Jazz Buzz – Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga

Bulan Februari lalu, saya berkesempatan menikmati konser dari Gerald Situmorang serta Sri Hanuraga yang diadakan di Komunitas Salihara Jakarta dalam rangka Salihara Jazz Buzz 2019. Rasanya sungguh senang sekali akhirnya bisa berkesempatan menikmati kembali musik Jazz setelah lama ga pernah berjodoh dalam acara serupa di Bandung. Pas main ke Jakarta kok pas banget ada acara ini.

Seminggu sebelum kepergian ke Jakarta, saya sudah heboh mencari informasi tiket dan mengajak beberapa teman dan seorang sepupu, Tane untuk ikut menonton. The more the merrier!! Alhamdulillah pada mau diajakin nonton konser ini!!

Saat hari H saya sempat mengisi acara parenting hingga siang di daerah Jakarta Pusat, lalu mampir ke Senayan dulu karena seorang teman yang tetiba ngidam ramen dan saya udah nyaris pingsan butuh makan. Keluar dari Senayan jam tiga sore, macetnya bukan main!! Saya sampai berdoa dalam hati semoga masih sempat dan tidak telat lama. Di perjalanan, ternyata seorang teman ga jadi ke Jakarta dan Tane sempat ragu untuk datang karena sebenernya lagi ga enak badan. Walaupun begitu, akhirnya dia memutuskan datang karena butuh curhat 😀 .

Sampai di Komunitas Salihara, ternyata kami sudah telat untuk dua lagu pertama. Jadilah kudu menunggu hingga selesai baru dibolehin masuk. Alhamdulillah seenggaknya saya masih sempat menyaksikan lagu-lagu di album Meta yang baru saja dirilis.

Saya benar-benar menikmati pertunjukan sore hari itu. Dengan adanya larangan untuk merekam membuat kami penonton benar-benar menikmati setiap alunan gitar dan piano yang dimainkan. Apalagi saat melihat Sri Hanuraga memainkan organ dan piano secara bersamaan, rasanya saya sampai tidak menutup mulut saking terpukaunya!! Lucunya, di atas piano Sri Hanuraga, saya bisa melihat ada figurin Lutfi dari One piece di sana. Sepertinya digunakan untuk menyetel pianonya.

Karya-karya favorit saya sudah tentu Rintik Hujan, Curnocopic, Something New, His Spirit, Thrown Word, serta Perjalanan Menuju Ke Sana yang dimainkan secara akustik tanpa ada vocalist Ify. Rasa-rasanya merinding banget mendengarnya hingga saya segera berkeinginan untuk menuliskan tulisan yang terinspirasi dari Perjalanan Menuju Ke Sana. Ternyata malah tulisannya terbit duluan ya 😀 .

Di sela-sela permainan Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga, mereka pun bercerita mengenai apa yang membuat mereka bisa berkolaborasi dan bagaimana mereka bisa menciptakan karya-karya yang ada di album Meta. Menarik sekali kisah-kisah yang dibicarakan oleh mereka berdua.

Saat konser pun harus berakhir, rasanya saya masih tetap ingin di sana dan ikut menonton pertunjukan mereka pada jam kedua. Bahkan hingga saya kembali ke Bandung, bekerja, menulis laporan, hingga mengerjakan tugas-tugas, lagu-lagu di album Meta selalu membantu saya memiliki mood untuk menyelesaikan semuanya. Beneran setelah menonton konsernya, saya jadi gagal move on!!

Terima kasih banyak untuk Oji dan Tane yang menemani saya menonton Jazz Buzz di Komunitas Salihara 🙂 .

Advertisements

Everything in Between

Everything in between
It’s where we live our dream
It tells us about something

Mendengarkan lagu everything in between paling cocok dilakukan saat melakukan sebuah perjalanan. Mau naik mobil, bis, kereta atau perjalanan saat menuju dan di dalam pesawat. Adem banget dan benar-benar terasa bahwa ini adalah sebuah lagu perjalanan. Sebagaimana video klipnya menceritakan mengenai perjalanan Diego dan Marlis dari Belanda ke Indonesia.

Diego dan Marlis melakukan perjalanan panjang menggunakan sepeda dengan tujuan beramal tidak hanya untuk kemanusiaan tetapi juga hewan dan tumbuhan. Sungguh luar biasa mengikuti perjalanan mereka berdua baik melalui blognya maupun instagram dan sekarang melalui video klipnya.

We’ve seen so many things,
That lie beneath Through the dark and light and shine

Everything in between mengingatkan kita bahwa hidup adalah sebuah perjalanan untuk mengenal diri sendiri. Prosesnya tentu tidak pernah mudah. Perjalanan untuk bisa berjuang, untuk melihat ke dalam diri, untuk berdamai dengan pikiran dan perasaan seringkali malah terasa sendiri dan sepi. Namun dari sana kita bisa tegak berdiri dan menerima baik sisi gelap dan terang dari diri sendiri. Sehingga sendiri tak lagi terasa sepi hingga akhirnya kita kembali menemukan apa itu arti pulang ke rumah untuk jiwa kita.

Saat kita telah berpulang, kita pun akan dihadapkan pada sebuah pertanyaan baru, ke manakah kita akan pergi? Apakah sebenarnya tujuan dari kelahiran ini? Memang untuk beribadah ataupun mencari surga, tetapi dengan cara yang seperti apa? Beneran jadi berkontemplasi saat mendengarkan video klipnya ya!! Coba bayangkan kalau mendengarkan lagu ini sambil ada sepoi-sepoi angin dari jendela!!

Melihat video klip ini saya beneran kangen buat jalan-jalan lagi. Padahal belum genap sebulan sejak saya melakukan perjalanan terakhir!!

We wear our home, upon our hearts

Perilisan Lagu Apart dari Grace Sahertian

Perkenalan saya dengan lagu-lagu Grace Sahertian melalui akun tumblr seorang teman yang mengunggah video klip Diam dari album Hela. Begitu mendengarkannya, saya segera senang dengan musik serta warna suara Grace Sahertian!! Sungguh beruntung beberapa tahun kemudian saya bisa datang dalam perilisan lagu berjudul Apart. Awalnya saya nyaris tidak datang karena salah melihat jam!! Saya mengiranya jam 9 malam, ternyata oh ternyata jam 9 pagi dong!

Saya senang sekali Grace memilih Yumaju 2.0 untuk tempat mini konsernya ini. Cuaca pagi khas Bandung, harum udara di pagi hari, desir angin yang melambai di pepohonan sekitar Yumaju, cahaya matahari yang bersinar di sela-sela pepohonan, serta tempatnya yang jauh dari kebisingan kendaraan bermotor benar-benar tempat yang sempurna!! Sayangnya Grace hanya bernyanyi sekitar 60 menit, padahal kalau lebih saya bakalan senang sekali. Beneran deh perpaduan suara Grace dan tempatnya benar-benar bikin betah dan adem banget!!

Apalagi bertempat di ruang terbuka sebuah tempat kopi membuat mini konser ini menjadi sangat intim. Saya mengetahui bahwa Grace merupakan reguler customer di sana membuatnya banyak menyapa orang-orang yang berdatangan ketika mini konser. Selain itu ia pun tak sungkan untuk menyapa setiap teman-temannya yang juga datang untuk mendengarkan suara indahnya. Suasananya pun semakin terasa akrab.

Saat jeda antar lagu, pembawa acara pada hari itu Mbak Theo (penulis puisi) mengajak Grace untuk bercerita sedikit mengenai kesibukannya, awal mula bernyanyi, serta proses pembuatan dari lagu Apart itu sendiri. Mini konser dalam rangka perilisan lagu Apart ini ditutup dengan manis saat Grace menyanyikan Better to Love.

Setelah konser usai, Grace pun ramah menyapa penonton yang ada serta berfoto bersama. Begitu juga dengan saya dan para sahabat yang didekatkan oleh Yumaju mendapat kesempatan untuk foto bersama grace. Untuk yang satu ini saya harus berterima kasih sama Mbak Pudji nih karena ia yang menyapa Grace dan membuat kami bisa berfoto bersama.

Semoga lagu barunya selalu sukses dan menggerakkan banyak hati.

Rendy Pandugo

Saya baru saja mendengar lagu Rendy Pandugo yang terbaru berjudul Silver Rain ini. Ya ampun..liriknya manis banget!! Bercerita soal temen masa kecil yang akhirnya membuka kapsul waktu mereka sepuluh tahun kemudian. Ngedengernya beneran bikin senyum senyum sendiri!!

Kalau cuma ngedenger lagunya aja, ga akan nyangka deh kalau penyanyinya orang Indonesia. Suaranya beneran renyah dan pelafalan kata Bahasa Inggrisnya pun bagus. Ngingetin saya sama lagu-lagu berbahasa Inggrisnya Mocca yang ga banyak orang yang nyangka kalau Indonesia punya pemusik-pemusik kayak mereka.

Sebenernya saya pertama kali kenal sama Rendy Pandugo ini dari sahabat saya, Yaya. Dia ngerekomendasiin buat denger dan nonton video klipnya Rendy Pandugo yang berjudul I don’t care.

Setelah ngedenger lagu dan video klipnya, saya beneran jatuh cinta. Video klipnya kereeen!! Simpel dan suasananya beneran pas aja sama lagunya. Memang sih, dari sisi lagu dan lirik bukan lagu yang membahagiakan kayak Silver Rain. Tapiii saya sukaaaakkk.

Selain dua singlenya ini, Rendy Pandugo juga pernah ngisi soundtrack untuk film Galih dan Ratna!! Memang lagu-lagunya masih jarang terdengar, mari kita doain aja Mas Rendy *akraaaabbb* bisa makin sukses 🙂 .

Musik Kamar: Wind

img_0943

Awalnya saya sempat bingung dengan judul musik kamar. Ternyata ini adalah jenis pertunjukan yang berbeda dengan orkestra. Musik kamar atau chamber music biasanya dilakukan oleh dua hingga lima belas orang tanpa ada konduktor yang mengarahkan musik. Pertunjukkannya pun dilakukan dalam ruangan yang memiliki jumlah penonton terbatas. Tidak seperti saat orkestra yang memiliki ruangan luas. Musik kamar ini pertama kali muncul saat musik Barok yaitu sekitar tahun 1600-1750 (Wikipedia).

img_0946

Wind Quintet and Bassoon

Seni musik kamar yang saya tonton kemarin digelar di IFI Bandung, tepat di depan BEC. Dari judul pertunjukkannya “Wind”, musik kamar ini menampilkan empat orang dengan alat musik tiup. Ada yang menggunakan flute, clarinet, oboe, dan horn. Mereka berempat tampil didampingi seorang pemain Bassoon. Beberapa judul yang dimainkan oleh mereka adalah inute Bourree dari Blas Maria De Colomer, Pastorale dari Gabriel Pierne, dan Le Petit Negre dari Claude Debussy.

Keunggulan dari musik kamar ini, saya jadi bisa mendengarkan warna yang berbeda dari setiap alat musiknya. Jadi kenal mana yang suara flute, oboe, clarinet, horn, maupun bassoon. Saya pun dapat merasakan kekompakan dan harmonisasi dari kelompok kecil ini. Seru aja ngeliat interaksi mereka berlima ketika memainkan musik. Kayak lagi ngobrol. Apalagi saat mereka memainkan Mosaik karya Fauzie Wiriadisastra. Mosaik ini adalah sekumpulan lagu daerah yang dimainkan sendiri-sendiri tapi saya tetap bisa mengetahui lagu-lagu yang mereka mainkan. saya beneran dibikin bengong!! Kok bisa sih mainin lagu yang berbeda dan ga pecah konsentrasi?! Kalau saya kayaknya milih melambaikan tangan ke kamera aja, nyerah kak!! Mana harmonisasi dan perpindahan tiap lagunya smooth banget!

img_0954

Pada paruh kedua menampilkan seorang pianis dan pemain bassoon yang berkolaborasi memainkan beberapa lagu. Dua lagu terakhir merupakan lagu untuk salsa, dan saya gatel banget deh pengen nari >< . Beneran kangen dansa latin nih!!

img_0961

saya dan para pemain musik

Sayangnya waktu pertunjukan hanya satu jam. Ga berasa banget!! Padahal saya masih ingin mendengarkan permainan alat musik tiup mereka. Semoga lain kali akan ada chamber music lagi dan bisa lebih lama 😀 .

Menenangkan Diri Bersama Dewa Budjana

img_9627

Saya sungguh beruntung bisa menonton konser Dewa Budjana tanggal 30 November lalu di Galeri NuArt Sculpture Park!! Tepatnya dibagian amphitheater di belakang galeri.Awalnya saya sempat meragu untuk datang ke konser ini. Cuaca Bandung hingga sore hujan terus. Kebayang kalau hujan-hujan nonton konsernya, kan ribet ya. Ternyata mestakung *semesta mendukung*!! Selepas maghrib, hujan mereda dan saya ngegojek ke NuArt.

Saya suka dengan konsep konsernya yaitu pasar senggol. jadi selain pertunjukan musik juga ada semacam pasar makanan di bagian taman NuArt.  Bagian amphitheater dihias dengan lampu-lampu yang mengarah ke pepohonan dan bagian taman yang lain dihias dengan lampu-lampu kecil. Jadi ngebayangin kalau ngadain acara garden party di sini pasti asyik banget!!

img_9621

Area Pasar Senggol

Konser ini digelar untuk mengenalkan album terbaru Dewa Budjana, Zentuary. Zentuary sendiri terdiri dari dua kata “Zen” dan “Sanctuary” yang saya artikan titik kita untuk bisa menenangkan diri. Seperti kata Dewa Budjana malam itu, semua orang bebas mengartikan musiknya sesuai dengan selera masing-masing.

Saya pun menyukai penonton yang datang ke konser malam itu. Mulai dari sahabat-sahabat Dewa Budjana seperti Trie Utami, kemudian ada Nyoman Nuarta, juga ada teman-teman difabel yang ikut mendengar dan merasakan musik Dewa Budjana malam itu. Sebenarnya konser malam itu disediakan banyak tempat duduk, tapi saking penuhnya, sampai banyak yang berdiri.

img_9622

Konser Dewa Budjana malam itu banyak memperdengarkan musik dari album terbarunya. Hampir semua judul lagu dimainkan. Pada konser malam itu, Dewa Budjana juga terlihat banyak berkolaborasi dengan musisi yang masih muda. Yang saya suka dari musik-musik Dewa Budjana adalah pertemuan musik modern dan tradisional. Seperti malam itu, selain ada drum, gitar, bass, dan keyboard; juga ada gamelan, suling, hingga harmonika. Dewa Budjana pun tidak membiarkan konser ini terpaku pada permainan gitarnya. Ia juga memberikan ruang kepada musisi lainnya untuk memperlihatkan kebolehan mereka.

img_9633

Saya terhanyut selama dua jam dalam zentuary Dewa Budjana. Hadir dan menenangkan pikiran yang saat itu sedang resah menghitung hari pengujian penelitian tesis. Malam itu seperti oase yang menyegarkan. Saat konser memasuki babak akhir, saya sempat berpindah tempat ke bagian pasar senggol mengisi perut. Syahdu banget rasanya makan ditemani permainan gitarnya. Rasanya tidak ingin cepat selesai, masih ingin duduk-duduk dan menikmati malam di NuArt.

Locafore 2016

IMG_6519wajib banget foto di sini 😀

Locafore adalah sebuah festival seni, desain, dan jazz tahunan yang diselenggarakan oleh Kota Baru Parahyangan yang terletak di Kabupaten Bandung Barat. Sejak pertama kali event ini diselenggarakan, saya suka ga jodoh buat nonton ke sana. Makanya tahun ini saya berniat banget nonton.

Acaranya diselenggarakan selama dua hari, yaitu tanggal 3 dan 4 September 2016 bertempat di Bale Pare Kota Baru Parahyangan. Saya sih mengincar Sri Hanuraga Trio feat Dira Sugandi dan 4peniti. Beneran kangen banget nonton pertunjukan 4peniti secara langsung!! Selain itu, saya mau melihat-lihat tenant desainer lokal. Kebetulan seorang teman membuka tenant natural toys yang bernama Tokecang di sana.

IMG_6546Tokecang

Saya sengaja datang menjelang siang agar tidak terjebak macet tiada berakhir di Pasteur Bandung. Sampai di sana, langsung menemui Teh Kenny dan Kang Iwan. Setelah ngobrol bentar dan menitipkan tas, saya mulai berkeliling melihat tenant-tenant yang ada. Produknya menarik-menarik!! Saya merasa beruntung sudah menitipkan tas di tenant Tokecang, sehingga tidak impulsif buat beli barang-barang di sana.

IMG_6526

Saya bengong banget liat jam ini. Talinya dibuat dari rajutan loh. Jadi berasa pakai gelang. Harganya pun tergolong murah, dibawah Rp.200.000,-.

IMG_6528

IMG_6529

IMG_6530

Jam merk Matoa ini terbuat dari kayu loh. Asli enteng banget!! Packaging-nya juga bagus. Hargaya aja sih yang ga kuat. Lagian banyaknya untuk jam laki-laki.

IMG_6532

IMG_6535

Di Hijack Sandals, saya nyaris mau beli sendal dengan warna biru unyu gini. Alhamdulilah model dan ukuran yang saya mau abis, jadi aman dan tentram 😀 .

IMG_6537

IMG_6538

Di tenant ini, saya sempat melihat dasi kupu-kupu yang terbuat dari kayu. Unik banget yak.

IMG_6539

IMG_6540

IMG_6542

Gelang dan kalung ini beneran nyaris bikin khilaf!! Langsung teringat segunung gelang yang teronggok di tempatnya.

IMG_6543

Pin ini lucu banget karena terbuat dari batu yang dilukis. Mbak-mbak penjaga tenantnya ramah dan ngajakin bercanda terus 😀

IMG_6559

Sambil muter-muter, ternyata mulai terdengar suara musik jazz. Ternyata area konser di green area mulai ada pertunjukan pertama dari Coffee Morning. Saya sempat melihat sebentar pertunjukan mereka sampai dijemput oleh Uwa. Maklum udah lama ga sowan ke rumah Uwa, jadi ngikut dulu buat ketemu Eyang dan ponakan. Saya baru kembali ke Bale Pare saat Sri Hanuraga Trio feat Dira Sugandi memulai pertunjukannya. Awalnya saya hanya akan didrop oleh Uwa, ternyata Uwa akhirnya ikut nonton sbeentar sebelum kembali pulang 😀 .

IMG_6561Suasana di Green Stage, nonton Coffee Morning sambil piknik

IMG_6573

Sri Hanuraga Trio feat Dira Sugandi mengaransemen ulang lagu-lagu daerah seperti Kampuang Nan Jauah di Mato, Panon Poe, Kicir-Kicir, serta Manuk Dadali. Lagunya jadi super jazzy dan bikin merinding!! Sukaaaa banget sama hasil aransemennya. Sayang pas mau beli CD mereka kok yah langsung abis 😦 .

IMG_6592

Selesai pertunjukan ini, saya sempat ngemil dulu sambil dengerin Jafuzz yang lagi manggung di Green Stage. Di area booth makanan, kita bisa melihat pertunjukan jazz yang sedang berlangsung baik di Amphitheater stage ataupun di Green Stage.  Kalau ke area makanan, siap-siap menahan godaan untuk ga banyak jajan. Semua makanan kayaknya ada, mulai dari sushi, takoyaki, okonomiyaki, rice box, kentang, sosis, hot dog, pecel, tempe mendoan, press juice, kopi, juice, air mineral, semua ada. Semua rasanya pengen dicobain satu-satu 😆 .

IMG_66014Peniti

Ga kerasa, begitu makanan abis, ternyata udah jam 4!! Saatnya menonton pertunjukan 4peniti. Saya udah ceritakan ya betapa kangennya saya sama pertunjukan mereka?! Terakhir ngeliat mereka kumpul itu ya waktu konsernya Kang Ammy di IFI Bandung. Saya betah banget ngeliat aksi panggung dari mereka berempat. Di awal pertunjukan, Kang Zaky aja udah  ngajak penonton untuk sound check sambil menanti Kang Ammy yang belum datang. Sound check ini kayak udah jadi sebuah lagu sendiri loh!! saat semua personil telah berkumpul, akhirnya mereka membawakan lagu dari album pertama, Menari Bumi. Lagunya jadi panjaaaaaanggg karena ditengah mereka asyik ngejam, sampai sang drummer, Kang Ari Renaldi mesti ngingetin Kang Zaki buat lanjut nyanyi 😀 . Sayang saya ga ngeliat pertunjukan mereka sampai akhir karena mesti balik ke Bandung.

Semoga tahun depan bisa nonton lagi Locafore hingga akhir, aamiin!!