The Art of Small Steps

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah tulisan mengenai the art of small steps yang ditulis oleh Antoine de Saint – Exupery. Beliau ini penulis dari Little Prince dan tulisan di bawah ini merupakan doa-nya yang menurut saya keren banget dan bikin saya ketampar. Rasanya langsung melihat ke dalam diri lagi dan bersyukur atas semuanya. Makanya doa dari Antoine de Saint – Exupery ini ingin saya kristalkan di sini:

Lord, I’m not praying for miracles and visions,
I’m only asking for strength for my days.
Teach me the art of small steps.

Make me clever and resourceful,
So that I can find important discoveries and experiences among the diversity of days.
Help me use my time better.
Present me with the sense to be able to judge whether something is important or not.

I pray for the power of discipline and moderation,
not only to run throughout my life,
but also to live my days reasonably,
and observe unexpected pleasures and height.

Save me from the naive belief that everything in life has to go smoothly.
Give me the sober recognition that difficulties, failures, fiasco, and setback
are given to us by life itself to make us grow and mature.

Send me the right person at the right moment,
who will have enough courage and love to utter the truth!
I know that many problems solve themselves,
so please teach me patience.

You know how much we need friendship.
Make me worthy of this nicest, hardest, riskiest and most fragile gift of life.
Give me enough imagination to be able to share with someone
a little bit of warmth, in the right place, at the right time,
with words or with silence.

Spare me the fear of missing out on life.
Do not give me the things I desire, but the things I need.
Teach me the art of small steps! 



Advertisements

Menjadi 30

Sudah nyaris sebulan setelah saya berulang tahun ke-30. Ternyata ga ada perubahan signifikan yang dirasakan. Perasaan kok lebih galau waktu menginjak umur 29 dibandingkan 30 ūüėÜ .

Pertambahan usia kali ini pun sedikit berbeda. Beberapa tahun ke belakang saya selalu menghadiahkan diri sebuah perjalanan selama beberapa hari baik ke dalam maupun ke luar negeri. Awalnya tahun ini pun terpikir untuk melakukan hal yang sama. Tapi apa daya pekerjaan dan beberapa urusan lain membuat rencana perjalanan terpaksa diundur. Sehingga saya pun memutuskan untuk tetap di Bandung saat bulan ulang tahun.

Walaupun tetap di Bandung, saya malah mendapatkan kado yang luar biasa untuk hati dan pikiran. Seorang mentor yang saya kagumi sedang berada di Bandung untuk melakukan evaluasi sekolah tk di dekat rumah. Berarti selama beberapa saat saya bisa mendatangi beliau dan mengobrol. Pada hari terakhirnya di Bandung, saya pun berbicara berdua dengannya. Saya menceritakan sebuah unek-unek yang sudah lama terpendam. Jawaban beliau sungguh membuat beban di pundak ini berkurang dan mengingatkan bahwa saya perlu melihat kembali prioritas dalam menjalankan beberapa pekerjaan. Rasanya semakin bersyukur karena saya mendapat kabar bahwa tahun depan belum tentu beliau akan kembali datang untuk melakukan evaluasi dan mentoring ke Indonesia. Kalau saya tetap pergi berlibur, tentu kesempatan ini tidak akan terjadi.

Selain itu Allah SWT juga memberikan kejutan manis di penghujung Agustus.  Saya mendapatkan pekerjaan berupa proyek rekruitmen ke sebuah kota di Sumatera yang merupakan tempat kelahiran. Rasanya seperti diberikan kesempatan untuk berkunjung ke akar kehidupan dan mengingat perjalanan yang telah dilakukan sepanjang 30 tahun hidup di dunia ini.

Ah kalau kembali mengingat 30 tahun kehidupan, sudah barang tentu banyak sekali yang berubah sejak saya dilahirkan ke dunia ini. Mulai dari fisikpun sudah jauh berbeda. Asam garam, pahit manis, terang dan gelap sudah terlewat. Berbagai peristiwa yang terjadi di dalam hidup serta pertemuan dengan banyak orang membuat saya sampai di titik 30 yang seperti ini.  Rasanya kalau keputusan kecil yang diambil dulu berbeda, mungkin saya pun tidak akan menjadi saya yang sekarang.

Dalam tulisan ini izinkan saya untuk mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah memberikan warna dan cerita di dalam hidup saya. Halo 30, mari kita bergandengan tangan untuk memulai petualangan ke depannya.

Little Cabin in The Woods

We are busy.  Every day at the same time. Every day seeing the same scene. There are a lot of things to do. There are a lot of calls to make. Even when the night comes, every time, and as expected, a lot of people.  Did you ever think you wanted to escape?

Hidup di perkotaan dengan hingar bingar dan hidup yang berlangsung serba auto pilot, dua orang artis Korea, So ji Sub dan Park Shin Hye setuju menjadi dua orang subjek eksperimen dan mencoba tinggal disebuah kabin di tengah alam Pulau Jeju. Selama tinggal di sana mereka akan hidup dengan listrik dan air terbatas serta melakukan beberapa tantangan untuk melihat apakah bisa mendapat kebahagiaan dari kegiatan tersebut.

Seberapa bahagiakah kita saat ini?

Seperti yang kita ketahui bahwa dengan segala kemudahan yang ada di perkotaan, terkadang hidup bisa menjadi sangat menantang. Dengan mudahnya berkomunikasi, batasan antara waktu bekerja dan istirahat terkadang menjadi buram. Apalagi kalau melihat banyaknya kemewahan dan komsumtif yang ada di sosial media kayaknya hidup orang-orang kok mudah dan bahagia terus sih?! Orang-orang pun menjadi lebih rentan terhadap stres dan depresi.

Little cabin in the woods ingin menghadirkan bahwa ada hal-hal kecil disekitar kita yang terkadang kita menerimanya begitu saja sampai-sampai tidak menyadari bahwa dengan adanya hal tersebut ternyata kita sudah bisa merasa cukup. Selain itu acara ini juga mengenalkan sebuah konsep hidup minimalis penuh kesadaran sehingga setiap kegiatan yang kita lakukan menjadi bermakna. Ketika kita sedang berproses, disaat itulah terkadang jawaban mengenai apakah kita bahagia bisa terjawab.

Image result for little cabin in the woods korean variety, review

Konsep hidup minimalis yang ada di acara ini seperti saat episode pertama di mana kedua subjek eksperimen diminta memilah benda-benda yang penting untuk mereka tinggal di kabin dan menyerahkan barang lainnya kepada staf. Mau tidak mau Park Shin Hye yang membawa dua koper ukuran besar dipaksa memilah barang mana yang penting untuknya. Atau di episode lain kedua subjek diminta untuk mengerjakan satu kegiatan selama satu waktu. Untuk yang terbiasa multi tasking, melakukan hal ini tuh bikin gatel banget!! Tapi sambil menonton, saya pun jadi ikut melihat detail-detail lain yang kadang-kadang luput karena kita melakukan beberapa pekerjaan sekaligus.

Saat pertama kali menonton little cabin in the woods, saya merasa sedang menonton penelitian yang ingin saya lakukan dulu ketika zaman thesis. Seperti impian yang jadi kenyataan!! Saya memang sudah beberapa tahun belakangan ini senang dengan tema mindfulness dan akhirnya diikuti oleh printilannya seperti hidup minimalis dan mengerjakan sesuatu secara bermakna. Asyiknya, beberapa eksperimen yang ada di acara ini bisa juga kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Walaupun begitu saya sadar kalau little cabin in the woods ini bukanlah reality show yang akan disukai semua orang. Little cabin in the woods merupakan salah satu reality show besutan produser Korea Na Young Seok (Na PD) yang mengambil sudut pandang program hasil eksperimen dan semi dokumenter. Na PD sendiri mengatakan bahwa kejaran untuk little cabin in the woods bukanlah rating, tapi pengalaman baru. Na PD pun mengatakan bahwa bisa jadi kita akan mengantuk di tengah-tengah menontonnya yang bener-bener saya aamiin-kan!! Sebagian besar yang akan kita lihat adalah pemandangan khas pegunungan serta bagaimana warna tumbuhan saat perubahan musim selama tiga bulan acara ini berlangsung. Telinga kita pun akan dimanjakan dengan suara air mengalir di sungai, angin, hujan, gesekan daun di pohon, suara berbagai jenis burung, ranting kayu yang terbakar, bahkan percikan minyak saat memasak. Saya pribadi saja sangat senang menonton reality show ini di malam hari sebelum tidur karena bikin relaks dan bisa bikin tidur saya lebih nyenyak. Bahkan saya tidak bisa menyelesaikan acara ini dalam satu waktu. Biasanya kepotong dua atau tiga kali karena keburu ngantuk.

Drama oh Drama

Saya benar-benar baru merasakan banyak drama saat pergi ke Bangkok bulan Maret lalu!!! Saking dramanya setiap orang yang saya ceritain hal ini hanya geleng-geleng kepala dan pengen jitak saking geregetannya. Duh jangankan mereka, saya aja pengen banget ngegetok kepala sendiri kalau inget kejadiannya.

Kalau mau disalahin, saya akan menyalahkan diri sendiri karena mengambil kerjaan cukup padat di minggu terakhir sebelum saya ke Bangkok. Saya mengambil dua buah kerjaan dan satu laporan sebagai syarat melamar pekerjaan. Menghitung hari dan tenaga, saya optimis bisa selesai mengerjakan semuanya h-1. Kenyataannya? selesai semuanya tapi h-2 jam sebelum berangkat. Udah gitu detik-detik menjelang tenggat waktu rasanya udah ada tanduk di kepala, ada yang nyenggol dikit langsung mengaum!!

Tentu saja disela-sela kesibukan itu saya menyempatkan jauh-jauh hari untuk packing, sesuatu yang jarang dilakukan. Biasanya h-1 baru packing, ini h-6 hari mulai masuk-masukin barang. Sebenernya tujuannya baik sih, demi ga ada yang ketinggalan karena untuk kali ini saya perlu membawa barang untuk Waldorf teacher training di sana. Tapi dasar cemasan dan masih berpikir untuk bawa barang seminimal mungkin, saya tetap saja bongkar-bongkat koper sampai h-1 jam keberangkatan ke travel karena berangkatnya dari Soekarno Hatta. Saya menggunakan pesawat jam 06.20 pagi, dan berhubung bekasi – cikarang lagi ga bisa diprediksi macetnya saya mengambil travel jam 22.00 .

Untungnya, saat ke travel ini saya diantar oleh kakak jadi bisa lebih santai. Apalagi lalu lintas Bandung lagi bersahabat banget, jadi sampai lebih cepat. Sambil menunggu mobil datang, saya pun mengecek kembali apa-apa yang perlu saya bawa dan kepikiran untuk memasukkan beberapa barang dari tas ransel ke koper. Saat akan membuka kunci koper, nomer kuncinya kereset dong!!! Ini karena saya buru-buru saat menutup koper di rumah. Gawat!!! Saya segera mencari di google apa yang perlu dilakukan kalau ada kejadian seperti ini dan semua artikelnya memberi tahu harus manual satu-satu dicobain kombinasi angkanya. Edyaaaannnn. Ini sungguh pr banget. Akhirnya 45 menit saya habiskan untuk mencari kombinasi angka yang ternyata hanya beda satu angka dari kombinasi yang saya gunakan. Kesel sama kebodohan sendiri. Tidak berapa lama, mobil travel pun datang dan begitu menyentuh kursi saya langsung tidur.

Sampai di Soekarno Hatta ternyata baru jam 12.30 pagi dong!! Ternyata jalanan lagi lancar banget. Akhirnya saya memilih tidur-tiduran di kursi sambil menunggu teman-teman saya yang baru datang jam 5an. Sekitar jam 02.30 saya terbangun dan bengong mau ngapain, akhirnya saya melanjutkan mengecek kembali barang-barang yang perlu saya bawa dan saya baru sadar, paspor saya ga ada!!!! Ini kebodohan paling parah!!  Paspornya ketinggalan di Bandung dong!!!!

Panik saya langsung menelpon kakak karena saya yakin dia masih bangun. Kita berdua koordinasi untuk mengambil paspor saya di rumah (karena kakak saya tinggal dengan mertuanya) dan segera cari travel ke Soekarno Hatta untuk dititipin paspor. Oh sudah tentu orang tua saya ikutan panik saat diberitahu oleh kakak. Saya hanya bisa pasrah ketika diomelin sama mereka. Kakak saya pun berhasil mendapatkan travel yang ke bandara paling cepat, yaitu jam 03.00. Kita berdoa semoga sekitar jam 05.30 sudah sampai. Berhubung usaha sudah dijalani, saya pun hanya bisa pasrah dan berdoa semoga paspornya bisa sampai di bandara sebelum jam 06.00. Di tengah kepasrahan itu akhirnya saya mencari mushala dan shalat tahajud. Setelahnya saya berdoa semoga masih diijinkan untuk pergi tepat waktu ke Bangkok.

Jam 04.00 salah seorang teman seperjalanan saya pun datang dan kami sempat mengobrol soal kebodohan yang saya lakukan. Sambil saya memasang startegi untuk bisa check in terlebih dahulu. Untungnya saya membawa salinan foto paspor sehingga masih bisa check in walaupun baru boleh mengambil boarding pass setelah paspor datang. Dengan begini setidaknya saya masih bisa terbang. Tinggal menunggu paspor untuk datang tepat waktu.

Jam 05.30 saya menelpon supir travel untuk memastikan ia sudah sampai di mana. Syukurlah sudah sampai di tol Soekarno Hatta, setidaknya sebelum jam 06.00 paspor saya sudah sampai di bandara. Jam 05.45 saya kembali mengontak supir travel karena belum ada tanda-tanda kedatangannya. Alhamdulillah ternyata sudah sampai di terminal 1 dan akan ke terminal 2 tempat saya berada. Tidak sampai lima menit kemudian saya sudah bertemu supir travel dan tak henti-hentinya saya mengucapkan terima kasih sebelum ngacir ke dalam karena pesawat akan boarding 5 menit lagi. Itu semua belum termasuk saya harus mengantri imigrasi dan jalan ke arah boarding gate.

Sampai di dalam pesawat saya langsung tidur pulas hingga sampai di Bangkok. Perjalanan selama tiga jam sungguh ga berasa. Padahal kata teman-teman saya ada dua kali turbolance!! Ini sudah pasti efek saya kehabisan energi menjalani malam panjang penuh drama.

IMG_4094

Pesan moralnya, jangan ambil kerjaan banyak-banyak kalau mau bepergian sehingga bisa packing dengan tenang dan pastikan paspor atau ktp benar-benar sudah ada di tas.

Merasakan Hati

jangan lupa bahagia!!

#bahagiareceh atau #bahagiaitusederhana

Saat ini begitu banyak orang yang mengingatkan untuk tidak lupa bahagia dan bersyukur dengan hal-hal kecil yang ada disekitar saya. Saya tidak menyalahkan  bahwa kita perlu mengingat kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang ada di sekitar kita. Namun saat mencari sedikit atau setetes kebahagiaan, kita perlu mengingat bahwa untuk merasakan kebahagiaan kadang kita perlu mengetahui dan merasakan apa yang disebut dengan kecewa, sedih, atau pun marah.

Sayangnya belakangan saya jadi melihat menjadi bahagia ini malah menjadi beban. Setiap orang berlomba-lomba menunjukkan kebahagiannya di sosial media. Seolah-olah ketika merasakan emosi lain adalah sebuah kesalahan. Misalkan saja saat ada postingan sedih atau galau akan ada yang berkomentar bahwa kita baperan atau galau terus. Jadinya banyak menuntut diri sendiri harus bahagia, harus bersyukur.

Ketika kebahagiaan sudah menjadi sesuatu yang diharuskan, apakah kita sudah benar-benar jujur dengan diri sendiri? Sudahkah kita benar-benar bahagia? Atau sebenarnya sedang membohongi diri dengan pura-pura bahagia? atau bahagia secara artificial saja? padahal sedang sedih, kecewa atau marah.

Bukankah penting untuk diri mengenali emosi dan menjadi jujur dengan keadaannya?¬† Menjadi sadar dengan semua emosi yang dirasakan. Oleh karena itu buat saya,¬†it’s ok to be not okay. Karena dengan mengenali emosi dan perasaan di dalam diri, kita dapat menyadari kelebihan dan kekurangan yang ada sehingga benar-benar bersyukur dengan semua yang terjadi. Menjadi sadar tentang setiap emosi menurut saya menuntun kita menjadi manusia yang humanis. Menjadi manusia yang dapat berempati dengan lingkungan sekitarnya dan dapat berbagi kebahagiaan yang dimilikinya dengan sekitarnya.

Kebayang ga sih kalau kita selalu merasa bahagia dan tidak pernah sedih? Akankah kita bisa berempati terhadap masalah orang lain? Akankah kita menjadi manusia yang egois?

Sebagaimana “sad” dalam film animasi Inside Out, semua emosi itu penting dan memainkan peranannya masing-masing. Sehingga berkesadaran dengan emosi dan perasaan sendiri menjadi lebih penting dari sekedar bahagia.

Goodbye Tumblr

Kemarin saya dikejutkan dengan kabar mengenai salah satu platform website yang diblokir, Tumblr. Alasan pemerintah memblokir platform ini adalah karena konten pornnografi di dalamnya. Isu ini sebenarnya sudah lama hilir mudik berada di lini masa saya, tapi yang dulu kan ga jadi diblokir, jadi yang sekarang pun saya hanya melihat sekilas mengenai berita ini dan terlupakan begitu saja. Saya baru tahu kalau Tumblr benar-benar diblokir beberapa hari yang lalu, saat melihat salah satu halaman instagram story dari teman yang sama-sama sering menulis di Tumblr. Sedih rasanya karena tidak ada pemberitahuan yang jelas mengenai pemblokiran Tumblr di Indonesia. Eh ini mah bisa juga sih salah saya yang cuma baca berita sekilas-sekilas ><.

Apapun itu, nasi sudah menjadi bubur. Saya tidak sempat memindahkan tulisan-tulisan di Tumblr ke rumah barunya. Padahal saya sengaja mengisi Tumblr dengan berbagai tulisan random dan quotes-quotes yang kalau ditulis di WordPress bakal panjang dan menuh-menuhin halaman wordpress ūüė¶ .

Eh tapi ada beberapa temen saya loh yang masih bisa mengakses Tumblr-nya!! Ini tidak adil!! *langsung kesel sendiri* . Saya ga tahu sampai kapan Tumblr diblokir sama pemerintah Indonesia. Kalau sudah tidak diblokir, saya akan segera memigrasikan tulisan-tulisan saya di sana ke rumah barunya, di blogger.

Nine Years Old

If I have a nine years old child, he or she would be in Elementary School, at grade three.

It’s been a long way for me to write on WordPress. On the way of nine years writing, I am not only writing for my own website but also other websites. I tried to be a contributor on one of the culinary website. In here I still learned to write reviews of places and foods.¬†I also tried to make something like video with my friends -gonna tell you later if this project was done-.

This year I gain trust to manage publication of social media. In here I learn to write more objective about school, curriculum, an issue that becomes the trend. It’s really challenging¬†to me. like a new page of my writing experience.

This whole experience came from one small step, one little post that I wrote on this blog.