Problem Solving

We live as human being, so fight or flight is not the only choice that we have.

We need to face our fear and our battle. Ini adalah saatnya untuk berpikir, merasakan, dan bergerak untuk menyelesaikan masalah. Karena segala sesuatu butuh akhir untuk bisa menutup satu pintu dan membuka pintu yang lain. Kebayang ga kalau banyak pintu yang dibuka dan ga ada satu pun yang ditutup? Saya bakal masuk angin!! Begitu juga dengan masalah-masalah mengganjal dalam hidup. Kalau punya masalah-masalah yang tidak terselesaikan, suka atau tidak akan mempengaruhi perasaan, pikiran, serta lingkungan di sekitar. Untuk masalah ini contoh paling gampang adalah dengan melihat anak kecil di sekitar. Saat saya lagi banyak pikiran, biasanya anak-anak disekitar saya akan lebih chaos dan jadi bikin stres. Ada ibu-ibu atau guru yang pernah merasakan ini? Rasanya udah lagi pusing malah tambah pusing dan emosi.

Everything need to be settled.

Saya termasuk yang mengamini bahwa sebelum masuk ke babak baru kehidupan, kita perlu menyelesaikan masalah-masalah yang mengganjal. Agar tidak terbawa pada kehidupan selanjutnya. Agar bisa beneran mengawali semuanya dengan tenang dan damai.

Some problems need to meet to be discussed directly

Cara paling mudah namun juga sulit untuk dilakukan adalah dengan bertemu langsung dan menyelesaikan masalah diantara kedua belah pihak. Untuk saling melihat perbedaan persepsi saat masalah itu datang. Untuk mengingatkan alam bawah sadar bahwa kejadian itu nyata adanya. Kalau kata seorang sahabat saya mah agar hidup kembali normal, tenang, dan damai.

Everyone need to move on

Ketika saya menghadapi dan menyelesaikan sebuah permasalahan, maka saatnya benar-benar beranjak dari tempat yang membuat kita ga move on. Terkadang move on itu bukan masalah perasaan atau rasa suka, tetapi juga mengenai pembicaraan yang mengambang, rasa penasaran yang belum terpuaskan, dan pertanyaan yang tidak terjawab. Kesemuanya mengakibatkan ada potongan dari diri yang masih menetap, memandang ke arah sana. Enggan beranjak.

the signs given during these two weeks leads me to the finish line. the timing is right.  I finally see how far we growth from the start…and I feel blessed. 

 

Advertisements

Bersantai di Sihanoukville

UBUW5348

Sihanoukville

Saat merencanakan jalan-jalan ke tiga negara, saya ingin memasukkan pantai di beberapa hari kami pergi. Saya sih bebas aja mau melihat pantai di Kamboja atau di Thailand, yang penting ke pantai. Kasian kak, anak gunung jarang liat pantai :’) . Awalnya sempat terpikir untuk ke Pattaya, tapi setelah melihat beberapa foto dan testimoni yang mengatakan betapa ramainya di sana kita mencoret Pattaya dari daftar.

Jadi mantai ke mana dong? Teh Zen pun mencetuskan untuk ke Sihanoukville. Awalnya saya ga tahu soal keberadaan Sihanoukville hingga melihatnya di google. Pantainya biru dan sepiiii. Teh Win pun setuju buat ke Sihanoukville. Setelah menghitung hari, kami menyisihkan waktu tiga hari dua malam di sini.

Perjalanan ke Sihanoukville ditempuh selama 5-6 jam naik travel dari Phnom Penh. Saya, Teh Zen, dan Teh Win sengaja memilih berangkat siang sehingga bisa sampai saat matahari terbenam. Apakah kita ngeliat matahari terbenam di hari pertama? tentu tidaaaakk. Kami memilih untuk meluruskan badan di hotel. Malamnya baru keluar untuk makan di Olive&Olive Mediterranean Food yang ada di dekat hotel.

IMG_0357

Makan malam pertama

Selama di Sihanoukville kita memang memilih untuk bersantai. Kehidupan di sini pun berjalan dengan lambat dan malemnya pun tergolong sepi. Ketika jam delapan memang ada beberapa bar yang memainkan musik. Tapi jam 11 malam udah pada selesai loh. Jadi sunyi lagi!! Kalau dilihat-lihat Sihanoukville memang kota transit untuk turis yang ingin menghabiskan waktu di pulau-pulau sekitar Sihanoukville seperti Pulau Koh Rong. Kalau kita sih udah seneng bisa leyeh-leyeh santai di Sihanoukvillenya.

Di pagi hari kedua, kami berjalan menuju Pantai Serendipity. Menurut temen saya yang pernah ke Sihanoukville, pantai ini sebenernya ga direkomendasikan karena termasuk kotor dan banyak yang jualan. Kenyataannya pantainya lebih bersih dan jernih dibandingkan Kute!! Memang sih beberapa kali saya menemukan sedotan atau kaleng minuman, tapi ga banyak. Airnya pun jernih!! Saya betah loh maen air di sini. Kita bahkan menemukan banyak ikan yang berenang sampai bibir pantai. Lucuuu banget!!

IMG_0368

Serendipity Beach

Kami pun berjalan hingga sampai di Pantai Oucheuteal. Pantai ini terasa berbeda dengan pantai sebelumnya. Kalau di Pantai Serendipity kehidupan pantainya baru berjalan sore ke malam mengingatkan saya akan Jimbaran Bali. Sedangkan Pantai Oucheuteal dari pagi sudah menggeliat. Kursi-kursi pantai di pasang dan kalau mau duduk di sana mesti bayar 10 usd!! Selama main di pantai ini pun akan banyak tukang pijat, pedagang kelapa muda, seafood bakar, serta tukang gelang yang menjajakan jualannya. Untuk yang mau snorkeling atau bermain jet-ski bisa meminjam peralatannya di Pantai Oucheutal.

IMG_0403

Pantai Oucheuteal

Saat matahari semakin naik, kami memutuskan untuk berjalan kembali ke hotel sambil mencari makan siang. Sepanjang perjalanan kami merasakan sepinya Sihanoukville. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang loh!! Untuk makan siang kami mencoba makanan Turki yang berada di perempatan jalan sambil leyeh-leyeh di bawah pohon rindang. Porsi makanan yang besar membuat kami enggan segera beranjak dan memilih untuk menikmati siang di sana.

IMG_0432

our lunch at Benetton Turkish Food

IMG_0436

porsi besar

Sore harinya kami pun ingin melihat matahari tenggelam dari pantai yang lain, Pantai Otres yang berjarak sekitar 8 km dari Serendipity. Tentu saja kami memilih untuk memakai tuk-tuk ke sana. Enak banget rasanya naik tuk-tuk yang berjalan pelan di Kamboja. Tuk-tuknya beneran beda deh sama tuk-tuk Bangkok. Di Pantai Otres, matahari ternyata masih tinggi dan terlihat awan mendung 😦 . Sambil menantikan matahari turun lagi-lagi kami bermain air, mengobrol, dan memandang pantai. Saya bahkan menemukan ayunan dan asyik main ayunan dulu 😀 . Pantai Otres banyak dipilih turis karena memang lebih tenang daripada Pantai Oucheuteal. Di pantai ini ga banyak yang keliling menjajakan makanannya. Kita pun lebih enak buat duduk-duduk beralaskan pasir pantai dan bengong ngeliatin laut.

IMG_0457

Pantai Otres

IMG_0455

CKDE6341

jump!!

Pulang dari Pantai Otres kami memilih untuk mencoba makan seafoodnya yang ternyata biasa aja. Lebih enak makan di Olive&Olive deh. Malamnya daripada ngobrol di kamar, kami memilih mencoba Sushi Bar yang berada di seberang hotel. Asli asyik banget deh memilih hotel di dekat Serendipity Beach karena banyak banget tempat makan dan supermarketnya.

IMG_0514

IMG_0517

Keesokan harinya kami masih bisa bermain sebentar ke Serendipity Beach sambil menunggu jadwal travel untuk transit ke Phnom Penh dan dilanjutkan dengan bus malam ke Siem Reap.

Bahagia banget rasanya bisa bersantai sejenak di Sihanoukville. Saya suka banget sama pantainya yang sepi, pasir putihnya yang lembut banget kayak bedak tabur, airnya yang jernih berwarna  biru tosca, dan waktu yang berjalan dengan santai dan damai di sana. Menuliskan soal Sihanoukville jadi kangen main air lagi!!

You Can’t Take Depression Lightly

Image result for world suicide awareness day 2017

Sepuluh September merupakan Word Suicide Prevention Day atau yang di Bahasa Indonesia menjadi hari pencegahan bunuh diri sedunia. Beberapa teman dari psikolog Bandung pun beramai-ramai menyebarkan pesan bertagar psikolog peduli untuk menyebarkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mencegah bunuh diri terjadi di Car Free Day Bandung pada hari Minggu.

Hal ini mengingatkan saya akan Chester Bennington yang memilih bunuh diri karena depresi. Kematiannya sangat tiba-tiba dan membangkitkan ingatan untuk selalu aware dengan orang-orang yang mungkin memiliki depresi tapi kita ga sadar. Kita ga pernah tahu mau di luar kelihatan sebahagia apa tapi di dalamnya mah ga ada yang pernah tahu kegelapan yang mungkin sedang mereka alami.

Depresi ga bisa dianggep sebagai suatu masalah yang mudah. We can’t just say that they need go to psychologist or psychiatry. Apalagi dengan masyarakat kita yang masih aneh banget kalau ada orang mau curhat ke psikolog, padahal berat atau entengnya masalah itukan balik lagi ke yang ngejalanin. Kita ga bisa menjudge masalah putus si A dan si B itu sama, atau masalah keluarga si C dan si D itu sama. Pola asuh dan cara didik mereka hingga jadi individu aja beda, pengalaman serta perasaan-perasaan yang terjadi pun beda, gimana mau disamain?! Tiap individu itukan unik. Itu pulalah yang membuat saya sebagai manusia perlu memanusiakaan manusia. Sesuatu yang belakangan ini jadi hal yang jarang ditemui. Kesannya harus ikut suatu golongan dan ga boleh berada di wilayah abu-abu atau punya pandangan yang berbeda dari pada kebanyakan orang lain.

Orang-orang yang depresi pun ga bisa dengan mudah diomongin bahwa mereka kurang kuat imannya atau “kalo lo bunuh diri dan nyerah lo bakal masuk neraka”. Please don’t play God in here. Dunia ini mungkin udah jadi neraka tersendiri buat mereka. They even don’t know what to do to solve their problem.

Please kalau ada orang yang merasa kesulitan untuk masalah yang sedang dihadapinya, kita jangan ngejudge dengan mengatakan “yaelah masalah gitu doang”. Mungkin buat mereka itu adalah masalah terbesar dan terberat yang pernah mereka dapatkan. kalau ada temen atau orang seperti ini, kita sebagai orang terdekat bisa membantu dengan mendengarkan mereka untuk menyadarkan bahwa mereka ga sendiri dan kita akan selalu ada buat mereka ketika ada masalah yang sulit.

Kita sebagai support system itu menjadi bantuan yang berharga untuk mereka. Ga usah jauh-jauh nyari contoh. Beberapa tahun yang lalu saya beneran kebantu dengan support system yang ada di sekitar sehingga bisa melalui patah hati dengan lebih cepat. Selain support system, melakukan kegiatan-kegiatan seperti yoga, maen musik, olahraga, atau kegiatan yang pernah bikin nyaman bisa coba kembali dilakukan oleh orang yang sedang menghadapi depresi. Sebagai temen, kita juga bisa mengingatkan temen yang depresi untuk lebih memperhatikan hidupnya dengan makan yang bener, tidur yang cukup, atau melakukan teknik relaksasi. Karena kadang orang yang sedang depresi ga sadar dengan kesehatannya. Mereka bahkan ga merasa laper yang berarti bisa bikin mereka dehidrasi ataupun ngebuat badan jadi lemes. Terakhir, orang-orang depresi juga membutuhkan bantuan profesional sehingga mereka bisa lebih adjust dengan masalahnya seperti bantuan dari psikiatri maupun psikolog.

It’s okay to be not okay. But please, choose to life. Because every soul in this world is precious

*pict taken from here

Bad Genius

Film yang berhubungan dengan sekolah bisa dilihat dari banyak sisi. Mulai dari drama sekolahnya, hubungan antara siswa, hubungan siswa dengan guru, politik di dalam sekolah, bahkan urusan ekskul di sekolah. Bad Genius memilih sisi yang berbeda, mencontek. Bad Genius terinspirasi dari kisah nyata pembatalan nilai SAT – tes standardisasi bagi pelajar yang ingin melanjutkan kuliah di universitas-universitas Amerika Serikat – setelah terbongkar adanya praktek menyontek massal dalam ujian di Tiongkok. Yah ga perlu jauh-jauh juga sih, sejak zaman saya SMA pun praktek contek mencontek ini pun udah ada. Tapi ga pernah sekeren di film Bad Genius!!

Bad Genius menceritakan mengenai Lyn (Chutimon Chuengcharoensukying) seorang siswa cerdas yang masuk ke SMA bergengsi dengan mendapatkan beasiswa penuh. Di sana ia berteman dengan Grace (Eisaya Hosuwan) seorang siswa cantik namun memiliki nilainya ga cukup untuk dapat menjadi bagian dari ekskul drama sekolah. Lyn pun membantu Grace belajar dari soal-soal les yang didapat dari gurunya. Saat hari ujian, Lyn menyadari bahwa soal ujiannya sama persis dengan soal-soal les yang didapatkan Grace, namun Grace tetap tidak bisa menjawab ujiannya. Akhirnya Lyn membantu Grace dengan memberikan contekan. Grace pun menceritakan hal ini kepada pacarnya yang bernama Pat (Teeradon Supapunpinyo). Pat yang kaya raya menawarkan sejumlah uang kepada Lyn untuk membantunya dalam ujian. Di sanalah awal mulanya mencontek menjadi sebuah bisnis bagi Lyn, Grace, dan Pat. Lyn pun merancang kode untuk mencontek dengan menggunakan nada piano dan membuka kelas privat piano agar klien-kliennya dapat menghafalkan nada tersebut. Hingga mereka pun mencoba untuk melakukan bisnis mencontek saat ujian STIC – tes standar internasional untuk penerimaan mahasiswa yang ingin sekolah di Amerika -. Cara yang dilakukan pun berbeda dengan ujian di sekolah. Ujian STIC ini diadakan serentak di jam yang sama dalam setiap negara. Sampai disini Lyn pun memutuskan untuk terbang ke Sydney, ia bisa mengerjakan soal-soal tes duluan dan mengirimnya melalui percakapan sosial ke Bangkok. Hal ini bisa terjadi karena Perbedaan waktu antara Sydney yang lebih cepat dua jam daripada Bangkok.

Menonton Bad Genius membuat saya merasakan bahwa mencontek itu bisa sangat menegangkan seperti di dalam film. Apalagi dengan efek slow motion yang membuat ketegangan bertambah. Saat credit tittle pun, saya masih merasa sesak nafas!! Teknik-teknik mencontek serta strategi yang dilakukan di dalam sangat rapi. Saya sampai berpikir “gilaakk ada ya anak SMA yang kepikiran buat menyusun startegi kayak gini!”.

Bad Genius pun mengkritik mengenai sekolah yang seringnya menjadi ladang bisnis untuk sekolah itu sendiri maupun guru-gurunya. Seperti sekolah yang walaupun membebaskan uang masuk dan uang bulanan, namun tetap mengharuskan siswa membayar untuk seragam dan uang pembangunan sekolah. Selain itu guru-guru pun sering mengadakan les privat dan memberikan soal-soal yang sama dengan soal-soal yang akan diujikan di kelas. Hal-hal seperti ini ga hanya terjadi di sekolah Thailand, sekolah-sekolah di Indonesia pun kurang lebih memiliki permasalahan yang sama dan masih menjadi pr buat kita semua.

Diakhir film saya baru sadar kalau Bad Genius ini masuk kategori film Thriller. Pantesan rasanya deg-degan dari awal hingga akhir film. Kalau biasanya film-film Thriller bersetting pemberontakan, penculikan, ataupun perampokan, tapi kali ini saya menonton film Thriller dengan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saya sih sangat merekomendasikan untuk menonton film ini. Semoga masih ada di bioskop ya.

 

Setengah Hari di Phnom Penh

Saya berada di Phnom Penh tidak sampai 24 jam. Pada hari pertama perjalanan, saya hanya berada di sana selama tiga jam. Beberapa hari setelahnya pun saya transit di Phnom Penh hanya empat jam.

Saat awal perjalanan saya dan dua orang teman memang bingung dengan kegiatan yang akan kami lakukan di Phnom Penh. Sejauh yang kita baca soal Phnom Penh banyaknya orang mendatangi Killing Field, Night Market, Royal Palace, serta beberapa Wat. Killing field sudah pasti kita coret karena ga suka melihat luka masa lalu dan serem juga sih. Masuk Lobang Buaya di Jakarta aja udah merinding, apalagi harus mendatangi Killing Field!

Pada transit pertama akhirnya kita berpikir untuk keliling-keliling cari makan dan melihattempat yang biasa didatangi oleh turis. Sebelumnya kita menitipkan tas ke Giant Ibis Travel yang terletak tepat di samping Night Market dan keliling kota naik tuk-tuk. Saya dan teman-teman sempat mampir ke Royal Palace. Sayangnya tempat ini tutup dari jam 11.00 hingga jam 13.00. Jadilah perjalanan pun dilanjutkan dengan berkeliling melihat Wat Ounalom, melihat aktivitas orang-orang di Kandal Market, melewati Old Market, serta mendatangi Wat Phnom. Sayangnya kita ga sempat untuk berkunjung ke Mesjid Al Serkal karena waktu sudah mendekati keberangkatan travel ke Sihanoukville 😦 .

Saat berkeliling ini saya melihat Phnom Penh sedang melakukan banyak pembangunan. Mulai dari membangun infrastruktur seperti jalan layang hingga apartemen dan gedung perkantoran. Sepertinya saat saya ke sana beberapa tahun lagi, akan semakin banyak gedung-gedung tinggi di sana.

IMG_0284

IMG_0287

IMG_0301

Royal Palace

IMG_0303

Wat Ounalom

Saat transit kedua saya dan teman-teman berkeliling Night Market yang ada tepat di depan Giant Ibis. Seru banget ya Night market di sana. Di pintu mausk, saya sempat melihat ada sekelompok pemusik. Kemudian sebagaimana Night market lainnya banyak banget yang jualan baju, tas, jam, sepatu, hingga aksesoris. Semuanya ada di sini!

Di bagian belakang Night market kita bisa menjumpai banyak pedagang makanan serta tempat duduk yang luas untuk pengunjung. Asyik banget!! Cuaca Phnom Penh yang panas membuat saya dan teman-teman memilih ngemil es krim di batok kelapa. Segeerr banget. Apalagi kita dapet bonus air kelapa yang manis. Buat yang mencari makanan halal, tepat di sebelah tukang es krim ini ada yang jual makanan halal. Jadi ga susah buat nyari makanan halal di Phnom Penh Night Market.

XXBA5711

RUIA7264

SXZK8288

*Foto-foto di Night Market diambil dari kamera hp Teh Wina

Tiga Belas Hari, Tiga Negara, Lima Kota

Tahun lalu saya menghadiahi diri sendiri jalan-jalan selama empat hari ke Kuala Lumpur bersama sahabat bagai saudara. Sedangkan tahun ini saya merencanakan untuk menambah waktu jalan-jalan menjadi 13 hari. Ide liburan selama itu sudah saya rencanakan sejak tahun lalu bersama dua orang kakak angkatan saat kuliah dulu. Sekalian merayakan kelulusan di bulan Februari kemarin.

MSPM3417

at Sihanoukville

Sejak kepulangan saya minggu kemarin, rasanya masih tidak percaya saya berhasil melalui perjalanan selama 13 hari bepergian ke-3 negara dan mengunjungi 5 buah kota. Jalan-jalan kali ini pun memang tidak seoptimis biasanya. Saya ingin merayakan setiap langkah diumur yang baru ini dengan sesadar-sadarnya dan menikmati semua yang terjadi.

Selama 13 hari saya menghabiskan setengah hari di Phnom Penh, tiga hari di Sihanoukville, tiga hari di Siem Reap, lima hari di Bangkok, serta tiga hari di Kuala Lumpur. Tadinya sih optimis mau ke Hua Hin di Thailand dan ke Melaka di Malaysia. Apa daya kita lebih memilih untuk berjalan lambat menikmati setiap hari di kota yang didatangi. Tidak mau buru-buru dikejar waktu. Mungkin lain kali saya bisa berkunjung ke kota-kota yang belum didatangi.

Sepanjang perjalanan ini saya ditemani orang-orang baik hati nan jahil yang membuat tiap harinya ada aja yang kita ketawain sampai diobrolin serius. Mereka selalu mengingatkan saya untuk lebih rileks, lebih santai menghadapi semuanya. Dinikmatin semua keputusan yang diambil baik dari jauh ataupun dadakan. Saya juga bertemu, berkenalan, hingga jalan bareng dengan beberapa orang yang dikenal saat perjalanan. It’s always nice to meet new people and talking about anything. Hingga rasanya pulang dari liburan kali ini hati dan jiwa terasa penuh.

Cerita lengkap mengenai perjalanan menyusuri lima kota di tiga negara selama 13 hari akan saya tulis secara terpisah ya 😀 .

Berkah Nama “Ira”

Di hari ulang tahun kemarin, saya lagi pengen banget makan enak malem-malem. Orang yang kemarin saya tarikin buat ikutan mikir kira-kira makanan apa yang enak, sempat memberikan beberapa pilihan tempat mulai dari Dim Sum ITB yang enak dan murah meriah sampai Hummingbird. Tadinya saya pengen makan sushi karena udah lama banget ga makan, tapi ditolak dengan alesan “mahal untuk bisa sampai kenyang banget!!”. Ya ya ya masuk akal kalo denger ceritanya 😀 .

Setelah berputar dan berputar antara mau ke Holy Ribs dan melihat-lihat ada promo buat yang ulang tahun di restoran mana aja, pilihan akhirnya sampai di Wing Stop Paskal23. Alesannya sesederhana karena kita sama-sama belum pernah nyobain Wing Stop ini. Apalagi di sana lagi ada promo beli 17 crunchy wings dapet diskon 45% untuk yang memiliki nama Agus, Ina, Dewi, Ira, Ika, Ria, Ana and Putri.

Awalnya saya ragu banget, karena Ira itukan nama panggilan dan tipis banget ada dinama lengkap saya. Tapi cobain dulu aja kali ya..kalo ditolak kita pilih menu yang lain atau bahkan makan di tempat lain. Ternyata saat ngobrol sama mbak kasirnya bisa dong pake nama saya. Akhirnya kita pesen deh paket promonya sambil ga sadar berapa jumlah sayap ayamnya. Beneran cuma lihat kalau bisa dapet diskonnya doang 😆 😆 . Awalnya sempet kaget sih karena kita dapet 17 potong sayap ayam!!! Itu banyak banget untuk kita yang cuma makan berdua. Tapi…yah hajar ajalah. Kita pun pesen ditambah 2 nasi dan 2 minuman yang bisa direfill. Ini pesen antara lapar, kalap, dan tanggung udah nyobain promosi. Hahahahaha!!!

Oia untuk 17 potong sayap ayamnya kita cuma bayar Rp.66.000,- belum termasuk pajak!! Beneran worth it bangetkan.

FullSizeRender (1)

Begitu pesanan nyampe di meja, kita ampe bengong ngeliatnya. Banyak yaaaaaa!!!! Di meja kita tersedia 17 potong sayap ayam dengan 4 bumbu pilihan, 2 saos dipping, 2 nasi, dan 2 minum. Kayaknya yang ngeliat kita bakal bengong deh :p . Berhubung momen langka tentu sama kita berdua diabadikan dan dikasi lihat di grup. Kita punya seorang temen yang kemaren-kemaren pengen banget makan Wing Stop soalnya.

Rasanya bahagia banget saat pertama kali nyobain Wing Stop bisa langsung pesen empat macam bumbu untuk ayamnya. Kita sih nyobainnya garlic parmesan, mango habanero, lousiana rub dan teriyaki. Begitu mencoba makan sayap ayam satu persatu dari setiap bumbunya, favorit kita sih mango habanero sama lousiana rub. Untuk teriyakinya kita ngerasanya kemanisan dan garlic Parmesannya biasa aja. Ga seenak lousiana rub.

Apakah kita berhasil ngabisin semuanya? Sayangnya engga. Sayap ayamnya sisa dua dan akhirnya kita bungkus.  Dipikir-pikir parah banget ya, berdua makan 15 potong sayap ayam sama nasi 😆 😆 .