Makassar International Writer Festival

RTYKE6799

Akhirnya keinginan saya untuk dapat ke Makassar International Writer Festival (Miwf) dapat tercapai di tahun ini. Sebenernya udah mupeng banget pengen ke sana dari dua tahun lalu, apa daya baru tercapai di tahun ini.

Miwf di tahun ini memiliki tema yang cukup berat, sepertinya berhubungan dengan banyaknya kejadian-kejadian yang menimpa Indonesia, banyaknya hoax, serta situasi perpolitikan yang semakin panas sehingga pada tahun ini tema yang diusung adalah “Voice Noise”. Menarik walaupun saya tidak menyangka temanya akan seberat ini.

Mendatangi festival ini beda banget suasananya sama UWRF yang dulu saya datangi. Di sini lebih banyak anak muda dari wilayah Timur Indonesia yang datang. Apalagi dengan tema yang dibawakan, saya sungguh dapat merasakan idealis-idealis mahasiswa ini (oh gw sungguh tua kalau ngomongin ini, ketika di umur gw sekarang idealis kadang bertabrakan dengan realita dan kebutuhan untuk meneruskan hidup).

Saya juga senang sekali dengan deretan sesi-sesi yang ada di Miwf. Di sini ada sesi dari Lala Bohang, Mbak Windy Ariestanty, Uda Ivan Lanin, Mbak Leila S. Chukdori, ada monolog Tjut Nyak Dien dari Ine Febriyanti serta Najwa Sihab. Hanya saja yang bikin kesel adalah rundown acara baru keluar h-seminggu acara sehingga saya yang udah beli tiket dari sebulan lalu jadi tidak begitu punya pilihan sesi yang ingin dikunjungi. Saya pikir pembicara yang banyak menghimpun masa akan disimpan di akhir, tapi ternyata tahun ini disimpan di awal. Sebut saja Mbak Leila S. Chukdori, Ine Febriyan ataupun Najwa Sihab. Untungnya saya masih bisa mengikuti sesi dari Uda Ivan Lanin walaupun telat hampir satu jam. Saya ga nyangka banget Makassar bisa macet parah!! Sehingga perjalanan dari bandara ke Benteng Fort Rotterdam memakan waktu lebih lama dari seharusnya. Saya pun sedih karena tidak bisa bertemu dengan penulis puisi seperti Aan Mansyur dan juga mengikuti sesinya penulis favorit saya, Mbak Windy Ariestanty.

Selain sesi-sesi dan workshop menulis, acara favorit saya adalah poetic under the stars yang asyik banget buat bengong sambil ngedengerin yang baca puisi dan lihat bintang di atas kepala kita. Apalagi kita bisa menyeret bean bag yang bertebaran di halaman Benteng Rotterdam untuk dipakai duduk-duduk santai di rumput depan panggungnya.

Di luar kekurangan dan kelebihan di atas, hal yang paling saya apresiasi dari Miwf tahun ini adalah mereka memiiki juru terjemah bahasa insyarat di beberapa diskusi panelnya yang dihadiri temen-temen yang tuli. Ini sangat menyenangkan karena sebuah festival membaca tidak hanya untuk orang-orang tertentu, tetapi bisa dinikmati oleh semua orang. Saya pun selalu senang melihat bagaimana juru terjemah ini dengan semangat menerjemahkan apa yang diungkapkan oleh pembicara.

Selain itu sepanjang hari dari pagi hingga sore di sebelah Gereja kita akan melihat banyak bean bag dan beberapa spot untuk meminjam buku dan membaca di tempat. Kita  pun bisa berdiskusi sambil duduk-duduk di bean bagnya. Sesuatu yang tidak saya dapatkan ketika mengikuti UWRF.

20180504_164902

20180504_165354

masih sempet ngikutin sesinya Uda Ivan

IMG_0721

kopi dingin di tengah panasnya cuaca Makassar

20180505_101314

IMG_0735

20180504_192032

20180504_211023

yang paling depan itu penerjemah bahasa isyarat loh

Advertisements

Mei ke Makassar

RTYKE6799

Bulan Mei lalu, saya pertama kali menjejakkan kaki ke Makassar. Kota yang dulunya bernama Ujung  Pandang ini merupakan salah satu kota yang sudah saya idamkan sejak beberapa tahun lalu. Sayangnya selama bekerja saya belum berjodoh dengan kota ini. Akhirnya pertemuan saya dengan Makassar terjadi ketika seorang teman mengajak untuk mengunjungi Makassar International Writer Festival (MIWF).

Saat tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, saya teringat dengan Bandara Kuala Namu Medan. Bandaranya buesaaaarrr!! Iya ini saya ngebandinginnya sama bandara Husein yang yah segitu segitunya aja, udah ga bisa diapa-apain lagi.

Tujuan utama ke Makassar ini sebenernya antara memang mau lihat MIWF, pengen jalan-jalan, dan pengen kopi darat dengan teman-teman sesama pembaca buku Ika Natassa dari jaman dahulu kala. Beneran deh ketemu mereka tuh udah berasa ketemu temen lama, ga ada canggung-canggungnya dan langsung bisa akrab kayak kalo ngobrol di grup.

Urusan jalan-jalan tentunya karena ada MIWF yang diselenggarakan di Benteng Fort Rotterdam, saya jadi bolak balik berkunjung ke sana. Tempatnya beneran keren banget!!  Karena ada beberapa puing-puing bangunan perasaannya jadi beda dengan saat say aberkunjung ke benteng yang ada di Yogya. Sayang saya ga sempat masuk ke Museum La Galigonya, tapi saya bisa dapat kesempatan melihat gereja yang ada di dalam benteng!! Selain itu saja juga berkesempatan berkunjung ke Ramang-ramang dan mencoba Jembatan Helena yang ada di Bantimurung. Tadinya saya mau berlanjut lihat air terjunnya, tapi berhubung saat ke sana Hari Minggu dan tempatnya penuh banget, jadilah kami memutar balik mobil dan memilih balik ke Makassar. Saya juga berkesempatan untuk main air sejenak di Pulau Samalona yang terkenal dengan keindahannya. Untuk Pulau Samalona, nanti saya buat tulisan terpisah ya.

IMG_0814

Menuju Ramang-ramang

Kalau sudah sampai Makassar tentu harus mencoba makanan khasnya ya!! Kayaknya untuk ini saya bisa nulsi satu postingan tersendiri deh!! Hampir semua makanan khas Makassar saya cobain!! Ga cuma makanannya, saya juga ketagihan sama kopinya yang enak. Duh nulisnya aja ini jadi kangen ngopi di salah satu toko kopi di Sumba Opu Makassar.

IMG_0721

Sebenernya masih ada beberapa tempat yang ingin saya kunjungi di sana. Saya masih pengen banget buat jalan-jalan ke Tanah Toraja dan juga Tanjung Bira. Semoga suatu saat saya bisa berkunjung ke sana, aamiin!!

 

Drama oh Drama

Saya benar-benar baru merasakan banyak drama saat pergi ke Bangkok bulan Maret lalu!!! Saking dramanya setiap orang yang saya ceritain hal ini hanya geleng-geleng kepala dan pengen jitak saking geregetannya. Duh jangankan mereka, saya aja pengen banget ngegetok kepala sendiri kalau inget kejadiannya.

Kalau mau disalahin, saya akan menyalahkan diri sendiri karena mengambil kerjaan cukup padat di minggu terakhir sebelum saya ke Bangkok. Saya mengambil dua buah kerjaan dan satu laporan sebagai syarat melamar pekerjaan. Menghitung hari dan tenaga, saya optimis bisa selesai mengerjakan semuanya h-1. Kenyataannya? selesai semuanya tapi h-2 jam sebelum berangkat. Udah gitu detik-detik menjelang tenggat waktu rasanya udah ada tanduk di kepala, ada yang nyenggol dikit langsung mengaum!!

Tentu saja disela-sela kesibukan itu saya menyempatkan jauh-jauh hari untuk packing, sesuatu yang jarang dilakukan. Biasanya h-1 baru packing, ini h-6 hari mulai masuk-masukin barang. Sebenernya tujuannya baik sih, demi ga ada yang ketinggalan karena untuk kali ini saya perlu membawa barang untuk Waldorf teacher training di sana. Tapi dasar cemasan dan masih berpikir untuk bawa barang seminimal mungkin, saya tetap saja bongkar-bongkat koper sampai h-1 jam keberangkatan ke travel karena berangkatnya dari Soekarno Hatta. Saya menggunakan pesawat jam 06.20 pagi, dan berhubung bekasi – cikarang lagi ga bisa diprediksi macetnya saya mengambil travel jam 22.00 .

Untungnya, saat ke travel ini saya diantar oleh kakak jadi bisa lebih santai. Apalagi lalu lintas Bandung lagi bersahabat banget, jadi sampai lebih cepat. Sambil menunggu mobil datang, saya pun mengecek kembali apa-apa yang perlu saya bawa dan kepikiran untuk memasukkan beberapa barang dari tas ransel ke koper. Saat akan membuka kunci koper, nomer kuncinya kereset dong!!! Ini karena saya buru-buru saat menutup koper di rumah. Gawat!!! Saya segera mencari di google apa yang perlu dilakukan kalau ada kejadian seperti ini dan semua artikelnya memberi tahu harus manual satu-satu dicobain kombinasi angkanya. Edyaaaannnn. Ini sungguh pr banget. Akhirnya 45 menit saya habiskan untuk mencari kombinasi angka yang ternyata hanya beda satu angka dari kombinasi yang saya gunakan. Kesel sama kebodohan sendiri. Tidak berapa lama, mobil travel pun datang dan begitu menyentuh kursi saya langsung tidur.

Sampai di Soekarno Hatta ternyata baru jam 12.30 pagi dong!! Ternyata jalanan lagi lancar banget. Akhirnya saya memilih tidur-tiduran di kursi sambil menunggu teman-teman saya yang baru datang jam 5an. Sekitar jam 02.30 saya terbangun dan bengong mau ngapain, akhirnya saya melanjutkan mengecek kembali barang-barang yang perlu saya bawa dan saya baru sadar, paspor saya ga ada!!!! Ini kebodohan paling parah!!  Paspornya ketinggalan di Bandung dong!!!!

Panik saya langsung menelpon kakak karena saya yakin dia masih bangun. Kita berdua koordinasi untuk mengambil paspor saya di rumah (karena kakak saya tinggal dengan mertuanya) dan segera cari travel ke Soekarno Hatta untuk dititipin paspor. Oh sudah tentu orang tua saya ikutan panik saat diberitahu oleh kakak. Saya hanya bisa pasrah ketika diomelin sama mereka. Kakak saya pun berhasil mendapatkan travel yang ke bandara paling cepat, yaitu jam 03.00. Kita berdoa semoga sekitar jam 05.30 sudah sampai. Berhubung usaha sudah dijalani, saya pun hanya bisa pasrah dan berdoa semoga paspornya bisa sampai di bandara sebelum jam 06.00. Di tengah kepasrahan itu akhirnya saya mencari mushala dan shalat tahajud. Setelahnya saya berdoa semoga masih diijinkan untuk pergi tepat waktu ke Bangkok.

Jam 04.00 salah seorang teman seperjalanan saya pun datang dan kami sempat mengobrol soal kebodohan yang saya lakukan. Sambil saya memasang startegi untuk bisa check in terlebih dahulu. Untungnya saya membawa salinan foto paspor sehingga masih bisa check in walaupun baru boleh mengambil boarding pass setelah paspor datang. Dengan begini setidaknya saya masih bisa terbang. Tinggal menunggu paspor untuk datang tepat waktu.

Jam 05.30 saya menelpon supir travel untuk memastikan ia sudah sampai di mana. Syukurlah sudah sampai di tol Soekarno Hatta, setidaknya sebelum jam 06.00 paspor saya sudah sampai di bandara. Jam 05.45 saya kembali mengontak supir travel karena belum ada tanda-tanda kedatangannya. Alhamdulillah ternyata sudah sampai di terminal 1 dan akan ke terminal 2 tempat saya berada. Tidak sampai lima menit kemudian saya sudah bertemu supir travel dan tak henti-hentinya saya mengucapkan terima kasih sebelum ngacir ke dalam karena pesawat akan boarding 5 menit lagi. Itu semua belum termasuk saya harus mengantri imigrasi dan jalan ke arah boarding gate.

Sampai di dalam pesawat saya langsung tidur pulas hingga sampai di Bangkok. Perjalanan selama tiga jam sungguh ga berasa. Padahal kata teman-teman saya ada dua kali turbolance!! Ini sudah pasti efek saya kehabisan energi menjalani malam panjang penuh drama.

IMG_4094

Pesan moralnya, jangan ambil kerjaan banyak-banyak kalau mau bepergian sehingga bisa packing dengan tenang dan pastikan paspor atau ktp benar-benar sudah ada di tas.

Berkeliling Wat Pho

IMG_0792

Wat Pho terletak di belakang kompleks Grand Palace. Kalau punya waktu sebentar ke Bangkok, dari pagi kita bisa pergi ke Grand Palace dan dilanjutkan berjalan ke Wat Pho hingga menyeberang ke Wat Arun. Ketiga tempat ini terletak berdekatan dan total waktu yang diperlukan untuk menikmati ketiga tempat ini adalah setengah hari.

Saya berkunjung di sini bulan Agustus 2017. Berbeda dengan Grand Palace yang saat saya ke sana sedang ramai peziarah yang mengunjungi almarhum Raja dan wisatawan, di Wat Pho suasananya lebih tenang. Saya sampai bingung dengan perbedaan yang terlalu jomplang ini.

Wat Pho terkenal dengan patung emas Buddha berbaringnya, tapi selain itu di sana juga dikenal dengan sekolah Thai massage-nya loh. Sayang banget saya ga sempet nyobain thai massage-nya, karena lebih pengen berkeliling Wat Pho serta melihat patung Buddha berbaring. Di Wat Pho ini saya sempat melihat banyak sekali patung Buddha dengan berbagai posisi. Patung-patung Buddha ini diselamatkan dari kuil Ayutthaya.

Saya juga melihat-lihat bahwa di Wat Pho terdapat beberapa patung panglima Cina yang terlihat menjaga gerbang masuk ke tempat Phra Maha Chedi Si Rajakarn. Ini adalah empat pagoda besar yang didekorasi dengan ubin keramik-keramik khas Cina. Pagoda-pagoda ini merupakan lambang dari pemerintahan King Rama I hingga IV. Indah banget rasanya berkeliling di sini.

IMG_1367

salah satu pagoda di Wat Pho

Senang sekali rasanya memiliki kesempatan untuk melihat patung Buddha berbaring dan melihat-lihat di dalam Wat Pho. Sayang banget saya ga nyobain Thai massage!! Lain kali ke Wat Pho mesti banget nih nyobain pijet di sana.

Untuk yang mau berkunjung ke sana jangan lupa berpakaian yang sopan dengan tidak menggunakan celana pendek ataupun tank top.

Wat Pho
Sanam Chai road and Maharaj road next to the Grand Palace.
Operating hour: 08:00 – 18:30
Admission fee: 100 Baht
http://www.watpho.com

Mencari Makanan Halal Di Thailand

Thailand memiliki industri makanan halal terbesar di dunia. Oleh karena itu sebenarnya tidaklah sulit mencari produk-produk berlabel halal di negeri gajah putih. Hampir di setiap super market dan seven eleven memiliki beberapa produk halal yang bisa kita pilih.

Kalau di luar kota Bangkok, saya baru menjejakkan kaki ke Khon Kaen. Memang di kota ini sedikit sulit mencari restoran berlabel halal, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Di kompleks Khon Kaen University ada dua food court yang menjual makanan halal sedangkan di kotanya sendiri, di Pratunam Market ada satu tempat makanan halal yang bisa dicoba. Satu tempat yang paling bikin saya kangen adalah tempat makan mie berlabel halal yang ada di Maliwan Road. Tepat berada di halaman Krung Thai Bank di seberang sebuah mini market. Itu mie-nya enak banget!!! Biasanya pulang dari training di dalam Khon Kaen University, beberapa kali saya menyempatkan diri untuk makan di sana.

IMG_4277

Di Bangkok sendiri sangatlah mudah untuk mencari makanan dengan label halal baik di food court, restoran yang berdiri sendiri, maupun di dalam pasarnya. Kalau sedang di Dong Mueang Airport dan pusing mencari makanan halal, ada satu tenant halal bernama Bangmad. Letaknya di penghubung antara terminal domestik dan lantai international departure. Tepat di seberang prayer room. Di sini pilihan makanannya banyak dan bisa memilih untuk take away.

IMG_1107

Apabila ke daerah Pratunam dan sedang berbelanja di Fashion World Pratunam, di food court lantai enam ada dua tenant makan halal. Satu merupakan masakan India dan satu lagi adalah masakan khas Thai. Saya sih suka banget buat makan di kedai yang masakan Thai karena enak, halal, murah, dan porsinya pas!! Sekali makan di sini, kita hanya perlu  membayar sekitar 50 THB.

IMG_1117

IMG_1202

Apabila sedang ada di daerah Siam, saya sempat mencoba makan di MBK Center lantai lima. Di sana ada sebuah restoran keluarga berlabel halal. Cocok banget buat makan dengan sistem sharing karena porsinya yang besar. Selain itu di food courtnya ada dua tenant makanan halal dengan harga sekitar 200 THB. Kalau lihat dari displaynya sih porsinya banyak banget!!! Jadi bisa buat share. Saya sih batal makan di sini karena cuma sendirian 😦 .

Kalau sedang asyik berbelanja di Chatuchak Weekend Market, sepenglihatan saya ada tiga tempat makan halal di sini. Pertama adalah tepat di seberang clock tower dengan harga makanan sekitar 250 THB. Tempat makan halal kedua ada di jalan arah ke Section 18. Saya sudah pernah mencoba makan di sana dan cukup enak. Semangkok mie dengan bakso dan jeroan dihargai 150 THB. Tempat makan halal ketiga adalah favorit saya, nama restorannya adalah Kah Jak. Terletak agak tersembunyi di Soi 18. Ga jauh dari pedagang es kelapa yang ada di dekat clock tower. Harga makanannya dibawah 100 THB dengan porsi yang pas untuk saya. Rasa makanannya pun enak!!

IMG_1446

Makanan di Kah Jak

Untuk yang sedang bermain di Asiatique sebelum nongkrong cantik di depan Sungai Chao Praya, mending cari makanan dulu dari pada kelaparan. Satu-satunya tenant makanan halal di dalam Asiatique adalah kebab. Kalau mau mencari nasi dan mie di dekat Asiatique ada food court yang menjual banyak makanan halal!! Tepatnya di seberang KFC Asiatique, tepat diantara seven eleven dan mesjid. Pilihan makanannya cukup banyak. Saya melihat ada tiga hingga empat tenant yang menjual makanan halal. Harganya pun terjangkau banget!! Saya makan mie, baso, dan daging sapi seharga 50 THB!! Selesai makan bisa sekalian ikut shalat di mesjid sebelahnya. Baru deh nongkrong tsantik sambil menikmati lampu-lampu Asiatique.

Apabila sedang berada di Night Market maupun Day Market, biasanya akan ada satu hingga dua tenant yang memiliki label halal. Seperti saat saya ke Bangkok di Bulan Agustus 2017, saya menemukan dua tenant halal di Day Market depan Central World. Satu tenant menjual street food ala Thailand dan satu tenant lagi menjual makanan berat. Dua-duanya enak!!! Akhirnya saya bisa mencoba street food Thailand juga!!! Oia kalau ke Night Market suka ada yang menjual jagung rebus ataupun jagung bakar. Rasa jagungnya manis dan enak!!

IMG_1885

IMG_1437

Thailand memiliki banyak pedagang buah segar yang mana beneran cuma jual buah, jadi insyaAllah halal ya. Buah di Thailand ini ga pernah ada yang gagal!! Rasanya enak semua. Saya juga mencicipi jus buah di tenant yang menjual khusus jus sehingga saya tetap tenang membelinya. Begitu pun saat mencicipi durian serta mango sticky rice.

IMG_4284

IMG_1167

Untuk yang senang nyobain makanan, di seven eleven banyak memiliki menu halal. Mulai dari burger, ayam-ayam ala nugget dan chicken roll, shrimp dumpling, bahkan sosis. Kalau mau mencari tuna spread, roti, ataupun minuman halal juga banyak tersedia di seven eleven dan super market lainnya. Bahkan air mineral aja ada label halalnya dong! Di Indonesia aja ga sampai segininya. Buat penggemar Sam Yang, saya baru lihat di Thailand semua Sam Yang-nya ada label halal. Dengan semua kemudahan ini, insyaAllah urusan makan bisa tenang selama jalan-jalan di Thailand.

*beberapa foto diambil dari hp Teh Win.

 

Berkunjung Ke Kediaman Jim Thompson

 

 

Jim Thomson House

Jim Thomson House

Memasuki Museum yang juga kediaman dari Jim Thomson mengingatkan saya dengan struktur bangunan di daerah Sumatera. Rumahnya berbentuk rumah panggung dan terletak di depan sungai lokal di Bangkok, Thailand. Mungkin karena di Bangkok memiliki banyak aliran sungai sehingga bentuk rumah tradisionalnya adalah rumah panggung.

Kediaman Jim Thomson merupakan perpaduan antara gaya Barat dan tradisional Thailand. Bentuknya pun menjadi berbeda dengan rumah tradisional Thailand pada umumnya. Hal inilah yang membuat saya merasakan kemiripan dengan rumah-rumah panggung di Indonesia. Bagian dalamnya juga mengingatkan saya dengan rumah tradisional Sumatera di mana setiap ruangan selalu menggunakan ambang pintu yang lebih tinggi dari biasanya sehingga ketika akan memasuki ruangan kita harus mengangkat kaki. Bentuk jendelanya yang besar dan tinggi membuat saya pengen duduk dan memandang lama ke arah sungai. Kalau sudah begini jadi kangen pulang kampung!!

Jim Thomson House

duduk-duduk sambil menunggu giliran tur

Saat masuk ke dalam rumah, saya melihat perbedaan yang dilakukannya dengan rumah tradisional Thailand. Di ruang makan, ia memilih meja makan daripada duduk di atas lantai kayu. Ia pun memiliki ruang kerja sendiri di dalam ruamh. Perbedaan lain adalah menyatunya kamar mandi dan kamar utama. Padahal kalau menurut kepercayaan Thailand dulu, tidak baik menyatukan antara kamar mandi dan kamar utama. Selain itu di ruang tengah yang dikenal sebagai drawing room, Jim Thomson menyimpan sebuah lampu kristal di tengah ruangan yang memiliki tempat duduk khas Thailand. Bagian lain yang berbeda dengan struktur rumah tradisional Thailand adalah adanya tangga di bagian dalam rumah, karena kalau rumah yang asli tangga itu berada di luar rumah.

Pintum masuk museum Jim Thomson berada di pintu samping. Sedangkan pintu depan kediamannya sebenarnya berada di depan sungai sehingga setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya selalu melewati sungai.

Jim Thomson House

Selain rumah utamanya, terdapat empat ruangan kecil yang terpisah dari rumah  induk, yaitu spirit house, tempat penyimpanan sutera, tempat penyimpanan emas, serta tempat untuk melukis. Di sekitar bangunan penyimpanan emas dan tempat melukis terdapat sebuah kolam dan tanaman-tanaman berwarna hijau sehingga memberikan kesan tenang dan nyaman. Rasanya saya ga bosen untuk sekedar mengobrol dan mengagumi kediaman Jim Thomson ini.

Jim Thomson House

adem banget ditengah cuaca Bangkok yang panas

Awalnya saya mengetahui rumah Jim Thomson ketika mencari tempat yang perlu dikunjungi ketika di Bangkok. Saya tidak mengira bahwa Jim Thomson adalah seorang arsitek berkebangsaan Amerika yang menjadi voluntir tentara Amerika saat perang dunia kedua. Ia dikirim ke Bangkok sebagai perwira militer dan jatuh cinta kepada Thailand. Setelah meninggalkan dinas militer, Ia pun memutuskan untuk kembali dan menetap di Thailand. Perhatian Jim Thomson kemudian jatuh pada salah satu industri rumahan yang telah lama terbengkalai, tenunan sutera dengan menggunakan tangan dan ia pun mengabadikan dirinya untuk menghidupkan kerajinan tersebut. Ia juga berkontribusi terhadap pertumbuhan industri sutera Thailand. Hingga kini Jim Thomson memiliki banyak butik di mall-mall yang tersebar di Thailand.

Ketika mengunjungi museum ini petugas tidak memperbolehkan untuk memfoto bagian dalam rumah. Tas dan bawaan lainnya harus dimasukkan ke dalam loker yang disediakan. Jangan lupa untuk memakai alas kaki yang mudah dilepas, karena ketika memasuki area rumah utama kita tidak diperkenankan menggunakan sepatu ataupun sandal. Untuk yang ingin berkeliling di Jim Thomson House, mereka menyediakan pemandu lokal dengan beberapa pilihan bahasa pengantar. Saya sudah pasti mengikuti tur dengan pemandu berbahasa Inggris. Untuk info lebih jauh mengenai sejarah, lokasi, serta harga tiket mengunjungi Kediaman Jim Thomson bisa dilihat melalui websitenya.

Jim Thomson House and Museum
6 Soi Kasemsan 2, Rama 1 Road, Bangkok
Open 09:00 – 18:00
web: www.jimthomsonhouse.com

 

Berbelanja di Bangkok

Bangkok menawarkan banyak atraksi dan hiburan yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Mulai dari yang muda hingga tua, yang senang belanja, nyari yang aneh-aneh, sejarah, ataupun bangunan kuno. Semua ada di Bangkok.

Tulisan kali ini, saya mau menceritakan pengalaman belanja di Bangkok. Sungguh sebenarnya saya ga doyan-doyan banget belanja, tapi menjelajah tempat-tempat ini plus lihat harganya yang murah, saya jadi keseret dong!!!

IMG_1618

jembatan untuk berjalan ke Platinum Fashion Mall

Buat yang mau membeli baju-baju modern ala ala online shop yang bertebaran di instagram, bisa dicari di daerah Pratunam. Di sana ada dua mall besar yang memiliki banyak pilihan untuk baju, kaos, dress, tas, sepatu, bahkan oleh-oleh seperti magnet kulkas, gantungan kunci, dan dompet yaitu Platinum Fashion Mall serta Paladium World Shopping. Bentuknya mirip Trade Center di Indonesia. Kalau mau makan, ada food court yag terbilang murah di lantai atas Platinum Fashion Mall.

Kalau mau ngubek-ngubek sedikit, bisa jalan ke Pratunam Market untuk mendapatkan baju-baju dengan harga lebih miring. Beberapa teman saya memilih membeli baju di daerah Pratunam dari pada di Chatuchak Weekend Market karena harga yang lebih bagus.

Apabila ingin mencari berbagai barang saya sarankan untuk mencoba berkeliling di Chatuchak Weekend Market. Hampir semua barang yang dipikirkan ada di sini. Mulai dari perabot kayu, keramik, tas-tas oleh-oleh, gantungan kunci, baju-baju ala distro, lukisan, bahkan ngopi di dalem pasar ada semua di sini. Saking luasnya mereka punya peta sendiri loh untuk ngasi tahu distrik-distrik toko yang ada. Pengalaman saya, kalau mau ketemuan setelah muter sendiri-sendiri mending janjian di Clock Tower karena berada tepat di tengah Chatuchak Weekend Market.

Peta Chatuchak Weekend Market yang didapat dari sini

IMG_1449

Clock Tower

Sebenernya kalau mau mencari tempat oleh-oleh murah yang banyak disarankan beberapa travel blogger ada di Asiatique. Lokasinya sejajaran KFC Asiatique. Nanti akan melewati bank, lorong, dan ada sebuah toko setelahnya. Di situlah toko yang dimaksud. Kayaknya banyak banget turis Indonesia maupun Malaysia yang berbelanja di sana hingga penjualnya fasih banget ngomong Bahasa Indonesia. Saya sempat bertanya harga dompet koin, magnet kulkas, serta gantungan kunci. ternyata memang lebih murah dari pada di Chatucak maupun Pratunam.

IMG_1502

Di Asiatique ini banyak tempat untuk nongkrong dan berbelanja. Untuk yang penasaran dengan Lady Boy, di sini lah kalian bisa melihat pertunjukan Calypso Cabaret. Saya sendiri belum pernah ke sana karena tiket pertunjukan yang mahal, sekitar 900 THB. Mungkin suatu hari nanti saya akan menonton.

Apabila ingin mencari snack, makanan, serta minuman khas Thailand, saya menyukai belanja di Big C Pratunam. Spesifik banget kan? Karena hanya di sini saya menemukan banyak promo dibandingkan Big C di tempat lain. Seperti beli Nestea Milk Tea yang 14 sachet bakal dapet ukuran kecil berisi tiga sachet. Sebenarnya Big C ini semacam Carefour atau Giant di Indonesia. Awalnya saya ga nyangka kalau harga snack, Thai Tea, dan bumbu Tom Yam di sini terkadang lebih bagus dibandingkan tempat lain.

IMG_1142

Untuk yang ingin mencari barang-barang branded, di daerah Siam ada beberapa mall yang bisa didatangi seperti Siam Discovery, Siam Center, Siam Paragon, Siam Square, serta Central World. Puas-puasin nyari Onitsuga Tiger, Lush, ataupun beberapa merk lainnya. Kalau Annelo sih kayaknya hampir di semua mall ada.

IMG_3723

Central World

Kalau mau berbelanja di Bangkok siap-siap memakai baju dan alas kaki yang nyaman karena bakal banyak bawa barang dan jalan-jalan. Jangan lupa juga untuk kekepin dompet agar ga jadi kebablasan belanjanya 😀 . Selamat berbelanja di Bangkok!!!!