Kebutuhan dan Ego

Tulisan ini dibuat sebagai hasil observasi, renungan, dan pertanyaan yang saya ajukan sejak hari kedua saya menginjakkan kaki ke Kota Haram (Madinah dan Mekah). Sejak manasik umrah di minggu kedua Februari 2020, saya dan rombongan sudah diwanti-wanti oleh pembimbing kami untuk tidak ngoyo dan memaksakan untuk melaksanakan ibadah sunnah di tempat-tempat yang katanya paling mustajab atau paling sering dikabulkan doanya. Alasannya adalah karena semua orang tentu ingin mendapatkan keutamaan-keutamaan yang ada di tempat-tempat tersebut dan apabila sudah begitu, maka terkadang lebih banyak merugikannya dibandingkan faedahnya seperti jadi menyikut orang lain, mendobrak pembatas, mengambil jalan orang lain, bahkan secara ga sengaja mencelakakan orang lain. Jangan sampai demi doa kita dikabulkan, orang lain mendapat kerugian.

antrian jamaah perempuan saat ke Raudhah

Awalnya saya ga pernah terbayang bahwa hal-hal yang dikatakan di atas ini akan benar-benar saya lihat dan rasakan sendiri. Terbayangnya ibadah umrah ini kan tidak akan sepenuh seperti saat musim haji, jadi tentu akan lebih kosong yang mana tentu salah besar!!! Meski ‘hanya’ umrah, menurut saya jamaah yang berdatangan pun tetap buanyak dan berbagai negara. Saya bahkan ga sanggup memikirkan akan sepenuh dan berdesakan seperti apa ketika musim haji. Tentu cobaan untuk ga julid dan murka akan semakin besar. Sebuah informasi, Kota Madinah dan Mekah disebut tanah Haram karena selama di sana balasan akan pikiran, perkataan, dan perbuatan benar-benar akan dibayar tunai 100%. Sesimpel seperti mama dan kakak ipar saya yang kesal dengan sekelompok orang yang sering telat masuk ke bus tur kita, siangnya kita dong yang paling telat masuk bus!!

Balik lagi ke soal kebutuhan dan ego, saya melihat betapa banyaknya orang -dan mungkin saya sendiri- yang sempat memaksakan untuk bisa melakukan ibadah tanpa memperhatikan apakah sebelah saya tetap merasa nyaman atau tidak, tidak mengganggu ruang orang lain, bahkan ada yang mendorong demi bisa masuk ke tempat seperti Raudhah dan juga Hijr Ismail. Ada yang memotong jalan tanpa memperhatikan kiri dan kanannya demi bisa menyentuh Hajr Aswad. Melihat kesemuanya membuat saya termenung, beginilah hidup. Kadang kita tidak sadar sudah menyikut, mendesak, atau bahkan melompati orang lain demi bisa mencapai tujuan kita. Begitupun untuk menginginkan sesuatu yang menurut kita demi kepentingan yang mulia tapi pada prosesnya banyak menyakiti pihak-pihak lain. Benarkah sesuatu yang kita tuju ini adalah penting dan untuk kepentingan banyak orang atau sebenarnya niatan sebenarnya justru untuk memberikan makan kepada ego yang ada di dalam diri?

Apapun tujuannya, sikap kitalah yang akan memberikan jawabannya. Sepandai-pandainya kita menutup-nutupi, saat dikeadaan yang paling menantang dan genting seperti demi masuk dan menunaikan ibadah di tempat yang paling mustajab, di saat itulah niatan kita akan terlihat. Kesadaran untuk dapat mencapai tujuan pun menjadi terlihat. Mana orang yang masih sadar dan berusaha tidak merugikan orang lain atau pun ada yang kehilangan kesadaran dan menjadi emosi.

Saya jadi ingat sebuah pesan dari seorang teman yang tinggal dan bekerja di Ubud. Ubud memang terkenal dengan suasana yang tenang dan damai serta menjadi tempat retreat untuk banyak orang. Tetapi apabila tidak berhati-hati banyak juga yang pada akhirnya menjadi tidak sadar dan masuk terlalu dalam ke prosess retreat yang mereka lakukan di Ubud. Sesuatu yang juga saya lihat ketika berada di Mekah.

Semoga kita semua pun tetap dalam keadaan sadar dan tidak memenuhi keinginan dan ego semata.

Sebelas Tahun Bersama WordPress

Tepat tanggal 23 Januari 2020 lalu blog saya berulang tahun yang kesebelas. Sebelas tahun!!! Kalau punya anak, ia akan tamat SD tahun depan :D.

Meskipun tahun lalu jumlah tulisan saya sedikit sekali, namun setidaknya blog ini terus berjalan. Mungkin jumlah pembacanya tidak banyak, namun saya menulis blog dengan niat mengkristalkan isi kepala dan perasaan secara digital, jadi yah lanjut terus deh menulisnya.

Sebelas tahun bukan waktu yang sebentar, banyak sekali perubahan yang terjadi dari ranah blog sendiri. Teman-teman yang menulis blog sudah semakin berkurang. Awalnya saya merasa dengan semakin mudahnya informasi didapatkan, kegunaan blog sudah semakin menurun. Ternyata tidak sepenuhnya tepat. Mau sehingar bingar apapun tiktok, youtube, instagram, dan twitter; pada saat mencari sebuah catatan perjalanan, informasi mengenai suatu tempat, ataupun melihat informasi terkait pendidikan, fashion, dan beberapa isu lain, blog tetap menjadi pilihan saya. Mungkin karena sifatnya yang personal dan (terkadang) detail bisa membantu saya mendapatkan informasi yang subyektif. Tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang pun mulai jarang orang yang menulis blog tanpa disertai dengan ngiklan, namun tetap terasa loh mana tulisan yang ditulis secara personal dengan yang memang hanya sebagai kewajiban karena sudah diundang ke acara tertentu.

Apapun yang terjadi di dunia digital ini, saya pribadi tetap ingin menuangkan tulisan di blog wordpress. Saya ga tahu apakah perubahan tulisan dari awal ngeblog degan sekarang sudah jauh berubah atau belum, tapi yang pasti cerita-cerita dan perjalanannya semakin berbeda. Pasti lah, dulu saya masih berkutat dengan tugas kuliah, sedangkan sekarang saya berkutatnya dengan pekerjaan 😀 , pengalaman, drama, dan apa yang bikin bahagia di hidup pun sudah berbeda. Semoga saya masih bisa bercerita lebih banyak lagi di sini.

Halo 2020!!

Di awal tahun ini banyak sekali kejadian yang datang silih berganti. Mulai dari senang dan sedih benar-benar datang bergantian. Berlibur bersama sepupu ke Penang serta berkesempatan menonton konser Super Junior menjadi pembuka tahun yang menyenangkan. Soal jalan-jalan dan nonton konser ini akan saya tulis terpisah. Selain hal-hal yang bikin senyum ini, beberapa kali saya mendengar kabar duka dari kerabat jauh yang meninggal, ada yang sedang sakit, serta terkena banjir di Jakarta.

Awal tahun yang luar biasa! Semoga sepanjang tahun nanti kita semua mendapatkan kesabaran, kelapangan, dan keterbukaan untuk hal-hal yang akan terjadi kelak. Baik hal yang baik, menyenangkan, menyebalkan, atau menyedihkan.

Selain itu, di tahun ini saya ingin kembali rajin menulis mengenai hal-hal yang ingin saya bagikan maupun dikristalkan secara digital di sini.

Selamat tahu baru!!!

Perasaan-perasaan yang Mampir di Tahun 2019

Tahun ini adalah tahun yang menguras emosi, baik dari sisi romansa, pertemanan, maupun pekerjaan. Lengkap semua silih berganti datang mengetuk. Rasanya seperti dapet tamu yang terus-terusan dateng ke rumah. Senang, kesel, sedih, serta patah hati bolak balik sepanjang tahun. Mungkin ini juga adalah jawaban dari doa tahun lalu yang saya panjatkan ketika bertanya-tanya akan mendapatkan emosi macam apa di tahun ini.

Selain emosi yang udah berasa main roller coaster, saya juga banyak melakukan evaluasi terhadap diri sendiri, saya belajar untuk mundur. Mundur karena bukan waktu yang tepat dan juga (ternyata) bukan orang yang tepat. Rasanya belajar untuk mundur dan melepaskan harapan-harapan dan angan yang saya kira mampu dilakukan itu lebih sulit dari pada menerjang maju. Benar-benar sebuah pukulan telak buat saya untuk ga bersikap terlalu percaya diri dan lupa untuk berani berkomunikasi ketika perasaan sudah tidak enak. Memang apapun bentuk hubungannya, komunikasi dan saling mendengar adalah koendji!! Ini juga kayaknya merupakan jawaban lain dari pertanyaan saya tahun lalu terkait apa lagi yang perlu saya perbaiki di tahun ini. Beneran semua kontan dijawab sama Allah SWT.

Belajar untuk nyaman ketika sendiri pun menjadi upaya yang perlu kembali saya pelajari setelah beberapa tahun ini merasa nyaman dengan diri sendiri. Kaget sendiri sih saat saya dalam keadaan seperti ini. Kalau ini sih sudah pasti berhubungan dengan sesi romansa yang sempat bertamu di tahun ini. Saya juga ga nyangka sih bakal ketemu sama rasa ini lagi, rasa senang, gemas, dan juga kembali sepi saat sendiri. Seneng juga masih bisa merasakan lucu-lucu gemasnya perasaaan ini setelah lama absen 😀 .

Tahun ini pun saya punya banyak kenalan yang berakhir menjadi teman-teman dekat. Sesuatu yang beberapa tahun lalu tidak pernah terbayang bisa mendapat banyak teman baru karena seringnya duduk bekerja dan bengong di sebuah kedai kopi.

Tahun 2019 sungguh berwarna dari berbagai sisi kehidupan. Rasanya lengkap dan nano-nano.

Terima kasih ya Ira, kamu sudah mau mendekap semua perasaan yang ada dan benar-benar memeluk semuanya sehingga ketika mereka silih berganti datang kamu bisa mengambil hikmahnya dan mau berubah menjadi lebih baik lagi untuk diri sendiri dan lingkungan. Ga papa ketika mendung menghinggapi dan hujan mulai turun, kamu pun ikut menangis, karena ini tidak selamanya. Tak lama hujan akan reda, pelangi akan muncul, udara segar akan kembali menghampiri dan kamu bisa kembali tersenyum. Mari menyamput 2020 dengan ritme hidup yang lebih pasti!!

PS, Terima kasih Mbak Gope sudah memfoto saya menggunakan kamera Fajar.

Ngobrolin Kedai Kopi

Sudah lama sejak terakhir saya duduk lama dan diam menikmati suara hujan di dalam sebuah kedai kopi. Saya rasa sejak akhir tahun lalu, setiap ke kedai kopi rasanya selalu riuh. Mulai dari ngobrol random dengan orang yang baru saya kenal di sebuah kedai kopi yang berakhir jadi teman makan bareng dan jadi ngobrol setiap ketemu. Ini beneran random kan?! Kalau engga saya sengaja ke kedai kopi yang sepi tapi untuk bekerja. Kalau udah selesai dan ingin mencari keriuhan tinggal ke kedai kopi yang itu dan saya akan ketemu banyak orang untuk mengobrol.

Berdiam di sebuah kedai kopi yang hangat, sendiri, menyelesaikan pekerjaan, dan membuat sebuah tulisan di blog, dan berakhir melihat hujan. Kayaknya kalau tidak kejebak hujan, saya tidak menyadari hal ini deh.

Mencari kedai kopi yang hangat, enak, tidak berisik, dan harga bersahabat itu gampang-gampang susah. Ada yang enak, tempatnya tidak terlalu nyaman. Ada tempat yang nyaman, sepi, dan hangat, tapi harganya terlalu over price. Akhirnya setelah beberapa bulan ini, saya menemukan lagi melalui sebuah kedai kopi di dekat rumah. 

Terkadang memang kita perlu mencari untuk bisa menemukan kembali titik keseimbangan dalam hidup. Di saat saya ingin menyeimbangkan diri dari riuhnya ketika bekerja di kedai kopi tertentu, saya kembali mencari di mana saya bisa bekerja dengan ketenangan. 

Bukan berarti saya ga suka keriuhan ya, saya senang sekali lewat sebuah kedai kopi, kita bisa bertemu dengan teman dan menjadi kawan ataupun rekan kerja. Saya selalu mengusahakan untuk ke sana di akhir minggu untuk melepas penat setelah bekerja selama seminggu. Bertemu dengan orang-orang yang sama lelahnya dengan kerjaan dan pengen ketawa-ketawa menghadapi akhir pekan.

Ah akhir tahun sudah diujung sana, selamat berlibur, selamat menjelang akhir tahun.

Kopi, Teh, dan Cokelat

Saya selalu menyukai ketiga minuman ini. Uniknya setelah saya perhatikan, saya memiliki waktu dan kegiatan yang berbeda untuk ketiga jenis minuman yang paling enak dinikmati saat hangat. Saya pernah berbagi ide ini dengan beberapa orang dan mereka akhirnya mencoba melihat perilakunya saat sedang memesan ketiga hal ini dan menarik banget!!

Untuk yang pertama adalah kopi. Saya hampir selalu membutuhkan kopi saat sedang bekerja. Seorang guru pernah berkata bahwa ia perlu secangkir kopi di pagi hari untuk membantunya fokus ketika bekerja. Hal ini sangat saya aamiini karena itu juga yang merupakan alasan saya meminum kopi. Apalagi ketika laporan sedang menumpuk tapi ga punya niat untuk bekerja, kopi merupakan bentuk rangsangan yang membantu saya lebih konsentrasi mengerjakan tumpukan laporan.

Berbeda lagi dengan teh. Duduk dan meminum teh biasa saya lakukan ketika ingin berkarya atau melakukan pekerjaan yang butuh kreativitas. Teh yang diminum bukan teh kot*ak atau teh bot*ol ya atau es teh yang biasa dipesen saat makan siang. Tapi memang memesan teh untuk melakukan kegiatan. Selain itu minum teh juga enak banget sambil makan kue dan mengobrol bersama teman. Ketika menuliskan ini, saya jadi sadar mungkin karena ini apabila di negara-negara Eropa mereka punya kebiasaan untuk waktu minum teh.

Selain kedua mood yang terbangun saat meminum kopi dan teh, mood yang dibangun dengan meminum segelas cokelat hangat pun berbeda. Seperti judul blog ini, cokelat hangat, hujan, dan novel merupakan perpaduan paling pas. Untuk saya cokelat itu membuat rileks sehingga cocok banget diminum saat saya ingin beristirahat serta memiliki waktu untuk diri saya sendiri. Selain itu ketika udara Bandung lagi dingin banget seperti akhir-akhir ini, cokelat hangat sudah pasti menjadi teman terbaik.

Kalau temen-temen memilih minuman sesuai dengan kegiatannya juga ga?

Puno Letter To The Sky

Tidak pernah terbayangkan, saya yang semenit sebelumnya masih tertawa dengan kelakukan papa Puno dan Tala tiba-tiba meneteskan air mata. Rasanya dada ini ikut sesak merasakan kekalutan Tala maupun papa Puno. Hingga akhirnya perahu-perahu kertas yang berada di langit-langit diturunkan pertanda pertunjukan telah usai.

Sudah hampir satu tahun sejak saya menonton Puno Letter to The Sky yang dipentaskan oleh Paper Moon Puppet Theater di Ifi Bandung. Mereka merupakan kelompok teater boneka yang berasal dari Yogyakarta. Untuk yang udah nonton AADC2, waktu Cinta dan Rangga nonton pertunjukan boneka itu merupakan pertunjukan Paper Moon loh.

meja kerja papa Puno

Saat pertunjukan Puno Letter to The Sky mampir ke Bandung, saya nyaris ga berjodoh karena awalnya mau menonton dengan sahabat kuliah, ternyata di hari pementasan pertamanya saya masih harus bekerja ke luar kota. Untungnya ada seorang sahabat yang ingin menonton di hari Sabtu dan kami masih kebagian tiketnya!!! Jodoh ga ke mana.

Di hari H pertunjukan, saya segera menukarkan bukti pembelian dengan sebuah tiket yang berupa amplop dengan segel dibelakang bertuliskan:

Dedicated to the people who missed their beloved one who already passed away

Hati ini serasa disiapkan dengan pertunjukan yang akan menguras tidak hanya air mata, tapi juga mengolah perasaan-perasaan yang akan menghampiri selama pertunjukan.

Puno Letter To The Sky menceritakan mengenai seorang gadis kecil bernama Tala yang hidup bersama dengan papa Puno. Mereka selalu bersama hingga akhirnya apa Puno meninggal. Sebagai gadis yang masih kecil, Tala merasa marah dan sangat sedih ketika ditinggal oleh papa Puno. Hingga Tala dapat merasakan kehadiran roh papa Puno dan masih dapat bersamanya hingga 40 hari ke depan. Lalu setelah itu apa yang dilakukan Tala saat ia harus mengucapkan selamat tinggal kepada papa Puno?

salah satu perahu berisikan surat dari yang kehilangan, untuk yang telah meninggalkan mereka lebih dulu

Selama 45 menit saya diajak untuk merasakan hari-hari penuh kehangatan bersama Tala dan papa Puno hingga perjuangan Tala untuk dapat menata dirinya ketika berhadapan dengan kehilangan orang yang paling disayanginya. Tidak hanya perjuangan Tala, tapi juga kebingungan dan keresahan papa Puno ketika mengetahui umurnya tidak lama lagi serta saat-saat awal kematiannya.

Bercerita tentang kehilangan setiap orang pernah mengalami kehilangan dan perasaan kesepian, namun tidak ada yang begitu menyesakkan dada ketika orang-orang terdekat dan tersayang yang meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Puno Letter to The Sky membantu saya untuk melihat kedua sisi dari kehilangan. Bahwa semuanya bersedih dan kebingungan hingga akhirnya bisa mengatasi perasaan-perasaannya dan menerima kenyataan yang ada.

Hingga di akhir pertunjukan, penonton dapat maju ke depan dan melihat property yang digunakan selama pertunjukan serta mengobrol dengan Pupperter. Selain itu kita bisa membaca surat-surat yang ada, yang ditulis dengan berbagai bahasa, untuk orang-orang tersayangnya yang telah meninggalkan mereka terlebih dahulu. Untuk orang tua, kakek, nenek, anak, maupun sahabat. Rasanya begitu pertunjukan selesai, perasaan-perasaan yang berkecamuk di dada ini tidak serta merta menghilang. Saya dan sahabat saja sampai bengong dulu di luar untuk menenangkan diri.

Bagi yang penasaran dengan Puno Letter to The Sky, akhir bulan ini Paper Moon Puppet Theater akan mengadakan pertunjukan selama dua hari saat Makassar International Writer Festival (MIWF). Seandainya saya bisa ke Makassar, rasanya ingin kembali menonton dan berjumpa kembali dengan Tala dan papa Puno. Buat yang ke MIWF pastikan pada nonton ya dan jangan lupa bawa tisu atau saputangan.

Terima kasih banyak kepada Mbak Ria yang telah membuat Paper Moon Puppet Theater ada dan membagikan cerita yang indah kepada saya dan penonton lainnya. Semoga saya bisa segera menyaksikan kembali pertunjukan Paper Moon.