Menjadi 30

Sudah nyaris sebulan setelah saya berulang tahun ke-30. Ternyata ga ada perubahan signifikan yang dirasakan. Perasaan kok lebih galau waktu menginjak umur 29 dibandingkan 30 😆 .

Pertambahan usia kali ini pun sedikit berbeda. Beberapa tahun ke belakang saya selalu menghadiahkan diri sebuah perjalanan selama beberapa hari baik ke dalam maupun ke luar negeri. Awalnya tahun ini pun terpikir untuk melakukan hal yang sama. Tapi apa daya pekerjaan dan beberapa urusan lain membuat rencana perjalanan terpaksa diundur. Sehingga saya pun memutuskan untuk tetap di Bandung saat bulan ulang tahun.

Walaupun tetap di Bandung, saya malah mendapatkan kado yang luar biasa untuk hati dan pikiran. Seorang mentor yang saya kagumi sedang berada di Bandung untuk melakukan evaluasi sekolah tk di dekat rumah. Berarti selama beberapa saat saya bisa mendatangi beliau dan mengobrol. Pada hari terakhirnya di Bandung, saya pun berbicara berdua dengannya. Saya menceritakan sebuah unek-unek yang sudah lama terpendam. Jawaban beliau sungguh membuat beban di pundak ini berkurang dan mengingatkan bahwa saya perlu melihat kembali prioritas dalam menjalankan beberapa pekerjaan. Rasanya semakin bersyukur karena saya mendapat kabar bahwa tahun depan belum tentu beliau akan kembali datang untuk melakukan evaluasi dan mentoring ke Indonesia. Kalau saya tetap pergi berlibur, tentu kesempatan ini tidak akan terjadi.

Selain itu Allah SWT juga memberikan kejutan manis di penghujung Agustus.  Saya mendapatkan pekerjaan berupa proyek rekruitmen ke sebuah kota di Sumatera yang merupakan tempat kelahiran. Rasanya seperti diberikan kesempatan untuk berkunjung ke akar kehidupan dan mengingat perjalanan yang telah dilakukan sepanjang 30 tahun hidup di dunia ini.

Ah kalau kembali mengingat 30 tahun kehidupan, sudah barang tentu banyak sekali yang berubah sejak saya dilahirkan ke dunia ini. Mulai dari fisikpun sudah jauh berbeda. Asam garam, pahit manis, terang dan gelap sudah terlewat. Berbagai peristiwa yang terjadi di dalam hidup serta pertemuan dengan banyak orang membuat saya sampai di titik 30 yang seperti ini.  Rasanya kalau keputusan kecil yang diambil dulu berbeda, mungkin saya pun tidak akan menjadi saya yang sekarang.

Dalam tulisan ini izinkan saya untuk mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah memberikan warna dan cerita di dalam hidup saya. Halo 30, mari kita bergandengan tangan untuk memulai petualangan ke depannya.

Advertisements