Mini Series: Love at First Flight

Saya selalu suka kalau nemu mini seri bagus yang ceritanya bikin hati hangat. Salah satunya saya temukan dari video iklannya Changi Airport. Lokasinya beneran cuma di bandara doang, tapi sukses bikin senyum mengembang dan menghangatkan hati. Apalagi sayakan tipenya suka banget ama drama-drama kayak gini, jadilah makin seneng begitu nemu mini seri ini.

Serinya beneran mini, cuma tiga episode. Rasanya kalau boleh pengen deh dibikin sampai lima atau enam episode gitu. Tapi ya berhubung memang dibikin untuk iklan ariportnya, jadi ceritanya pun juga ya segitu aja 😀 .

Setelah nonton ini saya kok jadi kangen mendarat dan terbang dari Changi Airport. Mungkin karena beberapa tahun belakangan ini selalu bepergian via KLIA, jadilah kangen menjejakkan kaki kembali ke Singapura.

Advertisements

Monolog Tjoet Nyak Dhien

IMG_2946

Tidak banyak pentas monolog diadakan di kota Bandung. Tidak banyak pula yang mengisahkan tokoh-tokoh perempuan Indonesia selain Kartini atau Dewi Sartika. Oleh karenanya, ketika Nu Art Sculpture Park yang berlokasi selemparan dari rumah ini mengadakan pentas monolog Tjoet Nyak Dhien, saya segera mengabarkan salah seorang sahabat untuk menonton pentas ini bersama-sama.

Monolog yang dilakukan oleh Sha Ine Febriyanti ini membuat hati saya penuh!! Perasaan-perasaan Tjoet Nyak Dhien mengenai kesedihannya yang dua kali ditinggal mati oleh Ibrahim dan Teuku Umar, dijauhkan dari anaknya, melihat desa dan kotanya porak poranda, serta pengkhianatan dari orang disekitarnya bisa disampaikan ke penonton dengan sangat baik. Saya pun sampai merinding dan tidak bisa lepas dari pertunjukan selama 45 menit ini.

Saya juga menyukai sudut-sudut perempuan yang ditampilkan oleh Mbak Ine dalam sosok Tjut Nyak Dhien baik ia sebagai pejuang yang membela tanah tempatnya berpijak, sebagai istri dengan kegelisahannya melihat suaminya pergi ke medan perang, maupun sebagai ibu dari anaknya yang mengajarkan kepada anaknya untuk tetap berjuang dalam hidup melalui dongeng yang disampaikan sebelum tidur.

IMG_2947

Tak hentinya saya berdecak kagum dengan monolog yang dibawakan Ine. Ia bisa menggunakan logat Aceh yang sangat kental. Selain itu saya menyukai pilihan-pilihan kata yang digunakan selama monolog. Beberapa ada Bahasa Melayu maupun Bahasa Indonesia lama.

Seusai pentas, Ine serta timnya sempat mengadakan diskusi mengenai pementasan Tjoet Nyak Dhien ini. Mereka bercerita mengenai alasan dibalik pemilihan tokoh perempuan dari Aceh ini, bagaimana riset yang dilakukan untuk mendalami tokoh dengan rekam jejak yang tidak sebanyak Kartini maupun Dewi Sartika, maupun mengenai tantangan yang dihadapi selama pertunjukan di beberapa kota.

Rasanya begitu selesai menonton monolog ini, saya jadi ingin lebih mengenal kembali sosok “Singa Betina dari Bumi Rencong”. Semoga akan ada lagi monolog-monolog ataupun teater yang bercerita mengenai tokoh-tokoh perempuan lainnya dari Indonesia, aamiin.

Little Cabin in The Woods

We are busy.  Every day at the same time. Every day seeing the same scene. There are a lot of things to do. There are a lot of calls to make. Even when the night comes, every time, and as expected, a lot of people.  Did you ever think you wanted to escape?

Hidup di perkotaan dengan hingar bingar dan hidup yang berlangsung serba auto pilot, dua orang artis Korea, So ji Sub dan Park Shin Hye setuju menjadi dua orang subjek eksperimen dan mencoba tinggal disebuah kabin di tengah alam Pulau Jeju. Selama tinggal di sana mereka akan hidup dengan listrik dan air terbatas serta melakukan beberapa tantangan untuk melihat apakah bisa mendapat kebahagiaan dari kegiatan tersebut.

Seberapa bahagiakah kita saat ini?

Seperti yang kita ketahui bahwa dengan segala kemudahan yang ada di perkotaan, terkadang hidup bisa menjadi sangat menantang. Dengan mudahnya berkomunikasi, batasan antara waktu bekerja dan istirahat terkadang menjadi buram. Apalagi kalau melihat banyaknya kemewahan dan komsumtif yang ada di sosial media kayaknya hidup orang-orang kok mudah dan bahagia terus sih?! Orang-orang pun menjadi lebih rentan terhadap stres dan depresi.

Little cabin in the woods ingin menghadirkan bahwa ada hal-hal kecil disekitar kita yang terkadang kita menerimanya begitu saja sampai-sampai tidak menyadari bahwa dengan adanya hal tersebut ternyata kita sudah bisa merasa cukup. Selain itu acara ini juga mengenalkan sebuah konsep hidup minimalis penuh kesadaran sehingga setiap kegiatan yang kita lakukan menjadi bermakna. Ketika kita sedang berproses, disaat itulah terkadang jawaban mengenai apakah kita bahagia bisa terjawab.

Image result for little cabin in the woods korean variety, review

Konsep hidup minimalis yang ada di acara ini seperti saat episode pertama di mana kedua subjek eksperimen diminta memilah benda-benda yang penting untuk mereka tinggal di kabin dan menyerahkan barang lainnya kepada staf. Mau tidak mau Park Shin Hye yang membawa dua koper ukuran besar dipaksa memilah barang mana yang penting untuknya. Atau di episode lain kedua subjek diminta untuk mengerjakan satu kegiatan selama satu waktu. Untuk yang terbiasa multi tasking, melakukan hal ini tuh bikin gatel banget!! Tapi sambil menonton, saya pun jadi ikut melihat detail-detail lain yang kadang-kadang luput karena kita melakukan beberapa pekerjaan sekaligus.

Saat pertama kali menonton little cabin in the woods, saya merasa sedang menonton penelitian yang ingin saya lakukan dulu ketika zaman thesis. Seperti impian yang jadi kenyataan!! Saya memang sudah beberapa tahun belakangan ini senang dengan tema mindfulness dan akhirnya diikuti oleh printilannya seperti hidup minimalis dan mengerjakan sesuatu secara bermakna. Asyiknya, beberapa eksperimen yang ada di acara ini bisa juga kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Walaupun begitu saya sadar kalau little cabin in the woods ini bukanlah reality show yang akan disukai semua orang. Little cabin in the woods merupakan salah satu reality show besutan produser Korea Na Young Seok (Na PD) yang mengambil sudut pandang program hasil eksperimen dan semi dokumenter. Na PD sendiri mengatakan bahwa kejaran untuk little cabin in the woods bukanlah rating, tapi pengalaman baru. Na PD pun mengatakan bahwa bisa jadi kita akan mengantuk di tengah-tengah menontonnya yang bener-bener saya aamiin-kan!! Sebagian besar yang akan kita lihat adalah pemandangan khas pegunungan serta bagaimana warna tumbuhan saat perubahan musim selama tiga bulan acara ini berlangsung. Telinga kita pun akan dimanjakan dengan suara air mengalir di sungai, angin, hujan, gesekan daun di pohon, suara berbagai jenis burung, ranting kayu yang terbakar, bahkan percikan minyak saat memasak. Saya pribadi saja sangat senang menonton reality show ini di malam hari sebelum tidur karena bikin relaks dan bisa bikin tidur saya lebih nyenyak. Bahkan saya tidak bisa menyelesaikan acara ini dalam satu waktu. Biasanya kepotong dua atau tiga kali karena keburu ngantuk.

Mencari Makanan Halal Di Thailand

Thailand memiliki industri makanan halal terbesar di dunia. Oleh karena itu sebenarnya tidaklah sulit mencari produk-produk berlabel halal di negeri gajah putih. Hampir di setiap super market dan seven eleven memiliki beberapa produk halal yang bisa kita pilih.

Kalau di luar kota Bangkok, saya baru menjejakkan kaki ke Khon Kaen. Memang di kota ini sedikit sulit mencari restoran berlabel halal, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Di kompleks Khon Kaen University ada dua food court yang menjual makanan halal sedangkan di kotanya sendiri, di Pratunam Market ada satu tempat makanan halal yang bisa dicoba. Satu tempat yang paling bikin saya kangen adalah tempat makan mie berlabel halal yang ada di Maliwan Road. Tepat berada di halaman Krung Thai Bank di seberang sebuah mini market. Itu mie-nya enak banget!!! Biasanya pulang dari training di dalam Khon Kaen University, beberapa kali saya menyempatkan diri untuk makan di sana.

IMG_4277

Di Bangkok sendiri sangatlah mudah untuk mencari makanan dengan label halal baik di food court, restoran yang berdiri sendiri, maupun di dalam pasarnya. Kalau sedang di Dong Mueang Airport dan pusing mencari makanan halal, ada satu tenant halal bernama Bangmad. Letaknya di penghubung antara terminal domestik dan lantai international departure. Tepat di seberang prayer room. Di sini pilihan makanannya banyak dan bisa memilih untuk take away.

IMG_1107

Apabila ke daerah Pratunam dan sedang berbelanja di Fashion World Pratunam, di food court lantai enam ada dua tenant makan halal. Satu merupakan masakan India dan satu lagi adalah masakan khas Thai. Saya sih suka banget buat makan di kedai yang masakan Thai karena enak, halal, murah, dan porsinya pas!! Sekali makan di sini, kita hanya perlu  membayar sekitar 50 THB.

IMG_1117

IMG_1202

Apabila sedang ada di daerah Siam, saya sempat mencoba makan di MBK Center lantai lima. Di sana ada sebuah restoran keluarga berlabel halal. Cocok banget buat makan dengan sistem sharing karena porsinya yang besar. Selain itu di food courtnya ada dua tenant makanan halal dengan harga sekitar 200 THB. Kalau lihat dari displaynya sih porsinya banyak banget!!! Jadi bisa buat share. Saya sih batal makan di sini karena cuma sendirian 😦 .

Kalau sedang asyik berbelanja di Chatuchak Weekend Market, sepenglihatan saya ada tiga tempat makan halal di sini. Pertama adalah tepat di seberang clock tower dengan harga makanan sekitar 250 THB. Tempat makan halal kedua ada di jalan arah ke Section 18. Saya sudah pernah mencoba makan di sana dan cukup enak. Semangkok mie dengan bakso dan jeroan dihargai 150 THB. Tempat makan halal ketiga adalah favorit saya, nama restorannya adalah Kah Jak. Terletak agak tersembunyi di Soi 18. Ga jauh dari pedagang es kelapa yang ada di dekat clock tower. Harga makanannya dibawah 100 THB dengan porsi yang pas untuk saya. Rasa makanannya pun enak!!

IMG_1446

Makanan di Kah Jak

Untuk yang sedang bermain di Asiatique sebelum nongkrong cantik di depan Sungai Chao Praya, mending cari makanan dulu dari pada kelaparan. Satu-satunya tenant makanan halal di dalam Asiatique adalah kebab. Kalau mau mencari nasi dan mie di dekat Asiatique ada food court yang menjual banyak makanan halal!! Tepatnya di seberang KFC Asiatique, tepat diantara seven eleven dan mesjid. Pilihan makanannya cukup banyak. Saya melihat ada tiga hingga empat tenant yang menjual makanan halal. Harganya pun terjangkau banget!! Saya makan mie, baso, dan daging sapi seharga 50 THB!! Selesai makan bisa sekalian ikut shalat di mesjid sebelahnya. Baru deh nongkrong tsantik sambil menikmati lampu-lampu Asiatique.

Apabila sedang berada di Night Market maupun Day Market, biasanya akan ada satu hingga dua tenant yang memiliki label halal. Seperti saat saya ke Bangkok di Bulan Agustus 2017, saya menemukan dua tenant halal di Day Market depan Central World. Satu tenant menjual street food ala Thailand dan satu tenant lagi menjual makanan berat. Dua-duanya enak!!! Akhirnya saya bisa mencoba street food Thailand juga!!! Oia kalau ke Night Market suka ada yang menjual jagung rebus ataupun jagung bakar. Rasa jagungnya manis dan enak!!

IMG_1885

IMG_1437

Thailand memiliki banyak pedagang buah segar yang mana beneran cuma jual buah, jadi insyaAllah halal ya. Buah di Thailand ini ga pernah ada yang gagal!! Rasanya enak semua. Saya juga mencicipi jus buah di tenant yang menjual khusus jus sehingga saya tetap tenang membelinya. Begitu pun saat mencicipi durian serta mango sticky rice.

IMG_4284

IMG_1167

Untuk yang senang nyobain makanan, di seven eleven banyak memiliki menu halal. Mulai dari burger, ayam-ayam ala nugget dan chicken roll, shrimp dumpling, bahkan sosis. Kalau mau mencari tuna spread, roti, ataupun minuman halal juga banyak tersedia di seven eleven dan super market lainnya. Bahkan air mineral aja ada label halalnya dong! Di Indonesia aja ga sampai segininya. Buat penggemar Sam Yang, saya baru lihat di Thailand semua Sam Yang-nya ada label halal. Dengan semua kemudahan ini, insyaAllah urusan makan bisa tenang selama jalan-jalan di Thailand.

*beberapa foto diambil dari hp Teh Win.

 

Berkunjung Ke Kediaman Jim Thompson

 

 

Jim Thomson House

Jim Thomson House

Memasuki Museum yang juga kediaman dari Jim Thomson mengingatkan saya dengan struktur bangunan di daerah Sumatera. Rumahnya berbentuk rumah panggung dan terletak di depan sungai lokal di Bangkok, Thailand. Mungkin karena di Bangkok memiliki banyak aliran sungai sehingga bentuk rumah tradisionalnya adalah rumah panggung.

Kediaman Jim Thomson merupakan perpaduan antara gaya Barat dan tradisional Thailand. Bentuknya pun menjadi berbeda dengan rumah tradisional Thailand pada umumnya. Hal inilah yang membuat saya merasakan kemiripan dengan rumah-rumah panggung di Indonesia. Bagian dalamnya juga mengingatkan saya dengan rumah tradisional Sumatera di mana setiap ruangan selalu menggunakan ambang pintu yang lebih tinggi dari biasanya sehingga ketika akan memasuki ruangan kita harus mengangkat kaki. Bentuk jendelanya yang besar dan tinggi membuat saya pengen duduk dan memandang lama ke arah sungai. Kalau sudah begini jadi kangen pulang kampung!!

Jim Thomson House

duduk-duduk sambil menunggu giliran tur

Saat masuk ke dalam rumah, saya melihat perbedaan yang dilakukannya dengan rumah tradisional Thailand. Di ruang makan, ia memilih meja makan daripada duduk di atas lantai kayu. Ia pun memiliki ruang kerja sendiri di dalam ruamh. Perbedaan lain adalah menyatunya kamar mandi dan kamar utama. Padahal kalau menurut kepercayaan Thailand dulu, tidak baik menyatukan antara kamar mandi dan kamar utama. Selain itu di ruang tengah yang dikenal sebagai drawing room, Jim Thomson menyimpan sebuah lampu kristal di tengah ruangan yang memiliki tempat duduk khas Thailand. Bagian lain yang berbeda dengan struktur rumah tradisional Thailand adalah adanya tangga di bagian dalam rumah, karena kalau rumah yang asli tangga itu berada di luar rumah.

Pintum masuk museum Jim Thomson berada di pintu samping. Sedangkan pintu depan kediamannya sebenarnya berada di depan sungai sehingga setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya selalu melewati sungai.

Jim Thomson House

Selain rumah utamanya, terdapat empat ruangan kecil yang terpisah dari rumah  induk, yaitu spirit house, tempat penyimpanan sutera, tempat penyimpanan emas, serta tempat untuk melukis. Di sekitar bangunan penyimpanan emas dan tempat melukis terdapat sebuah kolam dan tanaman-tanaman berwarna hijau sehingga memberikan kesan tenang dan nyaman. Rasanya saya ga bosen untuk sekedar mengobrol dan mengagumi kediaman Jim Thomson ini.

Jim Thomson House

adem banget ditengah cuaca Bangkok yang panas

Awalnya saya mengetahui rumah Jim Thomson ketika mencari tempat yang perlu dikunjungi ketika di Bangkok. Saya tidak mengira bahwa Jim Thomson adalah seorang arsitek berkebangsaan Amerika yang menjadi voluntir tentara Amerika saat perang dunia kedua. Ia dikirim ke Bangkok sebagai perwira militer dan jatuh cinta kepada Thailand. Setelah meninggalkan dinas militer, Ia pun memutuskan untuk kembali dan menetap di Thailand. Perhatian Jim Thomson kemudian jatuh pada salah satu industri rumahan yang telah lama terbengkalai, tenunan sutera dengan menggunakan tangan dan ia pun mengabadikan dirinya untuk menghidupkan kerajinan tersebut. Ia juga berkontribusi terhadap pertumbuhan industri sutera Thailand. Hingga kini Jim Thomson memiliki banyak butik di mall-mall yang tersebar di Thailand.

Ketika mengunjungi museum ini petugas tidak memperbolehkan untuk memfoto bagian dalam rumah. Tas dan bawaan lainnya harus dimasukkan ke dalam loker yang disediakan. Jangan lupa untuk memakai alas kaki yang mudah dilepas, karena ketika memasuki area rumah utama kita tidak diperkenankan menggunakan sepatu ataupun sandal. Untuk yang ingin berkeliling di Jim Thomson House, mereka menyediakan pemandu lokal dengan beberapa pilihan bahasa pengantar. Saya sudah pasti mengikuti tur dengan pemandu berbahasa Inggris. Untuk info lebih jauh mengenai sejarah, lokasi, serta harga tiket mengunjungi Kediaman Jim Thomson bisa dilihat melalui websitenya.

Jim Thomson House and Museum
6 Soi Kasemsan 2, Rama 1 Road, Bangkok
Open 09:00 – 18:00
web: www.jimthomsonhouse.com

 

Mabok Candi di Kompleks Angkor

IMG_0767

Kamboja merupakan negara yang ingin saya datangi untuk melihat salah satu situs warisan dunia, Angkor. Awalnya saya salah mengira bahwa Angkor Wat merupakan kawasan yang terdiri dari berbagai macam Candi. Ternyata sampai di sana saya baru tahu kalau Angkor Wat merupakan salah satu candi utama dan terbesar di kawasan Angkor.

Ke Kawasan Angkor berarti bersiap untuk menjelajahi waktu dan melihat berbagai macam bentuk candi. Saya yang sehari di sana udah mabok candi saking banyaknya candi yang dilihat. Satu hari sebelumnya, saya sempat mengunjungi Angkor Panorama Museum untuk melihat keseluruhan maket wilayah Angkor. Gede dan luas banget gengs!! Saya sampai bingung mau mengunjungi Wat yang mana saja.

Akhirnya saya ikut saja dengan rencana dari supir tuk-tuk. Maklum selain ga kebayang, saya sih pengen melihat matahari terbit di Angkor Wat serta berkunjung ke daerah candi yang memiliki banyak akar menempel plus pernah jadi tempat syutingnya Tomb Rider. Sisanya mah ngikut aja ke mana supir tuk-tuk membawa.

Penjelajahan saya ke Kawasan Angkor dimulai dari mengejar matahari terbit di Angkor Wat. Kemudian setelah puas bengong, saya pun menyusuri Angkor Wat ini. Saya, Teh Zen, dan Teh Wina sempat mengobrol dan mengamati bentuk candinya. Kita sempet bahas gitu perbedaan antara Angkor Wat, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan. DIlihat-lihat memang Angkor Wat ini lebih berupa istana ya ketimbang Candi untuk berdoa. Tapi lagi-lagi saya harus kembali baca buku soal kawasan Angkor untuk memastikannya. Selain itu kita juga sempet beberapa kali berhenti untuk duduk dan ngobrol random. Setelah puas muter, sarapan, nongkrong, dan foto-foto akhirnya kami pun keluar dari Angkor Wat menuju Wat yang lain.

 

IMG_0783

Gerbang menuju Angkor Wat

 

 

IMG_0796

Salah satu bagian dalam Angkor Wat

 

JMEO9073

Perjalanan pun dilanjutkan menuju kawasan Angkor Thom dengan melewati South Gate. Setelah itu bila berjalan lurus, kita akan menemukan bentuk candi yang berbeda dengan Angkor Wat, yaitu Bayon. Di sini saya menemukan banyak wajah yang tersenyum tenang milliki Avalokiteshvara. Melihat senyum penuh kedamaiannya membuat saya pun tenang dan nyaman. Padahal saat itu matahari mulai meninggi dan kondisi candi sangat penuh oleh turis. Tapi saya tetap senang mengitari Bayon dan melihat setiap relief wajah-wajah tersenyum satu persatu. Hal menarik yang saya perhatikan adalah reliefnya tidak dipahat seperti candi-candi yang lain, tapi seperti dibentuk terlebih dahulu baru disatukan.

 

IMG_0814

South Gate

 

 

IMG_0816

Bayon

 

IMG_0823

Tak jauh dari Bayon, kita akan bertemu dengan Candi Baphuon. Saya segera jatuh cinta melihat jembatan menuju candi ini!! Saat berjalan selangkah demi selangkah menuju candi, saya melihat banyak batu berserakan seperti mengajak kita untuk turun dan duduk sejenak menikmati keindahan jembatan dan candi sambil mengobrol di bawah pohon rindang. Saat memasuki Baphuon barulah terasa panas. Selain itu pintu keluar candi adalah dari sisi belakang sehingga perlu berputar bila ingin kembali ke depan. Beneran kudu siapin stamina dan air mineral kalau ke sini!!

Bila kita berjalan ke bagian belakang dan memilih jalan melewati dinding batas Candi Bapuhon, kita akan menemukan Candi Phimeanakas yang sedang dipugar. Saya sih udah kepanasan, jadi setelah foto dan melihat sekitar bangunan kita pun berjalan lurus ke arah jalan utama dan bertemu dengan Terrace of Elephant.

 

IMG_0826

Jembatan menuju Baphuon

 

 

IMG_0852

Baphuon Temple

 

 

IMG_0853

Phimeanakas

 

 

IMG_0854

Terrace of Elephant

 

Berarti sudah empat candi yang kami kelilingi. Waktu pun sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ah tapi sayang banget kalau makan siang sekarang. Jadi kami melanjutkan perjalanan melewati Victoria Gate dan lanjut ke candi selanjutnya. Supir Tuk-Tuk kami, Pak Nasri dengan baik hati menawarkan untuk berhenti di candi berikutnya, Candi Thommanon yang terletak depan-depanan sama Candi Chau Say Tevoda. Apa daya kami masih lelah setelah mengunjungi kawasan Angkor Thom, jadi kami pun memilih melihat-lihat sebentar dari dalam tuk-tuk dan melanjutkan ke candi selanjutnya, Ta Keo.

Saat melewati Ta Keo, saya melihat candi ini sedang dipugar sehingga menjadi malas untuk turun. Selain itu hari mulai panas dan tenaga mulai berkurang drastis. Sehingga kami pun meminta Pak Nasri untuk melanjutkan perjalanan ke Ta Prohm.

IMG_0856

Victoria Gate

 

IMG_0859

Ta Keo

 

Ta Prohm ini memang terkenal sebagai tempat syuting Tomb Rider. Saya merasa sangat kagum dengan bentuk dan keindahan candi ini. Di sini saya merasakan bagaimana antara bangunan dan alam sebenarnya saling membantu dan menopang. Pohon-pohon yang masih hidup ini tumbuh besar dan menjulang. Akar-akarnya bersatu dengan bangunan dan saling bergantung. Kalau melihat struktur bangunannya, kita akan melihat bahwa bagian candi yang runtuh, biasanya disebabkan oleh pohon yang mati ataupun badai.

Saya tidak habis-habisnya berdecak kagum dan melihat jauh ke atas. Suasana dan nuansa Ta Prohm ini sungguh berbeda dengan candi-candi yang lain. Di sepanjang jalannya kita pun akan melihat banyak pasir di sini. Padahal ini di tengah hutan loh!! Lagi-lagi kami bertiga berpikir bahwa zaman dahulu mungkin di sini adalah rawa sehingga banyak pasir yang tertinggal. Maklumin aja kita banyak mikir dan berasumsi, soalnya kita sengaja ga pakai guide ataupun tur leader. Bekal saya pun hanya sebuah buku mengenai Angkor yang saya beli di Night Market Siem Reap. Di sini pun lagi-lagi kita berpikir bagaimana mereka menemukan candi yang ini. Apalagi melihat akar-akar yang sangat besar. Sempat terpikir apakah dulu candi ini merupakan gundukan tanah seperti Borobudur sehingga akar-akar ini bisa begitu menyatu dengan bangunannya.

Kakipun merasa lelah, kerongkongan kering, perut mulai bernyanyi, serta matahari semakin tinggi. Saatnya kami kembali ke kota untuk makan siang dan istirahat sejenak di hostel.

 

IMG_0923

Ta Prohm

 

CUQZ5048

Tepat pukul tiga saya, Teh Zen, dan Teh Win dijemput kembali oleh Pak Nasir dan kami pun kembali ke Kawasan Angkor. Saya sempat bertanya apakah sempat untuk mengunjungi satu Angkor lagi sebelum akhirnya kami berjalan menuju tempat melihat matahari terbenam yang segera dijawab bahwa itu tidak memungkinkan.

Kami akan melihat matahari terbenam dari Phnom Bakheng yang terletak di atas bukit. Candi ini memiliki batas maksimal untuk dapat berada di atasnya sehingga kami perlu datang lebih awal agar mendapat giliran naik ke atas. Untuk mencapai puncak candi, kami harus menaiki tangga curam dan diberikan nomor giliran. Apabila nomer habis, berarti harus mengantri dan gantian dengan turis lainnya.

Pemandangan dari Phnom Bakheng indah banget!!! Kita bisa melihat Kawasan Angkor yang memiliki banyak hutan. Saya pun sempat bertemu beberapa biksu yang sedang beribadah. Oia hingga saat ini Kawasan Angkor masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah. Oleh karena itu untuk warga lokal mereka bebas keluar masuk Kawasan ANgkor secara gratis. Waktu menunjukkan pukul setengah enam namun langit semakin mendung dan tak ada tanda-tanda cerah. Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk turun dan kembali ke Siem Reap sebelum gelap. Maklum sepanjang jalan di Kawasan Angkor saya tidak melihat ada lampu jalan, sehingga rada spooky aja ngebayangin malem-malem kudu lewat hutan.

saat turun dari Phnom Bakheng saya melihat antrian panjaaaaaanggg untuk mendapatkan giliran naik ke atas. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam. Hanya satu jam lagi dan candi akan ditutup. Ketika turun ke bawah pun masih ada beberapa turis yang ingin mendaki untuk melihat Phnom Bakheng. tapi petugas Kawasan Angkor tidak mengijinkan mereka naik karena beberapa saat lagi akan tutup. Apalagi mengingat antrian di atas masih panjang.

IMG_0938

 

IMG_0946

Detail Phnom Bakheng

 

 

IMG_0962

mendung T__T

 

Perjalanan kali ini sungguh panjang. Sepertinya saya sudah berjalan lebih dari 10 kilo!! Pulang-pulang ke tengah kota Siem Reap kami pun segera mencari foot massage. Kaki beneran pegel banget!!

Beberapa hari ke depan sepertinya saya ogah mengunjungi Wat atau candi. Udah kebanyakan muter-muter lihat candi di Kawasan Angkor. Saat tiba di Bangkok, saya langsung mencoret rencana untuk pergi ke Ayutthaya. Lebih baik mengunjungi beberapa Wat yang memang berbeda saja dengan yang ada di Kawasan Angkor.

Tips untuk mengunjungi Kawasan Angkor:

  • Kalau menyukai sejarah, bangunan candi, dan ingin melihat perbedaan setiap candinya, kalian bisa membeli tiket terusan 3 days pass atau 7 days pass sehingga bisa menikmati Kawasan Angkor dengan santai.
  • Untuk yang penasaran dan ingin ke beberapa Wat saja, bisa menggunakan 1 day pass.
  • Banyak cara untuk mengelilingi kawasan Angkor. Kita bisa menyewa sepeda, motor, mobil, ataupun menggunakan tuk-tuk. Keunggulan menggunakan tuk-tuk, biasanya setiap tuk-tuk akan menyiapkan air minum untuk kita dan sebelum masuk kuil kita bisa meminta sedikti penjelasan mengenai candi tersebut. Oia kalau mau menghubungi supir tuk-tuk saya, namanya Pak Nasri (+855969987679). Beliau ini Muslim jadi tahu beberapa restoran halal di Siem Reap.
  • Siapkan fisik untuk berjalan-jalan menuju candi ataupun menaiki candi yang ada.
  • Gunakan pakaian yang nyaman dan sopan. Di Kawasan Angkor tidak diperkenankan memakai baju tanpa lengan maupun celana pendek. Lebih baik pakai baju tipis lengan panjang serta celana panjang atau rok minimal selutut.

Terrace House

 

Dua hari ini saya binge watching salah satu reality show Jepang berjudul Terrace House. Awalnya saya ngubek-ngubek drama baru yang bisa ditonton. Maklum setelah beberapa bulan ini punya drama yang selalu ditonton setiap hari, begitu mengikuti hanya dua drama on going hidupnya terasa hampa. Akhirnya ketemulah saya dengan Terrace House season terbaru berjudul Opening New Doors yang baru tayang satu episode.

Terrace House merupakan reality show dengan menghadirkan tiga orang laki-laki dan perempuan yang tinggal dalam satu atap. Mereka diberi fasilitas lain seperti dua buah mobil dan selebihnya tidak ada naskah ataupun pengaturan akting. Saya membayangkannya bagai tinggal di kosan dan ada kamera di mana-mana.

Efek penasaran, akhirnya saya ngubek-ngubek acara ini dan ternyata mereka memiliki beberapa seri dengan judul berbeda. Mulai dari boys x girls, boys x girls in the city, dan seri terakhir sebelum Opening New Doors adalah Aloha State. Ternyata serinya udah panjang banget!! Boys x girls sendiri ada delapan season dengan tiap season berjumlah kurang lebih delapan episode. Tapi saya berhenti nonton di akhir season satu karena ternyata perpisahan itu memang bikin nyesek. Kemudian saya lanjut menonton yang Aloha State season 1. Ternyata lebih seru dari boys x girls. Mungkin karena cast-nya adalah orang yang memiliki separuh darah Jepang ataupun Orang Jepang yang sudah tinggal beberapa tahun di luar, sehingga suasananya berbeda dan orang-orangnya ga sekaku yang versi sebelumnya. Saya bisa bertahan menontonnya sampai season 2.

Ditengah kebosanan akan Drama Korea dan malas memulai kembali nonton tv series Barat, saya akhirnya menemukan oase dengan reality show Terrace House ini. Lagu pembukanya pun memanjakan telinga!! Di seri awalnya lagu Taylor Swift menjadi pembuka. Sedangkan untuk Aloha State, mereka menggunakan lagu dari Lights Follow berjudul Slow Down yang beberapa hari ini menjadi lagu favorit untuk didengar.

Seiring berjalannya tiap episode, saya pun mempelajari budaya dan bagaimana perorangan dari mereka menjalani hidupnya. Mau tidak mau saya pun merefleksikan perjalanan hidup yang saya lakukan selama beberapa tahun ini. It was so refreshing to watch this!!