Rendy Pandugo

Saya baru saja mendengar lagu Rendy Pandugo yang terbaru berjudul Silver Rain ini. Ya ampun..liriknya manis banget!! Bercerita soal temen masa kecil yang akhirnya membuka kapsul waktu mereka sepuluh tahun kemudian. Ngedengernya beneran bikin senyum senyum sendiri!!

Kalau cuma ngedenger lagunya aja, ga akan nyangka deh kalau penyanyinya orang Indonesia. Suaranya beneran renyah dan pelafalan kata Bahasa Inggrisnya pun bagus. Ngingetin saya sama lagu-lagu berbahasa Inggrisnya Mocca yang ga banyak orang yang nyangka kalau Indonesia punya pemusik-pemusik kayak mereka.

Sebenernya saya pertama kali kenal sama Rendy Pandugo ini dari sahabat saya, Yaya. Dia ngerekomendasiin buat denger dan nonton video klipnya Rendy Pandugo yang berjudul I don’t care.

Setelah ngedenger lagu dan video klipnya, saya beneran jatuh cinta. Video klipnya kereeen!! Simpel dan suasananya beneran pas aja sama lagunya. Memang sih, dari sisi lagu dan lirik bukan lagu yang membahagiakan kayak Silver Rain. Tapiii saya sukaaaakkk.

Selain dua singlenya ini, Rendy Pandugo juga pernah ngisi soundtrack untuk film Galih dan Ratna!! Memang lagu-lagunya masih jarang terdengar, mari kita doain aja Mas Rendy *akraaaabbb* bisa makin sukses 🙂 .

Musik Kamar: Wind

img_0943

Awalnya saya sempat bingung dengan judul musik kamar. Ternyata ini adalah jenis pertunjukan yang berbeda dengan orkestra. Musik kamar atau chamber music biasanya dilakukan oleh dua hingga lima belas orang tanpa ada konduktor yang mengarahkan musik. Pertunjukkannya pun dilakukan dalam ruangan yang memiliki jumlah penonton terbatas. Tidak seperti saat orkestra yang memiliki ruangan luas. Musik kamar ini pertama kali muncul saat musik Barok yaitu sekitar tahun 1600-1750 (Wikipedia).

img_0946

Wind Quintet and Bassoon

Seni musik kamar yang saya tonton kemarin digelar di IFI Bandung, tepat di depan BEC. Dari judul pertunjukkannya “Wind”, musik kamar ini menampilkan empat orang dengan alat musik tiup. Ada yang menggunakan flute, clarinet, oboe, dan horn. Mereka berempat tampil didampingi seorang pemain Bassoon. Beberapa judul yang dimainkan oleh mereka adalah inute Bourree dari Blas Maria De Colomer, Pastorale dari Gabriel Pierne, dan Le Petit Negre dari Claude Debussy.

Keunggulan dari musik kamar ini, saya jadi bisa mendengarkan warna yang berbeda dari setiap alat musiknya. Jadi kenal mana yang suara flute, oboe, clarinet, horn, maupun bassoon. Saya pun dapat merasakan kekompakan dan harmonisasi dari kelompok kecil ini. Seru aja ngeliat interaksi mereka berlima ketika memainkan musik. Kayak lagi ngobrol. Apalagi saat mereka memainkan Mosaik karya Fauzie Wiriadisastra. Mosaik ini adalah sekumpulan lagu daerah yang dimainkan sendiri-sendiri tapi saya tetap bisa mengetahui lagu-lagu yang mereka mainkan. saya beneran dibikin bengong!! Kok bisa sih mainin lagu yang berbeda dan ga pecah konsentrasi?! Kalau saya kayaknya milih melambaikan tangan ke kamera aja, nyerah kak!! Mana harmonisasi dan perpindahan tiap lagunya smooth banget!

img_0954

Pada paruh kedua menampilkan seorang pianis dan pemain bassoon yang berkolaborasi memainkan beberapa lagu. Dua lagu terakhir merupakan lagu untuk salsa, dan saya gatel banget deh pengen nari >< . Beneran kangen dansa latin nih!!

img_0961

saya dan para pemain musik

Sayangnya waktu pertunjukan hanya satu jam. Ga berasa banget!! Padahal saya masih ingin mendengarkan permainan alat musik tiup mereka. Semoga lain kali akan ada chamber music lagi dan bisa lebih lama 😀 .

Menenangkan Diri Bersama Dewa Budjana

img_9627

Saya sungguh beruntung bisa menonton konser Dewa Budjana tanggal 30 November lalu di Galeri NuArt Sculpture Park!! Tepatnya dibagian amphitheater di belakang galeri.Awalnya saya sempat meragu untuk datang ke konser ini. Cuaca Bandung hingga sore hujan terus. Kebayang kalau hujan-hujan nonton konsernya, kan ribet ya. Ternyata mestakung *semesta mendukung*!! Selepas maghrib, hujan mereda dan saya ngegojek ke NuArt.

Saya suka dengan konsep konsernya yaitu pasar senggol. jadi selain pertunjukan musik juga ada semacam pasar makanan di bagian taman NuArt.  Bagian amphitheater dihias dengan lampu-lampu yang mengarah ke pepohonan dan bagian taman yang lain dihias dengan lampu-lampu kecil. Jadi ngebayangin kalau ngadain acara garden party di sini pasti asyik banget!!

img_9621

Area Pasar Senggol

Konser ini digelar untuk mengenalkan album terbaru Dewa Budjana, Zentuary. Zentuary sendiri terdiri dari dua kata “Zen” dan “Sanctuary” yang saya artikan titik kita untuk bisa menenangkan diri. Seperti kata Dewa Budjana malam itu, semua orang bebas mengartikan musiknya sesuai dengan selera masing-masing.

Saya pun menyukai penonton yang datang ke konser malam itu. Mulai dari sahabat-sahabat Dewa Budjana seperti Trie Utami, kemudian ada Nyoman Nuarta, juga ada teman-teman difabel yang ikut mendengar dan merasakan musik Dewa Budjana malam itu. Sebenarnya konser malam itu disediakan banyak tempat duduk, tapi saking penuhnya, sampai banyak yang berdiri.

img_9622

Konser Dewa Budjana malam itu banyak memperdengarkan musik dari album terbarunya. Hampir semua judul lagu dimainkan. Pada konser malam itu, Dewa Budjana juga terlihat banyak berkolaborasi dengan musisi yang masih muda. Yang saya suka dari musik-musik Dewa Budjana adalah pertemuan musik modern dan tradisional. Seperti malam itu, selain ada drum, gitar, bass, dan keyboard; juga ada gamelan, suling, hingga harmonika. Dewa Budjana pun tidak membiarkan konser ini terpaku pada permainan gitarnya. Ia juga memberikan ruang kepada musisi lainnya untuk memperlihatkan kebolehan mereka.

img_9633

Saya terhanyut selama dua jam dalam zentuary Dewa Budjana. Hadir dan menenangkan pikiran yang saat itu sedang resah menghitung hari pengujian penelitian tesis. Malam itu seperti oase yang menyegarkan. Saat konser memasuki babak akhir, saya sempat berpindah tempat ke bagian pasar senggol mengisi perut. Syahdu banget rasanya makan ditemani permainan gitarnya. Rasanya tidak ingin cepat selesai, masih ingin duduk-duduk dan menikmati malam di NuArt.

Locafore 2016

IMG_6519wajib banget foto di sini 😀

Locafore adalah sebuah festival seni, desain, dan jazz tahunan yang diselenggarakan oleh Kota Baru Parahyangan yang terletak di Kabupaten Bandung Barat. Sejak pertama kali event ini diselenggarakan, saya suka ga jodoh buat nonton ke sana. Makanya tahun ini saya berniat banget nonton.

Acaranya diselenggarakan selama dua hari, yaitu tanggal 3 dan 4 September 2016 bertempat di Bale Pare Kota Baru Parahyangan. Saya sih mengincar Sri Hanuraga Trio feat Dira Sugandi dan 4peniti. Beneran kangen banget nonton pertunjukan 4peniti secara langsung!! Selain itu, saya mau melihat-lihat tenant desainer lokal. Kebetulan seorang teman membuka tenant natural toys yang bernama Tokecang di sana.

IMG_6546Tokecang

Saya sengaja datang menjelang siang agar tidak terjebak macet tiada berakhir di Pasteur Bandung. Sampai di sana, langsung menemui Teh Kenny dan Kang Iwan. Setelah ngobrol bentar dan menitipkan tas, saya mulai berkeliling melihat tenant-tenant yang ada. Produknya menarik-menarik!! Saya merasa beruntung sudah menitipkan tas di tenant Tokecang, sehingga tidak impulsif buat beli barang-barang di sana.

IMG_6526

Saya bengong banget liat jam ini. Talinya dibuat dari rajutan loh. Jadi berasa pakai gelang. Harganya pun tergolong murah, dibawah Rp.200.000,-.

IMG_6528

IMG_6529

IMG_6530

Jam merk Matoa ini terbuat dari kayu loh. Asli enteng banget!! Packaging-nya juga bagus. Hargaya aja sih yang ga kuat. Lagian banyaknya untuk jam laki-laki.

IMG_6532

IMG_6535

Di Hijack Sandals, saya nyaris mau beli sendal dengan warna biru unyu gini. Alhamdulilah model dan ukuran yang saya mau abis, jadi aman dan tentram 😀 .

IMG_6537

IMG_6538

Di tenant ini, saya sempat melihat dasi kupu-kupu yang terbuat dari kayu. Unik banget yak.

IMG_6539

IMG_6540

IMG_6542

Gelang dan kalung ini beneran nyaris bikin khilaf!! Langsung teringat segunung gelang yang teronggok di tempatnya.

IMG_6543

Pin ini lucu banget karena terbuat dari batu yang dilukis. Mbak-mbak penjaga tenantnya ramah dan ngajakin bercanda terus 😀

IMG_6559

Sambil muter-muter, ternyata mulai terdengar suara musik jazz. Ternyata area konser di green area mulai ada pertunjukan pertama dari Coffee Morning. Saya sempat melihat sebentar pertunjukan mereka sampai dijemput oleh Uwa. Maklum udah lama ga sowan ke rumah Uwa, jadi ngikut dulu buat ketemu Eyang dan ponakan. Saya baru kembali ke Bale Pare saat Sri Hanuraga Trio feat Dira Sugandi memulai pertunjukannya. Awalnya saya hanya akan didrop oleh Uwa, ternyata Uwa akhirnya ikut nonton sbeentar sebelum kembali pulang 😀 .

IMG_6561Suasana di Green Stage, nonton Coffee Morning sambil piknik

IMG_6573

Sri Hanuraga Trio feat Dira Sugandi mengaransemen ulang lagu-lagu daerah seperti Kampuang Nan Jauah di Mato, Panon Poe, Kicir-Kicir, serta Manuk Dadali. Lagunya jadi super jazzy dan bikin merinding!! Sukaaaa banget sama hasil aransemennya. Sayang pas mau beli CD mereka kok yah langsung abis 😦 .

IMG_6592

Selesai pertunjukan ini, saya sempat ngemil dulu sambil dengerin Jafuzz yang lagi manggung di Green Stage. Di area booth makanan, kita bisa melihat pertunjukan jazz yang sedang berlangsung baik di Amphitheater stage ataupun di Green Stage.  Kalau ke area makanan, siap-siap menahan godaan untuk ga banyak jajan. Semua makanan kayaknya ada, mulai dari sushi, takoyaki, okonomiyaki, rice box, kentang, sosis, hot dog, pecel, tempe mendoan, press juice, kopi, juice, air mineral, semua ada. Semua rasanya pengen dicobain satu-satu 😆 .

IMG_66014Peniti

Ga kerasa, begitu makanan abis, ternyata udah jam 4!! Saatnya menonton pertunjukan 4peniti. Saya udah ceritakan ya betapa kangennya saya sama pertunjukan mereka?! Terakhir ngeliat mereka kumpul itu ya waktu konsernya Kang Ammy di IFI Bandung. Saya betah banget ngeliat aksi panggung dari mereka berempat. Di awal pertunjukan, Kang Zaky aja udah  ngajak penonton untuk sound check sambil menanti Kang Ammy yang belum datang. Sound check ini kayak udah jadi sebuah lagu sendiri loh!! saat semua personil telah berkumpul, akhirnya mereka membawakan lagu dari album pertama, Menari Bumi. Lagunya jadi panjaaaaaanggg karena ditengah mereka asyik ngejam, sampai sang drummer, Kang Ari Renaldi mesti ngingetin Kang Zaki buat lanjut nyanyi 😀 . Sayang saya ga ngeliat pertunjukan mereka sampai akhir karena mesti balik ke Bandung.

Semoga tahun depan bisa nonton lagi Locafore hingga akhir, aamiin!!

Doulce Memoire & Maestro Musik Sunda

IMG_0959

Awal bulan Mei, saya menyaksikan sebuah pertunjukan kolaborasi musik Renaisans dan Sunda: Doulce Memoire dan Maestro Musik Sunda di Ifi Bandung. Acara kolaborasi ini merupakan pembuka dari rangkaian Printemps Francais 2016 di Bandung yang merupakan Festival Seni Prancis- Indonesia. Acara ini diselenggarakan oleh Institut Prancis di Indonesia. Pertunjukkan memang sudah lama, acaranya pun sempat saya tulis di steller, tapi saya baru menuliskan versi blognya sekarang. Maklum baru dapet foto-foto dengan kualitas bagus 😀 .

SAMSUNG CSC

Sempet foto dulu

SAMSUNG CSC

Doulce Memoire

Doulce Memoire memulai pertunjukan dengan menyajikan sebuah musik dari zaman Renaisans. Petikan gitar zaman renaisans, seruling, serta perkusi membawa kita untuk menikmati musik istana. Ditambah dengan suara Sopran dan Tenor, sukses membuat saya merinding. 
SAMSUNG CSC

Maestro Musik Sunda

Setelah itu, giliran Maestro Musik Sunda yang terdiri dari Ibu Neneng, Kang Yoyon dan Bapak Dede menampilan kebolehannya menyanyikan lagu-lagu berbahasa Sunda. Tiupan seruling, petikan kecapi, serta suara halus Ibu Neneng menggetarkan sukma. Saya berasa kayak lagi di kondangan. Jarang-jarangkan ngedengerin lagu berbahasa Sunda seperti ini.
SAMSUNG CSC
Ketika Doulce Memoire dan pada maestro musik Sunda disatukan, saya hanya mampu berdecak kagum. Indah banget mendengar bagaimana seruling serta perkusi  disatukan dengan seruling khas Sunda dan kecapi. Baik lagu berbahasa Sunda maupun Prancis yang dinyanyikan malam itu, bikin saya merinding dan tidak henti-hentinya berdecak kagum.
Kolaborasi keduanya betul-betul membuat waktu satu jam tiga puluh menit berlalu tanpa terasa. Sungguh pertunjukkan kolaborasi yang mengagumkan. Saya benar-benar beruntung bisa menyaksikan pertunjukan ini.
*Foto-foto saya pinjam dari yang punya blog ini

Selamatkan Lagu Anak

Saya baru saja tahu kalau artis-artis cilik sejak bulan puasa kemarin menggodok sebuah lagu untuk anak-anak. Awalnya terdapat mereka berkumpul dikarenakan resah dengan adanya anak kecil yang menyanyikan lagu orang dewasa dengan bahasa yang tidak sesuai untuk anak-anak dan kasar. Itu loh lagu “lelaki kardus”. Artis cilik yang terdiri dari Joshua Suherman, Chikita Meidi, Leony, Dea Ananda, Amanda, Tasya, Tina Toon, Natasha, serta Fathya awalnya membahas mengenai hal ini saat bulan puasa. Mulailah tagar #SaveLaguAnak beredar. Hingga akhirnya rencana untuk membuat lagu pun digodok. Ternyata banyak banget yang mau ikut membantu gerakan #SaveLaguAnak ini. Bahkan Papa T. Bob, Enno Lerian, Puput Melati, dan bahkan ada Kak Nunuk serta Indra Bekti ikut andil dalam video klip mereka!!

Para artis cilik ini pun ga dibayar loh untuk membat project ini. Beneran karena mereka pengen anak-anak kembali punya lagu sendiri. Saya sampai niat banget nontonin Vlog-nya Joshua untuk tahu soal #SaveLaguAnak.

Sebagai orang yang sering ngedatengin SD Negeri dan bengong karena anak SD bahkan sudah tahu lagu dangdut, Noah, ataupun lagu-lagu Kpop, saya beneran sedih mengingat lagu daerah ataupun lagu nasional mereka ga hafal 😦 . Padahal dengan usia mereka yang ada di dalam tahap konkrit operasional, mereka kadang masih belum betul-betul paham dengan kata-kata yang mereka dengar dan baca, jadi beneran suka ngomong aja sesuai dengan keadaan yang mereka lihat.

Sebagai bagian dari lingkungan anak, yang bisa dilakukan secara maksimal adalah membantu anak-anak dengan mengontrol tontonan mereka. Saat ini, banyak orang tua yang akhirnya memilih menyanyikan lagu anak-anak Bahasa Inggris ataupun mencari kembali lagu anak zaman dulu. Beneran susah bangetkan nyari lagu anak berbahasa Indonesia?! Selain itu masih banyak orang tua di luar yang kurang paham dengan tahap perkembangan anak dan bahayanya memberikan mereka lagu-lagu dengan bahasa orang dewasa. Makanya saya seneng banget dengan project ini.

Semoga selain lagu “Selamatkan lagu anak” akan ada lagu-lagu lain yang menyusul. Jadi anak-anak punya pilihan mendengarkan lagu berbahasa Indonesia yang sesuai dengan tahap kembang mereka.

Urban Zakapa – I Don’t Love You

Perkenalan pertama dengan Urban Zakapa saat saya melihat-lihat channel youtube Fluxus Musix yang juga merupakan management dari Clazziquai Project. Sebenarnya, Urban Zakapa ini terdiri dari 9 orang, tetapi tahun 2012 menyisakan hanya 3 orang yang terdiri dari Park Yong In, Jo Hyun A dan Kwon Sun Il. Walaupun mereka adalah grup R&B, tapi kalau dengerin musiknya malah lebih kerasa musik jazz-nya! Hingga saat ini mereka telah mengeluarkan 5 album baik full album maupun mini album.

Hari Kamis (24 Mei 2016), Urban Zakapa kembali dengan single terbaru dari mini album mereka I don’t love you. Ini rerupakan single perdana pasca pindah ke MakeUs entertainment. Walaupun pindah ke label baru, musik khas Urban Zakapa tetap terasa di video klipnya.

Pertama kali menonton video klipnya, saya bingung menemukan kaitan judul lagu dengan videonya. Sampai saya menonton kembali dan mulai interpretasi bebas jalan ceritanya. Entah cowonya ga sayang sama cewe yang diajak makan tapi terlalu baik untuk dilepaskan, atau cowo ini akhirnya bisa move on dari mantannya dan hidup bahagia ama si cewe baju biru. Mantannya yang mana? Itu si cewe rambut lurus di tengah dan akhir video. Tapi, kalau cerita yang kedua kok yah si cowo tetep maksa ketawa gitu ya waktu makan sama si cewe baju biru? Buset yak, saya niat banget merhatiin video klipnya.

Mau jalan cerita yang mana pun, tetep peeedddiiihhh kak lagunya!!! Jadi walau ada adegan cowo dan cewe ketawa, tetep aja bawaannya deg-degan dan sedih sendiri.

Kalau menurut yang lain, cerita videonya seperti apa?