Sarapan di Toh Soon Cafe Penang

Pada hari ketiga saya dan sepupu berlibur di Penang, kami sengaja berjalan-jalan menuju pasar yang ada di Jalan Kuala Kangsar. Saat menikmati pasar dan keluar ke Jalan Lebuh Campbell, saya melihat banyak orang berkumpul di depan sebuah gang. Berhubung kami hanya berjalan-jalan santai dan malas melihat keramaian, jadi dilewati saja keramaian tersebut.

Keesokan paginya kami kembali melewati Lebuh Campbell dan penasaran dengan apa yang membuat orang-orang berkumpul di depan gang. Ternyata gang tersebut menjual sarapan seperti roti kaya dan kopi!!! Kami berdua pun bersemangat untuk ikut ke dalam keramaian tersebut. Nama tempatnya adalah Toh Soon Cafe, sebuah kedai kecil yang masih sangat tradisional.

Roti kaya di sini masih dibuat dengan cara tradisional, menggunakan tungku! Sehingga ketika memanggang rotinya harus ada orang yang berjongkok untuk memastikan roti yang dibakar tidak gosong. Saya terbayangkan betapa lelahnya ia sepanjang hari harus berdiri mengambil roti, berjongkok untuk memasukkan roti ke panggangan, berjibaku dengan udara panas dari tungku serta orang yang berlalu lalang disekitarnya.

Letak Ton Soon Cafe berada di gang antar dua bangunan tua, memang sulit untuk bisa mendapatkan tempat duduk di sini. Saya dan sepupu pun tidak berdiri di depan gang seperti yang lain, tapi kami berjalan masuk ke dalam untuk mencari tempat duduk di bagian belakang gang. Sampai kami bertemu dengan dua orang kakek yang sedang asyik mengobrol sambil menikmati kopi.

Kedua kakek ini pun sampai berbaik hati mencegat pelayan untuk bisa mengatakan pesanan kami. Sambil memesan pun, kami sempat mengambil nasi lemak yang ada untuk dinikmati. Nasi lemaknya enaaaaaakkkk!!!! Isinya sangat sederhana, mengingatkan akan nasi uduk ataupun nasi kuning yang biasa dijual di pagi hari: nasi, sambal, telur, dan teri. Tak lama kopi susu dan teh tarik kami pun datang. Kami berdua sangat beruntung mendapatkan meja di ujung belakang gang sehingga masih bisa menikmati cerahnya langit tanpa terganggu melihat tatapan orang-orang yang mengantri. Obrolan pun mulai terbuka antara saya, sepupu, dan kedua kakek penolong kami. Pertanyaan seperti asal, apa yang dilakukan ke Penang, hingga mengobrol tentang kenangan dari kedua kakek ini sungguh menghangatkan sarapan kami pagi itu. Kedua kakek ini pun benar-benar warga lokal George Town, mereka rajin sekali menyapa orang-orang yang mereka kenal.

Sementara menikmati pemandangan warga lokal yang saling mengobrol dan juga turis yang penasaran dengan tempat ini, tak terasa pesanan roti bakar kami tiba. Sepotong roti dengan lapisan kaya serta telur setengah matang. Rasa rotinya tidak istimewa, namun cerita dan sejarah tempatnya sangat istimewa.

Sebelum pulang ke Indonesia, saya dan sepupu pun kembali sarapan di tempat ini dan berbagi meja dengan turis asal Singapur. Seru sekali membahas sudah ke mana saja kami berkeliling di Penang, tinggal di hotel seperti apa, kendaraan untuk bepergian, dan juga bercerita soal negara masing-masing.

Liburan ke Penang

Di awal tahun, saya dan sepupu akhirnya bisa liburan bareng ke Penang. Biasanya kami hanya saling mengunjungi saat sedang berlibur ataupun bekerja ke kota masing-masing. Akhirnya keinginan lama kami untuk berlibur bersama terjadi juga!!

Koper dan Backpack

Ini bukanlah pertama kali saya ke Penang. Saat tahun 2016, saya pernah iseng sehari di Penang, untuk kali ini kami berlibur selama lima hari empat malam di Penang. Ngapain aja selama itu di Penang? Selain mendatangi tempat-tempat turis seperti kuil Kek Lok Si, Bukit Bendera, serta berkeliling George Town, saya pun bolak balik masuk ke toko buku serta cafe yang berada di sekitar George Town.

Saya pun sempat bertemu dengan seorang kawan selama saya mengikuti pelatihan menjadi guru Waldorf yang kebetulan tinggal di Penang sehingga saya sempat diajak untuk mengikuti makan malam keluarga di sebuah restoran vegan setelah mereka beberes rumah sebagai bagian dari Tahun Baru Imlek dan mengajak kami ke Avatar Garden.

Saya pun punya banyak waktu untuk bertukar pikiran dan cerita dengan sepupu selama di Penang. Selain itu tentu ada waktu kami sibuk sendiri-sendiri saat bengong di cafe. Seru sekali rasanya mengawali tahun baru dengan berjalan-jalan setelah hampir beberapa tahun terakhir tidak terpikir untuk jalan-jalan.

Menemukan Jurnal di Mucca

Setiap awal tahun saya selalu mencari jurnal yang bisa saya gunakan untuk menulis kegiatan, perasaan, jadwal, atau lembaran-lembaran tiket yang saya tempel sebagai bentuk kenangan karena pernah ke sebuah tempat. Tahun ini saya mulai kebingungan karena dari akhir tahun belum menemukan jurna yang saya inginkan. Pilihan terakhir sudah tentu buku tulis dari Muji dengan kertas-kertas polosnya.

Sampai saat saya berlibur ke Penang, secara tidak sengaja menemukan sebuah toko yang khusus untuk membuat buku jurnal bernama Mucca. Awalnya keinginan saya dan sepupu untuk mampir ke Mucca adalah warna tokonya yang berbeda dari toko-toko yang lain, berwarna biru tua dan terletak di pojok jalan. Saat masuk ke dalam toko, saya dapat segera merasakan kehangatan dari tokonya sendiri!! Saya beneran berada di toko yang tepat!

Mucca baru membuka tokonya di pertengahan tahun 2019. Sebelumnya mereka biasa menerima pesanan secara online. Duh beneran deh, saya dibuat kagum dengan servis yang diberikan oleh para penjaga tokonya. Satu orang menemani tamu di awal untuk memberi tahu bagaimana memebuat jurnal yang diinginkan. Pertanyaannya pun cukup detail, sehingga saya yang biasa terima jadi jurnal, jadi harus berpikir 😀 . Mereka akan bertanya tujuan dibuat jurnalnya, apakah untuk bullet journal seperti yang sedang tren, untuk keperluan kerja, menulis resep, atau untuk apa. Kemudian cover yang diinginkan mau yang berbentuk hard cover atau yang soft cover, dan mereka punya banyak warna untuk setiap cover-nya. Begitupun pilihan kertas, tulisan di kertas-kertasnya, serta tebal-tipis kertas semua ada!! Pembatas antar bagian, pembatas jurnalnya, mau ada tempat untuk menyimpan bolpen, sampai beragam penutup bukunya ada semua. Untuk lebih lengkapnya boleh cek ricek di web mereka.

suasana di dalam toko

Saya benar-benar kebingungan saat itu. Untungnya ada mbak-mbak penjaga toko yang berbaik hati mengarahkan mengenai kebutuhan-kebutuhan yang saya inginkan untuk jurnal. Selain itu ada selembar kertas yang juga dapat membantu kita menentukan pilihan mulai dari jenis cover, hingga nama yang akan dicetak di bagian depan jurnal. Ya ampun, kayaknya setengah jam saya berkutat mengelilingi toko untuk melihat-lihat apa saja yang saya inginkan untuk si Jurnal ini. Setelah selesai, ternyata saya juga diajak untuk menetukan berapa banyak partisi yang diinginkan, jumlah kertas ditiap partisinya, apakah jenis kertanya mau dicampus atau tidak, dan lain-lain. Setelah semua sudah dipastikan, jurnal pun mulai dijilid. Proses ini memakan waktu hanya 30 menit!!

Selama menunggu, saya dan sepupu lebih banyak diam. Ia menggambar orang yang datang dan pergi, sedangkan saya asyik melihat bagaimana penjaga toko bekerja, menyapa pengunjung, serta memandangi wajah-wajah mengunjung yang asyik dan seru dalam memilih apa yang mereka inginkan ada di jurnalnya. Waktu 30 menit berlalu begitu saja. Salah seorang penjaga toko yang berbeda mendatangi saya untuk memastikan bahwa hasil jilidnya sudah benar sebelum membungkusnya dengan kotak. Setelah semua selesai, saya benar-benar seperti menerima kado awal tahun!! Senang sekali rasanya.

beautiful present!!

Saat kami pun memutuskan untuk keluar, seorang penjaga toko berbicara kepada sepupu bahwa ia ingin melihat hasil dari gambar yang dilakukannya selama menunggu saya. Ternyata penjaga tokonya ngeuh kalo digambar sama sepupu!! Ia memuji hasil gambar sepupu yang dapat menangkap kekhasan dari dirinya, dan selain itu kami sempat menebak-nebak pengunjung mana yang digambar oleh sepupu. Beneran heboh dan sempet pada memotret hasil gambarannya. Sepupu sendiri hanya bisa tertawa dengan muka merah dan malu di belakang saya. Keluar-keluar kami berdua membawa cerita dari Toko Mucca. Beneran tidak hanya tokonya yang hangat, tapi juga orang-orang di dalamnya.

Soal Sipit

img_5649

Ini lagi merem kok

Ada yang lucu dan bikin bengong saat saya berkeliling George Town, Penang. Kejadian pertama adalah ketika saya dan Dwi berjalan ke arah toko yang menjual kartu pos. Saya tiba-tiba dicegat oleh turis dari Cina dan ditanya mengenai entah apa dalam Bahasa Mandarin. Saat itu saya hanya bengong dan menjawab dalam Bahasa Inggris yang sepertinya tidak dipahami oleh mereka.

Kejadian kedua adalah saat saya sedang menikmati es kelapa muda sementara Dwi sedang berbelanja oleh-oleh di Penang. Saya ditegur oleh tukang becak dan ditanya mengenai asal negara. Sebelum sempat menjawab, beliau segera menebak “from Japan, right?” dan saya hanya bisa bengong dan menggeleng. Beliau pun belum mau menyerah “Malaysia?” saya pun kembali menggeleng dan menjawab “Indonesia”. Padahal di Penang saya memakai baju terusan batik loh. Tapi tetep ga dikira dari Indonesia. Sampai penjual es kelapa mudanya ngomong untuk tidak ambil hati pertanyaan dari bapak becaknya. Kasian kali ya liat saya bengong sendiri 😆 .

Keesokan harinya, saya pergi mengunjungi Kuala Lumpur City Galleries. Saat menukar voucher dengan minuman, pelayannya dengan sigap menyapa “Ohayou Gozaimasu!!” yang mau tidak mau saya balas mengucapkan “Ohayou” juga.

Ga cuma ketika di Malaysia. Saat saya liburan ke Singapura pun saya sempat tiba-tiba diajak ngobrol Bahasa Mandarin oleh kakek-kakek di MRT. Saya yang saat itu duduk terpisah dari temen-temen yang lain cuma bisa bengong bego ngedenger si kakek ngomong panjang. Sampai akhirnya beliau sadar dengan kebingungan saya dan melambaikan tangan tanda ga usah dipikirin. Temen-temen saya yang lain langsung nahan ketawa semua. Sebel!!  -____-“.

Saya ga paham kenapa beberapa kali ke negara tetangga, orang sering salah mengira bahwa saya adalah orang Cina ataupun Jepang. Awalnya saya malah berpikir bakal disangka Pinoy (Orang Filipina) karena menurut banyak traveler, orang Indonesiakan suka disangka Pinoy. Makanya aneh sendiri saat diajak ngobrol Bahasa Mandarin.

Menurut orang-orang disekitar saya, ini karena mata saya yang sipit dan warna kulit yang ga sawo mateng banget. Padahal mata saya ini besar loh!! *langsung cari foto yang matanya besar*. Ngomongin soal mata, bahkan kalau lagi foto saya suka dijahilin buat ngebuka mata karena kalau senyum atau ketawa suka segaris. Makanya sama adik-adik ketemu besar pun saya sempet ditanyain punya darah Cina atau engga. Yang mana saya jawab engga. Darahnya murni Sumatera kak! Karena sering disangka punya darah keturunan Cina, saya sampai dipanggil Cici atau Cipit sama mereka. Mungkin ini adalah tanda bahwa saya harus mulai belajar Bahasa Mandarin atau Jepang kali ya 😀 .

Malaysia: Berkeliling Kuala Lumpur

Seharian keliling Kuala Lumpur itu bisa banget dilakukan. Apalagi dengan adanya Bus GoKL yang mempermudah kita untuk bepergian ke daerah wisata. Hal pertama yang saya lakukan ketika sampai Kuala Lumpur adalah mencari toko Vinci buat nyari sandal 😆 . Bukan berarti di Indonesia ga ada sih, hanya saja di Bandung tokonya udah tutup. Jadi mumpung ke Kuala Lumpur, sekalianlah mencari si sandal. Nyari sandal ini susah susah gampang loh karena kaki saya rada unik: panjang dan kurus. Di Bandung aja saya susah banget nemu sandal yang cantik di kaki, jadilah mumpung di Kuala Lumpur saya sekalian mencari sandal 😀 .

img_5166

Menara Petronas

Saya dan Dwi memulai perjalanan dari KL Sentral. Sempet masuk dulu ke Suria KLCC buat berburu Vinci, ga dapet lah sandal yang diinginkan. Jadi kita naik GoKL menuju Bukit Bintang. Sempet masuk ke Pavillion, Fahrenheit, dan lihat Jalan Alor juga, tapi apa daya si sandal yang dicari ga ada dong 😦 .Dari kawasan Bukit Bintang, kita sempat naik GoKL lagi menuju Petaling Street buat nyari oleh-oleh. Petaling Street ini adalah China Town-nya Kuala Lumpur. Kebanyakan barang yang dijual adalah tas, sandal, jam, dan dompet dengan berbagai merk. Saya sih iseng aja muter-muter di sini dan sempat ngobrol sama beberapa penjualnya.

img_5196

Bagian samping dari Pasar Seni

Dari Petaling Street sebenernya tinggal jalan kalau mau ke Pasar Seni. Di sinilah tempat buat beli oleh-oleh. Mau beli gantungan kunci, kaos, tas etnik, pembatas buku, topi, cokelat, hingga pashmina, semua ada di sini. Di Pasar Seni juga ada food court loh. Jadi kalau kelaperan abis belanja, bisa makan di lantai duanya. Harga makanannya pun relatif murah. Oia kalau mau beli gantungan kunci atau kulkas, lebih murah di Petaling Street dari pada Pasar Seni.

img_5830

Lompat dengan latar belakang bangunan Sultan Abdul Samad

Selesai belanja, kita bisa jalan menuju dataran tinggi Merdeka. Sambil jalan, kita akan melihat Mesjid Jamex dari kejauhan. Sayang saat lewat sana, daerah Mesjid Jamex lagi direnovasi. Apabila kita jalan dari belakang Pasar Seni, kita akan berjalan sampai Muzium Tekstil. Deket dong ternyata!! Di sekeliling Dataran Merdeka kita dapat melihat berbagai museum seperti muzium tekstil, muzium muzik, Kuala Lumpur City Galleries, Royal Selangor Club, Katedral St. Mary The Virgin, dan Bangunan Sultan Abdul Samad. Saran saya, kalau mau ke Dataran Merdeka mending pagi atau sore. Kalau siang panas banget kak!!

img_5723

Muzium Muzik

img_5787

Kuala Lumpur City Galleries

Saya sempat memasukin Muzium Muzik dan melihat koleksi alat musik dan perpaduan alat musik Melayu. Sedankan di Kuala Lumpur City Galleries kita akan melihat cerita mengenai Kuala Lumpur dari foto dan miniatur. Atraksi paling kerennya ada di lantai dua saat melihat keseluruhan Kuala Lumpur lewat miniatr, gambar, dan video. Selain itu kita bisa membeli merchandise dari kayu yang dibuat di sini. Saat masuk Kuala Lumpur City Galleries, kita mendapatkan voucher seharga 5MYR yang bisa ditukar untuk membeli merchandise ataupun minuman. Di bagian luar galeri ada tulisan besar “I love KL”. Tentu saja sebagai turis, saya sempat berfoto di sana 😀 .

img_5739

Di dalam Kuala Lumpur City Galleries

img_5840

Katedral St.Mary The Virgin

Saya pun sempat duduk santai di taman dekat Katedral. Di sana ada kolam yang bikin pengen ngerendem kaki saking panasnya. Saya juga sempat menengok ke dalam katedralnya. Indah banget bagian dalamnya!! Kayu-kayunya yang besar menopang langit-langit katedral. Sayang ga sempet foto bagian dalemnya.

img_5876

happiness!!

Puas menjelajah Dataran Merdeka, saya dan Dwi kembali ke KL Sentral untuk beli cokelat di supermarket mallnya. Harga cokelatnya lebih murah kakak!!! Setelah puas main dan belanja oleh-oleh, kami berdua kelaparan. Saya inget diwanti-wanti sama temen untuk coba ayam Mcd di KL Sentral karena lebih enak dari ayam Mcd Indonesia. Ternyata ayamnya memang lebih gurih. Setelah itu, saya membeli Subway!! Buat pecinta drama korea, pasti penasaran bangetkan ya buat nyobain sandwich Subway 😆 . Sebenarnya waktu liburan ke Singapura udah diniatin buat beli Subway, apa daya di sana ga ada sertifikat halalnya. Sedangkan di Malaysia udah pasti halal. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?! Oia di KL Sentral ini juga ada tempat mi tarik yang enak banget, Mi Tarik Warisan Asli. Cobain deh makan di sana. Mi-nya kenyal, kuah kaldunya bening, dan irisan sapinya.. hmmm enaaakkk!! Duh jadi laper ngebayanginnya.

img_5296

Dua orang yang seneng banget bisa liburan bareng

img_5902

Air mancur warna warni!!

Menjelang malam, kita balik dong ke KLCC buat foto-foto di depan Menara Petronas!! Turis banget ya. Tapi kan belum ke Kuala Lumpur kalau belum foto di sini. Apalagi ini adalah hari terakhir di Malaysia, jadi wajib banget. Puas foto-foto, kami pun masuk ke Suria KLCC buat muter mall dan makan malem. Alhamdulillah selama di Malaysia, makanannya enak terus! Puas banget. Di bagian samping Suria KLCC ini ada taman yang punya danau dengan air mancur. Mau dateng siang atau malem, sama-sama asyik untuk bengong di tepi danau.

Malaysia: Sehari di Penang

Setelah kehabisan ide bepergian di Kuala Lumpur, saya dan Dwi berpikir untuk ke Penang dan Malaka. Tujuannya tentu saja melihat daerah yang menjadi World Heritage Site dari UNESCO. Ada tiga cara untuk mencapai Penang dari Kuala Lumpur, yaitu menggunakan Bus dan Kereta dengan waktu tempuh 8 jam, atau menggunakan pesawat dengan waktu tempuh 45 menit. Untuk harga, perhatikan baik-baik dari setiap situs yang dikunjungi, karena bisa jadi harga tiket pesawat lebih murah daripada bus atau kereta. Hal inilah yang terjadi pada kami. Kami membeli pesawat pp Kuala Lumpur – Penang seharga 83 MYR per orang!!

img_5363

Saatnya terbang kembali

Jadilah ini kali pertama kami menggunakan pesawat untuk bepergian antar kota dengan hanya membawa tas selempang! Di Indonesia pun, tidak akan pernah terpikir untuk bepergian pp antar kota seperti ini 😀 .

img_5406

siap untuk menjelajahi George Town

Kami sengaja mengambil pesawat pagi agar dapat puas berkeliling di George Town. Sayangnya kami sempat merasa salah waktu, karena sepanjang jalan menuju George Town banyak toko yang tutup. Begitupun dengan beberapa galeri serta museumnya. Saya benar-benar lupa kalau untuk orang Cina dan Peranakan, hari Minggu merupakan hari mereka menutup tokonya. Untuk toko yang buka dan cukup ramai ada di daerah Lebuh Cannon dan sekitarnya. Sisanya sepiii.

img_5409

George Town Information Center, sayangnya tutup 😦

img_5410

Syed Alatas Mansion, sayang kurang terawat

Jadilah kami berdua berkeliling George Town dan berburu mural. Oia, George Town juga terkenal dengan street art-nya. Kita dapat mencari banyak street art di setiap jalan di daerah George Town. Street Art ini sangat menarik karena menggabungkan benda mati dengan mural, seperti sepeda dan gambar dua anak kecil yang sangat terkenal. Atau pun street art yang menggunakan rangka kawat.

img_5506

The Famous Street Art!! Sampai ngantri yang mau foto di sini

img_5417

img_5418

For all Pokemon Go Player

img_5419

Look at this cute little cat!!

img_5525

img_5531

img_5602

Ayunan ini juga merupakan Street Art yang paling dicari 😀

img_5537

bagian batang rokok ini timbul loh

img_5495

A selfie not gonna hurt you

img_5570

Selain itu, saya sempat beberapa kali melewati berbagai kuil dan peranakan mansion. Rasanya ingin dimasukin satu-satu!! Tapi saya takut mengganggu yang beribadah di kuil, jadi hanya melihat dari kejauhan saja. Kalau peranakan mansion, saya hanya berhasil masuk ke salah satunya. Tadinya pengen masuk ke Peranakan Mansion yang terbesar, tapi keburu digeret untuk mencari street art yang lain. Padahal ingin membandingkan dengan Peranakan Mansionnya Chong A Fie yang sempat saya kunjungi ketika di Medan.

img_5430

img_5480

img_5592

I want to go to this Mansion!!

img_5581

Saya pun sempat untuk melihat rumah-rumah dari Klan Jetties. Tapi tidak sampai masuk ke dalam, karena bingung sendiri. Sepanjang yang saya lihat, ini merupakan daerah perumahan warga lokal dengan bahan dasar bangunan berupa kayu. Saat melewati beberapa rumah, banyaknya lebih ke jual souvenir, jadi saya memilih untuk keluar dan kembali berburu mural.

img_5530

Salah satu lorong di Chew Jetty

Tidak terasa, waktu sudah sore. Saatnya kami kembali ke bandara untuk menunggu pesawat pulang ke Kuala Lumpur. Ternyata, sehari tidak cukup untuk menjelajah seluruh Penang dan saya ingin kembali ketika weekday agar bisa melihat geliat masyarakat di sana. Semoga lain kali bisa terwujud, aamiin.

Kuala Lumpur: Batu Cave

img_5100

Batu Cave

Hari pertama di Kuala Lumpur, saya dan Dwi memilih untuk mengunjungi tempat paling mainstream di sana, Batu Cave. Sebelum ke sana, sempet baca dulu soal Batu Cave dari blog Mas Chocky dan Mas YayanMas Yayan. Kalau dari apartemen tempat menginap sih, kita tinggal jalan ke KL Sentral dan beli KTM Komuter jurusan Batu Cave seharga 2,5 MYR. Perjalanan dari KL Sentral ke Batu Cave lamanya 45 menit. Saya dan Dwi sih banyak ngobrol dan curhat colongan disertai dengan bercanda di setiap stasiun yang kami lewati.

Sampai di Batu Cave, saya segera melihat jadwal kereta selanjutnya menuju KL Sentral. Ternyata ada setiap jam. Semoga sempat mengejar kereta selanjutnya ya, karena kalau telat lumayan banget bengong nungguin keretanya.

img_5085

Patung Hanoman

Dari Stasiun Batu Cave, kita akan segera melihat pintu masuk dengan patung Hanoman yang menjulang di sebelahnya. Awalnya saya sempat bingung, di mana patung Dewa Muruga berada. Ternyata ketutupan pohon! 😆 Saya sempat penasaran dengan bangunan di dekat pintu masuk. Iseng melihat ke atas, ternyata salah satu kuil dari banyak kuil lainnya di kawasan Batu Cave. Saya melihat banyak orang yang lagi sembahyang dan juga memfoto bangunan dari dekat. Saya sih memilih turun dan berjalan menuju patung dewa yang tinggi banget itu.

img_5086

Salah satu kuil di Batu Cave

Saat di sana, saya melihat banyak turis Cina, Korea Selatan, maupun Jepang. Mungkin lagi peak season liburan untuk turis dari tiga negara ini kali ya. Walaupun begitu, jauh-jauh ke Batu Cave, ketemunya kok ya sama rombongan dari Farmasi Kampus Gajah!!

-_____-“

Saya sampai diam dulu dan memilih bermain sama merpati daripada foto dengan latar belakang turis yang bawa-bawa spanduk dengan lambang institut tersebut. Setelah turis-turis dari Bandung beres foto-foto, gantian saya sama Dwi yang foto-foto di spot sejuta umat ini. Setelah itu, kami pun berpikir bakal naik ga ya? Kalau dilihat waktunya, hmm memungkinkan sih. Sekalian melihat hasil lari beberapa minggu inikan ya. Jadilah kami berdua mencoba naik ke atas. Saya merasa bersyukur hari ini ga jadi pakai dress kebangsaan. Maklum, tangganya terjal banget!! Jadi walaupun terlihat tinggi, ini lebih karena terjalnya tangga. Saat ditengah jalan, saya rada serem juga melihat ke bawah.

Sampai di atas kita akan melihat Goa dengan beberapa kuil dan patung di dalamnya. Saya melihat tidak ada pemandu atau orang yang bisa ditanya mengenai patung-patung yang dibuat di dalam sini. Akhirnya saya lebih tertarik melihat bagian atas gua. Kami pun melihat ada tangga lagi menuju ke atas. Sepertinya ada kuil lagi di atas sana, jadilah kami kembali menaiki anak tangga. Pemandangan di atas wouw banget!! Bisa melihat langit dari dalam gua itu selalu menarik!! Saya pun melihat banyak yang mengantri untuk bersembahyang di sini.

img_5134

img_5138

Suasana di dalam Gua

img_5136

Jalan menuju kuil paling atas

img_5154

Kuil yang berada paling atas

Asyik melihat bagian atas gua, saya penasaran melihat jam. Eh ternyata tidak selama yang saya bayangkan untuk naik ke atas dan kami masih punya sekitar 15 menit untuk mengejar kereta berikutnya. Saya segera memberi tahu Dwi yang juga setuju untuk mengejar kereta. Segeralah kami berfoto untuk terakhir kalinya sebelum turun dari gua. Perjalanan turunnya mendebarkan!! Efek bisa melihat terjalnya tangga kali ya. Kita berdua sampai ga ngobrol sepanjang jalan saking fokusnya menuruni tangga.

Sampai di bawah, waktu mulai mepet. Kita berjalan cepat menuju stasiun yang berjarak ga sampai lima menit. Begitu tiba di stasiun, kami segera beli tiket dan buru-buru turun tangga. Asemnya, begitu turun tangga pintu KTM Komuternya ketutup dong. Belum berangkat sih, baru ketutup banget. Iseng saya coba buka pintunya, ga berhasil. Duh males bangetkan kalau harus nunggu kereta berikutnya >< . Dwi pun mencoba kembali, sekarang sedikit lebih menekan pintunya. Berhasil!!! Yeay!! Segera kami masuk dan duduk. Alhamdulillah ya berhasil masuk kereta dengan selamat 😀