjalan-jalan dengan betul-betul menikmati isi yang hutan tawarkan, tidak hanya sibuk berswafoto, memperbaharui media sosial, sibuk dengan gadget, ataupun mendenngarkan lagu. Istilah mengenai forest bathing ini mulai dikenal saat tahun 2012 ada sebuah artikel dari majalah Jepang yang membicarakan mengenai Shinrin-yoku atau forest bathing.

Dengan berjalan-jalan di dalam hutan berarti memaksa tubuh untuk bergerak serta indera lain menajamkan kemampuannya. Sebut saja indera penciuman yang dapat mencium aroma tanah dan daun. Indera pendengaran untuk membedakan gemerisik daun karena angin atau karena ada hewan yang bergerak. Indera penglihatan yang membuat kita dapat melihat berbagai warna tanaman dihutan, melihat pohon dari jarak dekat maupun jauh, ataupun melihat ke ujung pohon yang tinggi, kesemuanya merupakan olahraga untuk otot-otot mata yang terbiasa melihat laptop dari jarak dekat.

Tidak hanya dari sisi fisik, kelebihan forest bathing pun dapat dirasakan untuk kesehatan mental karena saat melakukan berjalan-jalan di hutan dengan penuh kesadaran berarti kita menikmati apa yang hutan tawarkan dari pada sibuk dengan pikiran sendiri. Sebuah penelitian pada tahun 2010 menyebutkan bahwa dengan melakukan forest bathing akan mengurangi tingkat stres, menurunkan denyut nadi, serta tekanan darah, serta mengurangi aktivitas dari bagian nervous system di otak yang terjadi saat kita stres. Oleh karena itu berjalan-jalan di hutan juga bisa menurunkan tingkat depresi serta meningkatkan kesehatan mental.

Kalau di kota besar yang minim hutan kota bagaimana kita bisa mendapatkan setitik rasa dari forest bathing? Kita bisa coba jalan-jalan ke taman kota, atau mulai dengan menanam beberapa pohon untuk bisa menikmati oksigen di halaman rumah, sedangkan untuk yang tinggal di apartemen biasanya terdapat sepetak lahan hijau yang dapat dinikmati. Di saat pandemi seperti ini melakukan forest bathing bisa membantu untuk menjaga kewarasan karena efek-efek psikologis yang disebutkan di atas.

Kalau di Bandung, sungguh beruntung kami punya Taman Hutan Raya Djuanda atau yang terkenal dengan Tahura. Di sana kita bisa jalan-jalan untuk menikmati hutan sekuat yang kita bisa karena jalurnya lumayan panjang dan bisa menempus hingga ke arah Lembang. Kemarin saya mencoba untuk berjalan-jalan di Tahura, ternyata sebelumnya harus booking dulu melalui aplikasi. Kayaknya agar pihak Tahura pun bisa mengukur sebanyak apa orang yang bisa masuk ke sana setiap harinya. Terbukti saat saya ke sana kemarin, hitungannya sepi. Oia saat berjalan-jalan di hutan saya sesekali membuka masker untuk menghirup udara segar yang ditawarkan hutan. Lalu ketika mendengar suara langkah kaki atau sepeda (oia sepeda boleh masuk ke dalam Tahura) buru-buru pasang lagi masker 😀 .

Sebenernya di Bandung ada lagi satu area untuk forest bathing, yaitu Hutan Kota Babakan Siliwangi. Sayangnya setahu saya hingga saat ini tempatnya masih ditutup. Padahal jalurnya yang berjarak sekitar dua kilometer ini lumayan banget buat yang mau menghirup udara segar sejenak di tengah hiruk pikuk pekerjaan. Semoga tempat ini segera di buka ya.

Sumber bacaan:
Psychology Today
Artikel dari NCBI
Science direct

Wheeler’s Penang

Selama Pandemi ini saya paling kangen untuk minum kopi hangat yang diseduh langsung oleh barista dari sebuah kedai kopi. Rasanya bergelas-gelas dan berbotol-botol kopi susu yang saya pesan kalah nikmat dengan secangkir kopi hangat. Berhubung kangen dengan kedai kopi, saya akhirnya ngubek-ngubek foto saat liburan di Penang awal tahun kemarin. Saya jadi keingetan mau nulis soal sebuah restoran yang menyediakan kopi, makanan, dan suasana yang menyenangkan, Wheeler’s Penang.

Wheeler’s terletak di Love Lane, George Town. Tepat bersebelahan dengan restoran Mexico. Sebelum pandemi, mereka buka dari pagi hingga malam hari, sedangkan setelah pandemi bisa langsung cek instagram mereka ya! Saya suka dengan tempat ini karena suasanya nyaman banget. Meskipun tempatnya kecil, namun mereka ada dua lantai dan juga ada kursi dan meja yang di bagian luar restoran. Ketika pagi kita bisa duduk sambil menikmati matahari di depan restoran. Pilihan menu sarapannya beragam begitu pun pilihan menu minumannya. Kita bisa memilih salad, sandwich, fajita, granola, dan beberapa menu pilihan lainnya. Untuk minumannya ada jus, kopi, serta cokelat. Di pagi hari kami memilih untuk memesan I am vegan sandwich serta chicken fajita wrap ditemani cafe latte dan cold brew.

Salah dua yang menarik dan menyenangkan ketika ngobrolin soal menu pertama adalah buku menunya! Saat disodorin buku menu, berasa disodorin majalan berisi beragam makanan. Hal kedua adalah mereka menyediakan vegetarian food!!

I am vegan sandwich & chicken fajita wrap

Berbeda dengan pagi hari, saat malam hari suasana di Wheeler’s lebih temaram dan intim lengkap dengan lampu-lampu kuning yang menghiasi restoran. Apalagi setelah jam 20.00 suka ada live music juga!! Menunya pun berbeda dengan di pagi hari. Pilihan menunya beragam dari mulai light meals, pasta, pizza, steak, salad, dessert dan buanyak lagi menunya. Untuk minumannya menjadi lebih beragam dengan tambahan menu alkohol. Malam terakhir ke Penang , saya dan sepupu makan malam di sini sambil menikmati live music-nya. Kami memesan smoke salmon aglio o’lio pasta dan aragula pizza.

Smoke salmon aglio o’lio
Aragula Pizza

Makanan di Wheeler’s ini enak-enak semua. Fajitanya berisi daging ayam yang banyak, sayuran, serta saus salsa dan sour cream yang segar, pastanya di masak al dente, pizzanya pun jenis pizza tipis yang merupakan favorit saya. Untuk kopinya sendiri merupakan kopi yang light. Sedangkan cold brew-nya juga bersih dan ada rasa sedikit asamnya. Saat saya bisa berlibur ke Penang lagi, Wheele’s akan jadi salah satu tempat yang didatangi lagi.