Bakpia khas Yogya

Kota Yogyakarta menyimpan banyak banget makanan enak nan murah. Sebut saja oseng mercon, gudeg, bakmi Jawa, bakso, kopi jos, sate klatak, jejamuran, tiwul, hingga makanan khas angkringan. Duh saya jadi laper banget ngebayangin makanan-makanan enak di Jogya!!

Selain makanan yang bisa disantap di kotanya, Yogya juga punya segudang oleh-oleh berupa makanan atau minuman seperti secang, yangko, geplak, coklat monggo, gudek, hingga bakpia. Sebenernya kalau dilihat-lihat sekarang tuh lagi ngetren banget oleh-oleh berupa pia dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja pia Legong yang terkenal dari Bali. Tapi, kalau ngomongin pia tradisional, saya selalu inget dengan bakpia Jogja.

keyogyakarta-Lezatnya Sejarah Bakpia Pathok

Bakpia – gambar diambil dari sini

Kalau lihat sejarahnya, bakpia ini sebenernya berasal dari Tiongkok loh!! Asal katanya dari “Tou Luk Pia” yang artinya adalah kue pia (kue) kacang hijau. Makanya yang dinamakan bakpia adalah kue yang berisi kacang hijau yang telah ditumbuk dan dicampur gula serta dibalut sama tepung terigu. Kalau lihat dari asal katanya, jadi berbeda dengan pia di luar Yogya, pia di luar lebih crispy dan crunchy dibandingkan bakpia Jogja. Varian rasanya pun berbeda dengan bakpia ya. Yah walaupun sekarang varian bakpianya udah banyak banget!! Mulai dari keju, kumbu hitam, hingga cokelat.

Saat mencari tahu soal bakpia ini, saya terpikir bahwa kalau udah berbeda varian bakpianya, ga bisa disebut bakpia juga yah? Kan arti katanya sendiri ada unsur kacang hijaunya. But it just my thinking 😀 . Saya sendiri kalau ke Yogya suka beli bakpia kacang hijau dan kumbu hitam kok :p .

Resep asli bakpia sendiri sebenernya berasal dari keluarga Kwik Sun Kwok. Kwik lalu menyewa tanah milik warga setempat yang bernama Niti Gurnito di di Kampung Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta. Ia pun memodifikasi resep bakpianya. Nah untuk memanggang bakpianya, Kwik selalu membeli arang kepada temannya, Liem Bok Sing. Kenapa saya sebutkan nama-nama orang di sini? Karena pada akhirnya Niti Gurnito pun mulai membuat bakpia tapi dengan ciri khas yang berbeda dengan buatan Kwik. Begitu juga dengan Liem Bok Sing. Liem juga membuat resep bakpia yang sudah dimodifikasi dan ia pun pindah ke kampung Pathok. Nah dari sinilah bakpia jalan Pathok bermula.

Jalan Pathok sendiri sebenernya dekat dengan Malioboro. Kalau main ke sana, kita bisa memilih mau bakpia pathok yang nomer berapa. Saya ga tahu kebenarannya, tapi denger-denger tiap nomer di bakpia pathok sebenernya adalah nomer rumah produksinya loh. Tapi sekarang, bakpia ga cuma diproduksi di Pathok, tapi juga di berbagai sudut kota Yogya. Kalau mau tahu soal bakpia yang enak di Yogya, bisa cek ke sini deh. Duh saya jadi beneran kangen nih pengen main ke Yogya dan beli bakpia!!

Source dan bahan bacaan:
Wiki, Gudeg net, klikhotel

Carangan Ala Nasirun

img_9522

Dalam pewayangan dikenal sebuah lakon yang dinamai Carangan.

Carangan berasal dari kata dasar Cang yang dalam bahasa Jawa berarti miring, menyerong, atau menonjol, kemudian menjadi carang, dengan merujuk pada cabang-cabang kecil yang bertunas pada pepohonan. Ketika berbicara mengenai lakon Carangan berarti cerita yang tumbuh dan berkembang dari pakem yang ada.

Pada pameran Carangan Pak Nasirun di Nu Art Sculpture Park, fokusnya adalah menanggapi dari karya-karya Pak Nyoman Nu Arta yang berada di dalam galerinya. Selain itu, Iapun meletakkan berbagai karya seni yang dimilikinya dalam pojok-pojok dan ruangan yang ada di galeri. Dalam pameran ini, Pak Nasirun tidak hanya mencarang karya Pak Nyoman, tapi juga berbagai elemen yang ia temui.

Pada bagian pintu masuk, Pak Nasirun meletakkan sebuah karya  iring-iringan sebagai bentuk prosesi mengantarkan Dalang Slamet Gundono yang meninggal sebelum sempat melihat wayang Burung pesanannya kepada Nasirun. Iring-iringan ini terdiri dari wayang-wayang burung pesanan, kuda-kudaan kayu yang sudah dilukis ulang, serta perahu naga kayu dengan berbagai wayang-wayang ukuran kecil. Indah banget. Saya betah sekali melihat detail lukisan serta berbagai wayang-wayang ukuran kecil ini. Bahkan saya kaget sendiri saat melihat ada wayang berbentuk naga yang merupakan hewan di shio lahir saya.

129apple_img_9432

Pak Nasirun sedang menjelaskan karyanya

Di lantai dua, terdapat karya-karya lain dari Pak Nasirun. Terdapat sebuah gambar mengenai kemerdekaan dan juga berbagai kacamata yang dilukis oleh Nasirun. Saat datang ke sana, saya beruntung karena sedang ada Pak Nasirun yang menjelaskan karya-karyanya. Selain itu kita juga bisa melihat berbagai jenis wayang besar yang dibuat oleh Pak Nasirun.

img_2282

img_2283

img_2285

img_2286

Dalam ruangan ini kita juga bisa melihat seri stempel. Dalam seri stempel ini, Pak Nasirun memasang stempel dalam papan kayu dan merespon pola asli distempel dengan ukiran dan warna dalam pola ragam ornamen hias. Saya rasanya bisa satu jam untuk melihat detial setiap stempel yang ada.

129apple_img_9436

129apple_img_9496

129apple_img_9507

129apple_img_9508

Selain itu Pak Nasirun pun membuat seri figur tunggal di mana ia melukis dalam medium cat minyak di atas kanvas. Pada seri ini Pak Nasirun mencoba mencarang ikon-ikon simbolik yang berasal dari mitologi maupun religi. Ia juga memodifikasi figur-figur ikonik dari elemen serta gambar keseharian.

129apple_img_9504

129apple_img_9505

Di dalam galeri yang menyimpan sebagian besar karya Pak Nyoman Nu Arta, Pak Nasirun mencoba untuk mencarang patung-patung karya Pak Nyoman. Ia menghadirkannya dalam kanvas-kanvas yang diletakkan disekitar patung. Membuat saya dapat melihat dari perspektif dan persepsi yang berbeda-beda. Misalnya saja pada karya Pak Nyoman berbentuk Candi Borobudur, Pak Nasirun bisa membuat tiga lukisan dengan perspektif yang berbeda-beda.

Menurut Kurator Jim Supangkat, Proses Pak nasirun dalam berkarya ini membuatnya belajar memahami hakikat kemanusiaan dalam pencarian para seniman, yang pada setiap zaman terus mencoba memaknai, menafsir, dan menuliskan pengalamannya, sebagai kelanjutan pertumbuhan. Carangan dalam penelitian Marshal Clark merupakan proses pemikiran ulang, tidak menyangkal yang sudah ada, akan tetapi merupakan bentuk perpanjangan imajinatif terhadap karya asli. Disinilah Pak Nasirun menemukan tempat bagi dirinya dan kisahnya.

Saya sampai menghabiskan dua jam untuk melihat karya-karya yang ada. Itu pun belum sepenuhnya puas, karena karya-karya Pak Nasirun dalam ruang seni Pak Nyoman belum saya perhatikan detail satu persatu. Ingin rasanya kembali dan melihat carangan hasil karya Pak Nasirun.

Soal Sipit

img_5649

Ini lagi merem kok

Ada yang lucu dan bikin bengong saat saya berkeliling George Town, Penang. Kejadian pertama adalah ketika saya dan Dwi berjalan ke arah toko yang menjual kartu pos. Saya tiba-tiba dicegat oleh turis dari Cina dan ditanya mengenai entah apa dalam Bahasa Mandarin. Saat itu saya hanya bengong dan menjawab dalam Bahasa Inggris yang sepertinya tidak dipahami oleh mereka.

Kejadian kedua adalah saat saya sedang menikmati es kelapa muda sementara Dwi sedang berbelanja oleh-oleh di Penang. Saya ditegur oleh tukang becak dan ditanya mengenai asal negara. Sebelum sempat menjawab, beliau segera menebak “from Japan, right?” dan saya hanya bisa bengong dan menggeleng. Beliau pun belum mau menyerah “Malaysia?” saya pun kembali menggeleng dan menjawab “Indonesia”. Padahal di Penang saya memakai baju terusan batik loh. Tapi tetep ga dikira dari Indonesia. Sampai penjual es kelapa mudanya ngomong untuk tidak ambil hati pertanyaan dari bapak becaknya. Kasian kali ya liat saya bengong sendiri 😆 .

Keesokan harinya, saya pergi mengunjungi Kuala Lumpur City Galleries. Saat menukar voucher dengan minuman, pelayannya dengan sigap menyapa “Ohayou Gozaimasu!!” yang mau tidak mau saya balas mengucapkan “Ohayou” juga.

Ga cuma ketika di Malaysia. Saat saya liburan ke Singapura pun saya sempat tiba-tiba diajak ngobrol Bahasa Mandarin oleh kakek-kakek di MRT. Saya yang saat itu duduk terpisah dari temen-temen yang lain cuma bisa bengong bego ngedenger si kakek ngomong panjang. Sampai akhirnya beliau sadar dengan kebingungan saya dan melambaikan tangan tanda ga usah dipikirin. Temen-temen saya yang lain langsung nahan ketawa semua. Sebel!!  -____-“.

Saya ga paham kenapa beberapa kali ke negara tetangga, orang sering salah mengira bahwa saya adalah orang Cina ataupun Jepang. Awalnya saya malah berpikir bakal disangka Pinoy (Orang Filipina) karena menurut banyak traveler, orang Indonesiakan suka disangka Pinoy. Makanya aneh sendiri saat diajak ngobrol Bahasa Mandarin.

Menurut orang-orang disekitar saya, ini karena mata saya yang sipit dan warna kulit yang ga sawo mateng banget. Padahal mata saya ini besar loh!! *langsung cari foto yang matanya besar*. Ngomongin soal mata, bahkan kalau lagi foto saya suka dijahilin buat ngebuka mata karena kalau senyum atau ketawa suka segaris. Makanya sama adik-adik ketemu besar pun saya sempet ditanyain punya darah Cina atau engga. Yang mana saya jawab engga. Darahnya murni Sumatera kak! Karena sering disangka punya darah keturunan Cina, saya sampai dipanggil Cici atau Cipit sama mereka. Mungkin ini adalah tanda bahwa saya harus mulai belajar Bahasa Mandarin atau Jepang kali ya 😀 .

Semarang Contemporary Art Gallery

img_2678

Pintu masuk

Bulan Juni lalu saya mengunjungi Semarang untuk urusan pekerjaan. Saya dan tiga orang lainnya sengaja pergi dua hari sebelumnya karena hanya ada kereta malam menuju Semarang. Seorang sudah memiliki rencana sendiri. Jadi tinggallah saya dan dua orang lainnya bingung mau maen ke mana. Apalagi bulan Juni itu adalah bulan puasa, ga mungkin banget buat jajan dan ngemil 😀 .

Akhirnya, saya mengusulkan untuk melihat Galeri Semarang. Awalnya mereka berdua bengong dengan saran saya. Ternyata mereka ga pernah pergi ke galeri 😆 . Udah pesimis pada ga mau ikutan dan mikir saya bakal pergi sendiri sekalian mengelilingi kawasan Kota Tua Semarang. Eh ternyata pada mau ikut, ya uwis mari kita ke Galeri Semarang Contemporary Art!!

Kita sampai di sana jam 10 lebih. Eh kok seperti belum buka yah? Gedungnya beneran pakai gedung lama dan ga kelihatan kalau dijadiin galeri. Akhirnya kita nongkrong dulu di taman Srigunting sambil ngeliat Gereja Blenduk. Begitu jam 11-an seorang dari kami, mas B sengaja nelpon untuk memastikan kalau galerinya udah buka. Ternyata oh ternyata, si galeri udah buka dari jam 9 tapi.. yang kita kira pintu masuk itu bukanlah pintu masuknya!! *tepok jidat*

img_2679

Saat ke sana, sedang ada pameran Semarang Punya Cerita #2 yang merupakan pameran foto tentang kegiatan di Semarang. Melihat-lihat fotonya, duh berasa banget kalau Semarang ini punya banyak kebudayaan yang beragam. Mulai dari perayaan imlek, lebaran, sampai pagelaran budaya. Semua foto bisa dilihat di lantai satu dan dua.

Disamping itu, juga ada beberapa karya yang ditampilkan. Awalnya saya hanya melihat ‘oh bikin bentuk mobil”. Ternyata pas dilihat lebih dekat, mobilnya dibuat dari kamera nikon yang telah dipreteli. Antara sayang banget kameranya dijadiin mobil dan kagum karena bisa loh ya kepikiran buat kayak gini!! Selain itu, juga ada seseorang yang seperti mengambil foto dengan metode lama. Pas dilihat-lihat olala ternyata ini termasuk karya yang dipamerkan, alias orang boongan. Aku tertipu!!

img_2676

img_2643

Keliatan kayak benerankan?!

img_2653

img_2647

keretanya dibuat dari kamera!!

img_2652

img_2650

mobilnya dibuat dari kamera Nikon o_O

Saya suka sekali dengan gedung tempat Semarang Contemporary Art Gallery berada. Ruang pamernya terbuka luas dan tidak bersekat, sehingga kita bisa melihat sekeliling dengan leluasa. Bagian atasnya pun sama luasnya dengan bagian bawah. Di samping ada sebuah taman yang asyik banget buat duduk dan berkontemplasi. Di sanalah ada sebuah patung karya Budi Kustarto yang merupakan icon dari galeri ini, patung orang yang berdiri miring. Makanya saya sempet bengong saat melihat patung yang mirip di Galeri Nasional. Tetapi saya dilihat lebih dekat, ternyata yang di Galeri Nasional ga sedetail yang ada di Semarang.

img_2664

img_2675

Oia, koleksi Semarang Contemporary Art Gallery ini selalu berubah. Sehingga setiap ke sana bisa saja kita mendapat pengalaman yang berbeda.

Semarang Contemporary Art Gallery
Jl. Taman Srigunting No. 5-6 Jalan Letjen Suprapto
Tj. Mas, Semarang Utara, Semarang
Buka: Selasa – Minggu
Jam: 10.00 – 16.30
Website: www.galerisemarang.com

Semarang

img_1659

Sudah lama saya ingin menjelajah Semarang. Sampai waktu itu saya dan seorang sahabat sudah membuat rencana jalan tapi sayangnya batal. Pedih banget rasanya. Semacam udah yakin lalu tiba-tiba putus #eh #apa #gimana?. Saat saya mulai bekerja di tempat yang sekarang, saya mendapatkan kesempatan ke Semarang beberapa kali. Rasanya bahagia banget!! Impian dulu jadi kenyataan. Memang sih pertama kali ke sana ga banyak main. Tapi itu juga udah seneng!! Cuma jalan ke Pandanaran dan loenpia Mbak Lien buat beli oleh-oleh aja udah bahagia. Akoh norak ya.

Sampai saat ini saya sudah tiga kali ke Semarang. Kalau ada tawaran pekerjaan ke kota ini, saya sih ga akan nolak. Masih banyak tempat yang belum dijelajah, dan masih pengen didatengin. Sejauh ini saya baru menjejakkan kaki ke Sam Po Kong, Simpang Lima, Lawang Sewu, Galeri Semarang dan juga restoran seafood yang enak banget dan tempatnya bikin betah. Satu-satu akan saya ceritakan di sini ya.

Mungkin saat awal ke Semarang, saya belum diijinkan oleh Tuhan YME. Ia menginginkan saya untuk tetap sabar menunggu, hingga saya bisa ke Semarang dengan hati yang lebih tenang dan bahagia.

Malaysia: Sehari di Penang

Setelah kehabisan ide bepergian di Kuala Lumpur, saya dan Dwi berpikir untuk ke Penang dan Malaka. Tujuannya tentu saja melihat daerah yang menjadi World Heritage Site dari UNESCO. Ada tiga cara untuk mencapai Penang dari Kuala Lumpur, yaitu menggunakan Bus dan Kereta dengan waktu tempuh 8 jam, atau menggunakan pesawat dengan waktu tempuh 45 menit. Untuk harga, perhatikan baik-baik dari setiap situs yang dikunjungi, karena bisa jadi harga tiket pesawat lebih murah daripada bus atau kereta. Hal inilah yang terjadi pada kami. Kami membeli pesawat pp Kuala Lumpur – Penang seharga 83 MYR per orang!!

img_5363

Saatnya terbang kembali

Jadilah ini kali pertama kami menggunakan pesawat untuk bepergian antar kota dengan hanya membawa tas selempang! Di Indonesia pun, tidak akan pernah terpikir untuk bepergian pp antar kota seperti ini 😀 .

img_5406

siap untuk menjelajahi George Town

Kami sengaja mengambil pesawat pagi agar dapat puas berkeliling di George Town. Sayangnya kami sempat merasa salah waktu, karena sepanjang jalan menuju George Town banyak toko yang tutup. Begitupun dengan beberapa galeri serta museumnya. Saya benar-benar lupa kalau untuk orang Cina dan Peranakan, hari Minggu merupakan hari mereka menutup tokonya. Untuk toko yang buka dan cukup ramai ada di daerah Lebuh Cannon dan sekitarnya. Sisanya sepiii.

img_5409

George Town Information Center, sayangnya tutup 😦

img_5410

Syed Alatas Mansion, sayang kurang terawat

Jadilah kami berdua berkeliling George Town dan berburu mural. Oia, George Town juga terkenal dengan street art-nya. Kita dapat mencari banyak street art di setiap jalan di daerah George Town. Street Art ini sangat menarik karena menggabungkan benda mati dengan mural, seperti sepeda dan gambar dua anak kecil yang sangat terkenal. Atau pun street art yang menggunakan rangka kawat.

img_5506

The Famous Street Art!! Sampai ngantri yang mau foto di sini

img_5417

img_5418

For all Pokemon Go Player

img_5419

Look at this cute little cat!!

img_5525

img_5531

img_5602

Ayunan ini juga merupakan Street Art yang paling dicari 😀

img_5537

bagian batang rokok ini timbul loh

img_5495

A selfie not gonna hurt you

img_5570

Selain itu, saya sempat beberapa kali melewati berbagai kuil dan peranakan mansion. Rasanya ingin dimasukin satu-satu!! Tapi saya takut mengganggu yang beribadah di kuil, jadi hanya melihat dari kejauhan saja. Kalau peranakan mansion, saya hanya berhasil masuk ke salah satunya. Tadinya pengen masuk ke Peranakan Mansion yang terbesar, tapi keburu digeret untuk mencari street art yang lain. Padahal ingin membandingkan dengan Peranakan Mansionnya Chong A Fie yang sempat saya kunjungi ketika di Medan.

img_5430

img_5480

img_5592

I want to go to this Mansion!!

img_5581

Saya pun sempat untuk melihat rumah-rumah dari Klan Jetties. Tapi tidak sampai masuk ke dalam, karena bingung sendiri. Sepanjang yang saya lihat, ini merupakan daerah perumahan warga lokal dengan bahan dasar bangunan berupa kayu. Saat melewati beberapa rumah, banyaknya lebih ke jual souvenir, jadi saya memilih untuk keluar dan kembali berburu mural.

img_5530

Salah satu lorong di Chew Jetty

Tidak terasa, waktu sudah sore. Saatnya kami kembali ke bandara untuk menunggu pesawat pulang ke Kuala Lumpur. Ternyata, sehari tidak cukup untuk menjelajah seluruh Penang dan saya ingin kembali ketika weekday agar bisa melihat geliat masyarakat di sana. Semoga lain kali bisa terwujud, aamiin.

Kuala Lumpur: Batu Cave

img_5100

Batu Cave

Hari pertama di Kuala Lumpur, saya dan Dwi memilih untuk mengunjungi tempat paling mainstream di sana, Batu Cave. Sebelum ke sana, sempet baca dulu soal Batu Cave dari blog Mas Chocky dan Mas YayanMas Yayan. Kalau dari apartemen tempat menginap sih, kita tinggal jalan ke KL Sentral dan beli KTM Komuter jurusan Batu Cave seharga 2,5 MYR. Perjalanan dari KL Sentral ke Batu Cave lamanya 45 menit. Saya dan Dwi sih banyak ngobrol dan curhat colongan disertai dengan bercanda di setiap stasiun yang kami lewati.

Sampai di Batu Cave, saya segera melihat jadwal kereta selanjutnya menuju KL Sentral. Ternyata ada setiap jam. Semoga sempat mengejar kereta selanjutnya ya, karena kalau telat lumayan banget bengong nungguin keretanya.

img_5085

Patung Hanoman

Dari Stasiun Batu Cave, kita akan segera melihat pintu masuk dengan patung Hanoman yang menjulang di sebelahnya. Awalnya saya sempat bingung, di mana patung Dewa Muruga berada. Ternyata ketutupan pohon! 😆 Saya sempat penasaran dengan bangunan di dekat pintu masuk. Iseng melihat ke atas, ternyata salah satu kuil dari banyak kuil lainnya di kawasan Batu Cave. Saya melihat banyak orang yang lagi sembahyang dan juga memfoto bangunan dari dekat. Saya sih memilih turun dan berjalan menuju patung dewa yang tinggi banget itu.

img_5086

Salah satu kuil di Batu Cave

Saat di sana, saya melihat banyak turis Cina, Korea Selatan, maupun Jepang. Mungkin lagi peak season liburan untuk turis dari tiga negara ini kali ya. Walaupun begitu, jauh-jauh ke Batu Cave, ketemunya kok ya sama rombongan dari Farmasi Kampus Gajah!!

-_____-“

Saya sampai diam dulu dan memilih bermain sama merpati daripada foto dengan latar belakang turis yang bawa-bawa spanduk dengan lambang institut tersebut. Setelah turis-turis dari Bandung beres foto-foto, gantian saya sama Dwi yang foto-foto di spot sejuta umat ini. Setelah itu, kami pun berpikir bakal naik ga ya? Kalau dilihat waktunya, hmm memungkinkan sih. Sekalian melihat hasil lari beberapa minggu inikan ya. Jadilah kami berdua mencoba naik ke atas. Saya merasa bersyukur hari ini ga jadi pakai dress kebangsaan. Maklum, tangganya terjal banget!! Jadi walaupun terlihat tinggi, ini lebih karena terjalnya tangga. Saat ditengah jalan, saya rada serem juga melihat ke bawah.

Sampai di atas kita akan melihat Goa dengan beberapa kuil dan patung di dalamnya. Saya melihat tidak ada pemandu atau orang yang bisa ditanya mengenai patung-patung yang dibuat di dalam sini. Akhirnya saya lebih tertarik melihat bagian atas gua. Kami pun melihat ada tangga lagi menuju ke atas. Sepertinya ada kuil lagi di atas sana, jadilah kami kembali menaiki anak tangga. Pemandangan di atas wouw banget!! Bisa melihat langit dari dalam gua itu selalu menarik!! Saya pun melihat banyak yang mengantri untuk bersembahyang di sini.

img_5134

img_5138

Suasana di dalam Gua

img_5136

Jalan menuju kuil paling atas

img_5154

Kuil yang berada paling atas

Asyik melihat bagian atas gua, saya penasaran melihat jam. Eh ternyata tidak selama yang saya bayangkan untuk naik ke atas dan kami masih punya sekitar 15 menit untuk mengejar kereta berikutnya. Saya segera memberi tahu Dwi yang juga setuju untuk mengejar kereta. Segeralah kami berfoto untuk terakhir kalinya sebelum turun dari gua. Perjalanan turunnya mendebarkan!! Efek bisa melihat terjalnya tangga kali ya. Kita berdua sampai ga ngobrol sepanjang jalan saking fokusnya menuruni tangga.

Sampai di bawah, waktu mulai mepet. Kita berjalan cepat menuju stasiun yang berjarak ga sampai lima menit. Begitu tiba di stasiun, kami segera beli tiket dan buru-buru turun tangga. Asemnya, begitu turun tangga pintu KTM Komuternya ketutup dong. Belum berangkat sih, baru ketutup banget. Iseng saya coba buka pintunya, ga berhasil. Duh males bangetkan kalau harus nunggu kereta berikutnya >< . Dwi pun mencoba kembali, sekarang sedikit lebih menekan pintunya. Berhasil!!! Yeay!! Segera kami masuk dan duduk. Alhamdulillah ya berhasil masuk kereta dengan selamat 😀