Mabok Candi di Kompleks Angkor

IMG_0767

Kamboja merupakan negara yang ingin saya datangi untuk melihat salah satu situs warisan dunia, Angkor. Awalnya saya salah mengira bahwa Angkor Wat merupakan kawasan yang terdiri dari berbagai macam Candi. Ternyata sampai di sana saya baru tahu kalau Angkor Wat merupakan salah satu candi utama dan terbesar di kawasan Angkor.

Ke Kawasan Angkor berarti bersiap untuk menjelajahi waktu dan melihat berbagai macam bentuk candi. Saya yang sehari di sana udah mabok candi saking banyaknya candi yang dilihat. Satu hari sebelumnya, saya sempat mengunjungi Angkor Panorama Museum untuk melihat keseluruhan maket wilayah Angkor. Gede dan luas banget gengs!! Saya sampai bingung mau mengunjungi Wat yang mana saja.

Akhirnya saya ikut saja dengan rencana dari supir tuk-tuk. Maklum selain ga kebayang, saya sih pengen melihat matahari terbit di Angkor Wat serta berkunjung ke daerah candi yang memiliki banyak akar menempel plus pernah jadi tempat syutingnya Tomb Rider. Sisanya mah ngikut aja ke mana supir tuk-tuk membawa.

Penjelajahan saya ke Kawasan Angkor dimulai dari mengejar matahari terbit di Angkor Wat. Kemudian setelah puas bengong, saya pun menyusuri Angkor Wat ini. Saya, Teh Zen, dan Teh Wina sempat mengobrol dan mengamati bentuk candinya. Kita sempet bahas gitu perbedaan antara Angkor Wat, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan. DIlihat-lihat memang Angkor Wat ini lebih berupa istana ya ketimbang Candi untuk berdoa. Tapi lagi-lagi saya harus kembali baca buku soal kawasan Angkor untuk memastikannya. Selain itu kita juga sempet beberapa kali berhenti untuk duduk dan ngobrol random. Setelah puas muter, sarapan, nongkrong, dan foto-foto akhirnya kami pun keluar dari Angkor Wat menuju Wat yang lain.

 

IMG_0783

Gerbang menuju Angkor Wat

 

 

IMG_0796

Salah satu bagian dalam Angkor Wat

 

JMEO9073

Perjalanan pun dilanjutkan menuju kawasan Angkor Thom dengan melewati South Gate. Setelah itu bila berjalan lurus, kita akan menemukan bentuk candi yang berbeda dengan Angkor Wat, yaitu Bayon. Di sini saya menemukan banyak wajah yang tersenyum tenang milliki Avalokiteshvara. Melihat senyum penuh kedamaiannya membuat saya pun tenang dan nyaman. Padahal saat itu matahari mulai meninggi dan kondisi candi sangat penuh oleh turis. Tapi saya tetap senang mengitari Bayon dan melihat setiap relief wajah-wajah tersenyum satu persatu. Hal menarik yang saya perhatikan adalah reliefnya tidak dipahat seperti candi-candi yang lain, tapi seperti dibentuk terlebih dahulu baru disatukan.

 

IMG_0814

South Gate

 

 

IMG_0816

Bayon

 

IMG_0823

Tak jauh dari Bayon, kita akan bertemu dengan Candi Baphuon. Saya segera jatuh cinta melihat jembatan menuju candi ini!! Saat berjalan selangkah demi selangkah menuju candi, saya melihat banyak batu berserakan seperti mengajak kita untuk turun dan duduk sejenak menikmati keindahan jembatan dan candi sambil mengobrol di bawah pohon rindang. Saat memasuki Baphuon barulah terasa panas. Selain itu pintu keluar candi adalah dari sisi belakang sehingga perlu berputar bila ingin kembali ke depan. Beneran kudu siapin stamina dan air mineral kalau ke sini!!

Bila kita berjalan ke bagian belakang dan memilih jalan melewati dinding batas Candi Bapuhon, kita akan menemukan Candi Phimeanakas yang sedang dipugar. Saya sih udah kepanasan, jadi setelah foto dan melihat sekitar bangunan kita pun berjalan lurus ke arah jalan utama dan bertemu dengan Terrace of Elephant.

 

IMG_0826

Jembatan menuju Baphuon

 

 

IMG_0852

Baphuon Temple

 

 

IMG_0853

Phimeanakas

 

 

IMG_0854

Terrace of Elephant

 

Berarti sudah empat candi yang kami kelilingi. Waktu pun sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Ah tapi sayang banget kalau makan siang sekarang. Jadi kami melanjutkan perjalanan melewati Victoria Gate dan lanjut ke candi selanjutnya. Supir Tuk-Tuk kami, Pak Nasri dengan baik hati menawarkan untuk berhenti di candi berikutnya, Candi Thommanon yang terletak depan-depanan sama Candi Chau Say Tevoda. Apa daya kami masih lelah setelah mengunjungi kawasan Angkor Thom, jadi kami pun memilih melihat-lihat sebentar dari dalam tuk-tuk dan melanjutkan ke candi selanjutnya, Ta Keo.

Saat melewati Ta Keo, saya melihat candi ini sedang dipugar sehingga menjadi malas untuk turun. Selain itu hari mulai panas dan tenaga mulai berkurang drastis. Sehingga kami pun meminta Pak Nasri untuk melanjutkan perjalanan ke Ta Prohm.

IMG_0856

Victoria Gate

 

IMG_0859

Ta Keo

 

Ta Prohm ini memang terkenal sebagai tempat syuting Tomb Rider. Saya merasa sangat kagum dengan bentuk dan keindahan candi ini. Di sini saya merasakan bagaimana antara bangunan dan alam sebenarnya saling membantu dan menopang. Pohon-pohon yang masih hidup ini tumbuh besar dan menjulang. Akar-akarnya bersatu dengan bangunan dan saling bergantung. Kalau melihat struktur bangunannya, kita akan melihat bahwa bagian candi yang runtuh, biasanya disebabkan oleh pohon yang mati ataupun badai.

Saya tidak habis-habisnya berdecak kagum dan melihat jauh ke atas. Suasana dan nuansa Ta Prohm ini sungguh berbeda dengan candi-candi yang lain. Di sepanjang jalannya kita pun akan melihat banyak pasir di sini. Padahal ini di tengah hutan loh!! Lagi-lagi kami bertiga berpikir bahwa zaman dahulu mungkin di sini adalah rawa sehingga banyak pasir yang tertinggal. Maklumin aja kita banyak mikir dan berasumsi, soalnya kita sengaja ga pakai guide ataupun tur leader. Bekal saya pun hanya sebuah buku mengenai Angkor yang saya beli di Night Market Siem Reap. Di sini pun lagi-lagi kita berpikir bagaimana mereka menemukan candi yang ini. Apalagi melihat akar-akar yang sangat besar. Sempat terpikir apakah dulu candi ini merupakan gundukan tanah seperti Borobudur sehingga akar-akar ini bisa begitu menyatu dengan bangunannya.

Kakipun merasa lelah, kerongkongan kering, perut mulai bernyanyi, serta matahari semakin tinggi. Saatnya kami kembali ke kota untuk makan siang dan istirahat sejenak di hostel.

 

IMG_0923

Ta Prohm

 

CUQZ5048

Tepat pukul tiga saya, Teh Zen, dan Teh Win dijemput kembali oleh Pak Nasir dan kami pun kembali ke Kawasan Angkor. Saya sempat bertanya apakah sempat untuk mengunjungi satu Angkor lagi sebelum akhirnya kami berjalan menuju tempat melihat matahari terbenam yang segera dijawab bahwa itu tidak memungkinkan.

Kami akan melihat matahari terbenam dari Phnom Bakheng yang terletak di atas bukit. Candi ini memiliki batas maksimal untuk dapat berada di atasnya sehingga kami perlu datang lebih awal agar mendapat giliran naik ke atas. Untuk mencapai puncak candi, kami harus menaiki tangga curam dan diberikan nomor giliran. Apabila nomer habis, berarti harus mengantri dan gantian dengan turis lainnya.

Pemandangan dari Phnom Bakheng indah banget!!! Kita bisa melihat Kawasan Angkor yang memiliki banyak hutan. Saya pun sempat bertemu beberapa biksu yang sedang beribadah. Oia hingga saat ini Kawasan Angkor masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah. Oleh karena itu untuk warga lokal mereka bebas keluar masuk Kawasan ANgkor secara gratis. Waktu menunjukkan pukul setengah enam namun langit semakin mendung dan tak ada tanda-tanda cerah. Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk turun dan kembali ke Siem Reap sebelum gelap. Maklum sepanjang jalan di Kawasan Angkor saya tidak melihat ada lampu jalan, sehingga rada spooky aja ngebayangin malem-malem kudu lewat hutan.

saat turun dari Phnom Bakheng saya melihat antrian panjaaaaaanggg untuk mendapatkan giliran naik ke atas. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam. Hanya satu jam lagi dan candi akan ditutup. Ketika turun ke bawah pun masih ada beberapa turis yang ingin mendaki untuk melihat Phnom Bakheng. tapi petugas Kawasan Angkor tidak mengijinkan mereka naik karena beberapa saat lagi akan tutup. Apalagi mengingat antrian di atas masih panjang.

IMG_0938

 

IMG_0946

Detail Phnom Bakheng

 

 

IMG_0962

mendung T__T

 

Perjalanan kali ini sungguh panjang. Sepertinya saya sudah berjalan lebih dari 10 kilo!! Pulang-pulang ke tengah kota Siem Reap kami pun segera mencari foot massage. Kaki beneran pegel banget!!

Beberapa hari ke depan sepertinya saya ogah mengunjungi Wat atau candi. Udah kebanyakan muter-muter lihat candi di Kawasan Angkor. Saat tiba di Bangkok, saya langsung mencoret rencana untuk pergi ke Ayutthaya. Lebih baik mengunjungi beberapa Wat yang memang berbeda saja dengan yang ada di Kawasan Angkor.

Tips untuk mengunjungi Kawasan Angkor:

  • Kalau menyukai sejarah, bangunan candi, dan ingin melihat perbedaan setiap candinya, kalian bisa membeli tiket terusan 3 days pass atau 7 days pass sehingga bisa menikmati Kawasan Angkor dengan santai.
  • Untuk yang penasaran dan ingin ke beberapa Wat saja, bisa menggunakan 1 day pass.
  • Banyak cara untuk mengelilingi kawasan Angkor. Kita bisa menyewa sepeda, motor, mobil, ataupun menggunakan tuk-tuk. Keunggulan menggunakan tuk-tuk, biasanya setiap tuk-tuk akan menyiapkan air minum untuk kita dan sebelum masuk kuil kita bisa meminta sedikti penjelasan mengenai candi tersebut. Oia kalau mau menghubungi supir tuk-tuk saya, namanya Pak Nasri (+855969987679). Beliau ini Muslim jadi tahu beberapa restoran halal di Siem Reap.
  • Siapkan fisik untuk berjalan-jalan menuju candi ataupun menaiki candi yang ada.
  • Gunakan pakaian yang nyaman dan sopan. Di Kawasan Angkor tidak diperkenankan memakai baju tanpa lengan maupun celana pendek. Lebih baik pakai baju tipis lengan panjang serta celana panjang atau rok minimal selutut.

Bali: Sunset di Pura Luhur Uluwatu

IMG_1207Pura Luhur Uluwatu

Pura Luhur Uluwatu merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan yang terletak di Kabupaten Badung, di Kecamatan Kuta, Desa Pecatu Bali. Pura ini berdiri di dekat tebing yang sangat tinggi. Saya sangat merekomendasikan tempat ini untuk para penikmat matahari tenggelam. Matahari tenggelamnya cantik banget!!

IMG_1201

Pura Luhur Uluwatu ini terkenal dengan tari kecak yang selalu diadakan menjelang hingga selesai matahari tenggelam. Banyak wisatawan asing maupun domestik yang datang untuk melihat pertunjukan kecak dilatarbelakangi matahari tenggelam. Saat saya ke sana sih, melihat tari kecak bukan merupakan tujuan utama. Saya dan teman seperjalanan Muti hanya ingin melihat-lihat kawasan Pura Luhur Uluwatu dan menikmati detik demi detik ketika matahari tenggelam.

IMG_1205

Sambil menikmati matahari tenggelam, saya dan Muti bertukar cerita, pengalaman, dan saling menguatkan diri untuk masalah yang sedang kami hadapi saat itu. Maklum ke Bali inikan merupakan perjalanan menenangkan hati dan pikiran, karena itu kami tidak mengejar tempat wisata. Kami berjalan di sepanjang tebing untuk mencari tempat terbaik menikmati matahari tenggelam.

IMG_1227

Indah banget  melihat hamparan laut yang berwarna keemasan. Memantulkan cahaya dari matahari. Kami juga melihat banyak nelayan yang mulai pergi melaut. Kalau melihat keindahan ini, luasnya lautan, masalah kami mungkin hanya berupa butiran pasir pantai di bawah sana.

Yogya: Menanti Matahari Tenggelam di Candi Ratu Boko

IMG_6158

Salah satu keinginan saya saat kembali bermain ke Yogya adalah melihat matahari tenggelam di Candi Ratu Boko. Saya ingin sekali melihat matahari berwarna jingga yan gberada di tengah Candi seperti yang saya lihat di Instagramnya Alexander Thian. Jadilah saya mengajak teman-teman untuk ke Candi Ratu Boko sepulang dari Gunung Kidul. Niat banget ya 😀 . Saya sengaja datang sekitar jam setengah lima sore. Sekalian menikmati udara dan angin sore sebelum matahari benar-benar turun. Ternyata perjalanan dari tempat parkir ke Candi Ratu Boko lumayan jauh dan menanjak. Ga papa lah ya, sekalian olahraga. Selain itu di sebelah kirinya, kita akan melihat pemandangan sawah dan sedikit hutan. Kalau pada jeli, kita juga bisa melihat Candi Prambanan dari sini.

Menjejakkan kaki di kompleks Candi Ratu Boko ini, kita akan disambut oleh taman yang hijau dan indah banget. Untung juga ke sananya sore-sore, jadi bisa menikmati taman yang keren ini. Selain itu, berhubung ke sananya di hari kerja, sepi dong!! Asyik banget!!

IMG_6110jalan menanjak

IMG_6207pemandangan dari tangga

IMG_6179padang rumput

Jam lima sore, saya baru naik ke atas Candi Ratu Boko. Ternyata pemandangan dari atas indah banget. Kita bisa melihat hamparan sawah dari atas. Selain itu, ada padang rumput yang luas banget. Rasanya pengen gelar tiker buat piknik di sana sambil baca novel. Saat ke atas, saya baru menyadari, tidak hanya saya yang punya hasrat untuk melihat matahari tenggelam. Cukup banyak orang dengan kamera DSLR yang menantikan momen matahari berada tepat di tengah Candi Ratu Boko *apalah saya yang hanya pakai kamera hp*. Saat matahari mulai memasuki tengah Candi, mulai banyak yang mengabadikan momen ini. Mulai dari foto mataharinya, swafoto, hingga foto bareng. Akhirnya pada ngantri untuk dapet giliran foto 😀

IMG_6116Candi Ratu Boko

 IMG_6171foto siluet

IMG_6191cantik ya?!

IMG_6195saat perjalanan turun dari Candi Ratu Boko

Walau tidak mendapatkan matahari berwarna jingga, saya bersyukur dapat melihat matahari terbenam cantik di dekat Candi Ratu Boko. Semoga lain kali saya bisa kembali ke sini dan melihat lebih banyak lagi sudut-sudut Candi Ratu Boko.