Mei ke Makassar

RTYKE6799

Bulan Mei lalu, saya pertama kali menjejakkan kaki ke Makassar. Kota yang dulunya bernama Ujung  Pandang ini merupakan salah satu kota yang sudah saya idamkan sejak beberapa tahun lalu. Sayangnya selama bekerja saya belum berjodoh dengan kota ini. Akhirnya pertemuan saya dengan Makassar terjadi ketika seorang teman mengajak untuk mengunjungi Makassar International Writer Festival (MIWF).

Saat tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, saya teringat dengan Bandara Kuala Namu Medan. Bandaranya buesaaaarrr!! Iya ini saya ngebandinginnya sama bandara Husein yang yah segitu segitunya aja, udah ga bisa diapa-apain lagi.

Tujuan utama ke Makassar ini sebenernya antara memang mau lihat MIWF, pengen jalan-jalan, dan pengen kopi darat dengan teman-teman sesama pembaca buku Ika Natassa dari jaman dahulu kala. Beneran deh ketemu mereka tuh udah berasa ketemu temen lama, ga ada canggung-canggungnya dan langsung bisa akrab kayak kalo ngobrol di grup.

Urusan jalan-jalan tentunya karena ada MIWF yang diselenggarakan di Benteng Fort Rotterdam, saya jadi bolak balik berkunjung ke sana. Tempatnya beneran keren banget!!  Karena ada beberapa puing-puing bangunan perasaannya jadi beda dengan saat say aberkunjung ke benteng yang ada di Yogya. Sayang saya ga sempat masuk ke Museum La Galigonya, tapi saya bisa dapat kesempatan melihat gereja yang ada di dalam benteng!! Selain itu saja juga berkesempatan berkunjung ke Ramang-ramang dan mencoba Jembatan Helena yang ada di Bantimurung. Tadinya saya mau berlanjut lihat air terjunnya, tapi berhubung saat ke sana Hari Minggu dan tempatnya penuh banget, jadilah kami memutar balik mobil dan memilih balik ke Makassar. Saya juga berkesempatan untuk main air sejenak di Pulau Samalona yang terkenal dengan keindahannya. Untuk Pulau Samalona, nanti saya buat tulisan terpisah ya.

IMG_0814

Menuju Ramang-ramang

Kalau sudah sampai Makassar tentu harus mencoba makanan khasnya ya!! Kayaknya untuk ini saya bisa nulsi satu postingan tersendiri deh!! Hampir semua makanan khas Makassar saya cobain!! Ga cuma makanannya, saya juga ketagihan sama kopinya yang enak. Duh nulisnya aja ini jadi kangen ngopi di salah satu toko kopi di Sumba Opu Makassar.

IMG_0721

Sebenernya masih ada beberapa tempat yang ingin saya kunjungi di sana. Saya masih pengen banget buat jalan-jalan ke Tanah Toraja dan juga Tanjung Bira. Semoga suatu saat saya bisa berkunjung ke sana, aamiin!!

 

Advertisements

Drama oh Drama

Saya benar-benar baru merasakan banyak drama saat pergi ke Bangkok bulan Maret lalu!!! Saking dramanya setiap orang yang saya ceritain hal ini hanya geleng-geleng kepala dan pengen jitak saking geregetannya. Duh jangankan mereka, saya aja pengen banget ngegetok kepala sendiri kalau inget kejadiannya.

Kalau mau disalahin, saya akan menyalahkan diri sendiri karena mengambil kerjaan cukup padat di minggu terakhir sebelum saya ke Bangkok. Saya mengambil dua buah kerjaan dan satu laporan sebagai syarat melamar pekerjaan. Menghitung hari dan tenaga, saya optimis bisa selesai mengerjakan semuanya h-1. Kenyataannya? selesai semuanya tapi h-2 jam sebelum berangkat. Udah gitu detik-detik menjelang tenggat waktu rasanya udah ada tanduk di kepala, ada yang nyenggol dikit langsung mengaum!!

Tentu saja disela-sela kesibukan itu saya menyempatkan jauh-jauh hari untuk packing, sesuatu yang jarang dilakukan. Biasanya h-1 baru packing, ini h-6 hari mulai masuk-masukin barang. Sebenernya tujuannya baik sih, demi ga ada yang ketinggalan karena untuk kali ini saya perlu membawa barang untuk Waldorf teacher training di sana. Tapi dasar cemasan dan masih berpikir untuk bawa barang seminimal mungkin, saya tetap saja bongkar-bongkat koper sampai h-1 jam keberangkatan ke travel karena berangkatnya dari Soekarno Hatta. Saya menggunakan pesawat jam 06.20 pagi, dan berhubung bekasi – cikarang lagi ga bisa diprediksi macetnya saya mengambil travel jam 22.00 .

Untungnya, saat ke travel ini saya diantar oleh kakak jadi bisa lebih santai. Apalagi lalu lintas Bandung lagi bersahabat banget, jadi sampai lebih cepat. Sambil menunggu mobil datang, saya pun mengecek kembali apa-apa yang perlu saya bawa dan kepikiran untuk memasukkan beberapa barang dari tas ransel ke koper. Saat akan membuka kunci koper, nomer kuncinya kereset dong!!! Ini karena saya buru-buru saat menutup koper di rumah. Gawat!!! Saya segera mencari di google apa yang perlu dilakukan kalau ada kejadian seperti ini dan semua artikelnya memberi tahu harus manual satu-satu dicobain kombinasi angkanya. Edyaaaannnn. Ini sungguh pr banget. Akhirnya 45 menit saya habiskan untuk mencari kombinasi angka yang ternyata hanya beda satu angka dari kombinasi yang saya gunakan. Kesel sama kebodohan sendiri. Tidak berapa lama, mobil travel pun datang dan begitu menyentuh kursi saya langsung tidur.

Sampai di Soekarno Hatta ternyata baru jam 12.30 pagi dong!! Ternyata jalanan lagi lancar banget. Akhirnya saya memilih tidur-tiduran di kursi sambil menunggu teman-teman saya yang baru datang jam 5an. Sekitar jam 02.30 saya terbangun dan bengong mau ngapain, akhirnya saya melanjutkan mengecek kembali barang-barang yang perlu saya bawa dan saya baru sadar, paspor saya ga ada!!!! Ini kebodohan paling parah!!  Paspornya ketinggalan di Bandung dong!!!!

Panik saya langsung menelpon kakak karena saya yakin dia masih bangun. Kita berdua koordinasi untuk mengambil paspor saya di rumah (karena kakak saya tinggal dengan mertuanya) dan segera cari travel ke Soekarno Hatta untuk dititipin paspor. Oh sudah tentu orang tua saya ikutan panik saat diberitahu oleh kakak. Saya hanya bisa pasrah ketika diomelin sama mereka. Kakak saya pun berhasil mendapatkan travel yang ke bandara paling cepat, yaitu jam 03.00. Kita berdoa semoga sekitar jam 05.30 sudah sampai. Berhubung usaha sudah dijalani, saya pun hanya bisa pasrah dan berdoa semoga paspornya bisa sampai di bandara sebelum jam 06.00. Di tengah kepasrahan itu akhirnya saya mencari mushala dan shalat tahajud. Setelahnya saya berdoa semoga masih diijinkan untuk pergi tepat waktu ke Bangkok.

Jam 04.00 salah seorang teman seperjalanan saya pun datang dan kami sempat mengobrol soal kebodohan yang saya lakukan. Sambil saya memasang startegi untuk bisa check in terlebih dahulu. Untungnya saya membawa salinan foto paspor sehingga masih bisa check in walaupun baru boleh mengambil boarding pass setelah paspor datang. Dengan begini setidaknya saya masih bisa terbang. Tinggal menunggu paspor untuk datang tepat waktu.

Jam 05.30 saya menelpon supir travel untuk memastikan ia sudah sampai di mana. Syukurlah sudah sampai di tol Soekarno Hatta, setidaknya sebelum jam 06.00 paspor saya sudah sampai di bandara. Jam 05.45 saya kembali mengontak supir travel karena belum ada tanda-tanda kedatangannya. Alhamdulillah ternyata sudah sampai di terminal 1 dan akan ke terminal 2 tempat saya berada. Tidak sampai lima menit kemudian saya sudah bertemu supir travel dan tak henti-hentinya saya mengucapkan terima kasih sebelum ngacir ke dalam karena pesawat akan boarding 5 menit lagi. Itu semua belum termasuk saya harus mengantri imigrasi dan jalan ke arah boarding gate.

Sampai di dalam pesawat saya langsung tidur pulas hingga sampai di Bangkok. Perjalanan selama tiga jam sungguh ga berasa. Padahal kata teman-teman saya ada dua kali turbolance!! Ini sudah pasti efek saya kehabisan energi menjalani malam panjang penuh drama.

IMG_4094

Pesan moralnya, jangan ambil kerjaan banyak-banyak kalau mau bepergian sehingga bisa packing dengan tenang dan pastikan paspor atau ktp benar-benar sudah ada di tas.

Mabok Candi di Kompleks Angkor

IMG_0767

Kamboja merupakan negara yang ingin saya datangi untuk melihat salah satu situs warisan dunia, Angkor. Awalnya saya salah mengira bahwa Angkor Wat merupakan kawasan yang terdiri dari berbagai macam Candi. Ternyata sampai di sana saya baru tahu kalau Angkor Wat merupakan salah satu candi utama dan terbesar di kawasan Angkor.

Ke Kawasan Angkor berarti bersiap untuk menjelajahi waktu dan melihat berbagai macam bentuk candi. Saya yang sehari di sana udah mabok candi saking banyaknya candi yang dilihat. Satu hari sebelumnya, saya sempat mengunjungi Angkor Panorama Museum untuk melihat keseluruhan maket wilayah Angkor. Gede dan luas banget gengs!! Saya sampai bingung mau mengunjungi Wat yang mana saja.

Akhirnya saya ikut saja dengan rencana dari supir tuk-tuk. Maklum selain ga kebayang, saya sih pengen melihat matahari terbit di Angkor Wat serta berkunjung ke daerah candi yang memiliki banyak akar menempel plus pernah jadi tempat syutingnya Tomb Rider. Sisanya mah ngikut aja ke mana supir tuk-tuk membawa.

Penjelajahan saya ke Kawasan Angkor dimulai dari mengejar matahari terbit di Angkor Wat. Kemudian setelah puas bengong, saya pun menyusuri Angkor Wat ini. Saya, Teh Zen, dan Teh Wina sempat mengobrol dan mengamati bentuk candinya. Kita sempet bahas gitu perbedaan antara Angkor Wat, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan. DIlihat-lihat memang Angkor Wat ini lebih berupa istana ya ketimbang Candi untuk berdoa. Tapi lagi-lagi saya harus kembali baca buku soal kawasan Angkor untuk memastikannya. Selain itu kita juga sempet beberapa kali berhenti untuk duduk dan ngobrol random. Setelah puas muter, sarapan, nongkrong, dan foto-foto akhirnya kami pun keluar dari Angkor Wat menuju Wat yang lain.

 

IMG_0783

Gerbang menuju Angkor Wat

 

 

IMG_0796

Salah satu bagian dalam Angkor Wat

 

JMEO9073

Perjalanan pun dilanjutkan menuju kawasan Angkor Thom dengan melewati South Gate. Setelah itu bila berjalan lurus, kita akan menemukan bentuk candi yang berbeda dengan Angkor Wat, yaitu Bayon. Di sini saya menemukan banyak wajah yang tersenyum tenang milliki Avalokiteshvara. Melihat senyum penuh kedamaiannya membuat saya pun tenang dan nyaman. Padahal saat itu matahari mulai meninggi dan kondisi candi sangat penuh oleh turis. Tapi saya tetap senang mengitari Bayon dan melihat setiap relief wajah-wajah tersenyum satu persatu. Hal menarik yang saya perhatikan adalah reliefnya tidak dipahat seperti candi-candi yang lain, tapi seperti dibentuk terlebih dahulu baru disatukan.

 

IMG_0814

South Gate

 

 

IMG_0816

Bayon

 

IMG_0823

Tak jauh dari Bayon, kita akan bertemu dengan Candi Baphuon. Saya segera jatuh cinta melihat jembatan menuju candi ini!! Saat berjalan selangkah demi selangkah menuju candi, saya melihat banyak batu berserakan seperti mengajak kita untuk turun dan duduk sejenak menikmati keindahan jembatan dan candi sambil mengobrol di bawah pohon rindang. Saat memasuki Baphuon barulah terasa panas. Selain itu pintu keluar candi adalah dari sisi belakang sehingga perlu berputar bila ingin kembali ke depan. Beneran kudu siapin stamina dan air mineral kalau ke sini!!

Bila kita berjalan ke bagian belakang dan memilih jalan melewati dinding batas Candi Bapuhon, kita akan menemukan Candi Phimeanakas yang sedang dipugar. Saya sih udah kepanasan, jadi setelah foto dan melihat sekitar bangunan kita pun berjalan lurus ke arah jalan utama dan bertemu dengan Terrace of Elephant.

 

IMG_0826

Jembatan menuju Baphuon

 

 

IMG_0852

Baphuon Temple

 

 

IMG_0853

Phimeanakas

 

 

IMG_0854

Terrace of Elephant

 

Berarti sudah empat candi yang kami kelilingi. Waktu pun sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ah tapi sayang banget kalau makan siang sekarang. Jadi kami melanjutkan perjalanan melewati Victoria Gate dan lanjut ke candi selanjutnya. Supir Tuk-Tuk kami, Pak Nasri dengan baik hati menawarkan untuk berhenti di candi berikutnya, Candi Thommanon yang terletak depan-depanan sama Candi Chau Say Tevoda. Apa daya kami masih lelah setelah mengunjungi kawasan Angkor Thom, jadi kami pun memilih melihat-lihat sebentar dari dalam tuk-tuk dan melanjutkan ke candi selanjutnya, Ta Keo.

Saat melewati Ta Keo, saya melihat candi ini sedang dipugar sehingga menjadi malas untuk turun. Selain itu hari mulai panas dan tenaga mulai berkurang drastis. Sehingga kami pun meminta Pak Nasri untuk melanjutkan perjalanan ke Ta Prohm.

IMG_0856

Victoria Gate

 

IMG_0859

Ta Keo

 

Ta Prohm ini memang terkenal sebagai tempat syuting Tomb Rider. Saya merasa sangat kagum dengan bentuk dan keindahan candi ini. Di sini saya merasakan bagaimana antara bangunan dan alam sebenarnya saling membantu dan menopang. Pohon-pohon yang masih hidup ini tumbuh besar dan menjulang. Akar-akarnya bersatu dengan bangunan dan saling bergantung. Kalau melihat struktur bangunannya, kita akan melihat bahwa bagian candi yang runtuh, biasanya disebabkan oleh pohon yang mati ataupun badai.

Saya tidak habis-habisnya berdecak kagum dan melihat jauh ke atas. Suasana dan nuansa Ta Prohm ini sungguh berbeda dengan candi-candi yang lain. Di sepanjang jalannya kita pun akan melihat banyak pasir di sini. Padahal ini di tengah hutan loh!! Lagi-lagi kami bertiga berpikir bahwa zaman dahulu mungkin di sini adalah rawa sehingga banyak pasir yang tertinggal. Maklumin aja kita banyak mikir dan berasumsi, soalnya kita sengaja ga pakai guide ataupun tur leader. Bekal saya pun hanya sebuah buku mengenai Angkor yang saya beli di Night Market Siem Reap. Di sini pun lagi-lagi kita berpikir bagaimana mereka menemukan candi yang ini. Apalagi melihat akar-akar yang sangat besar. Sempat terpikir apakah dulu candi ini merupakan gundukan tanah seperti Borobudur sehingga akar-akar ini bisa begitu menyatu dengan bangunannya.

Kakipun merasa lelah, kerongkongan kering, perut mulai bernyanyi, serta matahari semakin tinggi. Saatnya kami kembali ke kota untuk makan siang dan istirahat sejenak di hostel.

 

IMG_0923

Ta Prohm

 

CUQZ5048

Tepat pukul tiga saya, Teh Zen, dan Teh Win dijemput kembali oleh Pak Nasir dan kami pun kembali ke Kawasan Angkor. Saya sempat bertanya apakah sempat untuk mengunjungi satu Angkor lagi sebelum akhirnya kami berjalan menuju tempat melihat matahari terbenam yang segera dijawab bahwa itu tidak memungkinkan.

Kami akan melihat matahari terbenam dari Phnom Bakheng yang terletak di atas bukit. Candi ini memiliki batas maksimal untuk dapat berada di atasnya sehingga kami perlu datang lebih awal agar mendapat giliran naik ke atas. Untuk mencapai puncak candi, kami harus menaiki tangga curam dan diberikan nomor giliran. Apabila nomer habis, berarti harus mengantri dan gantian dengan turis lainnya.

Pemandangan dari Phnom Bakheng indah banget!!! Kita bisa melihat Kawasan Angkor yang memiliki banyak hutan. Saya pun sempat bertemu beberapa biksu yang sedang beribadah. Oia hingga saat ini Kawasan Angkor masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah. Oleh karena itu untuk warga lokal mereka bebas keluar masuk Kawasan ANgkor secara gratis. Waktu menunjukkan pukul setengah enam namun langit semakin mendung dan tak ada tanda-tanda cerah. Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk turun dan kembali ke Siem Reap sebelum gelap. Maklum sepanjang jalan di Kawasan Angkor saya tidak melihat ada lampu jalan, sehingga rada spooky aja ngebayangin malem-malem kudu lewat hutan.

saat turun dari Phnom Bakheng saya melihat antrian panjaaaaaanggg untuk mendapatkan giliran naik ke atas. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam. Hanya satu jam lagi dan candi akan ditutup. Ketika turun ke bawah pun masih ada beberapa turis yang ingin mendaki untuk melihat Phnom Bakheng. tapi petugas Kawasan Angkor tidak mengijinkan mereka naik karena beberapa saat lagi akan tutup. Apalagi mengingat antrian di atas masih panjang.

IMG_0938

 

IMG_0946

Detail Phnom Bakheng

 

 

IMG_0962

mendung T__T

 

Perjalanan kali ini sungguh panjang. Sepertinya saya sudah berjalan lebih dari 10 kilo!! Pulang-pulang ke tengah kota Siem Reap kami pun segera mencari foot massage. Kaki beneran pegel banget!!

Beberapa hari ke depan sepertinya saya ogah mengunjungi Wat atau candi. Udah kebanyakan muter-muter lihat candi di Kawasan Angkor. Saat tiba di Bangkok, saya langsung mencoret rencana untuk pergi ke Ayutthaya. Lebih baik mengunjungi beberapa Wat yang memang berbeda saja dengan yang ada di Kawasan Angkor.

Tips untuk mengunjungi Kawasan Angkor:

  • Kalau menyukai sejarah, bangunan candi, dan ingin melihat perbedaan setiap candinya, kalian bisa membeli tiket terusan 3 days pass atau 7 days pass sehingga bisa menikmati Kawasan Angkor dengan santai.
  • Untuk yang penasaran dan ingin ke beberapa Wat saja, bisa menggunakan 1 day pass.
  • Banyak cara untuk mengelilingi kawasan Angkor. Kita bisa menyewa sepeda, motor, mobil, ataupun menggunakan tuk-tuk. Keunggulan menggunakan tuk-tuk, biasanya setiap tuk-tuk akan menyiapkan air minum untuk kita dan sebelum masuk kuil kita bisa meminta sedikti penjelasan mengenai candi tersebut. Oia kalau mau menghubungi supir tuk-tuk saya, namanya Pak Nasri (+855969987679). Beliau ini Muslim jadi tahu beberapa restoran halal di Siem Reap.
  • Siapkan fisik untuk berjalan-jalan menuju candi ataupun menaiki candi yang ada.
  • Gunakan pakaian yang nyaman dan sopan. Di Kawasan Angkor tidak diperkenankan memakai baju tanpa lengan maupun celana pendek. Lebih baik pakai baju tipis lengan panjang serta celana panjang atau rok minimal selutut.

Berawal dari Hati Berbagi untuk Anak Negeri

Gerakan untuk berbagi dengan anak-anak sekolah yang berada di pedalaman itu ternyata banyak banget. Beberapa diantaranya adalah Indonesia Mengajar, Kelas Inspirasi, dan 1000 guru. Dalam 1000 guru ini mereka memiliki program Traveling and Teaching yang dilakukan di banyak wilayah Indonesia. Setiap daerah biasanya punya organisasi regional 1000 guru sendiri seperti 1000 guru Bandung, 1000 guru Malang, 1000 guru Bogor, dan masih ada 32 regional lainnya.

Sudah lama saya tertarik dengan 1000 guru dan pengen ikutan Traveling and Teaching atau disingkat TNT, tapi setiap pengen ikutan, ada aja yang menghalangi. Hingga akhirnya bulan Mei kemarin saya bisa bergabung sebagai volunteer dalam program TNT#10 spesial Hari Pendidikan Nasional dari 1000 guru Bandung.

Untuk hari spesial ini, 1000 guru Bandung mendatangi sebuah SD di wilayah Kabupaten Bogor bernama SDN Pangereunan 5. Sekolahnya berada di Kampung Kubang, Desa Pangereunan, Kecamatan Blubur Limbangan Garut dan menjadi titik perbatasan antara tiga kabupaten sekaligus, Kab. Bandung, Kab. Sumedang, dan Kab Garut. Jalan menuju ke sananya sungguh berliku, berbatu, dan berupa tanah. Perjalanan ke sana aja kita perlu menggunakan kendaraan offroad.

Saya dan temen-temen yang ikutan TNT#10 dari 1000 guru Bandung memulai perjalanan jam sepuluh malam dan sampai di sana ada yang jam setengah tiga, jam setengah empat hingga setengah enam pagi. Kita datengnya beda-beda karena perjalanan yang lumayan menantang. Istirahat sebentar, dan siap-siap untuk ngajar di SDN Pangereunan 5. Selain persiapan mengajar, kami juga membawa perlengkapan sekolah yang akan dibagikan ke adik-adik di SDN Pangeureunan 5.

Saya deg-degan banget saat mau ngajar di sana. Ini efek pertama kali ikutan dan saya belum pernah berhadapan dengan anak SD untuk ngajar. Apalagi kami kebagian anak kelas 6 yang mau masuk SMP dengan materi cita-cita. Topik ini dipilih untuk memotivasi adik-adik kelas 6 untuk mau melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMP. Ternyata apabila adik-adik di SDN Pangeureunan mau melanjutkan sekolah ke SMP Negeri, mereka perlu pergi ke desa lain yang berjarak 1 jam dari sana. Duh melihat perjuangan mereka untuk sekolah, hati saya mencelos. SDN ini masih berada di Pulau Jawa dan masih perlu dibantu, bagaimana dengan SD-SD di wilayah lain? 😥

Setelah ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang, ternyata tingkat kesadaran masyarakat untuk mengenyam pendidikan pun masih kurang. Saya paham dan ngerti banget sih gimana lelahnya untuk orang tua nganter anaknya ke SMP di Desa lain yang jarak tempuh bolak baliknya bisa dua jam, belum masalah biaya. Untungnya sekarang sudah ada madrasah setingkat SMP di Desa Pangeureunan.

Kalau dilihat-lihat, desa ini benar-benar sungguh terpencil. Kondisi jalan yang berbatuan, licin, tanah, dan hanya muat satu mobil menambah kesulitan warga kampung. Untuk beli gas elpiji aja, mereka perlu menempuh jarak lebih kurang 5 km dengan kondisi jalan seperti itu!! Kantor kelurahan dan pusat kesehatan pun jaraknya kurang lebih 3 km.

_MG_6360

Upacara memperingati Hari Pendidikan Nasional

Kami berada di Desa Pangereunan selama dua hari dua malam. Hari pertama kami berbagi cerita dan bermain dengan adik-adik di SDN Pangeurenan 5, sorenya kami kembali bermain dengan adik-adik serta orang-orang di Desa Pangeureunan. Sebagian dari kami pun melakukan pengobatan gratis di sana. Rasanya hati saya anget banget ngeliat muka-muka ceria adik-adik saat mereka kedatangan kami ke sana. Dipikir-pikir bantuan yang diberikan ga sebanding sama pelajaran dan pengalaman yang saya dapet di sini.

IMG_6088

salah seorang anak kelas 6 lagi berbagi pengalaman

Sampai di Bandung  pun, kami para volunter ini susah banget move on dari Desa Pangeureunan. Hingga salah seorang dari kami berinisiatif untuk membuat tulisan di instagram yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat, Pak Ahmad Heryawan dan diteruskan ke istrinya. Minimal itu lah yang bisa dilakukan oleh seorang diantara kami. Hingga ga lama dari situ, istrinya Pak Gubernur menanggapi. Itu beneran bikin geger satu grup whats app!! Suara kita didenger loh sama pemerintah provinsi dan diteruskan ke Bupati Garut. Hal ini bisa langsung dilihat dari instagramnya Pak Wakil Bupati Garut, @kanghelmi_budiman yang baru saja melakukan perjalanan ke Desa Pangeureunan. Salah seorang diantara volunter pun ada yang sempat ngobrol via pesan instagram dengan Pak Wakil Bupati atau mungkin adminnya. Bookkk…rasanya baru kali ini saya beneran ngerasain cepet dan tanggapnya Pak Gubernur beserta jajarannya. Sungguh ga salah waktu seorang dosen saya bilang soal sepak terjang pak Gubernur di wilyaha kabupaten. Makanya beliau dicintai warganya bahkan sampai naik dua kali jadi Gubernur kami di Jawa Barat. Semoga amanah dan niat baiknya memajukan wilayah Jawa Barat selalu dilancarin ya bapak-bapak semua.

IMG_6125

kakak-kakak volunteer dan adik-adik kelas 6 SDN Pangeureunan 5

Saya dan temen-temen volunter hanya melakukan sebuah langkah kecil. Semua dilakukan dari hati dan memang pengen berbagi buat adik-adik di daerah terpencil. Saya mah boro-boro mikir masalah travelingnya. Kegiatan sehari mengajar dan follow up-nya aja udah bikin hati hangat dan brebes mili.

IMG_6359

because their smiles are precious

Hai adik-adik di Pangeureunan, semoga senantiasa semangat belajar biar cita-citanya tercapai ya, aamiin. Semoga saya pun bisa dikasi kesempatan ikutan lagi TNT-TNT selanjutnya di berbagai wilayah Indonesia, aamiin.

_MG_6781-01

Salam lima jari!!
Berawal dari hati, berbagi untuk anak negeri.

*foto-foto berasal dari semua kamera hp kakak2 volunteer.
**untuk yang mau melihat video TnT#10 bisa ke sini

 

Semarang Contemporary Art Gallery

img_2678

Pintu masuk

Bulan Juni lalu saya mengunjungi Semarang untuk urusan pekerjaan. Saya dan tiga orang lainnya sengaja pergi dua hari sebelumnya karena hanya ada kereta malam menuju Semarang. Seorang sudah memiliki rencana sendiri. Jadi tinggallah saya dan dua orang lainnya bingung mau maen ke mana. Apalagi bulan Juni itu adalah bulan puasa, ga mungkin banget buat jajan dan ngemil 😀 .

Akhirnya, saya mengusulkan untuk melihat Galeri Semarang. Awalnya mereka berdua bengong dengan saran saya. Ternyata mereka ga pernah pergi ke galeri 😆 . Udah pesimis pada ga mau ikutan dan mikir saya bakal pergi sendiri sekalian mengelilingi kawasan Kota Tua Semarang. Eh ternyata pada mau ikut, ya uwis mari kita ke Galeri Semarang Contemporary Art!!

Kita sampai di sana jam 10 lebih. Eh kok seperti belum buka yah? Gedungnya beneran pakai gedung lama dan ga kelihatan kalau dijadiin galeri. Akhirnya kita nongkrong dulu di taman Srigunting sambil ngeliat Gereja Blenduk. Begitu jam 11-an seorang dari kami, mas B sengaja nelpon untuk memastikan kalau galerinya udah buka. Ternyata oh ternyata, si galeri udah buka dari jam 9 tapi.. yang kita kira pintu masuk itu bukanlah pintu masuknya!! *tepok jidat*

img_2679

Saat ke sana, sedang ada pameran Semarang Punya Cerita #2 yang merupakan pameran foto tentang kegiatan di Semarang. Melihat-lihat fotonya, duh berasa banget kalau Semarang ini punya banyak kebudayaan yang beragam. Mulai dari perayaan imlek, lebaran, sampai pagelaran budaya. Semua foto bisa dilihat di lantai satu dan dua.

Disamping itu, juga ada beberapa karya yang ditampilkan. Awalnya saya hanya melihat ‘oh bikin bentuk mobil”. Ternyata pas dilihat lebih dekat, mobilnya dibuat dari kamera nikon yang telah dipreteli. Antara sayang banget kameranya dijadiin mobil dan kagum karena bisa loh ya kepikiran buat kayak gini!! Selain itu, juga ada seseorang yang seperti mengambil foto dengan metode lama. Pas dilihat-lihat olala ternyata ini termasuk karya yang dipamerkan, alias orang boongan. Aku tertipu!!

img_2676

img_2643

Keliatan kayak benerankan?!

img_2653

img_2647

keretanya dibuat dari kamera!!

img_2652

img_2650

mobilnya dibuat dari kamera Nikon o_O

Saya suka sekali dengan gedung tempat Semarang Contemporary Art Gallery berada. Ruang pamernya terbuka luas dan tidak bersekat, sehingga kita bisa melihat sekeliling dengan leluasa. Bagian atasnya pun sama luasnya dengan bagian bawah. Di samping ada sebuah taman yang asyik banget buat duduk dan berkontemplasi. Di sanalah ada sebuah patung karya Budi Kustarto yang merupakan icon dari galeri ini, patung orang yang berdiri miring. Makanya saya sempet bengong saat melihat patung yang mirip di Galeri Nasional. Tetapi saya dilihat lebih dekat, ternyata yang di Galeri Nasional ga sedetail yang ada di Semarang.

img_2664

img_2675

Oia, koleksi Semarang Contemporary Art Gallery ini selalu berubah. Sehingga setiap ke sana bisa saja kita mendapat pengalaman yang berbeda.

Semarang Contemporary Art Gallery
Jl. Taman Srigunting No. 5-6 Jalan Letjen Suprapto
Tj. Mas, Semarang Utara, Semarang
Buka: Selasa – Minggu
Jam: 10.00 – 16.30
Website: www.galerisemarang.com

Kuala Lumpur: Batu Cave

img_5100

Batu Cave

Hari pertama di Kuala Lumpur, saya dan Dwi memilih untuk mengunjungi tempat paling mainstream di sana, Batu Cave. Sebelum ke sana, sempet baca dulu soal Batu Cave dari blog Mas Chocky dan Mas YayanMas Yayan. Kalau dari apartemen tempat menginap sih, kita tinggal jalan ke KL Sentral dan beli KTM Komuter jurusan Batu Cave seharga 2,5 MYR. Perjalanan dari KL Sentral ke Batu Cave lamanya 45 menit. Saya dan Dwi sih banyak ngobrol dan curhat colongan disertai dengan bercanda di setiap stasiun yang kami lewati.

Sampai di Batu Cave, saya segera melihat jadwal kereta selanjutnya menuju KL Sentral. Ternyata ada setiap jam. Semoga sempat mengejar kereta selanjutnya ya, karena kalau telat lumayan banget bengong nungguin keretanya.

img_5085

Patung Hanoman

Dari Stasiun Batu Cave, kita akan segera melihat pintu masuk dengan patung Hanoman yang menjulang di sebelahnya. Awalnya saya sempat bingung, di mana patung Dewa Muruga berada. Ternyata ketutupan pohon! 😆 Saya sempat penasaran dengan bangunan di dekat pintu masuk. Iseng melihat ke atas, ternyata salah satu kuil dari banyak kuil lainnya di kawasan Batu Cave. Saya melihat banyak orang yang lagi sembahyang dan juga memfoto bangunan dari dekat. Saya sih memilih turun dan berjalan menuju patung dewa yang tinggi banget itu.

img_5086

Salah satu kuil di Batu Cave

Saat di sana, saya melihat banyak turis Cina, Korea Selatan, maupun Jepang. Mungkin lagi peak season liburan untuk turis dari tiga negara ini kali ya. Walaupun begitu, jauh-jauh ke Batu Cave, ketemunya kok ya sama rombongan dari Farmasi Kampus Gajah!!

-_____-“

Saya sampai diam dulu dan memilih bermain sama merpati daripada foto dengan latar belakang turis yang bawa-bawa spanduk dengan lambang institut tersebut. Setelah turis-turis dari Bandung beres foto-foto, gantian saya sama Dwi yang foto-foto di spot sejuta umat ini. Setelah itu, kami pun berpikir bakal naik ga ya? Kalau dilihat waktunya, hmm memungkinkan sih. Sekalian melihat hasil lari beberapa minggu inikan ya. Jadilah kami berdua mencoba naik ke atas. Saya merasa bersyukur hari ini ga jadi pakai dress kebangsaan. Maklum, tangganya terjal banget!! Jadi walaupun terlihat tinggi, ini lebih karena terjalnya tangga. Saat ditengah jalan, saya rada serem juga melihat ke bawah.

Sampai di atas kita akan melihat Goa dengan beberapa kuil dan patung di dalamnya. Saya melihat tidak ada pemandu atau orang yang bisa ditanya mengenai patung-patung yang dibuat di dalam sini. Akhirnya saya lebih tertarik melihat bagian atas gua. Kami pun melihat ada tangga lagi menuju ke atas. Sepertinya ada kuil lagi di atas sana, jadilah kami kembali menaiki anak tangga. Pemandangan di atas wouw banget!! Bisa melihat langit dari dalam gua itu selalu menarik!! Saya pun melihat banyak yang mengantri untuk bersembahyang di sini.

img_5134

img_5138

Suasana di dalam Gua

img_5136

Jalan menuju kuil paling atas

img_5154

Kuil yang berada paling atas

Asyik melihat bagian atas gua, saya penasaran melihat jam. Eh ternyata tidak selama yang saya bayangkan untuk naik ke atas dan kami masih punya sekitar 15 menit untuk mengejar kereta berikutnya. Saya segera memberi tahu Dwi yang juga setuju untuk mengejar kereta. Segeralah kami berfoto untuk terakhir kalinya sebelum turun dari gua. Perjalanan turunnya mendebarkan!! Efek bisa melihat terjalnya tangga kali ya. Kita berdua sampai ga ngobrol sepanjang jalan saking fokusnya menuruni tangga.

Sampai di bawah, waktu mulai mepet. Kita berjalan cepat menuju stasiun yang berjarak ga sampai lima menit. Begitu tiba di stasiun, kami segera beli tiket dan buru-buru turun tangga. Asemnya, begitu turun tangga pintu KTM Komuternya ketutup dong. Belum berangkat sih, baru ketutup banget. Iseng saya coba buka pintunya, ga berhasil. Duh males bangetkan kalau harus nunggu kereta berikutnya >< . Dwi pun mencoba kembali, sekarang sedikit lebih menekan pintunya. Berhasil!!! Yeay!! Segera kami masuk dan duduk. Alhamdulillah ya berhasil masuk kereta dengan selamat 😀

Bandung – Kuala Lumpur

Perjalanan Bandung ke Kuala Lumpur ini menggunakan pesawat Air Asia yang terbang dari Bandung. Rencana terbangnya adalah jam 10 pagi, tapi pesawatnya di reschedule menjadi jadi 17.30. Jadilah rencana hari pertama di Kuala Lumpur batal.

Walaupun begitu, saya masih bisa produktif dengan ngeberesin kerjaan di kantor hingga siang, kemudian pulang untuk istirahat dan ambil barang sebelum akhirnya ke Bandara. Oia, Bandara Internasional Husein Sastranegara udah bagus loh!! Ga keliatan kayak terminal banget 😆 . Paling terasa kalau melihat ruang tunggu penerbangan domestik yang luas dengan fasilitas mulai dari ruang untuk selonjoran, tempat bermain anak, beberapa restoran, serta ada Beard Papa’s!! Iya, saya adalah salah satu fansnya Beard Papa. Kalau nemu kue sus ini, pasti deh langsung beli 😆 .

IMG_0366Beard Papa’s!!

IMG_0373Ruang tunggu penerbangan domestik

IMG_0370Disediakan ruang buat selonjoran

IMG_0371Komputer buat yang bosen nungguin pesawat

IMG_0372Tempat bermain untuk anak

Kalau untuk penerbangan internasional, sayangnya saya hanya melihat ada toko oleh-oleh, periplus, dan Mayasari. Ga ada tempat untuk selonjoran ataupun area bermain anak. Selain itu ruang tunggunya 1/3 kali lebih kecil daripada penerbangan domestik. Mungkin kalau bangunan sebelah bandara sekarang sudah jadi, ruang tunggu penerbangan internasional bisa sekeren yang domestik ya. Untuk saya pribadi, saya sedih banget karena ga ada yang menjual makanan berat 😦 . Kalau mau keluar lagi, tentu ribet karena ada proses imigrasi. Akhirnya, saya memilih untuk makan di dalam pesawat.

IMG_5048Barang bawaannya segini aja

IMG_5062siap berangkat!!

Lama penerbangan dari Bandung ke Kuala Lumpur adalah 2 jam. Selama di pesawat saya dan Dwi lebih banyak ngobrol, diskusi, baca majalah, makan, sampai dengerin lagu. Sesampainya di Bandara Internasional Kuala Lumpur 2 (KLIA 2), saya bengong banget!! Maklum kebiasaan lihat bandara kecil 😆 . Kami sampai di KLIA pukul 20.30 waktu setempat. Alias satu jam lebih cepat daripada Bandung. Untuk sampai di imigrasi, kami masih harus jalan lumayan jauh. Kayaknya setengah kilo ada.

IMG_5064jalan panjang menuju Imigrasi

Keluar Bandara, kita bisa memilih taxi, bus, maupun KLIA Ekspres menuju pusat kota. Semuanya bisa kita temukan di dalam mall yang menyatu dengan KLIA2. Berhubung udah malem banget, kita mencoba naik KLIA Ekspress seharga 55RM untuk sampai ke KL Sentral. Waktu tempuhnya hanya 30 menit!!  KLIA Ekspress ini mengingatkan saya dengan kereta api dari Bandara Internasional Kuala Namu menuju pusat kota. Sampai saya dan Dwi bercanda sebenernya kita mau ke Medan atau Kuala Lumpur 😆 .

IMG_5067KLIA Ekspress

Sampai KL Sentral, kita hanya tinggal jalan tiga menit menuju apartemen tempat kami bermalam selama di Kuala Lumpur.