Bertemu Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh dan Jean Marais

“Ra…tinggal di bawah sama paling atas nih, mau ambil tiket yang mana?!”

Seorang sahabat memberitahu lewat whats app. Padahal penjualan tiket Bunga Penutup Abad baru dibuka beberapa jam saja. Saya pun memilih duduk di kursi bagian depan. Lebih baik dari pada melihat dari kejauhan. Siapa yang menyangka bahwa tiket pertunjukan teater berjudul Bunga Penutup Abad akan cepat habis. Saya pikir tidak banyak yang membaca Tetralogi Pulau Buru, ternyata dugaan saya meleset. Ah atau mungkin ingin melihat bagaimana Reza Rahardian, Chelsea Islan, Happy Salma, serta Lukman Sardi bermain peran di sini. Apapun alasannya, yang pasti tiket habis terjual. Beberapa teman saya pun gagal menonton karena kehabisan tiket.

IMG_3907

Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit (Anak Semua Bangsa)

Bunga Penutup Abad merupakan pertunjukan teater dari Titimangsa Foundation yang sebelumnya pernah menggelar pertunjukkan bertajuk Nyai Ontosoroh. Pertunjukan ini merupakan adaptasi dari dua novel awal tetralogi Pulau Buru yang berjudul Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer. Saya pertama kali berkenalan dengan novel Bumi Manusia tahun 2012, ketika tugas kuliah belum menumpuk.

Saya deg-degan banget mau nontonnya. Ga kebayang akan seperti apa gaya penceritaannya nanti atau adegan-adegan mana yang akan diambil dari novelnya. Saya juga berusaha untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi agar bisa menonton dengan nyaman.

Akhirnya jam 20.00 tepat, layar pun dibuka dengan Minke yang membacakan surat Dari Panji Darman, utusan Nyai Ontosoroh yang mengikuti Annelis menuju Belanda. Dari surat-surat itulah, Minke dan Nyai Ontosoroh bergantian mengenang potongan-potongan kisah  mulai dari pertemuan ketiganya, bagaimana ayah Annelis mati, kedatangan anak tirinya, hingga akhirnya pengadilan putih Hindia Belanda yang memutuskan hak asuh Annelis dari Nyai Ontosoroh dan diharuskan pergi ke Nederland.

Di beberapa adegan, Minke yang merupakan pelajar HBS dan mengagung-agungkan Eropa diperlihatkan betapa bangsa Eropa tidak selalu benar. Minke yang menulis menggunakan Bahasa Belanda, akhirnya mengikuti saran Jean Marais yang merupakan sahabatnya untuk menulis dalam Bahasa Melayu serta lebih mengenal bangsanya sendiri.

Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu (Anak Semua Bangsa)

Saya hanya bisa terhanyut saat menonton adegan tiap adegan. Penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak berbeda dengan novelnya membuat pertunjukan ini kaya akan rasa bahasa. Alunan musik penghantar yang dimainkan secara langsung dari belakang kamar Annelies di Buitenzorg menguatkan tiap adegannya.

IMG_3930

Senang rasanya melihat setiap adegan-adegan penting di dalam buku tertuang dalam bentuk akting prima dari tiap pemerannya. Saya awalnya sempat sangsi dengan Reza Rahardian yang memerankan Minke. Rada kurang Jawa dan terlalu tinggi untuk memerankan Minke. Tapi bukankah dalam seni teater semua pelakon harus bisa menjadi orang yang berbeda dengan dirinya? Begitu melihat akting Reza Rahardian, Chelsea Islan, Happy Salma dan Lukman Sardi, keraguan saya langsung hilang.

Reza Rahardian membuktikan kualitasnya sebagai aktor. Ia dapat berperan sebagai Minke yang malu ketika bertemu Annelis dan Nyai untuk pertama kali, getir saat membacakan surat-surat dari Panji Darman, hingga kesedihan saat Annelies pergi.

Happy Salma tampil maksimal menjadi Nyai Ontosoroh yang kuat,  berusaha mempertahankan idealismenya, berusaha tegar menghadapi semua kejadian, serta kesedihan saat Annelies pergi.

Chelsea Islan pun bermain dengan baik. Apalagi saat adegan yang mengharuskannya akting seperti mayat hidup karena menerima berita harus ke Nederland. Saya sampai merinding!!

Saya paling kagum dengan akting Lukman Sardi sebagai Jean Marais. Walaupun porsi adegannya ga banyak, tapi ia bisa mencuri perhatian penonton. Ia bisa menggunakan aksen yang menandakan orang asing serta mempertahankan keseimbangannya sepanjang pertunjukan. Salut banget sama aktor senior ini.

IMG_3937

Agak burem, yang moto pun deg-degan sama kayak yang difoto

Akhirnya saya benar-benar merasa puas dan bahagia dengan pertunjukannya. Semoga pertunjukan-pertunjukan serupa bisa sering diadakan di Bandung.

Kekuatan yang kita miliki mungkinlah tidak sebanding dengan ketidakadilan yang ada, tapi satu hal yang pasti: Tuhan tahu bahwa kita telah berusaha melawannya (Anak Semua Bangsa)

Manusia Kuat

Manusia kuat adalah salah satu lagu Tulus yang membuat saya kembali semangat untuk berjuang dengan masalah-masalah yang terjadi dalam hidup ini. Seperti ketika saya dihadapkan dengan masalah tesis, lagu ini pun menjadi salah satu lagu penyemangat.

Kau bisa merebut senyumku, tapi sungguh tak akan lama
Kau bisa merobek hatiku, tapi aku tahu obatnya

Dua hari yang lalu, lagu berjudul Manusia Kuat ini pun dibuat menjadi video klip. Saat melihat awal videonya, saya langsung curiga Tulus berkolaborasi dengan Papermoon Puppet Theatre asal Yogya. Buat yang belum tahu Papermoon Puppet Theatre, coba inget-inget lagi deh di film AADC2 saat Rangga ngajak Cinta nonton pertunjukan boneka. Saya sendiri tahu mengenai Peppermoon ini sejak lama, tapi belum berhasil untuk nonton pertunjukkannya.

Melihat videonya, saya merasa diingatkan untuk tidak takut dengan apa yang terjadi di hadapan kita. Kita ga tahu masalah yang akan dihadapi seperti apa. Bisa jadi masalah masalah yang terjadi seperti kerikil sandungan yang mematahkan kaki untuk melangkah atau melumpuhkan tangan yang ingin terus berjuang. Bisa juga masalah yang dihadapi menghilangkan senyum atau bikin hati terluka. Atau mungkin jalan yang sepertinya baik-baik aja tiba-tiba runtuh, luluh lantak. Tapi kita adalah jiwa-jiwa yang kuat, dan kalau dikerjain pelan-pelan, diberesin satu-satu masalahnya, masalah pun bakal selesai.

Ga perlu jauh-jauh, menurut saya ngerjain tesis itu bener-bener memakan seluruh jiwa dan raga. Masalah-masalah yang berhubungan dengan tesis ini selalu muncul silih berganti. Sampai saya pernah ada dititik pengen udahan dan memilih kerja. Tapi, walau bolak balik jatuh bangun, saya akhirnya bisa menyelesaikan tesis juga.

Mungkin untuk beberapa orang, tugas akhir bukanlah masalah berat. Mungkin sedang ada yang bermasalah dengan perasaan. Beneran, soal ini pun saya pernah mengalaminya. Macam jalan lurus yang udah dibangun bertahun-tahun luluh lantak. Pernaaahhh!! Tapi saya berhasil melewatinya juga.

Makanya nonton video klip Tulus yang ini beneran berasa diingetin. Seperti apapun masalah yang lagi dihadapi, kita pasti bisa melewatinya. Mungkin sekarang lagi ada di titik terbawah, tapi pasti bisa dilewatin.

Karena…

manusia-manusia kuat, itu kita..jiwa-jiwa yang kuat, itu kita!!

Carangan Ala Nasirun

img_9522

Dalam pewayangan dikenal sebuah lakon yang dinamai Carangan.

Carangan berasal dari kata dasar Cang yang dalam bahasa Jawa berarti miring, menyerong, atau menonjol, kemudian menjadi carang, dengan merujuk pada cabang-cabang kecil yang bertunas pada pepohonan. Ketika berbicara mengenai lakon Carangan berarti cerita yang tumbuh dan berkembang dari pakem yang ada.

Pada pameran Carangan Pak Nasirun di Nu Art Sculpture Park, fokusnya adalah menanggapi dari karya-karya Pak Nyoman Nu Arta yang berada di dalam galerinya. Selain itu, Iapun meletakkan berbagai karya seni yang dimilikinya dalam pojok-pojok dan ruangan yang ada di galeri. Dalam pameran ini, Pak Nasirun tidak hanya mencarang karya Pak Nyoman, tapi juga berbagai elemen yang ia temui.

Pada bagian pintu masuk, Pak Nasirun meletakkan sebuah karya  iring-iringan sebagai bentuk prosesi mengantarkan Dalang Slamet Gundono yang meninggal sebelum sempat melihat wayang Burung pesanannya kepada Nasirun. Iring-iringan ini terdiri dari wayang-wayang burung pesanan, kuda-kudaan kayu yang sudah dilukis ulang, serta perahu naga kayu dengan berbagai wayang-wayang ukuran kecil. Indah banget. Saya betah sekali melihat detail lukisan serta berbagai wayang-wayang ukuran kecil ini. Bahkan saya kaget sendiri saat melihat ada wayang berbentuk naga yang merupakan hewan di shio lahir saya.

129apple_img_9432

Pak Nasirun sedang menjelaskan karyanya

Di lantai dua, terdapat karya-karya lain dari Pak Nasirun. Terdapat sebuah gambar mengenai kemerdekaan dan juga berbagai kacamata yang dilukis oleh Nasirun. Saat datang ke sana, saya beruntung karena sedang ada Pak Nasirun yang menjelaskan karya-karyanya. Selain itu kita juga bisa melihat berbagai jenis wayang besar yang dibuat oleh Pak Nasirun.

img_2282

img_2283

img_2285

img_2286

Dalam ruangan ini kita juga bisa melihat seri stempel. Dalam seri stempel ini, Pak Nasirun memasang stempel dalam papan kayu dan merespon pola asli distempel dengan ukiran dan warna dalam pola ragam ornamen hias. Saya rasanya bisa satu jam untuk melihat detial setiap stempel yang ada.

129apple_img_9436

129apple_img_9496

129apple_img_9507

129apple_img_9508

Selain itu Pak Nasirun pun membuat seri figur tunggal di mana ia melukis dalam medium cat minyak di atas kanvas. Pada seri ini Pak Nasirun mencoba mencarang ikon-ikon simbolik yang berasal dari mitologi maupun religi. Ia juga memodifikasi figur-figur ikonik dari elemen serta gambar keseharian.

129apple_img_9504

129apple_img_9505

Di dalam galeri yang menyimpan sebagian besar karya Pak Nyoman Nu Arta, Pak Nasirun mencoba untuk mencarang patung-patung karya Pak Nyoman. Ia menghadirkannya dalam kanvas-kanvas yang diletakkan disekitar patung. Membuat saya dapat melihat dari perspektif dan persepsi yang berbeda-beda. Misalnya saja pada karya Pak Nyoman berbentuk Candi Borobudur, Pak Nasirun bisa membuat tiga lukisan dengan perspektif yang berbeda-beda.

Menurut Kurator Jim Supangkat, Proses Pak nasirun dalam berkarya ini membuatnya belajar memahami hakikat kemanusiaan dalam pencarian para seniman, yang pada setiap zaman terus mencoba memaknai, menafsir, dan menuliskan pengalamannya, sebagai kelanjutan pertumbuhan. Carangan dalam penelitian Marshal Clark merupakan proses pemikiran ulang, tidak menyangkal yang sudah ada, akan tetapi merupakan bentuk perpanjangan imajinatif terhadap karya asli. Disinilah Pak Nasirun menemukan tempat bagi dirinya dan kisahnya.

Saya sampai menghabiskan dua jam untuk melihat karya-karya yang ada. Itu pun belum sepenuhnya puas, karena karya-karya Pak Nasirun dalam ruang seni Pak Nyoman belum saya perhatikan detail satu persatu. Ingin rasanya kembali dan melihat carangan hasil karya Pak Nasirun.

Cerita Tesis (2)

img_7207

Sebelumnya baca cerita tesis (1) dulu ya 😀

Oktober 2016 kemarin, saya membuat sebuah langkah besar dalam tesis. Saya diizinkan untuk melakukan seminar proposal usulan penelitian!! Akhirnya setelah menanti satu tahun lebih serta perjuangan siang-malam dari bulan Agustus kemaren, penelitian saya dianggap cukup layak maju seminar.

Saat mau mengumpulkan proposal penelitian, dramanya bukan main. Saya stres karena masih ngerasa bab 2-nya bagai remahan rempeyek. Ga banget deh buat dimajuin seminar. Seminggu saya sampai mual ngerjain kerangka pikir di bab 2. Rasanya pengen kabur lagi. Tapi kalau kabur terus kapan beresnya coba?! Akhirnya baca lagi jurnal, teori, dan bongkar pasang kata-kata biar pas. Tidak hanya kerangka pikir, saya nyaris lupa ngeberesin bab 3 yang ga sistematis. Masih campur sari banget deh. Tapi waktu pengumpulan semakin dekat dan ga mungkin buat mundur. Akhirnya tetep dikerjain siang dan malam, semaksimal yang saya bisa.

H-1 pengumpulan saya masih ngerevisi bab 2, bab 3 serta ngerjain printilan. Printilan ini ternyata bikin senewen juga!! Gampang sih, tapi menyita waktu dan kudu teliti juga. Saran saya buat yang lagi tugas akhir, skripsi, ataupun tesis mending dicicil deh bikin printilan kayak kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar pustaka, sampai lampiran.

Saat hari pengumpulan, ada kejadian yang sebenernya bakal bikin bahagia kalau ga terjadi saat saya lagi buru-buru buat ketemu pembimbing. Pagi itu saya masih niat mau bimbingan draft final sama pembimbing sebelum ditandatangan dan dijilid ke fotokopian. Saya sengaja udah dandan rapi dan semi formal saat ke kampus jam tujuh pagi. Eh waktu mau belok ke lobi pascasarjana diteriakin satpam dong!! Diminta buat naek via basement karena dikira anak S1.

—______________________—“

Jadi lantai 5 gedung pascasarjana ini sering banget dipakai buat S1 kuliah. Berhubung anak-anak S1 ini sering bergerombol dan berisik, jadilah mereka ga dibolehin masuk lewat lobi. Kalau keadaannya lagi tenang dan cuma ngerjain tesis ke perpustakaan sih saya ga akan bete. Tapi waktu itukan lagi buru-buru mau ketemu pembimbing, jadilah mas satpamnya saya jutekin sambil bilang “saya mau ketemu kaprodi” dan tetep jalan menuju lobi. Langsung mingkem deh mas satpamnya.

Seminggu setelah pengumpulan draft, saya pun seminar proposal penelitian. Saat seminar ini, saya udah pasrah. Mau ditanyain atau disanggah mah sok aja. Sepanjang seminar pun saya selalu mengingat kata-kata pembimbing tercinta buat melihat sisi lain dari seminar yaitu buat bantu saya melihat penelitian ini dari sisi yang lain, sehingga bolongnya penelitian bisa ditutupin sebelum ambil data. Jadilah saya makin pasrah ngejalanin seminar proposalnya.

Hasil yudisium seminar proposalnya diumumin hari itu dan saya boleh melanjutkan penelitian!! Alhamdulillah!!! Yosh saatnya ngerevisi kerangka pikir dan alat ukur sebelum mulai ambil data. Apalagi waktunya mepet banget sama libur semester, natal, dan tahun baru kemaren.

Cerita Tesis (1)

Have you ever feel that you can’t do anything? your optimistic was drown, and all leave you was sorrow and lonely.

That is my feeling when I do my last task. Lebay bener yaaaakkkk!!!! Sampai ngerasa sesak nafas sendiri. Lelah banget rasanya. Semacam dementor yang mengambil semua kebahagiaan di dalam diri. Saya sampai pusing dan mual selama lima bulan ini. Rasanya pengen dadah-dadah aja ke kamera, nyerah!! Efek tesis bener-bener sungguh luar biasa.

Perasaan waktu ngerjain skripsi dulu ga gini-gini amat deh. Ngerjain laporan untuk sidang profesi yang berjumlah delapan aja ga segininya loh!! Tapi proses tesis ini, serasa dihempaskan semua deh nilai-nilai yang dipunya, idealisme yang dimiliki ketika berbenturan dengan realita, bahkan orang-orang yang dikira perhatian ternyata basa basi doang, dan yang dikira cuek ternyata benar-benar akan menolong di saat kritis. Edan bener!!! Kok rasanya macam cobaan hidup tingkat dewa. Pertanyaan kapan kawin langsung terlihat ringan dibandingin proses ngerjain tesis.

I feel like I am going to throw up!! Dasar anaknya butuh aja orang buat diskusi, diajak bertukar pikiran, atau meluruskan benang yang kusut di otak. Masalahnya saya kan ga bisa egois ngajak orang-orang buat ngelurusin benang kusut diotak saya. Mereka juga punya kehidupan dan kesibukan. Jadi yang ada saya berdialog tentang banyak hal dengan diri sendiri. Jadi semacam berkontemplasi terus-terusan. Mumet ama pikiran sendiri. Revisian? Maju dikit banget ciiinnn. Sampai akhirnya ketika dititik parah, saya kembali menulis. Berkat menulis saya mulai kembali menerima kalau tesis itu harus diselesaikan, bukan dihindarin. Karena masalah yang dihindarin itu malah nambah perih!! Semacam acceptance gitu 😀 . Jadi kalau tiba-tiba ada tulisan penuh kontemplasi kemaren-kemaren, berarti itu usaha saya untuk meluruskan benang kusut di otak.

Disetiap kesulitan itu ada kemudahan

Di saat mulai tenang, mulai menerima kenyataan dan tahu apa yang mesti dilakukan, tiba-tiba ada satu dua orang yang membantu. Memang mereka ga selalu ada di dekat saya. Tapi beneran deh, saat krusial dan dibutuhin banget, atau saat saya udah lemah dan putus asa, tiba-tiba aja gitu bantuan dateng. MasyaAllah….indah banget ya Allah. Memang, bantuan dari orang-orang itu ga akan ada saat saya lagi menye-menye atau manja, tapi saat krusialnya tetep aja loh ada di samping dan ngebantuin saya dengan cara mereka masing-masing. I love you guys from the moon and back!! It makes me remember what I wrote to my self in Penang. “The one who still beside you, who care of you, always be near you”. So don’t worry.

Mungkin prahara ini hanya terjadi di jurusan saya aja kali ya, atau lebih tepatnya untuk jurusan psikologi profesi.  Tekanannya sama edyannya untuk setiap jurusan profesi. Mau yang klinis dewasa, klinis anak, pendidikan, sosial, hingga industri dan organisasi. Tidak sedikit yang mengundurkan diri, pindah ke jurusan lain, pindah ke universitas lain, ataupun di DO karena sudah lebih dari 4/5 tahun. Bukan barang aneh kalau profesi psikologi ini paling cepet bisa keluar adalah 2,5 tahun. Tinggalkan impian lulus 1,5 tahun, bisa frustrasi nantinya. Eh saya ga tahu ya ke depannya bisa apa engga, kayak kejadian di S1 yang sekarang bukan barang aneh bisa lulus psikologi cuma 3,5 tahun depan IPK di atas 3. Kalau dulu..err kayaknya jungkir balik juga ga akan mampu 3,5 tahun *dadah dadah sama anak Unpad, Unisba, dan Marnat Bandung*.

Jadi gimana kabar tesisnya? Masih dikerjain. Ini pun saya sedang rehat sebentar ngerevisi tesis. Semoga segera selesai, aamiin!!

Relax

 

pict from here

I remember about this quote when I was walking to campus this morning. This days I felt so tense with my thesis revision. My back hurt and I felt nausea. This what we called psychosomatic disorder. As you may know,  A psychosomatic disorder is a disease which involves both mind and body. Some physical diseases are thought to be particularly prone to be made worse by mental factors such as stress and anxiety.

 So I remember one thing to help me through this, mindfulness meditation. So I tried to relax my body and mind, focus to what I felt, what I need to do, and tried not to remember what will happen in the future. Since future is still a mystery, so I just have now, this time in my life.

This year, If I have one word for this year, It will relax. Last year, I learn a lot of things, so this year I want to relax my body, mind, and soul. I don’t want to search who is my future husband, I don’t want to ask about what happen with my life lately, I don’t want to take something for granted. Like Osho said, relax. If we relax, the universe start vibrating with us. God has unique way to answer our prayer. So why scared? why anxiety? I have God. God know what best for me, so relax and be patient.

Relax and see what doors that open for me. It may be surprise me, but that’s life right? We never know what will happen tomorrow, next week, or maybe next month. I just know that this day is present from God. So I need to focus on this day, this time. Not yesterday or tomorrow. Do what I can do, let go what I can’t handle. So I feel mindful, content, and accept what I have today.

Kumpul di Bellamie Boulangerie

Sebelum akhir tahun, saya dan teman-teman tidak memiliki rencana untuk berkumpul dan memilih untuk berkumpul di awal tahun saja. Saya pun berpikir untuk berdiam di rumah dan mengobrol dengan orangtua.

img_0637

Bellamie Boulangerie

Di awal tahun, saya dan beberapa teman yang dulu pernah ke Garut dan Bromo bareng memutuskan untuk bertemu dan makan siang di Bellamie Boulangerie. Tempatnya berada di Jl. Cihapit dan berada di atas Kambing Bakar Kairo. Di sini tempatnya terbagi dua, ada smoking dan non smoking. Tadinya sih saya mau milih di non smoking mengingat ada dua ibu hamil di sini, sayangnya non smoking room ini kecil, jadi cepet banget penuhnya.Untungnya smoking roomnya berupa joglo besar, tinggi, dan banyak area bukaan, jadi tidak bikin gerah dan bebas dari kepungan asap. Saya dan teman-teman pun memilih duduk di sofa demi kenyamanan ibu hamil. Duh seneng banget lihat temen-temen ini udah hamil!! Bentar lagi nambah ponakan buat digendong dan diajak main.

Untuk menunya, di sini terkenal dengan menu croissant dan sandwichnya. Tapi kalau merasa ga kenyang, juga ada menu pasta, steak, dan nasi sih. Berhubung Bellamie buka dari pagi, mereka juga menyediakan menu sarapan di sini. Pada lantai bawahnya, kita juga bis abeli roti dan kue untuk dibawa pulang!! Duh rasanya pengen dibeli semua roti dan kuenya!! Untuk minumannya ada berbagai jenis kopi, cokelat, dan jus sehat. Tapi saya lihat gelas jusnya kecil, jadi kurang puas gitu minumnya 😦 .

Sambil menantikan temen-temen yang lain, saya yang udah kelaparan memilih pesan crispy mushroom.

img_0639

crispy mushroom

Jamurnya endut-endut dan digoreng kering, tapi jamurnya tetep lembut!! Saus cocolannya sendiri ada dua jenis, saus tomat dan barbeque. Saya sih lebih senang saus barbequenya. Enak dan renyah!!

Menu andalan croissantnya adalah beef and mushroom carbonara sandwich. Tapi saya lihat dimenunya nampak enek gitu. Maklum saya ga terlalu suka keju dan saus krim, jadi saya lebih memilih beef  stroganoff sandwich.

img_0641

 Croissantnya memang juara!! Renyah dibagian luar dan lembut dibagian dalamnya. Menu ini datang ditemani kentang goreng besar besar dan selada. Rasanya enak banget!! Potongan dagingnya lembut dan sausnya juga ga terlalu gurih.

Saya pun memesan teh leci sebagai pendamping kedua makanan ini. Gelas tehnya besar dengan dua leci di dalamnya. Rasa lecinya juga tidak terlalu manis. Sesuai dengan kesukaan saya.

img_0644

Saya dan teman-teman puas banget makan dan ngobrol di sini. Memang beda ya kalau ngobrolnya sama yang udah pada nikah dan bersiap punya anak. Udah ga ngobrol galau kayak dulu lagi karena masih banyak hal penting lain yang perlu dipikirin *kayak biaya persalinan dan mau ngelahirin di mana* 😆 . Permasalahan hidup emang masih banyak, tapi kita yang milih untuk lebih fokus menyelesaikan permasalahan yang mana.