Kangen Makan Apa Di Makassar?

Menjelang akhir Juni saya terkena penyakit rindu ke Makassar. Rasanya baru beberapa bulan yang lalu saya main ke sana untuk melihat Makassar International Writer Festival (MIWF), ternyata sudah setahun lebih berlalu.

Selain sedih dengan tiket pesawat yang mahal banget hingga membuat saya dan kawan-kawan batal ke sana, kesedihan saya yang lain adalah tema MIWF tahun ini menarik banget!! Temanya adalah People dan ada Peppermoon Puppet Theater yang mengadakan pertunjukan Puno Letter to The Sky serta ada sederetan penulis yang ingin saya lihat diskusinya. Oh yang terbaru adalah MIWF kali ini mengupayakan untuk bebas sampah dalam festivalnya. Hal lain yang bikin pengen ke MIWF lagi adalah poetry under the sky-nya. Kebayang dong lihat bintang-bintang di langit sambil dengerin puisi dan petikan gitar?

Selain rangkaian acara MIWF dan tentunya ketemu sama beberapa sahabat yang bisa santai curcol-curcol berjamaah, saya juga kangen berat sama makanannya!! Sebenernya saya punya banyak daftar makanan yang ingin kembali dimakan saat ke Makassar, tapi mari kita lihat beberapa dulu yang paling dikangenin:

1.Pallubasa

Awalnya saya ga tahu ini jenis makanan apa dan ga paham juga bentukannya. Tapi berhubung salah seorang sahabat baik mengatakan enak, saya hanya pasrah mengikutinya. Ternyata……emang beneran enak!!! Pallubasa ini adalah jeroan dan daging sapi yang dimasak dalam waktu lama dan kemudian ditambahkan dengan rempah-rempah. Rasanya gurih tapi ringan. Inilah yang membedakannya dengan Coto Makassar. Selain itu Pallubasa ini dapat disantap bersama dengan telur mentah, menurut teman saya campuran pallubasa dan telur ini membuat kuahnya semakin creamy.

2.Sup Saudara
Ini adalah varian lain dari jeroan dan daging sapi yang dimasak lama. Bedanya beneran berada dibumbu campuran supnya. Tampilannya Sup Saudara ini sekilas mengingatkan saya sama soto betawi, tapi rasanya bedaaa!! Sayang saya ga punya fotonya karena keburu abis kita makan 😀 .

3.Jalangkote

Sebenarnya kalau di pulau Jawa kita menyebutnya pastel. Isinya memang agak beda dan lebih banyak daging cincangnya. Cocok banget buat bekal piknik malam saat MIWF 😀 .

4.Pisang Ijo

Saat ke Makassar saya baru tahu kalau pisang ijo yang selama ini saya makan di kantin kampus itu cuma pisang ijo ala-ala. Pisang ijo yang asli memiliki lembaran kulit yang cukup tebal. Selain itu ada tambahan kuah santan lembutnya. Makan satu porsi pisang ijo ini beneran bikin kenyang!!

5. Mi Titi

Awalnya saat seorang sahabat menyebut dia ingin makan mi Titi, saya sempet bengong, karena sepengetahuan saya Mi Titi itukan adanya di Medan ya. Ternyata beda bentuk. Kalau di Medan Mi Titinya adalah Mi Aceh, sedangkan di Makassar Mi Titi itu adalah mi kering yang disiram dengan kuah capcay gitu. Rasanya enak banget!!!

6. Bakso Ati Raja

Ternyata makan bakso di Makassar punya rasa yang berbeda dengan di Pulau Jawa!! Kuah baksonya bening dan ringan serta dimakan bersama dengan buras. Paling enak menurut saya adalah bakso gorengnya. Bisa loh saya ngabisin tiga biji bakso gorengnya 😀 . Hal unik lainnya adalah kalau makan bakso di Makassar itu pakai jeruk nipis untuk menambah segar kuah kaldunya.

7. Seafood

Ke Makassar rasanya kurang afdol kalau belum nyobain hidangan lautnya. Asliiii ikan-ikan dan udangnya seger semuaaa!! Apalah saya yang biasa makan seafood di Bandung ini. Kalau kata seorang kenalan saya yang bekerja di sektor perikanan, seafood di Bandung ini sudah mengalami tujuh kali kematian alias perjalanannya panjang banget!! Berhubung seafoodnya seger, tentu rasa dagingnya manis. Duh lihat fotonya aja jadi ngiler!! Apalagi di makan bareng nasi hangat, cah kangkung, serta sambel mangga yang juga seger.

Meski daftar makanannya cuma tujuh, tapi udah sukses membuat saya lapar!! Semoga ada rejeki untuk kembali ke Makassar tahun ini.

Advertisements

Numpang Bengong di Fillmore Coffee

Saat bermain ke Jakarta di Bulan Februari kemarin memang sudah saya niatkan untuk mengunjungi beberapa tempat ngopi. Hal ini bermula dari ngobrol-ngobrol santai bareng sahabat seperjalanan yang sama-sama doyan ngopi. Tadinya saya penasaran banget pengen ke Giyanti, apa daya kalo akhir minggu kedai kopi yang satu ini tutup. Jadilah kita akhirnya memanfaatkan google untuk mencari-cari tempat ngopi di daerah Jakarta Selatan. Maklum aja, kita berdua sama-sama menginap di daerah sana soalnya. Satu di Kuningan dan satu lagi di Benhill.

Akhirnya setelah membaca beberapa review, kami memutuskan untuk mencoba Fillmore Coffee. Letaknya berada tersembunyi di Suites at Seven, masuk ke dalam gang gitu. Saya sampai berpikir beneran nih ada tempat ngopi di sini? Yah maklumin aja yak, dua-duanya orang Bandung dan buat Jakarta 😀 . Saat akhirnya melihat Fillmore Coffee, saya langsung senang dengan tempatnya.

Terdiri dari dua lantai dengan tipe bangunan industrial, Fillmore Coffee ini nyaman banget buat numpang bengong. Lantai satunya untuk non smooking dan lantai duanya untuk smooking area. Salah satu yang saya suka, di sini ada tanaman merambat dan di seberang kedainya pun ada taman kecil yang bikin segar. Untuk tempat duduknya sendiri, karena merupakan kedai kecil, jadi kursinya pun terbatas dan jarak antar kursinya tidak begitu lebar. Meskipun begitu, saya masih cukup nyaman dan tidak terganggu dengan orang yang mengobrol di meja tengah.

Untuk menunya sendiri, selain varian dari espresso, juga ada menu kopi dengan menggunakan beberapa pilihan filter. Untuk yang lagi ga pengen ngopi ada pilihan cokelat, matcha latte, teh, serta jus. Selain minuman, Fillmore Coffee juga menyediakan berbagai pastry dan keik. Untuk yang laperan, saat saya lihat di ig-nya ternyata mereka sekarang menyediakan menu makanan berat.

Orange Mocha

Saya sendiri memesan cafe latte dingin sedangkan sahabat saya memesan orange mocha. Mungkin saat ke sana kami kurang beruntung, rasa kopi yang kami pesan sama-sama terasa gosong di akhir lidah. Kayaknya perlu sekali lagi ke sana buat mastiin. Padahal kalau ga ada rasa gosong itu, rasa kopinya beneran enak. Orange mocha-nya juga unik karena saya baru pertama ngerasain kopi dengan rasa jeruk.

Saya beneran betah banget di sini!! Tempat duduk yang segera menjadi favorit saya sudah pasti di depan jendela. Beneran asyik banget!! Lagu-lagu yang diputar pun enak untuk didengar sehingga menambah kesyahduan saat saya duduk di sana. Selain untuk tempat bengong, Fillmore juga enak untuk dipakai bekerja. Kami berdua cukup lama berada di sini dari sore hingga malam. Saya membaca buku dan bengong sedangkan sahabat saya berkutat dengan laptopnya. Sesekali kami mengobrol sebelum akhirnya kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Fillmore Coffee
Hidden inside Suites @ Seven
Ig: @fillmorecoffeejkt

*Terimakasih Oji diperbolehkan meminjam kamera dan memakai hasil fotonya untuk tulisan ini

Ngobrol Santai di Filosofi Kopi

Bulan Februari lalu akhirnya saya berkesempatan untuk mencoba beberapa kedai kopi di Jakarta. Salah satunya adalah Filosofi Kopi. Alasan saya mendatangi Filkop -kependekan dari Filosofi Kopi- tak lain dan tak bukan tentu saja karena merupakan tempat yang sengaja dibangun untuk syuting film berjudul sama yang merupakan adaptasi dari salah satu cerpen di buku berjudul sama karya Dewi lestari. Hihihi ketahuan banget ujung-ujungnya karena ngefans sama karya-karya Dewi Lestari 😀 .

Saat ke sana, suasana Filkop yang berada di dalam Blok M Square Melawai ini rame banget!! Saya lupa kalau hari itu adalah malam Minggu, saatnya warga Jakarta untuk duduk-duduk santai menikmati penghujung minggu. Saya, Oji, dan Tane pun ke sana dengan alasan yang sama, yaitu untuk duduk santai setelah selesai menonton Jazz Buzz di Salihara. Alhamdulillah banget penantian mendapatkan kursi kosong ga begitu lama. Awalnya kami hanya mendapatkan tempat duduk untuk berdua di pojok, namun salah seorang dari kami cukup jeli melihat bahwa ada tempat duduk untuk berempat yang akan diduduki oleh dua orang. Jadilah kami menawarkan untuk bertukar tempat duduk dan keduanya setuju untuk bertukar tempat.

Berbeda dengan kedai kopi yang sering saya lihat di Bandung, Filkop memiliki bar kopi yang berada di tengah ruangan sehingga pengunjung yang datang dapat melihat bar dari berbagai sisi. Tempatnya sendiri tidak begitu luas dan sekali lagi, rame banget!! Benar-benar tempat yang pas untuk mengobrol menghabiskan hari. Untuk yang mau curhat pun jadi tempat yang cocok karena berisik, sehingga ga perlu khawatir curhatan akan didengar oleh orang yang duduk di sebelah atau di belakang. Kami sendiri pun terbilang cukup berisik dan ketawa cukup keras saat mendengar curhatan seorang di antara kami yang ternyata ujung-ujungnya dagelan.

Untuk kopinya sendiri, saya sengaja membeli latte hangat. Rasa kopinya ga terlalu kuat, jadi pas banget untuk temen ngobrol malem-malem. Sementara Oji memilih untuk membeli secangkir cappucino dan Tane memesan Matcha Latte. Kami bertiga cukup puas dengan minuman yang kami pesan ini. Salah satu yang menyenangkan di sini adalah ada tap water!! Jadi kalau biasanya di kedai kopi ada teko untuk menyediakan air mineral, di sini mereka menyediakannya keran air 😀 . Selain minuman, kami pun memesan churros untuk menemani mengobrol. Untuk yang laperan, Filkop hanya menyediakan kudapan dan keik. Jadi ada baiknya makan dulu sebelum ke sini atau seperti kami, ngopi dulu baru makan.

Senang sekali rasanya bisa menghabiskan waktu dengan mengobrol dan tertawa bareng di malam Minggu seperti ini. Kalau ga inget kita bertiga laper, curiga bisa sampai nyaris tutup ada di sana.

Filosofi Kopi
Kawasan Terpadu, Blok M Square
Ig: @filosofikopi

*Terima kasih Oji sudah meminjamkan kamera hp-nya untuk mengambil gambar di Filkop.

Jazz Buzz – Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga

Bulan Februari lalu, saya berkesempatan menikmati konser dari Gerald Situmorang serta Sri Hanuraga yang diadakan di Komunitas Salihara Jakarta dalam rangka Salihara Jazz Buzz 2019. Rasanya sungguh senang sekali akhirnya bisa berkesempatan menikmati kembali musik Jazz setelah lama ga pernah berjodoh dalam acara serupa di Bandung. Pas main ke Jakarta kok pas banget ada acara ini.

Seminggu sebelum kepergian ke Jakarta, saya sudah heboh mencari informasi tiket dan mengajak beberapa teman dan seorang sepupu, Tane untuk ikut menonton. The more the merrier!! Alhamdulillah pada mau diajakin nonton konser ini!!

Saat hari H saya sempat mengisi acara parenting hingga siang di daerah Jakarta Pusat, lalu mampir ke Senayan dulu karena seorang teman yang tetiba ngidam ramen dan saya udah nyaris pingsan butuh makan. Keluar dari Senayan jam tiga sore, macetnya bukan main!! Saya sampai berdoa dalam hati semoga masih sempat dan tidak telat lama. Di perjalanan, ternyata seorang teman ga jadi ke Jakarta dan Tane sempat ragu untuk datang karena sebenernya lagi ga enak badan. Walaupun begitu, akhirnya dia memutuskan datang karena butuh curhat 😀 .

Sampai di Komunitas Salihara, ternyata kami sudah telat untuk dua lagu pertama. Jadilah kudu menunggu hingga selesai baru dibolehin masuk. Alhamdulillah seenggaknya saya masih sempat menyaksikan lagu-lagu di album Meta yang baru saja dirilis.

Saya benar-benar menikmati pertunjukan sore hari itu. Dengan adanya larangan untuk merekam membuat kami penonton benar-benar menikmati setiap alunan gitar dan piano yang dimainkan. Apalagi saat melihat Sri Hanuraga memainkan organ dan piano secara bersamaan, rasanya saya sampai tidak menutup mulut saking terpukaunya!! Lucunya, di atas piano Sri Hanuraga, saya bisa melihat ada figurin Lutfi dari One piece di sana. Sepertinya digunakan untuk menyetel pianonya.

Karya-karya favorit saya sudah tentu Rintik Hujan, Curnocopic, Something New, His Spirit, Thrown Word, serta Perjalanan Menuju Ke Sana yang dimainkan secara akustik tanpa ada vocalist Ify. Rasa-rasanya merinding banget mendengarnya hingga saya segera berkeinginan untuk menuliskan tulisan yang terinspirasi dari Perjalanan Menuju Ke Sana. Ternyata malah tulisannya terbit duluan ya 😀 .

Di sela-sela permainan Gerald Situmorang dan Sri Hanuraga, mereka pun bercerita mengenai apa yang membuat mereka bisa berkolaborasi dan bagaimana mereka bisa menciptakan karya-karya yang ada di album Meta. Menarik sekali kisah-kisah yang dibicarakan oleh mereka berdua.

Saat konser pun harus berakhir, rasanya saya masih tetap ingin di sana dan ikut menonton pertunjukan mereka pada jam kedua. Bahkan hingga saya kembali ke Bandung, bekerja, menulis laporan, hingga mengerjakan tugas-tugas, lagu-lagu di album Meta selalu membantu saya memiliki mood untuk menyelesaikan semuanya. Beneran setelah menonton konsernya, saya jadi gagal move on!!

Terima kasih banyak untuk Oji dan Tane yang menemani saya menonton Jazz Buzz di Komunitas Salihara 🙂 .

Makassar International Writer Festival

RTYKE6799

Akhirnya keinginan saya untuk dapat ke Makassar International Writer Festival (Miwf) dapat tercapai di tahun ini. Sebenernya udah mupeng banget pengen ke sana dari dua tahun lalu, apa daya baru tercapai di tahun ini.

Miwf di tahun ini memiliki tema yang cukup berat, sepertinya berhubungan dengan banyaknya kejadian-kejadian yang menimpa Indonesia, banyaknya hoax, serta situasi perpolitikan yang semakin panas sehingga pada tahun ini tema yang diusung adalah “Voice Noise”. Menarik walaupun saya tidak menyangka temanya akan seberat ini.

Mendatangi festival ini beda banget suasananya sama UWRF yang dulu saya datangi. Di sini lebih banyak anak muda dari wilayah Timur Indonesia yang datang. Apalagi dengan tema yang dibawakan, saya sungguh dapat merasakan idealis-idealis mahasiswa ini (oh gw sungguh tua kalau ngomongin ini, ketika di umur gw sekarang idealis kadang bertabrakan dengan realita dan kebutuhan untuk meneruskan hidup).

Saya juga senang sekali dengan deretan sesi-sesi yang ada di Miwf. Di sini ada sesi dari Lala Bohang, Mbak Windy Ariestanty, Uda Ivan Lanin, Mbak Leila S. Chukdori, ada monolog Tjut Nyak Dien dari Ine Febriyanti serta Najwa Sihab. Hanya saja yang bikin kesel adalah rundown acara baru keluar h-seminggu acara sehingga saya yang udah beli tiket dari sebulan lalu jadi tidak begitu punya pilihan sesi yang ingin dikunjungi. Saya pikir pembicara yang banyak menghimpun masa akan disimpan di akhir, tapi ternyata tahun ini disimpan di awal. Sebut saja Mbak Leila S. Chukdori, Ine Febriyan ataupun Najwa Sihab. Untungnya saya masih bisa mengikuti sesi dari Uda Ivan Lanin walaupun telat hampir satu jam. Saya ga nyangka banget Makassar bisa macet parah!! Sehingga perjalanan dari bandara ke Benteng Fort Rotterdam memakan waktu lebih lama dari seharusnya. Saya pun sedih karena tidak bisa bertemu dengan penulis puisi seperti Aan Mansyur dan juga mengikuti sesinya penulis favorit saya, Mbak Windy Ariestanty.

Selain sesi-sesi dan workshop menulis, acara favorit saya adalah poetic under the stars yang asyik banget buat bengong sambil ngedengerin yang baca puisi dan lihat bintang di atas kepala kita. Apalagi kita bisa menyeret bean bag yang bertebaran di halaman Benteng Rotterdam untuk dipakai duduk-duduk santai di rumput depan panggungnya.

Di luar kekurangan dan kelebihan di atas, hal yang paling saya apresiasi dari Miwf tahun ini adalah mereka memiiki juru terjemah bahasa insyarat di beberapa diskusi panelnya yang dihadiri temen-temen yang tuli. Ini sangat menyenangkan karena sebuah festival membaca tidak hanya untuk orang-orang tertentu, tetapi bisa dinikmati oleh semua orang. Saya pun selalu senang melihat bagaimana juru terjemah ini dengan semangat menerjemahkan apa yang diungkapkan oleh pembicara.

Selain itu sepanjang hari dari pagi hingga sore di sebelah Gereja kita akan melihat banyak bean bag dan beberapa spot untuk meminjam buku dan membaca di tempat. Kita  pun bisa berdiskusi sambil duduk-duduk di bean bagnya. Sesuatu yang tidak saya dapatkan ketika mengikuti UWRF.

20180504_164902

20180504_165354

masih sempet ngikutin sesinya Uda Ivan

IMG_0721

kopi dingin di tengah panasnya cuaca Makassar

20180505_101314

IMG_0735

20180504_192032

20180504_211023

yang paling depan itu penerjemah bahasa isyarat loh

Mei ke Makassar

RTYKE6799

Bulan Mei lalu, saya pertama kali menjejakkan kaki ke Makassar. Kota yang dulunya bernama Ujung  Pandang ini merupakan salah satu kota yang sudah saya idamkan sejak beberapa tahun lalu. Sayangnya selama bekerja saya belum berjodoh dengan kota ini. Akhirnya pertemuan saya dengan Makassar terjadi ketika seorang teman mengajak untuk mengunjungi Makassar International Writer Festival (MIWF).

Saat tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, saya teringat dengan Bandara Kuala Namu Medan. Bandaranya buesaaaarrr!! Iya ini saya ngebandinginnya sama bandara Husein yang yah segitu segitunya aja, udah ga bisa diapa-apain lagi.

Tujuan utama ke Makassar ini sebenernya antara memang mau lihat MIWF, pengen jalan-jalan, dan pengen kopi darat dengan teman-teman sesama pembaca buku Ika Natassa dari jaman dahulu kala. Beneran deh ketemu mereka tuh udah berasa ketemu temen lama, ga ada canggung-canggungnya dan langsung bisa akrab kayak kalo ngobrol di grup.

Urusan jalan-jalan tentunya karena ada MIWF yang diselenggarakan di Benteng Fort Rotterdam, saya jadi bolak balik berkunjung ke sana. Tempatnya beneran keren banget!!  Karena ada beberapa puing-puing bangunan perasaannya jadi beda dengan saat say aberkunjung ke benteng yang ada di Yogya. Sayang saya ga sempat masuk ke Museum La Galigonya, tapi saya bisa dapat kesempatan melihat gereja yang ada di dalam benteng!! Selain itu saja juga berkesempatan berkunjung ke Ramang-ramang dan mencoba Jembatan Helena yang ada di Bantimurung. Tadinya saya mau berlanjut lihat air terjunnya, tapi berhubung saat ke sana Hari Minggu dan tempatnya penuh banget, jadilah kami memutar balik mobil dan memilih balik ke Makassar. Saya juga berkesempatan untuk main air sejenak di Pulau Samalona yang terkenal dengan keindahannya. Untuk Pulau Samalona, nanti saya buat tulisan terpisah ya.

IMG_0814

Menuju Ramang-ramang

Kalau sudah sampai Makassar tentu harus mencoba makanan khasnya ya!! Kayaknya untuk ini saya bisa nulsi satu postingan tersendiri deh!! Hampir semua makanan khas Makassar saya cobain!! Ga cuma makanannya, saya juga ketagihan sama kopinya yang enak. Duh nulisnya aja ini jadi kangen ngopi di salah satu toko kopi di Sumba Opu Makassar.

IMG_0721

Sebenernya masih ada beberapa tempat yang ingin saya kunjungi di sana. Saya masih pengen banget buat jalan-jalan ke Tanah Toraja dan juga Tanjung Bira. Semoga suatu saat saya bisa berkunjung ke sana, aamiin!!

 

Drama oh Drama

Saya benar-benar baru merasakan banyak drama saat pergi ke Bangkok bulan Maret lalu!!! Saking dramanya setiap orang yang saya ceritain hal ini hanya geleng-geleng kepala dan pengen jitak saking geregetannya. Duh jangankan mereka, saya aja pengen banget ngegetok kepala sendiri kalau inget kejadiannya.

Kalau mau disalahin, saya akan menyalahkan diri sendiri karena mengambil kerjaan cukup padat di minggu terakhir sebelum saya ke Bangkok. Saya mengambil dua buah kerjaan dan satu laporan sebagai syarat melamar pekerjaan. Menghitung hari dan tenaga, saya optimis bisa selesai mengerjakan semuanya h-1. Kenyataannya? selesai semuanya tapi h-2 jam sebelum berangkat. Udah gitu detik-detik menjelang tenggat waktu rasanya udah ada tanduk di kepala, ada yang nyenggol dikit langsung mengaum!!

Tentu saja disela-sela kesibukan itu saya menyempatkan jauh-jauh hari untuk packing, sesuatu yang jarang dilakukan. Biasanya h-1 baru packing, ini h-6 hari mulai masuk-masukin barang. Sebenernya tujuannya baik sih, demi ga ada yang ketinggalan karena untuk kali ini saya perlu membawa barang untuk Waldorf teacher training di sana. Tapi dasar cemasan dan masih berpikir untuk bawa barang seminimal mungkin, saya tetap saja bongkar-bongkat koper sampai h-1 jam keberangkatan ke travel karena berangkatnya dari Soekarno Hatta. Saya menggunakan pesawat jam 06.20 pagi, dan berhubung bekasi – cikarang lagi ga bisa diprediksi macetnya saya mengambil travel jam 22.00 .

Untungnya, saat ke travel ini saya diantar oleh kakak jadi bisa lebih santai. Apalagi lalu lintas Bandung lagi bersahabat banget, jadi sampai lebih cepat. Sambil menunggu mobil datang, saya pun mengecek kembali apa-apa yang perlu saya bawa dan kepikiran untuk memasukkan beberapa barang dari tas ransel ke koper. Saat akan membuka kunci koper, nomer kuncinya kereset dong!!! Ini karena saya buru-buru saat menutup koper di rumah. Gawat!!! Saya segera mencari di google apa yang perlu dilakukan kalau ada kejadian seperti ini dan semua artikelnya memberi tahu harus manual satu-satu dicobain kombinasi angkanya. Edyaaaannnn. Ini sungguh pr banget. Akhirnya 45 menit saya habiskan untuk mencari kombinasi angka yang ternyata hanya beda satu angka dari kombinasi yang saya gunakan. Kesel sama kebodohan sendiri. Tidak berapa lama, mobil travel pun datang dan begitu menyentuh kursi saya langsung tidur.

Sampai di Soekarno Hatta ternyata baru jam 12.30 pagi dong!! Ternyata jalanan lagi lancar banget. Akhirnya saya memilih tidur-tiduran di kursi sambil menunggu teman-teman saya yang baru datang jam 5an. Sekitar jam 02.30 saya terbangun dan bengong mau ngapain, akhirnya saya melanjutkan mengecek kembali barang-barang yang perlu saya bawa dan saya baru sadar, paspor saya ga ada!!!! Ini kebodohan paling parah!!  Paspornya ketinggalan di Bandung dong!!!!

Panik saya langsung menelpon kakak karena saya yakin dia masih bangun. Kita berdua koordinasi untuk mengambil paspor saya di rumah (karena kakak saya tinggal dengan mertuanya) dan segera cari travel ke Soekarno Hatta untuk dititipin paspor. Oh sudah tentu orang tua saya ikutan panik saat diberitahu oleh kakak. Saya hanya bisa pasrah ketika diomelin sama mereka. Kakak saya pun berhasil mendapatkan travel yang ke bandara paling cepat, yaitu jam 03.00. Kita berdoa semoga sekitar jam 05.30 sudah sampai. Berhubung usaha sudah dijalani, saya pun hanya bisa pasrah dan berdoa semoga paspornya bisa sampai di bandara sebelum jam 06.00. Di tengah kepasrahan itu akhirnya saya mencari mushala dan shalat tahajud. Setelahnya saya berdoa semoga masih diijinkan untuk pergi tepat waktu ke Bangkok.

Jam 04.00 salah seorang teman seperjalanan saya pun datang dan kami sempat mengobrol soal kebodohan yang saya lakukan. Sambil saya memasang startegi untuk bisa check in terlebih dahulu. Untungnya saya membawa salinan foto paspor sehingga masih bisa check in walaupun baru boleh mengambil boarding pass setelah paspor datang. Dengan begini setidaknya saya masih bisa terbang. Tinggal menunggu paspor untuk datang tepat waktu.

Jam 05.30 saya menelpon supir travel untuk memastikan ia sudah sampai di mana. Syukurlah sudah sampai di tol Soekarno Hatta, setidaknya sebelum jam 06.00 paspor saya sudah sampai di bandara. Jam 05.45 saya kembali mengontak supir travel karena belum ada tanda-tanda kedatangannya. Alhamdulillah ternyata sudah sampai di terminal 1 dan akan ke terminal 2 tempat saya berada. Tidak sampai lima menit kemudian saya sudah bertemu supir travel dan tak henti-hentinya saya mengucapkan terima kasih sebelum ngacir ke dalam karena pesawat akan boarding 5 menit lagi. Itu semua belum termasuk saya harus mengantri imigrasi dan jalan ke arah boarding gate.

Sampai di dalam pesawat saya langsung tidur pulas hingga sampai di Bangkok. Perjalanan selama tiga jam sungguh ga berasa. Padahal kata teman-teman saya ada dua kali turbolance!! Ini sudah pasti efek saya kehabisan energi menjalani malam panjang penuh drama.

IMG_4094

Pesan moralnya, jangan ambil kerjaan banyak-banyak kalau mau bepergian sehingga bisa packing dengan tenang dan pastikan paspor atau ktp benar-benar sudah ada di tas.