Liebster Award 2020

Sudah lama sejak Liebster Award ini diadakan. Kalau saya ga salah saat tahun 2014/2015an deh mulai banyak yang posting Liebster Award ini. Seneng banget rasanya saat dapet awardnya, karena jadi kenalan juga dengan blogger-blogger lainnya. Begitu dapet Liesbster Award ini dari Mbak Ria, jadi nostalgia lagi.

Oia Liebster Award ini ada aturan mainnya. Saya salin dari blog-nya Mbak Ria:

Pertanyaan-pertanyaan dari Mbak Ria ada lima nih, yuk disimak:

  1. What’s your morning routine on week-days and week-ends? Begitu bangun pagi biasanya saya langsung mandi dan sarapan, lalu dilanjutkan dengan beres-beres rumah. Setelah itu kalau ada pekerjaan saya akan mulai buka laptop dan kerja sampai sore. Sedangkan kalo weekends setelah beres-beres rumah saya akan nonton tv series atau baca novel yang belum selesai. Kalau sebelum pandemi, saya suka buat nongkrong ngopi bareng temen-temen.
  2. Do you exercise in the morning or evening? Why? Saya memilih pagi-pagi walaupun belakangan ini akhirnya lebih sering sore. Kalau pagi itu udaranya lebih segar dibandingkan sore hari.
  3. Do you have Tik Tok? If yes, why? Nope, I don’t have Tik Tok.
  4. If you are working, do you always want to work for the rest of your life? If you are not working now (for whatever reasons), would you like to go back to the work environment someday? Give reasons. Sampai saat ini inginnya bisa bekerja dan memanfaatkan pengetahuan yang saya miliki untuk bisa dibagikan ke semua orang. Walaupun kalo udah 50an ke atas sih inginnya lebih fokus ke pekerjaan sebagai terapis.
  5. When travelling is allowed, where you want to go first? Jepang!! Awal tahun kemarin sya udah beli tiket untuk ke Jepang yang kayaknya untuk beberapa bulan ini ga mungkin bisa dipakai πŸ˜₯ .

Berhubung Mbak Ria menggunakan angka lima untuk pertanyaannya, saya akan menceritakan 5 fakta acak mengenai diri saya:

  1. Tinggal di Bandung sudah lebih dari 15 tahun!! Dulu saya mikirnya akan kerja atau kuliah lagi di kota lain, ternyata banyak dapet kesempatannya di sini.
  2. Ga suka menyimpan foto close up diri sendiri di akun media sosial manapun.
  3. Sekarang lagi seneng dengerin soundtrack drama Korea Dinner Mate berjudu Yummy Yummy. Cocok banget buat lagu pembuka hari sedangkan lagu berjudul Dinner Mate-nya cocok buat penutup hari.
  4. Udah tiga bulan ga tamat-tamat baca sebuah novel.
  5. Lagi mulai kembali merutinkan olahraga.

Setelah ini saya bingung mau menominasikan siapa lagi untuk Liebster Award karena beberapa blogger sudah pernah melakukannya. Jadi siapa saja yang baca boleh ikutan atau nulis di komen postingan soal pertanyaan yang akan saya ajukan. Daripada 11 pertanyaan, saya pun hanya akan menulis lima saja:

  1. Makanan apa yang biasa jadi sarapanmu?
  2. Apa sosial media pertamamu?
  3. Selama pandemi ini apa ada kebiasaan baru yang dilakukan? selain cuci tangan ya πŸ˜€ )
  4. Apa alasanmu tetap bertahan menulis blog?
  5. Apa tv series favoritmu dan ceritakan sedikit alasannya ya

Sekali lagi terima kasih Mbak Ria untuk Liebster Awardnya! Untuk yang mau join, langsung bikin tulisan sendiri di blognya atau tulis di kolom komen yaaa.

Setelah Sebulan

Setelah sebulan ga nulis di blog, apa saja yang sudah saya lakukan ya? Padahal dari awal tahun mau membangun kebiasaan baik untuk selalu rajin menulis di blog. Yah rencana tinggal rencana. Ternyata di bulan ini cukup banyak kegiatan yang saya lakukan hingga akhirnya ritme nulis blog terpaksa kegusur.

Setelah beberapa bulan proyek-proyek ditahan, akhirnya pertengahan bulan ini proyek kembali berjalan. Sudah mulai ke kantor walau hanya sekali, sisanya via daring. Ternyata persiapan asesmen daring itu emang ribet ya. Bahkan setelah disiapkan berbulan-bulan sebelumnya, tetap saja tidak menggantikan kegiatan asesmen tatap muka.

Selain proyek kantor yang mulai kembali bergulir, ada beberapa garis mati pekerjaan yang harus dilakukan. Apalagi sejak akhir bulan lalu saya memutuskan untuk berjibaku mengurus instagram kantor konsultan psikologi tempat saya bernaung. Jadilah mulai kembali ngotak ngatik desain tulisan maupun waktu yang pas untuk memuat tulisan ataupun gambar tersebut di instagram. Ternyata makan waktu yah!!! Menarik sekali urusan desain mendesain konten ini. Biasanya kan saya cuma melakukan hal ini untuk blog ataupun ig pribadi ya, tapi ketika mendesain dengan lebih serius, ternyata seru juga. Dipikir-pikir selama tiga bulan ini saya banyak belajar di area media dan komunikasi, entah itu menulis artikel untuk sekolah; mendesain logo, gambar, atau tulisan untuk proyek kecil dengan sekelompok teman; hingga terakhir menjadi admin instagram.

Ketika orang-orang mulai melakukan kebiasan baru atau kenormalan baru, saya memilih sendiri bentuk ritme yang saya bangun dengan segala hiruk pikuknya keadaan sebulan terakhir ini. Tetap bekerja dan memilih keluar rumah ketika diperlukan adalah yang akan saya lakukan. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ketika sebelum pandemi kecuali bagian nongkrong ataupun bertemu teman untuk sekedar mengobrol. Kalau soal yang ini kayaknya masih memilih lewat video call atau kalau mau ketemu sambil belanja saja.

Oia saya pun mulai mengisi podcast yang iseng dibikin. Isi di episode perrtama tak lain dan tak bukan adalah review drama korea yang malas saya tulis di sini. Lebih enak dan cepat apabila dibicarakan πŸ˜€ . Semoga ke depan saya bisa kembali rajin menulis blog seperti bulan-bulan yang lalu ya, aamiin.

Hospital Playlist

Sepanjang tiga bulan di rumah aja, ada sebuah drama Korea yang mengisi kehangatan hati dan membuat waras, yaitu Hospital Playlist. Untuk yang mengikuti instagram saya, sudah bosan kayaknya melihat saya hampir tiap minggu membuat instagram story mengenai drama ini. Sementara temen-temen saya heboh nonton dan ngegosipin drama perselingkuhan yang bikin emosi jiwa atau drama terbaru Lee Min Ho, saya mah tetep aja heboh sendiri ngomongin Hospital Playlist!!! Hal ini dikarenakan ketika lagi pandemi seperti ini, saya lebih membutuhkan asupan film dan drama yang membawa kehangatan dan bukannya nambah emosi jiwa.

Drama Hospital Playlist sudah saya tunggu sejak teasernya bermunculan di instagram Bulan Februari lalu. Maklum saya khatam banget drama-drama yang disutradarai oleh Shin Won Ho dan skenarionya ditulis sama Lee Woo Jung seperti Reply 1997, Reply 1994, Reply 1988, serta Prison Playbook. Apabila mereka yang membuat dramanya, saya ga lihat dulu pemerannya, udah pasti ceritanya bakal nyes!! Ternyata pas kulihat pemeran-pemerannya, huhuhuhu asliii pada bagus semua!! Ada Yoo Yeun Seok yang reality shownya sudah saya review di blog ini, Jung Kyung Ho yang saya kenal aktingnya di Prison Playbook, lalu ada Cho Jung Seok yang main di Jealousy Incarnate. Sedangkan Kim Dae Myung saya tahunya saat dia main di Misaeng dan terakhir Jeon Mi Do yang ternyata lebih sering tampil di pertunjukan musikal ketimbang drama.

langsung deg-degan nontonnya juga!! πŸ˜€

Hospital Playlist ini bercerita mengenai lima orang sahabat, Kim Jun Wan, Chae Song Hwa, Lee Ik Joon, Yang Seok Hyung, serta Ahn Jeong Won yang merupakan profesor-profesor di Yulje Medical Center. Umur mereka semua dikisaran 35 – 40 tahun, jadi kisahnya sudah tentu bukan hanya soal percintaan tapi lebih kepada bagaimana persahabatan mereka dimulai saat awal kuliah kedokteran, pertengkaran antara mereka (yang kadang-kadang sengklek), cerita perjuangan dokter-dokter ini di rumah sakit, cerita soal kolega, dan keluarga mereka. Selain itu diantara kesibukan mereka sebagai dokter, mereka pun punya kehidupan dan kesenangan dengan bermain band. Semua diceritakan dalam 90 menit selama 11 episode, sedangkan episode terakhirnya 110 menit!!!

Buat saya pembagian porsi ceritanya berimbang banget!! Semua karakter di film ini dapet porsinya masing-masing, ga ada yang punya waktu lebih. Kalaupun ada, pasti di episode berikutnya karakter lain yang dapet waktu lebih banyak diceritain. Buat yang ga biasa dengan gaya Won Ho PDnim dan Woo Jung, tentu akan terasa bingung untuk menghapalkan setiap karakter dan sedikit bosan karena pace cerita yang lambat. Karena mereka berdua karakternya memang begitu, pondasi cerita dibangun pelan sehingga saat cerita mencapai setengah episode, kita sudah khatam dengan kelakuan masing-masing karakternya. Selain pembagian porsi karakter, porsi emosinya pun dibagi seimbang. Ga ada tuh cerita yang sedih terus-terusan atau bahagia terus. Satu episode semua emosi ada, mulai dari seneng, sedih, gemes, ketawa kenceng, sampai adegan penuh kehangatan.

Kekhasan lain yang menurut saya berbeda dengan drama-drama korea lainnya adalah setiap episode akan selalu menampilkan kelima pemeran utamanya bermain alat musik. Asli mereka yang main dan nyanyi!!! Mereka semua mulai latihan sejak musim panas 2019 loh!! Beneran from the scratch dari yang pada ga bisa main alat musik sampai bisa nyanyi saat bermain alat musiknya masing-masing. Mateeekk banget waktu lihat behind the scenenya. Apalagi saat menampilkan lagu Canon versi rock dengan kecepatan 180 bpm!!! Melihat perjuangan mereka ini saya jadi ga tega buat protes karena penayangan drama yang hanya seminggu sekali yang berbeda dengan drama korea yang biasanya dua kali seminggu. Kebayang bisa sengklek latihannya! Oia mereka berlima ini sampai menamakan band-nya Mido and Falasol πŸ˜€ . Saya ngarep banget mereka bakal ada fans meeting berbentuk konser yang mana memang akan ada di youtubenya Na-PD!! Sebagai fans Mido and Falasol saya bahagia banget!

Oia saya punya sebuah tips untuk yang akan menonton Hospital Playlist: dinikmatin aja!! Lemesiiinn, jangan baper parah sama sebuah karakter atau punya keinginan agar karakter A jadian sama B, karena seperti drama-drama PDnim dan writernim yang lain, ini suka bikin emosi sendiri karena gemes! Hahahaha. Salam dari tim Jung Hwan reply 1988 atau tim Chil Bong Reply 1994 yang kayaknya masih gedek banget. Semoga Hospital Playlist season 1 ini mengobati luka kalian yak!!!

Tips lainnya adalah tonton juga karya-karya produser sama writer Hospital Playlist. Karena di drama ini ada beberapa cameo yang berdatangan dari drama-drama mereka sebelumnya dan banyak inside jokenya juga. Jadi buat yang udah nonton drama Reply atau Prison Playbook, pasti dapet deh inside jokenya.

Sebenernya banyak banget yang pengen saya ceritain soal karakter masing-masing pemainnya atau adegan-adegan sengklek dan favorit yang pengen dibagi. Mungkin akan ada tulisan lain soal ini. Hahahaha. Buat yang belum nonton, coba lihat video klip saat Mido and Falasol menyanyikan Me to You, You To Me di bawah ini deh. Semoga kehangatannya sampai yaaa.

Idul Fitri 2020

Ada yang berbeda dengan Bulan Ramadhan dan juga Idul Fitri di tahun 2020. Pandemik Virus Korona membuat kita semua beribadah di dalam rumah. Selama 30 hari tak ada kegiatan di Masjid seperti teraweh, shalat berjamaah, ataupun itikaf. Mungkin setelah bertahun-tahun, Ramadhan tahun inilah saya khatam buka puasa di rumah. Kalau tahun-tahun sebelumnya tentu lebih sering buka di luar karena banyaknya yang mengajak buka puasa bersama.

Begitupun hari ini, saat lebaran. Tak ada yang berduyun-duyun pergi ke lapangan masjid untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Shalat Idul fitri dilakukan di rumah masing-masing bersama anggota keluarga ataupun sendiri. Tak ada keluarga dari pihak mama yang mengabarkan sudah berada di Bandung untuk berkumpul bersama. Tak ada pertanyaan dari pihak keluarga papa apakah akan ikut berlebaran di kota sebelah.

Pada hari kemenangan ini, kita telah berupaya untuk menang melawan ego yang mulai lelah berada di rumah terus-terusan selama dua bulan terakhir ini. Kita berupaya untuk tetap dapat memaksimalkan ibadah-ibadah yang dulu biasa kita lakukan di luar rumah. Kita berupaya menurunkan ego untuk tidak berkumpul, bersalaman, dan berpelukan demi meminimalisir penularan Virus Korona. Semua ini tentu bukanlah hal yang mudah, namun kita berhasil melaluinya.

Selamat Idul Fitri 1441 Hijriah.
Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT.
Semoga semua tetap dalam keadaan sehat.
Apabila ada yang sedang sakit semoga segera disembuhkan.
Semoga semua kesabaran ini berbuah manis.
Aamiin.

Kemenangan di Idul Fitri tahun ini adalah milik semuanya.

Penang Peranakan Mansion

Pertama kali mencari Penang Peranakan Mansion ini saya sempat bingung, karena tempat yang merupakan salah satu situs warisan sejarah Unesco ini tidak terletak di area China Town, tapi daerah Little India. Tidak jauh dari toko Mucca. Saat melihat bangunannya, mengingatkan saya sama rumah Tjong A Fie yang berada di Medan. Bedanya Penang Peranakan Mansion ini lebih cerah dibandingkan rumah Tjong A Fie.

Penang Peranakan Mansion ini dibangun oleh Kapitan Cina, Chung Keng Kwee pada akhir abad ke-19. Rumahnya yang terdiri dari dua lantai ini terbilang luas dan indah sekali. Saat dilakukan restorasi, pemerintah Penang berusaha mengembalikan bentuk asli bangunan rumah. Dengan membayar 20 ringgit, kita sudah bisa mengelilingi rumah bersama dengan pemandu wisata. Setiap beberapa jam sekali, akan ada pemandu wisata berbahasa Inggris dan Mandarin yang menjelaskan setiap bagian rumah.

Banyak hal baru dari kebudayaan Peranakan yang baru pertama kali saya dengar di sini. Seru sekali mendengarkan cerita dari pemandu wisatanya. Apalagi beliau pun cukup sabar ketika saya atau sepupu bertanya mengenai hal-hal yang menarik untuk kami. Rasanya waktu satu jam untuk mengelili rumah ini tidak cukup. Ketika tur selesai, saya dan sepupu masih beberapa saat berada di sini untuk mengagumi isi dari Penang Peranakan Mansion.

Hal baru yang saya ketahui tentang Rumah Peranakan adalah ternyata rumah dari Chung Keng Kwee ini juga menyatu dengan Kuil Leluhur yang berada tepat di sebelah rumah. Bahkan ada jalan kecil yang menghubungkan rumah dengan kuil. Selain rumah dan Kuil Leluhur, bagian samping Penang Peranakan Mansion sudah diperluas dan menjadi Chinese Jewelry Museum.

Saat saya berkunjung ke sana, Penang Peranakan Mansion sedang ramai dengan sesi pemotretan model-model menggunakan baju Cheongsam. Maklum saja saat ke sana bulan Januari kemarin sudah menjelang tahun baru China jadi suasananya sungguh kental dengan persiapan tahun baru. Sedangkan saat menjelang akhir kunjungan, gantian ada yang akan melakan foto pre wedding. Rumah ini memang bagus banget sih. Banyak tempat yang bisa dijadikan tempat berfoto.

Gerbang menuju Kuil Leluhur
Pemandangan dari ruang makan
Ruang di lantai dua.
Kursi ini bisa dipakai untuk suami istri ngobrol berhadapan
Ruang Keluarga
Kamar Pengantin

Penang Peranakan Mansion
Waktu berkunjung: 09.30 – 17.00
Website: http://www.pinangperanakanmansion.com

Cerahnya Langit Malam

Hari Kamis tanggal 7 Mei 2020, merupakan hari di mana bulan purnama tampak sangat cantik. Apalagi langit malam itu sedang cerah sekali, sehingga planet dan bintang dapat terlihat sinarnya. Saya sudah lama sekali tidak melihat langit malam secantik malam itu. Warna langit terlihat biru gelap, bulan purnama berwarna kuning oranye dengan bagian sinar halo yang terlihat jelas.

Saat bulan baru terbit, di bagian langit sebelah Barat, saya bahkan masih bisa melihat bintang kejora alias Planet Venus berpendar oranye cantik sekali. Jarang-jarang saya bisa melihat Planet Venus secerah hari itu. Apalagi mengingat saya melihatnya saat pukul 18.30 yang berarti langit sudah cukup gelap. Di sisi lain Planet Venus saya pun bisa melihat planet lain yang juga bersinar cerah. Sayang saya ga tahu pasti planet apa yang saya lihat. Sedangkan di bagian Selatan, rasi bintang berbentuk layang-layang atau terkenal dengan rasi Crux pun terlihat berkelap-kelip.

sebuah titik yang merupakan Planet Venus

Saya sampai menelpon salah seorang sahabat dan memintanya melihat ke langit yang berujung kita ngobrol soal hidup kita berdua akhir-akhir ini. Asyik sekali rasanya bisa bermandikan cahaya bulan di hari itu. Hingga saat sahur, saya pun melihat sekejap sinar bulan yang masih sama terangnya. Sebuah percikan kebahagiaan dan juga menumbuhkan ketakjuban dari tanda–tanda kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.

Kegiatan Selama di Rumah Aja

Halo!! Memasuki minggu ke-7 di rumah aja, saya banyak melakukan berbagai kegiatan yang baru untuk tetap produktif. Menyenangkannya selama ini banyak website dan biro konsultan psikologi yang mengadakan kelas-kelas baik gratis maupun berbayar. Jadilah saya sempat mengikuti beberapa webinar untuk tetap mempertajam keahlian untuk bekerja.

Selain itu untuk megisi ruang-ruang kelompok belajar di Sekolah Arunika Waldorf -tempat saya berkomunitas- kami sering mengadakan pertemuan baik dengan orang tua murid, sesama anggota komunitas, hingga membuat diskusi-diskusi hangat melalui video conference. Jadi walau pekerjaan di kantor hampir dikatakan ga ada, saya tetap melakukan beberapa pekerjaan untuk komunitas.

Hal lain yang mulai rajin saya lakukan akhir-akhir ini adalah mendengarkan podcast, igtv, sera ig live orang-orang. Ini beneran aktivitas yang baru banget. Beberapa podcast yang saya dengarkan adalah dari guru Sekolah Arunika yang mendongengkan cerita-cerita untuk anak bernama Mandatory. Selain itu saya juga suka mendengarkan podcast dari Mbak Noni dan Vinny yang saya kenal melalui blogwalking. Lalu saya juga senang mendengarkan podcast-podcast di mana ada Mbak Wiendy Ariestanty. Untuk iglive saya lagi senang menonton iglive dari milesfilm. Sudah tentu ini gara-gara kemaren Nicholas Saputra yang menjadi tamu di sana. Namun setelah itu saya mendengarkan beberapa igtv dari sesi yang disebut Cabin Fever ini. Saya juga lagi senang menonton igtv-nya Leony yang selalu ngamen dengan berbagai penyanyi lain. Berasa jadi karaoekan bareng!!

Dari sisi keterampilan, akhirnya saya memasuki babak baru dalam merajut!!! Kalau biasanya saya cuma bisa merajut jenis “knit” maka kemaren-kemaren akhirnya berhasil bikin “pearl” dan mulai bisa bikin selang seling dari jenis cara merajut ini. Lalu minggu kemarin saya dapet tantangan baru untuk mencobanya selang seling di baris yang sama!! Untuk yang ini saya masih belum berhasil nemu yang benernya kayak gimana, jadi masih otak atik benang sendiri. Saya juga mulai suka membantu mama masak di dapur. Saya sebenernya paling males masak karena rata-rata masakan di rumah sedikit kompleks, sehingga waktunya lama. Berhubung lagi di rumah aja, akhirnya saya kembali kenalan dengan dapur dan masak. Ternyata ga seribet yang saya pikirin yaaa. Kayaknya kalo kemaren-kemaren itu rusuhnya masak balap-balapan sama menyelesaikan pekerjaan yang lain, tapi kali ini lebih santai karena saya pun tidak diburu pekerjaan.

Kalau yang sedang membaca ini, kegiatan apa yang dilakukan selama di rumah aja?

Yogya: Nanamia Pizzeria

Nanamia Tirtodipuran

Saya kenal tempat untuk makan pizza ini dari sepupu yang memang penyuka masakan Italia. Menurutnya pizza di sini cukup otentik karena dibakar dengan tungku. Karena keotentikan pizza-nya inilah tempat ini menjadi sangat ramai oleh turis dari berbagai negara. Pizzanya pun tipe pizza yang tipis. Saya sih suka banget dengan tipe pizza yang seperti ini.

Pertama kali dikenalikan Nanamia oleh sepupu, kami menjajal restoran pertamanya yang ada di Mozes. Bangunannya yang berwarna oranye dengan tungku bakar menghadap ke jalan, benar-benar membuatnya berbeda dari bangunan di sekitarnya. Pada kunjungan saya ke Yogya tahun lalu, saya pun mencoba restoran keduanya yang ada di Tirtodipuran. Kalau di sini tempatnya lebih besar dan outdoor. Terbayang rasanya kalau malam-malam ngobrol dan makan pizza di sini bakal seru banget karena bisa melihat lampu taman dan langit malam.

Nanamia Mozes

Beberapa menu yang saya coba ketika ke Nanamia adalah Insalata di Tonno, Spaghetti Aglio e Olio, dan Quattro Tagioni Pizza, serta Creme Brulee. Insalata di Tonno ini adalah salad yang berisi selada, timun, paprika, bawang bombay, tomat, buah zaitun hitam, tuna, dan italian dressing. Sedangkan Quattro Tagioni Pizza adalah pizza berisi salami, daging cincang, paprika, jamur, dan saus tomat. Kalau rasa makanannya menurut saya udah pasti enak dan segar banget. Pastanya pun dimasak dengan aldente sehingga ga berasa kematangan. Paling menarik adalah Creme Brulee karena lapisan gula diatasnya beneran tebel loh!! Saya sampai berpikir berapa banyak gula yang dipakai untuk membentuk lapisan ini ya? Hahahaha.

Oia pilihan menu di Nanamia beragam banget!!! Mereka menyediakan menu pembuka, salad, sup, panini, serta pasta yang banyak macamnya. Kadang beberapa menu pastanya jarang banget ditemukan di restoran-restoran pada umumnya. Begitupun dengan pilihan pizzanya. Saya rada lama baca menunya karena sambil penasaran dan bacain deskripsi menunya satu-satu!! Salah satu yang menyenangkannya lagi, di sini ada pilihan menu untuk vegetarian. Jadi kalo ada temen-temen yang vegetarian masih bisa tetep ikut makan di sini. Untuk yang suka jamu, mereka pun jual jamu!! Sebuah kearifan lokal di tengah masakan Italia.

Tulisan ini ditulis sebagai catatan perjalanan ke Yogya tahun lalu.

Nanamia Pizzeria
Jl. Mozes Gatotkaca B09-B14 Yogyakarta
Jl. Tirtodipuran No. 1 Mantrirejon Yogyakarta
IG: @nanamiapizzeria

Selamat Jalan

Pukul empat lebih seperempat waktu subuh, sebuah deringan telepon kembali terdengar. Sudah empat kali dari nomer yang sama berusaha untuk menelponku hingga akhirnya kuterbangun dan mampu menjawab “halo?”. Tetapi sebagai jawaban di ujung telepon hanya ada diam hingga akhirnya kumatikan. Siapakah nomer tak dikenal yang menelponku?

Akhirnya aku benar-benar terbangun dan mulai menelusuri pesan-pesan yang masuk dan disitulah hatiku mencelos. Dua buah pesan singkat dari Surabaya telah masuk mengabarkan ayah mertua mereka berdua telah berpulang.

Pak Tuo, begitulah aku menyebutnya. Dalam Bahasa Minang, itu adalah panggilan untuk orang yang dituakan. Seorang tetangga dari pihak papa yang sudah lama tinggal di Surabaya. Beliau banyak sekali membantu keluargaku saat kami baru pindahan ke kota pahlawan itu. Mulai dari membantu mencari kontrakan, sekolah untuk kakakku, membantu surat ini dan itu, ah banyak sekali yang tak bisa kusebutkan satu-satu.

Hingga kami sudah pindah ke Bandung, silaturahmi tetap berjalan. Setiap ada kesempatan ke Surabaya, aku selalu menyempatkan datang berkunjung bahkann menginap di sana. Seperti saat aku dan teman-teman akan ke Bromo, kami yang sempat mampir beberapa jam saja di Surabaya, diperbolehkan untuk menginap di rumahnya dan bahkan dipinjami mobil agar kami bisa menikmati suasana Surabaya di waktu malam walau hanya sebentar.

Terakhir aku ke sana adalah akhir tahun lalu, ketika ada penugasan kerja ke sana. Aku sempat menginap di rumahnya selama dua malam. Mengobrol bersama beliau, anak, mantu, serta cucunya. Hubungan keluarga kami memang lebih lebih dari pada saudara. Setiap aku menginap di sana, tak pernah diprebolehkannya aku memesan ojek online. “Pakai saja mobil yang putih. Bensinnya penuh kok”. Padahal selama hidup di Bandung, mobil di rumah jarang kusentuh karena malas mendengar keberrisikan para lelaki di rumah. Terakhir aku ke Surabaya pun beliau sudah sebulan sekali masuk rumah sakit untuk pengobatan sakitnya.

Walaupun sudah berumur nyaris 80, namun beliau masih sehat, masih suka berjalan-jalan pagi. Beliau yang punya diabetes namun diet ketat sehingga masih bisa menikmati berbagai makanan saat beliau ingin. Saat terakhir, sebelum pulang ke Bandung, aku bahkan diantar membeli buah tangan untuk keluarga di rumah.

Tahun ini aku belum sempat datang berkunjung ke Surabaya.
Ah rasanya masih ingin aku mendengar cerita beliau mengenai ini dan itu.
Tidak akan lagi ada yang menelpon ke rumah secara random hanya untuk bercakap-cakap selama satu jam.

Selamat jalan Pak Tuo.
Semoga amal ibadahmu diterima Allah SWT,
semoga khusnul khotimah,
maafkan kami sekeluarga tak bisa mengantarkanmu hingga ke tempat peristirahatan terakhirmu.

Apabila kami sudah boleh kembali keluar rumah, sudah pasti kota pertama yang akan dikunjungi adalah Surabaya untuk mengunjungimu.

Coffee Friends

Selama masa di rumah aja salah satu hal yang saya kangenin adalah ngopi bareng temen-temen. Setiap ngobrol sama siapa aja baik temen yang ketemu di tempat ngopi atau temen yang lain, pasti yang diobrolin adalah kangen duduk sambil ngopi. Bahkan kemaren-kemaren sering banget ngobrol sama barista di tempat ngopi favorit yang kangen sama pengunjungnya. Padahal kerjaan kami biasanya ngeberesikin mereka yang lagi bikin kopi (baca: ghibah) di depan mesin kopi sambil berdiri.

Saya dan seorang kawan ngopi sampai bercita-cita begitu ini semua berakhir mau ke Yumaju 2 buat berjemur matahari pagi. Ga pa pa deh harus pake jaket dan sweater demi menantang angin yang berhembus dari pada ga bisa duduk-duduk di sana kayak sekarang. Berhubung kangen banget ini, saya jadi keingetan sebuah reality show Korea berjudul Coffee Friends yang dulu sempet saya tunda nontonnya.

Reality show ini berawal dari proyek kedua orang aktor yang juga bersahabat, Yoo Yeon Seok dan Son Ho Jun yang sering membuka Coffee Friends dengan konsep food truck untuk pengumpulan donasi. Biasanya mereka akan memberikan kopi gratis sebagai ganti donasi yang dilakukan Lalu pihak stasiun TvN memberikan ide membuat reality show untuk membuka kedai kopi selama delapan hari di sebuah perkebunan jeruk di Pulau Jeju dan hasilnya nanti dapat didonasikan. Mereka pun mulai menyiapkan kedai kopinya, jenis minuman, hingga masakan yang akan dihidangkan. Yoo Yeon Seok memegang bagian sebagai koki, sedangkan So Ho Jun yang sudah memiliki sertifikasi sebagai hand drip barista menjadi pembuat roti dan menu minuman. Semua menunya tidak ada harganya, jadi semacam pay as you wish yang mana hasilnya akan didonasikan.

Selain itu untuk menjalankan kedai kopi tersebut, mereka pun meminta tolong kepada Choi Ji Woo dan Yang Se Jong untuk ikut membantu. Hasilnya pada hari pertama pembukaan mereka semua kewalahan πŸ˜€ . Akhirnya sepanjang delapan episode itu akan ada beberapa orang yang ikut membantu mereka berempat di Coffee Friends yang merupakan sahabat dan kawan dari Yeon Seok dan Ho Jun. Sebut saja aktor Jo Jae Yoon, Yunho dari TVXQ, Baro dari B1A4, Koki terkenal dan merupakan guru masaknya Yeon Sook: Baek Jong Won, bahkan ada Sehun dari EXO dan Kang Daniel (walau hanya datang sebentar untuk menengok Sehun) serta aktor Nam Joo Hyuk. Rasanya sungguh iri sama pengunjung yang bisa ngopi sambil melihat mereka bekerja di Coffee Friends.

Melihat Coffee Friends ini kok kayaknya menyenangkan sekali ya bisa berkunjung ke kedai kopi yang terletak di tengah perkebunan jeruk, apalagi dengan konsep dapur terbukanya sehingga memungkinkan pengunjung bercakap-cakap dengan mereka semua. Salah satu hal yang saya suka dari Coffee Friends adalah jendela besar di kedainya. Duh senang sekali rasanya makan dan ngopi sambil memandangi kebun jeruk.

Semoga masa-masa pandemik Koronavirus ini segera berakhir dan cita-cita saya dan teman-teman yang lain untuk moyan dan ngobrol sambil ngopi bisa terlaksana. Aamiin!!!