Problem Solving

We live as human being, so fight or flight is not the only choice that we have.

We need to face our fear and our battle. Ini adalah saatnya untuk berpikir, merasakan, dan bergerak untuk menyelesaikan masalah. Karena segala sesuatu butuh akhir untuk bisa menutup satu pintu dan membuka pintu yang lain. Kebayang ga kalau banyak pintu yang dibuka dan ga ada satu pun yang ditutup? Saya bakal masuk angin!! Begitu juga dengan masalah-masalah mengganjal dalam hidup. Kalau punya masalah-masalah yang tidak terselesaikan, suka atau tidak akan mempengaruhi perasaan, pikiran, serta lingkungan di sekitar. Untuk masalah ini contoh paling gampang adalah dengan melihat anak kecil di sekitar. Saat saya lagi banyak pikiran, biasanya anak-anak disekitar saya akan lebih chaos dan jadi bikin stres. Ada ibu-ibu atau guru yang pernah merasakan ini? Rasanya udah lagi pusing malah tambah pusing dan emosi.

Everything need to be settled.

Saya termasuk yang mengamini bahwa sebelum masuk ke babak baru kehidupan, kita perlu menyelesaikan masalah-masalah yang mengganjal. Agar tidak terbawa pada kehidupan selanjutnya. Agar bisa beneran mengawali semuanya dengan tenang dan damai.

Some problems need to meet to be discussed directly

Cara paling mudah namun juga sulit untuk dilakukan adalah dengan bertemu langsung dan menyelesaikan masalah diantara kedua belah pihak. Untuk saling melihat perbedaan persepsi saat masalah itu datang. Untuk mengingatkan alam bawah sadar bahwa kejadian itu nyata adanya. Kalau kata seorang sahabat saya mah agar hidup kembali normal, tenang, dan damai.

Everyone need to move on

Ketika saya menghadapi dan menyelesaikan sebuah permasalahan, maka saatnya benar-benar beranjak dari tempat yang membuat kita ga move on. Terkadang move on itu bukan masalah perasaan atau rasa suka, tetapi juga mengenai pembicaraan yang mengambang, rasa penasaran yang belum terpuaskan, dan pertanyaan yang tidak terjawab. Kesemuanya mengakibatkan ada potongan dari diri yang masih menetap, memandang ke arah sana. Enggan beranjak.

the signs given during these two weeks leads me to the finish line. the timing is right.  I finally see how far we growth from the start…and I feel blessed. 

 

Advertisements

You Can’t Take Depression Lightly

Image result for world suicide awareness day 2017

Sepuluh September merupakan Word Suicide Prevention Day atau yang di Bahasa Indonesia menjadi hari pencegahan bunuh diri sedunia. Beberapa teman dari psikolog Bandung pun beramai-ramai menyebarkan pesan bertagar psikolog peduli untuk menyebarkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mencegah bunuh diri terjadi di Car Free Day Bandung pada hari Minggu.

Hal ini mengingatkan saya akan Chester Bennington yang memilih bunuh diri karena depresi. Kematiannya sangat tiba-tiba dan membangkitkan ingatan untuk selalu aware dengan orang-orang yang mungkin memiliki depresi tapi kita ga sadar. Kita ga pernah tahu mau di luar kelihatan sebahagia apa tapi di dalamnya mah ga ada yang pernah tahu kegelapan yang mungkin sedang mereka alami.

Depresi ga bisa dianggep sebagai suatu masalah yang mudah. We can’t just say that they need go to psychologist or psychiatry. Apalagi dengan masyarakat kita yang masih aneh banget kalau ada orang mau curhat ke psikolog, padahal berat atau entengnya masalah itukan balik lagi ke yang ngejalanin. Kita ga bisa menjudge masalah putus si A dan si B itu sama, atau masalah keluarga si C dan si D itu sama. Pola asuh dan cara didik mereka hingga jadi individu aja beda, pengalaman serta perasaan-perasaan yang terjadi pun beda, gimana mau disamain?! Tiap individu itukan unik. Itu pulalah yang membuat saya sebagai manusia perlu memanusiakaan manusia. Sesuatu yang belakangan ini jadi hal yang jarang ditemui. Kesannya harus ikut suatu golongan dan ga boleh berada di wilayah abu-abu atau punya pandangan yang berbeda dari pada kebanyakan orang lain.

Orang-orang yang depresi pun ga bisa dengan mudah diomongin bahwa mereka kurang kuat imannya atau “kalo lo bunuh diri dan nyerah lo bakal masuk neraka”. Please don’t play God in here. Dunia ini mungkin udah jadi neraka tersendiri buat mereka. They even don’t know what to do to solve their problem.

Please kalau ada orang yang merasa kesulitan untuk masalah yang sedang dihadapinya, kita jangan ngejudge dengan mengatakan “yaelah masalah gitu doang”. Mungkin buat mereka itu adalah masalah terbesar dan terberat yang pernah mereka dapatkan. kalau ada temen atau orang seperti ini, kita sebagai orang terdekat bisa membantu dengan mendengarkan mereka untuk menyadarkan bahwa mereka ga sendiri dan kita akan selalu ada buat mereka ketika ada masalah yang sulit.

Kita sebagai support system itu menjadi bantuan yang berharga untuk mereka. Ga usah jauh-jauh nyari contoh. Beberapa tahun yang lalu saya beneran kebantu dengan support system yang ada di sekitar sehingga bisa melalui patah hati dengan lebih cepat. Selain support system, melakukan kegiatan-kegiatan seperti yoga, maen musik, olahraga, atau kegiatan yang pernah bikin nyaman bisa coba kembali dilakukan oleh orang yang sedang menghadapi depresi. Sebagai temen, kita juga bisa mengingatkan temen yang depresi untuk lebih memperhatikan hidupnya dengan makan yang bener, tidur yang cukup, atau melakukan teknik relaksasi. Karena kadang orang yang sedang depresi ga sadar dengan kesehatannya. Mereka bahkan ga merasa laper yang berarti bisa bikin mereka dehidrasi ataupun ngebuat badan jadi lemes. Terakhir, orang-orang depresi juga membutuhkan bantuan profesional sehingga mereka bisa lebih adjust dengan masalahnya seperti bantuan dari psikiatri maupun psikolog.

It’s okay to be not okay. But please, choose to life. Because every soul in this world is precious

*pict taken from here

Memperbaiki Ritme Hidup

IMG_4862

Sejujurnya ritme hidup saya sedikit kacau begitu selesai kuliah. Tidak ada lagi hari-hari di mana saya harus bangun pagi, beberes rumah, dan mulai menghidupkan pc atau laptop untuk mengerjakan tesis ataupun ketemu pembimbing di hari-hari tertentu. Di bulan-bulan awal hidup bagaikan sedang liburan, isinya leyeh-leyeh dan sesekali buka laptop ketika ada kerjaan yang mampir. Hingga bulan lalu saya mulai gelisah.

Hidup tanpa ritme yang jelas teryata memang bisa membuat kekacauan untuk diri saya. Kerasa banget jadi ga produktif, hidupnya diisi buat nonton drama Korea, drama Jepang, sampai drama Tiongkok hingga jalan-jalan sama temen. Ga ada sesuatu yang menurut saya menghasilkan dari beberapa bulan ini. Saya jadi membuktikan kata-kata seorang guru di kelas Teacher Training Waldorf Early Childhood bahwa sejatinya badan dan jiwa kita menyukai keteraturan dan ritme.

Ritme hidup bisa membuat keseimbangan dalam tubuh dan jiwa. Untuk anak-anak ritme sebenernya membantu untuk mereka lebih tenang, nyaman dan aman karena mereka bisa memprediksi apa yang terjadi dalam hidup lewat ritme hariannya. Selain itu, anak-anak yang udah terbiasa dengan ritme hidupnya jadi bisa eksplorasi lebih di hal yang lain seperti mainannya ataupun mengembangkan imajinasi yang mereka punya. Untuk orang dewasa, saya merasa jadi lebih produktif dan badan menjadi lebih fresh. Makanya kalau lagi ga enak badan atau sakit, saya biasanya jadi lebih memperbaiki ritme hidup kayak makan tiga kali sehari di waktu yang tepat ataupun tidur yang cukup.

Saat awal-awal belajar dan sadar akan ritme hidup, saya suka salah mengartikannya dengan jadwal harian. Padahal sifatnya beda banget. Ritme hidup ga harus melulu soal jadwal kayak bangun harus jam berapa, makan jam berapa, dan seterusnya. Tapi ritme itu lebih ke pembagian kegiatan mulai dari kegiatan yang butuh penyaluran energi atau yang fokus dengan diri sendiri. Kalau dalam pendidikan Waldorf biasanya dikenal dengan kegiatan-kegiatan “breathing in” dan “breathing out”. Contoh paling gampang untuk kegiatan “breathing out” adalah ketika anak bebas bermain, berlari, masak bareng, serta jalan-jalan. Sedangkan contoh untuk kegiatan “breathing in” seperti membaca, beberes rumah, ataupun kerja. Ritme hidup juga biasanya lebih fleksibel daripada jadwal harian, karena kita bisa mengganti beberapa kegiatannya selama tetap dalam mengalir bergantian antara kegiatan “breathing in” dan “breathing out”.

Saya merasakan ketika mulai membenahi ritme hidup, saya mulai membangun kembali keteraturan di dalam hidup saya. Bulan Ramadhan kemaren beneran saat yang tepat buat saya berbenah, sesimpel ngebenerin pola tidur yang sering begadang jadi kembali teratur tidur sebelum jam 11 malem karena mau bangun sahur. Berusaha menyicil setiap kerjaan yang ada. Bulan Ramadhan memang udah berakhir, tapi saya masih terus berbenah dengan ritme hidup agar bisa lebih produktif dan lebih sehat lagi.

Sumber bacaan soal Ritme diambil dari:
Rhythm Waldorf Style
Learning through rhythm
Rhythm the pulse of life
Daily rhythm at home

Berkesadaran

Masa lalu sudah berlalu, masa depan belum terjadi. Lalu mengapa cemas? Mengapa takut? Yang benar-benar kita miliki adalah saat ini, jadi sadarlah!! Panggil kembali pikiran-pikiran yang untuk pulang, ke saat ini. Sehingga badan dan pikiran ada di sini.

Menjadi sadar, menjadi mindful, bukan berari menjadi optimis maupun berpikiran positif. Tetapi menjadi sadar, berarti lebih aware dengan sekitar. Mengambil sedikit jarak, melihat sekitar, serta memberi ruang untuk pikiran dan hati berdialog. Sehingga apa yang kita lakukan bukanlah sesuatu yang reaktif dan impulsif, tetapi merespon dengan kesadaran penuh.

Menjadi sadar berarti tahu kalau sedang tidak sadar. Tidak berarti harus memaksa memikirkan saat ini. Tetapi kembali menyadari apa yang sedang dipikirkan. Tidak berusaha mengubah pikiran yang sedang pusing. Tetapi menyadari kepusingan yang ada dipikiran.

Menjadi sadar berarti mengakui apa yang sedang terjadi. Merangkul rasa. Baik bahagia, sedih, positif, negatif, serta sakit yang sedang dirasakan. Mencoba untuk menerima dan mengasihi.

Sebenarnya ketika kita sedih, marah, senang, kesal, kepada siapa semua itu tertuju? Orang lainkah? Atau diri sendiri? Emosi adalah masalah diri sendiri. Ketika terluka, saya lah yang bisa menyembuhkan luka batin yang ada dengan belajar menerimanya, merangkulnya.

Hidup itu jangan dibawa serius dan rumit. Toh hidup itu bukanlah suatu perlombaan. Ga ada yang menang dan kalah. Hidup itu ga ada yang abadi. Kesenangan akan berlalu, begitu pula dengan kesedihan.

Jadi tenanglah….
sadari saya masih bernafas…
menarik nafas dan keluarkan pelan-pelan…
terima…kasih….

*Terima kasih Mas Adjie Silarus untuk sesi ngobrol sejenak soal mindfulnes 🙂
**Ditulis pertama kali di tumblr

Selamatkan Lagu Anak

Saya baru saja tahu kalau artis-artis cilik sejak bulan puasa kemarin menggodok sebuah lagu untuk anak-anak. Awalnya terdapat mereka berkumpul dikarenakan resah dengan adanya anak kecil yang menyanyikan lagu orang dewasa dengan bahasa yang tidak sesuai untuk anak-anak dan kasar. Itu loh lagu “lelaki kardus”. Artis cilik yang terdiri dari Joshua Suherman, Chikita Meidi, Leony, Dea Ananda, Amanda, Tasya, Tina Toon, Natasha, serta Fathya awalnya membahas mengenai hal ini saat bulan puasa. Mulailah tagar #SaveLaguAnak beredar. Hingga akhirnya rencana untuk membuat lagu pun digodok. Ternyata banyak banget yang mau ikut membantu gerakan #SaveLaguAnak ini. Bahkan Papa T. Bob, Enno Lerian, Puput Melati, dan bahkan ada Kak Nunuk serta Indra Bekti ikut andil dalam video klip mereka!!

Para artis cilik ini pun ga dibayar loh untuk membat project ini. Beneran karena mereka pengen anak-anak kembali punya lagu sendiri. Saya sampai niat banget nontonin Vlog-nya Joshua untuk tahu soal #SaveLaguAnak.

Sebagai orang yang sering ngedatengin SD Negeri dan bengong karena anak SD bahkan sudah tahu lagu dangdut, Noah, ataupun lagu-lagu Kpop, saya beneran sedih mengingat lagu daerah ataupun lagu nasional mereka ga hafal 😦 . Padahal dengan usia mereka yang ada di dalam tahap konkrit operasional, mereka kadang masih belum betul-betul paham dengan kata-kata yang mereka dengar dan baca, jadi beneran suka ngomong aja sesuai dengan keadaan yang mereka lihat.

Sebagai bagian dari lingkungan anak, yang bisa dilakukan secara maksimal adalah membantu anak-anak dengan mengontrol tontonan mereka. Saat ini, banyak orang tua yang akhirnya memilih menyanyikan lagu anak-anak Bahasa Inggris ataupun mencari kembali lagu anak zaman dulu. Beneran susah bangetkan nyari lagu anak berbahasa Indonesia?! Selain itu masih banyak orang tua di luar yang kurang paham dengan tahap perkembangan anak dan bahayanya memberikan mereka lagu-lagu dengan bahasa orang dewasa. Makanya saya seneng banget dengan project ini.

Semoga selain lagu “Selamatkan lagu anak” akan ada lagu-lagu lain yang menyusul. Jadi anak-anak punya pilihan mendengarkan lagu berbahasa Indonesia yang sesuai dengan tahap kembang mereka.

Berada di Sini, Jiwa dan Raga

Yesterday is history, tomorrow is mystery, but today is a give, that is why it called the present.

Kapankah terakhir kali kita sadar dengan nafas yang dihirup dan dihembuskan? Saya pertama kali menyadarinya ketika melakukan Yoga. Kemudian, Tuhan menuntun saya untuk bertemu dengan banyak kejadian dan orang untuk mengingatkan saya mengenai berserah diri, sabar, dan ikhlas. Hingga akhirnya saya dipertemukan dengan variabel penelitian thesis saat ini, mindfulness.

Mindfulness memiliki pengertian sebagai kesadaran yang muncul dengan memperhatikan tujuan saat ini dan tidak menilai dengan terungkapnya pengalaman demi pengalaman (Kabat-Zinn,2003). Sederhananya, midnfulness adalah berada di sini, jiwa dan raga.

Kapan ya terakhir kali kita berdialog dengan diri sendiri? Berkomunikasi, merasa, dan berdamai dengan diri sendiri? Sesederhana menghirup nafas dan melepaskannya. Berawal dari membaca jurnal-jurnal serta buku mindfulness, bertemu dengan Adjie Silarus dan bertukar pikiran terkait mindfulness, serta pembicaraan lanjutan dengan Ko Erlang dari tulisan yang ini, saya sampai disebuah titik: berserah diri.

Akan tiba saatnya kita tidak peduli dengan apa yang telah terjadi. Tanpa disadari, semua yang terjadi ini telah ada yang Maha Mengatur. Setiap kejadian tentu sudah diperhitungkan. Lalu mengapa saya masih cemas dengan masa lalu? Padahal sudah berlalu, mengapa masih menjangkar di sana? Di sinilah saya mulai belajar untuk melepaskan, mengambiil hikmah dari semua kejadian. Untuk kembali memperhatikan saat ini. Bagaimana dengan masa depan? Mengapa harus takut dengan sesuatu yang belum pasti?

Bagaimana dengan saat ini? Sudahkah saya hadir sepenuhnya saat ini?Tanpa memikirkan apa yang terjadi di depan dan benar-benar menikmati saat ini. Mengerjakan segala sesuatu dengan sadar, bukan autopilot. Karena masa lalu telah berlalu, masa depan masih di ujung, tetapi saat ini tidak akan terulang.

Perjalanan menulis thesis ini beneran lebih untuk diri saya sendiri. Yah walaupun belum kelar, tapi saya banyak belajar dari hasil membaca dan diskusi.Semoga thesisnya segera selesai. Semoga saya dan yang pada baca tulisan ini juga bisa lebih mindfulness, berada di sini sesederhana menyadari saat kita bernafas.

Pendidikan Waldorf

Saya pernah menyinggung sedikit mengenai konsep pendidikan yang sedang saya pelajari di sini. Kali ini, saya mau mengutip tulisan Teh Kenny, orang yang mengenalkan dengan pendidikan Waldorf.

————————————————————-Tujuan dari pendidikan Waldorf adalah menghasilkan individu yang mampu, dalam diri dan dari diri mereka sendiri, memberi makna bagi kehidupan mereka.

Ini artinya sangat dalam. Coba tanya pada diri sendiri apakah sepanjang usia kita ini kita sudah mengetahui apa makna kehidupan kita? Dalam menjalankan peran kita sebagai orang tua, guru, ataupun peran yang berkaitan dengan profesi kita, nilai dan manfaat apa yang sudah kita berikan bagi diri kita sendiri dan orang lain? Ketika kita kuliah, apakah tujuan kita hanya sekedar mendapatkan nilai baik untuk bisa diterima bekerja di suatu perusahaan? Ketika sudah bekerja apakah tujuan kita hanya uang dan karir? Atau bekerja dengan label demi kepentingan anak ataupun keluarga tetapi kemudian ternyata kita hanya menyuplai kebutuhan material mereka dan lupa bahwa anak dan keluargapun butuh waktu, perhatian, kasih sayang, dan pengasuhan serta pendidikan yang tepat?

Coba tanya pada diri sendiri berapa jam dalam sehari kita punya waktu yang benar-benar didedikasikan pada anak kita? Benar-benar fokus mengobrol santai, bermain bersama anak, memasak untuk keluarga, dan kegiatan lainnya yang berfokus pada keluarga.

Seringkali terjadi, “doktrin” yang kita berikan kepada anak adalah : “Sekolah yang rajin ya, supaya nilainya bagus.” Karena tujuannya adalah supaya nilainya bagus, segala cara akan ditempuh anak asalkan nilainya bagus. Termasuk misalnya copy paste tugas dari temen, browsing bahan tugas tanpa memperhatikan sumbernya bisa dipercaya atau tidak. Yang penting adalah nilai bagus, ilmunya dikuasai atau tidak, itu masalah nanti….

Tujuan dari pendidikan Waldorf, menghasilkan individu yang mampu, dalam diri dan dari diri mereka sendiri, memberi makna bagi kehidupan mereka dapat dicapai dengan memberikan pendidikan secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada intelegensia ataupun kognitif anak saja tetapi melalui TANGAN, HATI, dan KEPALA. Apa yang dikerjakan oleh tangan, akan membangun keinginan yang kuat yang berasal dari dalam dirinya sendiri, (bukan karena orang lain) untuk mengerjakan sesuatu (WILLING).
Apa yang meresap masuk ke dalam hati, akan dirasakan oleh anak sebagai sesuatu hal yang menyenangkan (FEELING). Apa yang masuk ke dalam kepala, akan menstimulasi proses berpikir anak (THINKING).

Integrasi (bukan hal yang terpisah-pisah) dari willing, feeling, thinking melalui tangan, hati, dan kepala merupakan ciri khas dari pendidikan Waldorf dalam memberikan pendidikan yang utuh bagi anak sehingga nantinya mereka akan mampu menemukan makna dalam kehidupan mereka.

Coba tanya pada diri sendiri, berapa banyak orang dengan profesi/perkerjaan tertentu yang “terpaksa” menjalankan profesinya karena tuntutan kebutuhan? Bagaimana hasil pekerjaan mereka?

Melalui pendidikan yang terintegrasi ini, anak diharapkan akan mampu menghasilkan sendiri sebuah solusi, bukan meniru solusi yang sudah ada; mampu berpikir, bukan menghafal; melakukan inisiatif (self motivation) bukan menunggu perintah.
————————————————————-

Tulisan Teh Kenny di atas, mengingatkan saya tentang makna hidup. Sering kali saya bertemu dengan beberapa orang teman yang mereka pun terkadang tidak tahu apa yang mereka ingin lakukan dalam kehidupannya. Sekedar menjalani apa yang harus dijalani. Padahal menurut saya kehidupan ini perlu diberi makna.

Saya pun tidak ingin melihat anak-anak di sekitar saya hidup hanya sekedar menjalani hari-harinya saja, hanya memberi makan untuk pikiran tetapi bukan hatinya. Karena itulah menurut saya pendidikan Waldorf ini sesuai dengan harapan-harapan saya terhadap pendidikan untuk anak.

*Tulisan lengkap Teh Kenny di atas bisa dibaca melalui facebooknya 🙂
**Saya juga sudah meminta izin untuk mengutip tulisan Teh Kenny di atas untuk dipublish ke blog