Yumaju Coffee Shop

IMG_8314

Terima kasih buat temen-temen di Instagram yang membuat saya kenal sama tempat ngopi di Jalan Maulana Yusuf ini. Saya lagi pengen nyari tempat baru untuk ngerjain laporan yang menumpuk plus ngerevisi tesis *iyaaahh udah wisuda kapan, baru mau ngerjain revisian kapan*. Tempatnya ga perlu aneh-aneh asal ada wifi, kopinya enak dengan harga terjangkau, plus ada cemilan buat temen ngopi. Semuanya ada di Yumaju.

IMG_8269

IMG_8273

Saya semakin suka ke sini karena baristanya ngasi pilihan mau pake biji kopi apa. Saya yang sebenernya buta sama perbijian kopi ini jadi mulai tahu perbedaan dari biji Kopi Toraja sama Aceh Gayo. Baristanya juga ramah-ramah dan suka ngajak kita ngobrol semakin menambah kehangatan di Yumaju.

IMG_9314

Latte

IMG_8270

salah satu varian tehnya

IMG_8196

cokelat panas

Selain kopi, mereka juga menyediakan beragam varian teh yang enak-enak. Temen saya pernah mesen teh berrynya dan beneran harum dan kerasa manis gitu tehnya. Apalagi mereka emang ngeracik sendiri alias pake daun teh beneran.

Untuk cemilannya, disini ada beragam pilihan pastry. Saya sih seneng banget sama bolen mereka yang enak, ga terlalu manis dan harganya cuma sepuluh ribu rupiah!! Duh bahagia banget rasanya. Kalau mau yang agak berat, di Yumaju juga ada sandwich dan pilihan cemilan-cemilan ringan kayak bitterbalen. Kalau laper banget mereka nyediain juga sih kayak lontong kari, garang asem, nasi goreng, dan nasi dengan daging sapi tapi memang bukan bagian dari menu utamanya mereka ya.

IMG_8203

bolen pisangnya enaakkk

IMG_8204

salah satu menu nasinya

Di sini mereka punya pantry untuk tempat air mineral, gula, tisu, hingga saos. Mereka juga punya tempat khusus untuk tempat gelas dan piring kosong. Semuanya self service.  Jadi jangan lupa buat nyimpen bekas minuman dan makanan kita di sana.

Saya suka kalau dateng ke sini pagi-pagi karena masih sepi. Enak banget buat ngerjain laporan yang sering saya tumpuk *salahkan prokrastinasi*. Kalau udah siang, saya pilih sekalian makan aja di sini dan tetep ngerjain laporan. Pokoknya pantang pulang sebelum target hari ini selesai. Nasib banget suka ga konsen kalau ngerjain di rumah. Bawaannya pengen nonton dan tidur mulu. Makanya ketika dateng ke Yumaju saya bisa loh pesen kopi plus bolennya pagi-pagi lanjut makan siang dan pesen teh buat nemenin makan. Paling baristanya yang bosen lihat saya di sana 😀 . Oia berhubung emang harga kopi, teh, dan makanannya masuk akal banget, sepanjang hari di sana saya ngeluarin uang ga sampai 100.000.

IMG_9325

bagian luarnya adem banget buat ngobrol

Kalau malem ke sini, saya lebih seneng untuk ngobrol-ngobrol. Kayak H+3 lebaran, saya dan seorang sahabat ke sini buat ngeteh dan minum cokelat sambil ngobrol ngalor ngidul. Suasana dengan pencahayaan kuningnya bikin suasanya makin hangat.

Yumaju
Jl. Maulana Yusuf No. 10 Bandung
Buka dari jam 07.00

Advertisements

Medan: Bersedih Hati di Istana Maimun

IMG_9387

Sejak mendapatkan kesempatan untuk kerja ke Medan bulan Februari 2017, rekan sekantor sudah mewanti-wanti agar kita pergi ke Istana Maimun.
“Biar lihat istana lain selain Keraton teh!!”.
Bener juga, selama ini kita lebih akrab dengan istana-istana dari kerjaan di Jawa. Sedangkan eksplorasi ke istana lain di Indonesia saya hanya pernah mengunjungi Istana Pagaruyuang di Batu Sangkar. Ya itu mah keharusan yak buat berkunjung ke Istana leluhur sendiri saat pulang kampung 😀 .

Saat ada waktu kosong di siang hari, pergilah kami berdua ke Istana Maimun. Sampai di sana, saya melihat hamparan lapangan besar dan Istana yang berdiri di bagian tengah sedikit ke belakang. Terasa mewah dan lapang dengan warna kuning terang. Kekhasan dari Istana Maimun adalah bentuk bangunannya yang berupa rumah panggung dengan atap depan seperti  kubah masjid. Melihat Istana Maimun berarti melihat keberagaman budaya, mulai dari unsur kebudayaan Melayu,  gaya Islam, India, Spanyol, serta Itali. Kalau dilihat-lihat posisi Istana Maimun juga tidak jauh dari Masjid Raya Medan.

Walaupun kekaguman itu sayangnya tidak berlangsung lama. Istana yang didirikan oleh Kesultanan Deli itu berdiri menyedihkan 😦 . Saat saya ke sana bulan Maret 2016, Istana ini terlihat kurang terawat. Saat masuk ke dalam, tidak tampak ada pemandu yang mendekati kami berdua. Kami pun melihat-lihat sekeliling dengan bingung. Di tengah kebingungan itu, kami dikagetkan dengan banyaknya orang berjualan cinderamata serta penyewaan kostum diruangan bagian belakang. Kami pun sesekali ikut mencuri dengar dari pemandu yang menceritakan sejarah museum kepada serombongan turis lokal. Sisi bagian depan museum pun lebih banyak debunya. Hanya pada bagian singgasana raja yang lebih terawat. Mungkin karena jadi tempat orang berfoto lengkap dengan baju sewaan sehingga lebih terjaga kebersihannya.  Saat melihat bagian sayap kanan dari museum, saya merasa bagian tersebut ditinggali oleh warga. Keliatan dari jemuran yang ada di bagian depannya. Saya sampai bengong saat melihat ada jemuran di istana. Ini istana loooh!!

IMG_9337

kelihatankan yah kemegahannya

IMG_9335

orang berjualan di dalam istana

IMG_9362

bagian kiri bangunan istana

IMG_9360

Memang harga tiket masuk sebesar lima ribu rupiah tentu tidak mencukupi untuk merawat istana ini. Padahal kalau dirawat, istana ini akan terlihat sangat megah dan lebih indah dari saat ini. Bagian dalam yang penuh dengan ukiran, bagian langit-langit dengan karya-karya geometri khas kebudayaan Islam itu kalau dipoles tentu bakal terlihat keindahannya. Jendela-jendela, bagian pagarnya itu juga bagus banget loh. Semoga pemerintah di Medan lebih menyadari tentang potensi wisata yang ada di Istana Maimun.

Berawal dari Hati Berbagi untuk Anak Negeri

Gerakan untuk berbagi dengan anak-anak sekolah yang berada di pedalaman itu ternyata banyak banget. Beberapa diantaranya adalah Indonesia Mengajar, Kelas Inspirasi, dan 1000 guru. Dalam 1000 guru ini mereka memiliki program Traveling and Teaching yang dilakukan di banyak wilayah Indonesia. Setiap daerah biasanya punya organisasi regional 1000 guru sendiri seperti 1000 guru Bandung, 1000 guru Malang, 1000 guru Bogor, dan masih ada 32 regional lainnya.

Sudah lama saya tertarik dengan 1000 guru dan pengen ikutan Traveling and Teaching atau disingkat TNT, tapi setiap pengen ikutan, ada aja yang menghalangi. Hingga akhirnya bulan Mei kemarin saya bisa bergabung sebagai volunteer dalam program TNT#10 spesial Hari Pendidikan Nasional dari 1000 guru Bandung.

Untuk hari spesial ini, 1000 guru Bandung mendatangi sebuah SD di wilayah Kabupaten Bogor bernama SDN Pangereunan 5. Sekolahnya berada di Kampung Kubang, Desa Pangereunan, Kecamatan Blubur Limbangan Garut dan menjadi titik perbatasan antara tiga kabupaten sekaligus, Kab. Bandung, Kab. Sumedang, dan Kab Garut. Jalan menuju ke sananya sungguh berliku, berbatu, dan berupa tanah. Perjalanan ke sana aja kita perlu menggunakan kendaraan offroad.

Saya dan temen-temen yang ikutan TNT#10 dari 1000 guru Bandung memulai perjalanan jam sepuluh malam dan sampai di sana ada yang jam setengah tiga, jam setengah empat hingga setengah enam pagi. Kita datengnya beda-beda karena perjalanan yang lumayan menantang. Istirahat sebentar, dan siap-siap untuk ngajar di SDN Pangereunan 5. Selain persiapan mengajar, kami juga membawa perlengkapan sekolah yang akan dibagikan ke adik-adik di SDN Pangeureunan 5.

Saya deg-degan banget saat mau ngajar di sana. Ini efek pertama kali ikutan dan saya belum pernah berhadapan dengan anak SD untuk ngajar. Apalagi kami kebagian anak kelas 6 yang mau masuk SMP dengan materi cita-cita. Topik ini dipilih untuk memotivasi adik-adik kelas 6 untuk mau melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMP. Ternyata apabila adik-adik di SDN Pangeureunan mau melanjutkan sekolah ke SMP Negeri, mereka perlu pergi ke desa lain yang berjarak 1 jam dari sana. Duh melihat perjuangan mereka untuk sekolah, hati saya mencelos. SDN ini masih berada di Pulau Jawa dan masih perlu dibantu, bagaimana dengan SD-SD di wilayah lain? 😥

Setelah ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang, ternyata tingkat kesadaran masyarakat untuk mengenyam pendidikan pun masih kurang. Saya paham dan ngerti banget sih gimana lelahnya untuk orang tua nganter anaknya ke SMP di Desa lain yang jarak tempuh bolak baliknya bisa dua jam, belum masalah biaya. Untungnya sekarang sudah ada madrasah setingkat SMP di Desa Pangeureunan.

Kalau dilihat-lihat, desa ini benar-benar sungguh terpencil. Kondisi jalan yang berbatuan, licin, tanah, dan hanya muat satu mobil menambah kesulitan warga kampung. Untuk beli gas elpiji aja, mereka perlu menempuh jarak lebih kurang 5 km dengan kondisi jalan seperti itu!! Kantor kelurahan dan pusat kesehatan pun jaraknya kurang lebih 3 km.

_MG_6360

Upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional

Kami berada di Desa Pangereunan selama dua hari dua malam. Hari pertama kami berbagi cerita dan bermain dengan adik-adik di SDN Pangeurenan 5, sorenya kami kembali bermain dengan adik-adik serta orang-orang di Desa Pangeureunan. Sebagian dari kami pun melakukan pengobatan gratis di sana. Rasanya hati saya anget banget ngeliat muka-muka ceria adik-adik saat mereka kedatangan kami ke sana. Dipikir-pikir bantuan yang diberikan ga sebanding sama pelajaran dan pengalaman yang saya dapet di sini.

IMG_6088

salah seorang anak kelas 6 lagi berbagi pengalaman

Sampai di Bandung  pun, kami para volunter ini susah banget move on dari Desa Pangeureunan. Hingga salah seorang dari kami berinisiatif untuk membuat tulisan di instagram yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat, Pak Ahmad Heryawan dan diteruskan ke istrinya. Minimal itu lah yang bisa dilakukan oleh seorang diantara kami. Hingga ga lama dari situ, istrinya Pak Gubernur menanggapi. Itu beneran bikin geger satu grup whats app!! Suara kita didenger loh sama pemerintah provinsi dan diteruskan ke Bupati Garut. Hal ini bisa langsung dilihat dari instagramnya Pak Wakil Bupati Garut, @kanghelmi_budiman yang baru saja melakukan perjalanan ke Desa Pangeureunan. Salah seorang diantara volunter pun ada yang sempat ngobrol via pesan instagram dengan Pak Wakil Bupati atau mungkin adminnya. Bookkk…rasanya baru kali ini saya beneran ngerasain cepet dan tanggapnya Pak Gubernur beserta jajarannya. Sungguh ga salah waktu seorang dosen saya bilang soal sepak terjang pak Gubernur di wilyaha kabupaten. Makanya beliau dicintai warganya bahkan sampai naik dua kali jadi Gubernur kami di Jawa Barat. Semoga amanah dan niat baiknya memajukan wilayah Jawa Barat selalu dilancarin ya bapak-bapak semua.

IMG_6125

kakak-kakak volunteer dan adik-adik kelas 6 SDN Pangeureunan 5

Saya dan temen-temen volunter hanya melakukan sebuah langkah kecil. Semua dilakukan dari hati dan memang pengen berbagi buat adik-adik di daerah terpencil. Saya mah boro-boro mikir masalah travelingnya. Kegiatan sehari mengajar dan follow up-nya aja udah bikin hati hangat dan brebes mili.

IMG_6359

because their smiles are precious

Hai adik-adik di Pangeureunan, semoga senantiasa semangat belajar biar cita-citanya tercapai ya, aamiin. Semoga saya pun bisa dikasi kesempatan ikutan lagi TNT-TNT selanjutnya di berbagai wilayah Indonesia, aamiin.

_MG_6781-01

Salam lima jari!!
Berawal dari hati, berbagi untuk anak negeri.

*foto-foto berasal dari semua kamera hp kakak2 volunteer.
**untuk yang mau melihat video TnT#10 bisa ke sini

 

Bakpia khas Yogya

Kota Yogyakarta menyimpan banyak banget makanan enak nan murah. Sebut saja oseng mercon, gudeg, bakmi Jawa, bakso, kopi jos, sate klatak, jejamuran, tiwul, hingga makanan khas angkringan. Duh saya jadi laper banget ngebayangin makanan-makanan enak di Jogya!!

Selain makanan yang bisa disantap di kotanya, Yogya juga punya segudang oleh-oleh berupa makanan atau minuman seperti secang, yangko, geplak, coklat monggo, gudek, hingga bakpia. Sebenernya kalau dilihat-lihat sekarang tuh lagi ngetren banget oleh-oleh berupa pia dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja pia Legong yang terkenal dari Bali. Tapi, kalau ngomongin pia tradisional, saya selalu inget dengan bakpia Jogja.

keyogyakarta-Lezatnya Sejarah Bakpia Pathok

Bakpia – gambar diambil dari sini

Kalau lihat sejarahnya, bakpia ini sebenernya berasal dari Tiongkok loh!! Asal katanya dari “Tou Luk Pia” yang artinya adalah kue pia (kue) kacang hijau. Makanya yang dinamakan bakpia adalah kue yang berisi kacang hijau yang telah ditumbuk dan dicampur gula serta dibalut sama tepung terigu. Kalau lihat dari asal katanya, jadi berbeda dengan pia di luar Yogya, pia di luar lebih crispy dan crunchy dibandingkan bakpia Jogja. Varian rasanya pun berbeda dengan bakpia ya. Yah walaupun sekarang varian bakpianya udah banyak banget!! Mulai dari keju, kumbu hitam, hingga cokelat.

Saat mencari tahu soal bakpia ini, saya terpikir bahwa kalau udah berbeda varian bakpianya, ga bisa disebut bakpia juga yah? Kan arti katanya sendiri ada unsur kacang hijaunya. But it just my thinking 😀 . Saya sendiri kalau ke Yogya suka beli bakpia kacang hijau dan kumbu hitam kok :p .

Resep asli bakpia sendiri sebenernya berasal dari keluarga Kwik Sun Kwok. Kwik lalu menyewa tanah milik warga setempat yang bernama Niti Gurnito di di Kampung Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta. Ia pun memodifikasi resep bakpianya. Nah untuk memanggang bakpianya, Kwik selalu membeli arang kepada temannya, Liem Bok Sing. Kenapa saya sebutkan nama-nama orang di sini? Karena pada akhirnya Niti Gurnito pun mulai membuat bakpia tapi dengan ciri khas yang berbeda dengan buatan Kwik. Begitu juga dengan Liem Bok Sing. Liem juga membuat resep bakpia yang sudah dimodifikasi dan ia pun pindah ke kampung Pathok. Nah dari sinilah bakpia jalan Pathok bermula.

Jalan Pathok sendiri sebenernya dekat dengan Malioboro. Kalau main ke sana, kita bisa memilih mau bakpia pathok yang nomer berapa. Saya ga tahu kebenarannya, tapi denger-denger tiap nomer di bakpia pathok sebenernya adalah nomer rumah produksinya loh. Tapi sekarang, bakpia ga cuma diproduksi di Pathok, tapi juga di berbagai sudut kota Yogya. Kalau mau tahu soal bakpia yang enak di Yogya, bisa cek ke sini deh. Duh saya jadi beneran kangen nih pengen main ke Yogya dan beli bakpia!!

Source dan bahan bacaan:
Wiki, Gudeg net, klikhotel

Hallo Medan!!

Setahun yang lalu akhirnya saya berkesempatan mengunjungi Medan dalam rangka pekerjaan. Saya bahagia banget rasanya ditugaskan ke Medan, karena berarti bisa eksplore beberapa tempat. Sempet kepikiran buat ketemu sama Mbak Noni, sayang jadwalnya ga pas >< .

Saat pertama kali menjejakkan kaki ke Sumatera Utara, saya kagum banget sama Bandara Kuala Namu. Gede banget yaaakk!! Maklumin aja kalau heboh, biasa lihat Bandara Bandung yang kecil. Begitu melihat stasiun kereta apinya pun saya kembali bengong. Bagus, rapi, bersih dan luas banget ya tempatnya. Keretanya bersih ada tempat buat nyimpen koper, serta ada colokan listrik. Makanya begitu ngeliat kereta bandaranya KLIA2, saya berasa lagi naek kereta ai Kuala Namu 😀 . Ga sampai satu jam udah sampai di jantung kota Medan.

IMG_9211

Berhubung saya dan partner kerja udah laper banget, kita segera melipir ke mall depan stasiun buat makan di Nelayan!! Niat banget kita makan di Nelayan. Menurut teman saya ini, wajib banget nyobain dimsum dan pancake duriannya Nelayan. Rasanya emang enak banget ya!! Dimsumnya lumer di mulut. Duh jadi susah move on. Di Bandung belum ada dimsum seenak Nelayan. Bahkan Bao Dim Sum di PVJ Bandung yang menurut saya enak banget, kalah dong sama Nelayan. Pancake-nya beneran durian. Kita sampai beli 2 porsi!! Kerja belom, makan udah seenaknya aja ini :p .

page

Kalap!!

Malamnya kita sempet ke Merdeka Walk karena ada Sate Padang yang enak di sini. Tadinya saya nyaris tergoda buat makan di Nelayan lagi 😀 . Duh untung tobat dan kembali teguh nyobain sate padang. Tempat makan di Merdeka Walk ini enak ya buat duduk ngobrol-ngobrol gitu. Saya lihat ada beberapa yang pulang kerja pun nyari makan di sini. Saat ke sana, perhatian saya tertuju sama si Happy Car yang ada di pintu masuk Merdeka Walk. Unik aja permainannya 😀 .

IMG_9246

Sate Padang

IMG_9287

Happy Car

Keesokan harinya saatnya kerja!! Tapi siangnya kita ada waktu kosong lumayan banyak. Jadilah kita sempet beli bolu Meranti dan maen ke Istana Maimun sama ke rumah Chonng A Fie. Cerita soal kedua tempat ini ditulis terpisah ya. Soalnya udah kepanjangan. Hahahaha. Malemnya, kita diajakin makan sampai di tiga tempat sama orang kantor!! Pertama kita diajakin makan seafood di restoran yang terkenal dengan rajungan gorengnya *akoh lupa nama tempat makannya apa*, lanjut makan duren Ucok, dan dilanjut lagi makan mi Aceh Titi Bobrok. Kalo kita ga ngibarin bendera putih, udah pasti dilanjut lagi loh itu makannya *tepok jidat*.

IMG_9438

Ronde 1: Seafood!!

IMG_9442

Ronde 2: Durian Ucok

IMG_9447

Ronde 3: Mi Aceh titi Bobrok

Sayangnya saya cuma kerja sehari di Medan. Sehari setelah kerja, kita udah balik lagi ke Bandung. Masih banyak tempat yang pengen saya datengin di Medan dan sekitarnya. Saya juga belum main ke Pulau Samosir, lihat Orang Utan di Bukit Lawang serta belum ketemuan juga sama Mbak Noni. Semoga lain kali saya dapet kesempatan buat ke Sumatera Utara lagi, aamiin.

Carangan Ala Nasirun

img_9522

Dalam pewayangan dikenal sebuah lakon yang dinamai Carangan.

Carangan berasal dari kata dasar Cang yang dalam bahasa Jawa berarti miring, menyerong, atau menonjol, kemudian menjadi carang, dengan merujuk pada cabang-cabang kecil yang bertunas pada pepohonan. Ketika berbicara mengenai lakon Carangan berarti cerita yang tumbuh dan berkembang dari pakem yang ada.

Pada pameran Carangan Pak Nasirun di Nu Art Sculpture Park, fokusnya adalah menanggapi dari karya-karya Pak Nyoman Nu Arta yang berada di dalam galerinya. Selain itu, Iapun meletakkan berbagai karya seni yang dimilikinya dalam pojok-pojok dan ruangan yang ada di galeri. Dalam pameran ini, Pak Nasirun tidak hanya mencarang karya Pak Nyoman, tapi juga berbagai elemen yang ia temui.

Pada bagian pintu masuk, Pak Nasirun meletakkan sebuah karya  iring-iringan sebagai bentuk prosesi mengantarkan Dalang Slamet Gundono yang meninggal sebelum sempat melihat wayang Burung pesanannya kepada Nasirun. Iring-iringan ini terdiri dari wayang-wayang burung pesanan, kuda-kudaan kayu yang sudah dilukis ulang, serta perahu naga kayu dengan berbagai wayang-wayang ukuran kecil. Indah banget. Saya betah sekali melihat detail lukisan serta berbagai wayang-wayang ukuran kecil ini. Bahkan saya kaget sendiri saat melihat ada wayang berbentuk naga yang merupakan hewan di shio lahir saya.

129apple_img_9432

Pak Nasirun sedang menjelaskan karyanya

Di lantai dua, terdapat karya-karya lain dari Pak Nasirun. Terdapat sebuah gambar mengenai kemerdekaan dan juga berbagai kacamata yang dilukis oleh Nasirun. Saat datang ke sana, saya beruntung karena sedang ada Pak Nasirun yang menjelaskan karya-karyanya. Selain itu kita juga bisa melihat berbagai jenis wayang besar yang dibuat oleh Pak Nasirun.

img_2282

img_2283

img_2285

img_2286

Dalam ruangan ini kita juga bisa melihat seri stempel. Dalam seri stempel ini, Pak Nasirun memasang stempel dalam papan kayu dan merespon pola asli distempel dengan ukiran dan warna dalam pola ragam ornamen hias. Saya rasanya bisa satu jam untuk melihat detial setiap stempel yang ada.

129apple_img_9436

129apple_img_9496

129apple_img_9507

129apple_img_9508

Selain itu Pak Nasirun pun membuat seri figur tunggal di mana ia melukis dalam medium cat minyak di atas kanvas. Pada seri ini Pak Nasirun mencoba mencarang ikon-ikon simbolik yang berasal dari mitologi maupun religi. Ia juga memodifikasi figur-figur ikonik dari elemen serta gambar keseharian.

129apple_img_9504

129apple_img_9505

Di dalam galeri yang menyimpan sebagian besar karya Pak Nyoman Nu Arta, Pak Nasirun mencoba untuk mencarang patung-patung karya Pak Nyoman. Ia menghadirkannya dalam kanvas-kanvas yang diletakkan disekitar patung. Membuat saya dapat melihat dari perspektif dan persepsi yang berbeda-beda. Misalnya saja pada karya Pak Nyoman berbentuk Candi Borobudur, Pak Nasirun bisa membuat tiga lukisan dengan perspektif yang berbeda-beda.

Menurut Kurator Jim Supangkat, Proses Pak nasirun dalam berkarya ini membuatnya belajar memahami hakikat kemanusiaan dalam pencarian para seniman, yang pada setiap zaman terus mencoba memaknai, menafsir, dan menuliskan pengalamannya, sebagai kelanjutan pertumbuhan. Carangan dalam penelitian Marshal Clark merupakan proses pemikiran ulang, tidak menyangkal yang sudah ada, akan tetapi merupakan bentuk perpanjangan imajinatif terhadap karya asli. Disinilah Pak Nasirun menemukan tempat bagi dirinya dan kisahnya.

Saya sampai menghabiskan dua jam untuk melihat karya-karya yang ada. Itu pun belum sepenuhnya puas, karena karya-karya Pak Nasirun dalam ruang seni Pak Nyoman belum saya perhatikan detail satu persatu. Ingin rasanya kembali dan melihat carangan hasil karya Pak Nasirun.

Semarang Contemporary Art Gallery

img_2678

Pintu masuk

Bulan Juni lalu saya mengunjungi Semarang untuk urusan pekerjaan. Saya dan tiga orang lainnya sengaja pergi dua hari sebelumnya karena hanya ada kereta malam menuju Semarang. Seorang sudah memiliki rencana sendiri. Jadi tinggallah saya dan dua orang lainnya bingung mau maen ke mana. Apalagi bulan Juni itu adalah bulan puasa, ga mungkin banget buat jajan dan ngemil 😀 .

Akhirnya, saya mengusulkan untuk melihat Galeri Semarang. Awalnya mereka berdua bengong dengan saran saya. Ternyata mereka ga pernah pergi ke galeri 😆 . Udah pesimis pada ga mau ikutan dan mikir saya bakal pergi sendiri sekalian mengelilingi kawasan Kota Tua Semarang. Eh ternyata pada mau ikut, ya uwis mari kita ke Galeri Semarang Contemporary Art!!

Kita sampai di sana jam 10 lebih. Eh kok seperti belum buka yah? Gedungnya beneran pakai gedung lama dan ga kelihatan kalau dijadiin galeri. Akhirnya kita nongkrong dulu di taman Srigunting sambil ngeliat Gereja Blenduk. Begitu jam 11-an seorang dari kami, mas B sengaja nelpon untuk memastikan kalau galerinya udah buka. Ternyata oh ternyata, si galeri udah buka dari jam 9 tapi.. yang kita kira pintu masuk itu bukanlah pintu masuknya!! *tepok jidat*

img_2679

Saat ke sana, sedang ada pameran Semarang Punya Cerita #2 yang merupakan pameran foto tentang kegiatan di Semarang. Melihat-lihat fotonya, duh berasa banget kalau Semarang ini punya banyak kebudayaan yang beragam. Mulai dari perayaan imlek, lebaran, sampai pagelaran budaya. Semua foto bisa dilihat di lantai satu dan dua.

Disamping itu, juga ada beberapa karya yang ditampilkan. Awalnya saya hanya melihat ‘oh bikin bentuk mobil”. Ternyata pas dilihat lebih dekat, mobilnya dibuat dari kamera nikon yang telah dipreteli. Antara sayang banget kameranya dijadiin mobil dan kagum karena bisa loh ya kepikiran buat kayak gini!! Selain itu, juga ada seseorang yang seperti mengambil foto dengan metode lama. Pas dilihat-lihat olala ternyata ini termasuk karya yang dipamerkan, alias orang boongan. Aku tertipu!!

img_2676

img_2643

Keliatan kayak benerankan?!

img_2653

img_2647

keretanya dibuat dari kamera!!

img_2652

img_2650

mobilnya dibuat dari kamera Nikon o_O

Saya suka sekali dengan gedung tempat Semarang Contemporary Art Gallery berada. Ruang pamernya terbuka luas dan tidak bersekat, sehingga kita bisa melihat sekeliling dengan leluasa. Bagian atasnya pun sama luasnya dengan bagian bawah. Di samping ada sebuah taman yang asyik banget buat duduk dan berkontemplasi. Di sanalah ada sebuah patung karya Budi Kustarto yang merupakan icon dari galeri ini, patung orang yang berdiri miring. Makanya saya sempet bengong saat melihat patung yang mirip di Galeri Nasional. Tetapi saya dilihat lebih dekat, ternyata yang di Galeri Nasional ga sedetail yang ada di Semarang.

img_2664

img_2675

Oia, koleksi Semarang Contemporary Art Gallery ini selalu berubah. Sehingga setiap ke sana bisa saja kita mendapat pengalaman yang berbeda.

Semarang Contemporary Art Gallery
Jl. Taman Srigunting No. 5-6 Jalan Letjen Suprapto
Tj. Mas, Semarang Utara, Semarang
Buka: Selasa – Minggu
Jam: 10.00 – 16.30
Website: www.galerisemarang.com