Bertemu Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh dan Jean Marais

“Ra…tinggal di bawah sama paling atas nih, mau ambil tiket yang mana?!”

Seorang sahabat memberitahu lewat whats app. Padahal penjualan tiket Bunga Penutup Abad baru dibuka beberapa jam saja. Saya pun memilih duduk di kursi bagian depan. Lebih baik dari pada melihat dari kejauhan. Siapa yang menyangka bahwa tiket pertunjukan teater berjudul Bunga Penutup Abad akan cepat habis. Saya pikir tidak banyak yang membaca Tetralogi Pulau Buru, ternyata dugaan saya meleset. Ah atau mungkin ingin melihat bagaimana Reza Rahardian, Chelsea Islan, Happy Salma, serta Lukman Sardi bermain peran di sini. Apapun alasannya, yang pasti tiket habis terjual. Beberapa teman saya pun gagal menonton karena kehabisan tiket.

IMG_3907

Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit (Anak Semua Bangsa)

Bunga Penutup Abad merupakan pertunjukan teater dari Titimangsa Foundation yang sebelumnya pernah menggelar pertunjukkan bertajuk Nyai Ontosoroh. Pertunjukan ini merupakan adaptasi dari dua novel awal tetralogi Pulau Buru yang berjudul Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer. Saya pertama kali berkenalan dengan novel Bumi Manusia tahun 2012, ketika tugas kuliah belum menumpuk.

Saya deg-degan banget mau nontonnya. Ga kebayang akan seperti apa gaya penceritaannya nanti atau adegan-adegan mana yang akan diambil dari novelnya. Saya juga berusaha untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi agar bisa menonton dengan nyaman.

Akhirnya jam 20.00 tepat, layar pun dibuka dengan Minke yang membacakan surat Dari Panji Darman, utusan Nyai Ontosoroh yang mengikuti Annelis menuju Belanda. Dari surat-surat itulah, Minke dan Nyai Ontosoroh bergantian mengenang potongan-potongan kisah  mulai dari pertemuan ketiganya, bagaimana ayah Annelis mati, kedatangan anak tirinya, hingga akhirnya pengadilan putih Hindia Belanda yang memutuskan hak asuh Annelis dari Nyai Ontosoroh dan diharuskan pergi ke Nederland.

Di beberapa adegan, Minke yang merupakan pelajar HBS dan mengagung-agungkan Eropa diperlihatkan betapa bangsa Eropa tidak selalu benar. Minke yang menulis menggunakan Bahasa Belanda, akhirnya mengikuti saran Jean Marais yang merupakan sahabatnya untuk menulis dalam Bahasa Melayu serta lebih mengenal bangsanya sendiri.

Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu (Anak Semua Bangsa)

Saya hanya bisa terhanyut saat menonton adegan tiap adegan. Penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak berbeda dengan novelnya membuat pertunjukan ini kaya akan rasa bahasa. Alunan musik penghantar yang dimainkan secara langsung dari belakang kamar Annelies di Buitenzorg menguatkan tiap adegannya.

IMG_3930

Senang rasanya melihat setiap adegan-adegan penting di dalam buku tertuang dalam bentuk akting prima dari tiap pemerannya. Saya awalnya sempat sangsi dengan Reza Rahardian yang memerankan Minke. Rada kurang Jawa dan terlalu tinggi untuk memerankan Minke. Tapi bukankah dalam seni teater semua pelakon harus bisa menjadi orang yang berbeda dengan dirinya? Begitu melihat akting Reza Rahardian, Chelsea Islan, Happy Salma dan Lukman Sardi, keraguan saya langsung hilang.

Reza Rahardian membuktikan kualitasnya sebagai aktor. Ia dapat berperan sebagai Minke yang malu ketika bertemu Annelis dan Nyai untuk pertama kali, getir saat membacakan surat-surat dari Panji Darman, hingga kesedihan saat Annelies pergi.

Happy Salma tampil maksimal menjadi Nyai Ontosoroh yang kuat,  berusaha mempertahankan idealismenya, berusaha tegar menghadapi semua kejadian, serta kesedihan saat Annelies pergi.

Chelsea Islan pun bermain dengan baik. Apalagi saat adegan yang mengharuskannya akting seperti mayat hidup karena menerima berita harus ke Nederland. Saya sampai merinding!!

Saya paling kagum dengan akting Lukman Sardi sebagai Jean Marais. Walaupun porsi adegannya ga banyak, tapi ia bisa mencuri perhatian penonton. Ia bisa menggunakan aksen yang menandakan orang asing serta mempertahankan keseimbangannya sepanjang pertunjukan. Salut banget sama aktor senior ini.

IMG_3937

Agak burem, yang moto pun deg-degan sama kayak yang difoto

Akhirnya saya benar-benar merasa puas dan bahagia dengan pertunjukannya. Semoga pertunjukan-pertunjukan serupa bisa sering diadakan di Bandung.

Kekuatan yang kita miliki mungkinlah tidak sebanding dengan ketidakadilan yang ada, tapi satu hal yang pasti: Tuhan tahu bahwa kita telah berusaha melawannya (Anak Semua Bangsa)

Ada Apa Dengan Cinta 2

Kau yang panas di kening.
Kau yang dingin di kenang.

Catatan: Saya mau bercerita cukup detail tentang filmnya, jadi akan banyak spoiler. Buat yang belum nonton, mending nonton dulu baru baca tulisan ini 🙂 *geer amat Ra, bakal ada yang baca*.

Para remaja di tahun 2002, siapa yang tidak mengenal Ada Apa Dengan Cinta (AADC)? Sebuah film Indonesia yang berjaya dan menjadi trendsetter untuk remaja saat itu. AADC bercerita mengenai hubungan Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra) yang berakhir dengan Rangga pergi ke New York.

Kadang-kadang, kau pikir,
lebih mudah mencintai semua orang
daripada melupakan satu orang.

Dua belas tahun kemudian, Line menghadirkan sosok mereka dalam iklan alumninya. Tentu saja hal ini membuat gempar semua orang. Terlalu rindu dengan sosok-sosok di dalamnya. Saya aja sampai membuat tulisan mengenai hal ini.

Kini, 14 tahun kemudian Cinta dan Rangga kembali hadir. Tentu saja untuk temen-temen yang berumur 20an dan 30an seneng dan deg-degan menantikan film ini. Di grup kantor ataupun temen segeng udah heboh banget mau nonton dan mengenang kembali Geng Cinta yang terdiri dari Karmen (Adinia Wirasti), Milly (Sissy Pricilia), dan Maura (Titi Kamal). Iya, saya menonton film ini atas dasar mengenang dan tidak berharap terlalu tinggi. 

Film dibuka dengan adegan Cinta, Milli, Maura, serta pasangan mereka masing-masing kumpul di galerinya Cinta. Pasangan? Iya, merekakan udah dewasa, jadi ga aneh ketika Maura udah punya anak tiga sama Chris (Christian Sugiono), Milly berakhir dengan nikah sama Mamet (Dennis Adhiswara), dan Cinta bertunangan dengan Tria (Ario Bayu). Mereka semua menantikan Karmen yang baru keluar dari masa rehabnya. Alya? Di sini Alya diceritakan meninggal karena kecelakaan. Akhirnya mereka berkumpul dan memutuskan liburan ke Yogya. Di New York, Rangga pun dipertemukan dengan adik tirinya, Sukma yang memintanya untuk menemui ibu mereka di Yogya.

Buat saya, dengan umur 20 sekian akhir dan pergi liburan sama sahabat adalah sebuah kemewahan. Susah bener buat nyocokin jadwal!! Belum yang kudu izin suami, ataupun ninggalin anaknya. Saya paham aja gimana senengnya perasaan geng Cinta ini buat liburan bareng ke Yogya tanpa pasangan masing-masing.

Di Yogya sendiri mereka jalan-jalan ke pasar, makan gudeg, ngobrol-ngobrol di Vila. Hingga akhirnya Karmen dan Milly melihat Rangga. Rangga dateng ke Yogya untuk bertemu ibunya. Tapi apa daya, ternyata Rangga belum bisa maafin ibu yang telah meninggalkannya selama 20 tahunan.  Eh malah ketemu Geng Cinta duluan.

Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu,
mereka yang datang kemudian hanya akan
menemukan kemungkinan-kemungkinan

Adalah Karmen yang membuat Rangga mengetahui Cinta ada di Yogya. Awalnya Cinta ga mau ketemu Rangga. Ya iyalah, sembilan tahun lalu diputusin sepihak tanpa penjelasan, udah gitu diputusin lewat surat pula!! Jadi saya juga ngerti sih kenapa Cinta marah banget sama Karmen karena ngasi tahu Rangga buat dateng ke pamerannya Eko Nugroho. Tapiiii, saya juga ngerti perasaan Karmen yang ga pengen Cinta masih ada urusan yang belum beres di saat dia mau nikah.

Akhirnya Cinta pun mau menemui Rangga. Dimulailah Rangga yang menceritakan penyebab ia memutuskan Cinta dan berakhir dengan obrolan soal Ibunya Rangga. Kisah sehari semalam mereka ini beneran bikin senyum, ketawa dan deg-degan.   

Setelah nonton dengan teman-teman kantor, bahasan awalnya lebih ke perkembangan kepribadian setiap tokohnya. Maklum temen sekantor ini anak psikologi semua, jadi bahasannya ga jauh dari ilmu kita 😀 . Buat saya pribadi, saya senang melihat perkembangan setiap tokoh di cerita ini. Cinta yang masih dengan kepribadian plin plannya, butuh penguatan temen-temennya, gengsian, malu tapi mau. Ah sungguh Cinta banget!! Milly yang masih tetep polos dan lemot, Maura yang dulu dandan banget sekarang menjadi ibu rumah tangga yang ga bisa lihat meja berantakan, serta Karmen yang dulu preman tapi sekarang menjadi lebih kuat secara mental. Gimana ga jadi kuat kalau Karmen disini diceritakan baru keluar dari rehab setelah suaminya ninggalin dia. Kemudian Rangga yang dulu emosian dan egois, sekarang jadi lebih kalem dan bisa nahan emosinya demi ga bikin Cinta marah. Bahkan jadi pinter ngemodus!! Smooth bener ngajakin Cinta seharian jalan bareng sampai akhirnya ngeliat matahari terbit.

Selain ngomongin soal tokohnya, saya juga jadi ingin kembali ke Yogya. Kembali menelusuri Jalan Prawirotaman untuk duduk-duduk santai di cafe-cafenya, menginap di Lokal Hotel atau Greenhost Boutique Hotel, melihat pertunjukkan “surat untuk Praya” dari  Pappermoon Puppet Show, serta melihat matahari terbit dari Puthuk Setumbu. Semua itu impian saya sebelum AADC2 syuting di sana. Duh kebayang setelah syuting tempat-tempat ini bakal lebih ramai. Saya yang baru nonton aja jadi penasaran dengan Klinik Kopi. Semoga bisa kesampaian ke tempat-tempat ini, aamiin.

Satu lagi yang saya suka dari AADC2 adalah sisi humornya. Mulai dari humor-humor khas Milly yang bikin seger!! Duh beneran cuma Milly deh yang bisa nanya polos dan bikin semua orang geleng-geleng. Selain itu Cinta yang nampar Rangga terus balik lagi, itu juga adegannya bikin ngakak ga brenti-brenti.

Apa kabar hari ini?
Lihat, tanda tanya itu,
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi

Film AADC2 buat saya pribadi masih relate banget sama keadaan saya dan teman-teman. Mulai dari geng SMA yang mulai sibuk masing-masing dan susah ketemu, beresin urusan sama orang, dan perihal memaafkan. Saya langsung manggut-manggut ketika Cinta bilang “saya aja bisa maafin kamu, harusnya kamu bisa maafin ibu kamu”. Karena apa yang dilakuan Rangga ke Cinta itukan sama dengan perlakuan Ibunya ke Rangga, sama-sama ninggalin tanpa kejelasan.

Duh film ini bener-bener edisi nostalgia banget. Lebih enak ditonton rame-rame sama temen-temen. Apalagi temen zaman nonton AADC pertama. Saya pun sempat berpikir, kalau remaja sekarang nonton AADC2, mungkin ga terlalu kena kali ya. Ga seheboh penonton usia 20an atau 30an.

*Tulisan yang digaris miring merupakan puisi Aan Mansyur dari buku Tidak ada New York Hari Ini

Racun Drama On Going

 

Menonton drama Korea dan Jepang itu beneran bisa meracuni diri sendiri dengan keinginan untuk terus menonton sampai tamat. Masih mending kalau dramanya sudah tamat, kalau masih on going? Bisa ga sabar menanti minggu depan untuk segera ngelanjutin nonton. Seperti saat saya lagi mengikuti drama Jepang “Itazura Na Kiss Love in Tokyo”. Beneran tersiksa nungguin tiap minggunya. Saya sampai menghibur diri nonton ulang episode-episode sebelumnya atau nonton ulang Itazura Na Kiss yang tahun 1996, versi anime, korea ataupun versi Taiwannya. Beneran ga ada kerjaan :lol:. Berhubung saya ga mau kesiksa sendiri, saya ngeracunin orang-orang disekitar saya buat ikutan nonton juga, jadi bisa galau berjamaah nungguin episode selanjutnya :lol:. Padahal kalau dipikir-pikir saya udah nonton berbagai versinya dan ceritanya juga kurang lebih sama, aktingnya dan ngebawain karakternya aja yang pada beda. Tapi tetep loh bikin penasaran.

Apakah saya kapok nonton drama on going? Tentu tidaaakkkkk *rada masokis*

Saat ini, saya mengikuti empat drama korea yang sedang on going. Drama terakhir yang saya ikuti ini sebenernya udah sadar diri ga akan menonton daripada nyiksa diri penasaran. Tapi kemarin berhubung ga ada tontonan akhirnya ditonton juga. Untungnya keempat drama ini tayangnya pada hari yang berbeda.

Jadi saya lagi ngikutin dramanya Jung Yong Hwa (iyaaa,,,,si vokalisnya CN Blue!! Ini emang ga move on move on deh) “Marry Him If You Dare” yang tayang Senin dan Selasa dimana jadwal ngunduhnya udah pasti Selasa – Rabu, terus ngikutin dramanya Min Hyuk (iyaa,,si drummernya CN Blue) “The Heirs” yang tayang Rabu – Kamis. Jadwal ngunduhnya hari Kamis – Jumat. Sebenernya ngikutin drama ini karena bertebaran laki-laki tampannya sik macam Min Hyuk, Lee Min Ho sama Wo Bin :lol:. Saya juga ngikutin “Medical Top Team” tayangnya sama kayak The Heirs, jadi jadwal ngunduhnyapun sama. Saya ngikutin drama ini karena merupakan versi Korea dari Team Medical Dragon (Iryu) yang merupakan drama Jepang soal politik rumah sakit plus bedah jantung. Terakhir saya nonton drama “Reply 1994”. Buat yang masa kejayaannya tahun segitu, serasa nostalgia deh. Ini kejadian banget saat saya nonton Reply 1997. Drama ini tayangnya tiap Jumat sama Sabtu, jadwal ngunduhnya minta tolong pasangan, soalnya bisa jebol quota internet :lol:.

Kalau dilihat, nonton drama on going dengan jadwal begini udah berasa bolak balik masuk jurang penasaran deh. Seperti saat saya penasaran dengan sebuah drama, kemudian sebel karena mesti nunggu minggu depan buat lanjutannya. Eh tapi sebelnya ga bertahan lama, soalnya malem-malem mulai kepikiran drama yang tayang hari itu. Besoknya udah lupa karena seru nonton drama yang laen. Pas drama yang ini bersambung dengan cara yang nyebelin, udah mulai kepikiran lagi sama drama yang lain. Sisi baiknya, seenggaknya ada yang mengalihkan perhatian dari drama yang bikin penasaran.

Bagaimana dengan drama atau tv series Barat? Saya jarang banget kesiksa penasaran. Kalaupun ada, itu juga cuma dikit dan udah keburu berubah jadi kesel karena lama banget nungguin lanjutannya. Ini kejadian saat saya nonton tv series “Sherlock”. Ini tv series, udah satu season cuma tiga episode, nungguin season selanjutnya bisa ampe lumutan. Seperti jarak antara season satu dan dua yang bisa mencapai 2 tahun, dan dari season dua sampai season tiga yang nyaris 3 tahun ini. Beneran di PHP-in. Tv series lain yang bikin nyiksa adalah “The Suits”. Tv series ini ditengah tengah season kadang ada breaknya dulu yang bisa nyampe 3 bulan. Memang sih tv series Barat suka ada winter break buat natal dan tahun baru, paling cuma satu bulan, sedangkan tv series ini bisa nyampe 3 bulan *garuk-garuk dinding*.

Saat ini sih untuk tv series Barat saya kebanyakan nontonnya sitkom. Jadi bebas kesiksa penasaran dan bawaannya seneng terus. Untuk tv series yang non sitkom, saya sih lebih banyak kesel dan sebel sama jalan ceritanya yang drama banget. Hihihi ini berlaku banget pas lagi nonton “Once Upon a Time”.

*gambar diambil dari sini

The Vow

 I vow to help you love life, to always hold you with tenderness, to have the patience that love demands, to speak when words are needed, and to share the silence when they are not, to agree to disagree about red velvet cake, to live within the warmth of your heart, and always call it home
Paige

I vow to fiercely love you in all your forms, now and forever. I promise to never forget that this is a once in a lifetime love. 
I vow to love you. And no matter what challenges might carry us apart, we will always find a way back to each other
Leo

Mungkin telat banget yah kalo baru review filmnya sekarang, tapi lebih baik daripada engga. Saya ini penggemar berat film drama yang jarang banget tayang di bioskop Indonesia. Ga tau pangsa pasarnya kurang atau gimana, tapi seriously film drama itu jarang tayang loh di bioskop.

The Vow ini terinspirasi dari kisah nyata pasangan Kim dan Krickitt Carpenter dari New Mexico, Amerika Serikat. The Vow-nya sendiri diadaptasi dari novel karya Nicholas Sparks (yang juga merupakan penulis novel A Walk to Remember). Filmnya berkisah mengenai Paige dan Leo Collins. Mereka bertemu, kencan beberapa kali, dan akhirnya memutuskan menikah *Saya suka banget adegan mereka nikah di museum dan abis ngucap janji nikah langsung kabur karena ketahuan satpam*. Tidak lama setelah menjadi suami-istri, Paige dan Leo mengalami kecelakaan. Paige kehilangan ingatan saat-saat ia bersama dengan Leo. Disinilah diceritakan bagaimana Leo berusaha membantu Paige mengingat kembali masa-masa yang hilang.

Romantic? Yes!! Untuk saya pribadi, film ini tidak membosankan dan tidak bertele-tele. Apalagi menurut saya, film ini berjalan normal dan ngejejak tanah. Leo yang bisa frustasi karena Paige ga inget-inget soal apapun. Paige yang nolak Leo karena terasa asing buat dia. Akhir filmnya juga pas dan ga terlalu dipercepat serta dibuat-buat. Apalagi disini Channing Tatum (Leo) beneran ganteng dan aktingnya juga bagus :)). Rachel Mc Adams yang berperan jadi istrinya juga cantik. Chemistry yang kebangun juga bagus deh.  Filmnya juga bisa ngebuat saya meneteskan air mata *ambil tisu, elap mata*.

Life’s all about moments, of impact and how they changes our lives forever. But what if one day you could no longer remember any of them?
– Leo  

sumber gambar di sini

Kdrama – Pasta

Terima kasih kepada film di atas, karena membuat saya ngidam pasta!

Film ini menceritakan mengenai seorang perempuan bernama Seo Yoo Kyung ( yang diperankan oleh Gong Hyo Jin ) yang ingin menjadi koki bagian pasta. Pembukaan tv series ini diawali dengan bagaimana suasana kitchen di sebuah restoran bernama  “ La Sfera ”. Sudah tiga tahun Yoo Kyung bekerja sebagai asisten koki di sana dan oleh chef  Totti ia direkomendasikan menjadi koki bagian pasta. Hal ini dikarenakan Totti akan dipecat oleh CEO Restoran Seo Yoo Suk dan akan ada asisten koki dan kepala koki yang baru. Ternyata asisten koki yang baru adalah Jung Eun Soo ( yang diperankan oleh Choi Min Sung ) sedangkan kepala koki yang baru itu adalah Choi Hyun Wook yang sebelumnya pernah bertemu dengan Yoo Kyung yang pernah membantu menyelamatkan ikan yang didapatkannya dari hadiah undian. Yoo Kyung kaget melihat Hyun Wook yang merupakan kepala koki yang baru.

Di dalam drama ini kita dapat melihat intrik yang terjadi di restoran ” La Sfera ” atau lebih tepatnya intrik yang terjadi di dalam kitchen antara chef yang satu dengan yang lain. Bagaimana kegigihan Yoo Kyung untuk menjadi chef walau sudah dipecat 2 kali. Bagaimana hubungan antara atasan dan bawahan. Pertarungan antar chef. Banyak deh masalah yang diangkat di film ini walau tidak lepas dari asmara -___-!!

Disini kita akan dimanjakan oleh berbagai jenis pasta dan juga makanan itali lainnya. Membuat perut berbunyi nyaring :D. Selain itu kita juga dapat tahu beberapa teknik memasak. Membuat saya ingin kembali mencoba memasak (ketahuankan ga suka masaknya!).

Sumber:di sini

diposkan juga di tumblr