Divide Tour 2019

Akhir tahun 2018 saya impulsif membeli tiket konser Ed Sheeran bersama seorang sahabat untuk menemani seorang sahabat kami yang sudah membeli tiketnya terlebih dahulu. Akhirnya pada bulan Mei 2019 Ed Sheeran benar-benar mengadakan konser di Indonesia setelah setahun sebelumnya gagal konser karena mengalami cidera.

Konsernya sendiri diadakan di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Di tempat seluas dan semegah itu, Ed Sheeran tampil seorang diri menghadapi ribuan penggemarnya. Buat saya sendiri itu pengalaman yang luar biasa menonton konser di Gelora Bung Karno.

Pengalaman tak terduga yang saya dapatkan ketika menonton konser ini adalah saat tahu One Ok Rock menjadi band pembuka dari konser Ed Sheeran!!! One Ok Rock adalah salah satu band beraliran rock dari Jepang. Kalau beberapa tahun lalu sempat menonton Samurai X edisi film bioskop, mereka adalah band yang menyanyikan soundtracknya. Seneng banget rasanya saya bisa ketemu dengan Taka, Ryota, Toru, dan juga Tomoya dan mendengarkan lagu-lagu mereka secara langsung. Apalagi mereka bernyanyi hingga 45 menit!!! Saya berasa dapet kado manis!!

berhubung duduknya agak jauh sampai burem fotonya ><

Pukul depalan tepat, konser Ed Sheeran pun dimulai. Ia menyanyikan lagu dengan suara yang prima. Seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa saya tidak merencanakan untuk menonton konser Ed Sheeran. Tapi, saat konsernya berlangsung, saya merasa dinyanyiin gitu sama Ed Sheeran!! Sebut saja lagu seperti dive dan castle on the hill yang rasanya lagi pas banget menggambarkan hidup di bulan-bulan itu. Saya juga tidak menyangka semua lagu dan liriknya saya cukup hapal, minimal bagian reff-nya seperti galway girl, lego house, ataupun Nancy Mulligen. Mungkin efek sering dinyanyikan saat karaokean seperti lagu happier, the a team, perfetct, pphotograph, serta shape on you. Sudah paling bahagia saat mendengar lagu thinking out loud karena saya suka banget sama video klipnya.

Saat sebelum konser, saya mengira tidak akan ada teman yang menonton konser Ed Sheeran. Ternyata begitu konser selesai, banyak abnget yang update di IG Story dari berbagai sudut!! Paling bikin terharu ada seorang teman yang ternyata kita sama-sama menonton konser dan sudah lama banget ga ketemu, tiba-tiba nge-DM via instagram dan ngobrolin soal konser Ed Sheeran ini dan berakhir dengan dia mengirimkan Dim Sum Inc dong!!! Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Lengkap sekali kebahagian hari itu.

Menemukan Jurnal di Mucca

Setiap awal tahun saya selalu mencari jurnal yang bisa saya gunakan untuk menulis kegiatan, perasaan, jadwal, atau lembaran-lembaran tiket yang saya tempel sebagai bentuk kenangan karena pernah ke sebuah tempat. Tahun ini saya mulai kebingungan karena dari akhir tahun belum menemukan jurna yang saya inginkan. Pilihan terakhir sudah tentu buku tulis dari Muji dengan kertas-kertas polosnya.

Sampai saat saya berlibur ke Penang, secara tidak sengaja menemukan sebuah toko yang khusus untuk membuat buku jurnal bernama Mucca. Awalnya keinginan saya dan sepupu untuk mampir ke Mucca adalah warna tokonya yang berbeda dari toko-toko yang lain, berwarna biru tua dan terletak di pojok jalan. Saat masuk ke dalam toko, saya dapat segera merasakan kehangatan dari tokonya sendiri!! Saya beneran berada di toko yang tepat!

Mucca baru membuka tokonya di pertengahan tahun 2019. Sebelumnya mereka biasa menerima pesanan secara online. Duh beneran deh, saya dibuat kagum dengan servis yang diberikan oleh para penjaga tokonya. Satu orang menemani tamu di awal untuk memberi tahu bagaimana memebuat jurnal yang diinginkan. Pertanyaannya pun cukup detail, sehingga saya yang biasa terima jadi jurnal, jadi harus berpikir 😀 . Mereka akan bertanya tujuan dibuat jurnalnya, apakah untuk bullet journal seperti yang sedang tren, untuk keperluan kerja, menulis resep, atau untuk apa. Kemudian cover yang diinginkan mau yang berbentuk hard cover atau yang soft cover, dan mereka punya banyak warna untuk setiap cover-nya. Begitupun pilihan kertas, tulisan di kertas-kertasnya, serta tebal-tipis kertas semua ada!! Pembatas antar bagian, pembatas jurnalnya, mau ada tempat untuk menyimpan bolpen, sampai beragam penutup bukunya ada semua. Untuk lebih lengkapnya boleh cek ricek di web mereka.

suasana di dalam toko

Saya benar-benar kebingungan saat itu. Untungnya ada mbak-mbak penjaga toko yang berbaik hati mengarahkan mengenai kebutuhan-kebutuhan yang saya inginkan untuk jurnal. Selain itu ada selembar kertas yang juga dapat membantu kita menentukan pilihan mulai dari jenis cover, hingga nama yang akan dicetak di bagian depan jurnal. Ya ampun, kayaknya setengah jam saya berkutat mengelilingi toko untuk melihat-lihat apa saja yang saya inginkan untuk si Jurnal ini. Setelah selesai, ternyata saya juga diajak untuk menetukan berapa banyak partisi yang diinginkan, jumlah kertas ditiap partisinya, apakah jenis kertanya mau dicampus atau tidak, dan lain-lain. Setelah semua sudah dipastikan, jurnal pun mulai dijilid. Proses ini memakan waktu hanya 30 menit!!

Selama menunggu, saya dan sepupu lebih banyak diam. Ia menggambar orang yang datang dan pergi, sedangkan saya asyik melihat bagaimana penjaga toko bekerja, menyapa pengunjung, serta memandangi wajah-wajah mengunjung yang asyik dan seru dalam memilih apa yang mereka inginkan ada di jurnalnya. Waktu 30 menit berlalu begitu saja. Salah seorang penjaga toko yang berbeda mendatangi saya untuk memastikan bahwa hasil jilidnya sudah benar sebelum membungkusnya dengan kotak. Setelah semua selesai, saya benar-benar seperti menerima kado awal tahun!! Senang sekali rasanya.

beautiful present!!

Saat kami pun memutuskan untuk keluar, seorang penjaga toko berbicara kepada sepupu bahwa ia ingin melihat hasil dari gambar yang dilakukannya selama menunggu saya. Ternyata penjaga tokonya ngeuh kalo digambar sama sepupu!! Ia memuji hasil gambar sepupu yang dapat menangkap kekhasan dari dirinya, dan selain itu kami sempat menebak-nebak pengunjung mana yang digambar oleh sepupu. Beneran heboh dan sempet pada memotret hasil gambarannya. Sepupu sendiri hanya bisa tertawa dengan muka merah dan malu di belakang saya. Keluar-keluar kami berdua membawa cerita dari Toko Mucca. Beneran tidak hanya tokonya yang hangat, tapi juga orang-orang di dalamnya.

Super Show 8!!

Sudah hampir sepuluh tahun sejak anggota Super Junior silih berganti melakukan wajib militer sebelum akhirnya semua selesai dan berkumpul. Sudah pasti ajang Super Show 8 menjadi reuni Elf (sebutan untuk fans Super Junior) dengan idola mereka secara lengkap. Meskipun begitu, harapan untuk melihat kesembilan anggota Super Junior tetap saja pupus. Kondisi kesehatan Heechul yang kurang mendukung, membuatnya jadi tidak bisa ikut dalam rangkaian konser Super Show 8 ini.

Super Show 8 yang bertajuk Infinite Time merupakan gelaran yang cukup besar karena membuktikan mereka masih bisa eksis setelah malang melintang di dunia Idol Korea selama 15 tahun. Saya sendiri mengenal mereka saat masih menjadi mahasiswa semester 5. Saat itu saya diccekokin temen-temen untuk menonton video klip “Sorry-sorry” dan dari sanalah pintu menuju boyband, girlband, band, Jazz Korea, serta variety show dan drama Korea yang hingga saat ini masih sering saya ikuti. Dengan alasan mengingat kembali awal perkenalan dengan Super Junior lah saya menonton konser mereka ini.

Konsernya sendiri diadakan di ICE BSD tepat pukul tiga sore, konsernya sore-sore dooong!!! Tumben banget kan yaaa! Awal konser dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya yang dilanjutkan dengan pembukaan intro lagu “Superman” yang serempak membuat Elf bernyanyi dengan menggoyangkan light stick yang telah berubah warna menjadi merah. Asliii pemandangan ini keren banget!!! Suasana nonton konser Kpop yang sudah lama tidak saya rasakan. Selain itu saya lihat hanya ada di konser Kpop adalah fans project, contohnya saja seperti di konser Super Junior ini fans memiliki project saat lagu “Somebody new“. Khusus untuk lagu ini Super Junior menyanyikannya dari balik panggung dan baru keluar di pertengahan lagu. Saat itulah penonton konser serentak menghidupkan senter di hp. Efekya asli bagus banget!!! Berasa lagi nonton video klip.

Untuk saya pribadi, menonton konser KPop memiliki suasana sendiri yang berbeda dengan konser-konser artis lain. Di sini para penggemarnya memiliki light stick yang akan digunakan sepanjang konser. Mereka pun biasanya hafal dengan chant atau sahutan atau nyanyian dari penonton untuk idolanya saat konser berlangsung, sehingga menimbulkan ritme yang pas dengan lagu yang dibawakan. Beda banget dengan konser artis non KPop yang biasanya penonton akan lebih banyak nyanyi bareng artisnya.

Selain itu ada beberapa kali sesi Ment atau sesi artis akan memperkenalkan diri dan berinteraksi dengan fansnya saat konser maupun melucu. Sebut saja Siwon yang sempat-sempatnya mempromosikan Mie Sedap karena ia adalah bintang iklannya. Atau kelakuan Leeteuk yang bolak balik bilang “love is…..” dan menjawab dengan mengawang. Atau saat masing-masing anggota Super Junior memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Indonesia. Oh tentu tidak lupa saat Kyuhyun memperkenalkan diri dengan cara lebay. Inilah hal-hal yang bikin kangen saat menonton konser KPop. Apalagi untuk Super Junior yang mana mereka itu gesrek semua dan ga ada yang jaim. Kelakuannya ada aja yang bikin fans tertawa ataupun gemas. Bahkan saat bernyanyi lagu “Believe” mereka bernyanyi sambil ngebecandain anggota yang lain atau ikut ke mana kamera menyorot anggota yang sedang bernyanyi.

Sore itu Super junior benar-benar tampil prima, baik dari suara maupun koreografi yang dilakukan. Suara Yesung maupun Ryeowook udah pasti yang paling stabil dibandingkan yang lainnya. Selain itu ada kejutan untuk para Elf!! Line vocal dari Super Junior seperti Kyuhyun, Yesung, dan Ryeowook melakukan dance. Biasanya mereka jarang banget solo dance! Sedangkan geng rapper Super Junior seperti Eunhyuk, Shindong, serta Dong Hae menyanyikan lagu ballads seperti model di video klip karaokean dan pada akhirnya sukses bikin ngakak penonton konser. Kejadian lain yang membuat satu tempat konser ketawa ngakak adalah saat semua anggota Super Junior berupaya untuk ngerap ala-ala 90an. Asliiiii kocak banget!!!!

Saya sangat puas menonton konser Super Junior. Waktu konser sepanjang tiga jam sungguh tak terasa. Tahu-tahu lagu “sorry-sorry” yang menjadi lagu penutup pun sudah dinyanyikan. Tak lama encore mulai dilakukan dan diakhir anggota Super Junior kembali menyapa penggemarnya dan pamit undur diri. Beneran deh sopan banget. Biasanya kan abis encore kebanyakan penyanyi langsung undur diri yak. Ini sempet loh satu-satu ngucapin makasi ke penggemar dan pamit undur diri. Terima kasih Super Junior telah menjadi senior yang membuktikan bahwa mereka tetap bisa eksis dan bersaing sehat dengan junior-juniornya, tetap lucu dan apa adanya.

Perasaan-perasaan yang Mampir di Tahun 2019

Tahun ini adalah tahun yang menguras emosi, baik dari sisi romansa, pertemanan, maupun pekerjaan. Lengkap semua silih berganti datang mengetuk. Rasanya seperti dapet tamu yang terus-terusan dateng ke rumah. Senang, kesel, sedih, serta patah hati bolak balik sepanjang tahun. Mungkin ini juga adalah jawaban dari doa tahun lalu yang saya panjatkan ketika bertanya-tanya akan mendapatkan emosi macam apa di tahun ini.

Selain emosi yang udah berasa main roller coaster, saya juga banyak melakukan evaluasi terhadap diri sendiri, saya belajar untuk mundur. Mundur karena bukan waktu yang tepat dan juga (ternyata) bukan orang yang tepat. Rasanya belajar untuk mundur dan melepaskan harapan-harapan dan angan yang saya kira mampu dilakukan itu lebih sulit dari pada menerjang maju. Benar-benar sebuah pukulan telak buat saya untuk ga bersikap terlalu percaya diri dan lupa untuk berani berkomunikasi ketika perasaan sudah tidak enak. Memang apapun bentuk hubungannya, komunikasi dan saling mendengar adalah koendji!! Ini juga kayaknya merupakan jawaban lain dari pertanyaan saya tahun lalu terkait apa lagi yang perlu saya perbaiki di tahun ini. Beneran semua kontan dijawab sama Allah SWT.

Belajar untuk nyaman ketika sendiri pun menjadi upaya yang perlu kembali saya pelajari setelah beberapa tahun ini merasa nyaman dengan diri sendiri. Kaget sendiri sih saat saya dalam keadaan seperti ini. Kalau ini sih sudah pasti berhubungan dengan sesi romansa yang sempat bertamu di tahun ini. Saya juga ga nyangka sih bakal ketemu sama rasa ini lagi, rasa senang, gemas, dan juga kembali sepi saat sendiri. Seneng juga masih bisa merasakan lucu-lucu gemasnya perasaaan ini setelah lama absen 😀 .

Tahun ini pun saya punya banyak kenalan yang berakhir menjadi teman-teman dekat. Sesuatu yang beberapa tahun lalu tidak pernah terbayang bisa mendapat banyak teman baru karena seringnya duduk bekerja dan bengong di sebuah kedai kopi.

Tahun 2019 sungguh berwarna dari berbagai sisi kehidupan. Rasanya lengkap dan nano-nano.

Terima kasih ya Ira, kamu sudah mau mendekap semua perasaan yang ada dan benar-benar memeluk semuanya sehingga ketika mereka silih berganti datang kamu bisa mengambil hikmahnya dan mau berubah menjadi lebih baik lagi untuk diri sendiri dan lingkungan. Ga papa ketika mendung menghinggapi dan hujan mulai turun, kamu pun ikut menangis, karena ini tidak selamanya. Tak lama hujan akan reda, pelangi akan muncul, udara segar akan kembali menghampiri dan kamu bisa kembali tersenyum. Mari menyamput 2020 dengan ritme hidup yang lebih pasti!!

PS, Terima kasih Mbak Gope sudah memfoto saya menggunakan kamera Fajar.

Ngobrolin Kedai Kopi

Sudah lama sejak terakhir saya duduk lama dan diam menikmati suara hujan di dalam sebuah kedai kopi. Saya rasa sejak akhir tahun lalu, setiap ke kedai kopi rasanya selalu riuh. Mulai dari ngobrol random dengan orang yang baru saya kenal di sebuah kedai kopi yang berakhir jadi teman makan bareng dan jadi ngobrol setiap ketemu. Ini beneran random kan?! Kalau engga saya sengaja ke kedai kopi yang sepi tapi untuk bekerja. Kalau udah selesai dan ingin mencari keriuhan tinggal ke kedai kopi yang itu dan saya akan ketemu banyak orang untuk mengobrol.

Berdiam di sebuah kedai kopi yang hangat, sendiri, menyelesaikan pekerjaan, dan membuat sebuah tulisan di blog, dan berakhir melihat hujan. Kayaknya kalau tidak kejebak hujan, saya tidak menyadari hal ini deh.

Mencari kedai kopi yang hangat, enak, tidak berisik, dan harga bersahabat itu gampang-gampang susah. Ada yang enak, tempatnya tidak terlalu nyaman. Ada tempat yang nyaman, sepi, dan hangat, tapi harganya terlalu over price. Akhirnya setelah beberapa bulan ini, saya menemukan lagi melalui sebuah kedai kopi di dekat rumah. 

Terkadang memang kita perlu mencari untuk bisa menemukan kembali titik keseimbangan dalam hidup. Di saat saya ingin menyeimbangkan diri dari riuhnya ketika bekerja di kedai kopi tertentu, saya kembali mencari di mana saya bisa bekerja dengan ketenangan. 

Bukan berarti saya ga suka keriuhan ya, saya senang sekali lewat sebuah kedai kopi, kita bisa bertemu dengan teman dan menjadi kawan ataupun rekan kerja. Saya selalu mengusahakan untuk ke sana di akhir minggu untuk melepas penat setelah bekerja selama seminggu. Bertemu dengan orang-orang yang sama lelahnya dengan kerjaan dan pengen ketawa-ketawa menghadapi akhir pekan.

Ah akhir tahun sudah diujung sana, selamat berlibur, selamat menjelang akhir tahun.

Bulan Pertambahan Usia

Bulan Agustus merupakan bulan kontemplasi dan juga bulan saya bertambah usia. Kalau tahun lalu banyak hal yang terjadi, tahun ini saya banyak merasa. Berbagai perasaan datang silih berganti, mulai dari perasaan seru, senang, asyik, kaget, sedih, tak berdaya, lega, semua dirasakan. Lagi-lagi saya pun memikirkan apa yang bisa dilakukan agar saya tidak berenang dan berlarut-larut dalam perasaan ini. Merasakan dan menyambut semua perasaan memang perlu, tapi diingat itu semua adalah tamu di hati kita, jadi jangan membuatnya tinggal hingga berminggu-minggu di sana.

Pengalaman setahun ini pun tidak kalah kaya. Banyak hal baru yang saya lakukan, ada kesempatan-kesempatan yang datang dan saya ambil. Beberapa ada yang saya lepas, namun beruntung tak ada yang jadi sesal.

Beberapa hari lalu saya seperti mendapat jawaban dari keresahan hati dan pertanyaan beberapa bulan terakhir ini. Saya sempat bertanya-tanya apalagi yang harus saya selesaikan saat ini hingga saya menjadi tidak fokus dengan apa yang harus dikerjakan. Saat tersadar, cukup jauh saya berjalan dan akhirnya memilih untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan saat ini.

Di akhir bulan saya mendapatkan pencerahan mengenai masalah dan halangan yang perlu dihadapi selama hidup. Seringan atau seberat apapun rintangan akan selalu datang di dalam hidup. Bentuknya bisa macam-macam dan apapun itu memiliki tujuan untuk membuat kita menjadi lebih baik. Sesederhana ketika saya memaksa diri untuk bisa menghapalkan dongeng untuk kegiatan klab ibu dan anak. Dari dulu saya ga pernah suka dengan hapalan, itu pula yang membuat saya memilih untuk masuk IPA dibandingkan IPS. Bulan ini saya dipaksa untuk dapat menghapalkan dengan tepat sebuah dongeng yang menurut saya cukup panjang. Mungkin terdengar sederhana, tapi ini lumayan bikin stres loh!!

Baru kali ini saya merasa umur itu bukan hanya masalah angka, tapi selalu ada tujuan dan maksud sendiri-sendiri dari umur yang menempel di kita.

Kopi, Teh, dan Cokelat

Saya selalu menyukai ketiga minuman ini. Uniknya setelah saya perhatikan, saya memiliki waktu dan kegiatan yang berbeda untuk ketiga jenis minuman yang paling enak dinikmati saat hangat. Saya pernah berbagi ide ini dengan beberapa orang dan mereka akhirnya mencoba melihat perilakunya saat sedang memesan ketiga hal ini dan menarik banget!!

Untuk yang pertama adalah kopi. Saya hampir selalu membutuhkan kopi saat sedang bekerja. Seorang guru pernah berkata bahwa ia perlu secangkir kopi di pagi hari untuk membantunya fokus ketika bekerja. Hal ini sangat saya aamiini karena itu juga yang merupakan alasan saya meminum kopi. Apalagi ketika laporan sedang menumpuk tapi ga punya niat untuk bekerja, kopi merupakan bentuk rangsangan yang membantu saya lebih konsentrasi mengerjakan tumpukan laporan.

Berbeda lagi dengan teh. Duduk dan meminum teh biasa saya lakukan ketika ingin berkarya atau melakukan pekerjaan yang butuh kreativitas. Teh yang diminum bukan teh kot*ak atau teh bot*ol ya atau es teh yang biasa dipesen saat makan siang. Tapi memang memesan teh untuk melakukan kegiatan. Selain itu minum teh juga enak banget sambil makan kue dan mengobrol bersama teman. Ketika menuliskan ini, saya jadi sadar mungkin karena ini apabila di negara-negara Eropa mereka punya kebiasaan untuk waktu minum teh.

Selain kedua mood yang terbangun saat meminum kopi dan teh, mood yang dibangun dengan meminum segelas cokelat hangat pun berbeda. Seperti judul blog ini, cokelat hangat, hujan, dan novel merupakan perpaduan paling pas. Untuk saya cokelat itu membuat rileks sehingga cocok banget diminum saat saya ingin beristirahat serta memiliki waktu untuk diri saya sendiri. Selain itu ketika udara Bandung lagi dingin banget seperti akhir-akhir ini, cokelat hangat sudah pasti menjadi teman terbaik.

Kalau temen-temen memilih minuman sesuai dengan kegiatannya juga ga?