Tiga Belas Hari, Tiga Negara, Lima Kota

Tahun lalu saya menghadiahi diri sendiri jalan-jalan selama empat hari ke Kuala Lumpur bersama sahabat bagai saudara. Sedangkan tahun ini saya merencanakan untuk menambah waktu jalan-jalan menjadi 13 hari. Ide liburan selama itu sudah saya rencanakan sejak tahun lalu bersama dua orang kakak angkatan saat kuliah dulu. Sekalian merayakan kelulusan di bulan Februari kemarin.

MSPM3417

at Sihanoukville

Sejak kepulangan saya minggu kemarin, rasanya masih tidak percaya saya berhasil melalui perjalanan selama 13 hari bepergian ke-3 negara dan mengunjungi 5 buah kota. Jalan-jalan kali ini pun memang tidak seoptimis biasanya. Saya ingin merayakan setiap langkah diumur yang baru ini dengan sesadar-sadarnya dan menikmati semua yang terjadi.

Selama 13 hari saya menghabiskan setengah hari di Phnom Penh, tiga hari di Sihanoukville, tiga hari di Siem Reap, lima hari di Bangkok, serta tiga hari di Kuala Lumpur. Tadinya sih optimis mau ke Hua Hin di Thailand dan ke Melaka di Malaysia. Apa daya kita lebih memilih untuk berjalan lambat menikmati setiap hari di kota yang didatangi. Tidak mau buru-buru dikejar waktu. Mungkin lain kali saya bisa berkunjung ke kota-kota yang belum didatangi.

Sepanjang perjalanan ini saya ditemani orang-orang baik hati nan jahil yang membuat tiap harinya ada aja yang kita ketawain sampai diobrolin serius. Mereka selalu mengingatkan saya untuk lebih rileks, lebih santai menghadapi semuanya. Dinikmatin semua keputusan yang diambil baik dari jauh ataupun dadakan. Saya juga bertemu, berkenalan, hingga jalan bareng dengan beberapa orang yang dikenal saat perjalanan. It’s always nice to meet new people and talking about anything. Hingga rasanya pulang dari liburan kali ini hati dan jiwa terasa penuh.

Cerita lengkap mengenai perjalanan menyusuri lima kota di tiga negara selama 13 hari akan saya tulis secara terpisah ya 😀 .

Advertisements

Halo Agustus!! Halo Tanggal Delapan!!

Hari ini saya kembali berulang tahun, menghitung berkurangnya umur saya di bumi. Tahun ini merupakan tahun terakhir saya memiliki usia kepala dua!!! Yah ini juga sih yang membuat saya sampai menuliskan keresahan menjelang bulan Agustus. Tetapi kegalauan kemarin ga berlangsung lama. Seminggu kemudian saya diberi beberapa kebahagiaan kecil yang datang silih berganti. Manisnya beneran mengingatkan untuk selalu bersyukur, berpikir jernih, dan kembali melihat apa yang sebenernya saya inginkan.

Sepanjang perjalanan menuju usia 29 ini, saya banyaaaakk banget dihadapkan pada pertanyaan mengenai nilai-nilai yang ada disekitar saya. Ada beberapa kejadian yang ga pernah saya bayangkan ternyata menjadi sebuah momen yang membuat saya kembali berpikir tentang banyak hal dan mengubah sudut pandang. Menjadi pribadi yang selalu sadar dan mindful memang ga gampang. Saya tetap belajar dan belajar untuk lebih menjejakkan kaki ke tanah yang hangat, merasakan dinginnya tetesan hujan, serta panasnya mentari.

Memiliki umur terakhir berkepala dua berarti saya diingatkan kebanyakan orang untuk segera menikah. Sampai ada seorang om yang mengatakan “jangan kebanyakan milih Ra!!”. Errr kalau kita milih sayur di pasar aja dipilihkan ya? Apalagi pasangan hidup. Okay, cukupkan dululah soal obrolan jodoh ini. Saya sih selalu percaya bahwa semua ini sudah digariskan sama Tuhan YME. Jodoh tentu akan ketemu kalau sudah waktunya.

Mari bersyukur. Saat ulang tahun ini, saya masih diberi umur untuk bisa makan nasi kuning bareng sama keluarga dan temen-temen terdekat *yah walau minus si adik super sibuk itu yah*. Saya juga sepanjang sore ngobrol ngalor ngidul bareng adik yang baru kemaren-kemaren ketemuan. Seneng rasanya bisa ngobrol, dapet informasi baru, dan juga sudut pandang baru.

Bagian menarik dari hari ini adalah ketika saya masih diberi kesempatan untuk menikmati momen bertambahnya usia dalam situasi yang damai dan tenang ditemani segelas cokelat hangat dan tetesan air hujan. Benar-benar hadiah indah dari Tuhan YME!!

IMG_0083

Merayakan ulang tahun dengan segelas cokelat hangat ditemani hujan

Hai perjalanan 29 menuju perubahan angka di depan, mari gandengan menjalani hari-hari dengan lebih sadar lagi.

Segala yang Berlebihan

Disaat kita sudah merencanakan mimpi-mimpi ke depan, maka beberapa saat kemudian Tuhan akan memberikan ujian untuk keteguhan mimpi tersebut. Hingga kita saya berpikir akan sulit untuk mencapai impian itu. Bahkan rencana yang sudah tersusun detail terkadang luluh lantak. Hancur lebur. Membuat saya kembali ke titik nol. Hari esok itu masih misteri, sebagai manusia hanya mampu berencana. Akan tetapi dengan rencana yang telah dibuat, belum tentu akan sama persis seperti itu.

Ingatan saya pun kembali kepada salah satu nasihat yang ada di Kitab Suci, bahwa kita tidak boleh berlebihan dalam hal apapun, karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Seperti harapan yang berlebihan, rencana yang terlalu sempurna, atau terlalu mencintai seseorang. Maka usaha yang lebih baik adalah dengan secukupnya saja. Sesederhana makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Merencanakan mimpi janganlah terlalu berlebihan. Saat mimpi itu hilang terbentur karang, rasa frustrasi menjalar.

Tidak cuma soal rencana hidup, begitu pun masalah pasangan hidup. Saya selalu mengingatkan diri untuk tidak berlebihan ketika menyayangi seseorang, begitu kita terlalu menyayangi makhluk-Nya, saat itu pulalah akan dicoba oleh Tuhan YME. Tentu dicobanya dari berbagai arah yang tidak terbayangkan sebelumnya. Begitu juga ketika berencana untuk masuk ke tempat kerja yang diinginkan. Berusaha semaksimal mungkin, berkeinginan berlebihan, kemudian tidak tercapai. Been there, done that. Pediiihh banget rasanya!!!

Sebenarnya, manusia dibekali tidak hanya oleh emosi, tetapi juga akal dan pikiran. Sehingga akan ada upaya untuk mengontrol tindakan. Seperti ketika berhenti makan sebelum kenyang, selalu mengingatkan diri untuk tidak terlalu sayang kepada seseorang, ataupun menyediakan ruang untuk kejutan yang mungkin terjadi di masa depan. Tidak mudah, perlu dilatih. Latihannya pun tidak hanya mengelola bagian kepala atau kognisi, tetapi juga olah rasa, dan tindakan-tindakan yang dilakukan. We live as human being, so fight or flight is not the only choice that we have.

Delapan Tahun Menulis

Rasanya baru kemarin saya menulis soal tujuh tahun di tanggal 23. Lalu sekarang sudah telat dua hari dari tanggal ulang tahun blog. Saya menulis di wordpress ini merupakan ajang untuk mengasah kemampuan menulis. Semacam naik kelas dari nulis di diari soal randomnya hari-hari yang dilalui 😀 . Saya ga tahu apakah kemampuan menulis saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Kalau feedback pembimbing soal penulisan tesis sih, saya masih jauh dari kata sempurna. Kadang penggunaan s-p-o-k saat menulis kalimat aja masih berantakan. Masih belum sistematis!!

Semoga bisa lebih sering lagi menulis, berbagi pengalaman, dan pemikiran di sini. Delapan tahun, mau ngomong ga kerasa kok yah bohong banget. Tulisan-tulisan di sini sudah merupakan rekam jejak dari perjalanan panjang hidup saya.

Saya selalu percaya bahwa angka delapan itu unik. Coba perhatikan baik-baik deh, angkanya membentuk garis tidak terputus dan bisa dibaca sebagai infinitity. Beda dengan angka-angka yang lain.

Well, happy birthday my dearest blog. Terima kasih wordpress sudah menjadi rumah untuk blog saya selama delapan tahun 🙂

Berkontemplasi

img_6980

Kontemplasi….

Belakangan ini saya sering mendengar kata-kata ini. Dahulu saya mengenalnya sebagai evaluasi diri. Sekarang ada sebuah kata yang lebih sederhana, kontemplasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kontemplasi adalah renungan dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh. Berkontemplasi berarti merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian.

Beberapa hari ini, saya sering berkontemplasi dengan hati dan pikiran saya. Mencoba berdamai dengan beberapa hal yang terjadi dalam hidup. Membebaskan diri dari hiruk pikuk sekeliling dan mencoba hening sejenak. Meresapi setiap stimulus yang dirasakan. Menajamkan setiap indra yang ada. Mengasah insting.

Sengaja bertemu dengan beberapa orang terdekat untuk sekedar berbagi rasa dan asa. Merekalah yang membantu saya untuk mempertanyakan kembali hal-hal yang sedang saya lakukan belakangan ini. Bukan untuk membuat ragu, tapi untuk memperhatikan detail yang luput. Melihat dari berbagai sudut. Memastikan bahwa apa yang saya lakukan bukan karena sesuatu yang diburu-buru.

Menyusun kembali setiap kepingan puzzle yang ada. Tidak terlena dengan hal-hal kecil, tetapi melihat besaran dari gambar puzzle yang ada.

Ya ampun, postingan kali ini sungguh kaya rasa dan bahasa ya!!! Anggap saja sedang terbawa suasana adem dan nyaman dari sebuah perpustakaan kecil.

Kado Ulang Tahun Untuk Diri Sendiri

Ulang tahun kali ini terasa spesial. Sudah sejak tahun lalu saya merencanakan untuk memberikan kado kepada diri sendiri. Kadonya tentu ga jauh-jauh dari liburan 😀 . Tahun lalu dapet tiket murah ke Kuala Lumpur. Harganya cuma Rp.350.000,- untuk tiket pulang pergi!!

Awalnya sempet nanya orang-orang enaknya ngapain aja di Kuala Lumpur dan banyak yang bilang seharian juga cukup di sana. Jadi aja nyari info soal Penang dan Melaka. Ternyata kalau ke Penang bisa naek bus, kereta, dan pesawat yang harganya miri-mirip dong!! Bahkan saat saya liat tiket Air Asia ke Penang harganya lebih murah daripada tiiket bus atau kereta. Udahlah saya tutup mata beli tiket pesawat ke Penang 😆 .

Menjelang keberangkatan, banyak banget kerjaan dan revisi thesis yang harus saya selesaikan. Sampai ga inget kalau beberapa hari lagi bakal kabur sejenak ke Kuala Lumpur 😆 . Saya sampai lupa ngasi tahu temen yang tinggal di sana untuk janjian ketemu, nyari tempat wisata, bahkan bikin rencana jalan. Ga sempet kakak!!!

Saya baru melakukan semua itu malam sebelum keberangkatan. Baru browsing tempat-tempat yang kira-kira seru, dan transportasi yang mudah digunakan untuk keliling kota. Hari H keberangkatan saja saya masih sempat ke kantor untuk beresin laporan, ngirim catatan meeting, dan nyaris mau dimintain tolong buat bantuin yang lagi gawe. Apa daya, siang kudu udah di rumah buat ambil barang, jadi ga bisa bantuin temen-temen yang bertugas kemarin *maafkan kawan, besok-besok bakal lebih optimal ngebantu di kantor*. Riweuh banget ya menuju liburan singkat ini.

Tapiiii….semuanya kebayar saat liburan. Adem banget liburannya. Apalagi karena saya tidak memiliki rencana jalan yang heboh, jadi santai banget. Menikmati aja gitu muter-muter di Kuala Lumpur dan Penang. Ketawa dengan kebodohan-kebodohan yang dilakukan di sana, sempet tersesat, serta masih punya waktu buat evaluasi diri. Kadang perjalanan itu mengajarkan kita banyak hal ya, mulai dari lebih sabar, lebih santai, maupun berjalan lebih banyak dari biasanya.

Setidaknya, dalam hidup terkadang kita perlu berjalan lebih banyak untuk bisa segera mencapai tujuankan? Seperti saya yang mulai memilih mengerjakan thesis daripada terima kerjaan. Jadi inget waktu ngobrol sama mbak Joe soal dilema Thesis dan kerjaan, kalau ngikutin kerjaan mulu ga akan kelar-kelarkan ya idupnya.

Untuk cerita lengkap liburan di Malaysia saya bikin tulisan terpisah ya 🙂 .  Semoga tahun depan bisa ngasi kado spesial lagi buat diri sendiri, aamiin.

IMG_5943

Seperti matahari terbit yang datang menandakan permulaan hari, semoga dipermulaan umur yang baru ini, juga permulaan untuk saya bisa semakin matang dan dewasa, aamiin.

Tanggal Delapan Bulan Delapan

IMG_4920a gift for my birthday

Delapan akan selalu menjadi angka favorit saya. Ada yang bilang angka delapan bagaikan hitungan tak terhingga, sehingga yang dinaungi angka delapan, biasanya selalu penuh keberuntungan. Saya sih ikut meng-aamiin-kan saja.

Melihat setahun kebelakang, saya banyak sekali belajar. Belajar ikhlas dan sabar, belajar untuk mengontrol diri, maupun belajar melepaskan. Misalnya melepaskan topik thesis yang saya suka tapi ribet banget *curhat*. Saya juga belajar untuk mendengarkan dan melakukan pendapat orang lain. Biasanya kalau dulu-dulu suka bandel ga dengerin apa kata orang lain, sekarang lebih niat untuk coba melakukan apa yang dinasihati oleh orang disekitar. Belajar untuk menerima bantuan dari semua orang yang ada disekitar. Bener ya, begitu melepaskan sesuatu, mendengarkan pihak lain, tiba-tiba banyak yang membantu. Bahagia banget rasanya.

Pelajaran lain yang saya dapatkan adalah belajar untuk lebih memperhatikan sekitar saya. Lebih mengasah kemampuan empati terhadap orang-orang disekitar saya. Saya juga belajar dari orang disekitar mengenai hal-hal yang terlihat sepele ternyata bisa berakibat besar untuk orang lain. Kalau lihat postingan saya setahunan ini, saya banyak ngebahas soal belajar menghargai setiap proses, waktu, dan keadaan yang ada saat ini. Kalau inget topik thesis kemarin-kemarin, istilahnya lebih mindfulness.

Saya pun diingatkan oleh seorang teman untuk belajar menyelesaikan semua masalah. Jangan dibiarkan mengambang hingga bertahun-tahun. Karena ketika kita mau melangkah dengan ringan ke depan, masalah yang memberatkan tentu perlu diselesaikan terlebih dahulu.

Masih banyak yang perlu saya pelajari, masih banyak sisi dunia yang perlu saya lihat, masih banyak yang perlu saya perbaiki dari diri sendiri. Terima kasih untuk setiap doa-doa yang sudah diberikan kepada saya seharian ini. Semoga dikabulkan oleh Tuhan, semoga diijabah oleh Allah SWT, aamiin.