Berbagi Ide di Niyata

Niyata berasal dari Bahasa Sansekerta yang merupakan asal dari kata “nyata”. Kalau lihat dari webnya, TEDx ke-12 yang diadakan di Jakarta memiliki tema tentang merayakan keteraturan, bahkan alam pun bekerja dengan polanya sendiri dan diendapkan dalam jumlah kecil namun bermakna. Tema mengenai hal tersebut tertuang dalam ide yang disampaikan kedelapan pembicara yang hadir dalam TEDx Jakarta serta dua video dari TED Talk.

Kesepuluh orang ini menginspirasi dan membagikan ide yang secara nyata telah dilakukan dalam hidupnya masing-masing. Sebut saja ada Mbak Firly Savitri dengan Ilmuwan Muda Indonesia yang memiliki kegelisahan karena banyak adik-adik di sekolah yang belajar science hanya melalui buku pelajaran. Padahal science itu perlu dirasakan oleh anak-anak melalui percobaan di laboratorium. Sayangnya ga semua sekolah memiliki laboratorium yang mumpuni sehingga laboratorium portabel adalah jawaban untuk kegelisahannya. Dengan hal ini, bahkan anak-anak dan guru di pelosok negeri dapat melakukan percobaan science dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Duh rasanya pengen bawain laboratorium protabel untuk adik-adik di SDN Pangeureunan 5!! *ternyata belum move on*.

IMG_7440

Kejutan datang dari Faye Simanjuntak yang merupakan co-founder Rumah Faye yang merupakan organisasi non profit perlindungan anak di Indonesia khususnya mengenai isu perdagangan anak serta pelecehan terhadap anak. Saya terkejut karena ide ini datang dari anak berusia 15 tahun!! Such a young age!! Kayaknya waktu seumur Faye saya masih sibuk sama kehidupan sendiri dan dia udah mikirin nasib anak-anak seumurnya. Beneran salut sama orangtuanya yang membesarkan anak penuh empati kayak gini.

IMG_7443

Selain itu ada Ibu Adi Utarini dengan penelitiannya terhadap nyamuk demam berdarah serta Ibu Mirza Kusrini dengan penelitian terkait kodok. mungkin penelitian mereka terlihat nyeleneh dan aneh, tapi percaya deh bahwa pada dasarnya hal kecil pun dapat bermakna besar untuk kehidupan kita. Ibu Adi Utarini memilih “beternak” nyamuk demam berdarah untuk menyebarkan bakteri baik “Wolbachia” untuk menangkal penyakit demam berdarah. Sedangkan Ibu Mirza meneliti kodok demi keberlangsungan kehidupan ekosistem alam.

IMG_7466

Saya pun belajar dari Mbak Intan Suci terkait ramalan iklim beberapa tahun ke depan dengan melihat sejarah iklim di dunia melalui karang laut. Saya baru tahu bahwa karang laut memiliki arsip alam yang mirip dengan lingkaran tahun pada pohon. Bahkan sampel karang ini sampai dibawa ke mesin MRI untuk diteliti!!

IMG_7465

Selain itu masih ada Mbak Anindya Krisna yang sengaja pulang ke Indonesia untuk mengajar anak mudanya berlatih dan menjadikan balet sebagai pekerjaan. Ada Bunda Iffet yang merupakan manager Slank berbagi cerita mengenai perjalanannya dalam mengkawal karir Slank, khususnya di masa-masa sulit. Las but not least ada Mbak Dian Ara seorang designer game dengan lika-liku hidupnya.

IMG_7449

Dua video dari TED Talk pun menjadi penghibur dan memberikan sudut pandang yang berbeda dari suatu hal. Seperti Kate Adams yang bakal ngajak kita berpikir mengenai makna dibalik sinetron maupun James Veitch yang ngebalesin email spam.

They are so inspiring!! Saya merasa bahwa telah mengambil keputusan yang tepat untuk datang ke TEDx Jakarta. Diawal saya sempat maju mundur untuk dateng ke acara ini karena sebenernya saya diajakin untuk daftar sama seorang temen, tapiii saat hari pengumuman penontonnya yang diterima hanya saya. Saat di Gedung Kesenian Jakarta pun ternyata banyak yang senasib. I am not alone 😆 . Apalagi di awal acara kita bisa maen bingo dengan mencari orang-orang yang memiliki kriteria di kertas bingo. So we start to make new friends and talking to each other. Kalau ga kayak gini, saya ga mungkin ketemu orang yang bisa lancar nyebut huruf alfabet dari belakang, orang yang takut sama kupu-kupu, orang yang ga punya twitter atau facebook, atau orang yang sedang berusaha mengajukan paten buat penelitiannya. Terima kasih semua untuk obrolan singkatnya.

IMG_7584

Semoga saya bisa kembali hadir di TEDx selanjutnya. Sebagaimana semangat TEDx “The Ideas Worth Spreading”, cerita-cerita di TEDx kali ini benar-benar ide yang berharga untuk diresapi. Buat yang mau lihat videodari TEDx Jakarta 12 kemarin, bisa lihat di link ini.

Bakpia khas Yogya

Kota Yogyakarta menyimpan banyak banget makanan enak nan murah. Sebut saja oseng mercon, gudeg, bakmi Jawa, bakso, kopi jos, sate klatak, jejamuran, tiwul, hingga makanan khas angkringan. Duh saya jadi laper banget ngebayangin makanan-makanan enak di Jogya!!

Selain makanan yang bisa disantap di kotanya, Yogya juga punya segudang oleh-oleh berupa makanan atau minuman seperti secang, yangko, geplak, coklat monggo, gudek, hingga bakpia. Sebenernya kalau dilihat-lihat sekarang tuh lagi ngetren banget oleh-oleh berupa pia dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja pia Legong yang terkenal dari Bali. Tapi, kalau ngomongin pia tradisional, saya selalu inget dengan bakpia Jogja.

keyogyakarta-Lezatnya Sejarah Bakpia Pathok

Bakpia – gambar diambil dari sini

Kalau lihat sejarahnya, bakpia ini sebenernya berasal dari Tiongkok loh!! Asal katanya dari “Tou Luk Pia” yang artinya adalah kue pia (kue) kacang hijau. Makanya yang dinamakan bakpia adalah kue yang berisi kacang hijau yang telah ditumbuk dan dicampur gula serta dibalut sama tepung terigu. Kalau lihat dari asal katanya, jadi berbeda dengan pia di luar Yogya, pia di luar lebih crispy dan crunchy dibandingkan bakpia Jogja. Varian rasanya pun berbeda dengan bakpia ya. Yah walaupun sekarang varian bakpianya udah banyak banget!! Mulai dari keju, kumbu hitam, hingga cokelat.

Saat mencari tahu soal bakpia ini, saya terpikir bahwa kalau udah berbeda varian bakpianya, ga bisa disebut bakpia juga yah? Kan arti katanya sendiri ada unsur kacang hijaunya. But it just my thinking 😀 . Saya sendiri kalau ke Yogya suka beli bakpia kacang hijau dan kumbu hitam kok :p .

Resep asli bakpia sendiri sebenernya berasal dari keluarga Kwik Sun Kwok. Kwik lalu menyewa tanah milik warga setempat yang bernama Niti Gurnito di di Kampung Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta. Ia pun memodifikasi resep bakpianya. Nah untuk memanggang bakpianya, Kwik selalu membeli arang kepada temannya, Liem Bok Sing. Kenapa saya sebutkan nama-nama orang di sini? Karena pada akhirnya Niti Gurnito pun mulai membuat bakpia tapi dengan ciri khas yang berbeda dengan buatan Kwik. Begitu juga dengan Liem Bok Sing. Liem juga membuat resep bakpia yang sudah dimodifikasi dan ia pun pindah ke kampung Pathok. Nah dari sinilah bakpia jalan Pathok bermula.

Jalan Pathok sendiri sebenernya dekat dengan Malioboro. Kalau main ke sana, kita bisa memilih mau bakpia pathok yang nomer berapa. Saya ga tahu kebenarannya, tapi denger-denger tiap nomer di bakpia pathok sebenernya adalah nomer rumah produksinya loh. Tapi sekarang, bakpia ga cuma diproduksi di Pathok, tapi juga di berbagai sudut kota Yogya. Kalau mau tahu soal bakpia yang enak di Yogya, bisa cek ke sini deh. Duh saya jadi beneran kangen nih pengen main ke Yogya dan beli bakpia!!

Source dan bahan bacaan:
Wiki, Gudeg net, klikhotel

Bertemu Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh dan Jean Marais

“Ra…tinggal di bawah sama paling atas nih, mau ambil tiket yang mana?!”

Seorang sahabat memberitahu lewat whats app. Padahal penjualan tiket Bunga Penutup Abad baru dibuka beberapa jam saja. Saya pun memilih duduk di kursi bagian depan. Lebih baik dari pada melihat dari kejauhan. Siapa yang menyangka bahwa tiket pertunjukan teater berjudul Bunga Penutup Abad akan cepat habis. Saya pikir tidak banyak yang membaca Tetralogi Pulau Buru, ternyata dugaan saya meleset. Ah atau mungkin ingin melihat bagaimana Reza Rahardian, Chelsea Islan, Happy Salma, serta Lukman Sardi bermain peran di sini. Apapun alasannya, yang pasti tiket habis terjual. Beberapa teman saya pun gagal menonton karena kehabisan tiket.

IMG_3907

Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit (Anak Semua Bangsa)

Bunga Penutup Abad merupakan pertunjukan teater dari Titimangsa Foundation yang sebelumnya pernah menggelar pertunjukkan bertajuk Nyai Ontosoroh. Pertunjukan ini merupakan adaptasi dari dua novel awal tetralogi Pulau Buru yang berjudul Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer. Saya pertama kali berkenalan dengan novel Bumi Manusia tahun 2012, ketika tugas kuliah belum menumpuk.

Saya deg-degan banget mau nontonnya. Ga kebayang akan seperti apa gaya penceritaannya nanti atau adegan-adegan mana yang akan diambil dari novelnya. Saya juga berusaha untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi agar bisa menonton dengan nyaman.

Akhirnya jam 20.00 tepat, layar pun dibuka dengan Minke yang membacakan surat Dari Panji Darman, utusan Nyai Ontosoroh yang mengikuti Annelis menuju Belanda. Dari surat-surat itulah, Minke dan Nyai Ontosoroh bergantian mengenang potongan-potongan kisah  mulai dari pertemuan ketiganya, bagaimana ayah Annelis mati, kedatangan anak tirinya, hingga akhirnya pengadilan putih Hindia Belanda yang memutuskan hak asuh Annelis dari Nyai Ontosoroh dan diharuskan pergi ke Nederland.

Di beberapa adegan, Minke yang merupakan pelajar HBS dan mengagung-agungkan Eropa diperlihatkan betapa bangsa Eropa tidak selalu benar. Minke yang menulis menggunakan Bahasa Belanda, akhirnya mengikuti saran Jean Marais yang merupakan sahabatnya untuk menulis dalam Bahasa Melayu serta lebih mengenal bangsanya sendiri.

Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu (Anak Semua Bangsa)

Saya hanya bisa terhanyut saat menonton adegan tiap adegan. Penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak berbeda dengan novelnya membuat pertunjukan ini kaya akan rasa bahasa. Alunan musik penghantar yang dimainkan secara langsung dari belakang kamar Annelies di Buitenzorg menguatkan tiap adegannya.

IMG_3930

Senang rasanya melihat setiap adegan-adegan penting di dalam buku tertuang dalam bentuk akting prima dari tiap pemerannya. Saya awalnya sempat sangsi dengan Reza Rahardian yang memerankan Minke. Rada kurang Jawa dan terlalu tinggi untuk memerankan Minke. Tapi bukankah dalam seni teater semua pelakon harus bisa menjadi orang yang berbeda dengan dirinya? Begitu melihat akting Reza Rahardian, Chelsea Islan, Happy Salma dan Lukman Sardi, keraguan saya langsung hilang.

Reza Rahardian membuktikan kualitasnya sebagai aktor. Ia dapat berperan sebagai Minke yang malu ketika bertemu Annelis dan Nyai untuk pertama kali, getir saat membacakan surat-surat dari Panji Darman, hingga kesedihan saat Annelies pergi.

Happy Salma tampil maksimal menjadi Nyai Ontosoroh yang kuat,  berusaha mempertahankan idealismenya, berusaha tegar menghadapi semua kejadian, serta kesedihan saat Annelies pergi.

Chelsea Islan pun bermain dengan baik. Apalagi saat adegan yang mengharuskannya akting seperti mayat hidup karena menerima berita harus ke Nederland. Saya sampai merinding!!

Saya paling kagum dengan akting Lukman Sardi sebagai Jean Marais. Walaupun porsi adegannya ga banyak, tapi ia bisa mencuri perhatian penonton. Ia bisa menggunakan aksen yang menandakan orang asing serta mempertahankan keseimbangannya sepanjang pertunjukan. Salut banget sama aktor senior ini.

IMG_3937

Agak burem, yang moto pun deg-degan sama kayak yang difoto

Akhirnya saya benar-benar merasa puas dan bahagia dengan pertunjukannya. Semoga pertunjukan-pertunjukan serupa bisa sering diadakan di Bandung.

Kekuatan yang kita miliki mungkinlah tidak sebanding dengan ketidakadilan yang ada, tapi satu hal yang pasti: Tuhan tahu bahwa kita telah berusaha melawannya (Anak Semua Bangsa)

Mini Seri: Sore

Saya menemukan mini seri ini secara ga sengaja di youtube. Mini seri ini bercerita tentang Jonathan yang tiba-tiba kedatangan seorang perempuan dari masa depan mengaku sebagai istrinya. Iye..ujug-ujug!!

Menurut saya ceritanya simpel banget. Berhubung dipersembahkan oleh tropicana slim, ketebaklah ya ujung-ujungnya ngomongin soal hidup sehat. Tapi..sepanjang tujuh episode ini, saya ga menemukan ada produk tropicana slim yang saya lihat. Kan biasanya tipikal sinetron atau film Indonesia suka banget ngezoom produk sponsor, tapi ini engga!! Saya ngerasa penekanannya lebih ke menciptakan hidup sehat.

Awalnya saya ga niat banget nonton Sore. Tapi begitu denger lagu Adhitya Sofyan yang Forget Jakarta, jadi keterusan nonton dong!! Receh bener!! Dikasi soundtrack bagus, langsung mau nonton satu episode yang berlanjut sampai episode 7. Selain itu juga ada Gaze dari Adhitya Sofyan dan Kunto Aji yang nyanyi lagu berjudul I’ll Find You. Adem banget ngedengernya!!

Walaupun mini seri, tapi niat banget dibikinnya! Ceritanya ga drama, pengambilan gambarnya cakep, dan pemilihan lagunya bagus-bagus. Saya jadi penasaran sama episode terakhirnya minggu depan.

Carangan Ala Nasirun

img_9522

Dalam pewayangan dikenal sebuah lakon yang dinamai Carangan.

Carangan berasal dari kata dasar Cang yang dalam bahasa Jawa berarti miring, menyerong, atau menonjol, kemudian menjadi carang, dengan merujuk pada cabang-cabang kecil yang bertunas pada pepohonan. Ketika berbicara mengenai lakon Carangan berarti cerita yang tumbuh dan berkembang dari pakem yang ada.

Pada pameran Carangan Pak Nasirun di Nu Art Sculpture Park, fokusnya adalah menanggapi dari karya-karya Pak Nyoman Nu Arta yang berada di dalam galerinya. Selain itu, Iapun meletakkan berbagai karya seni yang dimilikinya dalam pojok-pojok dan ruangan yang ada di galeri. Dalam pameran ini, Pak Nasirun tidak hanya mencarang karya Pak Nyoman, tapi juga berbagai elemen yang ia temui.

Pada bagian pintu masuk, Pak Nasirun meletakkan sebuah karya  iring-iringan sebagai bentuk prosesi mengantarkan Dalang Slamet Gundono yang meninggal sebelum sempat melihat wayang Burung pesanannya kepada Nasirun. Iring-iringan ini terdiri dari wayang-wayang burung pesanan, kuda-kudaan kayu yang sudah dilukis ulang, serta perahu naga kayu dengan berbagai wayang-wayang ukuran kecil. Indah banget. Saya betah sekali melihat detail lukisan serta berbagai wayang-wayang ukuran kecil ini. Bahkan saya kaget sendiri saat melihat ada wayang berbentuk naga yang merupakan hewan di shio lahir saya.

129apple_img_9432

Pak Nasirun sedang menjelaskan karyanya

Di lantai dua, terdapat karya-karya lain dari Pak Nasirun. Terdapat sebuah gambar mengenai kemerdekaan dan juga berbagai kacamata yang dilukis oleh Nasirun. Saat datang ke sana, saya beruntung karena sedang ada Pak Nasirun yang menjelaskan karya-karyanya. Selain itu kita juga bisa melihat berbagai jenis wayang besar yang dibuat oleh Pak Nasirun.

img_2282

img_2283

img_2285

img_2286

Dalam ruangan ini kita juga bisa melihat seri stempel. Dalam seri stempel ini, Pak Nasirun memasang stempel dalam papan kayu dan merespon pola asli distempel dengan ukiran dan warna dalam pola ragam ornamen hias. Saya rasanya bisa satu jam untuk melihat detial setiap stempel yang ada.

129apple_img_9436

129apple_img_9496

129apple_img_9507

129apple_img_9508

Selain itu Pak Nasirun pun membuat seri figur tunggal di mana ia melukis dalam medium cat minyak di atas kanvas. Pada seri ini Pak Nasirun mencoba mencarang ikon-ikon simbolik yang berasal dari mitologi maupun religi. Ia juga memodifikasi figur-figur ikonik dari elemen serta gambar keseharian.

129apple_img_9504

129apple_img_9505

Di dalam galeri yang menyimpan sebagian besar karya Pak Nyoman Nu Arta, Pak Nasirun mencoba untuk mencarang patung-patung karya Pak Nyoman. Ia menghadirkannya dalam kanvas-kanvas yang diletakkan disekitar patung. Membuat saya dapat melihat dari perspektif dan persepsi yang berbeda-beda. Misalnya saja pada karya Pak Nyoman berbentuk Candi Borobudur, Pak Nasirun bisa membuat tiga lukisan dengan perspektif yang berbeda-beda.

Menurut Kurator Jim Supangkat, Proses Pak nasirun dalam berkarya ini membuatnya belajar memahami hakikat kemanusiaan dalam pencarian para seniman, yang pada setiap zaman terus mencoba memaknai, menafsir, dan menuliskan pengalamannya, sebagai kelanjutan pertumbuhan. Carangan dalam penelitian Marshal Clark merupakan proses pemikiran ulang, tidak menyangkal yang sudah ada, akan tetapi merupakan bentuk perpanjangan imajinatif terhadap karya asli. Disinilah Pak Nasirun menemukan tempat bagi dirinya dan kisahnya.

Saya sampai menghabiskan dua jam untuk melihat karya-karya yang ada. Itu pun belum sepenuhnya puas, karena karya-karya Pak Nasirun dalam ruang seni Pak Nyoman belum saya perhatikan detail satu persatu. Ingin rasanya kembali dan melihat carangan hasil karya Pak Nasirun.

Kumpul di Bellamie Boulangerie

Sebelum akhir tahun, saya dan teman-teman tidak memiliki rencana untuk berkumpul dan memilih untuk berkumpul di awal tahun saja. Saya pun berpikir untuk berdiam di rumah dan mengobrol dengan orangtua.

img_0637

Bellamie Boulangerie

Di awal tahun, saya dan beberapa teman yang dulu pernah ke Garut dan Bromo bareng memutuskan untuk bertemu dan makan siang di Bellamie Boulangerie. Tempatnya berada di Jl. Cihapit dan berada di atas Kambing Bakar Kairo. Di sini tempatnya terbagi dua, ada smoking dan non smoking. Tadinya sih saya mau milih di non smoking mengingat ada dua ibu hamil di sini, sayangnya non smoking room ini kecil, jadi cepet banget penuhnya.Untungnya smoking roomnya berupa joglo besar, tinggi, dan banyak area bukaan, jadi tidak bikin gerah dan bebas dari kepungan asap. Saya dan teman-teman pun memilih duduk di sofa demi kenyamanan ibu hamil. Duh seneng banget lihat temen-temen ini udah hamil!! Bentar lagi nambah ponakan buat digendong dan diajak main.

Untuk menunya, di sini terkenal dengan menu croissant dan sandwichnya. Tapi kalau merasa ga kenyang, juga ada menu pasta, steak, dan nasi sih. Berhubung Bellamie buka dari pagi, mereka juga menyediakan menu sarapan di sini. Pada lantai bawahnya, kita juga bis abeli roti dan kue untuk dibawa pulang!! Duh rasanya pengen dibeli semua roti dan kuenya!! Untuk minumannya ada berbagai jenis kopi, cokelat, dan jus sehat. Tapi saya lihat gelas jusnya kecil, jadi kurang puas gitu minumnya 😦 .

Sambil menantikan temen-temen yang lain, saya yang udah kelaparan memilih pesan crispy mushroom.

img_0639

crispy mushroom

Jamurnya endut-endut dan digoreng kering, tapi jamurnya tetep lembut!! Saus cocolannya sendiri ada dua jenis, saus tomat dan barbeque. Saya sih lebih senang saus barbequenya. Enak dan renyah!!

Menu andalan croissantnya adalah beef and mushroom carbonara sandwich. Tapi saya lihat dimenunya nampak enek gitu. Maklum saya ga terlalu suka keju dan saus krim, jadi saya lebih memilih beef  stroganoff sandwich.

img_0641

 Croissantnya memang juara!! Renyah dibagian luar dan lembut dibagian dalamnya. Menu ini datang ditemani kentang goreng besar besar dan selada. Rasanya enak banget!! Potongan dagingnya lembut dan sausnya juga ga terlalu gurih.

Saya pun memesan teh leci sebagai pendamping kedua makanan ini. Gelas tehnya besar dengan dua leci di dalamnya. Rasa lecinya juga tidak terlalu manis. Sesuai dengan kesukaan saya.

img_0644

Saya dan teman-teman puas banget makan dan ngobrol di sini. Memang beda ya kalau ngobrolnya sama yang udah pada nikah dan bersiap punya anak. Udah ga ngobrol galau kayak dulu lagi karena masih banyak hal penting lain yang perlu dipikirin *kayak biaya persalinan dan mau ngelahirin di mana* 😆 . Permasalahan hidup emang masih banyak, tapi kita yang milih untuk lebih fokus menyelesaikan permasalahan yang mana.

Semarang Contemporary Art Gallery

img_2678

Pintu masuk

Bulan Juni lalu saya mengunjungi Semarang untuk urusan pekerjaan. Saya dan tiga orang lainnya sengaja pergi dua hari sebelumnya karena hanya ada kereta malam menuju Semarang. Seorang sudah memiliki rencana sendiri. Jadi tinggallah saya dan dua orang lainnya bingung mau maen ke mana. Apalagi bulan Juni itu adalah bulan puasa, ga mungkin banget buat jajan dan ngemil 😀 .

Akhirnya, saya mengusulkan untuk melihat Galeri Semarang. Awalnya mereka berdua bengong dengan saran saya. Ternyata mereka ga pernah pergi ke galeri 😆 . Udah pesimis pada ga mau ikutan dan mikir saya bakal pergi sendiri sekalian mengelilingi kawasan Kota Tua Semarang. Eh ternyata pada mau ikut, ya uwis mari kita ke Galeri Semarang Contemporary Art!!

Kita sampai di sana jam 10 lebih. Eh kok seperti belum buka yah? Gedungnya beneran pakai gedung lama dan ga kelihatan kalau dijadiin galeri. Akhirnya kita nongkrong dulu di taman Srigunting sambil ngeliat Gereja Blenduk. Begitu jam 11-an seorang dari kami, mas B sengaja nelpon untuk memastikan kalau galerinya udah buka. Ternyata oh ternyata, si galeri udah buka dari jam 9 tapi.. yang kita kira pintu masuk itu bukanlah pintu masuknya!! *tepok jidat*

img_2679

Saat ke sana, sedang ada pameran Semarang Punya Cerita #2 yang merupakan pameran foto tentang kegiatan di Semarang. Melihat-lihat fotonya, duh berasa banget kalau Semarang ini punya banyak kebudayaan yang beragam. Mulai dari perayaan imlek, lebaran, sampai pagelaran budaya. Semua foto bisa dilihat di lantai satu dan dua.

Disamping itu, juga ada beberapa karya yang ditampilkan. Awalnya saya hanya melihat ‘oh bikin bentuk mobil”. Ternyata pas dilihat lebih dekat, mobilnya dibuat dari kamera nikon yang telah dipreteli. Antara sayang banget kameranya dijadiin mobil dan kagum karena bisa loh ya kepikiran buat kayak gini!! Selain itu, juga ada seseorang yang seperti mengambil foto dengan metode lama. Pas dilihat-lihat olala ternyata ini termasuk karya yang dipamerkan, alias orang boongan. Aku tertipu!!

img_2676

img_2643

Keliatan kayak benerankan?!

img_2653

img_2647

keretanya dibuat dari kamera!!

img_2652

img_2650

mobilnya dibuat dari kamera Nikon o_O

Saya suka sekali dengan gedung tempat Semarang Contemporary Art Gallery berada. Ruang pamernya terbuka luas dan tidak bersekat, sehingga kita bisa melihat sekeliling dengan leluasa. Bagian atasnya pun sama luasnya dengan bagian bawah. Di samping ada sebuah taman yang asyik banget buat duduk dan berkontemplasi. Di sanalah ada sebuah patung karya Budi Kustarto yang merupakan icon dari galeri ini, patung orang yang berdiri miring. Makanya saya sempet bengong saat melihat patung yang mirip di Galeri Nasional. Tetapi saya dilihat lebih dekat, ternyata yang di Galeri Nasional ga sedetail yang ada di Semarang.

img_2664

img_2675

Oia, koleksi Semarang Contemporary Art Gallery ini selalu berubah. Sehingga setiap ke sana bisa saja kita mendapat pengalaman yang berbeda.

Semarang Contemporary Art Gallery
Jl. Taman Srigunting No. 5-6 Jalan Letjen Suprapto
Tj. Mas, Semarang Utara, Semarang
Buka: Selasa – Minggu
Jam: 10.00 – 16.30
Website: www.galerisemarang.com