Jatuh dari Tangga

Rehat sejenak dari tulisan soal Asean Trip kemaren. Saya mau cerita soal kejadian yang menimpa saya pada hari Minggu. Kalau yang sudah follow instagram dan lihat ig story pasti tahu beberapa hari ini kaki saya lagi dibebat. Penyebabnya karena saya jatuh dari tangga rumah ><. Sebenernya kejadian ini lebih karena kecerobohan sih. Saya mengira pijakan terakhir adalah pijakan menuju lantai, ternyata meleset. Masih ada satu anak tangga yang harus dituruni. Badan saya ga siap dan berakhir dengan kaki kiri keplitek dan membengkak.

Sore-sorenya saya dan mama segera manggil tukang pijet untuk mijetin kaki dan “ngebenerin” sendi yang keplitek. Saat dipijet, rasanya sakiiiiittt bukan main!!!! Sama tukang pijet langsung dikompres air panas dan bolak balik dipijet agar urat-urat dan sendinya kembali ke tempat asalnya. Setelah itu kaki saya dibebat dengan dikasi parutan jahe terlebih dahulu. Rasanya malam itu saya susah tidur, kaki kerasa ngilu dan sedikit panas efek jahe.

Hari Selasa sore, kaki saya sudah beranjak pulih. Bengkaknya tidak sebesar hari Minggu, tapi masih terlihat biru di beberapa tempat. Saat dipijat kembali pun tidak sesakit hari Minggu. Tapi tetap harus dibebat dan dikasi jahe parut biar bengkaknya semakin hilang. Malamnya, saya merasa efek jahenya lebih parah dari hari Minggu. Terasa panas dan membuat kaki nyut-nyutan. Mungkin kalau hari Minggu saya masih berasa sakit dan syok sehabis jatuh jadi ga berasa panasnya.

Hari ini kaki saya bengkak merata, tapi bagian engselnya sudah tidak sebengkak kemarin. Semoga esok atau lusa bengkaknya menghilang dan kaki saya sembuh serta bisa beraktivitas maksimal kembali. Aamiin!!

Advertisements

Mengejar Matahari Terbit di Angkor Wat

Saya selalu berusaha bertemu matahari terbit saat berada di sebuah kota maupun negara yang sedang dikunjungi. Sinar matahari pagi itu seperti memberikan energi positif dan penyemangat untuk menjalani hari yang baru. Walaupun saya bukan tipe orang yang senang bangun pagi, tapi demi bertemu matahari yang terbit diufuk Timur saya pun jadi bisa bangun sebelum alarm menyala.

Begitupun ketika berada di Siem Reap. Saya bercita-cita ingin melihat matahari terbit dari Angkor Wat. Saya, Teh Zen, dan Teh Win sudah janjian dengan supir tuk-tuk kami untuk berangkat pukul lima pagi. Malam harinya saya berusaha tidur lebih awal yang tetep aja failed karena baru tidur jam duabelasan. Alarm pun sudah dinyalakan dari mulai jam empat subuh hingga pukul empat lebih lima belas menit. Keesokan harinya, saya baru mendengar alarm saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Gawat!!! Saya telat bangun!!!

Saya segera membangunkan Teh Win dan Teh Zen sambil beranjak ke kamar mandi. Kebiasaan banget untuk selalu mandi sebelum pergi >.< . Setelah mandi kilat, gantian Teh Zen dan Teh Win yang ke kamar mandi dan bersiap-siap. Pukul lima lebih lima belas menit kami baru berangkat dari hostel.

Jarak hostel ke Angkor Wat kurang lebih tujuh hingga delapan kilo meter. Saya segera bersyukur sudah membeli tiket dulu kemarin, kalau tidak rasa-rasanya belum tentu kami sempat mengejar matahari terbit. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi dan kami baru dua pertiga perjalanan, saya sudah mulai pesimis tidak bisa melihat matahari terbit. Di dalam hati hanya bisa berdoa, Ya Tuhan YME kalau memang diridhai, semoga berjodoh bertemu dengan sang matahari terbit.

Di jalan menuju Angkor Wat, saya mulai melihat banyak tuk-tuk yang berjalan beriringan, para turis yang sedang mengendarai sepeda motornya, serta turis yang menggunakan sepeda. Kami semua mengejar waktu untuk bisa melihat matahari terbit.

Saat berada di pertigaan danau menuju Angkor Wat, saya pun melihat pemandangan yang menakjubkan. Warna oranye mulai terlihat dikaki langit. Saya, Teh Zen, dan Teh Win hanya bisa menahan nafas melihat pemandangan itu. Rasanya waktu berhenti sepersekian detik sebelum saya mulai mengeluarkan hp untuk merekam momen yang barusan saya rasakan.

IMG_0715

Tuk-tuk kamipun melaju semakin kencang untuk mengejar momen munculnya matahari dari balik tiga bangunan di Angkor Wat. saat akan berbelok ke sebelah kanan menuju pintu masuk Angkor Wat, kami merasakan ban sebelah kiri dari tuk-tuk kami terantuk kerikil dan menyebabkan ban tuk-tuk kempes. Saya sudah pasrah membayangkan tuk-tuk kami akan berhenti di pinggir danau. Ternyata saya salah. Supir kami tetap melajukan tuk-tuknya hingga batas pemberhentian. Kami segera turun dan menuju tempat para turis melihat matahari terbit.

Begitu sampai pintu masuk menuju Angkor Wat, langkah saya terhenti. Terpana melihat pemandangan di depan saya. Warna jingga menyilaukan perlahan naik di balik gerbang Angkor Wat. Saya cuma bisa bengong sebelum akhirnya mengikuti Teh Win dan Teh Zen untuk melihat matahari terbit dari jembatan. Ditengah keterpukauan kami, akhirnya kita memutuskan untuk duduk-duduk menikmati matahari terbit dari danau yang mengelilingi Angkor Wat.

IMG_0767

IMG_0773

Saya, Teh Zen, dan Teh Win menatap matahari terbit cukup lama hingga matahari naik di atas Angkor. Sesekali kami mengobrol tapi banyaknya bengong dan terkagum-kagum dengan indahnya pemandangan di depan. Kami juga sempat membuka perbekalan sarapan dan asyik sarapan dengan masih memandangi sang matahari yang beranjak naik.

IMG_0780

Kebahagian lain saat melihat matahari terbit adalah saya bisa melihat bulan yang berada tinggi di atas. Langsung heboh sendiri bisa merekam pemandangan yang jarang terlihat, bulan berada di atas sementara matahari berada di bawah.

IMG_0733

did you find the moon?

Sebenernya lokasi yang paling terkenal melihat matahari terbit itu berada di depan danau teratai di bagian dalam Angkor Wat. Dari bagian ini kita bisa memfoto matahari terbit dengan pantulan angkor wat di air danau. Tapi berhubung kami dateng telat, ngebayangin harus berdesakan mencari spot foto udah bikin males duluan. Untuk mendapatkan spot foto bagus, biasanya turis-turis sudah mulai berdatangan dari pukul lima pagi. Saya sendiri udah bahagia banget masih dikasi kesempatan memandangi matahari terbit dari danau di luar Angkor Wat. Ternyata jodoh dan rejeki itu emang ga akan ke mana. Buktinya saya masih dikasi kesempatan melihat matahari terbit dari Angkor Wat

Memperlambat Langkah di Siem Reap

Berada tiga hari di Siem Reap berarti menikmati hidup dalam mode lambat dan melakukan hal-hal yang saya sukai. Saya bisa berjam-jam berada di common room hostel tempat menginap untuk membaca novel sambil sesekali melihat jalan di luar yang panas dan sepi. Saya juga bisa berjalan santai menikmati hiruk pikuk turis dan masyarakatnya di sekitaran Pub Street dan Night Market.

IMG_0578

common roomnya bikin betah!!

Siem Reap menjadi tempat turis singgah untuk mengunjungi salah satu situs warisan dunia, Angkor Wat. Praktis dari pagi hingga sore di dalam kotanya tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Selain ke Angkor Wat, daerah wisata lainnya memang lebih banyak berada di luar pusat kota Siem Reap. Sebut saja Kulen Mountain yang terletak 60km dari kota atau Banteay Stray yang juga jauh dari kota, belum lagi ada Culture Village dan juga Floating Village di Kampong Pluk.

Untuk di dalam kota, kita bisa menikmati Angkor National Museum yang menjelaskan mengenai Kerajaan Khmer serta Kompleks Candi Angkor Wat. Untuk yang ingin duduk duduk santai, ada Royal Garden yang rindang tidak jauh dari Royal Palace. Kita juga bisa menelusuri The Old Market yang penuh dengan souvenir khas Kamboja hingga makanan khas Khmer. Supir tuk-tuk kamipun sempat menawarkan untuk mendatangi killing field yang langsung kita tolak.

IMG_0611

Di hari pertama Saya, Teh Zen, dan Teh Win menginjakkan kaki di Siem Reap, kami hanya bepergian ke Angkor National Museum sambil berkeliling kota. Menikmati hembusan angin di tengah panasnya Siem Reap. Saran saya jangan lupa pakai sun block biar ga kebakar. Sore harinya kami membeli tiket Angkor Wat yang terletak di bagian counter ticket agar besok subuh bisa langsung masuk ke Angkor Wat demi menikmati matahari tebit. Sebenernya apabila membeli tiket pukul lima sore, kita bisa masuk kawasan Angkor Wat secara cuma-cuma untuk melihat matahari tenggelam. Tapi kami lebih memilih melihat matahari tenggelam esok hari dan memutuskan untuk melihat Angkor Panorama Museum. Di dalam sini kita bisa melihat maket keseluruhan dari kawasan Angkor Wat yang mana luas banget!! Saya sampai bingung besok mau ke mana aja 😀 . Saat akan keluar dari Angkor Panorama Museum, hujan turun sangat deras. Akhirnya kita bengong dulu sambil nungguin hujan berhenti. Malam hari saatnya jalan-jalan di Pub Street dan Night Market untuk mencari souvenir, makanan, dan melihat-lihat kehidupan di malam harinya. Di sepanjang Pub Street kita ketemu banyak pedagang kaki lima yang menjual buah-buahan, durian, martabak telur, hingga makanan aneh seperti kalajengking dan kecoa. Di area Night Market saya mendapatkan buku mengenai Angkor Wat dengan harga 8 USD. Lumayan buat dibawa dan dibaca saat mengunjungi Angkor Wat besok.

IMG_0633

Ticket Counter

IMG_0665

Hari kedua sudah tentu kami seharian di Angkor Wat. Ini mah beneran dari matahari terbit hingga tenggelam kami menjelajah Angkor Wat. Kami hanya kembali ke kota saat makan siang untuk mencari makanan halal. Setelah itu kembali ke hostel sebentar sebelum akhirnya kembali lagi ke kawasan Angkor Wat. Malam harinya kami mencoba salah satu tempat pijat untuk pijat kaki. Maklum seharian dibawa jalan keluar, masuk, naik, dan turun candi membuat kaki saya, Teh Zen, dan Teh Wina pegel-pegel!! Nah di Siem Reap kita akan menemukan banyak banget tempat pijat mulai dari yang bagus sampai yang biasa banget. Dari yang harganya 1 USD sampai 30 USD. Semuanya tergantung mau pijat berapa lama.

IMG_2300

Angkor Wat

Hari ketiga pagi lebih banyak kami habiskan dengan menyelonjorkan kaki di hostel serta packing. Kami baru keluar dari hostel 30 menit sebelum waktu check out. Pokoknya memaksimalkan waktu yang dimiliki untuk selonjoran. Ini sih beneran pegel-pegel dan capek setelah kemarin menjelajahi Angkor Wat. Berhubung penerbangan kami di malam hari, backpack pun dititipkan dulu di hostel. Setelah itu kami berjalan-jalan ke Galleries yang berada di sebelah Angkor National Museum untuk membeli beberapa cinderamata khas Kamboja. Ini adalah kesempatan terakhir kalau mau beli oleh-oleh Kamboja karena nanti malam kami akan melanjutkan perjalanan ke Thailand. Kami juga sempat mengirimkan kartu pos untuk beberapa orang di Indonesia. Setelah itu kita berpikir untuk mencoba sebuah tempat kopi yang juga memiliki menu vegan. Kayaknya ada kali yah dua jam berada di sana untuk ngobrol, menikmati makanan dan minuman yang ada di sana. Kami pun berdiskusi akan ke mana lagi untuk menunggu malam tiba dan pergi ke bandara. Teh Win keingetan ingin mengunjungi beberapa sekolah yang ada di Siem Reap untuk keperluan tugas kuliahnya. Ternyata menyenangkan ya melihat beberapa sekolah di Siem Reap. Rata-rata sekolahnya memiliki halaman yang luas untuk anak-anak bermain. Supir tuk-tuk aja yang kayaknya bingung saat kami memintanya mengantar ke beberapa sekolah yang ada di Siem Reap 😀 .

Kayaknya selama di Kamboja ini kami memang lebih santai saat berjalan-jalan. Banyak duduk dan menikmati suasana yang ada di sekitar. Ini beneran kayak terapi buat saya yang seringnya grasa grusu dan mengerjakan banyak hal. Seperti dipaksa buat lebih tenang, rileks, dan menikmati semua hal yang ada disekitar mulai dari panasnya Kamboja, deretan rumah, mengobrol buanyak hal dengan Teh Zen dan Teh Win, serta mengistirahatkan badan. Menuliskan soal Siem Reap ini bikin saya kangen pengen balik lagi ke sana.

Problem Solving

We live as human being, so fight or flight is not the only choice that we have.

We need to face our fear and our battle. Ini adalah saatnya untuk berpikir, merasakan, dan bergerak untuk menyelesaikan masalah. Karena segala sesuatu butuh akhir untuk bisa menutup satu pintu dan membuka pintu yang lain. Kebayang ga kalau banyak pintu yang dibuka dan ga ada satu pun yang ditutup? Saya bakal masuk angin!! Begitu juga dengan masalah-masalah mengganjal dalam hidup. Kalau punya masalah-masalah yang tidak terselesaikan, suka atau tidak akan mempengaruhi perasaan, pikiran, serta lingkungan di sekitar. Untuk masalah ini contoh paling gampang adalah dengan melihat anak kecil di sekitar. Saat saya lagi banyak pikiran, biasanya anak-anak disekitar saya akan lebih chaos dan jadi bikin stres. Ada ibu-ibu atau guru yang pernah merasakan ini? Rasanya udah lagi pusing malah tambah pusing dan emosi.

Everything need to be settled.

Saya termasuk yang mengamini bahwa sebelum masuk ke babak baru kehidupan, kita perlu menyelesaikan masalah-masalah yang mengganjal. Agar tidak terbawa pada kehidupan selanjutnya. Agar bisa beneran mengawali semuanya dengan tenang dan damai.

Some problems need to meet to be discussed directly

Cara paling mudah namun juga sulit untuk dilakukan adalah dengan bertemu langsung dan menyelesaikan masalah diantara kedua belah pihak. Untuk saling melihat perbedaan persepsi saat masalah itu datang. Untuk mengingatkan alam bawah sadar bahwa kejadian itu nyata adanya. Kalau kata seorang sahabat saya mah agar hidup kembali normal, tenang, dan damai.

Everyone need to move on

Ketika saya menghadapi dan menyelesaikan sebuah permasalahan, maka saatnya benar-benar beranjak dari tempat yang membuat kita ga move on. Terkadang move on itu bukan masalah perasaan atau rasa suka, tetapi juga mengenai pembicaraan yang mengambang, rasa penasaran yang belum terpuaskan, dan pertanyaan yang tidak terjawab. Kesemuanya mengakibatkan ada potongan dari diri yang masih menetap, memandang ke arah sana. Enggan beranjak.

the signs given during these two weeks leads me to the finish line. the timing is right.  I finally see how far we growth from the start…and I feel blessed. 

 

Bersantai di Sihanoukville

UBUW5348

Sihanoukville

Saat merencanakan jalan-jalan ke tiga negara, saya ingin memasukkan pantai di beberapa hari kami pergi. Saya sih bebas aja mau melihat pantai di Kamboja atau di Thailand, yang penting ke pantai. Kasian kak, anak gunung jarang liat pantai :’) . Awalnya sempat terpikir untuk ke Pattaya, tapi setelah melihat beberapa foto dan testimoni yang mengatakan betapa ramainya di sana kita mencoret Pattaya dari daftar.

Jadi mantai ke mana dong? Teh Zen pun mencetuskan untuk ke Sihanoukville. Awalnya saya ga tahu soal keberadaan Sihanoukville hingga melihatnya di google. Pantainya biru dan sepiiii. Teh Win pun setuju buat ke Sihanoukville. Setelah menghitung hari, kami menyisihkan waktu tiga hari dua malam di sini.

Perjalanan ke Sihanoukville ditempuh selama 5-6 jam naik travel dari Phnom Penh. Saya, Teh Zen, dan Teh Win sengaja memilih berangkat siang sehingga bisa sampai saat matahari terbenam. Apakah kita ngeliat matahari terbenam di hari pertama? tentu tidaaaakk. Kami memilih untuk meluruskan badan di hotel. Malamnya baru keluar untuk makan di Olive&Olive Mediterranean Food yang ada di dekat hotel.

IMG_0357

Makan malam pertama

Selama di Sihanoukville kita memang memilih untuk bersantai. Kehidupan di sini pun berjalan dengan lambat dan malemnya pun tergolong sepi. Ketika jam delapan memang ada beberapa bar yang memainkan musik. Tapi jam 11 malam udah pada selesai loh. Jadi sunyi lagi!! Kalau dilihat-lihat Sihanoukville memang kota transit untuk turis yang ingin menghabiskan waktu di pulau-pulau sekitar Sihanoukville seperti Pulau Koh Rong. Kalau kita sih udah seneng bisa leyeh-leyeh santai di Sihanoukvillenya.

Di pagi hari kedua, kami berjalan menuju Pantai Serendipity. Menurut temen saya yang pernah ke Sihanoukville, pantai ini sebenernya ga direkomendasikan karena termasuk kotor dan banyak yang jualan. Kenyataannya pantainya lebih bersih dan jernih dibandingkan Kute!! Memang sih beberapa kali saya menemukan sedotan atau kaleng minuman, tapi ga banyak. Airnya pun jernih!! Saya betah loh maen air di sini. Kita bahkan menemukan banyak ikan yang berenang sampai bibir pantai. Lucuuu banget!!

IMG_0368

Serendipity Beach

Kami pun berjalan hingga sampai di Pantai Oucheuteal. Pantai ini terasa berbeda dengan pantai sebelumnya. Kalau di Pantai Serendipity kehidupan pantainya baru berjalan sore ke malam mengingatkan saya akan Jimbaran Bali. Sedangkan Pantai Oucheuteal dari pagi sudah menggeliat. Kursi-kursi pantai di pasang dan kalau mau duduk di sana mesti bayar 10 usd!! Selama main di pantai ini pun akan banyak tukang pijat, pedagang kelapa muda, seafood bakar, serta tukang gelang yang menjajakan jualannya. Untuk yang mau snorkeling atau bermain jet-ski bisa meminjam peralatannya di Pantai Oucheutal.

IMG_0403

Pantai Oucheuteal

Saat matahari semakin naik, kami memutuskan untuk berjalan kembali ke hotel sambil mencari makan siang. Sepanjang perjalanan kami merasakan sepinya Sihanoukville. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang loh!! Untuk makan siang kami mencoba makanan Turki yang berada di perempatan jalan sambil leyeh-leyeh di bawah pohon rindang. Porsi makanan yang besar membuat kami enggan segera beranjak dan memilih untuk menikmati siang di sana.

IMG_0432

our lunch at Benetton Turkish Food

IMG_0436

porsi besar

Sore harinya kami pun ingin melihat matahari tenggelam dari pantai yang lain, Pantai Otres yang berjarak sekitar 8 km dari Serendipity. Tentu saja kami memilih untuk memakai tuk-tuk ke sana. Enak banget rasanya naik tuk-tuk yang berjalan pelan di Kamboja. Tuk-tuknya beneran beda deh sama tuk-tuk Bangkok. Di Pantai Otres, matahari ternyata masih tinggi dan terlihat awan mendung 😦 . Sambil menantikan matahari turun lagi-lagi kami bermain air, mengobrol, dan memandang pantai. Saya bahkan menemukan ayunan dan asyik main ayunan dulu 😀 . Pantai Otres banyak dipilih turis karena memang lebih tenang daripada Pantai Oucheuteal. Di pantai ini ga banyak yang keliling menjajakan makanannya. Kita pun lebih enak buat duduk-duduk beralaskan pasir pantai dan bengong ngeliatin laut.

IMG_0457

Pantai Otres

IMG_0455

CKDE6341

jump!!

Pulang dari Pantai Otres kami memilih untuk mencoba makan seafoodnya yang ternyata biasa aja. Lebih enak makan di Olive&Olive deh. Malamnya daripada ngobrol di kamar, kami memilih mencoba Sushi Bar yang berada di seberang hotel. Asli asyik banget deh memilih hotel di dekat Serendipity Beach karena banyak banget tempat makan dan supermarketnya.

IMG_0514

IMG_0517

Keesokan harinya kami masih bisa bermain sebentar ke Serendipity Beach sambil menunggu jadwal travel untuk transit ke Phnom Penh dan dilanjutkan dengan bus malam ke Siem Reap.

Bahagia banget rasanya bisa bersantai sejenak di Sihanoukville. Saya suka banget sama pantainya yang sepi, pasir putihnya yang lembut banget kayak bedak tabur, airnya yang jernih berwarna  biru tosca, dan waktu yang berjalan dengan santai dan damai di sana. Menuliskan soal Sihanoukville jadi kangen main air lagi!!

You Can’t Take Depression Lightly

Image result for world suicide awareness day 2017

Sepuluh September merupakan Word Suicide Prevention Day atau yang di Bahasa Indonesia menjadi hari pencegahan bunuh diri sedunia. Beberapa teman dari psikolog Bandung pun beramai-ramai menyebarkan pesan bertagar psikolog peduli untuk menyebarkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mencegah bunuh diri terjadi di Car Free Day Bandung pada hari Minggu.

Hal ini mengingatkan saya akan Chester Bennington yang memilih bunuh diri karena depresi. Kematiannya sangat tiba-tiba dan membangkitkan ingatan untuk selalu aware dengan orang-orang yang mungkin memiliki depresi tapi kita ga sadar. Kita ga pernah tahu mau di luar kelihatan sebahagia apa tapi di dalamnya mah ga ada yang pernah tahu kegelapan yang mungkin sedang mereka alami.

Depresi ga bisa dianggep sebagai suatu masalah yang mudah. We can’t just say that they need go to psychologist or psychiatry. Apalagi dengan masyarakat kita yang masih aneh banget kalau ada orang mau curhat ke psikolog, padahal berat atau entengnya masalah itukan balik lagi ke yang ngejalanin. Kita ga bisa menjudge masalah putus si A dan si B itu sama, atau masalah keluarga si C dan si D itu sama. Pola asuh dan cara didik mereka hingga jadi individu aja beda, pengalaman serta perasaan-perasaan yang terjadi pun beda, gimana mau disamain?! Tiap individu itukan unik. Itu pulalah yang membuat saya sebagai manusia perlu memanusiakaan manusia. Sesuatu yang belakangan ini jadi hal yang jarang ditemui. Kesannya harus ikut suatu golongan dan ga boleh berada di wilayah abu-abu atau punya pandangan yang berbeda dari pada kebanyakan orang lain.

Orang-orang yang depresi pun ga bisa dengan mudah diomongin bahwa mereka kurang kuat imannya atau “kalo lo bunuh diri dan nyerah lo bakal masuk neraka”. Please don’t play God in here. Dunia ini mungkin udah jadi neraka tersendiri buat mereka. They even don’t know what to do to solve their problem.

Please kalau ada orang yang merasa kesulitan untuk masalah yang sedang dihadapinya, kita jangan ngejudge dengan mengatakan “yaelah masalah gitu doang”. Mungkin buat mereka itu adalah masalah terbesar dan terberat yang pernah mereka dapatkan. kalau ada temen atau orang seperti ini, kita sebagai orang terdekat bisa membantu dengan mendengarkan mereka untuk menyadarkan bahwa mereka ga sendiri dan kita akan selalu ada buat mereka ketika ada masalah yang sulit.

Kita sebagai support system itu menjadi bantuan yang berharga untuk mereka. Ga usah jauh-jauh nyari contoh. Beberapa tahun yang lalu saya beneran kebantu dengan support system yang ada di sekitar sehingga bisa melalui patah hati dengan lebih cepat. Selain support system, melakukan kegiatan-kegiatan seperti yoga, maen musik, olahraga, atau kegiatan yang pernah bikin nyaman bisa coba kembali dilakukan oleh orang yang sedang menghadapi depresi. Sebagai temen, kita juga bisa mengingatkan temen yang depresi untuk lebih memperhatikan hidupnya dengan makan yang bener, tidur yang cukup, atau melakukan teknik relaksasi. Karena kadang orang yang sedang depresi ga sadar dengan kesehatannya. Mereka bahkan ga merasa laper yang berarti bisa bikin mereka dehidrasi ataupun ngebuat badan jadi lemes. Terakhir, orang-orang depresi juga membutuhkan bantuan profesional sehingga mereka bisa lebih adjust dengan masalahnya seperti bantuan dari psikiatri maupun psikolog.

It’s okay to be not okay. But please, choose to life. Because every soul in this world is precious

*pict taken from here

Bad Genius

Film yang berhubungan dengan sekolah bisa dilihat dari banyak sisi. Mulai dari drama sekolahnya, hubungan antara siswa, hubungan siswa dengan guru, politik di dalam sekolah, bahkan urusan ekskul di sekolah. Bad Genius memilih sisi yang berbeda, mencontek. Bad Genius terinspirasi dari kisah nyata pembatalan nilai SAT – tes standardisasi bagi pelajar yang ingin melanjutkan kuliah di universitas-universitas Amerika Serikat – setelah terbongkar adanya praktek menyontek massal dalam ujian di Tiongkok. Yah ga perlu jauh-jauh juga sih, sejak zaman saya SMA pun praktek contek mencontek ini pun udah ada. Tapi ga pernah sekeren di film Bad Genius!!

Bad Genius menceritakan mengenai Lyn (Chutimon Chuengcharoensukying) seorang siswa cerdas yang masuk ke SMA bergengsi dengan mendapatkan beasiswa penuh. Di sana ia berteman dengan Grace (Eisaya Hosuwan) seorang siswa cantik namun memiliki nilainya ga cukup untuk dapat menjadi bagian dari ekskul drama sekolah. Lyn pun membantu Grace belajar dari soal-soal les yang didapat dari gurunya. Saat hari ujian, Lyn menyadari bahwa soal ujiannya sama persis dengan soal-soal les yang didapatkan Grace, namun Grace tetap tidak bisa menjawab ujiannya. Akhirnya Lyn membantu Grace dengan memberikan contekan. Grace pun menceritakan hal ini kepada pacarnya yang bernama Pat (Teeradon Supapunpinyo). Pat yang kaya raya menawarkan sejumlah uang kepada Lyn untuk membantunya dalam ujian. Di sanalah awal mulanya mencontek menjadi sebuah bisnis bagi Lyn, Grace, dan Pat. Lyn pun merancang kode untuk mencontek dengan menggunakan nada piano dan membuka kelas privat piano agar klien-kliennya dapat menghafalkan nada tersebut. Hingga mereka pun mencoba untuk melakukan bisnis mencontek saat ujian STIC – tes standar internasional untuk penerimaan mahasiswa yang ingin sekolah di Amerika -. Cara yang dilakukan pun berbeda dengan ujian di sekolah. Ujian STIC ini diadakan serentak di jam yang sama dalam setiap negara. Sampai disini Lyn pun memutuskan untuk terbang ke Sydney, ia bisa mengerjakan soal-soal tes duluan dan mengirimnya melalui percakapan sosial ke Bangkok. Hal ini bisa terjadi karena Perbedaan waktu antara Sydney yang lebih cepat dua jam daripada Bangkok.

Menonton Bad Genius membuat saya merasakan bahwa mencontek itu bisa sangat menegangkan seperti di dalam film. Apalagi dengan efek slow motion yang membuat ketegangan bertambah. Saat credit tittle pun, saya masih merasa sesak nafas!! Teknik-teknik mencontek serta strategi yang dilakukan di dalam sangat rapi. Saya sampai berpikir “gilaakk ada ya anak SMA yang kepikiran buat menyusun startegi kayak gini!”.

Bad Genius pun mengkritik mengenai sekolah yang seringnya menjadi ladang bisnis untuk sekolah itu sendiri maupun guru-gurunya. Seperti sekolah yang walaupun membebaskan uang masuk dan uang bulanan, namun tetap mengharuskan siswa membayar untuk seragam dan uang pembangunan sekolah. Selain itu guru-guru pun sering mengadakan les privat dan memberikan soal-soal yang sama dengan soal-soal yang akan diujikan di kelas. Hal-hal seperti ini ga hanya terjadi di sekolah Thailand, sekolah-sekolah di Indonesia pun kurang lebih memiliki permasalahan yang sama dan masih menjadi pr buat kita semua.

Diakhir film saya baru sadar kalau Bad Genius ini masuk kategori film Thriller. Pantesan rasanya deg-degan dari awal hingga akhir film. Kalau biasanya film-film Thriller bersetting pemberontakan, penculikan, ataupun perampokan, tapi kali ini saya menonton film Thriller dengan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saya sih sangat merekomendasikan untuk menonton film ini. Semoga masih ada di bioskop ya.