Menenangkan Diri Bersama Dewa Budjana

img_9627

Saya sungguh beruntung bisa menonton konser Dewa Budjana tanggal 30 November lalu di Galeri NuArt Sculpture Park!! Tepatnya dibagian amphitheater di belakang galeri.Awalnya saya sempat meragu untuk datang ke konser ini. Cuaca Bandung hingga sore hujan terus. Kebayang kalau hujan-hujan nonton konsernya, kan ribet ya. Ternyata mestakung *semesta mendukung*!! Selepas maghrib, hujan mereda dan saya ngegojek ke NuArt.

Saya suka dengan konsep konsernya yaitu pasar senggol. jadi selain pertunjukan musik juga ada semacam pasar makanan di bagian taman NuArt.  Bagian amphitheater dihias dengan lampu-lampu yang mengarah ke pepohonan dan bagian taman yang lain dihias dengan lampu-lampu kecil. Jadi ngebayangin kalau ngadain acara garden party di sini pasti asyik banget!!

img_9621

Area Pasar Senggol

Konser ini digelar untuk mengenalkan album terbaru Dewa Budjana, Zentuary. Zentuary sendiri terdiri dari dua kata “Zen” dan “Sanctuary” yang saya artikan titik kita untuk bisa menenangkan diri. Seperti kata Dewa Budjana malam itu, semua orang bebas mengartikan musiknya sesuai dengan selera masing-masing.

Saya pun menyukai penonton yang datang ke konser malam itu. Mulai dari sahabat-sahabat Dewa Budjana seperti Trie Utami, kemudian ada Nyoman Nuarta, juga ada teman-teman difabel yang ikut mendengar dan merasakan musik Dewa Budjana malam itu. Sebenarnya konser malam itu disediakan banyak tempat duduk, tapi saking penuhnya, sampai banyak yang berdiri.

img_9622

Konser Dewa Budjana malam itu banyak memperdengarkan musik dari album terbarunya. Hampir semua judul lagu dimainkan. Pada konser malam itu, Dewa Budjana juga terlihat banyak berkolaborasi dengan musisi yang masih muda. Yang saya suka dari musik-musik Dewa Budjana adalah pertemuan musik modern dan tradisional. Seperti malam itu, selain ada drum, gitar, bass, dan keyboard; juga ada gamelan, suling, hingga harmonika. Dewa Budjana pun tidak membiarkan konser ini terpaku pada permainan gitarnya. Ia juga memberikan ruang kepada musisi lainnya untuk memperlihatkan kebolehan mereka.

img_9633

Saya terhanyut selama dua jam dalam zentuary Dewa Budjana. Hadir dan menenangkan pikiran yang saat itu sedang resah menghitung hari pengujian penelitian tesis. Malam itu seperti oase yang menyegarkan. Saat konser memasuki babak akhir, saya sempat berpindah tempat ke bagian pasar senggol mengisi perut. Syahdu banget rasanya makan ditemani permainan gitarnya. Rasanya tidak ingin cepat selesai, masih ingin duduk-duduk dan menikmati malam di NuArt.

Viatikara: Untuk Dia yang Mencintai dan Ingin Dicintai

129apple_img_9274

Saya jarang punya kesempatan untuk melihat pentas tari. Selain ga ada temen, ga tahu infonya juga. Kayaknya terakhir kali menonton adalah wayang orang yang ditampilkan dalam rangka “Tanggap Warsa”-nya PSTK ITB. Makanya saat mama memberikan tiket untuk menonton Pentas Tari Viatikara, saya bahagia banget.

Viatikara adalah grup tari yang sudah berusia 55 tahun!! Pertama kali dibentuk tahun 1961 oleh dua orang mahasiswa, Paul Kusardy dan Tanaka Hardy yang bekerja sama dengan Drs. Barli Sasmitawinata. Tema yang diusung grup tari ini adalah nasional Indonesia modern. Jadi tidak melulu tari tradisional yang dipelajari. Selama pertunjukkan pun banyak tari modern yang dipentaskan.

129apple_img_9276

Om Jaka Bimbo

Acara malam itu dimulai sedikit terlambat. Beruntung di tengah penonton ada Om Jaka Bimbo *akrab* yang diminta untuk bernyanyi sebelum acara dimulai. Selain itu kalau diperhatikan, penonton yang datang adalah oma dan opa yang ingin melihat kembali pentas tari Viatikara yang legendaris. Ada juga penonton yang datang sebagai bentuk support untuk temannya yang menari *salah tiganya adalah mama dan uwa-uwa*. Jangan salah, penari-penari yang pentas berusia mulai dari 20an hingga 60an loh!! Makanya selain menonton pentas tari, mereka pun datang sekalian reuni dengan teman-teman jaman sekolah dulu. Saya aja sampai dicuekin sama mama dan uwa. Mereka bertiga asyik menyapa teman-temannya, saya sibuk ngeliat kiri kanan. Siapa tahukan ketemu *jodoh* yang dikenal atau seumur.

 Pentas tarinya terdiri dari tiga bagian, di mana tari yang dipertunjukkan pun berbeda-beda. Bagian yang pertama dibuka dengan rampak kendang yang keren banget naikin suasana pentas. Dilanjut dengan tari kunang-kunang yang indah banget. Properti lampu kecil dan lampu panggung yang diredupkan sukses membuat seolah penonton melihat kunang-kunang berterbangan. Tarian pun dilanjutkan dengan tari potong padi, tari angin timur, serta rebana. Pada bagian kedua ada tari selendang sutra, tari nelayan, tari putri gunung, dan tari pemetik teh. Tarian di bagian kedua ini lebih memperlihatkan kehidupan masyarakat dari daerah pantai, gunung, maupun suasana berkebun.

129apple_img_9317

Tari Puteri Gunung

Bagian ketiga dari pentas tari Viatikara adalah bagian favorit saya!! Bagian ini merupakan drama musikal berjudul hari yang cerah. Menceritakan mengenai hari pernikahan antara dua suku: Minang dan Sunda. Kedatangan tamu dari berbagai suku turut memeriahkan acara pernikahan. Mereka menyajikan tarian dari Sumatera Utara, Minang, Kalimantan Timur, hingga Ambon. Kerasa banget keberagaman suku dan tarian di Indonesia. Saya senang sekali ketika mempelai pria yang berasal dari Sunda memasuki ruangan diiringi lagu Malam Bainai. Hatiku hangat. Drama musikal ini pun ditutup dengan mengangkat gelas sembari menyanyikan lagu Lisoi.

129apple_img_9319

Sedang mempersiapkan pelaminan

129apple_img_9320

Tari Tempurung

129apple_img_9321

Mempelai perempuan sudah hadir

129apple_img_9326

Berbagai suku memberikan selamat untuk pengantin

Saya tidak berhenti untuk takjub dengan tarian yang dipentaskan. Latar panggung, pencahayaan, suara, musik yang dilakukan secara live, hingga penyanyi yang bersuara prima menambah keindahan pentas tari.

Selesai pertunjukan, mama dan uwa sempat berpamitan dengan teman-temannya. Tadinya sih pengen menyapa teman SMA mereka yang sempat menari, tapi berhubung udah malem jadi kami memutuskan pulang duluan. Teman-teman SMA-nya yang lain sih masih pada ngobrol dong!! Warbiyasak sekali opa dan oma ini…malah saya yang berasa tua, udah ngantuk aja jam sepuluh x_x .

Semalam di Sampireun

IMG_5668Kampung Sampireun

Dua hari sebelum akhir tahun, saya diajak seorang teman untuk beramai-ramai liburan ke Kampung Sampireun yang terletak di Garut, Jawa Barat. Total ada tiga keluarga dan tiga orang yang masih single. Kami menggunakan dua mobil dari Bandung. Di dalam mobil sama-sama heboh sepanjang perjalanan.

Sampai di Kampung Sampireun, saya merasa sedang menjauh dari hingar bingar dan sibuknya dunia luar. Suara yang terdengar hanya suara air, jangkrik, serta lagu instrument Sunda yang ada di lobbi Kampung Sampireun. Adem banget!!

IMG_5530Bajigur Hangat

Sambil menunggu proses check in, kami semua mendapatkan bajigur hangat. Setelah itu, kami diantar ke sebuah bungalow yang berada persis di pinggir danau! Yeay!! Kampung Sampireun ini terdiri dari 22 bungalow. Ada yang berada di pinggir danau dan mendapat akses ke perahu, dan ada yang berada di atas dan menghadap ke taman. Saya dan seorang temen langsung mencoba berperahu mengelilingi danau.

IMG_5538ada congklak!!

Tipe kamar yang kami tempati adalah Waluran Suite Lake yang terdiri dari dua kamar tidur, area menonton tv, serta teras ke arah danau. Di ruangan menonton tv tersedia dua cangkir kopi, empat buah gelas, dan pemanas air. Ini penting banget buat mana-manasin air. Saat di perjalanan menuju Kampung Sampireun mending beli persediaan cemilan, makanan, dan air mineral. Karena di dalam Kampung Sampireun ga ada mini market.

Kamar mandi yang ada di kamar utamanya luas banget! Maklum soalnya selain ada shower, juga ada bath tub-nya. Toiletries yang tersedia juga lengkap loh. Kasurnya empuk banget!! Ini nih yang bikin gagal move on dari kamar pagi-pagi: kasur empuk dan udara dingin. Bungalownya juga cukup luas untuk anak-anak bisa berlarian. Selain itu, saat pertama kali datang, saya segera menemukan congklak!! Segera saya mengajak anak-anak untuk bermain congklak 😀 . Di bagian belakang ada teras kecil dengan tempat duduk panjang. Di sini asyik banget buat duduk-duduk menikmati senja ataupun fajar.

IMG_5534Kamar Utama

IMG_5535kamar mandi di Kamar Utama

IMG_5549kamar dengan twin bed

IMG_5533kamar mandi satu lagi

Asyik banget rasanya bisa ngobrol ngalor ngidul dari siang sampai sore. Kalau bosen ngobrol, bisa keliling danau dengan menggunakan perahu. Udara di Kampung Sampireun yang adem dan bersih paling enak ditemani hangatnya cokelat, teh, maupun kopi. Saya juga membawa novel untuk dibaca sambil menghadap danau. Duh bahagia banget!!! Kalau malem, bakal ada tukang cemilan seperti wedang ronde dan surabi yang berperahu mengelilingi danau. Asyik banget buat ngemil sore ataupun malam. Walau dari sisi rasa ga terlalu istimewa sih yah.

IMG_5774Spa dan kolam renang

IMG_5617ikan-ikan di deket kamar

IMG_5810pemandangan dari Bungalow

IMG_5573sempet foto sendiri dulu 😀

Rasanya puas banget punya waktu berkualitas bareng sahabat-sahabat yang sudah bagai keluarga ini. Saya kenal mereka semua dari zaman putih abu-abu hingga saya S2. Lama banget!! Udah tahu deh polos dan keluguan saya zaman dulu. Beneran temen berbagi suka dan duka, temen untuk diskusi apa aja. Ini aja ngobrolnya ga beres-beres loh. Sampai saya ketiduran, bangun, ngobrol lagi ampe pagi, terus tidur lagi.

Kampung Sampireun
l. Raya Samarang Kamojang KM 4
Kp. Ciparay Desa Sukakarya
Kec. Samarang Kab. Garut,
Jawa Barat – Indonesia
website: kampungsampireun.com

Bali: Museum Antonio Blanco

IMG_1367

Sebelum pergi ke Bali, ada satu tempat yang membuat saya penasaran: Museum Antonio Blanco. Letak museumnya sendiri di daerah Ubud. Pas banget dengan daerah yang akan kami datangi. Akhirnya pada hari kedua di Ubud, saya dan Muti mengunjungi Museum ini.

Museum Antonio Blanco terletak di depan jalan menuju Bukit Campuhan, dekat dengan Sungai Campuhan. Suasananya tenang banget. Museum ini berada di lingkungan rumah keluarga Antonio Blanco. Museum pelukis yang memiliki darah Spanyol ini terdiri dari rumah pribadi, galeri, studio serta restoran.

IMG_1369Patung Shiwa di pekarangan Museum

Kalau melihat sekeliling Museum, kita akan melihat patung Dewa Shiwa Selain itu terdapat beberapa burung yang dipelihara di sini. Melihat bangunan museumnya sendiri, terdapat dua patung naga dan keris yang menjadi latar bangunan. Tapi suasana di dalam museumnya serasa berada di Eropa, luas dengan tangga berputar. Saya sendiri merinding banget begitu masuk. Maklum suasananya cukup temaram dan saat itu hanya ada kami berdua di sana.

IMG_1370bagian depan Museum

IMG_1376ukiran bergaya Bali

IMG_1377Antonio Blanco

Museumnya sendiri terdiri dari dua lantai dan tidak diperbolehkan untuk memfoto karya-karyanya. Seperti yang diketahui banyak orang, Antonio Blanco senang melukis kecantikan dari perempuan Bali. Perempuan Bali yang dilukis merupakan istrinya yang merupakan penari Bali. Dari keempat anaknya, hanya satu yang mewarisi bakat Antonio Blanco, yaitu Mario. Saat ini Mario lah yang mengurus museum.

Saya dan Muti berkeliling dan memperhatikan semua lukisan yang ada. Keren banget!! Kita bisa melihat keindahan penari Bali saat itu. Setelah berkeliling, kami pun berkesempatan untuk melihat-lihat studio tempat Antonio Blanco melukis. Beliau sendiri melukis di tengah ruangan dengan berbagai kuas dan cat yang masih disimpan hingga saat ini. Di dalam studionya kita juga bisa melihat foto-foto Antonio Blanco beserta anak dan istrinya. Saya juga sempat memperhatikan banyak barang antik serta majalah-majalah yang sudah menguning. Kesannya betul-betul klasik.

IMG_1385Minuman dingin di hari yang panas

Diakhir kunjungan, kami mendapatkan minuman gratis yang bisa ditukar di restorannya. Rasanya senang sekali bisa duduk-duduk sambil melihat Bukit Campuhan serta mengobrol sore-sore. Jauh dari hingar bingar kota.

Museum Antonio Blanco
Jl. Campuan Panestaan Ubud Bali
Website: www.blancomuseum.com
Jam Buka: Day Light Hours

Wisata Sejarah Kereta Api: Buitenzorg – Soekaboemi – Tjiandjoer

Tanggal 29 Mei 2016 saya, Dede Marin, dan Cice mengikuti Wisata Sejarah Kereta Api (Railway Heritage Tour)  yang diselenggarakan oleh unit Heritage PT. KAI dan ICOMOS (International Council on Monument & Sites) Indonesia. Wisata Sejarah Kereta Api kali ini akan melakukan perjalanan jalur kereta api pertama di Hindia Belanda, yaitu rute Buitenzorg – Soekaboemi – Tjiandjoer.

IMG_1821

Pada hari Minggu, peserta berkumpul di ruang VIP Stasiun Bogor. Di sini kami disambut oleh presiden ICOMOS Indonesia yang berperan sebagai tour guide, Bapak Dicky AS Soeria Atmadja dan kepala stasiun Bogor, Bapak Sugi Hartanto. Setelah itu, sambil menantikan kereta menuju Sukabumi, peserta diajak berkeliling Stasiun Bogor.

IMG_1833Bogor, terletak 346m di atas permukaan laut

Pengenalan Stasiun Bogor dimulai dari menaiki tangga kayu berputar untuk ke lantai dua stasiun yang menggunakan kayu. Zaman Hindia Belanda dulu belum dikenal lantai yang dicor sehingga menggunakan lantai kayu. Untuk tangganya sendiri terbuat dari kayu jati dan merupakan satu-satunya stasiun yang memiliki tangga kayu berputar. Keunikan lain dari stasiun ini adalah bangunannya yang tinggi untuk dapat menghalau panas udara tropis. Selain itu apabila diperhatikan, pada bagian bawah pintu kayu terdapat plat besi yang berguna untuk menghindari gesekan kayu dengan lantai agar pintu tetap awet. Bagian lain yang menarik dari Stasiun Bogor adalah hall depan yang berfungsi sebagai ruang tunggu kereta. Bagian daun pintu yang diukir cantik dan langit-langitnya mengingatkan saya pada ballroom ruangan Eropa yang megah. Sayangnya saat ini hall tersebut dibiarkan kosong.

IMG_1847suasana pagi di Stasiun Bogor

IMG_1853Tangga berputar yang terbuat dari Kayu Jati

IMG_1854detail pintu depan dari stasiun lama Bogor

IMG_1859Hall yang megah di Stasiun Bogor

Stasiun Bogor sendiri merupakan landmark kota yang terletak tepat di seberang Istana Bogor. Saat zaman Hindia Belanda, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg yang memiliki arti ‘tanpa kecemasan’ atau ‘rasa aman’ yang merupakan tempat beristirahat bagi pekerja yang jauh dari hiruk pikuk kota Batavia.

Tidak terasa, waktu pun menunjukkan pukul 07.30. Saatnya kami masuk ke kereta. Sebenarnya saat ini perjalanan Bogor – Sukabumi dimulai dari Stasiun Paledang, akan tetapi khusus untuk tur heritage ini, kami memulai perjalanan dari Stasiun Bogor. Di Stasiun Paledang, kereta sempat berhenti selama 20 menit untuk menaikkan penumpang menuju Sukabumi. Sambil menunggu, kami dibagian scraft dan peta perjalanan. Pada peta, dapat terlihat bahwa jalur yang kami lalui merupakan jalur yang berbeda dengan jalur kereta Jakarta menuju Bandung.

IMG_1894Pak Dicky sedang menjelaskan peta perjalanan hari ini

IMG_1899peta wisata sejarah kereta api

Perjalanan menuju Sukabumi ini, melalui Stasiun Batu Tulis, Ciomas, Maseng, Cigombong, Cicurug, Parung Kuda, Cibadak, Karang Tengah, hingga sampai dipemberhentian Sukabumi. Sepanjang perjalanan, Pak Dicky menceritakan mengenai sejarah yang ada di Jalur ini.

IMG_1905Gunung Pangrango yang terlihat dari sebelah kanan

IMG_1916Gunung Salak terlihat dari sebelah kiri kereta api

Pada perjalanan menuju Stasiun Batu Tulis kita bisa melihat Gunung Salak di kiri dan Gunung Pangrango di kanan. Pak Dicky menceritakan bahwa di kaki Gunung Pangrango terdapat enam makam tentara Nazi. Wouw, saya sampai bengong sendiri mengetahui fakta sejarah yang satu ini.

Sejarah lain yang diceritakan adalah mengenai sebuah danau buatan yang terletak tidak jauh dari Stasiun Cigombong yang bernama Danau Lido. Dahulu, danau ini digunakan untuk tempat peristirahatan bagi petinggi pengawasan pembangunan Jalan Raya Pos dan pemilik perkebunan. Hingga saat ini, Danau Lido masih digunakan untuk tempat peristirahatan pejabat negara. Para mantan Presiden Indonesia juga pernah bepergian ke Danau Lido untuk beristirahat.

Apabila kita sampai di Stasiun Cigombong, wajib banget untuk turun sejenak dari kereta dan mengagumi pemandangan Stasiun dengan latar belakang Gunung Salak yang sayang untuk dilewatkan. Beneran cantik banget pemandangannya!!

IMG_1926Indah!!

Setelah Stasiun Parung Kuda, terdapat Stasiun Cibadak. Tidak jauh dari Stasiun Cibadak ini terdapat daerah yang bernama Tjipetir. Akhir tahun 2014, di Eropa sempat digemparkan dengan berita mengenai seseorang yang menemukan sebuah balok persegi bertuliskan Tjipetir di dekat pantai daerah Cornwall, Inggris. Benda tersebut berbahan kenyal seperti karet. Balok karet Tjipetir tersebut menyebar di daerah pantai Inggris karena diangkut sebuah kapal yang karam. Banyak berita mengatakan bahwa kapal yang mengangkut balok karet Tjipetir adalah Titanic!!

Saya sampai bengong ngedengernya. Bayangkan saja, dulu balok berbahan karet asal Tjipetir ini dikirim ke Eropa untuk digunakan sebagai  insulator kabel telegraf bawah laut. Balok berbahan karet ini istimewa karena tidak terbuat dari getah pohon karet melainkan dari daun yang digiling untuk mendapatkan getah perca. Terbayangnya karet buatan Tjipetir ini kuat bangetkan sampai jadi insulator bawah laut.

IMG_1936Tjipetir

Melewati Stasiun Cisaat, kami pun sampai di Sukabumi dan berganti kereta perintis menuju Cianjur. Keretanya sendiri merupakan kereta ekonomi AC yang terdiri dari empat buah gerbong. Disebut kereta perintis, karena berada di bawah Departemen Perhubungan dan bukan merupakan bagian dari PT. KAI.

IMG_1929suasana Stasiun Sukabumi

Perjalanan pun dilanjutkan melewati Stasiun Gandasoli, Cireugas, dan Lampegan. Dari Stasiun Cireugas ke Lampegan, kita akan melewati sebuah terowongan kereta api pertama yang dibangun di Hindia Belanda bernama Terowongan Lampegan. Disebut Lampegan karena dahulu orang Indonesia sering mendengar kata ‘Lampe ghan!!’ yang diteriakkan oleh Menir Belanda saat ada kereta yang akan memasuki terowongan. Kata itu berarti ‘nyalakan lampu’. Saya dan beberapa orang peserta tur semangat banget merasakan detik-detik kereta api memasuki terowongan ini. Ternyata terowongannya lumayan panjang!! Seru banget merasakan momen melihat cahaya dari terowongan Lampegan. Dari Stasiun Lampegan, perjalanan dilanjutkan melewati Stasiun Cibeber, Cilaku, hingga sampai di Stasiun
Cianjur.

IMG_1937sejauh mata memandang, terdapat hamparan sawah

IMG_1957Terowongan Lampegan

IMG_1958Stasiun Lampegan

IMG_1965selalu suka merasakan kereta berbelok

IMG_1986suasana Stasiun Cianjur

IMG_2019pemindah rel kereta manual!!

IMG_2027Foto bareng Pak Dicky

IMG_2039Foto bareng Kepala Stasiun Cianjur

Sesampainya di Stasiun Cianjur, kami pun beristirahat, berdiskusi, dan menikmati makan siang. Betul-betul perjalanan yang menyenangkan!! Banyak banget informasi dan pengetahuan sejarah yang saya dapatkan dari perjalanan kali ini. Rasanya tidak pernah belajar sejarah semenyenangkan ini.

*Saya juga membuat versi Steller tulisan ini

Bali: Garuda Wisnu Kencana

IMG_1116Garuda Wisnu Kencana Culture Park

Buat yang sering ke Bali, udah khatamlah ya soal Garuda Wisnu Kencana Culture Park yang terletak di bagian Selatan Bali. Saya sih penasaran aja sama tempat yang satu ini karena belum pernah 😀 . Saya makin tertarik karena seniman yang membuat patung Wisnu dan Garuda ini, I Nyoman Nuarta bermukim di Bandung dan bahkan punya galeri seni. Walau saya belum pernah ke galerinya yang bernama Nu Art, ga ada salahnya kalau melihat hasil karya beliau lewat patung Wisnu dan Garuda yang belum jadi dulu.

Saya dengar pembangunan patung GWK ini sempat berhenti karena krisis moneter dan di tahun 2013 kembali di bangun. Akan tetapi pembangunan patung GWK ini sedikit berbeda dengan sebelumnya karena akan dibangun baru. Ketika kesana tahun 2014, saya lihat bagian Selatan dari GWK memang sedang dikeruk untuk dijadikan bagian dari patung yang baru. Saya baru tahu kalau untuk pembuatan patung GWK ini, I Nyoman Nuarta melakukannya di Bandung, kemudian memindahkan potongan-potongan tersebut ke Bali. Besok-besok saya mesti ke Nu Art nih, siapa tahu bisa lihat potongan-potongan patung GWK yang sedang dikerjakan 😀 .

Kalau sekarang ke GWK Culture Park, mungkin sudah  bisa melihat pembangunan patung GWK yang baru. Selain patung dan kerennya pemandangan dari atas bukit, kita juga bisa melihat sendra tari yang selalu diadakan di amphitheater-nya.

IMG_1118Belakang saya adalah cerita Garuda Wisnu Kancana yang terdiri dari empat panel

IMG_1121Patung Wisnu tanpa lengan

IMG_1131Kepala Garuda

IMG_1161Pertunjukan tari di amphitheater

Saat saya ke sana jam 2 masih terlalu panas. Kalau mau lebih baik ke sana sekitar jam 3 atau 4 aja, biar lebih adem.

Garuda Wisnu Kencana Culture Park
Jl. Raya Uluwatu, Ungasan, Kuta Selatan
Badung 80364, Bali-Indonesia
Website: www.gwkbali.com

Bermain di Anak Sungai Cikapayang

Kalau ngikutin akun instagram Walikota Bandung Kang Emil, bakal ngeliat dua buah taman baru nan cantik. Pertama adalah Teras Cikapundung River Side dan taman kedua Anak Sungai Cikapayang di Jalan Merdeka.

Hari ini saya melihat taman di Anak Sungai Cikapayang Jalan Merdeka. Depan kantor Walikota sekarang jadi keren banget!! Ga kalah deh sama kota-kota cantik di luar negeri sana. Untuk urusan kayak gini, saya acungin dua jempol buat Kang Emil.

Sebenarnya bagian Anak Sungai Cikapayang ini dulu biasa-biasa aja, bahkan sempat dipager karena merupakan bagian dari Taman Balaikota Bandung. Akan tetapi akhir tahun kemarin, ujung Taman Balaikota yang berhadapan dengan Taman Vanda direnovasi. Hasilnya seperti gambar di bawah ini

IMG_6096Ini di Bandung loh!!

Keren bangetkan hasilnya?! Asyiknya lagi di sini banyak tempat duduk dan pelataran yang berundak, yang mana bisa buat duduk juga!! Seru kan kalau pagi-pagi duduk di sini sambil baca novel atau sore-sore mandangin yang hijau-hijau  *siapa tahu ketemu jodoh!!*.

Selain taman yang asyik banget, buat yang doyan foto ada batu-batu tinggi dibagian pinggir jalan. Ga tahu sih ya gunanya buat apa, tapi jadi tempat narsis yang pasti.

IMG_6097taman dilihat dari sisi yang lain

Bagian yang menarik dari taman ini adalah si Anak Sungai Cikapayang yang bisa dipake buat ngerendem kaki. Jadi buat anak-anak yang pengen main air di tengah kota bisa ke sini. Ga menutup juga buat orang yang lagi galau meratapi diri 😀 . Airnya sendiri jernih ga? Tentu belum jernih 😆 tapi bersih, ga ada sampahnya.

IMG_6095rame sama anak kecil

Paling seneng sama taman ini ada banyak tanda peringatan untuk ga buang sampah, BAB, atau buang air kecil di sungai ini. Kalau mau buang sampah, pemerintah udah banyak nyiapin tempat sampah di sekitaran taman.

IMG_6119bagian lain dari taman

IMG_6090serasa bukan di Bandung 😆

Satu yang selalu saya doakan, semoga tamannya berumur panjang, bersih, dan rumputnya ga diinjak-injak sama warga Bandung yang menghalalkan segala cara untuk dapet foto bagus, aamiin!!