Mabok Candi di Kompleks Angkor

IMG_0767

Kamboja merupakan negara yang ingin saya datangi untuk melihat salah satu situs warisan dunia, Angkor. Awalnya saya salah mengira bahwa Angkor Wat merupakan kawasan yang terdiri dari berbagai macam Candi. Ternyata sampai di sana saya baru tahu kalau Angkor Wat merupakan salah satu candi utama dan terbesar di kawasan Angkor.

Ke Kawasan Angkor berarti bersiap untuk menjelajahi waktu dan melihat berbagai macam bentuk candi. Saya yang sehari di sana udah mabok candi saking banyaknya candi yang dilihat. Satu hari sebelumnya, saya sempat mengunjungi Angkor Panorama Museum untuk melihat keseluruhan maket wilayah Angkor. Gede dan luas banget gengs!! Saya sampai bingung mau mengunjungi Wat yang mana saja.

Akhirnya saya ikut saja dengan rencana dari supir tuk-tuk. Maklum selain ga kebayang, saya sih pengen melihat matahari terbit di Angkor Wat serta berkunjung ke daerah candi yang memiliki banyak akar menempel plus pernah jadi tempat syutingnya Tomb Rider. Sisanya mah ngikut aja ke mana supir tuk-tuk membawa.

Penjelajahan saya ke Kawasan Angkor dimulai dari mengejar matahari terbit di Angkor Wat. Kemudian setelah puas bengong, saya pun menyusuri Angkor Wat ini. Saya, Teh Zen, dan Teh Wina sempat mengobrol dan mengamati bentuk candinya. Kita sempet bahas gitu perbedaan antara Angkor Wat, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan. DIlihat-lihat memang Angkor Wat ini lebih berupa istana ya ketimbang Candi untuk berdoa. Tapi lagi-lagi saya harus kembali baca buku soal kawasan Angkor untuk memastikannya. Selain itu kita juga sempet beberapa kali berhenti untuk duduk dan ngobrol random. Setelah puas muter, sarapan, nongkrong, dan foto-foto akhirnya kami pun keluar dari Angkor Wat menuju Wat yang lain.

 

IMG_0783

Gerbang menuju Angkor Wat

 

 

IMG_0796

Salah satu bagian dalam Angkor Wat

 

JMEO9073

Perjalanan pun dilanjutkan menuju kawasan Angkor Thom dengan melewati South Gate. Setelah itu bila berjalan lurus, kita akan menemukan bentuk candi yang berbeda dengan Angkor Wat, yaitu Bayon. Di sini saya menemukan banyak wajah yang tersenyum tenang milliki Avalokiteshvara. Melihat senyum penuh kedamaiannya membuat saya pun tenang dan nyaman. Padahal saat itu matahari mulai meninggi dan kondisi candi sangat penuh oleh turis. Tapi saya tetap senang mengitari Bayon dan melihat setiap relief wajah-wajah tersenyum satu persatu. Hal menarik yang saya perhatikan adalah reliefnya tidak dipahat seperti candi-candi yang lain, tapi seperti dibentuk terlebih dahulu baru disatukan.

 

IMG_0814

South Gate

 

 

IMG_0816

Bayon

 

IMG_0823

Tak jauh dari Bayon, kita akan bertemu dengan Candi Baphuon. Saya segera jatuh cinta melihat jembatan menuju candi ini!! Saat berjalan selangkah demi selangkah menuju candi, saya melihat banyak batu berserakan seperti mengajak kita untuk turun dan duduk sejenak menikmati keindahan jembatan dan candi sambil mengobrol di bawah pohon rindang. Saat memasuki Baphuon barulah terasa panas. Selain itu pintu keluar candi adalah dari sisi belakang sehingga perlu berputar bila ingin kembali ke depan. Beneran kudu siapin stamina dan air mineral kalau ke sini!!

Bila kita berjalan ke bagian belakang dan memilih jalan melewati dinding batas Candi Bapuhon, kita akan menemukan Candi Phimeanakas yang sedang dipugar. Saya sih udah kepanasan, jadi setelah foto dan melihat sekitar bangunan kita pun berjalan lurus ke arah jalan utama dan bertemu dengan Terrace of Elephant.

 

IMG_0826

Jembatan menuju Baphuon

 

 

IMG_0852

Baphuon Temple

 

 

IMG_0853

Phimeanakas

 

 

IMG_0854

Terrace of Elephant

 

Berarti sudah empat candi yang kami kelilingi. Waktu pun sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ah tapi sayang banget kalau makan siang sekarang. Jadi kami melanjutkan perjalanan melewati Victoria Gate dan lanjut ke candi selanjutnya. Supir Tuk-Tuk kami, Pak Nasri dengan baik hati menawarkan untuk berhenti di candi berikutnya, Candi Thommanon yang terletak depan-depanan sama Candi Chau Say Tevoda. Apa daya kami masih lelah setelah mengunjungi kawasan Angkor Thom, jadi kami pun memilih melihat-lihat sebentar dari dalam tuk-tuk dan melanjutkan ke candi selanjutnya, Ta Keo.

Saat melewati Ta Keo, saya melihat candi ini sedang dipugar sehingga menjadi malas untuk turun. Selain itu hari mulai panas dan tenaga mulai berkurang drastis. Sehingga kami pun meminta Pak Nasri untuk melanjutkan perjalanan ke Ta Prohm.

IMG_0856

Victoria Gate

 

IMG_0859

Ta Keo

 

Ta Prohm ini memang terkenal sebagai tempat syuting Tomb Rider. Saya merasa sangat kagum dengan bentuk dan keindahan candi ini. Di sini saya merasakan bagaimana antara bangunan dan alam sebenarnya saling membantu dan menopang. Pohon-pohon yang masih hidup ini tumbuh besar dan menjulang. Akar-akarnya bersatu dengan bangunan dan saling bergantung. Kalau melihat struktur bangunannya, kita akan melihat bahwa bagian candi yang runtuh, biasanya disebabkan oleh pohon yang mati ataupun badai.

Saya tidak habis-habisnya berdecak kagum dan melihat jauh ke atas. Suasana dan nuansa Ta Prohm ini sungguh berbeda dengan candi-candi yang lain. Di sepanjang jalannya kita pun akan melihat banyak pasir di sini. Padahal ini di tengah hutan loh!! Lagi-lagi kami bertiga berpikir bahwa zaman dahulu mungkin di sini adalah rawa sehingga banyak pasir yang tertinggal. Maklumin aja kita banyak mikir dan berasumsi, soalnya kita sengaja ga pakai guide ataupun tur leader. Bekal saya pun hanya sebuah buku mengenai Angkor yang saya beli di Night Market Siem Reap. Di sini pun lagi-lagi kita berpikir bagaimana mereka menemukan candi yang ini. Apalagi melihat akar-akar yang sangat besar. Sempat terpikir apakah dulu candi ini merupakan gundukan tanah seperti Borobudur sehingga akar-akar ini bisa begitu menyatu dengan bangunannya.

Kakipun merasa lelah, kerongkongan kering, perut mulai bernyanyi, serta matahari semakin tinggi. Saatnya kami kembali ke kota untuk makan siang dan istirahat sejenak di hostel.

 

IMG_0923

Ta Prohm

 

CUQZ5048

Tepat pukul tiga saya, Teh Zen, dan Teh Win dijemput kembali oleh Pak Nasir dan kami pun kembali ke Kawasan Angkor. Saya sempat bertanya apakah sempat untuk mengunjungi satu Angkor lagi sebelum akhirnya kami berjalan menuju tempat melihat matahari terbenam yang segera dijawab bahwa itu tidak memungkinkan.

Kami akan melihat matahari terbenam dari Phnom Bakheng yang terletak di atas bukit. Candi ini memiliki batas maksimal untuk dapat berada di atasnya sehingga kami perlu datang lebih awal agar mendapat giliran naik ke atas. Untuk mencapai puncak candi, kami harus menaiki tangga curam dan diberikan nomor giliran. Apabila nomer habis, berarti harus mengantri dan gantian dengan turis lainnya.

Pemandangan dari Phnom Bakheng indah banget!!! Kita bisa melihat Kawasan Angkor yang memiliki banyak hutan. Saya pun sempat bertemu beberapa biksu yang sedang beribadah. Oia hingga saat ini Kawasan Angkor masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah. Oleh karena itu untuk warga lokal mereka bebas keluar masuk Kawasan ANgkor secara gratis. Waktu menunjukkan pukul setengah enam namun langit semakin mendung dan tak ada tanda-tanda cerah. Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk turun dan kembali ke Siem Reap sebelum gelap. Maklum sepanjang jalan di Kawasan Angkor saya tidak melihat ada lampu jalan, sehingga rada spooky aja ngebayangin malem-malem kudu lewat hutan.

saat turun dari Phnom Bakheng saya melihat antrian panjaaaaaanggg untuk mendapatkan giliran naik ke atas. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam. Hanya satu jam lagi dan candi akan ditutup. Ketika turun ke bawah pun masih ada beberapa turis yang ingin mendaki untuk melihat Phnom Bakheng. tapi petugas Kawasan Angkor tidak mengijinkan mereka naik karena beberapa saat lagi akan tutup. Apalagi mengingat antrian di atas masih panjang.

IMG_0938

 

IMG_0946

Detail Phnom Bakheng

 

 

IMG_0962

mendung T__T

 

Perjalanan kali ini sungguh panjang. Sepertinya saya sudah berjalan lebih dari 10 kilo!! Pulang-pulang ke tengah kota Siem Reap kami pun segera mencari foot massage. Kaki beneran pegel banget!!

Beberapa hari ke depan sepertinya saya ogah mengunjungi Wat atau candi. Udah kebanyakan muter-muter lihat candi di Kawasan Angkor. Saat tiba di Bangkok, saya langsung mencoret rencana untuk pergi ke Ayutthaya. Lebih baik mengunjungi beberapa Wat yang memang berbeda saja dengan yang ada di Kawasan Angkor.

Tips untuk mengunjungi Kawasan Angkor:

  • Kalau menyukai sejarah, bangunan candi, dan ingin melihat perbedaan setiap candinya, kalian bisa membeli tiket terusan 3 days pass atau 7 days pass sehingga bisa menikmati Kawasan Angkor dengan santai.
  • Untuk yang penasaran dan ingin ke beberapa Wat saja, bisa menggunakan 1 day pass.
  • Banyak cara untuk mengelilingi kawasan Angkor. Kita bisa menyewa sepeda, motor, mobil, ataupun menggunakan tuk-tuk. Keunggulan menggunakan tuk-tuk, biasanya setiap tuk-tuk akan menyiapkan air minum untuk kita dan sebelum masuk kuil kita bisa meminta sedikti penjelasan mengenai candi tersebut. Oia kalau mau menghubungi supir tuk-tuk saya, namanya Pak Nasri (+855969987679). Beliau ini Muslim jadi tahu beberapa restoran halal di Siem Reap.
  • Siapkan fisik untuk berjalan-jalan menuju candi ataupun menaiki candi yang ada.
  • Gunakan pakaian yang nyaman dan sopan. Di Kawasan Angkor tidak diperkenankan memakai baju tanpa lengan maupun celana pendek. Lebih baik pakai baju tipis lengan panjang serta celana panjang atau rok minimal selutut.
Advertisements

Mengejar Matahari Terbit di Angkor Wat

Saya selalu berusaha bertemu matahari terbit saat berada di sebuah kota maupun negara yang sedang dikunjungi. Sinar matahari pagi itu seperti memberikan energi positif dan penyemangat untuk menjalani hari yang baru. Walaupun saya bukan tipe orang yang senang bangun pagi, tapi demi bertemu matahari yang terbit diufuk Timur saya pun jadi bisa bangun sebelum alarm menyala.

Begitupun ketika berada di Siem Reap. Saya bercita-cita ingin melihat matahari terbit dari Angkor Wat. Saya, Teh Zen, dan Teh Win sudah janjian dengan supir tuk-tuk kami untuk berangkat pukul lima pagi. Malam harinya saya berusaha tidur lebih awal yang tetep aja failed karena baru tidur jam duabelasan. Alarm pun sudah dinyalakan dari mulai jam empat subuh hingga pukul empat lebih lima belas menit. Keesokan harinya, saya baru mendengar alarm saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Gawat!!! Saya telat bangun!!!

Saya segera membangunkan Teh Win dan Teh Zen sambil beranjak ke kamar mandi. Kebiasaan banget untuk selalu mandi sebelum pergi >.< . Setelah mandi kilat, gantian Teh Zen dan Teh Win yang ke kamar mandi dan bersiap-siap. Pukul lima lebih lima belas menit kami baru berangkat dari hostel.

Jarak hostel ke Angkor Wat kurang lebih tujuh hingga delapan kilo meter. Saya segera bersyukur sudah membeli tiket dulu kemarin, kalau tidak rasa-rasanya belum tentu kami sempat mengejar matahari terbit. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi dan kami baru dua pertiga perjalanan, saya sudah mulai pesimis tidak bisa melihat matahari terbit. Di dalam hati hanya bisa berdoa, Ya Tuhan YME kalau memang diridhai, semoga berjodoh bertemu dengan sang matahari terbit.

Di jalan menuju Angkor Wat, saya mulai melihat banyak tuk-tuk yang berjalan beriringan, para turis yang sedang mengendarai sepeda motornya, serta turis yang menggunakan sepeda. Kami semua mengejar waktu untuk bisa melihat matahari terbit.

Saat berada di pertigaan danau menuju Angkor Wat, saya pun melihat pemandangan yang menakjubkan. Warna oranye mulai terlihat dikaki langit. Saya, Teh Zen, dan Teh Win hanya bisa menahan nafas melihat pemandangan itu. Rasanya waktu berhenti sepersekian detik sebelum saya mulai mengeluarkan hp untuk merekam momen yang barusan saya rasakan.

IMG_0715

Tuk-tuk kamipun melaju semakin kencang untuk mengejar momen munculnya matahari dari balik tiga bangunan di Angkor Wat. saat akan berbelok ke sebelah kanan menuju pintu masuk Angkor Wat, kami merasakan ban sebelah kiri dari tuk-tuk kami terantuk kerikil dan menyebabkan ban tuk-tuk kempes. Saya sudah pasrah membayangkan tuk-tuk kami akan berhenti di pinggir danau. Ternyata saya salah. Supir kami tetap melajukan tuk-tuknya hingga batas pemberhentian. Kami segera turun dan menuju tempat para turis melihat matahari terbit.

Begitu sampai pintu masuk menuju Angkor Wat, langkah saya terhenti. Terpana melihat pemandangan di depan saya. Warna jingga menyilaukan perlahan naik di balik gerbang Angkor Wat. Saya cuma bisa bengong sebelum akhirnya mengikuti Teh Win dan Teh Zen untuk melihat matahari terbit dari jembatan. Ditengah keterpukauan kami, akhirnya kita memutuskan untuk duduk-duduk menikmati matahari terbit dari danau yang mengelilingi Angkor Wat.

IMG_0767

IMG_0773

Saya, Teh Zen, dan Teh Win menatap matahari terbit cukup lama hingga matahari naik di atas Angkor. Sesekali kami mengobrol tapi banyaknya bengong dan terkagum-kagum dengan indahnya pemandangan di depan. Kami juga sempat membuka perbekalan sarapan dan asyik sarapan dengan masih memandangi sang matahari yang beranjak naik.

IMG_0780

Kebahagian lain saat melihat matahari terbit adalah saya bisa melihat bulan yang berada tinggi di atas. Langsung heboh sendiri bisa merekam pemandangan yang jarang terlihat, bulan berada di atas sementara matahari berada di bawah.

IMG_0733

did you find the moon?

Sebenernya lokasi yang paling terkenal melihat matahari terbit itu berada di depan danau teratai di bagian dalam Angkor Wat. Dari bagian ini kita bisa memfoto matahari terbit dengan pantulan angkor wat di air danau. Tapi berhubung kami dateng telat, ngebayangin harus berdesakan mencari spot foto udah bikin males duluan. Untuk mendapatkan spot foto bagus, biasanya turis-turis sudah mulai berdatangan dari pukul lima pagi. Saya sendiri udah bahagia banget masih dikasi kesempatan memandangi matahari terbit dari danau di luar Angkor Wat. Ternyata jodoh dan rejeki itu emang ga akan ke mana. Buktinya saya masih dikasi kesempatan melihat matahari terbit dari Angkor Wat

Memperlambat Langkah di Siem Reap

Berada tiga hari di Siem Reap berarti menikmati hidup dalam mode lambat dan melakukan hal-hal yang saya sukai. Saya bisa berjam-jam berada di common room hostel tempat menginap untuk membaca novel sambil sesekali melihat jalan di luar yang panas dan sepi. Saya juga bisa berjalan santai menikmati hiruk pikuk turis dan masyarakatnya di sekitaran Pub Street dan Night Market.

IMG_0578

common roomnya bikin betah!!

Siem Reap menjadi tempat turis singgah untuk mengunjungi salah satu situs warisan dunia, Angkor Wat. Praktis dari pagi hingga sore di dalam kotanya tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Selain ke Angkor Wat, daerah wisata lainnya memang lebih banyak berada di luar pusat kota Siem Reap. Sebut saja Kulen Mountain yang terletak 60km dari kota atau Banteay Stray yang juga jauh dari kota, belum lagi ada Culture Village dan juga Floating Village di Kampong Pluk.

Untuk di dalam kota, kita bisa menikmati Angkor National Museum yang menjelaskan mengenai Kerajaan Khmer serta Kompleks Candi Angkor Wat. Untuk yang ingin duduk duduk santai, ada Royal Garden yang rindang tidak jauh dari Royal Palace. Kita juga bisa menelusuri The Old Market yang penuh dengan souvenir khas Kamboja hingga makanan khas Khmer. Supir tuk-tuk kamipun sempat menawarkan untuk mendatangi killing field yang langsung kita tolak.

IMG_0611

Di hari pertama Saya, Teh Zen, dan Teh Win menginjakkan kaki di Siem Reap, kami hanya bepergian ke Angkor National Museum sambil berkeliling kota. Menikmati hembusan angin di tengah panasnya Siem Reap. Saran saya jangan lupa pakai sun block biar ga kebakar. Sore harinya kami membeli tiket Angkor Wat yang terletak di bagian counter ticket agar besok subuh bisa langsung masuk ke Angkor Wat demi menikmati matahari tebit. Sebenernya apabila membeli tiket pukul lima sore, kita bisa masuk kawasan Angkor Wat secara cuma-cuma untuk melihat matahari tenggelam. Tapi kami lebih memilih melihat matahari tenggelam esok hari dan memutuskan untuk melihat Angkor Panorama Museum. Di dalam sini kita bisa melihat maket keseluruhan dari kawasan Angkor Wat yang mana luas banget!! Saya sampai bingung besok mau ke mana aja 😀 . Saat akan keluar dari Angkor Panorama Museum, hujan turun sangat deras. Akhirnya kita bengong dulu sambil nungguin hujan berhenti. Malam hari saatnya jalan-jalan di Pub Street dan Night Market untuk mencari souvenir, makanan, dan melihat-lihat kehidupan di malam harinya. Di sepanjang Pub Street kita ketemu banyak pedagang kaki lima yang menjual buah-buahan, durian, martabak telur, hingga makanan aneh seperti kalajengking dan kecoa. Di area Night Market saya mendapatkan buku mengenai Angkor Wat dengan harga 8 USD. Lumayan buat dibawa dan dibaca saat mengunjungi Angkor Wat besok.

IMG_0633

Ticket Counter

IMG_0665

Hari kedua sudah tentu kami seharian di Angkor Wat. Ini mah beneran dari matahari terbit hingga tenggelam kami menjelajah Angkor Wat. Kami hanya kembali ke kota saat makan siang untuk mencari makanan halal. Setelah itu kembali ke hostel sebentar sebelum akhirnya kembali lagi ke kawasan Angkor Wat. Malam harinya kami mencoba salah satu tempat pijat untuk pijat kaki. Maklum seharian dibawa jalan keluar, masuk, naik, dan turun candi membuat kaki saya, Teh Zen, dan Teh Wina pegel-pegel!! Nah di Siem Reap kita akan menemukan banyak banget tempat pijat mulai dari yang bagus sampai yang biasa banget. Dari yang harganya 1 USD sampai 30 USD. Semuanya tergantung mau pijat berapa lama.

IMG_2300

Angkor Wat

Hari ketiga pagi lebih banyak kami habiskan dengan menyelonjorkan kaki di hostel serta packing. Kami baru keluar dari hostel 30 menit sebelum waktu check out. Pokoknya memaksimalkan waktu yang dimiliki untuk selonjoran. Ini sih beneran pegel-pegel dan capek setelah kemarin menjelajahi Angkor Wat. Berhubung penerbangan kami di malam hari, backpack pun dititipkan dulu di hostel. Setelah itu kami berjalan-jalan ke Galleries yang berada di sebelah Angkor National Museum untuk membeli beberapa cinderamata khas Kamboja. Ini adalah kesempatan terakhir kalau mau beli oleh-oleh Kamboja karena nanti malam kami akan melanjutkan perjalanan ke Thailand. Kami juga sempat mengirimkan kartu pos untuk beberapa orang di Indonesia. Setelah itu kita berpikir untuk mencoba sebuah tempat kopi yang juga memiliki menu vegan. Kayaknya ada kali yah dua jam berada di sana untuk ngobrol, menikmati makanan dan minuman yang ada di sana. Kami pun berdiskusi akan ke mana lagi untuk menunggu malam tiba dan pergi ke bandara. Teh Win keingetan ingin mengunjungi beberapa sekolah yang ada di Siem Reap untuk keperluan tugas kuliahnya. Ternyata menyenangkan ya melihat beberapa sekolah di Siem Reap. Rata-rata sekolahnya memiliki halaman yang luas untuk anak-anak bermain. Supir tuk-tuk aja yang kayaknya bingung saat kami memintanya mengantar ke beberapa sekolah yang ada di Siem Reap 😀 .

Kayaknya selama di Kamboja ini kami memang lebih santai saat berjalan-jalan. Banyak duduk dan menikmati suasana yang ada di sekitar. Ini beneran kayak terapi buat saya yang seringnya grasa grusu dan mengerjakan banyak hal. Seperti dipaksa buat lebih tenang, rileks, dan menikmati semua hal yang ada disekitar mulai dari panasnya Kamboja, deretan rumah, mengobrol buanyak hal dengan Teh Zen dan Teh Win, serta mengistirahatkan badan. Menuliskan soal Siem Reap ini bikin saya kangen pengen balik lagi ke sana.

Bersantai di Sihanoukville

UBUW5348

Sihanoukville

Saat merencanakan jalan-jalan ke tiga negara, saya ingin memasukkan pantai di beberapa hari kami pergi. Saya sih bebas aja mau melihat pantai di Kamboja atau di Thailand, yang penting ke pantai. Kasian kak, anak gunung jarang liat pantai :’) . Awalnya sempat terpikir untuk ke Pattaya, tapi setelah melihat beberapa foto dan testimoni yang mengatakan betapa ramainya di sana kita mencoret Pattaya dari daftar.

Jadi mantai ke mana dong? Teh Zen pun mencetuskan untuk ke Sihanoukville. Awalnya saya ga tahu soal keberadaan Sihanoukville hingga melihatnya di google. Pantainya biru dan sepiiii. Teh Win pun setuju buat ke Sihanoukville. Setelah menghitung hari, kami menyisihkan waktu tiga hari dua malam di sini.

Perjalanan ke Sihanoukville ditempuh selama 5-6 jam naik travel dari Phnom Penh. Saya, Teh Zen, dan Teh Win sengaja memilih berangkat siang sehingga bisa sampai saat matahari terbenam. Apakah kita ngeliat matahari terbenam di hari pertama? tentu tidaaaakk. Kami memilih untuk meluruskan badan di hotel. Malamnya baru keluar untuk makan di Olive&Olive Mediterranean Food yang ada di dekat hotel.

IMG_0357

Makan malam pertama

Selama di Sihanoukville kita memang memilih untuk bersantai. Kehidupan di sini pun berjalan dengan lambat dan malemnya pun tergolong sepi. Ketika jam delapan memang ada beberapa bar yang memainkan musik. Tapi jam 11 malam udah pada selesai loh. Jadi sunyi lagi!! Kalau dilihat-lihat Sihanoukville memang kota transit untuk turis yang ingin menghabiskan waktu di pulau-pulau sekitar Sihanoukville seperti Pulau Koh Rong. Kalau kita sih udah seneng bisa leyeh-leyeh santai di Sihanoukvillenya.

Di pagi hari kedua, kami berjalan menuju Pantai Serendipity. Menurut temen saya yang pernah ke Sihanoukville, pantai ini sebenernya ga direkomendasikan karena termasuk kotor dan banyak yang jualan. Kenyataannya pantainya lebih bersih dan jernih dibandingkan Kute!! Memang sih beberapa kali saya menemukan sedotan atau kaleng minuman, tapi ga banyak. Airnya pun jernih!! Saya betah loh maen air di sini. Kita bahkan menemukan banyak ikan yang berenang sampai bibir pantai. Lucuuu banget!!

IMG_0368

Serendipity Beach

Kami pun berjalan hingga sampai di Pantai Oucheuteal. Pantai ini terasa berbeda dengan pantai sebelumnya. Kalau di Pantai Serendipity kehidupan pantainya baru berjalan sore ke malam mengingatkan saya akan Jimbaran Bali. Sedangkan Pantai Oucheuteal dari pagi sudah menggeliat. Kursi-kursi pantai di pasang dan kalau mau duduk di sana mesti bayar 10 usd!! Selama main di pantai ini pun akan banyak tukang pijat, pedagang kelapa muda, seafood bakar, serta tukang gelang yang menjajakan jualannya. Untuk yang mau snorkeling atau bermain jet-ski bisa meminjam peralatannya di Pantai Oucheutal.

IMG_0403

Pantai Oucheuteal

Saat matahari semakin naik, kami memutuskan untuk berjalan kembali ke hotel sambil mencari makan siang. Sepanjang perjalanan kami merasakan sepinya Sihanoukville. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang loh!! Untuk makan siang kami mencoba makanan Turki yang berada di perempatan jalan sambil leyeh-leyeh di bawah pohon rindang. Porsi makanan yang besar membuat kami enggan segera beranjak dan memilih untuk menikmati siang di sana.

IMG_0432

our lunch at Benetton Turkish Food

IMG_0436

porsi besar

Sore harinya kami pun ingin melihat matahari tenggelam dari pantai yang lain, Pantai Otres yang berjarak sekitar 8 km dari Serendipity. Tentu saja kami memilih untuk memakai tuk-tuk ke sana. Enak banget rasanya naik tuk-tuk yang berjalan pelan di Kamboja. Tuk-tuknya beneran beda deh sama tuk-tuk Bangkok. Di Pantai Otres, matahari ternyata masih tinggi dan terlihat awan mendung 😦 . Sambil menantikan matahari turun lagi-lagi kami bermain air, mengobrol, dan memandang pantai. Saya bahkan menemukan ayunan dan asyik main ayunan dulu 😀 . Pantai Otres banyak dipilih turis karena memang lebih tenang daripada Pantai Oucheuteal. Di pantai ini ga banyak yang keliling menjajakan makanannya. Kita pun lebih enak buat duduk-duduk beralaskan pasir pantai dan bengong ngeliatin laut.

IMG_0457

Pantai Otres

IMG_0455

CKDE6341

jump!!

Pulang dari Pantai Otres kami memilih untuk mencoba makan seafoodnya yang ternyata biasa aja. Lebih enak makan di Olive&Olive deh. Malamnya daripada ngobrol di kamar, kami memilih mencoba Sushi Bar yang berada di seberang hotel. Asli asyik banget deh memilih hotel di dekat Serendipity Beach karena banyak banget tempat makan dan supermarketnya.

IMG_0514

IMG_0517

Keesokan harinya kami masih bisa bermain sebentar ke Serendipity Beach sambil menunggu jadwal travel untuk transit ke Phnom Penh dan dilanjutkan dengan bus malam ke Siem Reap.

Bahagia banget rasanya bisa bersantai sejenak di Sihanoukville. Saya suka banget sama pantainya yang sepi, pasir putihnya yang lembut banget kayak bedak tabur, airnya yang jernih berwarna  biru tosca, dan waktu yang berjalan dengan santai dan damai di sana. Menuliskan soal Sihanoukville jadi kangen main air lagi!!

Setengah Hari di Phnom Penh

Saya berada di Phnom Penh tidak sampai 24 jam. Pada hari pertama perjalanan, saya hanya berada di sana selama tiga jam. Beberapa hari setelahnya pun saya transit di Phnom Penh hanya empat jam.

Saat awal perjalanan saya dan dua orang teman memang bingung dengan kegiatan yang akan kami lakukan di Phnom Penh. Sejauh yang kita baca soal Phnom Penh banyaknya orang mendatangi Killing Field, Night Market, Royal Palace, serta beberapa Wat. Killing field sudah pasti kita coret karena ga suka melihat luka masa lalu dan serem juga sih. Masuk Lobang Buaya di Jakarta aja udah merinding, apalagi harus mendatangi Killing Field!

Pada transit pertama akhirnya kita berpikir untuk keliling-keliling cari makan dan melihattempat yang biasa didatangi oleh turis. Sebelumnya kita menitipkan tas ke Giant Ibis Travel yang terletak tepat di samping Night Market dan keliling kota naik tuk-tuk. Saya dan teman-teman sempat mampir ke Royal Palace. Sayangnya tempat ini tutup dari jam 11.00 hingga jam 13.00. Jadilah perjalanan pun dilanjutkan dengan berkeliling melihat Wat Ounalom, melihat aktivitas orang-orang di Kandal Market, melewati Old Market, serta mendatangi Wat Phnom. Sayangnya kita ga sempat untuk berkunjung ke Mesjid Al Serkal karena waktu sudah mendekati keberangkatan travel ke Sihanoukville 😦 .

Saat berkeliling ini saya melihat Phnom Penh sedang melakukan banyak pembangunan. Mulai dari membangun infrastruktur seperti jalan layang hingga apartemen dan gedung perkantoran. Sepertinya saat saya ke sana beberapa tahun lagi, akan semakin banyak gedung-gedung tinggi di sana.

IMG_0284

IMG_0287

IMG_0301

Royal Palace

IMG_0303

Wat Ounalom

Saat transit kedua saya dan teman-teman berkeliling Night Market yang ada tepat di depan Giant Ibis. Seru banget ya Night market di sana. Di pintu mausk, saya sempat melihat ada sekelompok pemusik. Kemudian sebagaimana Night market lainnya banyak banget yang jualan baju, tas, jam, sepatu, hingga aksesoris. Semuanya ada di sini!

Di bagian belakang Night market kita bisa menjumpai banyak pedagang makanan serta tempat duduk yang luas untuk pengunjung. Asyik banget!! Cuaca Phnom Penh yang panas membuat saya dan teman-teman memilih ngemil es krim di batok kelapa. Segeerr banget. Apalagi kita dapet bonus air kelapa yang manis. Buat yang mencari makanan halal, tepat di sebelah tukang es krim ini ada yang jual makanan halal. Jadi ga susah buat nyari makanan halal di Phnom Penh Night Market.

XXBA5711

RUIA7264

SXZK8288

*Foto-foto di Night Market diambil dari kamera hp Teh Wina