Jatuh dari Tangga

Rehat sejenak dari tulisan soal Asean Trip kemaren. Saya mau cerita soal kejadian yang menimpa saya pada hari Minggu. Kalau yang sudah follow instagram dan lihat ig story pasti tahu beberapa hari ini kaki saya lagi dibebat. Penyebabnya karena saya jatuh dari tangga rumah ><. Sebenernya kejadian ini lebih karena kecerobohan sih. Saya mengira pijakan terakhir adalah pijakan menuju lantai, ternyata meleset. Masih ada satu anak tangga yang harus dituruni. Badan saya ga siap dan berakhir dengan kaki kiri keplitek dan membengkak.

Sore-sorenya saya dan mama segera manggil tukang pijet untuk mijetin kaki dan “ngebenerin” sendi yang keplitek. Saat dipijet, rasanya sakiiiiittt bukan main!!!! Sama tukang pijet langsung dikompres air panas dan bolak balik dipijet agar urat-urat dan sendinya kembali ke tempat asalnya. Setelah itu kaki saya dibebat dengan dikasi parutan jahe terlebih dahulu. Rasanya malam itu saya susah tidur, kaki kerasa ngilu dan sedikit panas efek jahe.

Hari Selasa sore, kaki saya sudah beranjak pulih. Bengkaknya tidak sebesar hari Minggu, tapi masih terlihat biru di beberapa tempat. Saat dipijat kembali pun tidak sesakit hari Minggu. Tapi tetap harus dibebat dan dikasi jahe parut biar bengkaknya semakin hilang. Malamnya, saya merasa efek jahenya lebih parah dari hari Minggu. Terasa panas dan membuat kaki nyut-nyutan. Mungkin kalau hari Minggu saya masih berasa sakit dan syok sehabis jatuh jadi ga berasa panasnya.

Hari ini kaki saya bengkak merata, tapi bagian engselnya sudah tidak sebengkak kemarin. Semoga esok atau lusa bengkaknya menghilang dan kaki saya sembuh serta bisa beraktivitas maksimal kembali. Aamiin!!

Advertisements

Problem Solving

We live as human being, so fight or flight is not the only choice that we have.

We need to face our fear and our battle. Ini adalah saatnya untuk berpikir, merasakan, dan bergerak untuk menyelesaikan masalah. Karena segala sesuatu butuh akhir untuk bisa menutup satu pintu dan membuka pintu yang lain. Kebayang ga kalau banyak pintu yang dibuka dan ga ada satu pun yang ditutup? Saya bakal masuk angin!! Begitu juga dengan masalah-masalah mengganjal dalam hidup. Kalau punya masalah-masalah yang tidak terselesaikan, suka atau tidak akan mempengaruhi perasaan, pikiran, serta lingkungan di sekitar. Untuk masalah ini contoh paling gampang adalah dengan melihat anak kecil di sekitar. Saat saya lagi banyak pikiran, biasanya anak-anak disekitar saya akan lebih chaos dan jadi bikin stres. Ada ibu-ibu atau guru yang pernah merasakan ini? Rasanya udah lagi pusing malah tambah pusing dan emosi.

Everything need to be settled.

Saya termasuk yang mengamini bahwa sebelum masuk ke babak baru kehidupan, kita perlu menyelesaikan masalah-masalah yang mengganjal. Agar tidak terbawa pada kehidupan selanjutnya. Agar bisa beneran mengawali semuanya dengan tenang dan damai.

Some problems need to meet to be discussed directly

Cara paling mudah namun juga sulit untuk dilakukan adalah dengan bertemu langsung dan menyelesaikan masalah diantara kedua belah pihak. Untuk saling melihat perbedaan persepsi saat masalah itu datang. Untuk mengingatkan alam bawah sadar bahwa kejadian itu nyata adanya. Kalau kata seorang sahabat saya mah agar hidup kembali normal, tenang, dan damai.

Everyone need to move on

Ketika saya menghadapi dan menyelesaikan sebuah permasalahan, maka saatnya benar-benar beranjak dari tempat yang membuat kita ga move on. Terkadang move on itu bukan masalah perasaan atau rasa suka, tetapi juga mengenai pembicaraan yang mengambang, rasa penasaran yang belum terpuaskan, dan pertanyaan yang tidak terjawab. Kesemuanya mengakibatkan ada potongan dari diri yang masih menetap, memandang ke arah sana. Enggan beranjak.

the signs given during these two weeks leads me to the finish line. the timing is right.  I finally see how far we growth from the start…and I feel blessed. 

 

Tiga Belas Hari, Tiga Negara, Lima Kota

Tahun lalu saya menghadiahi diri sendiri jalan-jalan selama empat hari ke Kuala Lumpur bersama sahabat bagai saudara. Sedangkan tahun ini saya merencanakan untuk menambah waktu jalan-jalan menjadi 13 hari. Ide liburan selama itu sudah saya rencanakan sejak tahun lalu bersama dua orang kakak angkatan saat kuliah dulu. Sekalian merayakan kelulusan di bulan Februari kemarin.

MSPM3417

at Sihanoukville

Sejak kepulangan saya minggu kemarin, rasanya masih tidak percaya saya berhasil melalui perjalanan selama 13 hari bepergian ke-3 negara dan mengunjungi 5 buah kota. Jalan-jalan kali ini pun memang tidak seoptimis biasanya. Saya ingin merayakan setiap langkah diumur yang baru ini dengan sesadar-sadarnya dan menikmati semua yang terjadi.

Selama 13 hari saya menghabiskan setengah hari di Phnom Penh, tiga hari di Sihanoukville, tiga hari di Siem Reap, lima hari di Bangkok, serta tiga hari di Kuala Lumpur. Tadinya sih optimis mau ke Hua Hin di Thailand dan ke Melaka di Malaysia. Apa daya kita lebih memilih untuk berjalan lambat menikmati setiap hari di kota yang didatangi. Tidak mau buru-buru dikejar waktu. Mungkin lain kali saya bisa berkunjung ke kota-kota yang belum didatangi.

Sepanjang perjalanan ini saya ditemani orang-orang baik hati nan jahil yang membuat tiap harinya ada aja yang kita ketawain sampai diobrolin serius. Mereka selalu mengingatkan saya untuk lebih rileks, lebih santai menghadapi semuanya. Dinikmatin semua keputusan yang diambil baik dari jauh ataupun dadakan. Saya juga bertemu, berkenalan, hingga jalan bareng dengan beberapa orang yang dikenal saat perjalanan. It’s always nice to meet new people and talking about anything. Hingga rasanya pulang dari liburan kali ini hati dan jiwa terasa penuh.

Cerita lengkap mengenai perjalanan menyusuri lima kota di tiga negara selama 13 hari akan saya tulis secara terpisah ya 😀 .

Halo Agustus!! Halo Tanggal Delapan!!

Hari ini saya kembali berulang tahun, menghitung berkurangnya umur saya di bumi. Tahun ini merupakan tahun terakhir saya memiliki usia kepala dua!!! Yah ini juga sih yang membuat saya sampai menuliskan keresahan menjelang bulan Agustus. Tetapi kegalauan kemarin ga berlangsung lama. Seminggu kemudian saya diberi beberapa kebahagiaan kecil yang datang silih berganti. Manisnya beneran mengingatkan untuk selalu bersyukur, berpikir jernih, dan kembali melihat apa yang sebenernya saya inginkan.

Sepanjang perjalanan menuju usia 29 ini, saya banyaaaakk banget dihadapkan pada pertanyaan mengenai nilai-nilai yang ada disekitar saya. Ada beberapa kejadian yang ga pernah saya bayangkan ternyata menjadi sebuah momen yang membuat saya kembali berpikir tentang banyak hal dan mengubah sudut pandang. Menjadi pribadi yang selalu sadar dan mindful memang ga gampang. Saya tetap belajar dan belajar untuk lebih menjejakkan kaki ke tanah yang hangat, merasakan dinginnya tetesan hujan, serta panasnya mentari.

Memiliki umur terakhir berkepala dua berarti saya diingatkan kebanyakan orang untuk segera menikah. Sampai ada seorang om yang mengatakan “jangan kebanyakan milih Ra!!”. Errr kalau kita milih sayur di pasar aja dipilihkan ya? Apalagi pasangan hidup. Okay, cukupkan dululah soal obrolan jodoh ini. Saya sih selalu percaya bahwa semua ini sudah digariskan sama Tuhan YME. Jodoh tentu akan ketemu kalau sudah waktunya.

Mari bersyukur. Saat ulang tahun ini, saya masih diberi umur untuk bisa makan nasi kuning bareng sama keluarga dan temen-temen terdekat *yah walau minus si adik super sibuk itu yah*. Saya juga sepanjang sore ngobrol ngalor ngidul bareng adik yang baru kemaren-kemaren ketemuan. Seneng rasanya bisa ngobrol, dapet informasi baru, dan juga sudut pandang baru.

Bagian menarik dari hari ini adalah ketika saya masih diberi kesempatan untuk menikmati momen bertambahnya usia dalam situasi yang damai dan tenang ditemani segelas cokelat hangat dan tetesan air hujan. Benar-benar hadiah indah dari Tuhan YME!!

IMG_0083

Merayakan ulang tahun dengan segelas cokelat hangat ditemani hujan

Hai perjalanan 29 menuju perubahan angka di depan, mari gandengan menjalani hari-hari dengan lebih sadar lagi.

Menjelang Agustus

It’s time to meet myself in the mirror. Someone looks at me. It’s just another side of myself. I just wanna smile. 

Sebulan ini perasaan saya naik turun. Mungkin ini efek ritme hidup yang beberapa bulan lalu berantakan sehingga efeknya masih terasa hingga hari ini. Ritme saya pun mulai berangsur-angsur pulih walaupun bagian begadang masih jadi pr.

Kalau sudah begini, saya biasanya memilih untuk kembali duduk di pojok-pojok tempat ngopi dan berkontemplasi sendiri. Kayak ngajak ngobrol dan merasa-rasa berbagai emosi yang lagi berkunjung. Saya pun sampai ke suatu kesimpulan bahwa semua perasaan ini terkadang datang menjelang bulan Agustus.

Agustus merupakan bulan di mana saya lahir. Jadi memang sering menjadi tempat saya check point atas kemajuan yang telah saya buat setahun belakangan ini. Sebenernya ada beberapa kemajuan yang saya buat ditahun ini. Sebut saja soal drama tesis dan dua kali sidang yang telah berakhir, wisuda di tahun ini, memutuskan untuk mengikuti training yang kayaknya dulu ga pernah kepikiran akan nyemplung ke sana, mencoba untuk tinggal di sebuah tempat lebih dari satu minggu, mencoba berbagai hal baru, berkenalan dengan lingkungan yang sebelumnya saya lihat dari jauh, mencoba melihat kota dari sudut pandang yang lain, serta merencanakan sebuah perjalanan yang menurut saya cukup lama. Banyak yah!!

In the morning, everything is alive, as always. But still, the darkness gets me down and won’t set me free.

Tapi belakangan saya merasa ada yang kurang. Mungkin karena pencapaian saya ini berbeda dengan teman-teman seumur yang sudah menikah, bahkan sudah memiliki dua anak, serta punya pekerjaan yang steady. Memang ya rumput tetangga itu selalu lebih hijau!!

Hal itu juga yang membuat saya ingin kembali menata semua aspek dalam hidup saya. Tahun lalu saya bisa melewati ini semua dengan tenang. Maka tahun ini saya pun kembali ingin berdamai dengan perasaan perasaan ini.

I’ll be ok. 

*cetak miring adalah lirik lagu CN Blue berjudul Be OK

Memperbaiki Ritme Hidup

IMG_4862

Sejujurnya ritme hidup saya sedikit kacau begitu selesai kuliah. Tidak ada lagi hari-hari di mana saya harus bangun pagi, beberes rumah, dan mulai menghidupkan pc atau laptop untuk mengerjakan tesis ataupun ketemu pembimbing di hari-hari tertentu. Di bulan-bulan awal hidup bagaikan sedang liburan, isinya leyeh-leyeh dan sesekali buka laptop ketika ada kerjaan yang mampir. Hingga bulan lalu saya mulai gelisah.

Hidup tanpa ritme yang jelas teryata memang bisa membuat kekacauan untuk diri saya. Kerasa banget jadi ga produktif, hidupnya diisi buat nonton drama Korea, drama Jepang, sampai drama Tiongkok hingga jalan-jalan sama temen. Ga ada sesuatu yang menurut saya menghasilkan dari beberapa bulan ini. Saya jadi membuktikan kata-kata seorang guru di kelas Teacher Training Waldorf Early Childhood bahwa sejatinya badan dan jiwa kita menyukai keteraturan dan ritme.

Ritme hidup bisa membuat keseimbangan dalam tubuh dan jiwa. Untuk anak-anak ritme sebenernya membantu untuk mereka lebih tenang, nyaman dan aman karena mereka bisa memprediksi apa yang terjadi dalam hidup lewat ritme hariannya. Selain itu, anak-anak yang udah terbiasa dengan ritme hidupnya jadi bisa eksplorasi lebih di hal yang lain seperti mainannya ataupun mengembangkan imajinasi yang mereka punya. Untuk orang dewasa, saya merasa jadi lebih produktif dan badan menjadi lebih fresh. Makanya kalau lagi ga enak badan atau sakit, saya biasanya jadi lebih memperbaiki ritme hidup kayak makan tiga kali sehari di waktu yang tepat ataupun tidur yang cukup.

Saat awal-awal belajar dan sadar akan ritme hidup, saya suka salah mengartikannya dengan jadwal harian. Padahal sifatnya beda banget. Ritme hidup ga harus melulu soal jadwal kayak bangun harus jam berapa, makan jam berapa, dan seterusnya. Tapi ritme itu lebih ke pembagian kegiatan mulai dari kegiatan yang butuh penyaluran energi atau yang fokus dengan diri sendiri. Kalau dalam pendidikan Waldorf biasanya dikenal dengan kegiatan-kegiatan “breathing in” dan “breathing out”. Contoh paling gampang untuk kegiatan “breathing out” adalah ketika anak bebas bermain, berlari, masak bareng, serta jalan-jalan. Sedangkan contoh untuk kegiatan “breathing in” seperti membaca, beberes rumah, ataupun kerja. Ritme hidup juga biasanya lebih fleksibel daripada jadwal harian, karena kita bisa mengganti beberapa kegiatannya selama tetap dalam mengalir bergantian antara kegiatan “breathing in” dan “breathing out”.

Saya merasakan ketika mulai membenahi ritme hidup, saya mulai membangun kembali keteraturan di dalam hidup saya. Bulan Ramadhan kemaren beneran saat yang tepat buat saya berbenah, sesimpel ngebenerin pola tidur yang sering begadang jadi kembali teratur tidur sebelum jam 11 malem karena mau bangun sahur. Berusaha menyicil setiap kerjaan yang ada. Bulan Ramadhan memang udah berakhir, tapi saya masih terus berbenah dengan ritme hidup agar bisa lebih produktif dan lebih sehat lagi.

Sumber bacaan soal Ritme diambil dari:
Rhythm Waldorf Style
Learning through rhythm
Rhythm the pulse of life
Daily rhythm at home

Tidak Apa-Apa untuk Menjadi Tidak Sempurna

Judulnya panjang banget ya!! Sebenernya pemikiran soal ini sudah lama ada di dalam kepala, cuma baru benar-benar diresapi ketika belajar merajut. Dipikir-pikir sistem pendidikan di Indonesia ini banyak mengajarkan anak untuk menjadi sosok yang mengejar kesempurnaan. Mulai dari anak-anak yang diajak berlomba untuk bisa baca, tulis, dan hitung diumurnya yang masih sangat muda, ataupun saat orang tuanya menjadi cemas saat anaknya merasa tertinggal ketika dibandingkan dengan anak lain. Saya yang punya keponakan aja, suka miris kalau ada yang ngomen ponakan saya kurang tinggi, kurang berisi, atau ketinggalan di beberapa tahap kembangnya kalau dibandingkan anak lain.

Ketika anak-anak di bangku sekolah, kejaran berikutnya adalah memperoleh nilai setinggi-tingginya. Saya dulu sampai menjadi orang yang pencemas kalau-kalau tidak mendapat ranking 5 besar. Rasanya salah dan dosa banget!!! Saat kuliah, kesempurnaan itu suka terjadi ketika mengerjakan tugas akhir baik skripsi maupun thesis. Pengalaman saya, yang bikin lama ngerjain itu karena maju mundur  untuk bimbingan. Bawaannya pengen bagus dan sempurna sehingga saat bimbingan udah boleh lanjut ke bab selanjutnya. Padahal itu ga mungkin banget!!! Kalau udah gini, biasanya jadi sedih dan kesel sendiri dan berakhir dengan melarikan diri berbulan-bulan sebelum akhirnya kembali lagi untuk bimbingan. Pembimbing thesis saya sampai bolak balik mengingatkan bahwa yang namanya penelitian itu ga masalah kalau akhirnya gagal. Namanya juga penelitian, ga harus 100% berhasil, yang penting ketika berhasil atau gagal kita bisa menjelaskan mengapa hal itu sampai terjadi.

Saat memasuki masa dewasa awal di umur 20an, tahap kesempurnaan yang dikejar pun berhubungan dengan tugas perkembangan seperti kudu cepet lulus kuliah, dapet kerja yang jelas dan punya penghasilan tetap, menikah dan punya anak. Kalau diumur 20 nyaris 30 belum ada ini semua, lagi-lagi rasanya gagal menjadi sosok sempurna.

Beberapa orang akhirnya menjadi sangat pencemas ketika ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai dengan rencananya, beberapa menjadi sangat kompulsi dan obsesif dengan setiap kesempurnaan. Terkadang saya pun jadi frustrasi ketika tujuan dan prosesnya tidak berjalan beriringan. Padahal namanya juga manusia, ga akan pernah sempurna. Selalu ada celah untuk salah, karena dari sanalah kita belajar menjadi lebih baik lagi. Kebayang ga sih kalau semuanya berjalan dengan sempurna dan tidak pernah salah? Bisa saja saya menjadi orang yang congkak dan sombong, kurang bisa berempati, dan berakhir menjadi orang yang narsis. Yah sekarang aja, masih ngasah diri untuk lebih berempati.

Sama seperti belajar merajut. Di awal saya suka sebel kalau salah dan bawaannya pengen ngulang dari awal. Saya pernah sampai 3 kali gagal membuat bandana karena bolak balik sengaja melepas talinya buat mulai lagi dari awal. Sampai harus diingatkan sama yang ngajarin kalau ga papa untuk salah dan ga sempurna. Karena baru pertama kali, baru mencoba, tidak masalah untuk ada beberapa yang salah dan ga rapi. Dengan begitu, kitapun belajar untuk menghargai setiap proses yang terjadi.

 It’s ok not to be perfect.