Memperbaiki Ritme Hidup

IMG_4862

Sejujurnya ritme hidup saya sedikit kacau begitu selesai kuliah. Tidak ada lagi hari-hari di mana saya harus bangun pagi, beberes rumah, dan mulai menghidupkan pc atau laptop untuk mengerjakan tesis ataupun ketemu pembimbing di hari-hari tertentu. Di bulan-bulan awal hidup bagaikan sedang liburan, isinya leyeh-leyeh dan sesekali buka laptop ketika ada kerjaan yang mampir. Hingga bulan lalu saya mulai gelisah.

Hidup tanpa ritme yang jelas teryata memang bisa membuat kekacauan untuk diri saya. Kerasa banget jadi ga produktif, hidupnya diisi buat nonton drama Korea, drama Jepang, sampai drama Tiongkok hingga jalan-jalan sama temen. Ga ada sesuatu yang menurut saya menghasilkan dari beberapa bulan ini. Saya jadi membuktikan kata-kata seorang guru di kelas Teacher Training Waldorf Early Childhood bahwa sejatinya badan dan jiwa kita menyukai keteraturan dan ritme.

Ritme hidup bisa membuat keseimbangan dalam tubuh dan jiwa. Untuk anak-anak ritme sebenernya membantu untuk mereka lebih tenang, nyaman dan aman karena mereka bisa memprediksi apa yang terjadi dalam hidup lewat ritme hariannya. Selain itu, anak-anak yang udah terbiasa dengan ritme hidupnya jadi bisa eksplorasi lebih di hal yang lain seperti mainannya ataupun mengembangkan imajinasi yang mereka punya. Untuk orang dewasa, saya merasa jadi lebih produktif dan badan menjadi lebih fresh. Makanya kalau lagi ga enak badan atau sakit, saya biasanya jadi lebih memperbaiki ritme hidup kayak makan tiga kali sehari di waktu yang tepat ataupun tidur yang cukup.

Saat awal-awal belajar dan sadar akan ritme hidup, saya suka salah mengartikannya dengan jadwal harian. Padahal sifatnya beda banget. Ritme hidup ga harus melulu soal jadwal kayak bangun harus jam berapa, makan jam berapa, dan seterusnya. Tapi ritme itu lebih ke pembagian kegiatan mulai dari kegiatan yang butuh penyaluran energi atau yang fokus dengan diri sendiri. Kalau dalam pendidikan Waldorf biasanya dikenal dengan kegiatan-kegiatan “breathing in” dan “breathing out”. Contoh paling gampang untuk kegiatan “breathing out” adalah ketika anak bebas bermain, berlari, masak bareng, serta jalan-jalan. Sedangkan contoh untuk kegiatan “breathing in” seperti membaca, beberes rumah, ataupun kerja. Ritme hidup juga biasanya lebih fleksibel daripada jadwal harian, karena kita bisa mengganti beberapa kegiatannya selama tetap dalam mengalir bergantian antara kegiatan “breathing in” dan “breathing out”.

Saya merasakan ketika mulai membenahi ritme hidup, saya mulai membangun kembali keteraturan di dalam hidup saya. Bulan Ramadhan kemaren beneran saat yang tepat buat saya berbenah, sesimpel ngebenerin pola tidur yang sering begadang jadi kembali teratur tidur sebelum jam 11 malem karena mau bangun sahur. Berusaha menyicil setiap kerjaan yang ada. Bulan Ramadhan memang udah berakhir, tapi saya masih terus berbenah dengan ritme hidup agar bisa lebih produktif dan lebih sehat lagi.

Sumber bacaan soal Ritme diambil dari:
Rhythm Waldorf Style
Learning through rhythm
Rhythm the pulse of life
Daily rhythm at home

Advertisements

Pendidikan Waldorf

Saya pernah menyinggung sedikit mengenai konsep pendidikan yang sedang saya pelajari di sini. Kali ini, saya mau mengutip tulisan Teh Kenny, orang yang mengenalkan dengan pendidikan Waldorf.

————————————————————-Tujuan dari pendidikan Waldorf adalah menghasilkan individu yang mampu, dalam diri dan dari diri mereka sendiri, memberi makna bagi kehidupan mereka.

Ini artinya sangat dalam. Coba tanya pada diri sendiri apakah sepanjang usia kita ini kita sudah mengetahui apa makna kehidupan kita? Dalam menjalankan peran kita sebagai orang tua, guru, ataupun peran yang berkaitan dengan profesi kita, nilai dan manfaat apa yang sudah kita berikan bagi diri kita sendiri dan orang lain? Ketika kita kuliah, apakah tujuan kita hanya sekedar mendapatkan nilai baik untuk bisa diterima bekerja di suatu perusahaan? Ketika sudah bekerja apakah tujuan kita hanya uang dan karir? Atau bekerja dengan label demi kepentingan anak ataupun keluarga tetapi kemudian ternyata kita hanya menyuplai kebutuhan material mereka dan lupa bahwa anak dan keluargapun butuh waktu, perhatian, kasih sayang, dan pengasuhan serta pendidikan yang tepat?

Coba tanya pada diri sendiri berapa jam dalam sehari kita punya waktu yang benar-benar didedikasikan pada anak kita? Benar-benar fokus mengobrol santai, bermain bersama anak, memasak untuk keluarga, dan kegiatan lainnya yang berfokus pada keluarga.

Seringkali terjadi, “doktrin” yang kita berikan kepada anak adalah : “Sekolah yang rajin ya, supaya nilainya bagus.” Karena tujuannya adalah supaya nilainya bagus, segala cara akan ditempuh anak asalkan nilainya bagus. Termasuk misalnya copy paste tugas dari temen, browsing bahan tugas tanpa memperhatikan sumbernya bisa dipercaya atau tidak. Yang penting adalah nilai bagus, ilmunya dikuasai atau tidak, itu masalah nanti….

Tujuan dari pendidikan Waldorf, menghasilkan individu yang mampu, dalam diri dan dari diri mereka sendiri, memberi makna bagi kehidupan mereka dapat dicapai dengan memberikan pendidikan secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada intelegensia ataupun kognitif anak saja tetapi melalui TANGAN, HATI, dan KEPALA. Apa yang dikerjakan oleh tangan, akan membangun keinginan yang kuat yang berasal dari dalam dirinya sendiri, (bukan karena orang lain) untuk mengerjakan sesuatu (WILLING).
Apa yang meresap masuk ke dalam hati, akan dirasakan oleh anak sebagai sesuatu hal yang menyenangkan (FEELING). Apa yang masuk ke dalam kepala, akan menstimulasi proses berpikir anak (THINKING).

Integrasi (bukan hal yang terpisah-pisah) dari willing, feeling, thinking melalui tangan, hati, dan kepala merupakan ciri khas dari pendidikan Waldorf dalam memberikan pendidikan yang utuh bagi anak sehingga nantinya mereka akan mampu menemukan makna dalam kehidupan mereka.

Coba tanya pada diri sendiri, berapa banyak orang dengan profesi/perkerjaan tertentu yang “terpaksa” menjalankan profesinya karena tuntutan kebutuhan? Bagaimana hasil pekerjaan mereka?

Melalui pendidikan yang terintegrasi ini, anak diharapkan akan mampu menghasilkan sendiri sebuah solusi, bukan meniru solusi yang sudah ada; mampu berpikir, bukan menghafal; melakukan inisiatif (self motivation) bukan menunggu perintah.
————————————————————-

Tulisan Teh Kenny di atas, mengingatkan saya tentang makna hidup. Sering kali saya bertemu dengan beberapa orang teman yang mereka pun terkadang tidak tahu apa yang mereka ingin lakukan dalam kehidupannya. Sekedar menjalani apa yang harus dijalani. Padahal menurut saya kehidupan ini perlu diberi makna.

Saya pun tidak ingin melihat anak-anak di sekitar saya hidup hanya sekedar menjalani hari-harinya saja, hanya memberi makan untuk pikiran tetapi bukan hatinya. Karena itulah menurut saya pendidikan Waldorf ini sesuai dengan harapan-harapan saya terhadap pendidikan untuk anak.

*Tulisan lengkap Teh Kenny di atas bisa dibaca melalui facebooknya 🙂
**Saya juga sudah meminta izin untuk mengutip tulisan Teh Kenny di atas untuk dipublish ke blog

Pelajaran Budi Pekerti

Tahu ga sekarang itu tidak ada pelajaran khusus budi pekerti di sekolah? Saya kaget luar biasa mengetahui hal ini. Terus apa yang dipelajari selama PKn atau Pendidikan Kewarganegaraan? (soalnya zaman saya sekolah pendidikan budi pekerti termasuk di pelajaran ini) Mereka lebih banyak belajar tentang organisasi di dalam negara. Dari manakah anak-anak mendapatkan pelajaran budi pekertinya? Porsi terbesarnya adalah dari mata pelajaran agama.

Saya baru menyadari belakangan betapa pentingnya pelajaran budi pekerti yang biasa ada di mata pelajaran PMP atau PPKn (yang sesuai kurikulum, namanya sering berubah 😐 ). Saat sekolah dulu saya tidak mengerti mengapa kita harus belajar soal perbuatan terpuji dan tercela. Terlebih saat ulangan, kebanyakan orang saya lebih banyak mencari jawaban terpanjang dan terbagus. Tetapi berkat mata pelajaran itu, saya jadi tahu mana yang baik dan benar. Minimal saya tahu kenapa ga boleh mencuri atau mengejek teman.

Bukan berarti saya tidak setuju kalau budi pekerti dimasukkan ke pelajaran agama. Tetapi apakah setiap kita belajar agama akan mempelajari budi pekerti? Seingat saya dulu, ketika belajar agama yang dipelajari adalah soal sejarah, budi pekerti, hingga hapalan ayat. Jadi nilai-nilai budi pekerti itu tidak dipelajari setiap minggunya. Inilah yang menurut saya kurang maksimal.

Saya tahu bahwa penerapan budi pekerti ini sifatnya fleksibel, bisa diterapkan di setiap mata pelajaran. Tetapi bagaimana dengan penerapannya di sekolah? Lagi-lagi kebanyakan sekolah hanya mementingkan aspek kognisi. Padahal kalau merunut kepada pendidikan yang disampaikan Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran (intelek), dan jasmani anak-anak.

Membuat anak menjadi pintar secara kognisi jauh lebih mudah daripada membuat anak pintar secara budi pekerti. Sedih rasanya melihat anak yang terkadang berani melawan orang tua dan guru, bersikap kasar ke orang lain, suka terlambat, ataupun mencontek. Apalagi kalau melihat banyaknya tayangan yang mengandung kekerasan baik secara fisik maupun perkataan dan ditonton tanpa bimbingan dari orang tua, anak menjadi lebih mudah untuk mencontoh perbuatan-perbuatan tersebut. Dulu kalau salah, saya ga berani sama sekali menatap mata mama atau papa. Padahal belum dimarahin loh itu. Baru ditanya “kok pulangnya telat?”. Buat ngebela diri aja udah tidak sanggup. Coba kalau melihat kejadian saat ini, kebanyakan anak-anak akan berani menjawab tanpa merasa bersalah.

Memang tidak semua anak memiliki budi pekerti yang seperti di atas. Ini adalah kasus-kasus yang sering saya temui di sekolah. Saya juga suka menemukan anak-anak yang memiliki rasa empati dan kasih sayang yang besar, memiliki tata krama yang baik, dan sopan. Bahagia sekali melihat mereka tumbuh tidak hanya terpatok masalah kognisi saja, tetapi juga emosi dan moralnya.

Masih banyak pr untuk dunia pendidikan di Indonesia, pr untuk semua orang baik sekolah, guru, orang tua, atau psikolog sekolah. Seperti yang disampaikan Bapak Anis Baswedan, mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik.

mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik
-Anis Baswedan

Selamat hari pendidikan nasional!