Bali: Museum Antonio Blanco

IMG_1367

Sebelum pergi ke Bali, ada satu tempat yang membuat saya penasaran: Museum Antonio Blanco. Letak museumnya sendiri di daerah Ubud. Pas banget dengan daerah yang akan kami datangi. Akhirnya pada hari kedua di Ubud, saya dan Muti mengunjungi Museum ini.

Museum Antonio Blanco terletak di depan jalan menuju Bukit Campuhan, dekat dengan Sungai Campuhan. Suasananya tenang banget. Museum ini berada di lingkungan rumah keluarga Antonio Blanco. Museum pelukis yang memiliki darah Spanyol ini terdiri dari rumah pribadi, galeri, studio serta restoran.

IMG_1369Patung Shiwa di pekarangan Museum

Kalau melihat sekeliling Museum, kita akan melihat patung Dewa Shiwa Selain itu terdapat beberapa burung yang dipelihara di sini. Melihat bangunan museumnya sendiri, terdapat dua patung naga dan keris yang menjadi latar bangunan. Tapi suasana di dalam museumnya serasa berada di Eropa, luas dengan tangga berputar. Saya sendiri merinding banget begitu masuk. Maklum suasananya cukup temaram dan saat itu hanya ada kami berdua di sana.

IMG_1370bagian depan Museum

IMG_1376ukiran bergaya Bali

IMG_1377Antonio Blanco

Museumnya sendiri terdiri dari dua lantai dan tidak diperbolehkan untuk memfoto karya-karyanya. Seperti yang diketahui banyak orang, Antonio Blanco senang melukis kecantikan dari perempuan Bali. Perempuan Bali yang dilukis merupakan istrinya yang merupakan penari Bali. Dari keempat anaknya, hanya satu yang mewarisi bakat Antonio Blanco, yaitu Mario. Saat ini Mario lah yang mengurus museum.

Saya dan Muti berkeliling dan memperhatikan semua lukisan yang ada. Keren banget!! Kita bisa melihat keindahan penari Bali saat itu. Setelah berkeliling, kami pun berkesempatan untuk melihat-lihat studio tempat Antonio Blanco melukis. Beliau sendiri melukis di tengah ruangan dengan berbagai kuas dan cat yang masih disimpan hingga saat ini. Di dalam studionya kita juga bisa melihat foto-foto Antonio Blanco beserta anak dan istrinya. Saya juga sempat memperhatikan banyak barang antik serta majalah-majalah yang sudah menguning. Kesannya betul-betul klasik.

IMG_1385Minuman dingin di hari yang panas

Diakhir kunjungan, kami mendapatkan minuman gratis yang bisa ditukar di restorannya. Rasanya senang sekali bisa duduk-duduk sambil melihat Bukit Campuhan serta mengobrol sore-sore. Jauh dari hingar bingar kota.

Museum Antonio Blanco
Jl. Campuan Panestaan Ubud Bali
Website: www.blancomuseum.com
Jam Buka: Day Light Hours

Advertisements

Bali: Sunset di Pura Luhur Uluwatu

IMG_1207Pura Luhur Uluwatu

Pura Luhur Uluwatu merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan yang terletak di Kabupaten Badung, di Kecamatan Kuta, Desa Pecatu Bali. Pura ini berdiri di dekat tebing yang sangat tinggi. Saya sangat merekomendasikan tempat ini untuk para penikmat matahari tenggelam. Matahari tenggelamnya cantik banget!!

IMG_1201

Pura Luhur Uluwatu ini terkenal dengan tari kecak yang selalu diadakan menjelang hingga selesai matahari tenggelam. Banyak wisatawan asing maupun domestik yang datang untuk melihat pertunjukan kecak dilatarbelakangi matahari tenggelam. Saat saya ke sana sih, melihat tari kecak bukan merupakan tujuan utama. Saya dan teman seperjalanan Muti hanya ingin melihat-lihat kawasan Pura Luhur Uluwatu dan menikmati detik demi detik ketika matahari tenggelam.

IMG_1205

Sambil menikmati matahari tenggelam, saya dan Muti bertukar cerita, pengalaman, dan saling menguatkan diri untuk masalah yang sedang kami hadapi saat itu. Maklum ke Bali inikan merupakan perjalanan menenangkan hati dan pikiran, karena itu kami tidak mengejar tempat wisata. Kami berjalan di sepanjang tebing untuk mencari tempat terbaik menikmati matahari tenggelam.

IMG_1227

Indah banget  melihat hamparan laut yang berwarna keemasan. Memantulkan cahaya dari matahari. Kami juga melihat banyak nelayan yang mulai pergi melaut. Kalau melihat keindahan ini, luasnya lautan, masalah kami mungkin hanya berupa butiran pasir pantai di bawah sana.

Bali: Jangkrik Homestay Ubud

Kalau mau ke Ubud dan nyari penginapan yang murah, dan nyaman, Jangkrik Homestay bisa jadi pilihan. Terletak di Jalan Hanoman dan dekat dengan tempat travel berhenti, Coco Mart.

Saat awal datang ke Jangkrik Homestay, saya kebingungan karena ternyata homestaynya terletak di bagian belakang rumah. Untuk yang ingin mencoba tinggal dan bersentuhan langsung dengan orang Bali, saya merekomendasikan tempat ini. Ibu pemiliknya sangat ramah dan membantu kita banget.

Jangkrik Homestay memiliki enam buah kamar. Dua terletak di bawaha, dan empat lainnya di lantai dua. Empat dari enam kamar memiliki AC, tetapi semua kamar punya kipas angin. Udara di Ubud tidak berbeda jauh dengan Bandung, sehingga Saya dan Muti memilih menggunakan kipas angin saja. Kami mendapatkan sebuah kamar dengan sebuah kasur ukuran besar, kipas angin, kamar mandi yang bersih dengan pilihan air panas dan dingin, handuk, wifi, lemari baju, dan sarapan pagi. Wifinya cukup kencang dan paling penting kamar mandinya bersih!!

IMG_1320kamar yang ditempati

Untuk sarapannya sendiri, lengkap dan enak banget! Saat bangun pagi, di luar kamar sudah tersedia dua cangkir minum; setoples teh, kopi, dan gula; setermos air panas. Untuk makanannya akan dikeluarkan saat kita meminta untuk sarapan. Makanannya hari itu adalah dua tangkup roti isi selai dan buah, serta sepiring besar buah segar! Duh kenyang dan sehat banget makannya.

IMG_1325ini sarapannya

Asyiknya lagi, tinggal di sini deket banget sama Yoga Barn, Coco Mart, serta restoran terkenal Bebek Bengil dan Bebek Tepi Sawah. Buat yang nyari toko buku, ada Book and Beyond juga. Betah banget deh tinggal di Jangkrik Homestay.

Jangkrik Homestay Ubud
Jl. Hanoman 60
Padang Tegal Kelod,  Ubud Bali
Tel: +62 (0)361-973415  or +62 (0)812-3797-9400
Website: www.jangkrik-homestay.com

Bali: Ubud

Ruin is a gift
Ruin is a road to transformation
-Eat Pray Love-

Saya termasuk dari sekian orang yang tertarik dengan Ubud setelah menonton dan membaca “Eat, Pray, Love” yang merupakan kisah panjang dari perjalanan yang dilakukan oleh Elizabeth Gilbert. Cita-cita ke Ubud pun diaamiinkan oleh sahabat saya.

Hingga akhirnya tahun 2014 saya berkesempatan ke Ubud. Saya ditemani oleh Muti berencana untuk melihat Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) yang berlangsung selama lima hari. Tentu  UWRF ini hanya merupakan salah satu alasan :p . Saya benar-benar penasaran dengan Ubud. Suasananya, deretan toko-tokonya, serta makanannya. Apalagi di kala itu saya sedang ingin menyendiri. Bertemu dengan orang-orang yang tidak mengenal saya. Berusaha membangun kembali pondasi pikiran yang kacau oleh masalah-masalah yang datang secara bersamaan.

Setiap hari saya berjalan mengitari Ubud. Keluar masuk toko yang menjual baju super nyaman untuk yoga dan pernak pernik lainnya. Benar-benar membuat saya harus menahan diri supaya ga belanja tiap hari. Orang-orangnya pun ramah. Selalu tersenyum dan terkadang mengajak kami mengobrol. Selain keluar masuk toko, kita pun keluar masuk galeri dan museum yang ada di sekitar Ubud. Beberapa nanti akan saya ceritakan secara terpisah. Untuk makanannya sendiri, penggemar Babi tentu bahagia banget, karena banyak rumah makan yang memiliki masakan Babi di sana. Untuk yang ingin sehat, banyak banget rumah makan yang meyediakan menu vegan. Kalau restoran favorit saya sih udah pasti Clear Cafe.

UWRF-nya sendiri menarik. Setiap hari saya dan Muti mendatangi dua hingga empat diskusi panel yang menarik. Maklum, jadwal UWRF ini sangat padat mulai dari jam 08.00 hingga 17.00 selalu ada diskusi panel yang diadakan di tiga tempat terpisah. Sehingga kami harus memilih untuk menonton yang mana diantara banyaknya pilihan. Diskusinya sendiri mulai dari novel yang difilmkan, puisi, prosa, hingga perjalanan penulis selama membuat novel tersebut. Tuhan memang Maha Baik, setiap diskusi panel yang saya ikuti, seperti memberikan obat dan pandangan baru untuk hidup saya.

Stop Trying!! Surrender..
Why don’t you just let it be?
Eat Pray Love

Seramainya Ubud, buat saya pribadi tentu berbeda dengan tempat lain di Bali. Saya merasa kehidupan berjalan lebih lambat di sini. Sehingga saya pun berusaha memelankan ritme hidup saya. Sepertinya beberapa bulan terakhir di tahun 2014 itu, saya terlalu terburu-buru, berusaha terlalu keras. Padahal semua yang terburu-buru dan dipaksakan itu tidak berjalan dengan baik.

IMG_1327UWRF

IMG_1332suasana diskusi panel UWRF

IMG_1352trotoar di jalan Raya Ubud

IMG_1403jembatan untuk pejalan kaki

IMG_1469kantor kelurahan Ubud, cantik banget ya

IMG_1479Salah satu Pura di Ubud

Semoga ke depan saya bisa kembali ke Ubud, tentu bukan dengan suasana hati seperti dulu, tetapi lebih baik lagi 🙂 .

Bali: Pantai Dreamland

Berhubung sudah sampai Bali, tentu saya menyempatkan diri untuk puas-puasin main ke pantai. Efek saya tinggalnya di gunung, jadi begitu turun pengennya ke pantai terus!! Salah satu pantai yang ingin saya datangi adalah Pantai Dreamland di Bali Selatan. Saya ke pantai ini dengan harapan pantainya jauh lebih kosong dibandingkan Pantai Pandhawa yang sedang heits itu. Ternyata sampai di sana tetep rame aja 😀 .

Pantai Dreamland terletak di daerah Pecatu, kabupaten Badung, Bali. Uniknya pantai ini terletak di dalam area Pecatu Indah Resort.  Pantai ini memiliki ombak yang cukup besar sehingga banyak surfer yang ingin menjajal ombak di pantai impian ini. Keindahan dari pantai ini terletak di pasir putih serta deretan tebing yang mengelilingi pantai.

Berhubung tujuan saya ke Bali memang untuk menikmati pantai tanpa basah-basahan, jadi saya ga ada niat untuk berenang di sini. Kalau di Kute saya bisa sempat membaca novel, maka di Pantai Dreamland saya menyempatkan untuk ngerendem kaki. Saya juga beli jagung bakar!! Enak banget rasanya bisa makan jagung bakar di pantai. Biasanyakan nikmatin jagung bakar di gunung 😀 .

IMG_1162sejauh mata memandang, hannya ada warna biru dan cokelat

IMG_1164me at Dreamland Beach

IMG_1179I really love this photo!!

Asyik banget rasanya ngehabsin waktu sore-sore di pantai sambil ngobrol ringan bareng salah seorang sahabat. Rasanya saya yang saat itu ke Bali membawa semua uneg-uneg, memiliki waktu untuk sejenak menikmati keindahan alam dan bersyukur untuk semua yang terjadi hingga saat itu.

Bali: Garuda Wisnu Kencana

IMG_1116Garuda Wisnu Kencana Culture Park

Buat yang sering ke Bali, udah khatamlah ya soal Garuda Wisnu Kencana Culture Park yang terletak di bagian Selatan Bali. Saya sih penasaran aja sama tempat yang satu ini karena belum pernah 😀 . Saya makin tertarik karena seniman yang membuat patung Wisnu dan Garuda ini, I Nyoman Nuarta bermukim di Bandung dan bahkan punya galeri seni. Walau saya belum pernah ke galerinya yang bernama Nu Art, ga ada salahnya kalau melihat hasil karya beliau lewat patung Wisnu dan Garuda yang belum jadi dulu.

Saya dengar pembangunan patung GWK ini sempat berhenti karena krisis moneter dan di tahun 2013 kembali di bangun. Akan tetapi pembangunan patung GWK ini sedikit berbeda dengan sebelumnya karena akan dibangun baru. Ketika kesana tahun 2014, saya lihat bagian Selatan dari GWK memang sedang dikeruk untuk dijadikan bagian dari patung yang baru. Saya baru tahu kalau untuk pembuatan patung GWK ini, I Nyoman Nuarta melakukannya di Bandung, kemudian memindahkan potongan-potongan tersebut ke Bali. Besok-besok saya mesti ke Nu Art nih, siapa tahu bisa lihat potongan-potongan patung GWK yang sedang dikerjakan 😀 .

Kalau sekarang ke GWK Culture Park, mungkin sudah  bisa melihat pembangunan patung GWK yang baru. Selain patung dan kerennya pemandangan dari atas bukit, kita juga bisa melihat sendra tari yang selalu diadakan di amphitheater-nya.

IMG_1118Belakang saya adalah cerita Garuda Wisnu Kancana yang terdiri dari empat panel

IMG_1121Patung Wisnu tanpa lengan

IMG_1131Kepala Garuda

IMG_1161Pertunjukan tari di amphitheater

Saat saya ke sana jam 2 masih terlalu panas. Kalau mau lebih baik ke sana sekitar jam 3 atau 4 aja, biar lebih adem.

Garuda Wisnu Kencana Culture Park
Jl. Raya Uluwatu, Ungasan, Kuta Selatan
Badung 80364, Bali-Indonesia
Website: www.gwkbali.com

Bali: Kuta

Saya terakhir ke Bali saat kelas 3 SMP. Udah lama banget!! Waktu ke Bali lagi, rasanya deg-degan 😆 . Walau tujuan utamanya ke Ubud, tapi say amenyempatkan diri untuk nginep satu malam di Kuta. Kalau dari bandara sih sebenernya cuma butuh 10 menit buat ke sana.

Di Kuta saya menyempatkan diri untuk muter-muter. Maklum kalau dulukan bareng orang tua, diajaknya ke tempat wisata dan belanja terus. Sedangkan kali ini saya ke Bali berdua doang. Rasanya santai banget!! Kita sempet leyeh-leyeh dulu di hotel baru mikir mau maen ke mana 😀 .

Kalau di Kuta mau nyari hotel murah, ada Poppies line yang menyediakan banyak pilihan hotel di bawah Rp.300.000,-. Tinggal kita aja yang pinter-pinter milih. Masalahnya cuma satu: kalau cewe mesti hati-hati pas udah jam 9 malem, karena bakal banyak bule mabok. Selain itu, buat yang butuh tidur tenang, lebih baik milih penginapan yang deket jalan Pantai Kuta. Memilih penginapan di deket jalan Legian tentu bukan pilihan yang bagus karena di sana banyak bar dan pub yang buka sampai pagi. Kita yang milih penginapan di tengah-tengah aja masih bisa ngedenger suara musik ajeb-ajeb. Untungnya saya adalah orang yang gampang tidur. Mau seramai apapun di luar, kalau ngantuk sih tidur aja!!

Selama di Kuta saya dan teman seperjalanan Muti, muter-muter dari jalan Legian buat ngeliat Monumen Bom Bali. Untuk ke monumen ini, kita bakal ngelewatin jalan Legian yang kalau siang mah damai banget jalannya beda kalau malem 😀 . Lanjut dari monumen kita jalan ke Beachwalk Shopping Centre. Di sini banyak tempat makan yang mall banget kayak nanny’s, Tony Roma’s, atau Burger King. Kita sendiri sih cuma numpang ngadem aja buat ke arah Pantai Kuta. Ga niat deh jauh-jauh ke Bali buat muterin Mall.

IMG_1091Monumen Bom Bali

IMG_1094
walau panas tetep mejeng dulu 😀

Ternyata walau siang mentereng juga, di Pantai Kuta tetep rame sama bule-bule yang leyeh-leyeh ataupun surfing. Salah satu pemandangan yang bikin bengong adalah saat ngeliat ada yang baca buku di sana! Yeay ternyata ga hanya saya yang punya keinginan buat baca novel di pantai 😀 .

IMG_1104cerah

IMG_1284
kesampaian juga baca novel di pantai

Selain ke tempat-tempat di atas, saya juga menyempatkan diri ke Joger buat beli kaos. Saya suka banget beli kaos dengan tulisan daerah yang pernah saya datengin, udah kayak ngoleksi aja di rumah 😆 . Terus nyobain makan di Nasi Pedas Ibu Andhika yang terkenal itu. Kalau kata saya sih rasa makanannya biasa aja, masakan rumahan gitu.

IMG_1294nasi pedas Ibu Andhika

Jalan dari Poppies Line ke Joger ini lumayan juga, terus kepanasan , akhirnya begitu mau balik ke Hotel kita milih buat ngadem dulu di Discovery Shopping Mall. Bedanya dengan Beachwalk Shopping Centre adalah belakangnya langsung ketemu pasir pantai!! Ga perlu nyebrang dulu buat nemu pantai. Jadilah sambil ngadem, ngeliatin biru pantai juga. Bahagia banget!!!