Monolog Tjoet Nyak Dhien

IMG_2946

Tidak banyak pentas monolog diadakan di kota Bandung. Tidak banyak pula yang mengisahkan tokoh-tokoh perempuan Indonesia selain Kartini atau Dewi Sartika. Oleh karenanya, ketika Nu Art Sculpture Park yang berlokasi selemparan dari rumah ini mengadakan pentas monolog Tjoet Nyak Dhien, saya segera mengabarkan salah seorang sahabat untuk menonton pentas ini bersama-sama.

Monolog yang dilakukan oleh Sha Ine Febriyanti ini membuat hati saya penuh!! Perasaan-perasaan Tjoet Nyak Dhien mengenai kesedihannya yang dua kali ditinggal mati oleh Ibrahim dan Teuku Umar, dijauhkan dari anaknya, melihat desa dan kotanya porak poranda, serta pengkhianatan dari orang disekitarnya bisa disampaikan ke penonton dengan sangat baik. Saya pun sampai merinding dan tidak bisa lepas dari pertunjukan selama 45 menit ini.

Saya juga menyukai sudut-sudut perempuan yang ditampilkan oleh Mbak Ine dalam sosok Tjut Nyak Dhien baik ia sebagai pejuang yang membela tanah tempatnya berpijak, sebagai istri dengan kegelisahannya melihat suaminya pergi ke medan perang, maupun sebagai ibu dari anaknya yang mengajarkan kepada anaknya untuk tetap berjuang dalam hidup melalui dongeng yang disampaikan sebelum tidur.

IMG_2947

Tak hentinya saya berdecak kagum dengan monolog yang dibawakan Ine. Ia bisa menggunakan logat Aceh yang sangat kental. Selain itu saya menyukai pilihan-pilihan kata yang digunakan selama monolog. Beberapa ada Bahasa Melayu maupun Bahasa Indonesia lama.

Seusai pentas, Ine serta timnya sempat mengadakan diskusi mengenai pementasan Tjoet Nyak Dhien ini. Mereka bercerita mengenai alasan dibalik pemilihan tokoh perempuan dari Aceh ini, bagaimana riset yang dilakukan untuk mendalami tokoh dengan rekam jejak yang tidak sebanyak Kartini maupun Dewi Sartika, maupun mengenai tantangan yang dihadapi selama pertunjukan di beberapa kota.

Rasanya begitu selesai menonton monolog ini, saya jadi ingin lebih mengenal kembali sosok “Singa Betina dari Bumi Rencong”. Semoga akan ada lagi monolog-monolog ataupun teater yang bercerita mengenai tokoh-tokoh perempuan lainnya dari Indonesia, aamiin.

Advertisements

Carangan Ala Nasirun

img_9522

Dalam pewayangan dikenal sebuah lakon yang dinamai Carangan.

Carangan berasal dari kata dasar Cang yang dalam bahasa Jawa berarti miring, menyerong, atau menonjol, kemudian menjadi carang, dengan merujuk pada cabang-cabang kecil yang bertunas pada pepohonan. Ketika berbicara mengenai lakon Carangan berarti cerita yang tumbuh dan berkembang dari pakem yang ada.

Pada pameran Carangan Pak Nasirun di Nu Art Sculpture Park, fokusnya adalah menanggapi dari karya-karya Pak Nyoman Nu Arta yang berada di dalam galerinya. Selain itu, Iapun meletakkan berbagai karya seni yang dimilikinya dalam pojok-pojok dan ruangan yang ada di galeri. Dalam pameran ini, Pak Nasirun tidak hanya mencarang karya Pak Nyoman, tapi juga berbagai elemen yang ia temui.

Pada bagian pintu masuk, Pak Nasirun meletakkan sebuah karya  iring-iringan sebagai bentuk prosesi mengantarkan Dalang Slamet Gundono yang meninggal sebelum sempat melihat wayang Burung pesanannya kepada Nasirun. Iring-iringan ini terdiri dari wayang-wayang burung pesanan, kuda-kudaan kayu yang sudah dilukis ulang, serta perahu naga kayu dengan berbagai wayang-wayang ukuran kecil. Indah banget. Saya betah sekali melihat detail lukisan serta berbagai wayang-wayang ukuran kecil ini. Bahkan saya kaget sendiri saat melihat ada wayang berbentuk naga yang merupakan hewan di shio lahir saya.

129apple_img_9432

Pak Nasirun sedang menjelaskan karyanya

Di lantai dua, terdapat karya-karya lain dari Pak Nasirun. Terdapat sebuah gambar mengenai kemerdekaan dan juga berbagai kacamata yang dilukis oleh Nasirun. Saat datang ke sana, saya beruntung karena sedang ada Pak Nasirun yang menjelaskan karya-karyanya. Selain itu kita juga bisa melihat berbagai jenis wayang besar yang dibuat oleh Pak Nasirun.

img_2282

img_2283

img_2285

img_2286

Dalam ruangan ini kita juga bisa melihat seri stempel. Dalam seri stempel ini, Pak Nasirun memasang stempel dalam papan kayu dan merespon pola asli distempel dengan ukiran dan warna dalam pola ragam ornamen hias. Saya rasanya bisa satu jam untuk melihat detial setiap stempel yang ada.

129apple_img_9436

129apple_img_9496

129apple_img_9507

129apple_img_9508

Selain itu Pak Nasirun pun membuat seri figur tunggal di mana ia melukis dalam medium cat minyak di atas kanvas. Pada seri ini Pak Nasirun mencoba mencarang ikon-ikon simbolik yang berasal dari mitologi maupun religi. Ia juga memodifikasi figur-figur ikonik dari elemen serta gambar keseharian.

129apple_img_9504

129apple_img_9505

Di dalam galeri yang menyimpan sebagian besar karya Pak Nyoman Nu Arta, Pak Nasirun mencoba untuk mencarang patung-patung karya Pak Nyoman. Ia menghadirkannya dalam kanvas-kanvas yang diletakkan disekitar patung. Membuat saya dapat melihat dari perspektif dan persepsi yang berbeda-beda. Misalnya saja pada karya Pak Nyoman berbentuk Candi Borobudur, Pak Nasirun bisa membuat tiga lukisan dengan perspektif yang berbeda-beda.

Menurut Kurator Jim Supangkat, Proses Pak nasirun dalam berkarya ini membuatnya belajar memahami hakikat kemanusiaan dalam pencarian para seniman, yang pada setiap zaman terus mencoba memaknai, menafsir, dan menuliskan pengalamannya, sebagai kelanjutan pertumbuhan. Carangan dalam penelitian Marshal Clark merupakan proses pemikiran ulang, tidak menyangkal yang sudah ada, akan tetapi merupakan bentuk perpanjangan imajinatif terhadap karya asli. Disinilah Pak Nasirun menemukan tempat bagi dirinya dan kisahnya.

Saya sampai menghabiskan dua jam untuk melihat karya-karya yang ada. Itu pun belum sepenuhnya puas, karena karya-karya Pak Nasirun dalam ruang seni Pak Nyoman belum saya perhatikan detail satu persatu. Ingin rasanya kembali dan melihat carangan hasil karya Pak Nasirun.

Konser Diorama Tulus

20130509_185342

Tanggal 9 Mei 2013 kemarin, saya sama kawan saya nonton konsernya Tulus di Dago Tea House. Jam 5 saya udah nongkrong cantik di Dago Tea House. Baru sadar ternyata open gate-nya jam 7 loh sodara-sodara!!! Terus ngapain aja kita ampe jam 7? Pertama kali udah pasti nukerin tiket dulu, terus dilanjut makan Siomay dulu biar ga laper pas di dalem. Udah gitu masuk ke area Dago Tea House dan udah mulai pada ngantri aja gitu. Jadilah kita juga ngikut ngantri *menurut ngana?*. Capek deh ini ngantri satu jam lebih demi masuk ke gedung. Ampe udah ngantuk. Pas masuk juga kudu nunggu satu jam lagi karena konsernya mulai jam 8. Gedungnya penuh banget dan usher yang kerjanya ampe bingung sendiri. Sambill nunggu konser kita berdua ampe bingung mau ngapain dan ngantuk -____-.

Sebelum jam 8, lampu udah sempet dimatiin, penonton udah pada sorak dan berteriak, ternyata lampunya idup lagi :)). PHP abis itu. Udah gitu sempet ada yang keluar dari tirai panggung, ternyata orang yang naro set list lagu :)). Kembali di PHP ini. Jam 8 lampu kembali mati. Kali ini intro Tulus terdengar. Alhamdullillah ya Allah, akhirnya penantian panjang berakhir jugaaaa.

page

Pas tirai dibuka, ternyata banyak bener yak anggota bandnya. Mulai dari pianis, keyboardis, gitaris, bassis, drummer, backing vocal, string section, dan brass section. Konser ini dibuka dengan lagu teman pesta. Setelah itu Tulus sempat meyapa penonton dan meneruskan bernyanyi jatuh cinta serta tuan nona kesepian. Selain lagu-lagu dari albumnya, Tulus juga menyanyikan beberapa lagu dari penyanyi favoritnya seperti lagu Chrisye yang serasa dan semusim, white shoes and couple company yang kampus kemarau, titi DJ yang jangan berhenti mencintaiku, ain’t no sunshine, dan juga Begawan Solo.

20130509_205059

Konser kemudian dilanjutkan dengan Tulus menyanyikan lagu Diorama. Saya suka sekali dengan lagu ini. Apalagi saat konser, ada bagian di mana Tulus dan semua anggota bandnya terdiam dan membiarkan penonton bernyanyi. Saat Tulus menyanyikan lagu ini, sebenarnya gitaris Anto Arief memiliki bagian untuk unjuk kebolehan gitarnya, tetapi karena kabelnya copot, batal deh nunjukin kebolehannya. Eh tapi kesalahan teknis kayak gini ga bikin mereka semua bingung dan tetep ngelanjutin ampe akhir. Baru pas beres, Tulus ngasi tahu soal kesalahan teknis ini. Penonton akhirnya meminta Tulus nyanyi ulang biar Anto Arief punya kesempatan buat unjuk kebolehan yang dikabulin sama Tulus.

page1

Tuluspun tak selalu bernyanyi, ia juga memberi kesempatan ketiga backing vocalnya untuk unjuk kebolehan dengan bernyanyi lovely day. Kemudian konser dilanjutkan dengan Tulus menyanyikan lagu teman hidup. Saat nyanyi lagu ini, Tulus nyanyi buat ibunya dan beneran bikin terharu karena ampe Tulusnya aja ga sanggup nyanyi pas tengah-tengah lagu. Penonton ampe nyanyiin pas bagian Tulus ga kuat sampe akhirnya Tulus nyambung lagi. Pas nyanyi lagi ini, emosinya kejaga banget dong!! Suaranya ga ada geter-geternya. Keren banget!!  Konserpun ditutup dengan encore lagu sewindu.

page2

Konser Tulus ini sangat membekas untuk saya. Saya bisa dapetin kesan jazz yang pengen ditampilin sama Tulus dan bandnya. Banyak banget jamming sessionnya di sini. Seperti saat lagu semusim di mana dua orang musisi yang menemani Tulus diberi kesempatan untuk unjuk kebolehannya. Saat lagu Titi DJ yang dibawakan hanya dengan piano itu juga juara banget!! Saya juga makin senang karena selain lagu-lagu itu, Tulus juga cinta sama Indonesia dan membawakan lagu Bengawan Solo.

Mood penonton saat konser makin kebangun karena adanya video mapping. Saat jeda lagu, juga ditampilkan cerita-cerita mengenai awal mulanya Tulus bermusik,  siapa saja orang-orang yang berperan selama dia bermusik, pembuatan video klip teman hidup, sampe yang mengcover lagu sewindu. Selama konser, sayapun merasakan bagaimana Tulus yang rendah hati dan selalu mengenalkan anggota bandnya. Dia juga memberikan banyak porsi untuk anggota bandnya tampil.

Kalau Tulus konser lagi, Saya yakin bakal nonton lagi konsernya XD

The Travel Journal

Kalau yang udah sering baca blog saya, mungkin pada sadar kali yah kalau selain suka menggalau, menyampah, dan makan enak, saya juga suka berlibur :D. Sampai-sampai teman kuliah saya kalo dapet proyekan bareng yang ada langsung nyindir “ini mencari segenggam berlian untuk berlibur yah?” atau “Ini yak kalo liat muka si Ira tulisannya liburannn mulu”. Hehehehe *pelukin satu-satu*. Jawaban sayapun akan selalu sama “daripada nyesel, mending sekarangkan?”. Teman-teman sayapun segera mengangguk karena toh alasan saya memang masuk akal :D.

Nah, kemaren-kemaren, saat melihat journ(al)ey di FB, ternyata ada jurnal baru yang bikin pengen punya. Temanya adalah “The Travel Journal“. Jurnal ini sendiri terdiri dari dua ukuran yaitu A5 dan A6. Harganya untuk yang A5 Rp.35,000,- dan A6 Rp.25,000,-. Kalau beli satu set yang terdiri dari sebuah buku A5, A6, dan pembatas buku totalnya adalah Rp.60,000,-. Saya sih memesan yang A5-nya saja. Maklum dulu sudah pernah pesan yang A6. Reviewnya sendiri bisa dilihat disini.

The Travel Journal ini memiliki sampul dengan gambar peta dunia. Warna sampul yang saya pilih adalah red burn. Jadi setelah dicetak, diwarnain lagi pake cat air dan kemudian dilaminasi gitu. Ditambah dengan tali yang membuat rapat si halaman jurnal, menambah kesan tua dan unik untuk dibawa-bawa ketika kita jalan-jalan.

Dihalaman pertama dari jurnal ini, akan ada tempat untuk menuliskan nama kita, in case kalo jatoh dan ditemukan orang.  Saya suka sekali dengan halaman awal ini karena ada gambar pesawatnya. Membuat saya pengen segera berlibur lagi :D. Di sini juga ada space lumayan kosong yang bisa dipake buat ngegambar atau naro foto kita saat liburan loh.

Tiga puluh halaman The Travel Journal ini terbuat dari bookpaper dengan beberapa sentuhan cipratan teh yang memberikan kesan tua pada halamannya. Membuat saya gatel pengen nulis dan bercerita serta memberikan foto-foto hasil perjalanan saya deh. Hihihi let see what I can do in this journal (mulai lihat-lihat foto liburan).

Disetiap akhir jurnal-jurnal yang dibuat, tidak lupa cap “journ(al)ey” ini akan kita temukan. Selain cap khusus ini, kita juga akan menemukan deskripsi jurnal disampul belakang. Kedua hal ini merupakan ciri khas dari journ(al)ey.

Nah buat yang ingin beli dan memesan, sekarang journ(al)ey sedang ada “It Was a Book, Now It’s an Art” Giveaway!! Caranya gampang banget. Kamu tinggal beli jurnal A5 yang bertema “The Travel Journal” seperti punya saya ini. Setelah itu silahkan diisi dan didesain sekeren mungkin terus difoto deh. Kirim hasil kerasi kamu itu ke jurnaley.indonesia@yahoo.com sebelum tanggal 1 Juli 2012. Keterangan hadiah dan info lebih lanjut, kamu tinggal klik link journ(al)ey aja yah ;).

Sepatu Dansa

my dance shoes

Inilah dia sepatu yang biasa gw pake saat latihan dansa. Gw suka banget ama sepatu keren ini karena ga ngebuat kaki gw aneh, empuk sangat, dan baru kali ini bisa tahan 2 jam pake high heel setinggi 7cm ini sambil loncat-loncat pula. Oia sepatu ini, adalah sepatu khusus untuk dansa. Bawahnya itu dialasin dengan bahan yang ngebuat kita ga tergelincir saat nari, kemudian bagian depannya lentur banget. Sepatu dansa dibuat bertali agar si kaki melekat ke sepatu, jadi jangan ampe sepatu lepas dari kaki. Kitakan bakal banyak gerak banget soalnya.

Kalo ga sayang-sayang sama bagian bawah sepatu ini, gw pasti bahagia jalan-jalan ke mall, kampus, atau pesta pake ini sepatu. Bantalan buat kaki kitanya juga empuk banget. Jadi bener-bener nyaman buat dipake berjam jam. Oia, sebenernya ini sepatu hand made, bukan sepatu dansa dengan merk terkenal, harganya itu loh, yang asli paling murah sekitar Rp.450.000,-!!!

Dansa Latin

Sudah ceritakah gw kalo sudah hampir satu tahun ini mengikuti les dansa latin? Kalo belum, maafkan gw sepertinya belum sempet share di blog ini. Hmm sebenernya ini berawal dari keisengan gw dan sahabat gw, Alica yang pengen berolahraga. Kenapa kita pengen olahraga berbayar? Biar kepaksa olahraga. Kalo kudu bayar dan rada mahalkan rugi banget kalo ga dateng *perhitungan*. Pilihan awal kami jatuh kepada modern dance. Motif dasar milih modern dance adalah nampak kece aja gitu gerakan tarinya! Hahahahaha.Setelah mencari-cari tempat buat modern dance yang ternyata susah juga yak menemukannya. Kemudian sampailah kami ke Gelanggang Generasi Muda yang ada di Jl. Merdeka, Bandung. Di sana ada kursus tari pergaulan, dansa latin, tari tradisional, dan tari nasional. Dasar emang sok tahu, gw ama Alica mikirnya tari pergaulan bakal mirip ama modern dance. Hahahaha. Pas awal dateng langsung deh ketauan kalo tari pergaulan itu sama dengan dansa latin. Langsung bete sebenernya karena udah bayar buat les 3 bulan. Mau ga mau yah, akhirnya kita cobalah yak. Tadinya kalo ga asyik, 3 bulan kemudian kita mo kabur buat nyari modern dance, ternyata bisa bertahan nyaris setahun loh saking ketagihannya.

Kalo ditanya kenapa dansa latin sama dengan tari pergaulan jawabannya adalah karena dansa latin biasa dipakai saat ada acara sosial. Biasanya tari pergaulan ini juga dikenal dengan social dance :D. Dansa latin yang gw pelajari juga ga cuma salsa, tapi juga chacha, jive, rumba, samba, dan ada line dance juga loh. Selain dansa latin, gw juga diajarin ballroom dance yaitu waltz. Kenapa cuma waltz? karena yang paling ga bikin risih gerakannya tuh cuma itu doang. Maklum kalo kata orang-orang ballroom dance itu banyak yang nempel ke pasangan gitu, jadi kalo yang ga biasa suka risih.

Setelah mencoba dansa latin, beneran loh gw ketagihan abis. Soalnya ini dansa ngebuat postur tubuh gw rada bener. Maklum saat dansa gw wajib aja gitu negakin badan dan ngunci perut. Lagian beneran loh baru tahu dansa itu juga ada tekniknya. Jadi ga cuma apal gerakan gitu. Tapi kudu tahu tekniknya. Selain itu gw juga belajar ngatur tenaga. Kalo selama 2 jam latihan dansa ga pinter bagi tenaga, 1 jam awal gw udah bisa pingsan :)). Ini serius loh. Dansa 1 jam aja bisa bikin basah kaos dan celana. Jadi kalo latihan nari gw biasanya bawa baju double biar ga masuk angin. Biasanyanih dansa juga diawalin pemanasan pake lagu chacha, kemudian lanjut berkeringat di jive, terakhir untuk pendinginan bisa pake rumba atau waltz. Bisa juga pemanasan dan pendinginan pake line dance. Tergantung pelatihnya mo ngajar lagu apa.

Selain hal diatas, yang gw yakinin setelah ikutan les dansa latin adalah ini bukan tempat buat cowok melambai ataupun lemah. Serius banget deh gw. Soalnya cowo tuh butuh tenaga banget buat muterin, ngangkat, ngejatohin, dorong, dan nahan pasangan saat dansa. Begitu juga ama cewe. Tenaganya tetep kudu ada. Jadi kalo diputerin cowo ga ampe keplanting. Gw pernah loh berasa terbang pas dipuetrin pelatih gw. Hal ini dikarenakan gw udah ga bertenaga dan pelatih gw sadis ga mau nurunin tenaganya TT__TT. Begitu selese gw langsung ngabisin air minum yang gw bawa.

Satu lagi yang gw suka dari dansa latin adalah menari dengan senang, enjoy, dan nyaman. Ketika menari dengan ketiga hal ini, beneran deh ga terlalu keliatan buruk deh walau teknik pas-pasan :D. Pelatih gw selalu ngingetin gw terus buat enjoy musiknya, gerakannya, dan juga ngikutin partner kita. Jadi yah sebenernya cewe tuh pasrah aja ama cowo. Mau diputer, digerakin ke mana aja, cowo bakal ngasi tahu kita. Jadi ga bisa tuh dominan dan pengen bagus sendiri. Pasti ada saling berbagi ama pasangan deh :D.

gambar di dapat dari sini

Menikmati Pagelaran Ramayana

Siapa bilang anak muda tidak suka menari? Siapa bilang menyukai kesenian tradisional itu tidak keren? Menurut gw anak muda yang menyukai kesenian tradisional itu patut diacungin jempol. Apalagi untuk penggeraknya dan yang tetap berjuang melestarikannya. Dalam kapasitas ini, gw juga masih sebatas penikmat kok, karena menurut gw dengan menikmati sebenarnya gw sudah mulai mencoba untuk melestarikan kesenian tradisional.

Sebagai penikmat, gw kagum dengan kiprah temen-temen gw yang masuk UKM (Unit Kesenian Mahasiswa) yang berhubungan dengan melestarikan kesenian tradisional milik Indonesia ini. Gw berusaha buat dateng ke acara seperti pagelaran angklung dan juga selalu kagum ketika dateng kekawinan dan disuguhi musik tradisional dan tariannya. Salah satu acara yang baru gw datengin adalah pagelaran Ramayana yang digelar oleh temen-temen dari PSTK (Perkumpulan Seni Tari dan Kesenian) ITB.

Sebagai rangkaian dari acara tanggap warsa (ulang tahun) ke-40, PSTK ITB ini menggelar rangkaian kegiatan mulai acara Ganesha membatik, pagelaran Ramayana, dan juga festival gamelan internasional. Gw udah diajakin temen buat ikutan acara Ganesha membatik, tapi berhubung acaranya jam 8 pagi dan gw kesiangan bangun, jadilah ga dateng. Untuk pagelaran ini, gw diajakin dari 2 minggu sebelumnya, berhubung gw selalu kepingin untuk menonton pagelaran ini, gwpun menyanggupi. Tiap ke Yogya gw selalu penasaran dengan pagelaran yang selalu dipentaskan di Candi Prambanan ini, tapi apa daya tiket mahal. Gwpun memilih datang aja ke pagelaran yang ada di Bandung, harga tiketnyapun murah, cukup 15.000 saja :D.

Awalnya gw mengira pagelaran ini akan membosankan dan bakal ga ngerti ceritanya karena pagelaran ini akan menggunakan bahasa Jawa. Saat gw tinggal di Surabaya aja, bahasa Jawa ini adalah kelemahan gw, jadilah gw agak deg-degan nontonnya, takut ga ngerti (Walau ternyata 3 orang teman dan pasangan gw juga ga ngerti (LOL) ). Ternyata pagelaran ini disesuaikan dengan yang menonton. Cerita yang awalnya gw kira akan kaku tidak terjadi, karena terdapat humor segar di dalamnya. Misalnya saja ketika di tengah petarungan antara Rama dan Buta Marica sempet-sempetnya Rama minta minum ke yang nyinden dan menyerahkannya ke Buta Marica kemudian melanjutkan pertarungan mereka -___-!!. Pagelaran ini juga ada terjemahan cerita yang sedang terjadi. Sehingga orang yang menonton dan ga ngerti bahasa Jawa bisa mengikuti alur ceritanya.Para pemainnyapun cukup interaktif dengan penonton dan muncul di tempat yang ga disangka-sangka sama penonton, seperti penari yang turun dari bangku penonton, dan ada juga yang turun dari panggung untuk menari di dekat penonton. Tidak hanya itu di tengah-tengah pagelaran pada satu bagian ada yang menggunakan wayang. Ini pertama kalinya gw nonton wayang.

Gw puas menonton pagelaran ini, walau ternyata lama banget. Mulai jam 19.30 dan selesai jam 10.30 lebih!! Di luar ekspektasi gw. Seenggaknya malam itu gw mendengarkan bahasa Jawa yang sudah lama ga gw denger lagi, melihat suasana Jawa yang kental, bagai mengingat masa SD dan SMP dulu.

sumber foto: Facebook Mas Wendy (terima kasih sudah memperbolehkan memakai fotonya)