Soal Membersihkan dan Membereskan Barang-Barang

Sudah hampir dua tahun saya belajar dan mencari tahu mengenai hal-hal yang berhubungan dengan minimalism serta decluttering. Ini semua adalah efek dari belajar mindfulness, jadi merembet kesemua aspek dalam kehidupan!! Termasuk beberapa tahun kebelakang saya juga sedang belajar soal pendidikan Waldorf, mau ga mau jadi mempengaruhi banyak hal dalam hidup yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Saat belajar soal decluttering saya makin mengaamiinkan bahwa membereskan serta membersihkan rumah benar-benar dapat memiliki efek positif untuk kesehatan mental. Untuk hal ini saya pun setuju dengan apa yang disebutkan Marie Kondo dalam bukunya bahwa ketika kita hanya mengisi rumah terhadap hal-hal yang membuat kita bahagia, kita bisa lebih rileks dan menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi. Begitupun dalam Pendidikan Waldorf disebutkan bahwa ketika kita sedang melakukan sesuatu dengan tangan, sebenarnya kita pun sedang mengajarkan pikiran kita untuk melakukan sesuatu terhadap masalah yang bikin pusing. Contohnya nih, setelah selesai beres-beres, perasaan menjadi lega dan dapet aha moment yang bisa terjadi segera ataupun beberapa hari setelahnya.

Ketika sedang membereskan barang-barang serta memilah barang yang akan disimpan dan dilepas, ada perasaan “oh ternyata bisa juga ya melepas baju ini? atau buku yang ini?” yang dirasakan. Seperti sedang mengajarkan batin bahwa saya memiliki kapabilitas untuk melepaskan sesuatu, move on, lalu tetap menjalankan hidup. Ternyata saya baik-baik saja!!

Saat sedang membersihkan rak buku, meja, serta lemari yang berdebu, teryata dapat membantu saya untuk membereskan hati dan jiwa yang kusam dan lelah karena diterpa badai kehidupan -ok ini mungkin lebay 😀 -. Tapi beneran loh setelah selesai melakukan kegiatan membersihkan serta membereskan barang-barang, saya merasa senang dan bangga karena telah berhasil menyelesaikan sesuatu. Bahwa seberat apapun pekerjaan yang dilakukan, apabila tetap dilakukan pada akhirnya akan selesai.

Jordan B. Peterson dalam bukunya 12 Rules for Life bahkan menuliskan bab khusus mengenai membereskan barang-barang, yaitu pada aturan nomer enam: set your house in perfect order before you criticize the world. Karena kalau rumah masih berantakan berarti hidup kita pun masih sama berantakannya dan perlu ditata kembali. Jleb banget baca bab ini!!

Saya merasakan bahwa ketika barang-barang telah dibereskan dan diletakkan dengan rapi, saya mulai melihat ada beberapa tempat yang kosong. Rasanya legaaaaa banget!! Berasa mendapatkan udara baru dan ringan aja ngeliatnya. Beberapa saat setelah selesai membersihkan dan membereskan barang-barang, saya pun mulai merasakan bahwa kehidupan pun kembali dalam ritme yang jelas, langkah yang terasa lebih ringan, dan semakin memahami bahwa semua akan ada waktu dan tempatnya.

Advertisements

Perjalanan Menuju Ke Sana

Berteduh diantara senja yang terbentang
Mencari cahaya surya yang menghilang

Lara dan nestapa tak sanggup menentang
segala rahasia….

Sudah lima bulan lebih sejak tahun 2019 berjalan. Rasa-rasanya di tahun ini banyak sekali kejutan yang didapat. Mulai dari kegiatan yang makin sibuk hingga akhir minggu pun selalu ada pekerjaan. Rasanya selama dua bulan saya ga ada waktu istirahat. Tentu bekerja hingga akhir minggu ini merupakan cara saya untuk mengembangkan diri dan melihat sejauh apa saya bisa mengerjakannya. Ternyata lumayan ga sehat buat badan dan pikiran ya! Hahahaha!!

Selain dari kegiatan yang padat itu, saya pun mengalami fluktuasi emosi yang luar biasa. Awan mendung dan mentari yang bersinar bergantian dengan sangat cepat, hingga akhirnya beneran mabok ngadepinnya. Setelah semua kejadian itu saya pun memutuskan untuk mulai kembali berbenah diri dan menjadi netral.

Melihat kembali kejadian beberapa bulan ini mau tidak mau saya harus berterimakasih kepada seorang guru saat Teacher Training. Beliau mengingatkan untuk semua perasaan ekstrim yang terjadi (baik rasa bahagia maupun sedih) untuk tidak terlarut di dalam perasaan itu dan bertanya kembali sebenarnya pesan apa yang ingin disampaikan dari kejadian-kejadian tersebut.

salah satu catatan yang saya buat saat teacher training

Satu hal yang sungguh disyukuri dari semua hal yang sudah terjadi. Ternyata saya masih mampu merasakan apa-apa yang dirasakan beberapa bulan ini. Maklum aja rasanya udah lama banget ga pernah ngerasain ini. perasaan menyenangkan, mengasyikkan, dan sedih juga kaget yang datang silih berganti. Saya juga seperti melihat kembali orang-orang terdekat yang sekarang tentu saja sibuk dengan hidup masing-masing tapi tetap menyempatkan bertemu untuk sekedar memperbaharui berita hidup masing-masing.

Lega adalah salah satu perasaan setelah semua ini coba diurai dan diselesaikan satu persatu. Apabila dilihat kembali, semua hal yang terjadi ini bagai pertanda bahwa saya sudah maju satu langkah untuk mendekati babak baru. Seperti sebuah kesiapan menyongsong sesuatu di depan sana.

Beberapa hari ini saya kembali tergelitik dengan sebuah pertanyaan dari beberapa orang teman “mau ke mana setelah ini?”. Saya hanya bisa mengangkat bahu, bukan berarti tidak tahu mau ke mana. Beberapa pintu sudah diketahui, tapi masih sangat samar. Masih membutuhkan waktu hingga tiba saatnya untuk membuka salah satu dari pintu-pintu itu.

Saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya, namun saya yakin bahwa waktu akan menjawab semuanya di tempat yang tepat dan dengan orang-orang yang tepat, tidak akan meleset sedikit pun. Jadi untuk saat ini yang bisa dilakukan ya menyelesaikan hal-hal yang bisa diselesaikan saat ini, melakukan apa yang bisa dilakukan saat ini, serta menjadi manusia yang sadar seutuhnya.

Waktu kan perlahan mengucap kata
Hati kan mencari satu yang nyata
(Tuk menuju kesana) 

*Lirik yang dicetak miring adalah lagu dari Gerald Situmorang, Sri Hanuraga dan Ify Allysa berjudul Perjalanan Menuju ke Sana

Merajut Benang Merajut Pikiran

Saya tidak pernah menyangka akan mengenal konsep bahwa untuk mereorganisasi pikiran kita bisa melakukannya dengan mengerjakan hal-hal yang berbeda secara nyata. Konsep sederhananya adalah ketika kita mengerjakan sesuatu dengan tangan, sebenarnya kita sedang mengerjakan hal yang sama di dalam pikiran kita.

Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah dengan merajut. Hal ini tentu pernah saya coba lakukan beberapa kali untuk melihat keabsahannya dan ternyata benar-benar bisa diandalkan. Kemudian saya coba berdiskusi mengenai hal ini dengan beberapa teman dan mereka pun mengamininya. Bahkan seorang kawan saya ada yang memiliki rajutan sendiri yang akan dikeluarkan ketika pikirannya sedang kacau.

Ketika pertama kali merajut, baik untuk yang memang ingin mencoba ataupun dipaksa merajut, semua akan merasakan perasaan frustrasi karena cara yang berbeda dengan melakukan crochet. Seorang teman saya pernah berakhir dengan melempar jarum rajutnya dan lebih memilih berkebun di luar area tempat kami belajar. Seorang teman yang lain rasanya ingin menyerah saja saat merajut, padahal beliau ini jago banget ngecrochet. Hanya saja memaksa diri untuk melewati ketidaknyamanan merupakan cara untuk belajar mengasah karsa.

Setelah melalui beberapa baris merajut, kita akan melihat pola yang membuat kegiatan merajut menjadi sangat rileks dan bahkan seseorang pernah mengatakan pada saya bahwa merajut merupakan kegiatan yang meditatif. Kalau saya, seringnya akan mengantuk saat di tengah-tengah merajut. Sedangkan teman yang lain bahkan merajut untuk menghilangkan insomnianya!!

Saat sedang merajut, saya pun belajar untuk mengurai benang, menghitung jumlah benang yang sedang dirajut, serta melenturkan jari-jari yang kaku. Menarik setiap benang, melepaskan benang pelan-pelan, serta menyelesaikan setiap barisnya. Dengan melakukan hal ini sebenarnya secara tidak langsung saya pun sedang mengajari pikiran dan perasaan untuk menata kembali kekacauan yang ada di dalamnya. Mencoba menguraikan masalah dan melenturkan cara saya berpikir, melihat apakah saya perlu menarik benang atau sudah saatnya melepas, atau saatnya untuk diam sejenak sebelum akhirnya saya memutuskan untuk fokus bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut.

Selalu ada yang pertama untuk semuanya dan biasanya yang pertama itu tidak pernah sempurna. Begitupun dengan merajut. ketika saya memaksakan diri untuk sempurna melakukannya, rajutan saya tidak pernah selesai, bahkan ketika ada salah saya akan membuka rajutan dan mengulangi semuanya dari awal. Hingga di satu titik saya belajar untuk membiarkan kesalahan itu ada dan terus merajut hingga selesai. Sama seperti sedang menyelesaikan sebuah masalah, tidak ada cara yang sempurna. Pada saat ada kesalahan yang bisa dilakukan adalah meminta maaf serta memaafkan diri sendiri, kemudian melepaskan dan tetap bergerak.

Hingga akhirnya rajutan saya selesai!! Akhirnya syal yang saya buat selesai juga. Bukan yang terbaik, sempurna, dan terindah, tapi syal ini saya kerjakan dengan sepenuh hati dan tidak putus asa. Kalau ditanya untuk siapa syal ini kelak, akan saya berikan kepada seseorang yang mau menerima ketidaksempurnaan syal ini begitupun dengan ketidaksempurnaan diri sang pembuatnya. Hingga saat itu tiba, sesekali saya akan memakai syal ini.

hasil rajutan pertama: syal

Selesai mengerjakan syal ini pun saya berhasil menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor serta masalah pribadi yang mengganggu pikiran saat itu. Tidak salah ketika ada yang berkata bahwa “nimble hand, nimble head“. Karena dengan pekerjaan yang dikerjakan tangan, hati dan pikiran pun ikut bekerja.

Little Cabin in The Woods

We are busy.  Every day at the same time. Every day seeing the same scene. There are a lot of things to do. There are a lot of calls to make. Even when the night comes, every time, and as expected, a lot of people.  Did you ever think you wanted to escape?

Hidup di perkotaan dengan hingar bingar dan hidup yang berlangsung serba auto pilot, dua orang artis Korea, So ji Sub dan Park Shin Hye setuju menjadi dua orang subjek eksperimen dan mencoba tinggal disebuah kabin di tengah alam Pulau Jeju. Selama tinggal di sana mereka akan hidup dengan listrik dan air terbatas serta melakukan beberapa tantangan untuk melihat apakah bisa mendapat kebahagiaan dari kegiatan tersebut.

Seberapa bahagiakah kita saat ini?

Seperti yang kita ketahui bahwa dengan segala kemudahan yang ada di perkotaan, terkadang hidup bisa menjadi sangat menantang. Dengan mudahnya berkomunikasi, batasan antara waktu bekerja dan istirahat terkadang menjadi buram. Apalagi kalau melihat banyaknya kemewahan dan komsumtif yang ada di sosial media kayaknya hidup orang-orang kok mudah dan bahagia terus sih?! Orang-orang pun menjadi lebih rentan terhadap stres dan depresi.

Little cabin in the woods ingin menghadirkan bahwa ada hal-hal kecil disekitar kita yang terkadang kita menerimanya begitu saja sampai-sampai tidak menyadari bahwa dengan adanya hal tersebut ternyata kita sudah bisa merasa cukup. Selain itu acara ini juga mengenalkan sebuah konsep hidup minimalis penuh kesadaran sehingga setiap kegiatan yang kita lakukan menjadi bermakna. Ketika kita sedang berproses, disaat itulah terkadang jawaban mengenai apakah kita bahagia bisa terjawab.

Image result for little cabin in the woods korean variety, review

Konsep hidup minimalis yang ada di acara ini seperti saat episode pertama di mana kedua subjek eksperimen diminta memilah benda-benda yang penting untuk mereka tinggal di kabin dan menyerahkan barang lainnya kepada staf. Mau tidak mau Park Shin Hye yang membawa dua koper ukuran besar dipaksa memilah barang mana yang penting untuknya. Atau di episode lain kedua subjek diminta untuk mengerjakan satu kegiatan selama satu waktu. Untuk yang terbiasa multi tasking, melakukan hal ini tuh bikin gatel banget!! Tapi sambil menonton, saya pun jadi ikut melihat detail-detail lain yang kadang-kadang luput karena kita melakukan beberapa pekerjaan sekaligus.

Saat pertama kali menonton little cabin in the woods, saya merasa sedang menonton penelitian yang ingin saya lakukan dulu ketika zaman thesis. Seperti impian yang jadi kenyataan!! Saya memang sudah beberapa tahun belakangan ini senang dengan tema mindfulness dan akhirnya diikuti oleh printilannya seperti hidup minimalis dan mengerjakan sesuatu secara bermakna. Asyiknya, beberapa eksperimen yang ada di acara ini bisa juga kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Walaupun begitu saya sadar kalau little cabin in the woods ini bukanlah reality show yang akan disukai semua orang. Little cabin in the woods merupakan salah satu reality show besutan produser Korea Na Young Seok (Na PD) yang mengambil sudut pandang program hasil eksperimen dan semi dokumenter. Na PD sendiri mengatakan bahwa kejaran untuk little cabin in the woods bukanlah rating, tapi pengalaman baru. Na PD pun mengatakan bahwa bisa jadi kita akan mengantuk di tengah-tengah menontonnya yang bener-bener saya aamiin-kan!! Sebagian besar yang akan kita lihat adalah pemandangan khas pegunungan serta bagaimana warna tumbuhan saat perubahan musim selama tiga bulan acara ini berlangsung. Telinga kita pun akan dimanjakan dengan suara air mengalir di sungai, angin, hujan, gesekan daun di pohon, suara berbagai jenis burung, ranting kayu yang terbakar, bahkan percikan minyak saat memasak. Saya pribadi saja sangat senang menonton reality show ini di malam hari sebelum tidur karena bikin relaks dan bisa bikin tidur saya lebih nyenyak. Bahkan saya tidak bisa menyelesaikan acara ini dalam satu waktu. Biasanya kepotong dua atau tiga kali karena keburu ngantuk.

Merasakan Hati

jangan lupa bahagia!!

#bahagiareceh atau #bahagiaitusederhana

Saat ini begitu banyak orang yang mengingatkan untuk tidak lupa bahagia dan bersyukur dengan hal-hal kecil yang ada disekitar saya. Saya tidak menyalahkan  bahwa kita perlu mengingat kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang ada di sekitar kita. Namun saat mencari sedikit atau setetes kebahagiaan, kita perlu mengingat bahwa untuk merasakan kebahagiaan kadang kita perlu mengetahui dan merasakan apa yang disebut dengan kecewa, sedih, atau pun marah.

Sayangnya belakangan saya jadi melihat menjadi bahagia ini malah menjadi beban. Setiap orang berlomba-lomba menunjukkan kebahagiannya di sosial media. Seolah-olah ketika merasakan emosi lain adalah sebuah kesalahan. Misalkan saja saat ada postingan sedih atau galau akan ada yang berkomentar bahwa kita baperan atau galau terus. Jadinya banyak menuntut diri sendiri harus bahagia, harus bersyukur.

Ketika kebahagiaan sudah menjadi sesuatu yang diharuskan, apakah kita sudah benar-benar jujur dengan diri sendiri? Sudahkah kita benar-benar bahagia? Atau sebenarnya sedang membohongi diri dengan pura-pura bahagia? atau bahagia secara artificial saja? padahal sedang sedih, kecewa atau marah.

Bukankah penting untuk diri mengenali emosi dan menjadi jujur dengan keadaannya?  Menjadi sadar dengan semua emosi yang dirasakan. Oleh karena itu buat saya, it’s ok to be not okay. Karena dengan mengenali emosi dan perasaan di dalam diri, kita dapat menyadari kelebihan dan kekurangan yang ada sehingga benar-benar bersyukur dengan semua yang terjadi. Menjadi sadar tentang setiap emosi menurut saya menuntun kita menjadi manusia yang humanis. Menjadi manusia yang dapat berempati dengan lingkungan sekitarnya dan dapat berbagi kebahagiaan yang dimilikinya dengan sekitarnya.

Kebayang ga sih kalau kita selalu merasa bahagia dan tidak pernah sedih? Akankah kita bisa berempati terhadap masalah orang lain? Akankah kita menjadi manusia yang egois?

Sebagaimana “sad” dalam film animasi Inside Out, semua emosi itu penting dan memainkan peranannya masing-masing. Sehingga berkesadaran dengan emosi dan perasaan sendiri menjadi lebih penting dari sekedar bahagia.

Berkesadaran

Masa lalu sudah berlalu, masa depan belum terjadi. Lalu mengapa cemas? Mengapa takut? Yang benar-benar kita miliki adalah saat ini, jadi sadarlah!! Panggil kembali pikiran-pikiran yang untuk pulang, ke saat ini. Sehingga badan dan pikiran ada di sini.

Menjadi sadar, menjadi mindful, bukan berari menjadi optimis maupun berpikiran positif. Tetapi menjadi sadar, berarti lebih aware dengan sekitar. Mengambil sedikit jarak, melihat sekitar, serta memberi ruang untuk pikiran dan hati berdialog. Sehingga apa yang kita lakukan bukanlah sesuatu yang reaktif dan impulsif, tetapi merespon dengan kesadaran penuh.

Menjadi sadar berarti tahu kalau sedang tidak sadar. Tidak berarti harus memaksa memikirkan saat ini. Tetapi kembali menyadari apa yang sedang dipikirkan. Tidak berusaha mengubah pikiran yang sedang pusing. Tetapi menyadari kepusingan yang ada dipikiran.

Menjadi sadar berarti mengakui apa yang sedang terjadi. Merangkul rasa. Baik bahagia, sedih, positif, negatif, serta sakit yang sedang dirasakan. Mencoba untuk menerima dan mengasihi.

Sebenarnya ketika kita sedih, marah, senang, kesal, kepada siapa semua itu tertuju? Orang lainkah? Atau diri sendiri? Emosi adalah masalah diri sendiri. Ketika terluka, saya lah yang bisa menyembuhkan luka batin yang ada dengan belajar menerimanya, merangkulnya.

Hidup itu jangan dibawa serius dan rumit. Toh hidup itu bukanlah suatu perlombaan. Ga ada yang menang dan kalah. Hidup itu ga ada yang abadi. Kesenangan akan berlalu, begitu pula dengan kesedihan.

Jadi tenanglah….
sadari saya masih bernafas…
menarik nafas dan keluarkan pelan-pelan…
terima…kasih….

*Terima kasih Mas Adjie Silarus untuk sesi ngobrol sejenak soal mindfulnes 🙂
**Ditulis pertama kali di tumblr

Berada di Sini, Jiwa dan Raga

Yesterday is history, tomorrow is mystery, but today is a give, that is why it called the present.

Kapankah terakhir kali kita sadar dengan nafas yang dihirup dan dihembuskan? Saya pertama kali menyadarinya ketika melakukan Yoga. Kemudian, Tuhan menuntun saya untuk bertemu dengan banyak kejadian dan orang untuk mengingatkan saya mengenai berserah diri, sabar, dan ikhlas. Hingga akhirnya saya dipertemukan dengan variabel penelitian thesis saat ini, mindfulness.

Mindfulness memiliki pengertian sebagai kesadaran yang muncul dengan memperhatikan tujuan saat ini dan tidak menilai dengan terungkapnya pengalaman demi pengalaman (Kabat-Zinn,2003). Sederhananya, midnfulness adalah berada di sini, jiwa dan raga.

Kapan ya terakhir kali kita berdialog dengan diri sendiri? Berkomunikasi, merasa, dan berdamai dengan diri sendiri? Sesederhana menghirup nafas dan melepaskannya. Berawal dari membaca jurnal-jurnal serta buku mindfulness, bertemu dengan Adjie Silarus dan bertukar pikiran terkait mindfulness, serta pembicaraan lanjutan dengan Ko Erlang dari tulisan yang ini, saya sampai disebuah titik: berserah diri.

Akan tiba saatnya kita tidak peduli dengan apa yang telah terjadi. Tanpa disadari, semua yang terjadi ini telah ada yang Maha Mengatur. Setiap kejadian tentu sudah diperhitungkan. Lalu mengapa saya masih cemas dengan masa lalu? Padahal sudah berlalu, mengapa masih menjangkar di sana? Di sinilah saya mulai belajar untuk melepaskan, mengambiil hikmah dari semua kejadian. Untuk kembali memperhatikan saat ini. Bagaimana dengan masa depan? Mengapa harus takut dengan sesuatu yang belum pasti?

Bagaimana dengan saat ini? Sudahkah saya hadir sepenuhnya saat ini?Tanpa memikirkan apa yang terjadi di depan dan benar-benar menikmati saat ini. Mengerjakan segala sesuatu dengan sadar, bukan autopilot. Karena masa lalu telah berlalu, masa depan masih di ujung, tetapi saat ini tidak akan terulang.

Perjalanan menulis thesis ini beneran lebih untuk diri saya sendiri. Yah walaupun belum kelar, tapi saya banyak belajar dari hasil membaca dan diskusi.Semoga thesisnya segera selesai. Semoga saya dan yang pada baca tulisan ini juga bisa lebih mindfulness, berada di sini sesederhana menyadari saat kita bernafas.