Makanan Khas Manado

Saya lagi kangen dengan Manado dan isinya. Terutama makanan khas-nya yang jarang ditemukan di Bandung. Kalau kemarin-kemarin saya membahas soal hasil lautnya yang segar, kali ini saya mau berbagi makanan khas dari Manado yang lain.

1.. Tinutuan
Tinutuan atau yang lebih dikenal dengan bubur Manado merupakan campuran dari labu kuning, kangkung, bayam, nasi, jagung, singkong rebus, kemangi, serta ada sayuran lain yang saya tidak tahu namanya apa. Tinutuan pun biasanya dimakan dengan pelengkapnya seperti ikan Cakalang, sambel Roa, perkedel Nike, ataupun perkedel jagung. Rasanya manis, gurih, enak, dan menghangatkan badan. Mungkin karena saat makan ini pertama kali saya lagi sakit batuk parah, jadi nemu Tinutuan tuh bahagia banget, karena gampang ditelen dan anget.

Perkedel Nike, Tinutuan, dan Latte

Saat pertama makan, tentu saya kaget dengan porsinya yang banyak banget!! Ga tahu kenapa, setiap makan di Manado, porsi makannya menurut saya besar-besar dan ga ada pilihan setengah porsi kayak kalo beli bubur ayam di Bandung. Selain itu yang saya kaget lagi adalah jenis karbohidrat yang lebih dari satu. Oia bahkan ada jenis tinutuan yang menggunakan mi juga loh dan biasanya disebut midal. Oleh karena kedua hal ini lah teman saya sampai bilang bahwa penyakit yang sering diderita oleh Manado itu adalah diabetes karena susah mengurangi asupan karbo.

Meskipun begitu, Tinutuan ini biasanya adalah menu sarapan yang sangat mudah ditemukan, tapi kalau mau dipakai untuk makan siang atau malam juga bisa. Buat yang lagi diet, makan ini pun dijamin kenyang asal ga nambah pakai makanan pendamping tinutuannya ya πŸ˜€ .

2. Gohu Pepaya
Awalnya saya pikir ini tahu campur pepaya :p . Dipikiran kata “gohu” sodaraan sama “gehu”. Ternyata beda!!! Gehu adalah Bahasa Sunda dari tahu, sedangkan Gohu Pepaya ini berarti asinan pepaya. Rasanya sedikit ada rasa asam, pedas, dan manis. Menurut temen, Gohu Pepaya ini biasanya dibuat dengan mencampur Saguer yang belum mengandung alkohol.

3. Saguer
Saguer sendiri sebenarnya adalah arak khas Minahasa yang merupakan fermentasi dari air nira dari kuncup pohon kelapa. Warnanya yang putih susu mengingatkan saya sama alkohol air berasnya Korea yang biasa saya lihat di drakor πŸ˜€ . Saya mencoba Saguer yang belum memiliki kadar alkohol yang tinggi karena baru dipanen pagi hari dan kami minum jam 12 siang. Rasanya manis dan enak!! Menariknya kalau air Saguer ini dimasak hingga airnya habis dan mengental, dia bisa jadi gula merah loh.

4. Pisang Sambal Roa
Di Manado, orang-orang makan pisang selalu pakai sambal!! Baik pisang goreng manis, maupun Pisang Goroho. Pisang Goroho merupakan pisang yang masih muda, diiris tipis, dan kemudian digoreng. Rasa pisangnya agak asam dan hambar dibandingkan dengan pisang yang sering digunakan untuk pisang goreng. Walaupun begitu, apapun jenis pisangnya, makannya tetap pakai sambal Roa.

5. Es Brenebon
Es Brenebon adalah es kacang merah yang dicampur dengan alpukat. Cocok banget dimakan saat cuaca Manado lagi panas-panasnya. Di makannya setelah makan siang dan menjelang sore hari. Selain segar, lumayan membantu untuk yang butuh cemilan agak berat karena kan pakai kacang merah, jadi mengenyangkan sambil menantikan waktu buat makan malem. Dipikir-pikir ada beberapa daerah di Indonesia ini ada yang menggunakan kacang merah jadi cemilan ya, sebut saja Palembang yang juga punya es kacang merah.

6. Lalampa
Lalampa ini sejenis lemper namun isiannya bukanlah daging, ayam, maupun oncom. Lalampa menggunakan ikan cangkalang sebagai isiannya. Makan Lalampa dua biji yang sudah dipanaskan, cukup mengganjal perut di saat saya bekerja di pagi hari. Sayang saya baru sadar ga punya foto dari Lalampa ini. Maklum begitu dateng keingetannya langsung dimakan mumpung masih panas.

Membahas makanan Khas Manado ini tidak akan ada habisnya. Mungkin karena saya pun berkunjung cukup lama di sini, jadi ada banyak tempat yang saya kunjungi serta makanan yang saya cobain. Cerita soal makan-makan di Manado pun masih akan berlanjut πŸ˜€ .


Menemukan Jurnal di Mucca

Setiap awal tahun saya selalu mencari jurnal yang bisa saya gunakan untuk menulis kegiatan, perasaan, jadwal, atau lembaran-lembaran tiket yang saya tempel sebagai bentuk kenangan karena pernah ke sebuah tempat. Tahun ini saya mulai kebingungan karena dari akhir tahun belum menemukan jurna yang saya inginkan. Pilihan terakhir sudah tentu buku tulis dari Muji dengan kertas-kertas polosnya.

Sampai saat saya berlibur ke Penang, secara tidak sengaja menemukan sebuah toko yang khusus untuk membuat buku jurnal bernama Mucca. Awalnya keinginan saya dan sepupu untuk mampir ke Mucca adalah warna tokonya yang berbeda dari toko-toko yang lain, berwarna biru tua dan terletak di pojok jalan. Saat masuk ke dalam toko, saya dapat segera merasakan kehangatan dari tokonya sendiri!! Saya beneran berada di toko yang tepat!

Mucca baru membuka tokonya di pertengahan tahun 2019. Sebelumnya mereka biasa menerima pesanan secara online. Duh beneran deh, saya dibuat kagum dengan servis yang diberikan oleh para penjaga tokonya. Satu orang menemani tamu di awal untuk memberi tahu bagaimana memebuat jurnal yang diinginkan. Pertanyaannya pun cukup detail, sehingga saya yang biasa terima jadi jurnal, jadi harus berpikir πŸ˜€ . Mereka akan bertanya tujuan dibuat jurnalnya, apakah untuk bullet journal seperti yang sedang tren, untuk keperluan kerja, menulis resep, atau untuk apa. Kemudian cover yang diinginkan mau yang berbentuk hard cover atau yang soft cover, dan mereka punya banyak warna untuk setiap cover-nya. Begitupun pilihan kertas, tulisan di kertas-kertasnya, serta tebal-tipis kertas semua ada!! Pembatas antar bagian, pembatas jurnalnya, mau ada tempat untuk menyimpan bolpen, sampai beragam penutup bukunya ada semua. Untuk lebih lengkapnya boleh cek ricek di web mereka.

suasana di dalam toko

Saya benar-benar kebingungan saat itu. Untungnya ada mbak-mbak penjaga toko yang berbaik hati mengarahkan mengenai kebutuhan-kebutuhan yang saya inginkan untuk jurnal. Selain itu ada selembar kertas yang juga dapat membantu kita menentukan pilihan mulai dari jenis cover, hingga nama yang akan dicetak di bagian depan jurnal. Ya ampun, kayaknya setengah jam saya berkutat mengelilingi toko untuk melihat-lihat apa saja yang saya inginkan untuk si Jurnal ini. Setelah selesai, ternyata saya juga diajak untuk menetukan berapa banyak partisi yang diinginkan, jumlah kertas ditiap partisinya, apakah jenis kertanya mau dicampus atau tidak, dan lain-lain. Setelah semua sudah dipastikan, jurnal pun mulai dijilid. Proses ini memakan waktu hanya 30 menit!!

Selama menunggu, saya dan sepupu lebih banyak diam. Ia menggambar orang yang datang dan pergi, sedangkan saya asyik melihat bagaimana penjaga toko bekerja, menyapa pengunjung, serta memandangi wajah-wajah mengunjung yang asyik dan seru dalam memilih apa yang mereka inginkan ada di jurnalnya. Waktu 30 menit berlalu begitu saja. Salah seorang penjaga toko yang berbeda mendatangi saya untuk memastikan bahwa hasil jilidnya sudah benar sebelum membungkusnya dengan kotak. Setelah semua selesai, saya benar-benar seperti menerima kado awal tahun!! Senang sekali rasanya.

beautiful present!!

Saat kami pun memutuskan untuk keluar, seorang penjaga toko berbicara kepada sepupu bahwa ia ingin melihat hasil dari gambar yang dilakukannya selama menunggu saya. Ternyata penjaga tokonya ngeuh kalo digambar sama sepupu!! Ia memuji hasil gambar sepupu yang dapat menangkap kekhasan dari dirinya, dan selain itu kami sempat menebak-nebak pengunjung mana yang digambar oleh sepupu. Beneran heboh dan sempet pada memotret hasil gambarannya. Sepupu sendiri hanya bisa tertawa dengan muka merah dan malu di belakang saya. Keluar-keluar kami berdua membawa cerita dari Toko Mucca. Beneran tidak hanya tokonya yang hangat, tapi juga orang-orang di dalamnya.

Makan di Manado

Saat saya akan tinggal tiga minggu di Manado, beberapa orang teman mewanti-wanti untuk menjaga makan selama di sana. Maklum aja, di Manado kan terkenal dengan makanan ekstrimnya πŸ˜€ . Saat di sana tadinya saya nyaris di bawa ke pasar yang menjual segala macam hewan-hewan yang di makan oleh orang Manado, tapi berhubung saya ga tegaan dan takut trauma, akhirnya ga jadi ke sana.

Sebelum berangkat ke Manado pun, Mbak Shasya sempet memberikan link tulisan di blognya soal makanan halal di Manado. Asli terharu banget dapet list-nya!!! Seenggaknya saya ga buta mau makan apa di sana dan ga terjebak makan junk food terus-terusan.

Untuk saya yang biasa tinggal di gunung, cita-cita saat lagi ke Manado itu semudah untuk makan ikan dan teman-temannya. Alhamdulillah banget dalam seminggu saya bisa tiga sampai empat kali makan itu semua dengan harga murah!!!! Asli murah banget kalau dibandingkan makan ikan di Bandung.

Salah satu tempat makan favorit selama di sana adalah Tuna House yang ada di daerah Kawasan Mega Mas. Selain di sana sebenernya saya pernah nyobain makan di Tuna House dekat bandara dan di Bitung Karangria. Kalau soal tempat sudah tentu instagramable yang di Bitung Karangria, tapi saran saya kalau mau ke cabang sana mending satu jam sebelum laper karena lama banget nunggu makanannya!!! Soal makanannya sesuai nama, spesialis mereka adalah tuna, mulai dari rahang tuna, daging tuna bakar, hingga sashimi-nya. Harga untuk daging tuna bakar sama nasi dan sepiring kecil tumis kangkung yang paling murah adalah 35 ribu saja!!! Sedangkan untuk segunung sashimi dan singkong rebus harganya 50 ribu!!! Sedangkan udang saus menteganya dengan jumlah udang melimpah harganya pun 50 ribu!!! Muraaahhh!!!

satu set seperti ini 35 ribu gengs!!! – belum sama minum ya –
gunungan sashimi, soyu, dan singkong.

Selain Tuna House, saya sempat diajakin ke Rahang Tuna Om Iker. Kalau ini ada di Jl. Pier Tendean, sama mesti masuk ke dalam kawasan ruko gitu juga. Ini adalah pertama kali saya makan rahang tuna dan enak!!! Selain itu muraaaaahhh!! Cuma 35 ribu aja. Saya sampai bengong dong pas tahu harganya. Beneran deh menurut saya segitu tuh rahangnya gede. Kata temen saya, tuna yang sehari-hari di makan oleh orang Manado itu biasanya yang suka ditolak untuk eskport loh. Wouw banget ya, kebayang kan yang suka dikirim ke negara lain segede apa. Sayang sungguh sayang sampai tulisan ini naik cetak di blog, saya ga nemu foto rahang tuna-nya.

Duh baru dua tempat aja, saya udah kangen banget makan tuna di Manado. Selain tuna, saya juga suka sama nasi kuningnya!! Seperti di Bandung atau Makasssar, orang Manado pun menjadikan nasi kuning sebagai sarapan. Perbedaannya adalah dicara penyajian serta isinya. Nasi kuning Manado biasanya dibungkus oleh daun Woka atau daun Lontar dan di dalamnya ada ikan cakalangnya!!

Nasi Kuning Cakalang

Untuk tempat makan yang saya coba di Manado, nanti saya buat tulisannya lagi ya. Sekarang cukup tiga dulu πŸ˜€ .

Meninggalkan Sarang

Perjalanan untuk mempelajari Pendidikan Waldorf mengantarkan saya di pertengahan Bulan September ke Manado. Saya pergi meninggalkan sarang selama tiga minggu untuk berdiskusi dan membantu teman-teman di Manado mewujudkan tempat penitipan anak yang betul-betul pro terhadap anak dengan memberikan lingkungan terbaik untuk tumbuh kembang anak-anak untuk menjadi individu yang bermanfaat ketika dewasa.

Perjalanan ke Manado juga merupakan perjalanan terjauh ke Wilayah Timur Indonesia. Banyak sekali pengalaman baru yang saya dapatkan. Oh tentu selain pengalaman dan urusan pekerjaan, saya juga menyempatkan untuk jalan-jalan, melihat-lihat, dan makan banyak banget makanan yang ga saya temukan di Barat Pulau Jawa.

Semuanya akan saya ceritakan pelan-pelan di tulisan-tulisan selanjutnya. Semoga cepat selesai ya tulisan-tulisan soal Manado ini πŸ˜€ . Sementara itu, ada sepotong senja yang indah banget!! Semoga menuju liburan akhir tahun dengan bahagia yaaa~

Kangen Makan Apa Di Makassar?

Menjelang akhir Juni saya terkena penyakit rindu ke Makassar. Rasanya baru beberapa bulan yang lalu saya main ke sana untuk melihat Makassar International Writer Festival (MIWF), ternyata sudah setahun lebih berlalu.

Selain sedih dengan tiket pesawat yang mahal banget hingga membuat saya dan kawan-kawan batal ke sana, kesedihan saya yang lain adalah tema MIWF tahun ini menarik banget!! Temanya adalah People dan ada Peppermoon Puppet Theater yang mengadakan pertunjukan Puno Letter to The Sky serta ada sederetan penulis yang ingin saya lihat diskusinya. Oh yang terbaru adalah MIWF kali ini mengupayakan untuk bebas sampah dalam festivalnya. Hal lain yang bikin pengen ke MIWF lagi adalah poetry under the sky-nya. Kebayang dong lihat bintang-bintang di langit sambil dengerin puisi dan petikan gitar?

Selain rangkaian acara MIWF dan tentunya ketemu sama beberapa sahabat yang bisa santai curcol-curcol berjamaah, saya juga kangen berat sama makanannya!! Sebenernya saya punya banyak daftar makanan yang ingin kembali dimakan saat ke Makassar, tapi mari kita lihat beberapa dulu yang paling dikangenin:

1.Pallubasa

Awalnya saya ga tahu ini jenis makanan apa dan ga paham juga bentukannya. Tapi berhubung salah seorang sahabat baik mengatakan enak, saya hanya pasrah mengikutinya. Ternyata……emang beneran enak!!! Pallubasa ini adalah jeroan dan daging sapi yang dimasak dalam waktu lama dan kemudian ditambahkan dengan rempah-rempah. Rasanya gurih tapi ringan. Inilah yang membedakannya dengan Coto Makassar. Selain itu Pallubasa ini dapat disantap bersama dengan telur mentah, menurut teman saya campuran pallubasa dan telur ini membuat kuahnya semakin creamy.

2.Sup Saudara
Ini adalah varian lain dari jeroan dan daging sapi yang dimasak lama. Bedanya beneran berada dibumbu campuran supnya. Tampilannya Sup Saudara ini sekilas mengingatkan saya sama soto betawi, tapi rasanya bedaaa!! Sayang saya ga punya fotonya karena keburu abis kita makan πŸ˜€ .

3.Jalangkote

Sebenarnya kalau di pulau Jawa kita menyebutnya pastel. Isinya memang agak beda dan lebih banyak daging cincangnya. Cocok banget buat bekal piknik malam saat MIWF πŸ˜€ .

4.Pisang Ijo

Saat ke Makassar saya baru tahu kalau pisang ijo yang selama ini saya makan di kantin kampus itu cuma pisang ijo ala-ala. Pisang ijo yang asli memiliki lembaran kulit yang cukup tebal. Selain itu ada tambahan kuah santan lembutnya. Makan satu porsi pisang ijo ini beneran bikin kenyang!!

5. Mi Titi

Awalnya saat seorang sahabat menyebut dia ingin makan mi Titi, saya sempet bengong, karena sepengetahuan saya Mi Titi itukan adanya di Medan ya. Ternyata beda bentuk. Kalau di Medan Mi Titinya adalah Mi Aceh, sedangkan di Makassar Mi Titi itu adalah mi kering yang disiram dengan kuah capcay gitu. Rasanya enak banget!!!

6. Bakso Ati Raja

Ternyata makan bakso di Makassar punya rasa yang berbeda dengan di Pulau Jawa!! Kuah baksonya bening dan ringan serta dimakan bersama dengan buras. Paling enak menurut saya adalah bakso gorengnya. Bisa loh saya ngabisin tiga biji bakso gorengnya πŸ˜€ . Hal unik lainnya adalah kalau makan bakso di Makassar itu pakai jeruk nipis untuk menambah segar kuah kaldunya.

7. Seafood

Ke Makassar rasanya kurang afdol kalau belum nyobain hidangan lautnya. Asliiii ikan-ikan dan udangnya seger semuaaa!! Apalah saya yang biasa makan seafood di Bandung ini. Kalau kata seorang kenalan saya yang bekerja di sektor perikanan, seafood di Bandung ini sudah mengalami tujuh kali kematian alias perjalanannya panjang banget!! Berhubung seafoodnya seger, tentu rasa dagingnya manis. Duh lihat fotonya aja jadi ngiler!! Apalagi di makan bareng nasi hangat, cah kangkung, serta sambel mangga yang juga seger.

Meski daftar makanannya cuma tujuh, tapi udah sukses membuat saya lapar!! Semoga ada rejeki untuk kembali ke Makassar tahun ini.

Numpang Bengong di Fillmore Coffee

Saat bermain ke Jakarta di Bulan Februari kemarin memang sudah saya niatkan untuk mengunjungi beberapa tempat ngopi. Hal ini bermula dari ngobrol-ngobrol santai bareng sahabat seperjalanan yang sama-sama doyan ngopi. Tadinya saya penasaran banget pengen ke Giyanti, apa daya kalo akhir minggu kedai kopi yang satu ini tutup. Jadilah kita akhirnya memanfaatkan google untuk mencari-cari tempat ngopi di daerah Jakarta Selatan. Maklum aja, kita berdua sama-sama menginap di daerah sana soalnya. Satu di Kuningan dan satu lagi di Benhill.

Akhirnya setelah membaca beberapa review, kami memutuskan untuk mencoba Fillmore Coffee. Letaknya berada tersembunyi di Suites at Seven, masuk ke dalam gang gitu. Saya sampai berpikir beneran nih ada tempat ngopi di sini? Yah maklumin aja yak, dua-duanya orang Bandung dan buat Jakarta πŸ˜€ . Saat akhirnya melihat Fillmore Coffee, saya langsung senang dengan tempatnya.

Terdiri dari dua lantai dengan tipe bangunan industrial, Fillmore Coffee ini nyaman banget buat numpang bengong. Lantai satunya untuk non smooking dan lantai duanya untuk smooking area. Salah satu yang saya suka, di sini ada tanaman merambat dan di seberang kedainya pun ada taman kecil yang bikin segar. Untuk tempat duduknya sendiri, karena merupakan kedai kecil, jadi kursinya pun terbatas dan jarak antar kursinya tidak begitu lebar. Meskipun begitu, saya masih cukup nyaman dan tidak terganggu dengan orang yang mengobrol di meja tengah.

Untuk menunya sendiri, selain varian dari espresso, juga ada menu kopi dengan menggunakan beberapa pilihan filter. Untuk yang lagi ga pengen ngopi ada pilihan cokelat, matcha latte, teh, serta jus. Selain minuman, Fillmore Coffee juga menyediakan berbagai pastry dan keik. Untuk yang laperan, saat saya lihat di ig-nya ternyata mereka sekarang menyediakan menu makanan berat.

Orange Mocha

Saya sendiri memesan cafe latte dingin sedangkan sahabat saya memesan orange mocha. Mungkin saat ke sana kami kurang beruntung, rasa kopi yang kami pesan sama-sama terasa gosong di akhir lidah. Kayaknya perlu sekali lagi ke sana buat mastiin. Padahal kalau ga ada rasa gosong itu, rasa kopinya beneran enak. Orange mocha-nya juga unik karena saya baru pertama ngerasain kopi dengan rasa jeruk.

Saya beneran betah banget di sini!! Tempat duduk yang segera menjadi favorit saya sudah pasti di depan jendela. Beneran asyik banget!! Lagu-lagu yang diputar pun enak untuk didengar sehingga menambah kesyahduan saat saya duduk di sana. Selain untuk tempat bengong, Fillmore juga enak untuk dipakai bekerja. Kami berdua cukup lama berada di sini dari sore hingga malam. Saya membaca buku dan bengong sedangkan sahabat saya berkutat dengan laptopnya. Sesekali kami mengobrol sebelum akhirnya kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Fillmore Coffee
Hidden inside Suites @ Seven
Ig: @fillmorecoffeejkt

*Terimakasih Oji diperbolehkan meminjam kamera dan memakai hasil fotonya untuk tulisan ini

Ngobrol Santai di Filosofi Kopi

Bulan Februari lalu akhirnya saya berkesempatan untuk mencoba beberapa kedai kopi di Jakarta. Salah satunya adalah Filosofi Kopi. Alasan saya mendatangi Filkop -kependekan dari Filosofi Kopi- tak lain dan tak bukan tentu saja karena merupakan tempat yang sengaja dibangun untuk syuting film berjudul sama yang merupakan adaptasi dari salah satu cerpen di buku berjudul sama karya Dewi lestari. Hihihi ketahuan banget ujung-ujungnya karena ngefans sama karya-karya Dewi Lestari πŸ˜€ .

Saat ke sana, suasana Filkop yang berada di dalam Blok M Square Melawai ini rame banget!! Saya lupa kalau hari itu adalah malam Minggu, saatnya warga Jakarta untuk duduk-duduk santai menikmati penghujung minggu. Saya, Oji, dan Tane pun ke sana dengan alasan yang sama, yaitu untuk duduk santai setelah selesai menonton Jazz Buzz di Salihara. Alhamdulillah banget penantian mendapatkan kursi kosong ga begitu lama. Awalnya kami hanya mendapatkan tempat duduk untuk berdua di pojok, namun salah seorang dari kami cukup jeli melihat bahwa ada tempat duduk untuk berempat yang akan diduduki oleh dua orang. Jadilah kami menawarkan untuk bertukar tempat duduk dan keduanya setuju untuk bertukar tempat.

Berbeda dengan kedai kopi yang sering saya lihat di Bandung, Filkop memiliki bar kopi yang berada di tengah ruangan sehingga pengunjung yang datang dapat melihat bar dari berbagai sisi. Tempatnya sendiri tidak begitu luas dan sekali lagi, rame banget!! Benar-benar tempat yang pas untuk mengobrol menghabiskan hari. Untuk yang mau curhat pun jadi tempat yang cocok karena berisik, sehingga ga perlu khawatir curhatan akan didengar oleh orang yang duduk di sebelah atau di belakang. Kami sendiri pun terbilang cukup berisik dan ketawa cukup keras saat mendengar curhatan seorang di antara kami yang ternyata ujung-ujungnya dagelan.

Untuk kopinya sendiri, saya sengaja membeli latte hangat. Rasa kopinya ga terlalu kuat, jadi pas banget untuk temen ngobrol malem-malem. Sementara Oji memilih untuk membeli secangkir cappucino dan Tane memesan Matcha Latte. Kami bertiga cukup puas dengan minuman yang kami pesan ini. Salah satu yang menyenangkan di sini adalah ada tap water!! Jadi kalau biasanya di kedai kopi ada teko untuk menyediakan air mineral, di sini mereka menyediakannya keran air πŸ˜€ . Selain minuman, kami pun memesan churros untuk menemani mengobrol. Untuk yang laperan, Filkop hanya menyediakan kudapan dan keik. Jadi ada baiknya makan dulu sebelum ke sini atau seperti kami, ngopi dulu baru makan.

Senang sekali rasanya bisa menghabiskan waktu dengan mengobrol dan tertawa bareng di malam Minggu seperti ini. Kalau ga inget kita bertiga laper, curiga bisa sampai nyaris tutup ada di sana.

Filosofi Kopi
Kawasan Terpadu, Blok M Square
Ig: @filosofikopi

*Terima kasih Oji sudah meminjamkan kamera hp-nya untuk mengambil gambar di Filkop.