Makassar International Writer Festival

RTYKE6799

Akhirnya keinginan saya untuk dapat ke Makassar International Writer Festival (Miwf) dapat tercapai di tahun ini. Sebenernya udah mupeng banget pengen ke sana dari dua tahun lalu, apa daya baru tercapai di tahun ini.

Miwf di tahun ini memiliki tema yang cukup berat, sepertinya berhubungan dengan banyaknya kejadian-kejadian yang menimpa Indonesia, banyaknya hoax, serta situasi perpolitikan yang semakin panas sehingga pada tahun ini tema yang diusung adalah “Voice Noise”. Menarik walaupun saya tidak menyangka temanya akan seberat ini.

Mendatangi festival ini beda banget suasananya sama UWRF yang dulu saya datangi. Di sini lebih banyak anak muda dari wilayah Timur Indonesia yang datang. Apalagi dengan tema yang dibawakan, saya sungguh dapat merasakan idealis-idealis mahasiswa ini (oh gw sungguh tua kalau ngomongin ini, ketika di umur gw sekarang idealis kadang bertabrakan dengan realita dan kebutuhan untuk meneruskan hidup).

Saya juga senang sekali dengan deretan sesi-sesi yang ada di Miwf. Di sini ada sesi dari Lala Bohang, Mbak Windy Ariestanty, Uda Ivan Lanin, Mbak Leila S. Chukdori, ada monolog Tjut Nyak Dien dari Ine Febriyanti serta Najwa Sihab. Hanya saja yang bikin kesel adalah rundown acara baru keluar h-seminggu acara sehingga saya yang udah beli tiket dari sebulan lalu jadi tidak begitu punya pilihan sesi yang ingin dikunjungi. Saya pikir pembicara yang banyak menghimpun masa akan disimpan di akhir, tapi ternyata tahun ini disimpan di awal. Sebut saja Mbak Leila S. Chukdori, Ine Febriyan ataupun Najwa Sihab. Untungnya saya masih bisa mengikuti sesi dari Uda Ivan Lanin walaupun telat hampir satu jam. Saya ga nyangka banget Makassar bisa macet parah!! Sehingga perjalanan dari bandara ke Benteng Fort Rotterdam memakan waktu lebih lama dari seharusnya. Saya pun sedih karena tidak bisa bertemu dengan penulis puisi seperti Aan Mansyur dan juga mengikuti sesinya penulis favorit saya, Mbak Windy Ariestanty.

Selain sesi-sesi dan workshop menulis, acara favorit saya adalah poetic under the stars yang asyik banget buat bengong sambil ngedengerin yang baca puisi dan lihat bintang di atas kepala kita. Apalagi kita bisa menyeret bean bag yang bertebaran di halaman Benteng Rotterdam untuk dipakai duduk-duduk santai di rumput depan panggungnya.

Di luar kekurangan dan kelebihan di atas, hal yang paling saya apresiasi dari Miwf tahun ini adalah mereka memiiki juru terjemah bahasa insyarat di beberapa diskusi panelnya yang dihadiri temen-temen yang tuli. Ini sangat menyenangkan karena sebuah festival membaca tidak hanya untuk orang-orang tertentu, tetapi bisa dinikmati oleh semua orang. Saya pun selalu senang melihat bagaimana juru terjemah ini dengan semangat menerjemahkan apa yang diungkapkan oleh pembicara.

Selain itu sepanjang hari dari pagi hingga sore di sebelah Gereja kita akan melihat banyak bean bag dan beberapa spot untuk meminjam buku dan membaca di tempat. Kita  pun bisa berdiskusi sambil duduk-duduk di bean bagnya. Sesuatu yang tidak saya dapatkan ketika mengikuti UWRF.

20180504_164902

20180504_165354

masih sempet ngikutin sesinya Uda Ivan

IMG_0721

kopi dingin di tengah panasnya cuaca Makassar

20180505_101314

IMG_0735

20180504_192032

20180504_211023

yang paling depan itu penerjemah bahasa isyarat loh

Advertisements

Mei ke Makassar

RTYKE6799

Bulan Mei lalu, saya pertama kali menjejakkan kaki ke Makassar. Kota yang dulunya bernama Ujung  Pandang ini merupakan salah satu kota yang sudah saya idamkan sejak beberapa tahun lalu. Sayangnya selama bekerja saya belum berjodoh dengan kota ini. Akhirnya pertemuan saya dengan Makassar terjadi ketika seorang teman mengajak untuk mengunjungi Makassar International Writer Festival (MIWF).

Saat tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, saya teringat dengan Bandara Kuala Namu Medan. Bandaranya buesaaaarrr!! Iya ini saya ngebandinginnya sama bandara Husein yang yah segitu segitunya aja, udah ga bisa diapa-apain lagi.

Tujuan utama ke Makassar ini sebenernya antara memang mau lihat MIWF, pengen jalan-jalan, dan pengen kopi darat dengan teman-teman sesama pembaca buku Ika Natassa dari jaman dahulu kala. Beneran deh ketemu mereka tuh udah berasa ketemu temen lama, ga ada canggung-canggungnya dan langsung bisa akrab kayak kalo ngobrol di grup.

Urusan jalan-jalan tentunya karena ada MIWF yang diselenggarakan di Benteng Fort Rotterdam, saya jadi bolak balik berkunjung ke sana. Tempatnya beneran keren banget!!  Karena ada beberapa puing-puing bangunan perasaannya jadi beda dengan saat say aberkunjung ke benteng yang ada di Yogya. Sayang saya ga sempat masuk ke Museum La Galigonya, tapi saya bisa dapat kesempatan melihat gereja yang ada di dalam benteng!! Selain itu saja juga berkesempatan berkunjung ke Ramang-ramang dan mencoba Jembatan Helena yang ada di Bantimurung. Tadinya saya mau berlanjut lihat air terjunnya, tapi berhubung saat ke sana Hari Minggu dan tempatnya penuh banget, jadilah kami memutar balik mobil dan memilih balik ke Makassar. Saya juga berkesempatan untuk main air sejenak di Pulau Samalona yang terkenal dengan keindahannya. Untuk Pulau Samalona, nanti saya buat tulisan terpisah ya.

IMG_0814

Menuju Ramang-ramang

Kalau sudah sampai Makassar tentu harus mencoba makanan khasnya ya!! Kayaknya untuk ini saya bisa nulsi satu postingan tersendiri deh!! Hampir semua makanan khas Makassar saya cobain!! Ga cuma makanannya, saya juga ketagihan sama kopinya yang enak. Duh nulisnya aja ini jadi kangen ngopi di salah satu toko kopi di Sumba Opu Makassar.

IMG_0721

Sebenernya masih ada beberapa tempat yang ingin saya kunjungi di sana. Saya masih pengen banget buat jalan-jalan ke Tanah Toraja dan juga Tanjung Bira. Semoga suatu saat saya bisa berkunjung ke sana, aamiin!!

 

Drama oh Drama

Saya benar-benar baru merasakan banyak drama saat pergi ke Bangkok bulan Maret lalu!!! Saking dramanya setiap orang yang saya ceritain hal ini hanya geleng-geleng kepala dan pengen jitak saking geregetannya. Duh jangankan mereka, saya aja pengen banget ngegetok kepala sendiri kalau inget kejadiannya.

Kalau mau disalahin, saya akan menyalahkan diri sendiri karena mengambil kerjaan cukup padat di minggu terakhir sebelum saya ke Bangkok. Saya mengambil dua buah kerjaan dan satu laporan sebagai syarat melamar pekerjaan. Menghitung hari dan tenaga, saya optimis bisa selesai mengerjakan semuanya h-1. Kenyataannya? selesai semuanya tapi h-2 jam sebelum berangkat. Udah gitu detik-detik menjelang tenggat waktu rasanya udah ada tanduk di kepala, ada yang nyenggol dikit langsung mengaum!!

Tentu saja disela-sela kesibukan itu saya menyempatkan jauh-jauh hari untuk packing, sesuatu yang jarang dilakukan. Biasanya h-1 baru packing, ini h-6 hari mulai masuk-masukin barang. Sebenernya tujuannya baik sih, demi ga ada yang ketinggalan karena untuk kali ini saya perlu membawa barang untuk Waldorf teacher training di sana. Tapi dasar cemasan dan masih berpikir untuk bawa barang seminimal mungkin, saya tetap saja bongkar-bongkat koper sampai h-1 jam keberangkatan ke travel karena berangkatnya dari Soekarno Hatta. Saya menggunakan pesawat jam 06.20 pagi, dan berhubung bekasi – cikarang lagi ga bisa diprediksi macetnya saya mengambil travel jam 22.00 .

Untungnya, saat ke travel ini saya diantar oleh kakak jadi bisa lebih santai. Apalagi lalu lintas Bandung lagi bersahabat banget, jadi sampai lebih cepat. Sambil menunggu mobil datang, saya pun mengecek kembali apa-apa yang perlu saya bawa dan kepikiran untuk memasukkan beberapa barang dari tas ransel ke koper. Saat akan membuka kunci koper, nomer kuncinya kereset dong!!! Ini karena saya buru-buru saat menutup koper di rumah. Gawat!!! Saya segera mencari di google apa yang perlu dilakukan kalau ada kejadian seperti ini dan semua artikelnya memberi tahu harus manual satu-satu dicobain kombinasi angkanya. Edyaaaannnn. Ini sungguh pr banget. Akhirnya 45 menit saya habiskan untuk mencari kombinasi angka yang ternyata hanya beda satu angka dari kombinasi yang saya gunakan. Kesel sama kebodohan sendiri. Tidak berapa lama, mobil travel pun datang dan begitu menyentuh kursi saya langsung tidur.

Sampai di Soekarno Hatta ternyata baru jam 12.30 pagi dong!! Ternyata jalanan lagi lancar banget. Akhirnya saya memilih tidur-tiduran di kursi sambil menunggu teman-teman saya yang baru datang jam 5an. Sekitar jam 02.30 saya terbangun dan bengong mau ngapain, akhirnya saya melanjutkan mengecek kembali barang-barang yang perlu saya bawa dan saya baru sadar, paspor saya ga ada!!!! Ini kebodohan paling parah!!  Paspornya ketinggalan di Bandung dong!!!!

Panik saya langsung menelpon kakak karena saya yakin dia masih bangun. Kita berdua koordinasi untuk mengambil paspor saya di rumah (karena kakak saya tinggal dengan mertuanya) dan segera cari travel ke Soekarno Hatta untuk dititipin paspor. Oh sudah tentu orang tua saya ikutan panik saat diberitahu oleh kakak. Saya hanya bisa pasrah ketika diomelin sama mereka. Kakak saya pun berhasil mendapatkan travel yang ke bandara paling cepat, yaitu jam 03.00. Kita berdoa semoga sekitar jam 05.30 sudah sampai. Berhubung usaha sudah dijalani, saya pun hanya bisa pasrah dan berdoa semoga paspornya bisa sampai di bandara sebelum jam 06.00. Di tengah kepasrahan itu akhirnya saya mencari mushala dan shalat tahajud. Setelahnya saya berdoa semoga masih diijinkan untuk pergi tepat waktu ke Bangkok.

Jam 04.00 salah seorang teman seperjalanan saya pun datang dan kami sempat mengobrol soal kebodohan yang saya lakukan. Sambil saya memasang startegi untuk bisa check in terlebih dahulu. Untungnya saya membawa salinan foto paspor sehingga masih bisa check in walaupun baru boleh mengambil boarding pass setelah paspor datang. Dengan begini setidaknya saya masih bisa terbang. Tinggal menunggu paspor untuk datang tepat waktu.

Jam 05.30 saya menelpon supir travel untuk memastikan ia sudah sampai di mana. Syukurlah sudah sampai di tol Soekarno Hatta, setidaknya sebelum jam 06.00 paspor saya sudah sampai di bandara. Jam 05.45 saya kembali mengontak supir travel karena belum ada tanda-tanda kedatangannya. Alhamdulillah ternyata sudah sampai di terminal 1 dan akan ke terminal 2 tempat saya berada. Tidak sampai lima menit kemudian saya sudah bertemu supir travel dan tak henti-hentinya saya mengucapkan terima kasih sebelum ngacir ke dalam karena pesawat akan boarding 5 menit lagi. Itu semua belum termasuk saya harus mengantri imigrasi dan jalan ke arah boarding gate.

Sampai di dalam pesawat saya langsung tidur pulas hingga sampai di Bangkok. Perjalanan selama tiga jam sungguh ga berasa. Padahal kata teman-teman saya ada dua kali turbolance!! Ini sudah pasti efek saya kehabisan energi menjalani malam panjang penuh drama.

IMG_4094

Pesan moralnya, jangan ambil kerjaan banyak-banyak kalau mau bepergian sehingga bisa packing dengan tenang dan pastikan paspor atau ktp benar-benar sudah ada di tas.

Berbelanja di Bangkok

Bangkok menawarkan banyak atraksi dan hiburan yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Mulai dari yang muda hingga tua, yang senang belanja, nyari yang aneh-aneh, sejarah, ataupun bangunan kuno. Semua ada di Bangkok.

Tulisan kali ini, saya mau menceritakan pengalaman belanja di Bangkok. Sungguh sebenarnya saya ga doyan-doyan banget belanja, tapi menjelajah tempat-tempat ini plus lihat harganya yang murah, saya jadi keseret dong!!!

IMG_1618

jembatan untuk berjalan ke Platinum Fashion Mall

Buat yang mau membeli baju-baju modern ala ala online shop yang bertebaran di instagram, bisa dicari di daerah Pratunam. Di sana ada dua mall besar yang memiliki banyak pilihan untuk baju, kaos, dress, tas, sepatu, bahkan oleh-oleh seperti magnet kulkas, gantungan kunci, dan dompet yaitu Platinum Fashion Mall serta Paladium World Shopping. Bentuknya mirip Trade Center di Indonesia. Kalau mau makan, ada food court yag terbilang murah di lantai atas Platinum Fashion Mall.

Kalau mau ngubek-ngubek sedikit, bisa jalan ke Pratunam Market untuk mendapatkan baju-baju dengan harga lebih miring. Beberapa teman saya memilih membeli baju di daerah Pratunam dari pada di Chatuchak Weekend Market karena harga yang lebih bagus.

Apabila ingin mencari berbagai barang saya sarankan untuk mencoba berkeliling di Chatuchak Weekend Market. Hampir semua barang yang dipikirkan ada di sini. Mulai dari perabot kayu, keramik, tas-tas oleh-oleh, gantungan kunci, baju-baju ala distro, lukisan, bahkan ngopi di dalem pasar ada semua di sini. Saking luasnya mereka punya peta sendiri loh untuk ngasi tahu distrik-distrik toko yang ada. Pengalaman saya, kalau mau ketemuan setelah muter sendiri-sendiri mending janjian di Clock Tower karena berada tepat di tengah Chatuchak Weekend Market.

Peta Chatuchak Weekend Market yang didapat dari sini

IMG_1449

Clock Tower

Sebenernya kalau mau mencari tempat oleh-oleh murah yang banyak disarankan beberapa travel blogger ada di Asiatique. Lokasinya sejajaran KFC Asiatique. Nanti akan melewati bank, lorong, dan ada sebuah toko setelahnya. Di situlah toko yang dimaksud. Kayaknya banyak banget turis Indonesia maupun Malaysia yang berbelanja di sana hingga penjualnya fasih banget ngomong Bahasa Indonesia. Saya sempat bertanya harga dompet koin, magnet kulkas, serta gantungan kunci. ternyata memang lebih murah dari pada di Chatucak maupun Pratunam.

IMG_1502

Di Asiatique ini banyak tempat untuk nongkrong dan berbelanja. Untuk yang penasaran dengan Lady Boy, di sini lah kalian bisa melihat pertunjukan Calypso Cabaret. Saya sendiri belum pernah ke sana karena tiket pertunjukan yang mahal, sekitar 900 THB. Mungkin suatu hari nanti saya akan menonton.

Apabila ingin mencari snack, makanan, serta minuman khas Thailand, saya menyukai belanja di Big C Pratunam. Spesifik banget kan? Karena hanya di sini saya menemukan banyak promo dibandingkan Big C di tempat lain. Seperti beli Nestea Milk Tea yang 14 sachet bakal dapet ukuran kecil berisi tiga sachet. Sebenarnya Big C ini semacam Carefour atau Giant di Indonesia. Awalnya saya ga nyangka kalau harga snack, Thai Tea, dan bumbu Tom Yam di sini terkadang lebih bagus dibandingkan tempat lain.

IMG_1142

Untuk yang ingin mencari barang-barang branded, di daerah Siam ada beberapa mall yang bisa didatangi seperti Siam Discovery, Siam Center, Siam Paragon, Siam Square, serta Central World. Puas-puasin nyari Onitsuga Tiger, Lush, ataupun beberapa merk lainnya. Kalau Annelo sih kayaknya hampir di semua mall ada.

IMG_3723

Central World

Kalau mau berbelanja di Bangkok siap-siap memakai baju dan alas kaki yang nyaman karena bakal banyak bawa barang dan jalan-jalan. Jangan lupa juga untuk kekepin dompet agar ga jadi kebablasan belanjanya 😀 . Selamat berbelanja di Bangkok!!!!

 

Mengejar Matahari Terbit di Angkor Wat

Saya selalu berusaha bertemu matahari terbit saat berada di sebuah kota maupun negara yang sedang dikunjungi. Sinar matahari pagi itu seperti memberikan energi positif dan penyemangat untuk menjalani hari yang baru. Walaupun saya bukan tipe orang yang senang bangun pagi, tapi demi bertemu matahari yang terbit diufuk Timur saya pun jadi bisa bangun sebelum alarm menyala.

Begitupun ketika berada di Siem Reap. Saya bercita-cita ingin melihat matahari terbit dari Angkor Wat. Saya, Teh Zen, dan Teh Win sudah janjian dengan supir tuk-tuk kami untuk berangkat pukul lima pagi. Malam harinya saya berusaha tidur lebih awal yang tetep aja failed karena baru tidur jam duabelasan. Alarm pun sudah dinyalakan dari mulai jam empat subuh hingga pukul empat lebih lima belas menit. Keesokan harinya, saya baru mendengar alarm saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Gawat!!! Saya telat bangun!!!

Saya segera membangunkan Teh Win dan Teh Zen sambil beranjak ke kamar mandi. Kebiasaan banget untuk selalu mandi sebelum pergi >.< . Setelah mandi kilat, gantian Teh Zen dan Teh Win yang ke kamar mandi dan bersiap-siap. Pukul lima lebih lima belas menit kami baru berangkat dari hostel.

Jarak hostel ke Angkor Wat kurang lebih tujuh hingga delapan kilo meter. Saya segera bersyukur sudah membeli tiket dulu kemarin, kalau tidak rasa-rasanya belum tentu kami sempat mengejar matahari terbit. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi dan kami baru dua pertiga perjalanan, saya sudah mulai pesimis tidak bisa melihat matahari terbit. Di dalam hati hanya bisa berdoa, Ya Tuhan YME kalau memang diridhai, semoga berjodoh bertemu dengan sang matahari terbit.

Di jalan menuju Angkor Wat, saya mulai melihat banyak tuk-tuk yang berjalan beriringan, para turis yang sedang mengendarai sepeda motornya, serta turis yang menggunakan sepeda. Kami semua mengejar waktu untuk bisa melihat matahari terbit.

Saat berada di pertigaan danau menuju Angkor Wat, saya pun melihat pemandangan yang menakjubkan. Warna oranye mulai terlihat dikaki langit. Saya, Teh Zen, dan Teh Win hanya bisa menahan nafas melihat pemandangan itu. Rasanya waktu berhenti sepersekian detik sebelum saya mulai mengeluarkan hp untuk merekam momen yang barusan saya rasakan.

IMG_0715

Tuk-tuk kamipun melaju semakin kencang untuk mengejar momen munculnya matahari dari balik tiga bangunan di Angkor Wat. saat akan berbelok ke sebelah kanan menuju pintu masuk Angkor Wat, kami merasakan ban sebelah kiri dari tuk-tuk kami terantuk kerikil dan menyebabkan ban tuk-tuk kempes. Saya sudah pasrah membayangkan tuk-tuk kami akan berhenti di pinggir danau. Ternyata saya salah. Supir kami tetap melajukan tuk-tuknya hingga batas pemberhentian. Kami segera turun dan menuju tempat para turis melihat matahari terbit.

Begitu sampai pintu masuk menuju Angkor Wat, langkah saya terhenti. Terpana melihat pemandangan di depan saya. Warna jingga menyilaukan perlahan naik di balik gerbang Angkor Wat. Saya cuma bisa bengong sebelum akhirnya mengikuti Teh Win dan Teh Zen untuk melihat matahari terbit dari jembatan. Ditengah keterpukauan kami, akhirnya kita memutuskan untuk duduk-duduk menikmati matahari terbit dari danau yang mengelilingi Angkor Wat.

IMG_0767

IMG_0773

Saya, Teh Zen, dan Teh Win menatap matahari terbit cukup lama hingga matahari naik di atas Angkor. Sesekali kami mengobrol tapi banyaknya bengong dan terkagum-kagum dengan indahnya pemandangan di depan. Kami juga sempat membuka perbekalan sarapan dan asyik sarapan dengan masih memandangi sang matahari yang beranjak naik.

IMG_0780

Kebahagian lain saat melihat matahari terbit adalah saya bisa melihat bulan yang berada tinggi di atas. Langsung heboh sendiri bisa merekam pemandangan yang jarang terlihat, bulan berada di atas sementara matahari berada di bawah.

IMG_0733

did you find the moon?

Sebenernya lokasi yang paling terkenal melihat matahari terbit itu berada di depan danau teratai di bagian dalam Angkor Wat. Dari bagian ini kita bisa memfoto matahari terbit dengan pantulan angkor wat di air danau. Tapi berhubung kami dateng telat, ngebayangin harus berdesakan mencari spot foto udah bikin males duluan. Untuk mendapatkan spot foto bagus, biasanya turis-turis sudah mulai berdatangan dari pukul lima pagi. Saya sendiri udah bahagia banget masih dikasi kesempatan memandangi matahari terbit dari danau di luar Angkor Wat. Ternyata jodoh dan rejeki itu emang ga akan ke mana. Buktinya saya masih dikasi kesempatan melihat matahari terbit dari Angkor Wat

Memperlambat Langkah di Siem Reap

Berada tiga hari di Siem Reap berarti menikmati hidup dalam mode lambat dan melakukan hal-hal yang saya sukai. Saya bisa berjam-jam berada di common room hostel tempat menginap untuk membaca novel sambil sesekali melihat jalan di luar yang panas dan sepi. Saya juga bisa berjalan santai menikmati hiruk pikuk turis dan masyarakatnya di sekitaran Pub Street dan Night Market.

IMG_0578

common roomnya bikin betah!!

Siem Reap menjadi tempat turis singgah untuk mengunjungi salah satu situs warisan dunia, Angkor Wat. Praktis dari pagi hingga sore di dalam kotanya tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Selain ke Angkor Wat, daerah wisata lainnya memang lebih banyak berada di luar pusat kota Siem Reap. Sebut saja Kulen Mountain yang terletak 60km dari kota atau Banteay Stray yang juga jauh dari kota, belum lagi ada Culture Village dan juga Floating Village di Kampong Pluk.

Untuk di dalam kota, kita bisa menikmati Angkor National Museum yang menjelaskan mengenai Kerajaan Khmer serta Kompleks Candi Angkor Wat. Untuk yang ingin duduk duduk santai, ada Royal Garden yang rindang tidak jauh dari Royal Palace. Kita juga bisa menelusuri The Old Market yang penuh dengan souvenir khas Kamboja hingga makanan khas Khmer. Supir tuk-tuk kamipun sempat menawarkan untuk mendatangi killing field yang langsung kita tolak.

IMG_0611

Di hari pertama Saya, Teh Zen, dan Teh Win menginjakkan kaki di Siem Reap, kami hanya bepergian ke Angkor National Museum sambil berkeliling kota. Menikmati hembusan angin di tengah panasnya Siem Reap. Saran saya jangan lupa pakai sun block biar ga kebakar. Sore harinya kami membeli tiket Angkor Wat yang terletak di bagian counter ticket agar besok subuh bisa langsung masuk ke Angkor Wat demi menikmati matahari tebit. Sebenernya apabila membeli tiket pukul lima sore, kita bisa masuk kawasan Angkor Wat secara cuma-cuma untuk melihat matahari tenggelam. Tapi kami lebih memilih melihat matahari tenggelam esok hari dan memutuskan untuk melihat Angkor Panorama Museum. Di dalam sini kita bisa melihat maket keseluruhan dari kawasan Angkor Wat yang mana luas banget!! Saya sampai bingung besok mau ke mana aja 😀 . Saat akan keluar dari Angkor Panorama Museum, hujan turun sangat deras. Akhirnya kita bengong dulu sambil nungguin hujan berhenti. Malam hari saatnya jalan-jalan di Pub Street dan Night Market untuk mencari souvenir, makanan, dan melihat-lihat kehidupan di malam harinya. Di sepanjang Pub Street kita ketemu banyak pedagang kaki lima yang menjual buah-buahan, durian, martabak telur, hingga makanan aneh seperti kalajengking dan kecoa. Di area Night Market saya mendapatkan buku mengenai Angkor Wat dengan harga 8 USD. Lumayan buat dibawa dan dibaca saat mengunjungi Angkor Wat besok.

IMG_0633

Ticket Counter

IMG_0665

Hari kedua sudah tentu kami seharian di Angkor Wat. Ini mah beneran dari matahari terbit hingga tenggelam kami menjelajah Angkor Wat. Kami hanya kembali ke kota saat makan siang untuk mencari makanan halal. Setelah itu kembali ke hostel sebentar sebelum akhirnya kembali lagi ke kawasan Angkor Wat. Malam harinya kami mencoba salah satu tempat pijat untuk pijat kaki. Maklum seharian dibawa jalan keluar, masuk, naik, dan turun candi membuat kaki saya, Teh Zen, dan Teh Wina pegel-pegel!! Nah di Siem Reap kita akan menemukan banyak banget tempat pijat mulai dari yang bagus sampai yang biasa banget. Dari yang harganya 1 USD sampai 30 USD. Semuanya tergantung mau pijat berapa lama.

IMG_2300

Angkor Wat

Hari ketiga pagi lebih banyak kami habiskan dengan menyelonjorkan kaki di hostel serta packing. Kami baru keluar dari hostel 30 menit sebelum waktu check out. Pokoknya memaksimalkan waktu yang dimiliki untuk selonjoran. Ini sih beneran pegel-pegel dan capek setelah kemarin menjelajahi Angkor Wat. Berhubung penerbangan kami di malam hari, backpack pun dititipkan dulu di hostel. Setelah itu kami berjalan-jalan ke Galleries yang berada di sebelah Angkor National Museum untuk membeli beberapa cinderamata khas Kamboja. Ini adalah kesempatan terakhir kalau mau beli oleh-oleh Kamboja karena nanti malam kami akan melanjutkan perjalanan ke Thailand. Kami juga sempat mengirimkan kartu pos untuk beberapa orang di Indonesia. Setelah itu kita berpikir untuk mencoba sebuah tempat kopi yang juga memiliki menu vegan. Kayaknya ada kali yah dua jam berada di sana untuk ngobrol, menikmati makanan dan minuman yang ada di sana. Kami pun berdiskusi akan ke mana lagi untuk menunggu malam tiba dan pergi ke bandara. Teh Win keingetan ingin mengunjungi beberapa sekolah yang ada di Siem Reap untuk keperluan tugas kuliahnya. Ternyata menyenangkan ya melihat beberapa sekolah di Siem Reap. Rata-rata sekolahnya memiliki halaman yang luas untuk anak-anak bermain. Supir tuk-tuk aja yang kayaknya bingung saat kami memintanya mengantar ke beberapa sekolah yang ada di Siem Reap 😀 .

Kayaknya selama di Kamboja ini kami memang lebih santai saat berjalan-jalan. Banyak duduk dan menikmati suasana yang ada di sekitar. Ini beneran kayak terapi buat saya yang seringnya grasa grusu dan mengerjakan banyak hal. Seperti dipaksa buat lebih tenang, rileks, dan menikmati semua hal yang ada disekitar mulai dari panasnya Kamboja, deretan rumah, mengobrol buanyak hal dengan Teh Zen dan Teh Win, serta mengistirahatkan badan. Menuliskan soal Siem Reap ini bikin saya kangen pengen balik lagi ke sana.

Setengah Hari di Phnom Penh

Saya berada di Phnom Penh tidak sampai 24 jam. Pada hari pertama perjalanan, saya hanya berada di sana selama tiga jam. Beberapa hari setelahnya pun saya transit di Phnom Penh hanya empat jam.

Saat awal perjalanan saya dan dua orang teman memang bingung dengan kegiatan yang akan kami lakukan di Phnom Penh. Sejauh yang kita baca soal Phnom Penh banyaknya orang mendatangi Killing Field, Night Market, Royal Palace, serta beberapa Wat. Killing field sudah pasti kita coret karena ga suka melihat luka masa lalu dan serem juga sih. Masuk Lobang Buaya di Jakarta aja udah merinding, apalagi harus mendatangi Killing Field!

Pada transit pertama akhirnya kita berpikir untuk keliling-keliling cari makan dan melihattempat yang biasa didatangi oleh turis. Sebelumnya kita menitipkan tas ke Giant Ibis Travel yang terletak tepat di samping Night Market dan keliling kota naik tuk-tuk. Saya dan teman-teman sempat mampir ke Royal Palace. Sayangnya tempat ini tutup dari jam 11.00 hingga jam 13.00. Jadilah perjalanan pun dilanjutkan dengan berkeliling melihat Wat Ounalom, melihat aktivitas orang-orang di Kandal Market, melewati Old Market, serta mendatangi Wat Phnom. Sayangnya kita ga sempat untuk berkunjung ke Mesjid Al Serkal karena waktu sudah mendekati keberangkatan travel ke Sihanoukville 😦 .

Saat berkeliling ini saya melihat Phnom Penh sedang melakukan banyak pembangunan. Mulai dari membangun infrastruktur seperti jalan layang hingga apartemen dan gedung perkantoran. Sepertinya saat saya ke sana beberapa tahun lagi, akan semakin banyak gedung-gedung tinggi di sana.

IMG_0284

IMG_0287

IMG_0301

Royal Palace

IMG_0303

Wat Ounalom

Saat transit kedua saya dan teman-teman berkeliling Night Market yang ada tepat di depan Giant Ibis. Seru banget ya Night market di sana. Di pintu mausk, saya sempat melihat ada sekelompok pemusik. Kemudian sebagaimana Night market lainnya banyak banget yang jualan baju, tas, jam, sepatu, hingga aksesoris. Semuanya ada di sini!

Di bagian belakang Night market kita bisa menjumpai banyak pedagang makanan serta tempat duduk yang luas untuk pengunjung. Asyik banget!! Cuaca Phnom Penh yang panas membuat saya dan teman-teman memilih ngemil es krim di batok kelapa. Segeerr banget. Apalagi kita dapet bonus air kelapa yang manis. Buat yang mencari makanan halal, tepat di sebelah tukang es krim ini ada yang jual makanan halal. Jadi ga susah buat nyari makanan halal di Phnom Penh Night Market.

XXBA5711

RUIA7264

SXZK8288

*Foto-foto di Night Market diambil dari kamera hp Teh Wina