Bad Genius

Film yang berhubungan dengan sekolah bisa dilihat dari banyak sisi. Mulai dari drama sekolahnya, hubungan antara siswa, hubungan siswa dengan guru, politik di dalam sekolah, bahkan urusan ekskul di sekolah. Bad Genius memilih sisi yang berbeda, mencontek. Bad Genius terinspirasi dari kisah nyata pembatalan nilai SAT – tes standardisasi bagi pelajar yang ingin melanjutkan kuliah di universitas-universitas Amerika Serikat – setelah terbongkar adanya praktek menyontek massal dalam ujian di Tiongkok. Yah ga perlu jauh-jauh juga sih, sejak zaman saya SMA pun praktek contek mencontek ini pun udah ada. Tapi ga pernah sekeren di film Bad Genius!!

Bad Genius menceritakan mengenai Lyn (Chutimon Chuengcharoensukying) seorang siswa cerdas yang masuk ke SMA bergengsi dengan mendapatkan beasiswa penuh. Di sana ia berteman dengan Grace (Eisaya Hosuwan) seorang siswa cantik namun memiliki nilainya ga cukup untuk dapat menjadi bagian dari ekskul drama sekolah. Lyn pun membantu Grace belajar dari soal-soal les yang didapat dari gurunya. Saat hari ujian, Lyn menyadari bahwa soal ujiannya sama persis dengan soal-soal les yang didapatkan Grace, namun Grace tetap tidak bisa menjawab ujiannya. Akhirnya Lyn membantu Grace dengan memberikan contekan. Grace pun menceritakan hal ini kepada pacarnya yang bernama Pat (Teeradon Supapunpinyo). Pat yang kaya raya menawarkan sejumlah uang kepada Lyn untuk membantunya dalam ujian. Di sanalah awal mulanya mencontek menjadi sebuah bisnis bagi Lyn, Grace, dan Pat. Lyn pun merancang kode untuk mencontek dengan menggunakan nada piano dan membuka kelas privat piano agar klien-kliennya dapat menghafalkan nada tersebut. Hingga mereka pun mencoba untuk melakukan bisnis mencontek saat ujian STIC – tes standar internasional untuk penerimaan mahasiswa yang ingin sekolah di Amerika -. Cara yang dilakukan pun berbeda dengan ujian di sekolah. Ujian STIC ini diadakan serentak di jam yang sama dalam setiap negara. Sampai disini Lyn pun memutuskan untuk terbang ke Sydney, ia bisa mengerjakan soal-soal tes duluan dan mengirimnya melalui percakapan sosial ke Bangkok. Hal ini bisa terjadi karena Perbedaan waktu antara Sydney yang lebih cepat dua jam daripada Bangkok.

Menonton Bad Genius membuat saya merasakan bahwa mencontek itu bisa sangat menegangkan seperti di dalam film. Apalagi dengan efek slow motion yang membuat ketegangan bertambah. Saat credit tittle pun, saya masih merasa sesak nafas!! Teknik-teknik mencontek serta strategi yang dilakukan di dalam sangat rapi. Saya sampai berpikir “gilaakk ada ya anak SMA yang kepikiran buat menyusun startegi kayak gini!”.

Bad Genius pun mengkritik mengenai sekolah yang seringnya menjadi ladang bisnis untuk sekolah itu sendiri maupun guru-gurunya. Seperti sekolah yang walaupun membebaskan uang masuk dan uang bulanan, namun tetap mengharuskan siswa membayar untuk seragam dan uang pembangunan sekolah. Selain itu guru-guru pun sering mengadakan les privat dan memberikan soal-soal yang sama dengan soal-soal yang akan diujikan di kelas. Hal-hal seperti ini ga hanya terjadi di sekolah Thailand, sekolah-sekolah di Indonesia pun kurang lebih memiliki permasalahan yang sama dan masih menjadi pr buat kita semua.

Diakhir film saya baru sadar kalau Bad Genius ini masuk kategori film Thriller. Pantesan rasanya deg-degan dari awal hingga akhir film. Kalau biasanya film-film Thriller bersetting pemberontakan, penculikan, ataupun perampokan, tapi kali ini saya menonton film Thriller dengan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saya sih sangat merekomendasikan untuk menonton film ini. Semoga masih ada di bioskop ya.

 

Advertisements

Setengah Hari di Phnom Penh

Saya berada di Phnom Penh tidak sampai 24 jam. Pada hari pertama perjalanan, saya hanya berada di sana selama tiga jam. Beberapa hari setelahnya pun saya transit di Phnom Penh hanya empat jam.

Saat awal perjalanan saya dan dua orang teman memang bingung dengan kegiatan yang akan kami lakukan di Phnom Penh. Sejauh yang kita baca soal Phnom Penh banyaknya orang mendatangi Killing Field, Night Market, Royal Palace, serta beberapa Wat. Killing field sudah pasti kita coret karena ga suka melihat luka masa lalu dan serem juga sih. Masuk Lobang Buaya di Jakarta aja udah merinding, apalagi harus mendatangi Killing Field!

Pada transit pertama akhirnya kita berpikir untuk keliling-keliling cari makan dan melihattempat yang biasa didatangi oleh turis. Sebelumnya kita menitipkan tas ke Giant Ibis Travel yang terletak tepat di samping Night Market dan keliling kota naik tuk-tuk. Saya dan teman-teman sempat mampir ke Royal Palace. Sayangnya tempat ini tutup dari jam 11.00 hingga jam 13.00. Jadilah perjalanan pun dilanjutkan dengan berkeliling melihat Wat Ounalom, melihat aktivitas orang-orang di Kandal Market, melewati Old Market, serta mendatangi Wat Phnom. Sayangnya kita ga sempat untuk berkunjung ke Mesjid Al Serkal karena waktu sudah mendekati keberangkatan travel ke Sihanoukville 😦 .

Saat berkeliling ini saya melihat Phnom Penh sedang melakukan banyak pembangunan. Mulai dari membangun infrastruktur seperti jalan layang hingga apartemen dan gedung perkantoran. Sepertinya saat saya ke sana beberapa tahun lagi, akan semakin banyak gedung-gedung tinggi di sana.

IMG_0284

IMG_0287

IMG_0301

Royal Palace

IMG_0303

Wat Ounalom

Saat transit kedua saya dan teman-teman berkeliling Night Market yang ada tepat di depan Giant Ibis. Seru banget ya Night market di sana. Di pintu mausk, saya sempat melihat ada sekelompok pemusik. Kemudian sebagaimana Night market lainnya banyak banget yang jualan baju, tas, jam, sepatu, hingga aksesoris. Semuanya ada di sini!

Di bagian belakang Night market kita bisa menjumpai banyak pedagang makanan serta tempat duduk yang luas untuk pengunjung. Asyik banget!! Cuaca Phnom Penh yang panas membuat saya dan teman-teman memilih ngemil es krim di batok kelapa. Segeerr banget. Apalagi kita dapet bonus air kelapa yang manis. Buat yang mencari makanan halal, tepat di sebelah tukang es krim ini ada yang jual makanan halal. Jadi ga susah buat nyari makanan halal di Phnom Penh Night Market.

XXBA5711

RUIA7264

SXZK8288

*Foto-foto di Night Market diambil dari kamera hp Teh Wina

Tiga Belas Hari, Tiga Negara, Lima Kota

Tahun lalu saya menghadiahi diri sendiri jalan-jalan selama empat hari ke Kuala Lumpur bersama sahabat bagai saudara. Sedangkan tahun ini saya merencanakan untuk menambah waktu jalan-jalan menjadi 13 hari. Ide liburan selama itu sudah saya rencanakan sejak tahun lalu bersama dua orang kakak angkatan saat kuliah dulu. Sekalian merayakan kelulusan di bulan Februari kemarin.

MSPM3417

at Sihanoukville

Sejak kepulangan saya minggu kemarin, rasanya masih tidak percaya saya berhasil melalui perjalanan selama 13 hari bepergian ke-3 negara dan mengunjungi 5 buah kota. Jalan-jalan kali ini pun memang tidak seoptimis biasanya. Saya ingin merayakan setiap langkah diumur yang baru ini dengan sesadar-sadarnya dan menikmati semua yang terjadi.

Selama 13 hari saya menghabiskan setengah hari di Phnom Penh, tiga hari di Sihanoukville, tiga hari di Siem Reap, lima hari di Bangkok, serta tiga hari di Kuala Lumpur. Tadinya sih optimis mau ke Hua Hin di Thailand dan ke Melaka di Malaysia. Apa daya kita lebih memilih untuk berjalan lambat menikmati setiap hari di kota yang didatangi. Tidak mau buru-buru dikejar waktu. Mungkin lain kali saya bisa berkunjung ke kota-kota yang belum didatangi.

Sepanjang perjalanan ini saya ditemani orang-orang baik hati nan jahil yang membuat tiap harinya ada aja yang kita ketawain sampai diobrolin serius. Mereka selalu mengingatkan saya untuk lebih rileks, lebih santai menghadapi semuanya. Dinikmatin semua keputusan yang diambil baik dari jauh ataupun dadakan. Saya juga bertemu, berkenalan, hingga jalan bareng dengan beberapa orang yang dikenal saat perjalanan. It’s always nice to meet new people and talking about anything. Hingga rasanya pulang dari liburan kali ini hati dan jiwa terasa penuh.

Cerita lengkap mengenai perjalanan menyusuri lima kota di tiga negara selama 13 hari akan saya tulis secara terpisah ya 😀 .

Berkah Nama “Ira”

Di hari ulang tahun kemarin, saya lagi pengen banget makan enak malem-malem. Orang yang kemarin saya tarikin buat ikutan mikir kira-kira makanan apa yang enak, sempat memberikan beberapa pilihan tempat mulai dari Dim Sum ITB yang enak dan murah meriah sampai Hummingbird. Tadinya saya pengen makan sushi karena udah lama banget ga makan, tapi ditolak dengan alesan “mahal untuk bisa sampai kenyang banget!!”. Ya ya ya masuk akal kalo denger ceritanya 😀 .

Setelah berputar dan berputar antara mau ke Holy Ribs dan melihat-lihat ada promo buat yang ulang tahun di restoran mana aja, pilihan akhirnya sampai di Wing Stop Paskal23. Alesannya sesederhana karena kita sama-sama belum pernah nyobain Wing Stop ini. Apalagi di sana lagi ada promo beli 17 crunchy wings dapet diskon 45% untuk yang memiliki nama Agus, Ina, Dewi, Ira, Ika, Ria, Ana and Putri.

Awalnya saya ragu banget, karena Ira itukan nama panggilan dan tipis banget ada dinama lengkap saya. Tapi cobain dulu aja kali ya..kalo ditolak kita pilih menu yang lain atau bahkan makan di tempat lain. Ternyata saat ngobrol sama mbak kasirnya bisa dong pake nama saya. Akhirnya kita pesen deh paket promonya sambil ga sadar berapa jumlah sayap ayamnya. Beneran cuma lihat kalau bisa dapet diskonnya doang 😆 😆 . Awalnya sempet kaget sih karena kita dapet 17 potong sayap ayam!!! Itu banyak banget untuk kita yang cuma makan berdua. Tapi…yah hajar ajalah. Kita pun pesen ditambah 2 nasi dan 2 minuman yang bisa direfill. Ini pesen antara lapar, kalap, dan tanggung udah nyobain promosi. Hahahahaha!!!

Oia untuk 17 potong sayap ayamnya kita cuma bayar Rp.66.000,- belum termasuk pajak!! Beneran worth it bangetkan.

FullSizeRender (1)

Begitu pesanan nyampe di meja, kita ampe bengong ngeliatnya. Banyak yaaaaaa!!!! Di meja kita tersedia 17 potong sayap ayam dengan 4 bumbu pilihan, 2 saos dipping, 2 nasi, dan 2 minum. Kayaknya yang ngeliat kita bakal bengong deh :p . Berhubung momen langka tentu sama kita berdua diabadikan dan dikasi lihat di grup. Kita punya seorang temen yang kemaren-kemaren pengen banget makan Wing Stop soalnya.

Rasanya bahagia banget saat pertama kali nyobain Wing Stop bisa langsung pesen empat macam bumbu untuk ayamnya. Kita sih nyobainnya garlic parmesan, mango habanero, lousiana rub dan teriyaki. Begitu mencoba makan sayap ayam satu persatu dari setiap bumbunya, favorit kita sih mango habanero sama lousiana rub. Untuk teriyakinya kita ngerasanya kemanisan dan garlic Parmesannya biasa aja. Ga seenak lousiana rub.

Apakah kita berhasil ngabisin semuanya? Sayangnya engga. Sayap ayamnya sisa dua dan akhirnya kita bungkus.  Dipikir-pikir parah banget ya, berdua makan 15 potong sayap ayam sama nasi 😆 😆 .

Halo Agustus!! Halo Tanggal Delapan!!

Hari ini saya kembali berulang tahun, menghitung berkurangnya umur saya di bumi. Tahun ini merupakan tahun terakhir saya memiliki usia kepala dua!!! Yah ini juga sih yang membuat saya sampai menuliskan keresahan menjelang bulan Agustus. Tetapi kegalauan kemarin ga berlangsung lama. Seminggu kemudian saya diberi beberapa kebahagiaan kecil yang datang silih berganti. Manisnya beneran mengingatkan untuk selalu bersyukur, berpikir jernih, dan kembali melihat apa yang sebenernya saya inginkan.

Sepanjang perjalanan menuju usia 29 ini, saya banyaaaakk banget dihadapkan pada pertanyaan mengenai nilai-nilai yang ada disekitar saya. Ada beberapa kejadian yang ga pernah saya bayangkan ternyata menjadi sebuah momen yang membuat saya kembali berpikir tentang banyak hal dan mengubah sudut pandang. Menjadi pribadi yang selalu sadar dan mindful memang ga gampang. Saya tetap belajar dan belajar untuk lebih menjejakkan kaki ke tanah yang hangat, merasakan dinginnya tetesan hujan, serta panasnya mentari.

Memiliki umur terakhir berkepala dua berarti saya diingatkan kebanyakan orang untuk segera menikah. Sampai ada seorang om yang mengatakan “jangan kebanyakan milih Ra!!”. Errr kalau kita milih sayur di pasar aja dipilihkan ya? Apalagi pasangan hidup. Okay, cukupkan dululah soal obrolan jodoh ini. Saya sih selalu percaya bahwa semua ini sudah digariskan sama Tuhan YME. Jodoh tentu akan ketemu kalau sudah waktunya.

Mari bersyukur. Saat ulang tahun ini, saya masih diberi umur untuk bisa makan nasi kuning bareng sama keluarga dan temen-temen terdekat *yah walau minus si adik super sibuk itu yah*. Saya juga sepanjang sore ngobrol ngalor ngidul bareng adik yang baru kemaren-kemaren ketemuan. Seneng rasanya bisa ngobrol, dapet informasi baru, dan juga sudut pandang baru.

Bagian menarik dari hari ini adalah ketika saya masih diberi kesempatan untuk menikmati momen bertambahnya usia dalam situasi yang damai dan tenang ditemani segelas cokelat hangat dan tetesan air hujan. Benar-benar hadiah indah dari Tuhan YME!!

IMG_0083

Merayakan ulang tahun dengan segelas cokelat hangat ditemani hujan

Hai perjalanan 29 menuju perubahan angka di depan, mari gandengan menjalani hari-hari dengan lebih sadar lagi.

Rendy Pandugo

Saya baru saja mendengar lagu Rendy Pandugo yang terbaru berjudul Silver Rain ini. Ya ampun..liriknya manis banget!! Bercerita soal temen masa kecil yang akhirnya membuka kapsul waktu mereka sepuluh tahun kemudian. Ngedengernya beneran bikin senyum senyum sendiri!!

Kalau cuma ngedenger lagunya aja, ga akan nyangka deh kalau penyanyinya orang Indonesia. Suaranya beneran renyah dan pelafalan kata Bahasa Inggrisnya pun bagus. Ngingetin saya sama lagu-lagu berbahasa Inggrisnya Mocca yang ga banyak orang yang nyangka kalau Indonesia punya pemusik-pemusik kayak mereka.

Sebenernya saya pertama kali kenal sama Rendy Pandugo ini dari sahabat saya, Yaya. Dia ngerekomendasiin buat denger dan nonton video klipnya Rendy Pandugo yang berjudul I don’t care.

Setelah ngedenger lagu dan video klipnya, saya beneran jatuh cinta. Video klipnya kereeen!! Simpel dan suasananya beneran pas aja sama lagunya. Memang sih, dari sisi lagu dan lirik bukan lagu yang membahagiakan kayak Silver Rain. Tapiii saya sukaaaakkk.

Selain dua singlenya ini, Rendy Pandugo juga pernah ngisi soundtrack untuk film Galih dan Ratna!! Memang lagu-lagunya masih jarang terdengar, mari kita doain aja Mas Rendy *akraaaabbb* bisa makin sukses 🙂 .

Yumaju Coffee Shop

IMG_8314

Terima kasih buat temen-temen di Instagram yang membuat saya kenal sama tempat ngopi di Jalan Maulana Yusuf ini. Saya lagi pengen nyari tempat baru untuk ngerjain laporan yang menumpuk plus ngerevisi tesis *iyaaahh udah wisuda kapan, baru mau ngerjain revisian kapan*. Tempatnya ga perlu aneh-aneh asal ada wifi, kopinya enak dengan harga terjangkau, plus ada cemilan buat temen ngopi. Semuanya ada di Yumaju.

IMG_8269

IMG_8273

Saya semakin suka ke sini karena baristanya ngasi pilihan mau pake biji kopi apa. Saya yang sebenernya buta sama perbijian kopi ini jadi mulai tahu perbedaan dari biji Kopi Toraja sama Aceh Gayo. Baristanya juga ramah-ramah dan suka ngajak kita ngobrol semakin menambah kehangatan di Yumaju.

IMG_9314

Latte

IMG_8270

salah satu varian tehnya

IMG_8196

cokelat panas

Selain kopi, mereka juga menyediakan beragam varian teh yang enak-enak. Temen saya pernah mesen teh berrynya dan beneran harum dan kerasa manis gitu tehnya. Apalagi mereka emang ngeracik sendiri alias pake daun teh beneran.

Untuk cemilannya, disini ada beragam pilihan pastry. Saya sih seneng banget sama bolen mereka yang enak, ga terlalu manis dan harganya cuma sepuluh ribu rupiah!! Duh bahagia banget rasanya. Kalau mau yang agak berat, di Yumaju juga ada sandwich dan pilihan cemilan-cemilan ringan kayak bitterbalen. Kalau laper banget mereka nyediain juga sih kayak lontong kari, garang asem, nasi goreng, dan nasi dengan daging sapi tapi memang bukan bagian dari menu utamanya mereka ya.

IMG_8203

bolen pisangnya enaakkk

IMG_8204

salah satu menu nasinya

Di sini mereka punya pantry untuk tempat air mineral, gula, tisu, hingga saos. Mereka juga punya tempat khusus untuk tempat gelas dan piring kosong. Semuanya self service.  Jadi jangan lupa buat nyimpen bekas minuman dan makanan kita di sana.

Saya suka kalau dateng ke sini pagi-pagi karena masih sepi. Enak banget buat ngerjain laporan yang sering saya tumpuk *salahkan prokrastinasi*. Kalau udah siang, saya pilih sekalian makan aja di sini dan tetep ngerjain laporan. Pokoknya pantang pulang sebelum target hari ini selesai. Nasib banget suka ga konsen kalau ngerjain di rumah. Bawaannya pengen nonton dan tidur mulu. Makanya ketika dateng ke Yumaju saya bisa loh pesen kopi plus bolennya pagi-pagi lanjut makan siang dan pesen teh buat nemenin makan. Paling baristanya yang bosen lihat saya di sana 😀 . Oia berhubung emang harga kopi, teh, dan makanannya masuk akal banget, sepanjang hari di sana saya ngeluarin uang ga sampai 100.000.

IMG_9325

bagian luarnya adem banget buat ngobrol

Kalau malem ke sini, saya lebih seneng untuk ngobrol-ngobrol. Kayak H+3 lebaran, saya dan seorang sahabat ke sini buat ngeteh dan minum cokelat sambil ngobrol ngalor ngidul. Suasana dengan pencahayaan kuningnya bikin suasanya makin hangat.

Yumaju
Jl. Maulana Yusuf No. 10 Bandung
Buka dari jam 07.00