Halo Agustus!! Halo Tanggal Delapan!!

Hari ini saya kembali berulang tahun, menghitung berkurangnya umur saya di bumi. Tahun ini merupakan tahun terakhir saya memiliki usia kepala dua!!! Yah ini juga sih yang membuat saya sampai menuliskan keresahan menjelang bulan Agustus. Tetapi kegalauan kemarin ga berlangsung lama. Seminggu kemudian saya diberi beberapa kebahagiaan kecil yang datang silih berganti. Manisnya beneran mengingatkan untuk selalu bersyukur, berpikir jernih, dan kembali melihat apa yang sebenernya saya inginkan.

Sepanjang perjalanan menuju usia 29 ini, saya banyaaaakk banget dihadapkan pada pertanyaan mengenai nilai-nilai yang ada disekitar saya. Ada beberapa kejadian yang ga pernah saya bayangkan ternyata menjadi sebuah momen yang membuat saya kembali berpikir tentang banyak hal dan mengubah sudut pandang. Menjadi pribadi yang selalu sadar dan mindful memang ga gampang. Saya tetap belajar dan belajar untuk lebih menjejakkan kaki ke tanah yang hangat, merasakan dinginnya tetesan hujan, serta panasnya mentari.

Memiliki umur terakhir berkepala dua berarti saya diingatkan kebanyakan orang untuk segera menikah. Sampai ada seorang om yang mengatakan “jangan kebanyakan milih Ra!!”. Errr kalau kita milih sayur di pasar aja dipilihkan ya? Apalagi pasangan hidup. Okay, cukupkan dululah soal obrolan jodoh ini. Saya sih selalu percaya bahwa semua ini sudah digariskan sama Tuhan YME. Jodoh tentu akan ketemu kalau sudah waktunya.

Mari bersyukur. Saat ulang tahun ini, saya masih diberi umur untuk bisa makan nasi kuning bareng sama keluarga dan temen-temen terdekat *yah walau minus si adik super sibuk itu yah*. Saya juga sepanjang sore ngobrol ngalor ngidul bareng adik yang baru kemaren-kemaren ketemuan. Seneng rasanya bisa ngobrol, dapet informasi baru, dan juga sudut pandang baru.

Bagian menarik dari hari ini adalah ketika saya masih diberi kesempatan untuk menikmati momen bertambahnya usia dalam situasi yang damai dan tenang ditemani segelas cokelat hangat dan tetesan air hujan. Benar-benar hadiah indah dari Tuhan YME!!

IMG_0083

Merayakan ulang tahun dengan segelas cokelat hangat ditemani hujan

Hai perjalanan 29 menuju perubahan angka di depan, mari gandengan menjalani hari-hari dengan lebih sadar lagi.

Menjelang Agustus

It’s time to meet myself in the mirror. Someone looks at me. It’s just another side of myself. I just wanna smile. 

Sebulan ini perasaan saya naik turun. Mungkin ini efek ritme hidup yang beberapa bulan lalu berantakan sehingga efeknya masih terasa hingga hari ini. Ritme saya pun mulai berangsur-angsur pulih walaupun bagian begadang masih jadi pr.

Kalau sudah begini, saya biasanya memilih untuk kembali duduk di pojok-pojok tempat ngopi dan berkontemplasi sendiri. Kayak ngajak ngobrol dan merasa-rasa berbagai emosi yang lagi berkunjung. Saya pun sampai ke suatu kesimpulan bahwa semua perasaan ini terkadang datang menjelang bulan Agustus.

Agustus merupakan bulan di mana saya lahir. Jadi memang sering menjadi tempat saya check point atas kemajuan yang telah saya buat setahun belakangan ini. Sebenernya ada beberapa kemajuan yang saya buat ditahun ini. Sebut saja soal drama tesis dan dua kali sidang yang telah berakhir, wisuda di tahun ini, memutuskan untuk mengikuti training yang kayaknya dulu ga pernah kepikiran akan nyemplung ke sana, mencoba untuk tinggal di sebuah tempat lebih dari satu minggu, mencoba berbagai hal baru, berkenalan dengan lingkungan yang sebelumnya saya lihat dari jauh, mencoba melihat kota dari sudut pandang yang lain, serta merencanakan sebuah perjalanan yang menurut saya cukup lama. Banyak yah!!

In the morning, everything is alive, as always. But still, the darkness gets me down and won’t set me free.

Tapi belakangan saya merasa ada yang kurang. Mungkin karena pencapaian saya ini berbeda dengan teman-teman seumur yang sudah menikah, bahkan sudah memiliki dua anak, serta punya pekerjaan yang steady. Memang ya rumput tetangga itu selalu lebih hijau!!

Hal itu juga yang membuat saya ingin kembali menata semua aspek dalam hidup saya. Tahun lalu saya bisa melewati ini semua dengan tenang. Maka tahun ini saya pun kembali ingin berdamai dengan perasaan perasaan ini.

I’ll be ok. 

*cetak miring adalah lirik lagu CN Blue berjudul Be OK

Medan: Bersedih Hati di Istana Maimun

IMG_9387

Sejak mendapatkan kesempatan untuk kerja ke Medan bulan Februari 2017, rekan sekantor sudah mewanti-wanti agar kita pergi ke Istana Maimun.
“Biar lihat istana lain selain Keraton teh!!”.
Bener juga, selama ini kita lebih akrab dengan istana-istana dari kerjaan di Jawa. Sedangkan eksplorasi ke istana lain di Indonesia saya hanya pernah mengunjungi Istana Pagaruyuang di Batu Sangkar. Ya itu mah keharusan yak buat berkunjung ke Istana leluhur sendiri saat pulang kampung 😀 .

Saat ada waktu kosong di siang hari, pergilah kami berdua ke Istana Maimun. Sampai di sana, saya melihat hamparan lapangan besar dan Istana yang berdiri di bagian tengah sedikit ke belakang. Terasa mewah dan lapang dengan warna kuning terang. Kekhasan dari Istana Maimun adalah bentuk bangunannya yang berupa rumah panggung dengan atap depan seperti  kubah masjid. Melihat Istana Maimun berarti melihat keberagaman budaya, mulai dari unsur kebudayaan Melayu,  gaya Islam, India, Spanyol, serta Itali. Kalau dilihat-lihat posisi Istana Maimun juga tidak jauh dari Masjid Raya Medan.

Walaupun kekaguman itu sayangnya tidak berlangsung lama. Istana yang didirikan oleh Kesultanan Deli itu berdiri menyedihkan 😦 . Saat saya ke sana bulan Maret 2016, Istana ini terlihat kurang terawat. Saat masuk ke dalam, tidak tampak ada pemandu yang mendekati kami berdua. Kami pun melihat-lihat sekeliling dengan bingung. Di tengah kebingungan itu, kami dikagetkan dengan banyaknya orang berjualan cinderamata serta penyewaan kostum diruangan bagian belakang. Kami pun sesekali ikut mencuri dengar dari pemandu yang menceritakan sejarah museum kepada serombongan turis lokal. Sisi bagian depan museum pun lebih banyak debunya. Hanya pada bagian singgasana raja yang lebih terawat. Mungkin karena jadi tempat orang berfoto lengkap dengan baju sewaan sehingga lebih terjaga kebersihannya.  Saat melihat bagian sayap kanan dari museum, saya merasa bagian tersebut ditinggali oleh warga. Keliatan dari jemuran yang ada di bagian depannya. Saya sampai bengong saat melihat ada jemuran di istana. Ini istana loooh!!

IMG_9337

kelihatankan yah kemegahannya

IMG_9335

orang berjualan di dalam istana

IMG_9362

bagian kiri bangunan istana

IMG_9360

Memang harga tiket masuk sebesar lima ribu rupiah tentu tidak mencukupi untuk merawat istana ini. Padahal kalau dirawat, istana ini akan terlihat sangat megah dan lebih indah dari saat ini. Bagian dalam yang penuh dengan ukiran, bagian langit-langit dengan karya-karya geometri khas kebudayaan Islam itu kalau dipoles tentu bakal terlihat keindahannya. Jendela-jendela, bagian pagarnya itu juga bagus banget loh. Semoga pemerintah di Medan lebih menyadari tentang potensi wisata yang ada di Istana Maimun.

Tidak Apa-Apa untuk Menjadi Tidak Sempurna

Judulnya panjang banget ya!! Sebenernya pemikiran soal ini sudah lama ada di dalam kepala, cuma baru benar-benar diresapi ketika belajar merajut. Dipikir-pikir sistem pendidikan di Indonesia ini banyak mengajarkan anak untuk menjadi sosok yang mengejar kesempurnaan. Mulai dari anak-anak yang diajak berlomba untuk bisa baca, tulis, dan hitung diumurnya yang masih sangat muda, ataupun saat orang tuanya menjadi cemas saat anaknya merasa tertinggal ketika dibandingkan dengan anak lain. Saya yang punya keponakan aja, suka miris kalau ada yang ngomen ponakan saya kurang tinggi, kurang berisi, atau ketinggalan di beberapa tahap kembangnya kalau dibandingkan anak lain.

Ketika anak-anak di bangku sekolah, kejaran berikutnya adalah memperoleh nilai setinggi-tingginya. Saya dulu sampai menjadi orang yang pencemas kalau-kalau tidak mendapat ranking 5 besar. Rasanya salah dan dosa banget!!! Saat kuliah, kesempurnaan itu suka terjadi ketika mengerjakan tugas akhir baik skripsi maupun thesis. Pengalaman saya, yang bikin lama ngerjain itu karena maju mundur  untuk bimbingan. Bawaannya pengen bagus dan sempurna sehingga saat bimbingan udah boleh lanjut ke bab selanjutnya. Padahal itu ga mungkin banget!!! Kalau udah gini, biasanya jadi sedih dan kesel sendiri dan berakhir dengan melarikan diri berbulan-bulan sebelum akhirnya kembali lagi untuk bimbingan. Pembimbing thesis saya sampai bolak balik mengingatkan bahwa yang namanya penelitian itu ga masalah kalau akhirnya gagal. Namanya juga penelitian, ga harus 100% berhasil, yang penting ketika berhasil atau gagal kita bisa menjelaskan mengapa hal itu sampai terjadi.

Saat memasuki masa dewasa awal di umur 20an, tahap kesempurnaan yang dikejar pun berhubungan dengan tugas perkembangan seperti kudu cepet lulus kuliah, dapet kerja yang jelas dan punya penghasilan tetap, menikah dan punya anak. Kalau diumur 20 nyaris 30 belum ada ini semua, lagi-lagi rasanya gagal menjadi sosok sempurna.

Beberapa orang akhirnya menjadi sangat pencemas ketika ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai dengan rencananya, beberapa menjadi sangat kompulsi dan obsesif dengan setiap kesempurnaan. Terkadang saya pun jadi frustrasi ketika tujuan dan prosesnya tidak berjalan beriringan. Padahal namanya juga manusia, ga akan pernah sempurna. Selalu ada celah untuk salah, karena dari sanalah kita belajar menjadi lebih baik lagi. Kebayang ga sih kalau semuanya berjalan dengan sempurna dan tidak pernah salah? Bisa saja saya menjadi orang yang congkak dan sombong, kurang bisa berempati, dan berakhir menjadi orang yang narsis. Yah sekarang aja, masih ngasah diri untuk lebih berempati.

Sama seperti belajar merajut. Di awal saya suka sebel kalau salah dan bawaannya pengen ngulang dari awal. Saya pernah sampai 3 kali gagal membuat bandana karena bolak balik sengaja melepas talinya buat mulai lagi dari awal. Sampai harus diingatkan sama yang ngajarin kalau ga papa untuk salah dan ga sempurna. Karena baru pertama kali, baru mencoba, tidak masalah untuk ada beberapa yang salah dan ga rapi. Dengan begitu, kitapun belajar untuk menghargai setiap proses yang terjadi.

 It’s ok not to be perfect.

Berbagi Ide di Niyata

Niyata berasal dari Bahasa Sansekerta yang merupakan asal dari kata “nyata”. Kalau lihat dari webnya, TEDx ke-12 yang diadakan di Jakarta memiliki tema tentang merayakan keteraturan, bahkan alam pun bekerja dengan polanya sendiri dan diendapkan dalam jumlah kecil namun bermakna. Tema mengenai hal tersebut tertuang dalam ide yang disampaikan kedelapan pembicara yang hadir dalam TEDx Jakarta serta dua video dari TED Talk.

Kesepuluh orang ini menginspirasi dan membagikan ide yang secara nyata telah dilakukan dalam hidupnya masing-masing. Sebut saja ada Mbak Firly Savitri dengan Ilmuwan Muda Indonesia yang memiliki kegelisahan karena banyak adik-adik di sekolah yang belajar science hanya melalui buku pelajaran. Padahal science itu perlu dirasakan oleh anak-anak melalui percobaan di laboratorium. Sayangnya ga semua sekolah memiliki laboratorium yang mumpuni sehingga laboratorium portabel adalah jawaban untuk kegelisahannya. Dengan hal ini, bahkan anak-anak dan guru di pelosok negeri dapat melakukan percobaan science dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Duh rasanya pengen bawain laboratorium protabel untuk adik-adik di SDN Pangeureunan 5!! *ternyata belum move on*.

IMG_7440

Kejutan datang dari Faye Simanjuntak yang merupakan co-founder Rumah Faye yang merupakan organisasi non profit perlindungan anak di Indonesia khususnya mengenai isu perdagangan anak serta pelecehan terhadap anak. Saya terkejut karena ide ini datang dari anak berusia 15 tahun!! Such a young age!! Kayaknya waktu seumur Faye saya masih sibuk sama kehidupan sendiri dan dia udah mikirin nasib anak-anak seumurnya. Beneran salut sama orangtuanya yang membesarkan anak penuh empati kayak gini.

IMG_7443

Selain itu ada Ibu Adi Utarini dengan penelitiannya terhadap nyamuk demam berdarah serta Ibu Mirza Kusrini dengan penelitian terkait kodok. mungkin penelitian mereka terlihat nyeleneh dan aneh, tapi percaya deh bahwa pada dasarnya hal kecil pun dapat bermakna besar untuk kehidupan kita. Ibu Adi Utarini memilih “beternak” nyamuk demam berdarah untuk menyebarkan bakteri baik “Wolbachia” untuk menangkal penyakit demam berdarah. Sedangkan Ibu Mirza meneliti kodok demi keberlangsungan kehidupan ekosistem alam.

IMG_7466

Saya pun belajar dari Mbak Intan Suci terkait ramalan iklim beberapa tahun ke depan dengan melihat sejarah iklim di dunia melalui karang laut. Saya baru tahu bahwa karang laut memiliki arsip alam yang mirip dengan lingkaran tahun pada pohon. Bahkan sampel karang ini sampai dibawa ke mesin MRI untuk diteliti!!

IMG_7465

Selain itu masih ada Mbak Anindya Krisna yang sengaja pulang ke Indonesia untuk mengajar anak mudanya berlatih dan menjadikan balet sebagai pekerjaan. Ada Bunda Iffet yang merupakan manager Slank berbagi cerita mengenai perjalanannya dalam mengkawal karir Slank, khususnya di masa-masa sulit. Las but not least ada Mbak Dian Ara seorang designer game dengan lika-liku hidupnya.

IMG_7449

Dua video dari TED Talk pun menjadi penghibur dan memberikan sudut pandang yang berbeda dari suatu hal. Seperti Kate Adams yang bakal ngajak kita berpikir mengenai makna dibalik sinetron maupun James Veitch yang ngebalesin email spam.

They are so inspiring!! Saya merasa bahwa telah mengambil keputusan yang tepat untuk datang ke TEDx Jakarta. Diawal saya sempat maju mundur untuk dateng ke acara ini karena sebenernya saya diajakin untuk daftar sama seorang temen, tapiii saat hari pengumuman penontonnya yang diterima hanya saya. Saat di Gedung Kesenian Jakarta pun ternyata banyak yang senasib. I am not alone 😆 . Apalagi di awal acara kita bisa maen bingo dengan mencari orang-orang yang memiliki kriteria di kertas bingo. So we start to make new friends and talking to each other. Kalau ga kayak gini, saya ga mungkin ketemu orang yang bisa lancar nyebut huruf alfabet dari belakang, orang yang takut sama kupu-kupu, orang yang ga punya twitter atau facebook, atau orang yang sedang berusaha mengajukan paten buat penelitiannya. Terima kasih semua untuk obrolan singkatnya.

IMG_7584

Semoga saya bisa kembali hadir di TEDx selanjutnya. Sebagaimana semangat TEDx “The Ideas Worth Spreading”, cerita-cerita di TEDx kali ini benar-benar ide yang berharga untuk diresapi. Buat yang mau lihat videodari TEDx Jakarta 12 kemarin, bisa lihat di link ini.

Berawal dari Hati Berbagi untuk Anak Negeri

Gerakan untuk berbagi dengan anak-anak sekolah yang berada di pedalaman itu ternyata banyak banget. Beberapa diantaranya adalah Indonesia Mengajar, Kelas Inspirasi, dan 1000 guru. Dalam 1000 guru ini mereka memiliki program Traveling and Teaching yang dilakukan di banyak wilayah Indonesia. Setiap daerah biasanya punya organisasi regional 1000 guru sendiri seperti 1000 guru Bandung, 1000 guru Malang, 1000 guru Bogor, dan masih ada 32 regional lainnya.

Sudah lama saya tertarik dengan 1000 guru dan pengen ikutan Traveling and Teaching atau disingkat TNT, tapi setiap pengen ikutan, ada aja yang menghalangi. Hingga akhirnya bulan Mei kemarin saya bisa bergabung sebagai volunteer dalam program TNT#10 spesial Hari Pendidikan Nasional dari 1000 guru Bandung.

Untuk hari spesial ini, 1000 guru Bandung mendatangi sebuah SD di wilayah Kabupaten Bogor bernama SDN Pangereunan 5. Sekolahnya berada di Kampung Kubang, Desa Pangereunan, Kecamatan Blubur Limbangan Garut dan menjadi titik perbatasan antara tiga kabupaten sekaligus, Kab. Bandung, Kab. Sumedang, dan Kab Garut. Jalan menuju ke sananya sungguh berliku, berbatu, dan berupa tanah. Perjalanan ke sana aja kita perlu menggunakan kendaraan offroad.

Saya dan temen-temen yang ikutan TNT#10 dari 1000 guru Bandung memulai perjalanan jam sepuluh malam dan sampai di sana ada yang jam setengah tiga, jam setengah empat hingga setengah enam pagi. Kita datengnya beda-beda karena perjalanan yang lumayan menantang. Istirahat sebentar, dan siap-siap untuk ngajar di SDN Pangereunan 5. Selain persiapan mengajar, kami juga membawa perlengkapan sekolah yang akan dibagikan ke adik-adik di SDN Pangeureunan 5.

Saya deg-degan banget saat mau ngajar di sana. Ini efek pertama kali ikutan dan saya belum pernah berhadapan dengan anak SD untuk ngajar. Apalagi kami kebagian anak kelas 6 yang mau masuk SMP dengan materi cita-cita. Topik ini dipilih untuk memotivasi adik-adik kelas 6 untuk mau melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMP. Ternyata apabila adik-adik di SDN Pangeureunan mau melanjutkan sekolah ke SMP Negeri, mereka perlu pergi ke desa lain yang berjarak 1 jam dari sana. Duh melihat perjuangan mereka untuk sekolah, hati saya mencelos. SDN ini masih berada di Pulau Jawa dan masih perlu dibantu, bagaimana dengan SD-SD di wilayah lain? 😥

Setelah ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang, ternyata tingkat kesadaran masyarakat untuk mengenyam pendidikan pun masih kurang. Saya paham dan ngerti banget sih gimana lelahnya untuk orang tua nganter anaknya ke SMP di Desa lain yang jarak tempuh bolak baliknya bisa dua jam, belum masalah biaya. Untungnya sekarang sudah ada madrasah setingkat SMP di Desa Pangeureunan.

Kalau dilihat-lihat, desa ini benar-benar sungguh terpencil. Kondisi jalan yang berbatuan, licin, tanah, dan hanya muat satu mobil menambah kesulitan warga kampung. Untuk beli gas elpiji aja, mereka perlu menempuh jarak lebih kurang 5 km dengan kondisi jalan seperti itu!! Kantor kelurahan dan pusat kesehatan pun jaraknya kurang lebih 3 km.

_MG_6360

Upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional

Kami berada di Desa Pangereunan selama dua hari dua malam. Hari pertama kami berbagi cerita dan bermain dengan adik-adik di SDN Pangeurenan 5, sorenya kami kembali bermain dengan adik-adik serta orang-orang di Desa Pangeureunan. Sebagian dari kami pun melakukan pengobatan gratis di sana. Rasanya hati saya anget banget ngeliat muka-muka ceria adik-adik saat mereka kedatangan kami ke sana. Dipikir-pikir bantuan yang diberikan ga sebanding sama pelajaran dan pengalaman yang saya dapet di sini.

IMG_6088

salah seorang anak kelas 6 lagi berbagi pengalaman

Sampai di Bandung  pun, kami para volunter ini susah banget move on dari Desa Pangeureunan. Hingga salah seorang dari kami berinisiatif untuk membuat tulisan di instagram yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat, Pak Ahmad Heryawan dan diteruskan ke istrinya. Minimal itu lah yang bisa dilakukan oleh seorang diantara kami. Hingga ga lama dari situ, istrinya Pak Gubernur menanggapi. Itu beneran bikin geger satu grup whats app!! Suara kita didenger loh sama pemerintah provinsi dan diteruskan ke Bupati Garut. Hal ini bisa langsung dilihat dari instagramnya Pak Wakil Bupati Garut, @kanghelmi_budiman yang baru saja melakukan perjalanan ke Desa Pangeureunan. Salah seorang diantara volunter pun ada yang sempat ngobrol via pesan instagram dengan Pak Wakil Bupati atau mungkin adminnya. Bookkk…rasanya baru kali ini saya beneran ngerasain cepet dan tanggapnya Pak Gubernur beserta jajarannya. Sungguh ga salah waktu seorang dosen saya bilang soal sepak terjang pak Gubernur di wilyaha kabupaten. Makanya beliau dicintai warganya bahkan sampai naik dua kali jadi Gubernur kami di Jawa Barat. Semoga amanah dan niat baiknya memajukan wilayah Jawa Barat selalu dilancarin ya bapak-bapak semua.

IMG_6125

kakak-kakak volunteer dan adik-adik kelas 6 SDN Pangeureunan 5

Saya dan temen-temen volunter hanya melakukan sebuah langkah kecil. Semua dilakukan dari hati dan memang pengen berbagi buat adik-adik di daerah terpencil. Saya mah boro-boro mikir masalah travelingnya. Kegiatan sehari mengajar dan follow up-nya aja udah bikin hati hangat dan brebes mili.

IMG_6359

because their smiles are precious

Hai adik-adik di Pangeureunan, semoga senantiasa semangat belajar biar cita-citanya tercapai ya, aamiin. Semoga saya pun bisa dikasi kesempatan ikutan lagi TNT-TNT selanjutnya di berbagai wilayah Indonesia, aamiin.

_MG_6781-01

Salam lima jari!!
Berawal dari hati, berbagi untuk anak negeri.

*foto-foto berasal dari semua kamera hp kakak2 volunteer.
**untuk yang mau melihat video TnT#10 bisa ke sini