Merajut Benang Merajut Pikiran

Saya tidak pernah menyangka akan mengenal konsep bahwa untuk mereorganisasi pikiran kita bisa melakukannya dengan mengerjakan hal-hal yang berbeda secara nyata. Konsep sederhananya adalah ketika kita mengerjakan sesuatu dengan tangan, sebenarnya kita sedang mengerjakan hal yang sama di dalam pikiran kita.

Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah dengan merajut. Hal ini tentu pernah saya coba lakukan beberapa kali untuk melihat keabsahannya dan ternyata benar-benar bisa diandalkan. Kemudian saya coba berdiskusi mengenai hal ini dengan beberapa teman dan mereka pun mengamininya. Bahkan seorang kawan saya ada yang memiliki rajutan sendiri yang akan dikeluarkan ketika pikirannya sedang kacau.

Ketika pertama kali merajut, baik untuk yang memang ingin mencoba ataupun dipaksa merajut, semua akan merasakan perasaan frustrasi karena cara yang berbeda dengan melakukan crochet. Seorang teman saya pernah berakhir dengan melempar jarum rajutnya dan lebih memilih berkebun di luar area tempat kami belajar. Seorang teman yang lain rasanya ingin menyerah saja saat merajut, padahal beliau ini jago banget ngecrochet. Hanya saja memaksa diri untuk melewati ketidaknyamanan merupakan cara untuk belajar mengasah karsa.

Setelah melalui beberapa baris merajut, kita akan melihat pola yang membuat kegiatan merajut menjadi sangat rileks dan bahkan seseorang pernah mengatakan pada saya bahwa merajut merupakan kegiatan yang meditatif. Kalau saya, seringnya akan mengantuk saat di tengah-tengah merajut. Sedangkan teman yang lain bahkan merajut untuk menghilangkan insomnianya!!

Saat sedang merajut, saya pun belajar untuk mengurai benang, menghitung jumlah benang yang sedang dirajut, serta melenturkan jari-jari yang kaku. Menarik setiap benang, melepaskan benang pelan-pelan, serta menyelesaikan setiap barisnya. Dengan melakukan hal ini sebenarnya secara tidak langsung saya pun sedang mengajari pikiran dan perasaan untuk menata kembali kekacauan yang ada di dalamnya. Mencoba menguraikan masalah dan melenturkan cara saya berpikir, melihat apakah saya perlu menarik benang atau sudah saatnya melepas, atau saatnya untuk diam sejenak sebelum akhirnya saya memutuskan untuk fokus bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut.

Selalu ada yang pertama untuk semuanya dan biasanya yang pertama itu tidak pernah sempurna. Begitupun dengan merajut. ketika saya memaksakan diri untuk sempurna melakukannya, rajutan saya tidak pernah selesai, bahkan ketika ada salah saya akan membuka rajutan dan mengulangi semuanya dari awal. Hingga di satu titik saya belajar untuk membiarkan kesalahan itu ada dan terus merajut hingga selesai. Sama seperti sedang menyelesaikan sebuah masalah, tidak ada cara yang sempurna. Pada saat ada kesalahan yang bisa dilakukan adalah meminta maaf serta memaafkan diri sendiri, kemudian melepaskan dan tetap bergerak.

Hingga akhirnya rajutan saya selesai!! Akhirnya syal yang saya buat selesai juga. Bukan yang terbaik, sempurna, dan terindah, tapi syal ini saya kerjakan dengan sepenuh hati dan tidak putus asa. Kalau ditanya untuk siapa syal ini kelak, akan saya berikan kepada seseorang yang mau menerima ketidaksempurnaan syal ini begitupun dengan ketidaksempurnaan diri sang pembuatnya. Hingga saat itu tiba, sesekali saya akan memakai syal ini.

hasil rajutan pertama: syal

Selesai mengerjakan syal ini pun saya berhasil menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor serta masalah pribadi yang mengganggu pikiran saat itu. Tidak salah ketika ada yang berkata bahwa “nimble hand, nimble head“. Karena dengan pekerjaan yang dikerjakan tangan, hati dan pikiran pun ikut bekerja.

Advertisements