Bulan Pertambahan Usia

Bulan Agustus merupakan bulan kontemplasi dan juga bulan saya bertambah usia. Kalau tahun lalu banyak hal yang terjadi, tahun ini saya banyak merasa. Berbagai perasaan datang silih berganti, mulai dari perasaan seru, senang, asyik, kaget, sedih, tak berdaya, lega, semua dirasakan. Lagi-lagi saya pun memikirkan apa yang bisa dilakukan agar saya tidak berenang dan berlarut-larut dalam perasaan ini. Merasakan dan menyambut semua perasaan memang perlu, tapi diingat itu semua adalah tamu di hati kita, jadi jangan membuatnya tinggal hingga berminggu-minggu di sana.

Pengalaman setahun ini pun tidak kalah kaya. Banyak hal baru yang saya lakukan, ada kesempatan-kesempatan yang datang dan saya ambil. Beberapa ada yang saya lepas, namun beruntung tak ada yang jadi sesal.

Beberapa hari lalu saya seperti mendapat jawaban dari keresahan hati dan pertanyaan beberapa bulan terakhir ini. Saya sempat bertanya-tanya apalagi yang harus saya selesaikan saat ini hingga saya menjadi tidak fokus dengan apa yang harus dikerjakan. Saat tersadar, cukup jauh saya berjalan dan akhirnya memilih untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan saat ini.

Di akhir bulan saya mendapatkan pencerahan mengenai masalah dan halangan yang perlu dihadapi selama hidup. Seringan atau seberat apapun rintangan akan selalu datang di dalam hidup. Bentuknya bisa macam-macam dan apapun itu memiliki tujuan untuk membuat kita menjadi lebih baik. Sesederhana ketika saya memaksa diri untuk bisa menghapalkan dongeng untuk kegiatan klab ibu dan anak. Dari dulu saya ga pernah suka dengan hapalan, itu pula yang membuat saya memilih untuk masuk IPA dibandingkan IPS. Bulan ini saya dipaksa untuk dapat menghapalkan dengan tepat sebuah dongeng yang menurut saya cukup panjang. Mungkin terdengar sederhana, tapi ini lumayan bikin stres loh!!

Baru kali ini saya merasa umur itu bukan hanya masalah angka, tapi selalu ada tujuan dan maksud sendiri-sendiri dari umur yang menempel di kita.

Kopi, Teh, dan Cokelat

Saya selalu menyukai ketiga minuman ini. Uniknya setelah saya perhatikan, saya memiliki waktu dan kegiatan yang berbeda untuk ketiga jenis minuman yang paling enak dinikmati saat hangat. Saya pernah berbagi ide ini dengan beberapa orang dan mereka akhirnya mencoba melihat perilakunya saat sedang memesan ketiga hal ini dan menarik banget!!

Untuk yang pertama adalah kopi. Saya hampir selalu membutuhkan kopi saat sedang bekerja. Seorang guru pernah berkata bahwa ia perlu secangkir kopi di pagi hari untuk membantunya fokus ketika bekerja. Hal ini sangat saya aamiini karena itu juga yang merupakan alasan saya meminum kopi. Apalagi ketika laporan sedang menumpuk tapi ga punya niat untuk bekerja, kopi merupakan bentuk rangsangan yang membantu saya lebih konsentrasi mengerjakan tumpukan laporan.

Berbeda lagi dengan teh. Duduk dan meminum teh biasa saya lakukan ketika ingin berkarya atau melakukan pekerjaan yang butuh kreativitas. Teh yang diminum bukan teh kot*ak atau teh bot*ol ya atau es teh yang biasa dipesen saat makan siang. Tapi memang memesan teh untuk melakukan kegiatan. Selain itu minum teh juga enak banget sambil makan kue dan mengobrol bersama teman. Ketika menuliskan ini, saya jadi sadar mungkin karena ini apabila di negara-negara Eropa mereka punya kebiasaan untuk waktu minum teh.

Selain kedua mood yang terbangun saat meminum kopi dan teh, mood yang dibangun dengan meminum segelas cokelat hangat pun berbeda. Seperti judul blog ini, cokelat hangat, hujan, dan novel merupakan perpaduan paling pas. Untuk saya cokelat itu membuat rileks sehingga cocok banget diminum saat saya ingin beristirahat serta memiliki waktu untuk diri saya sendiri. Selain itu ketika udara Bandung lagi dingin banget seperti akhir-akhir ini, cokelat hangat sudah pasti menjadi teman terbaik.

Kalau temen-temen memilih minuman sesuai dengan kegiatannya juga ga?

Soal Membersihkan dan Membereskan Barang-Barang

Sudah hampir dua tahun saya belajar dan mencari tahu mengenai hal-hal yang berhubungan dengan minimalism serta decluttering. Ini semua adalah efek dari belajar mindfulness, jadi merembet kesemua aspek dalam kehidupan!! Termasuk beberapa tahun kebelakang saya juga sedang belajar soal pendidikan Waldorf, mau ga mau jadi mempengaruhi banyak hal dalam hidup yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Saat belajar soal decluttering saya makin mengaamiinkan bahwa membereskan serta membersihkan rumah benar-benar dapat memiliki efek positif untuk kesehatan mental. Untuk hal ini saya pun setuju dengan apa yang disebutkan Marie Kondo dalam bukunya bahwa ketika kita hanya mengisi rumah terhadap hal-hal yang membuat kita bahagia, kita bisa lebih rileks dan menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi. Begitupun dalam Pendidikan Waldorf disebutkan bahwa ketika kita sedang melakukan sesuatu dengan tangan, sebenarnya kita pun sedang mengajarkan pikiran kita untuk melakukan sesuatu terhadap masalah yang bikin pusing. Contohnya nih, setelah selesai beres-beres, perasaan menjadi lega dan dapet aha moment yang bisa terjadi segera ataupun beberapa hari setelahnya.

Ketika sedang membereskan barang-barang serta memilah barang yang akan disimpan dan dilepas, ada perasaan “oh ternyata bisa juga ya melepas baju ini? atau buku yang ini?” yang dirasakan. Seperti sedang mengajarkan batin bahwa saya memiliki kapabilitas untuk melepaskan sesuatu, move on, lalu tetap menjalankan hidup. Ternyata saya baik-baik saja!!

Saat sedang membersihkan rak buku, meja, serta lemari yang berdebu, teryata dapat membantu saya untuk membereskan hati dan jiwa yang kusam dan lelah karena diterpa badai kehidupan -ok ini mungkin lebay 😀 -. Tapi beneran loh setelah selesai melakukan kegiatan membersihkan serta membereskan barang-barang, saya merasa senang dan bangga karena telah berhasil menyelesaikan sesuatu. Bahwa seberat apapun pekerjaan yang dilakukan, apabila tetap dilakukan pada akhirnya akan selesai.

Jordan B. Peterson dalam bukunya 12 Rules for Life bahkan menuliskan bab khusus mengenai membereskan barang-barang, yaitu pada aturan nomer enam: set your house in perfect order before you criticize the world. Karena kalau rumah masih berantakan berarti hidup kita pun masih sama berantakannya dan perlu ditata kembali. Jleb banget baca bab ini!!

Saya merasakan bahwa ketika barang-barang telah dibereskan dan diletakkan dengan rapi, saya mulai melihat ada beberapa tempat yang kosong. Rasanya legaaaaa banget!! Berasa mendapatkan udara baru dan ringan aja ngeliatnya. Beberapa saat setelah selesai membersihkan dan membereskan barang-barang, saya pun mulai merasakan bahwa kehidupan pun kembali dalam ritme yang jelas, langkah yang terasa lebih ringan, dan semakin memahami bahwa semua akan ada waktu dan tempatnya.

Puno Letter To The Sky

Tidak pernah terbayangkan, saya yang semenit sebelumnya masih tertawa dengan kelakukan papa Puno dan Tala tiba-tiba meneteskan air mata. Rasanya dada ini ikut sesak merasakan kekalutan Tala maupun papa Puno. Hingga akhirnya perahu-perahu kertas yang berada di langit-langit diturunkan pertanda pertunjukan telah usai.

Sudah hampir satu tahun sejak saya menonton Puno Letter to The Sky yang dipentaskan oleh Paper Moon Puppet Theater di Ifi Bandung. Mereka merupakan kelompok teater boneka yang berasal dari Yogyakarta. Untuk yang udah nonton AADC2, waktu Cinta dan Rangga nonton pertunjukan boneka itu merupakan pertunjukan Paper Moon loh.

meja kerja papa Puno

Saat pertunjukan Puno Letter to The Sky mampir ke Bandung, saya nyaris ga berjodoh karena awalnya mau menonton dengan sahabat kuliah, ternyata di hari pementasan pertamanya saya masih harus bekerja ke luar kota. Untungnya ada seorang sahabat yang ingin menonton di hari Sabtu dan kami masih kebagian tiketnya!!! Jodoh ga ke mana.

Di hari H pertunjukan, saya segera menukarkan bukti pembelian dengan sebuah tiket yang berupa amplop dengan segel dibelakang bertuliskan:

Dedicated to the people who missed their beloved one who already passed away

Hati ini serasa disiapkan dengan pertunjukan yang akan menguras tidak hanya air mata, tapi juga mengolah perasaan-perasaan yang akan menghampiri selama pertunjukan.

Puno Letter To The Sky menceritakan mengenai seorang gadis kecil bernama Tala yang hidup bersama dengan papa Puno. Mereka selalu bersama hingga akhirnya apa Puno meninggal. Sebagai gadis yang masih kecil, Tala merasa marah dan sangat sedih ketika ditinggal oleh papa Puno. Hingga Tala dapat merasakan kehadiran roh papa Puno dan masih dapat bersamanya hingga 40 hari ke depan. Lalu setelah itu apa yang dilakukan Tala saat ia harus mengucapkan selamat tinggal kepada papa Puno?

salah satu perahu berisikan surat dari yang kehilangan, untuk yang telah meninggalkan mereka lebih dulu

Selama 45 menit saya diajak untuk merasakan hari-hari penuh kehangatan bersama Tala dan papa Puno hingga perjuangan Tala untuk dapat menata dirinya ketika berhadapan dengan kehilangan orang yang paling disayanginya. Tidak hanya perjuangan Tala, tapi juga kebingungan dan keresahan papa Puno ketika mengetahui umurnya tidak lama lagi serta saat-saat awal kematiannya.

Bercerita tentang kehilangan setiap orang pernah mengalami kehilangan dan perasaan kesepian, namun tidak ada yang begitu menyesakkan dada ketika orang-orang terdekat dan tersayang yang meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Puno Letter to The Sky membantu saya untuk melihat kedua sisi dari kehilangan. Bahwa semuanya bersedih dan kebingungan hingga akhirnya bisa mengatasi perasaan-perasaannya dan menerima kenyataan yang ada.

Hingga di akhir pertunjukan, penonton dapat maju ke depan dan melihat property yang digunakan selama pertunjukan serta mengobrol dengan Pupperter. Selain itu kita bisa membaca surat-surat yang ada, yang ditulis dengan berbagai bahasa, untuk orang-orang tersayangnya yang telah meninggalkan mereka terlebih dahulu. Untuk orang tua, kakek, nenek, anak, maupun sahabat. Rasanya begitu pertunjukan selesai, perasaan-perasaan yang berkecamuk di dada ini tidak serta merta menghilang. Saya dan sahabat saja sampai bengong dulu di luar untuk menenangkan diri.

Bagi yang penasaran dengan Puno Letter to The Sky, akhir bulan ini Paper Moon Puppet Theater akan mengadakan pertunjukan selama dua hari saat Makassar International Writer Festival (MIWF). Seandainya saya bisa ke Makassar, rasanya ingin kembali menonton dan berjumpa kembali dengan Tala dan papa Puno. Buat yang ke MIWF pastikan pada nonton ya dan jangan lupa bawa tisu atau saputangan.

Terima kasih banyak kepada Mbak Ria yang telah membuat Paper Moon Puppet Theater ada dan membagikan cerita yang indah kepada saya dan penonton lainnya. Semoga saya bisa segera menyaksikan kembali pertunjukan Paper Moon.

Merajut Benang Merajut Pikiran

Saya tidak pernah menyangka akan mengenal konsep bahwa untuk mereorganisasi pikiran kita bisa melakukannya dengan mengerjakan hal-hal yang berbeda secara nyata. Konsep sederhananya adalah ketika kita mengerjakan sesuatu dengan tangan, sebenarnya kita sedang mengerjakan hal yang sama di dalam pikiran kita.

Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah dengan merajut. Hal ini tentu pernah saya coba lakukan beberapa kali untuk melihat keabsahannya dan ternyata benar-benar bisa diandalkan. Kemudian saya coba berdiskusi mengenai hal ini dengan beberapa teman dan mereka pun mengamininya. Bahkan seorang kawan saya ada yang memiliki rajutan sendiri yang akan dikeluarkan ketika pikirannya sedang kacau.

Ketika pertama kali merajut, baik untuk yang memang ingin mencoba ataupun dipaksa merajut, semua akan merasakan perasaan frustrasi karena cara yang berbeda dengan melakukan crochet. Seorang teman saya pernah berakhir dengan melempar jarum rajutnya dan lebih memilih berkebun di luar area tempat kami belajar. Seorang teman yang lain rasanya ingin menyerah saja saat merajut, padahal beliau ini jago banget ngecrochet. Hanya saja memaksa diri untuk melewati ketidaknyamanan merupakan cara untuk belajar mengasah karsa.

Setelah melalui beberapa baris merajut, kita akan melihat pola yang membuat kegiatan merajut menjadi sangat rileks dan bahkan seseorang pernah mengatakan pada saya bahwa merajut merupakan kegiatan yang meditatif. Kalau saya, seringnya akan mengantuk saat di tengah-tengah merajut. Sedangkan teman yang lain bahkan merajut untuk menghilangkan insomnianya!!

Saat sedang merajut, saya pun belajar untuk mengurai benang, menghitung jumlah benang yang sedang dirajut, serta melenturkan jari-jari yang kaku. Menarik setiap benang, melepaskan benang pelan-pelan, serta menyelesaikan setiap barisnya. Dengan melakukan hal ini sebenarnya secara tidak langsung saya pun sedang mengajari pikiran dan perasaan untuk menata kembali kekacauan yang ada di dalamnya. Mencoba menguraikan masalah dan melenturkan cara saya berpikir, melihat apakah saya perlu menarik benang atau sudah saatnya melepas, atau saatnya untuk diam sejenak sebelum akhirnya saya memutuskan untuk fokus bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut.

Selalu ada yang pertama untuk semuanya dan biasanya yang pertama itu tidak pernah sempurna. Begitupun dengan merajut. ketika saya memaksakan diri untuk sempurna melakukannya, rajutan saya tidak pernah selesai, bahkan ketika ada salah saya akan membuka rajutan dan mengulangi semuanya dari awal. Hingga di satu titik saya belajar untuk membiarkan kesalahan itu ada dan terus merajut hingga selesai. Sama seperti sedang menyelesaikan sebuah masalah, tidak ada cara yang sempurna. Pada saat ada kesalahan yang bisa dilakukan adalah meminta maaf serta memaafkan diri sendiri, kemudian melepaskan dan tetap bergerak.

Hingga akhirnya rajutan saya selesai!! Akhirnya syal yang saya buat selesai juga. Bukan yang terbaik, sempurna, dan terindah, tapi syal ini saya kerjakan dengan sepenuh hati dan tidak putus asa. Kalau ditanya untuk siapa syal ini kelak, akan saya berikan kepada seseorang yang mau menerima ketidaksempurnaan syal ini begitupun dengan ketidaksempurnaan diri sang pembuatnya. Hingga saat itu tiba, sesekali saya akan memakai syal ini.

hasil rajutan pertama: syal

Selesai mengerjakan syal ini pun saya berhasil menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor serta masalah pribadi yang mengganggu pikiran saat itu. Tidak salah ketika ada yang berkata bahwa “nimble hand, nimble head“. Karena dengan pekerjaan yang dikerjakan tangan, hati dan pikiran pun ikut bekerja.

Perkara Patah Hati

Kayaknya udah lama banget saya ga ngomongin soal patah hati di blog ini. Terakhir berita patah hati ini kapan ya? Sepertinya beberapa tahun ini patah hatinya lebih kepada perkara ga jadi ke Karimun Jawa, Banda Neira bubar, tesis yang harus berubah judul, batal ke Banyuwangi, tempat makan tutup atau lagi ga bisa ngopi di tempat favorit karena tumpukan pekerjaan yang dibuat sendiri. Ya ampun ternyata setelah ditulis saya banyak juga mengalami patah hati ya!!

Kali ini saya kembali ngomongin patah hati sebagai efek dari seharian ini harus menerima kenyataan yang beneran bikin sedih. Untuk meringankan beban, seperti biasa blog masih menjadi tempat favorit untuk bercerita mengenai perasaan dan pikiran yang sedang dirasakan.

Patah hati pertama terjadi pagi ini, saat saya harus menerima kenyataan kalau salah satu tumbler kesayangan beneran hilang di telan bumi. Ini benar-benar murni kesalahan saya yang sering ceroboh saat menyimpan tumbler. Mungkin tumbler saya itu ketinggalan saat saya mengambil uang di ATM atau saat saya sedang berbelanja entah di mana. Saya benar-benar tidak punya ingatan kapan tumbler itu menghilang dari hadapan.

Kenapa perkara tumbler doang bisa bikin patah hati? Jadi saya terbiasa mengkoleksi tumbler starbucks yang sengaja dibeli saat sedang mengunjungi sebuah kota atau negara. Salah satunya adalah tumbler starbucks yang dibeli saat sedang berkunjung ke Kamboja. Perjuangannya saat tahun 2017 nyari toko starbucks di Phnom Penh yang hanya ada satu tuh sesuatu banget!! Huhuhu mungkin ini saatnya saya mengikhlaskan setelah harapan bahwa tumbler itu tertinggal di kantor pupus sudah.

Patah hati kedua datang dari kabar grup Early Childhood Teacher Training Bangkok. Penyelenggaranya mengatakan bahwa kami akan pindah dari lokasi yang seharusnya akan kembali kami tempati, salah satu sekolah Waldorf yang ada di pinggiran kota Bangkok. Ini merupakan pukulan untuk saya karena terakhir ke sana saya tidak menyiapkan diri untuk mengucapkan selamat tinggal kepada sekolah ini, namun lebih untuk pergi sementara karena tahu semester depan saya akan kembali dan benar-benar mengucapkan selamat tinggal untuk sementara hingga tidak tahu kapan saya akan kembali. Rasanya baru kemarin saya mengobrol dengan pemilik kedai kopi yang ada di depan sekolah dengan akrab sambil bersendau gurau dan mengatakan kami (saya dan beberapa teman) akan kembali di Bulan Oktober dan kembali duduk-duduk di sana.

Patah hati berikutnya disusul dari kenyataan bahwa apabila kami akan pindah lokasi, maka kami pun tidak akan kembali semester depan ke sebuah rumah yang sudah tiga semester ini selalu kami tinggali. Rumah nyaman milik salah seorang wali murid di SD Waldorf tempat kami pelatihan. Pemilik rumahnya benar-benar orang yang hangat dan saya pun sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Suaminya bahkan pernah mencarikan sepeda untuk kami yang tinggal di sana!! Mengingat hal itu sungguh terharu dan hati ini kembali hangat.

Rasanya saya ga siap kalau ga melihat mereka di semester depan. Padahal di akhir malam teacher training kami kemarin, pesta perpisahan yang dilakukan adalah melepas kami untuk semester depan kembali lagi. Siapa yang menyangka bahwa kemarin adalah benar-benar pesta perpisahan untuk semuanya.

Sepanjang sore ini saya sungguh nelangsa hingga memutuskan untuk duduk menikmati hirupan kopi di tempat ngopi favorit saya di kota Bandung. Memeluk diri sendiri untuk dapat mengikhlaskan semuanya. Saya kembali teringat kata-kata seorang guru saat pelatihan kemarin “apabila ada kesenangan dan kesedihan, ada baiknya untuk tidak terlalu tenggelam di dalamnya dan merasa-rasa apa sebenarnya yang berusaha disampaikan dari semua perasaan yang sedang singgah ini”.

Itulah yang benar-benar sedang saya upayakan, agar bisa melepaskan dan kembali berjalan. Kembali ke prinsip awal, kalau jodoh ga akan ke mana. Kalau ada umur pun akan bertemu kembali Semoga saya tetap ikhlas dengan semua yang datang kepada saya ini.

The Art of Small Steps

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah tulisan mengenai the art of small steps yang ditulis oleh Antoine de Saint – Exupery. Beliau ini penulis dari Little Prince dan tulisan di bawah ini merupakan doa-nya yang menurut saya keren banget dan bikin saya ketampar. Rasanya langsung melihat ke dalam diri lagi dan bersyukur atas semuanya. Makanya doa dari Antoine de Saint – Exupery ini ingin saya kristalkan di sini:

Lord, I’m not praying for miracles and visions,
I’m only asking for strength for my days.
Teach me the art of small steps.

Make me clever and resourceful,
So that I can find important discoveries and experiences among the diversity of days.
Help me use my time better.
Present me with the sense to be able to judge whether something is important or not.

I pray for the power of discipline and moderation,
not only to run throughout my life,
but also to live my days reasonably,
and observe unexpected pleasures and height.

Save me from the naive belief that everything in life has to go smoothly.
Give me the sober recognition that difficulties, failures, fiasco, and setback
are given to us by life itself to make us grow and mature.

Send me the right person at the right moment,
who will have enough courage and love to utter the truth!
I know that many problems solve themselves,
so please teach me patience.

You know how much we need friendship.
Make me worthy of this nicest, hardest, riskiest and most fragile gift of life.
Give me enough imagination to be able to share with someone
a little bit of warmth, in the right place, at the right time,
with words or with silence.

Spare me the fear of missing out on life.
Do not give me the things I desire, but the things I need.
Teach me the art of small steps!