Maminon Kitchen Manado

Mencari makanan khas Manado yang halal itu gampang-gampang susah, tapi bukan berarti ga ada restoran yang menyediakan makanan khas Manado yang halal. Salah satu tempat makan yang ada di tengah kota adalah Maminon Kitchen. Saya diajak ke sini saat malam terakhir di Manado.

Maminon Kitchen ini terletak di tengah kota. Kalau mau jalan ke arah laut pun dekat, begitupun kalau mau ke pasar swalayan, rumah sakit, apotek, semua ada. Saya menuliskan ini semua karena di sebelah Maminon Kitchen ini ada hostelnya loh!! Jadi cocok banget sebagai tempat menginap.

Makanan di sini sungguh beragam, kita bisa menemukan olahan ikan cakalang, woku, tuna bakar, rica rodo, dan banyak lagi. Saya dan seorang kawan memesan Cakalang Fufu isi dibulu, Udang Woku Santan, serta Terong yang dimasak dengan jagung (yang ini lupa nama menunya apa), serta nasi dan singkong rebus.

Cakalang fufu isi dibulu ini adalah ikan cakalang yang diasap dan dimasak di dalam bambu, rasanya enak bangetttttt!!!!! Rasa ikan yang diasap serta bumbunya beneran meresap. Apalagi ada aroma bambunya juga membuat rasa ikannya jadi lebih kaya. Udangnya juga sama enaknya, di makan bareng kuah woku santan bareng nasi panas. Saat selesai makan, kuah rempah wokunya masih ada sehingga kami memutuskan untuk dibungkus karena di rumah masih bisa dimasak dengan bahan yang ada di rumah. Ga mau rugi banget kalau dipikir-pikir 😀 .

Hal-hal yang Dilakukan untuk Mengurangi Kecemasan

Judulnya panjang banget yaaaa!!!! Buat saya dengan berada di dalam rumah dan membaca whats app grup dari beberapa grup dengan berita yang simpang siur mana hoax dan mana yang benar, membuat saya punya kecemasan yang tertekan di dalam pikiran. Pada akhirnya ini mempengaruhi perubahan pola makan saya yang jadi tidak terkontrol alias banyak banget ngemilnya!!! Memasuki minggu kedua ini berat badan saya udah naik!! Ada juga yang semakin stres lihat berita ataupun grup-grup wa ga?

Saya yakin ga sendirian yang merasa sepert ini, apalagi dengan semakin bertambahnya jumlah yang terpapar Viruskorona ini. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kecemasan? Saya punya beberapa hal yang telah saya lakukan sendiri untuk mengurangi kecemasan:

  1. Membangun ritme hidup
    Dengan semua orang ada di dalam rumah dan punya berbagai kewajiban yang harus dilakukan, penting untuk mulai membangun ritme yang baru selama berada di rumah. Kapan harus bekerja, istirahat, menemani anak belajar, dan kapan saatnay untuk berhenti bekerja. Jangan sampai jam kerja yanng tadinya jam 9-17 berubah jadi 24 jam. Begitupun saat harus bekerja, untuk membangun suasana kerja, dandan sedikti atau menggunakan baju semi formal bisa menjadi pilihan.
  2. Berjemur di bawah sinar matahari
    Taman di dalam rumah serta balkon adalah tempat terbaik untuk berjemur di pagi hari. Vitamin D yang ada di sinar matahari pada pukul 09.00 – 11.00 bagus banget untuk badan. Apalagi kalau terlalu sering di dalam rumah, saya bawaannya suka gloomy, jadi dengan berjemur bisa mencerahkan suasana hati juga. Bisa juga berjemur sambil piknik dan tetap masih di rumah aja.
  3. Menggunakan mode mute untuk grup-grup whats app yang banyak update berita soal viruskorona. Kalau mau tahu soal berita terkini, alangkah baiknya langsung mengecek di aplikasi atau website kanal berita. Mengecek berita ini pun saya lakukan maksimal hanya dua kali dalam sehari. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk membentengi diri dan tetap menentramkan hati.
  4. Meditasi mindfulness
    Sekarang ini di google play atau apple store sudah banyak banget aplikasi terkait hal ini dan bisa bantu banget untuk mengurangi kecemasan. Aplikasi yang saya gunakan untuk meditasi biasanya adalah headspace. Aplikasi ini punya pilihan untuk belajar meditasi mindfulness untuk 3, 5 dan 10 menit. Jadi buat pemula enak banget belajarnya.
  5. Makan yang sehat serta tidur yang cukup juga membantu banget untuk mengurangi kecemasan dan memulai hari dengan lebih segar dan tenang.
  6. Olahraga
    Di rumah aja bukan berarti ga olahraga ya. Ada banyak program work out, yoga, ataupun zumba di hp. Kalau saya dan beberapa teman, kita sengaja video call untuk yoga bareng via google duo.
  7. Membereskan barang-barang yang ada di rumah
    Dengan kita selalu di rumah apalagi dengan terlalu banyak barang, ternyata bisa menimbulkan kecemasan tersendiri loh. Kegiatan membereskan barang-barang ini bisa sebagai terapi untuk mengurangi kecemasan. Soal in saya pernah bikin satu tulisan tersendiri.
  8. Kalau sudah mulai bosan dan ga ada temen ngobrol, saatnya untuk menyapa atau video call dengan teman-teman yang juga lagi di rumah aja bisa membantu untuk meningkatkan hormon kebahagiaan, karena pada akhirnya sebagai manusia kita tetap perlu interaksi sosial.

Kurang lebih ini adalah hal-hal yang saya lakukan untuk mengurangi kecemasan selama social distance dan di rumah aja. Kalau teman-teman yang lain biasanya apa yang dilakukan?

Sarapan di Toh Soon Cafe Penang

Pada hari ketiga saya dan sepupu berlibur di Penang, kami sengaja berjalan-jalan menuju pasar yang ada di Jalan Kuala Kangsar. Saat menikmati pasar dan keluar ke Jalan Lebuh Campbell, saya melihat banyak orang berkumpul di depan sebuah gang. Berhubung kami hanya berjalan-jalan santai dan malas melihat keramaian, jadi dilewati saja keramaian tersebut.

Keesokan paginya kami kembali melewati Lebuh Campbell dan penasaran dengan apa yang membuat orang-orang berkumpul di depan gang. Ternyata gang tersebut menjual sarapan seperti roti kaya dan kopi!!! Kami berdua pun bersemangat untuk ikut ke dalam keramaian tersebut. Nama tempatnya adalah Toh Soon Cafe, sebuah kedai kecil yang masih sangat tradisional.

Roti kaya di sini masih dibuat dengan cara tradisional, menggunakan tungku! Sehingga ketika memanggang rotinya harus ada orang yang berjongkok untuk memastikan roti yang dibakar tidak gosong. Saya terbayangkan betapa lelahnya ia sepanjang hari harus berdiri mengambil roti, berjongkok untuk memasukkan roti ke panggangan, berjibaku dengan udara panas dari tungku serta orang yang berlalu lalang disekitarnya.

Letak Ton Soon Cafe berada di gang antar dua bangunan tua, memang sulit untuk bisa mendapatkan tempat duduk di sini. Saya dan sepupu pun tidak berdiri di depan gang seperti yang lain, tapi kami berjalan masuk ke dalam untuk mencari tempat duduk di bagian belakang gang. Sampai kami bertemu dengan dua orang kakek yang sedang asyik mengobrol sambil menikmati kopi.

Kedua kakek ini pun sampai berbaik hati mencegat pelayan untuk bisa mengatakan pesanan kami. Sambil memesan pun, kami sempat mengambil nasi lemak yang ada untuk dinikmati. Nasi lemaknya enaaaaaakkkk!!!! Isinya sangat sederhana, mengingatkan akan nasi uduk ataupun nasi kuning yang biasa dijual di pagi hari: nasi, sambal, telur, dan teri. Tak lama kopi susu dan teh tarik kami pun datang. Kami berdua sangat beruntung mendapatkan meja di ujung belakang gang sehingga masih bisa menikmati cerahnya langit tanpa terganggu melihat tatapan orang-orang yang mengantri. Obrolan pun mulai terbuka antara saya, sepupu, dan kedua kakek penolong kami. Pertanyaan seperti asal, apa yang dilakukan ke Penang, hingga mengobrol tentang kenangan dari kedua kakek ini sungguh menghangatkan sarapan kami pagi itu. Kedua kakek ini pun benar-benar warga lokal George Town, mereka rajin sekali menyapa orang-orang yang mereka kenal.

Sementara menikmati pemandangan warga lokal yang saling mengobrol dan juga turis yang penasaran dengan tempat ini, tak terasa pesanan roti bakar kami tiba. Sepotong roti dengan lapisan kaya serta telur setengah matang. Rasa rotinya tidak istimewa, namun cerita dan sejarah tempatnya sangat istimewa.

Sebelum pulang ke Indonesia, saya dan sepupu pun kembali sarapan di tempat ini dan berbagi meja dengan turis asal Singapur. Seru sekali membahas sudah ke mana saja kami berkeliling di Penang, tinggal di hotel seperti apa, kendaraan untuk bepergian, dan juga bercerita soal negara masing-masing.

Efek Covid19

Rasanya belum lama sejak saya menuliskan soal kebutuhan dan ego, tapi berasa baru belakangan ini saya beneran mendapat ujian dari hasil belajar saya saat Umrah kemarin. Apalagi kalau bukan soal Pandemi Covid19 ini. Saat awal berita muncul, saya masih santai dan tetap waspada, namun saat berita penyebarannya semakin luas serta adanya surat anjuran dari pemkot Bandung, kewaspadaan saya semakin meningkat. Rasanya ga pengen keluar rumah kalau ga penting-penting banget. Kalaupun harus tetap keluar rumah, cuma ke satu tempat (seperti ke sekolah dan supermarket) dan kemudian langsung pulang.

Di tengah mulai paniknya orang-orang, kita dapat melihat banyaknya yang melakukan penumpukan barang makanan di rumah. Begitu pun saat sedang di tempat keramaian yang ada jadi parno. Melihat kehebohan ini juga kembali mengingatkan saya bahwa kita sebagai manusia terkadang egois, memastikan diri selamat tanpa melihat bagaimana bisa kita saling menyelamatkan. Tapi Ra, lo juga ga bisa nyelamatin orang lain kalo lo ga nyelametin diri sendiri?! yang mana memang benar adanya, tapi rasanya tidak perlu sampai harus menumpuk makanan. Jangan sampai apa yang kita lakukan malah merugikan orang lain.

Hal ini mengingatkan kita betapa sebagai manusia sebenernya kita ga punya kontrol terhadap banyak hal di dunia ini dan betapa lemahnya kita di sini. Kalau dulu permasalahan dunia adalah perang dunia, saat ini justru dari makhluk yang tidak terlihat bentukannya tapi begitu mematikannya.

Saat serba tidak pasti seperti ini, mungkin ini adalah saatnya kita untuk sedikit nafas dari hiruk pikuk yang ada selama ini dengan berdiam di rumah. Mulai melihat kembali birunya langit, suara burung di pagi hari, dan memiliki waktu untuk bisa bersama dengan keluarga.

Semoga di tengah ketidakpastian ini, kita tetap menjadi seorang manusia yang memiliki akal, hati, dan nurani. Pagi ini saya mendapatkan sebuah puisi indah dari seorang teman. Penulis puisinya bernama Fr. Richard Hendrick, OFM.

Lockdown
Yes there is fear.
Yes there is isolation.
Yes there is panic buying.
Yes there is sickness.
Yes there is even death.

But,
They say that in Wuhan after so many years of noise
You can hear the birds again.
They say that after just a few weeks of quiet
The sky is no longer thick with fumes
But blue and grey and clear.

They say that in the streets of Assisi
People are singing to each other
across the empty squares,
keeping their windows open
so that those who are alone
may hear the sounds of family around them.

They say that a hotel in the West of Ireland
Is offering free meals and delivery to the housebound.
Today a young woman I know
is busy spreading fliers with her number
through the neighbourhood
So that the elders may have someone to call on.

Today Churches, Synagogues, Mosques and Temples
are preparing to welcome
and shelter the homeless, the sick, the weary

All over the world people are slowing down and reflecting
All over the world people are looking at their neighbours in a new way
All over the world people are waking up to a new reality
To how big we really are.
To how little control we really have.
To what really matters.
To Love.

So we pray and we remember that
Yes there is fear.
But there does not have to be hate.
Yes there is isolation.
But there does not have to be loneliness.
Yes there is panic buying.
But there does not have to be meanness.
Yes there is sickness.
But there does not have to be disease of the soul
Yes there is even death.
But there can always be a rebirth of love.
Wake to the choices you make as to how to live now.

Today, breathe.
Listen, behind the factory noises of your panic
The birds are singing again
The sky is clearing,
Spring is coming,
And we are always encompassed by Love.
Open the windows of your soul
And though you may not be able
to touch across the empty square,
Sing.

Liburan ke Penang

Di awal tahun, saya dan sepupu akhirnya bisa liburan bareng ke Penang. Biasanya kami hanya saling mengunjungi saat sedang berlibur ataupun bekerja ke kota masing-masing. Akhirnya keinginan lama kami untuk berlibur bersama terjadi juga!!

Koper dan Backpack

Ini bukanlah pertama kali saya ke Penang. Saat tahun 2016, saya pernah iseng sehari di Penang, untuk kali ini kami berlibur selama lima hari empat malam di Penang. Ngapain aja selama itu di Penang? Selain mendatangi tempat-tempat turis seperti kuil Kek Lok Si, Bukit Bendera, serta berkeliling George Town, saya pun bolak balik masuk ke toko buku serta cafe yang berada di sekitar George Town.

Saya pun sempat bertemu dengan seorang kawan selama saya mengikuti pelatihan menjadi guru Waldorf yang kebetulan tinggal di Penang sehingga saya sempat diajak untuk mengikuti makan malam keluarga di sebuah restoran vegan setelah mereka beberes rumah sebagai bagian dari Tahun Baru Imlek dan mengajak kami ke Avatar Garden.

Saya pun punya banyak waktu untuk bertukar pikiran dan cerita dengan sepupu selama di Penang. Selain itu tentu ada waktu kami sibuk sendiri-sendiri saat bengong di cafe. Seru sekali rasanya mengawali tahun baru dengan berjalan-jalan setelah hampir beberapa tahun terakhir tidak terpikir untuk jalan-jalan.

Kebutuhan dan Ego

Tulisan ini dibuat sebagai hasil observasi, renungan, dan pertanyaan yang saya ajukan sejak hari kedua saya menginjakkan kaki ke Kota Haram (Madinah dan Mekah). Sejak manasik umrah di minggu kedua Februari 2020, saya dan rombongan sudah diwanti-wanti oleh pembimbing kami untuk tidak ngoyo dan memaksakan untuk melaksanakan ibadah sunnah di tempat-tempat yang katanya paling mustajab atau paling sering dikabulkan doanya. Alasannya adalah karena semua orang tentu ingin mendapatkan keutamaan-keutamaan yang ada di tempat-tempat tersebut dan apabila sudah begitu, maka terkadang lebih banyak merugikannya dibandingkan faedahnya seperti jadi menyikut orang lain, mendobrak pembatas, mengambil jalan orang lain, bahkan secara ga sengaja mencelakakan orang lain. Jangan sampai demi doa kita dikabulkan, orang lain mendapat kerugian.

antrian jamaah perempuan saat ke Raudhah

Awalnya saya ga pernah terbayang bahwa hal-hal yang dikatakan di atas ini akan benar-benar saya lihat dan rasakan sendiri. Terbayangnya ibadah umrah ini kan tidak akan sepenuh seperti saat musim haji, jadi tentu akan lebih kosong yang mana tentu salah besar!!! Meski ‘hanya’ umrah, menurut saya jamaah yang berdatangan pun tetap buanyak dan berbagai negara. Saya bahkan ga sanggup memikirkan akan sepenuh dan berdesakan seperti apa ketika musim haji. Tentu cobaan untuk ga julid dan murka akan semakin besar. Sebuah informasi, Kota Madinah dan Mekah disebut tanah Haram karena selama di sana balasan akan pikiran, perkataan, dan perbuatan benar-benar akan dibayar tunai 100%. Sesimpel seperti mama dan kakak ipar saya yang kesal dengan sekelompok orang yang sering telat masuk ke bus tur kita, siangnya kita dong yang paling telat masuk bus!!

Balik lagi ke soal kebutuhan dan ego, saya melihat betapa banyaknya orang -dan mungkin saya sendiri- yang sempat memaksakan untuk bisa melakukan ibadah tanpa memperhatikan apakah sebelah saya tetap merasa nyaman atau tidak, tidak mengganggu ruang orang lain, bahkan ada yang mendorong demi bisa masuk ke tempat seperti Raudhah dan juga Hijr Ismail. Ada yang memotong jalan tanpa memperhatikan kiri dan kanannya demi bisa menyentuh Hajr Aswad. Melihat kesemuanya membuat saya termenung, beginilah hidup. Kadang kita tidak sadar sudah menyikut, mendesak, atau bahkan melompati orang lain demi bisa mencapai tujuan kita. Begitupun untuk menginginkan sesuatu yang menurut kita demi kepentingan yang mulia tapi pada prosesnya banyak menyakiti pihak-pihak lain. Benarkah sesuatu yang kita tuju ini adalah penting dan untuk kepentingan banyak orang atau sebenarnya niatan sebenarnya justru untuk memberikan makan kepada ego yang ada di dalam diri?

Apapun tujuannya, sikap kitalah yang akan memberikan jawabannya. Sepandai-pandainya kita menutup-nutupi, saat dikeadaan yang paling menantang dan genting seperti demi masuk dan menunaikan ibadah di tempat yang paling mustajab, di saat itulah niatan kita akan terlihat. Kesadaran untuk dapat mencapai tujuan pun menjadi terlihat. Mana orang yang masih sadar dan berusaha tidak merugikan orang lain atau pun ada yang kehilangan kesadaran dan menjadi emosi.

Saya jadi ingat sebuah pesan dari seorang teman yang tinggal dan bekerja di Ubud. Ubud memang terkenal dengan suasana yang tenang dan damai serta menjadi tempat retreat untuk banyak orang. Tetapi apabila tidak berhati-hati banyak juga yang pada akhirnya menjadi tidak sadar dan masuk terlalu dalam ke prosess retreat yang mereka lakukan di Ubud. Sesuatu yang juga saya lihat ketika berada di Mekah.

Semoga kita semua pun tetap dalam keadaan sadar dan tidak memenuhi keinginan dan ego semata.

Divide Tour 2019

Akhir tahun 2018 saya impulsif membeli tiket konser Ed Sheeran bersama seorang sahabat untuk menemani seorang sahabat kami yang sudah membeli tiketnya terlebih dahulu. Akhirnya pada bulan Mei 2019 Ed Sheeran benar-benar mengadakan konser di Indonesia setelah setahun sebelumnya gagal konser karena mengalami cidera.

Konsernya sendiri diadakan di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Di tempat seluas dan semegah itu, Ed Sheeran tampil seorang diri menghadapi ribuan penggemarnya. Buat saya sendiri itu pengalaman yang luar biasa menonton konser di Gelora Bung Karno.

Pengalaman tak terduga yang saya dapatkan ketika menonton konser ini adalah saat tahu One Ok Rock menjadi band pembuka dari konser Ed Sheeran!!! One Ok Rock adalah salah satu band beraliran rock dari Jepang. Kalau beberapa tahun lalu sempat menonton Samurai X edisi film bioskop, mereka adalah band yang menyanyikan soundtracknya. Seneng banget rasanya saya bisa ketemu dengan Taka, Ryota, Toru, dan juga Tomoya dan mendengarkan lagu-lagu mereka secara langsung. Apalagi mereka bernyanyi hingga 45 menit!!! Saya berasa dapet kado manis!!

berhubung duduknya agak jauh sampai burem fotonya ><

Pukul depalan tepat, konser Ed Sheeran pun dimulai. Ia menyanyikan lagu dengan suara yang prima. Seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa saya tidak merencanakan untuk menonton konser Ed Sheeran. Tapi, saat konsernya berlangsung, saya merasa dinyanyiin gitu sama Ed Sheeran!! Sebut saja lagu seperti dive dan castle on the hill yang rasanya lagi pas banget menggambarkan hidup di bulan-bulan itu. Saya juga tidak menyangka semua lagu dan liriknya saya cukup hapal, minimal bagian reff-nya seperti galway girl, lego house, ataupun Nancy Mulligen. Mungkin efek sering dinyanyikan saat karaokean seperti lagu happier, the a team, perfetct, pphotograph, serta shape on you. Sudah paling bahagia saat mendengar lagu thinking out loud karena saya suka banget sama video klipnya.

Saat sebelum konser, saya mengira tidak akan ada teman yang menonton konser Ed Sheeran. Ternyata begitu konser selesai, banyak abnget yang update di IG Story dari berbagai sudut!! Paling bikin terharu ada seorang teman yang ternyata kita sama-sama menonton konser dan sudah lama banget ga ketemu, tiba-tiba nge-DM via instagram dan ngobrolin soal konser Ed Sheeran ini dan berakhir dengan dia mengirimkan Dim Sum Inc dong!!! Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Lengkap sekali kebahagian hari itu.