Segala yang Berlebihan

Disaat kita sudah merencanakan mimpi-mimpi ke depan, maka beberapa saat kemudian Tuhan akan memberikan ujian untuk keteguhan mimpi tersebut. Hingga kita saya berpikir akan sulit untuk mencapai impian itu. Bahkan rencana yang sudah tersusun detail terkadang luluh lantak. Hancur lebur. Membuat saya kembali ke titik nol. Hari esok itu masih misteri, sebagai manusia hanya mampu berencana. Akan tetapi dengan rencana yang telah dibuat, belum tentu akan sama persis seperti itu.

Ingatan saya pun kembali kepada salah satu nasihat yang ada di Kitab Suci, bahwa kita tidak boleh berlebihan dalam hal apapun, karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Seperti harapan yang berlebihan, rencana yang terlalu sempurna, atau terlalu mencintai seseorang. Maka usaha yang lebih baik adalah dengan secukupnya saja. Sesederhana makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Merencanakan mimpi janganlah terlalu berlebihan. Saat mimpi itu hilang terbentur karang, rasa frustrasi menjalar.

Tidak cuma soal rencana hidup, begitu pun masalah pasangan hidup. Saya selalu mengingatkan diri untuk tidak berlebihan ketika menyayangi seseorang, begitu kita terlalu menyayangi makhluk-Nya, saat itu pulalah akan dicoba oleh Tuhan YME. Tentu dicobanya dari berbagai arah yang tidak terbayangkan sebelumnya. Begitu juga ketika berencana untuk masuk ke tempat kerja yang diinginkan. Berusaha semaksimal mungkin, berkeinginan berlebihan, kemudian tidak tercapai. Been there, done that. Pediiihh banget rasanya!!!

Sebenarnya, manusia dibekali tidak hanya oleh emosi, tetapi juga akal dan pikiran. Sehingga akan ada upaya untuk mengontrol tindakan. Seperti ketika berhenti makan sebelum kenyang, selalu mengingatkan diri untuk tidak terlalu sayang kepada seseorang, ataupun menyediakan ruang untuk kejutan yang mungkin terjadi di masa depan. Tidak mudah, perlu dilatih. Latihannya pun tidak hanya mengelola bagian kepala atau kognisi, tetapi juga olah rasa, dan tindakan-tindakan yang dilakukan. We live as human being, so fight or flight is not the only choice that we have.

Delapan Tahun Menulis

Rasanya baru kemarin saya menulis soal tujuh tahun di tanggal 23. Lalu sekarang sudah telat dua hari dari tanggal ulang tahun blog. Saya menulis di wordpress ini merupakan ajang untuk mengasah kemampuan menulis. Semacam naik kelas dari nulis di diari soal randomnya hari-hari yang dilalui 😀 . Saya ga tahu apakah kemampuan menulis saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Kalau feedback pembimbing soal penulisan tesis sih, saya masih jauh dari kata sempurna. Kadang penggunaan s-p-o-k saat menulis kalimat aja masih berantakan. Masih belum sistematis!!

Semoga bisa lebih sering lagi menulis, berbagi pengalaman, dan pemikiran di sini. Delapan tahun, mau ngomong ga kerasa kok yah bohong banget. Tulisan-tulisan di sini sudah merupakan rekam jejak dari perjalanan panjang hidup saya.

Saya selalu percaya bahwa angka delapan itu unik. Coba perhatikan baik-baik deh, angkanya membentuk garis tidak terputus dan bisa dibaca sebagai infinitity. Beda dengan angka-angka yang lain.

Well, happy birthday my dearest blog. Terima kasih wordpress sudah menjadi rumah untuk blog saya selama delapan tahun 🙂

Berkontemplasi

img_6980

Kontemplasi….

Belakangan ini saya sering mendengar kata-kata ini. Dahulu saya mengenalnya sebagai evaluasi diri. Sekarang ada sebuah kata yang lebih sederhana, kontemplasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kontemplasi adalah renungan dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh. Berkontemplasi berarti merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian.

Beberapa hari ini, saya sering berkontemplasi dengan hati dan pikiran saya. Mencoba berdamai dengan beberapa hal yang terjadi dalam hidup. Membebaskan diri dari hiruk pikuk sekeliling dan mencoba hening sejenak. Meresapi setiap stimulus yang dirasakan. Menajamkan setiap indra yang ada. Mengasah insting.

Sengaja bertemu dengan beberapa orang terdekat untuk sekedar berbagi rasa dan asa. Merekalah yang membantu saya untuk mempertanyakan kembali hal-hal yang sedang saya lakukan belakangan ini. Bukan untuk membuat ragu, tapi untuk memperhatikan detail yang luput. Melihat dari berbagai sudut. Memastikan bahwa apa yang saya lakukan bukan karena sesuatu yang diburu-buru.

Menyusun kembali setiap kepingan puzzle yang ada. Tidak terlena dengan hal-hal kecil, tetapi melihat besaran dari gambar puzzle yang ada.

Ya ampun, postingan kali ini sungguh kaya rasa dan bahasa ya!!! Anggap saja sedang terbawa suasana adem dan nyaman dari sebuah perpustakaan kecil.

Kado Ulang Tahun Untuk Diri Sendiri

Ulang tahun kali ini terasa spesial. Sudah sejak tahun lalu saya merencanakan untuk memberikan kado kepada diri sendiri. Kadonya tentu ga jauh-jauh dari liburan 😀 . Tahun lalu dapet tiket murah ke Kuala Lumpur. Harganya cuma Rp.350.000,- untuk tiket pulang pergi!!

Awalnya sempet nanya orang-orang enaknya ngapain aja di Kuala Lumpur dan banyak yang bilang seharian juga cukup di sana. Jadi aja nyari info soal Penang dan Melaka. Ternyata kalau ke Penang bisa naek bus, kereta, dan pesawat yang harganya miri-mirip dong!! Bahkan saat saya liat tiket Air Asia ke Penang harganya lebih murah daripada tiiket bus atau kereta. Udahlah saya tutup mata beli tiket pesawat ke Penang 😆 .

Menjelang keberangkatan, banyak banget kerjaan dan revisi thesis yang harus saya selesaikan. Sampai ga inget kalau beberapa hari lagi bakal kabur sejenak ke Kuala Lumpur 😆 . Saya sampai lupa ngasi tahu temen yang tinggal di sana untuk janjian ketemu, nyari tempat wisata, bahkan bikin rencana jalan. Ga sempet kakak!!!

Saya baru melakukan semua itu malam sebelum keberangkatan. Baru browsing tempat-tempat yang kira-kira seru, dan transportasi yang mudah digunakan untuk keliling kota. Hari H keberangkatan saja saya masih sempat ke kantor untuk beresin laporan, ngirim catatan meeting, dan nyaris mau dimintain tolong buat bantuin yang lagi gawe. Apa daya, siang kudu udah di rumah buat ambil barang, jadi ga bisa bantuin temen-temen yang bertugas kemarin *maafkan kawan, besok-besok bakal lebih optimal ngebantu di kantor*. Riweuh banget ya menuju liburan singkat ini.

Tapiiii….semuanya kebayar saat liburan. Adem banget liburannya. Apalagi karena saya tidak memiliki rencana jalan yang heboh, jadi santai banget. Menikmati aja gitu muter-muter di Kuala Lumpur dan Penang. Ketawa dengan kebodohan-kebodohan yang dilakukan di sana, sempet tersesat, serta masih punya waktu buat evaluasi diri. Kadang perjalanan itu mengajarkan kita banyak hal ya, mulai dari lebih sabar, lebih santai, maupun berjalan lebih banyak dari biasanya.

Setidaknya, dalam hidup terkadang kita perlu berjalan lebih banyak untuk bisa segera mencapai tujuankan? Seperti saya yang mulai memilih mengerjakan thesis daripada terima kerjaan. Jadi inget waktu ngobrol sama mbak Joe soal dilema Thesis dan kerjaan, kalau ngikutin kerjaan mulu ga akan kelar-kelarkan ya idupnya.

Untuk cerita lengkap liburan di Malaysia saya bikin tulisan terpisah ya 🙂 .  Semoga tahun depan bisa ngasi kado spesial lagi buat diri sendiri, aamiin.

IMG_5943

Seperti matahari terbit yang datang menandakan permulaan hari, semoga dipermulaan umur yang baru ini, juga permulaan untuk saya bisa semakin matang dan dewasa, aamiin.

Tanggal Delapan Bulan Delapan

IMG_4920a gift for my birthday

Delapan akan selalu menjadi angka favorit saya. Ada yang bilang angka delapan bagaikan hitungan tak terhingga, sehingga yang dinaungi angka delapan, biasanya selalu penuh keberuntungan. Saya sih ikut meng-aamiin-kan saja.

Melihat setahun kebelakang, saya banyak sekali belajar. Belajar ikhlas dan sabar, belajar untuk mengontrol diri, maupun belajar melepaskan. Misalnya melepaskan topik thesis yang saya suka tapi ribet banget *curhat*. Saya juga belajar untuk mendengarkan dan melakukan pendapat orang lain. Biasanya kalau dulu-dulu suka bandel ga dengerin apa kata orang lain, sekarang lebih niat untuk coba melakukan apa yang dinasihati oleh orang disekitar. Belajar untuk menerima bantuan dari semua orang yang ada disekitar. Bener ya, begitu melepaskan sesuatu, mendengarkan pihak lain, tiba-tiba banyak yang membantu. Bahagia banget rasanya.

Pelajaran lain yang saya dapatkan adalah belajar untuk lebih memperhatikan sekitar saya. Lebih mengasah kemampuan empati terhadap orang-orang disekitar saya. Saya juga belajar dari orang disekitar mengenai hal-hal yang terlihat sepele ternyata bisa berakibat besar untuk orang lain. Kalau lihat postingan saya setahunan ini, saya banyak ngebahas soal belajar menghargai setiap proses, waktu, dan keadaan yang ada saat ini. Kalau inget topik thesis kemarin-kemarin, istilahnya lebih mindfulness.

Saya pun diingatkan oleh seorang teman untuk belajar menyelesaikan semua masalah. Jangan dibiarkan mengambang hingga bertahun-tahun. Karena ketika kita mau melangkah dengan ringan ke depan, masalah yang memberatkan tentu perlu diselesaikan terlebih dahulu.

Masih banyak yang perlu saya pelajari, masih banyak sisi dunia yang perlu saya lihat, masih banyak yang perlu saya perbaiki dari diri sendiri. Terima kasih untuk setiap doa-doa yang sudah diberikan kepada saya seharian ini. Semoga dikabulkan oleh Tuhan, semoga diijabah oleh Allah SWT, aamiin.

Bali: Sunset di Pura Luhur Uluwatu

IMG_1207Pura Luhur Uluwatu

Pura Luhur Uluwatu merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan yang terletak di Kabupaten Badung, di Kecamatan Kuta, Desa Pecatu Bali. Pura ini berdiri di dekat tebing yang sangat tinggi. Saya sangat merekomendasikan tempat ini untuk para penikmat matahari tenggelam. Matahari tenggelamnya cantik banget!!

IMG_1201

Pura Luhur Uluwatu ini terkenal dengan tari kecak yang selalu diadakan menjelang hingga selesai matahari tenggelam. Banyak wisatawan asing maupun domestik yang datang untuk melihat pertunjukan kecak dilatarbelakangi matahari tenggelam. Saat saya ke sana sih, melihat tari kecak bukan merupakan tujuan utama. Saya dan teman seperjalanan Muti hanya ingin melihat-lihat kawasan Pura Luhur Uluwatu dan menikmati detik demi detik ketika matahari tenggelam.

IMG_1205

Sambil menikmati matahari tenggelam, saya dan Muti bertukar cerita, pengalaman, dan saling menguatkan diri untuk masalah yang sedang kami hadapi saat itu. Maklum ke Bali inikan merupakan perjalanan menenangkan hati dan pikiran, karena itu kami tidak mengejar tempat wisata. Kami berjalan di sepanjang tebing untuk mencari tempat terbaik menikmati matahari tenggelam.

IMG_1227

Indah banget  melihat hamparan laut yang berwarna keemasan. Memantulkan cahaya dari matahari. Kami juga melihat banyak nelayan yang mulai pergi melaut. Kalau melihat keindahan ini, luasnya lautan, masalah kami mungkin hanya berupa butiran pasir pantai di bawah sana.

Bali: Ubud

Ruin is a gift
Ruin is a road to transformation
-Eat Pray Love-

Saya termasuk dari sekian orang yang tertarik dengan Ubud setelah menonton dan membaca “Eat, Pray, Love” yang merupakan kisah panjang dari perjalanan yang dilakukan oleh Elizabeth Gilbert. Cita-cita ke Ubud pun diaamiinkan oleh sahabat saya.

Hingga akhirnya tahun 2014 saya berkesempatan ke Ubud. Saya ditemani oleh Muti berencana untuk melihat Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) yang berlangsung selama lima hari. Tentu  UWRF ini hanya merupakan salah satu alasan :p . Saya benar-benar penasaran dengan Ubud. Suasananya, deretan toko-tokonya, serta makanannya. Apalagi di kala itu saya sedang ingin menyendiri. Bertemu dengan orang-orang yang tidak mengenal saya. Berusaha membangun kembali pondasi pikiran yang kacau oleh masalah-masalah yang datang secara bersamaan.

Setiap hari saya berjalan mengitari Ubud. Keluar masuk toko yang menjual baju super nyaman untuk yoga dan pernak pernik lainnya. Benar-benar membuat saya harus menahan diri supaya ga belanja tiap hari. Orang-orangnya pun ramah. Selalu tersenyum dan terkadang mengajak kami mengobrol. Selain keluar masuk toko, kita pun keluar masuk galeri dan museum yang ada di sekitar Ubud. Beberapa nanti akan saya ceritakan secara terpisah. Untuk makanannya sendiri, penggemar Babi tentu bahagia banget, karena banyak rumah makan yang memiliki masakan Babi di sana. Untuk yang ingin sehat, banyak banget rumah makan yang meyediakan menu vegan. Kalau restoran favorit saya sih udah pasti Clear Cafe.

UWRF-nya sendiri menarik. Setiap hari saya dan Muti mendatangi dua hingga empat diskusi panel yang menarik. Maklum, jadwal UWRF ini sangat padat mulai dari jam 08.00 hingga 17.00 selalu ada diskusi panel yang diadakan di tiga tempat terpisah. Sehingga kami harus memilih untuk menonton yang mana diantara banyaknya pilihan. Diskusinya sendiri mulai dari novel yang difilmkan, puisi, prosa, hingga perjalanan penulis selama membuat novel tersebut. Tuhan memang Maha Baik, setiap diskusi panel yang saya ikuti, seperti memberikan obat dan pandangan baru untuk hidup saya.

Stop Trying!! Surrender..
Why don’t you just let it be?
Eat Pray Love

Seramainya Ubud, buat saya pribadi tentu berbeda dengan tempat lain di Bali. Saya merasa kehidupan berjalan lebih lambat di sini. Sehingga saya pun berusaha memelankan ritme hidup saya. Sepertinya beberapa bulan terakhir di tahun 2014 itu, saya terlalu terburu-buru, berusaha terlalu keras. Padahal semua yang terburu-buru dan dipaksakan itu tidak berjalan dengan baik.

IMG_1327UWRF

IMG_1332suasana diskusi panel UWRF

IMG_1352trotoar di jalan Raya Ubud

IMG_1403jembatan untuk pejalan kaki

IMG_1469kantor kelurahan Ubud, cantik banget ya

IMG_1479Salah satu Pura di Ubud

Semoga ke depan saya bisa kembali ke Ubud, tentu bukan dengan suasana hati seperti dulu, tetapi lebih baik lagi 🙂 .