Bakpia khas Yogya

Kota Yogyakarta menyimpan banyak banget makanan enak nan murah. Sebut saja oseng mercon, gudeg, bakmi Jawa, bakso, kopi jos, sate klatak, jejamuran, tiwul, hingga makanan khas angkringan. Duh saya jadi laper banget ngebayangin makanan-makanan enak di Jogya!!

Selain makanan yang bisa disantap di kotanya, Yogya juga punya segudang oleh-oleh berupa makanan atau minuman seperti secang, yangko, geplak, coklat monggo, gudek, hingga bakpia. Sebenernya kalau dilihat-lihat sekarang tuh lagi ngetren banget oleh-oleh berupa pia dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja pia Legong yang terkenal dari Bali. Tapi, kalau ngomongin pia tradisional, saya selalu inget dengan bakpia Jogja.

keyogyakarta-Lezatnya Sejarah Bakpia Pathok

Bakpia – gambar diambil dari sini

Kalau lihat sejarahnya, bakpia ini sebenernya berasal dari Tiongkok loh!! Asal katanya dari “Tou Luk Pia” yang artinya adalah kue pia (kue) kacang hijau. Makanya yang dinamakan bakpia adalah kue yang berisi kacang hijau yang telah ditumbuk dan dicampur gula serta dibalut sama tepung terigu. Kalau lihat dari asal katanya, jadi berbeda dengan pia di luar Yogya, pia di luar lebih crispy dan crunchy dibandingkan bakpia Jogja. Varian rasanya pun berbeda dengan bakpia ya. Yah walaupun sekarang varian bakpianya udah banyak banget!! Mulai dari keju, kumbu hitam, hingga cokelat.

Saat mencari tahu soal bakpia ini, saya terpikir bahwa kalau udah berbeda varian bakpianya, ga bisa disebut bakpia juga yah? Kan arti katanya sendiri ada unsur kacang hijaunya. But it just my thinking 😀 . Saya sendiri kalau ke Yogya suka beli bakpia kacang hijau dan kumbu hitam kok :p .

Resep asli bakpia sendiri sebenernya berasal dari keluarga Kwik Sun Kwok. Kwik lalu menyewa tanah milik warga setempat yang bernama Niti Gurnito di di Kampung Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta. Ia pun memodifikasi resep bakpianya. Nah untuk memanggang bakpianya, Kwik selalu membeli arang kepada temannya, Liem Bok Sing. Kenapa saya sebutkan nama-nama orang di sini? Karena pada akhirnya Niti Gurnito pun mulai membuat bakpia tapi dengan ciri khas yang berbeda dengan buatan Kwik. Begitu juga dengan Liem Bok Sing. Liem juga membuat resep bakpia yang sudah dimodifikasi dan ia pun pindah ke kampung Pathok. Nah dari sinilah bakpia jalan Pathok bermula.

Jalan Pathok sendiri sebenernya dekat dengan Malioboro. Kalau main ke sana, kita bisa memilih mau bakpia pathok yang nomer berapa. Saya ga tahu kebenarannya, tapi denger-denger tiap nomer di bakpia pathok sebenernya adalah nomer rumah produksinya loh. Tapi sekarang, bakpia ga cuma diproduksi di Pathok, tapi juga di berbagai sudut kota Yogya. Kalau mau tahu soal bakpia yang enak di Yogya, bisa cek ke sini deh. Duh saya jadi beneran kangen nih pengen main ke Yogya dan beli bakpia!!

Source dan bahan bacaan:
Wiki, Gudeg net, klikhotel

Hallo Medan!!

Setahun yang lalu akhirnya saya berkesempatan mengunjungi Medan dalam rangka pekerjaan. Saya bahagia banget rasanya ditugaskan ke Medan, karena berarti bisa eksplore beberapa tempat. Sempet kepikiran buat ketemu sama Mbak Noni, sayang jadwalnya ga pas >< .

Saat pertama kali menjejakkan kaki ke Sumatera Utara, saya kagum banget sama Bandara Kuala Namu. Gede banget yaaakk!! Maklumin aja kalau heboh, biasa lihat Bandara Bandung yang kecil. Begitu melihat stasiun kereta apinya pun saya kembali bengong. Bagus, rapi, bersih dan luas banget ya tempatnya. Keretanya bersih ada tempat buat nyimpen koper, serta ada colokan listrik. Makanya begitu ngeliat kereta bandaranya KLIA2, saya berasa lagi naek kereta ai Kuala Namu 😀 . Ga sampai satu jam udah sampai di jantung kota Medan.

IMG_9211

Berhubung saya dan partner kerja udah laper banget, kita segera melipir ke mall depan stasiun buat makan di Nelayan!! Niat banget kita makan di Nelayan. Menurut teman saya ini, wajib banget nyobain dimsum dan pancake duriannya Nelayan. Rasanya emang enak banget ya!! Dimsumnya lumer di mulut. Duh jadi susah move on. Di Bandung belum ada dimsum seenak Nelayan. Bahkan Bao Dim Sum di PVJ Bandung yang menurut saya enak banget, kalah dong sama Nelayan. Pancake-nya beneran durian. Kita sampai beli 2 porsi!! Kerja belom, makan udah seenaknya aja ini :p .

page

Kalap!!

Malamnya kita sempet ke Merdeka Walk karena ada Sate Padang yang enak di sini. Tadinya saya nyaris tergoda buat makan di Nelayan lagi 😀 . Duh untung tobat dan kembali teguh nyobain sate padang. Tempat makan di Merdeka Walk ini enak ya buat duduk ngobrol-ngobrol gitu. Saya lihat ada beberapa yang pulang kerja pun nyari makan di sini. Saat ke sana, perhatian saya tertuju sama si Happy Car yang ada di pintu masuk Merdeka Walk. Unik aja permainannya 😀 .

IMG_9246

Sate Padang

IMG_9287

Happy Car

Keesokan harinya saatnya kerja!! Tapi siangnya kita ada waktu kosong lumayan banyak. Jadilah kita sempet beli bolu Meranti dan maen ke Istana Maimun sama ke rumah Chonng A Fie. Cerita soal kedua tempat ini ditulis terpisah ya. Soalnya udah kepanjangan. Hahahaha. Malemnya, kita diajakin makan sampai di tiga tempat sama orang kantor!! Pertama kita diajakin makan seafood di restoran yang terkenal dengan rajungan gorengnya *akoh lupa nama tempat makannya apa*, lanjut makan duren Ucok, dan dilanjut lagi makan mi Aceh Titi Bobrok. Kalo kita ga ngibarin bendera putih, udah pasti dilanjut lagi loh itu makannya *tepok jidat*.

IMG_9438

Ronde 1: Seafood!!

IMG_9442

Ronde 2: Durian Ucok

IMG_9447

Ronde 3: Mi Aceh titi Bobrok

Sayangnya saya cuma kerja sehari di Medan. Sehari setelah kerja, kita udah balik lagi ke Bandung. Masih banyak tempat yang pengen saya datengin di Medan dan sekitarnya. Saya juga belum main ke Pulau Samosir, lihat Orang Utan di Bukit Lawang serta belum ketemuan juga sama Mbak Noni. Semoga lain kali saya dapet kesempatan buat ke Sumatera Utara lagi, aamiin.

Carangan Ala Nasirun

img_9522

Dalam pewayangan dikenal sebuah lakon yang dinamai Carangan.

Carangan berasal dari kata dasar Cang yang dalam bahasa Jawa berarti miring, menyerong, atau menonjol, kemudian menjadi carang, dengan merujuk pada cabang-cabang kecil yang bertunas pada pepohonan. Ketika berbicara mengenai lakon Carangan berarti cerita yang tumbuh dan berkembang dari pakem yang ada.

Pada pameran Carangan Pak Nasirun di Nu Art Sculpture Park, fokusnya adalah menanggapi dari karya-karya Pak Nyoman Nu Arta yang berada di dalam galerinya. Selain itu, Iapun meletakkan berbagai karya seni yang dimilikinya dalam pojok-pojok dan ruangan yang ada di galeri. Dalam pameran ini, Pak Nasirun tidak hanya mencarang karya Pak Nyoman, tapi juga berbagai elemen yang ia temui.

Pada bagian pintu masuk, Pak Nasirun meletakkan sebuah karya  iring-iringan sebagai bentuk prosesi mengantarkan Dalang Slamet Gundono yang meninggal sebelum sempat melihat wayang Burung pesanannya kepada Nasirun. Iring-iringan ini terdiri dari wayang-wayang burung pesanan, kuda-kudaan kayu yang sudah dilukis ulang, serta perahu naga kayu dengan berbagai wayang-wayang ukuran kecil. Indah banget. Saya betah sekali melihat detail lukisan serta berbagai wayang-wayang ukuran kecil ini. Bahkan saya kaget sendiri saat melihat ada wayang berbentuk naga yang merupakan hewan di shio lahir saya.

129apple_img_9432

Pak Nasirun sedang menjelaskan karyanya

Di lantai dua, terdapat karya-karya lain dari Pak Nasirun. Terdapat sebuah gambar mengenai kemerdekaan dan juga berbagai kacamata yang dilukis oleh Nasirun. Saat datang ke sana, saya beruntung karena sedang ada Pak Nasirun yang menjelaskan karya-karyanya. Selain itu kita juga bisa melihat berbagai jenis wayang besar yang dibuat oleh Pak Nasirun.

img_2282

img_2283

img_2285

img_2286

Dalam ruangan ini kita juga bisa melihat seri stempel. Dalam seri stempel ini, Pak Nasirun memasang stempel dalam papan kayu dan merespon pola asli distempel dengan ukiran dan warna dalam pola ragam ornamen hias. Saya rasanya bisa satu jam untuk melihat detial setiap stempel yang ada.

129apple_img_9436

129apple_img_9496

129apple_img_9507

129apple_img_9508

Selain itu Pak Nasirun pun membuat seri figur tunggal di mana ia melukis dalam medium cat minyak di atas kanvas. Pada seri ini Pak Nasirun mencoba mencarang ikon-ikon simbolik yang berasal dari mitologi maupun religi. Ia juga memodifikasi figur-figur ikonik dari elemen serta gambar keseharian.

129apple_img_9504

129apple_img_9505

Di dalam galeri yang menyimpan sebagian besar karya Pak Nyoman Nu Arta, Pak Nasirun mencoba untuk mencarang patung-patung karya Pak Nyoman. Ia menghadirkannya dalam kanvas-kanvas yang diletakkan disekitar patung. Membuat saya dapat melihat dari perspektif dan persepsi yang berbeda-beda. Misalnya saja pada karya Pak Nyoman berbentuk Candi Borobudur, Pak Nasirun bisa membuat tiga lukisan dengan perspektif yang berbeda-beda.

Menurut Kurator Jim Supangkat, Proses Pak nasirun dalam berkarya ini membuatnya belajar memahami hakikat kemanusiaan dalam pencarian para seniman, yang pada setiap zaman terus mencoba memaknai, menafsir, dan menuliskan pengalamannya, sebagai kelanjutan pertumbuhan. Carangan dalam penelitian Marshal Clark merupakan proses pemikiran ulang, tidak menyangkal yang sudah ada, akan tetapi merupakan bentuk perpanjangan imajinatif terhadap karya asli. Disinilah Pak Nasirun menemukan tempat bagi dirinya dan kisahnya.

Saya sampai menghabiskan dua jam untuk melihat karya-karya yang ada. Itu pun belum sepenuhnya puas, karena karya-karya Pak Nasirun dalam ruang seni Pak Nyoman belum saya perhatikan detail satu persatu. Ingin rasanya kembali dan melihat carangan hasil karya Pak Nasirun.

Semarang Contemporary Art Gallery

img_2678

Pintu masuk

Bulan Juni lalu saya mengunjungi Semarang untuk urusan pekerjaan. Saya dan tiga orang lainnya sengaja pergi dua hari sebelumnya karena hanya ada kereta malam menuju Semarang. Seorang sudah memiliki rencana sendiri. Jadi tinggallah saya dan dua orang lainnya bingung mau maen ke mana. Apalagi bulan Juni itu adalah bulan puasa, ga mungkin banget buat jajan dan ngemil 😀 .

Akhirnya, saya mengusulkan untuk melihat Galeri Semarang. Awalnya mereka berdua bengong dengan saran saya. Ternyata mereka ga pernah pergi ke galeri 😆 . Udah pesimis pada ga mau ikutan dan mikir saya bakal pergi sendiri sekalian mengelilingi kawasan Kota Tua Semarang. Eh ternyata pada mau ikut, ya uwis mari kita ke Galeri Semarang Contemporary Art!!

Kita sampai di sana jam 10 lebih. Eh kok seperti belum buka yah? Gedungnya beneran pakai gedung lama dan ga kelihatan kalau dijadiin galeri. Akhirnya kita nongkrong dulu di taman Srigunting sambil ngeliat Gereja Blenduk. Begitu jam 11-an seorang dari kami, mas B sengaja nelpon untuk memastikan kalau galerinya udah buka. Ternyata oh ternyata, si galeri udah buka dari jam 9 tapi.. yang kita kira pintu masuk itu bukanlah pintu masuknya!! *tepok jidat*

img_2679

Saat ke sana, sedang ada pameran Semarang Punya Cerita #2 yang merupakan pameran foto tentang kegiatan di Semarang. Melihat-lihat fotonya, duh berasa banget kalau Semarang ini punya banyak kebudayaan yang beragam. Mulai dari perayaan imlek, lebaran, sampai pagelaran budaya. Semua foto bisa dilihat di lantai satu dan dua.

Disamping itu, juga ada beberapa karya yang ditampilkan. Awalnya saya hanya melihat ‘oh bikin bentuk mobil”. Ternyata pas dilihat lebih dekat, mobilnya dibuat dari kamera nikon yang telah dipreteli. Antara sayang banget kameranya dijadiin mobil dan kagum karena bisa loh ya kepikiran buat kayak gini!! Selain itu, juga ada seseorang yang seperti mengambil foto dengan metode lama. Pas dilihat-lihat olala ternyata ini termasuk karya yang dipamerkan, alias orang boongan. Aku tertipu!!

img_2676

img_2643

Keliatan kayak benerankan?!

img_2653

img_2647

keretanya dibuat dari kamera!!

img_2652

img_2650

mobilnya dibuat dari kamera Nikon o_O

Saya suka sekali dengan gedung tempat Semarang Contemporary Art Gallery berada. Ruang pamernya terbuka luas dan tidak bersekat, sehingga kita bisa melihat sekeliling dengan leluasa. Bagian atasnya pun sama luasnya dengan bagian bawah. Di samping ada sebuah taman yang asyik banget buat duduk dan berkontemplasi. Di sanalah ada sebuah patung karya Budi Kustarto yang merupakan icon dari galeri ini, patung orang yang berdiri miring. Makanya saya sempet bengong saat melihat patung yang mirip di Galeri Nasional. Tetapi saya dilihat lebih dekat, ternyata yang di Galeri Nasional ga sedetail yang ada di Semarang.

img_2664

img_2675

Oia, koleksi Semarang Contemporary Art Gallery ini selalu berubah. Sehingga setiap ke sana bisa saja kita mendapat pengalaman yang berbeda.

Semarang Contemporary Art Gallery
Jl. Taman Srigunting No. 5-6 Jalan Letjen Suprapto
Tj. Mas, Semarang Utara, Semarang
Buka: Selasa – Minggu
Jam: 10.00 – 16.30
Website: www.galerisemarang.com

Melihat Nu Art Lebih Dekat

129apple_img_9430

Bagian depan Nu Art

Saya sudah lama penasaran dengan NuArt Sculpture Park, sebuah galeri seni yang berada di area Setra Duta. Setiap mau ke sini, ada aja halangannya. Mulai dari hujan ga ada temen, ga ada kendaraan, hingga lagi dipugar. Sebenernya, galeri yang satu ini deket banget dari rumah. Ga perlu jauh-jauh kayak ke Selasar Sunaryo. Tapi, saking deketnya malah belum sempat untuk menginjakkan kaki di galeri ini.

Akhirnya saya berkesempatan ke sini secara dadakan. Memang ya kalau direncanakan itu suka ga jadi aja, sedangkan kalau ngedadak malah jadi. Awalnya karena saya penasaran dengan foto-foto yang diunggah seorang teman di instagramnya. Kemudian tak disangka ia mengajak saya untuk ke sana karena sedang ada pameran. Pucuk dicinta ulam tiba, akhirnya ke NuArt jugaaaa!!

129apple_img_9441

NuArt Sculpture Park ini baru saja selesai di renovasi tahun ini. Sehingga berbeda dengan sebelumnya, sekarang apabila ingin masuk ke dalam Nu Art, kita perlu membayar Rp.50,000,- untuk umum dan Rp.25,000,- untuk mahasiswa. Hiduplah kartu mahasiswa jadi bisa diskon 50%!!! Jangan lupa pula untuk menitipkan tas di bagian depan.

129apple_img_9445

Galerinya sendiri terbagi menjadi dua bagian, bagian dalam dan taman. Saat ini dibagian dalam sedang ada karya Pak Nyoman Nuarta yang berkolaborasi dengan Pak Nasirun. Untuk cerita lengkap soal ini, akan saya tulis terpisah ya.

129apple_img_9447

Salah satu karya favorit saya

Sedangkan bagian taman terdapat amphitheater untuk pertunjukan tari, musik, ataupun yang mau yoga bareng. Di sekitar taman ini, kita juga dapat melihat karya-karya Pak Nyoman Nuarta seperti paus, macan tutul, dan lain lain.

Di bagian belakang agak ke bawah, terdapat workshop Pak Nyoman Nu Arta. Kemarin sih saya melihat sedikit bagian dari proyek Garuda Wisnu Kencana. Yups, semua bagian Garuda Wisnu Kencana itu dikerjakannya dari Bandung, kemudian dibawa ke Bali.

129apple_img_9448

Berasa musim gugur

 

129apple_img_9459

Cokelat hangat dan hujan

 

129apple_img_9473

Me in a dreamland

Saya sih paling suka bagian tamannya. Rasanya adem dan asyik banget buat bengong atau piknik gitu. Kalau ingin bengong sambil berkhayal, di bagian amphitheater ada tempat buat duduk di bawah pohon. Paling seneng rasanya bengong di sana sambil melihat ke arah sungai.

img_9528

Tempat tenang buat nesis

Untuk yang laper, dibagian dalam ada sebuah restoran untuk duduk sambil menikmati suara aliran sungai yang berada di samping Nu Art. Apabila sekedar ingin minum dan menikmati suasana Nu Art, ada sebuah coffee shop di bagian depan, lengkap dengan colokan listrik. Coffee shop ini juga merupakan tempat nyaman untuk mengerjakan Tesis, karena tidak terlalu ramai dan bisa memandang ke arah taman. Adem banget!!!

Viatikara: Untuk Dia yang Mencintai dan Ingin Dicintai

129apple_img_9274

Saya jarang punya kesempatan untuk melihat pentas tari. Selain ga ada temen, ga tahu infonya juga. Kayaknya terakhir kali menonton adalah wayang orang yang ditampilkan dalam rangka “Tanggap Warsa”-nya PSTK ITB. Makanya saat mama memberikan tiket untuk menonton Pentas Tari Viatikara, saya bahagia banget.

Viatikara adalah grup tari yang sudah berusia 55 tahun!! Pertama kali dibentuk tahun 1961 oleh dua orang mahasiswa, Paul Kusardy dan Tanaka Hardy yang bekerja sama dengan Drs. Barli Sasmitawinata. Tema yang diusung grup tari ini adalah nasional Indonesia modern. Jadi tidak melulu tari tradisional yang dipelajari. Selama pertunjukkan pun banyak tari modern yang dipentaskan.

129apple_img_9276

Om Jaka Bimbo

Acara malam itu dimulai sedikit terlambat. Beruntung di tengah penonton ada Om Jaka Bimbo *akrab* yang diminta untuk bernyanyi sebelum acara dimulai. Selain itu kalau diperhatikan, penonton yang datang adalah oma dan opa yang ingin melihat kembali pentas tari Viatikara yang legendaris. Ada juga penonton yang datang sebagai bentuk support untuk temannya yang menari *salah tiganya adalah mama dan uwa-uwa*. Jangan salah, penari-penari yang pentas berusia mulai dari 20an hingga 60an loh!! Makanya selain menonton pentas tari, mereka pun datang sekalian reuni dengan teman-teman jaman sekolah dulu. Saya aja sampai dicuekin sama mama dan uwa. Mereka bertiga asyik menyapa teman-temannya, saya sibuk ngeliat kiri kanan. Siapa tahukan ketemu *jodoh* yang dikenal atau seumur.

 Pentas tarinya terdiri dari tiga bagian, di mana tari yang dipertunjukkan pun berbeda-beda. Bagian yang pertama dibuka dengan rampak kendang yang keren banget naikin suasana pentas. Dilanjut dengan tari kunang-kunang yang indah banget. Properti lampu kecil dan lampu panggung yang diredupkan sukses membuat seolah penonton melihat kunang-kunang berterbangan. Tarian pun dilanjutkan dengan tari potong padi, tari angin timur, serta rebana. Pada bagian kedua ada tari selendang sutra, tari nelayan, tari putri gunung, dan tari pemetik teh. Tarian di bagian kedua ini lebih memperlihatkan kehidupan masyarakat dari daerah pantai, gunung, maupun suasana berkebun.

129apple_img_9317

Tari Puteri Gunung

Bagian ketiga dari pentas tari Viatikara adalah bagian favorit saya!! Bagian ini merupakan drama musikal berjudul hari yang cerah. Menceritakan mengenai hari pernikahan antara dua suku: Minang dan Sunda. Kedatangan tamu dari berbagai suku turut memeriahkan acara pernikahan. Mereka menyajikan tarian dari Sumatera Utara, Minang, Kalimantan Timur, hingga Ambon. Kerasa banget keberagaman suku dan tarian di Indonesia. Saya senang sekali ketika mempelai pria yang berasal dari Sunda memasuki ruangan diiringi lagu Malam Bainai. Hatiku hangat. Drama musikal ini pun ditutup dengan mengangkat gelas sembari menyanyikan lagu Lisoi.

129apple_img_9319

Sedang mempersiapkan pelaminan

129apple_img_9320

Tari Tempurung

129apple_img_9321

Mempelai perempuan sudah hadir

129apple_img_9326

Berbagai suku memberikan selamat untuk pengantin

Saya tidak berhenti untuk takjub dengan tarian yang dipentaskan. Latar panggung, pencahayaan, suara, musik yang dilakukan secara live, hingga penyanyi yang bersuara prima menambah keindahan pentas tari.

Selesai pertunjukan, mama dan uwa sempat berpamitan dengan teman-temannya. Tadinya sih pengen menyapa teman SMA mereka yang sempat menari, tapi berhubung udah malem jadi kami memutuskan pulang duluan. Teman-teman SMA-nya yang lain sih masih pada ngobrol dong!! Warbiyasak sekali opa dan oma ini…malah saya yang berasa tua, udah ngantuk aja jam sepuluh x_x .

Semarang

img_1659

Sudah lama saya ingin menjelajah Semarang. Sampai waktu itu saya dan seorang sahabat sudah membuat rencana jalan tapi sayangnya batal. Pedih banget rasanya. Semacam udah yakin lalu tiba-tiba putus #eh #apa #gimana?. Saat saya mulai bekerja di tempat yang sekarang, saya mendapatkan kesempatan ke Semarang beberapa kali. Rasanya bahagia banget!! Impian dulu jadi kenyataan. Memang sih pertama kali ke sana ga banyak main. Tapi itu juga udah seneng!! Cuma jalan ke Pandanaran dan loenpia Mbak Lien buat beli oleh-oleh aja udah bahagia. Akoh norak ya.

Sampai saat ini saya sudah tiga kali ke Semarang. Kalau ada tawaran pekerjaan ke kota ini, saya sih ga akan nolak. Masih banyak tempat yang belum dijelajah, dan masih pengen didatengin. Sejauh ini saya baru menjejakkan kaki ke Sam Po Kong, Simpang Lima, Lawang Sewu, Galeri Semarang dan juga restoran seafood yang enak banget dan tempatnya bikin betah. Satu-satu akan saya ceritakan di sini ya.

Mungkin saat awal ke Semarang, saya belum diijinkan oleh Tuhan YME. Ia menginginkan saya untuk tetap sabar menunggu, hingga saya bisa ke Semarang dengan hati yang lebih tenang dan bahagia.