Menjelang Agustus

It’s time to meet myself in the mirror. Someone looks at me. It’s just another side of myself. I just wanna smile. 

Sebulan ini perasaan saya naik turun. Mungkin ini efek ritme hidup yang beberapa bulan lalu berantakan sehingga efeknya masih terasa hingga hari ini. Ritme saya pun mulai berangsur-angsur pulih walaupun bagian begadang masih jadi pr.

Kalau sudah begini, saya biasanya memilih untuk kembali duduk di pojok-pojok tempat ngopi dan berkontemplasi sendiri. Kayak ngajak ngobrol dan merasa-rasa berbagai emosi yang lagi berkunjung. Saya pun sampai ke suatu kesimpulan bahwa semua perasaan ini terkadang datang menjelang bulan Agustus.

Agustus merupakan bulan di mana saya lahir. Jadi memang sering menjadi tempat saya check point atas kemajuan yang telah saya buat setahun belakangan ini. Sebenernya ada beberapa kemajuan yang saya buat ditahun ini. Sebut saja soal drama tesis dan dua kali sidang yang telah berakhir, wisuda di tahun ini, memutuskan untuk mengikuti training yang kayaknya dulu ga pernah kepikiran akan nyemplung ke sana, mencoba untuk tinggal di sebuah tempat lebih dari satu minggu, mencoba berbagai hal baru, berkenalan dengan lingkungan yang sebelumnya saya lihat dari jauh, mencoba melihat kota dari sudut pandang yang lain, serta merencanakan sebuah perjalanan yang menurut saya cukup lama. Banyak yah!!

In the morning, everything is alive, as always. But still, the darkness gets me down and won’t set me free.

Tapi belakangan saya merasa ada yang kurang. Mungkin karena pencapaian saya ini berbeda dengan teman-teman seumur yang sudah menikah, bahkan sudah memiliki dua anak, serta punya pekerjaan yang steady. Memang ya rumput tetangga itu selalu lebih hijau!!

Hal itu juga yang membuat saya ingin kembali menata semua aspek dalam hidup saya. Tahun lalu saya bisa melewati ini semua dengan tenang. Maka tahun ini saya pun kembali ingin berdamai dengan perasaan perasaan ini.

I’ll be ok. 

*cetak miring adalah lirik lagu CN Blue berjudul Be OK

Desember

129apple_img_9458

Sudah Desember lagi aja ya!! Time flies!! Beneran ga kerasa banget setahun sudah hampir berlalu. Hal ini mengingatkan saya kembali akan tantangan dari BEC di awal tahun, soal kata yang akan mewakili setahun ini. Saat itu saya memilih kata “learn” alias belajar. And I got a lot of lesson to learn this year.

Saya belajar banyak hal baru, mendapat insight terhadap banyak pandangan, menanyakan banyak hal menggenai hidup, belajar merendahkan sisi egois dalam diri, mencoba untuk mudur selangkah, berhenti sejenak, banyak berbicara dengan orang lain dan diri sendiri, serta menyelesaikan setiap masalah yang ada. Terakhir tentu saja menyelesaikan tesis.

Saya belajar hal baru tahun ini. Saya belajar untuk menjahit, merajut, sampai membuat mainan dari kayu!! It was really fun to learning something new. Saya pun belajar lebih dalam lagi mengenai sistem pendidikan Waldorf dari Rudolf Steiner dan semakin mencintai pendekatan Waldorf. Untuk hal ini saya berterima kasih ke keluarga besar Jagad Alit yang mau mengajarkan dan berdiskusi dengan saya. Apalagi tahun ini ada Horst Hellman dan Edith Van Der Meer yang datang ke Bandung untuk berbagi mengenai kurikulum Waldorf, mendongeng untuk anak, mendisiplinkan anak, menjaga ritme hidup, menyederhanakan parenting, hingga menghadapi dua pola asuh yang berbeda. Saya mendapatkan pandangan baru untuk melihat permasalahan yang berkaitan dengan pendidikan dan anak-anak. Tentunya hal ini langsung saya terapkan ketika ada yang curhat soal anaknya ke saya.

Persepsi saya banyak berubah tahun ini. Saya menjadi kenal lebih dekat dengan beberapa orang dan melihat hal-hal lama dalam sudut pandang yang baru. Menyegarkan sekaligus membuat saya bertanya lebih banyak tentang hal yang lain. Yah apalagi dengan drama pilkada dan printilannya ini. Saya jadi lebih mengetahui siapa orang-orang disekitar saya dan bagaimana cara pandang mereka. Beberapa membuat saya terkejut, yang lain membuat saya sadar sejauh mana sebaiknya saya memberi garis batas.

Desember ini, saya mulai dengan banyak bertemu teman yang sudah lama tidak bertemu. Meluangkan waktu untuk mendengar kabar dari mereka semua. Tahun ini saya belajar bahwa setiap orang yang datang ke dalam hidup saya memiliki tempat tersendiri di hati.

Ngomongin tesis, bulan Agustus kemarin saya kembali ganti terapi loh. Iya, tiga kali ganti!!! Luar biasa!! Saya belajar untuk tidak mempertahankan idealisme dan ego saya. Udah buntu kak buat ngasi alasan logis ke pembimbing. Jadilah saya mengambil langkah mundur dan alhamdulillah, akhirnya pembimbing setuju dengan terapi yang saya ajukan. Empat bulan dari situ, disinilah saya bersama si tesis yang sedang memasuki babak akhir. Terima kasih banyak untuk doa, semangat, kritikan, dan juga bantuan-bantuan dari semua orang.

Bulan Desember, Bandung juga masih suka hujan. Apalagi hujan hari ini, gerimmis tipis tipis kesukaan saya. Tentu saja cokelat hangat menjadi teman yang setia menemani dalam suasana seperti ini. Kopi? Oh saya masih minum kopi kok. Tapi belakangan kembali ke asal, minum cokelat. Soal hujan dan Bulan Desember, saya langsung teringat lagu Efek Rumah Kaca. Yuk dengerin lagunya 🙂

Soal tahun depan, saya punya beberapa rencana acak. Tapi saya tidak tahu, setelah lulus pintu mana yang akan terbuka lebih dulu. Manapun yang terbuka lebih dulu, maka itulah yang terbaik. Setahun belajar mengenai mindfulness membuat saya lebih sadar dan waspada dengan sekeliling. Menikmati setiap hari yang saya jalani. Melihat banyak hal dan ekspresi orang-orang.

Cerita Hujan

img_7385

Hujan…

Setiap hari hujan selalu menyapa saya. Biasanya ketika hujan sering berkunjung, saya seperti mendapat waktu untuk berkontemplasi, kembali berbincang dengan diri sendiri. Tidak hanya itu saya lebih sering melakukan kegiatan yang bersifat breathing in atau melibatkan diri sendiri seperti membaca, menulis, dan melihat kegiatan orang-orang disekitar. Saya bahkan sempat mencoba menjahit lagi karena ikutan membuat mainan untuk sekolah di dekat rumah. Ajaibnya, saya menemukan ketenangan dan kedamaian dari semua kegiatan ini.

Mungkin efek beberapa bulan saya merasakan tekanan dan tegangan tinggi dari diri dan lingkungan, sehingga kegiatan-kegiatan seperti di atas adalah oase saya untuk menenangkan diri sejenak, untuk bernafas, dan melihat sekitar secara utuh. Utuh, tanpa cemas memikirkan apa yang akan terjadi ataupun apa yang telah terjadi. Melakukan kegiatan secara sadar.

Hujan benar-benar bisa membawa saya untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kegiatan dan pikiran. Memandang sesaat, menyesap ketenangan yang dibawanya.

Berkontemplasi

img_6980

Kontemplasi….

Belakangan ini saya sering mendengar kata-kata ini. Dahulu saya mengenalnya sebagai evaluasi diri. Sekarang ada sebuah kata yang lebih sederhana, kontemplasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kontemplasi adalah renungan dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh. Berkontemplasi berarti merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian.

Beberapa hari ini, saya sering berkontemplasi dengan hati dan pikiran saya. Mencoba berdamai dengan beberapa hal yang terjadi dalam hidup. Membebaskan diri dari hiruk pikuk sekeliling dan mencoba hening sejenak. Meresapi setiap stimulus yang dirasakan. Menajamkan setiap indra yang ada. Mengasah insting.

Sengaja bertemu dengan beberapa orang terdekat untuk sekedar berbagi rasa dan asa. Merekalah yang membantu saya untuk mempertanyakan kembali hal-hal yang sedang saya lakukan belakangan ini. Bukan untuk membuat ragu, tapi untuk memperhatikan detail yang luput. Melihat dari berbagai sudut. Memastikan bahwa apa yang saya lakukan bukan karena sesuatu yang diburu-buru.

Menyusun kembali setiap kepingan puzzle yang ada. Tidak terlena dengan hal-hal kecil, tetapi melihat besaran dari gambar puzzle yang ada.

Ya ampun, postingan kali ini sungguh kaya rasa dan bahasa ya!!! Anggap saja sedang terbawa suasana adem dan nyaman dari sebuah perpustakaan kecil.