Dibuat Gemas sama Chicago Typewriter

Image result for chicago typewriter

Bisa dibilang saya rada telat nih baru nonton Chicago Typewriter. Saat awal penayangannya, saya pernah streaming nonton episode 1, tapi rasanya capek banget dengantema permainan waktu di drama Korea kayak Goblin, Tomorrow with you, sampai signal. Jadinya ga terlalu tertarik. Udah gitu dibulan-bulan ini saya sempet bosen sama drama Korea dan beralih ke Drama Taiwan, dorama Jepang, sampai lakorn Thailand. Akhirnya baru pasca lebaran saya baru kembali melirik Chicago Typewriter.

Sebenernya saya bukan orang yang bisa mereview drama. Lebih banyak subyektifnya dari pada objektifnya. Efek halu ini mah 😆 😆 . Terakhir kayaknya ngereview drama korea itu Goblin. Akhirnya ada lagi drama Korea yang membuat saya pengen nulis review dan perasaan setelah menontonnya.

Ceritanya sendiri tentang penulis yang hidup di bawah pemerintahan Jepang pada tahun 1930-an bereinkarnasi menjadi penulis buku laris  bernama Han Se Joo yang mengalami writer block. Premis awalnya sih begitu, sisanya nonton sendiri aja karena jadi lebih sulit untuk diceritakan :D. Dilihat-lihat hidupnya Han Se Joo ini udah kayak artis banget, banyak paparazi dan gosip yang menerpa! Selain itu berasa banget sih gimana harga diri jadi penulis untuk ga pakai ghost writer ataupun memplagiat tulisan orang lain.

Awalnya saya sempet ngira bakal ada time slip bolak balik ke masa depan kayak Tomorrow with you atau tiba-tiba terhubung dengan masa lalu macam Signal. Ternyata penulis naskahnya lebih canggih, potongan-potongan masa lalu disampaikan lewat tatapan mata, mimpi, dan cerita. It’s brilliant!!!

Saya suka drama ini sebenernya karena gemas sama ketiga pemeran utamanya. Menurut saya di drama ini ga ada pemeran second lead kayak drama Korea biasanya. Pembagian porsinya seimbang dan ada cerita dari sudut masing-masing tokohnya.

Pemeran utama yang pertama adalah seorang penulis novel bernama Han Se Joo (diperankan oleh Yoo Ah In). Sebagai peulis novel diawal cerita dia paling ga suka diganggu saat menulis. Selain itu doi juga ga suka harus ketemu banyak orang. Kebayangkan rumahnya sepi.

Di era 2017 sebenernya ngeliat Yo Ah in menjadi Han Se Jo ini biasa aja, tapi setelah episode tengah-tengah, tiap senyum ganteng banget!!! Aku lemah sama senyumannya. Apalagi ngeliat masa-masa dia hidup di tahun 1930, ya Allah rasanya pengen ga ngedip biar ga dosa ngeliatnya. Beneran ganteng maksimal dengan tipe dandanan dan rambut ga rapi, kacamata, serta tatapan dan bibirnya itu loh bikin halu maksimal.

Image result for chicago typewriter yoo ah in

Ditatap kayak gini aku kudu piye?!

Image result for chicago typewriter

 

Pemeran utama kedua adalah Jeon Seol yang diperankan oleh Lim Soo Jung. Saya sih jarang banget nonton film atau dramanya dan ternyata memang udah lama ga maen drama Korea. Tapi aktingnya di sini bagus. Perasaan campur aduk dari bahagia sampai perihnya berasa banget.

Jeon Seol ini pekerjaannya kayak “palugada” alias lo butuh gw ada 😆 😆 mulai dari pengantar barang sampai jadi dokter hewan. Jeon Seol juga orang yang seneng banget baca novel khususnya karya-karya dari Han Se Joo. Makanya begitu bisa ketemu langsung dengan penulis favoritnya langsung berbinar-binar. Jeon Seol ini merupakan atlet tembak kelas nasional, sayangnya karena sering mimpi buruk dia memutuskan untuk berhenti jadi atlit tembak.

Image result for chicago typewriter jeon seol

Jeon Seol-nya cantik

Pemeran utama terakhir adalah Go Kyung Pyo yang berperan sebagai Yoo Jin Oh. Sebagai jamaah reply 1988, saya termasuk yang menyukai Go Kyung Po yah walaupun tetep sebagai tim Jung Hwan sih. Aktingnya di sini pun beda sama saat dia maen di Jealousy Incarnate. Hmm lebih banyak humor, ketawa, dan ekspresi lucunya. Apalagi bromance Yoo Jin Oh sama Han Se Joo itu dapet banget chemistrynya. Sukaaa banget kalau udah ngeliat mereka akting berdua.

Di awal dramanya Yoo Jin Oh ini sering banget ngetik di ruang kerjanya Han Se Joo dan sempet dikira pencuri. Tapiii ya mending nonton sendiri aja 😀 *makasi mbak Dewi sudah mengingatkan buat ga spoiler*

Image result for chicago typewriter yoo jin oh

 

Image result for chicago typewriter yoo jin oh

Ekspresinya ga kuat

Dari sisi cerita berbeda dengan drama Korea umumnya, saya merasa unsur persahabatan dan perjuangannya lebih kental daripada sisi romantisnya. Apalagi setiap episodenya suka banyak petunjuk untuk memecahkan misteri masa lalu yang ngebayangin mereka semua. Endingnya juga epic banget!! Saya sampai bolak balik nonton dua episode terakhirnya.

 

Image result for chicago typewriter yoo jin oh

Image result for chicago typewriter

Terakhir, mau ga mau saya harus mengakui kalau soundtrack dramanya bagus-bagus!! Drama Korea Chicago Typewriter ini beneran paket komplit, mulai dari romantisme, misteri, lucu, bromance, twist, akting para pemain yang mumpuni, sampai pilihan lagunya semua baguuuus. Saya sampai susah move on dari drama ini.

*Gambar-gambarnya diambil dari berbagai forum
**Mbak Jo..akhirnya selesai juga bikin tulisannya 😆

Bertemu Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh dan Jean Marais

“Ra…tinggal di bawah sama paling atas nih, mau ambil tiket yang mana?!”

Seorang sahabat memberitahu lewat whats app. Padahal penjualan tiket Bunga Penutup Abad baru dibuka beberapa jam saja. Saya pun memilih duduk di kursi bagian depan. Lebih baik dari pada melihat dari kejauhan. Siapa yang menyangka bahwa tiket pertunjukan teater berjudul Bunga Penutup Abad akan cepat habis. Saya pikir tidak banyak yang membaca Tetralogi Pulau Buru, ternyata dugaan saya meleset. Ah atau mungkin ingin melihat bagaimana Reza Rahardian, Chelsea Islan, Happy Salma, serta Lukman Sardi bermain peran di sini. Apapun alasannya, yang pasti tiket habis terjual. Beberapa teman saya pun gagal menonton karena kehabisan tiket.

IMG_3907

Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit (Anak Semua Bangsa)

Bunga Penutup Abad merupakan pertunjukan teater dari Titimangsa Foundation yang sebelumnya pernah menggelar pertunjukkan bertajuk Nyai Ontosoroh. Pertunjukan ini merupakan adaptasi dari dua novel awal tetralogi Pulau Buru yang berjudul Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer. Saya pertama kali berkenalan dengan novel Bumi Manusia tahun 2012, ketika tugas kuliah belum menumpuk.

Saya deg-degan banget mau nontonnya. Ga kebayang akan seperti apa gaya penceritaannya nanti atau adegan-adegan mana yang akan diambil dari novelnya. Saya juga berusaha untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi agar bisa menonton dengan nyaman.

Akhirnya jam 20.00 tepat, layar pun dibuka dengan Minke yang membacakan surat Dari Panji Darman, utusan Nyai Ontosoroh yang mengikuti Annelis menuju Belanda. Dari surat-surat itulah, Minke dan Nyai Ontosoroh bergantian mengenang potongan-potongan kisah  mulai dari pertemuan ketiganya, bagaimana ayah Annelis mati, kedatangan anak tirinya, hingga akhirnya pengadilan putih Hindia Belanda yang memutuskan hak asuh Annelis dari Nyai Ontosoroh dan diharuskan pergi ke Nederland.

Di beberapa adegan, Minke yang merupakan pelajar HBS dan mengagung-agungkan Eropa diperlihatkan betapa bangsa Eropa tidak selalu benar. Minke yang menulis menggunakan Bahasa Belanda, akhirnya mengikuti saran Jean Marais yang merupakan sahabatnya untuk menulis dalam Bahasa Melayu serta lebih mengenal bangsanya sendiri.

Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu (Anak Semua Bangsa)

Saya hanya bisa terhanyut saat menonton adegan tiap adegan. Penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak berbeda dengan novelnya membuat pertunjukan ini kaya akan rasa bahasa. Alunan musik penghantar yang dimainkan secara langsung dari belakang kamar Annelies di Buitenzorg menguatkan tiap adegannya.

IMG_3930

Senang rasanya melihat setiap adegan-adegan penting di dalam buku tertuang dalam bentuk akting prima dari tiap pemerannya. Saya awalnya sempat sangsi dengan Reza Rahardian yang memerankan Minke. Rada kurang Jawa dan terlalu tinggi untuk memerankan Minke. Tapi bukankah dalam seni teater semua pelakon harus bisa menjadi orang yang berbeda dengan dirinya? Begitu melihat akting Reza Rahardian, Chelsea Islan, Happy Salma dan Lukman Sardi, keraguan saya langsung hilang.

Reza Rahardian membuktikan kualitasnya sebagai aktor. Ia dapat berperan sebagai Minke yang malu ketika bertemu Annelis dan Nyai untuk pertama kali, getir saat membacakan surat-surat dari Panji Darman, hingga kesedihan saat Annelies pergi.

Happy Salma tampil maksimal menjadi Nyai Ontosoroh yang kuat,  berusaha mempertahankan idealismenya, berusaha tegar menghadapi semua kejadian, serta kesedihan saat Annelies pergi.

Chelsea Islan pun bermain dengan baik. Apalagi saat adegan yang mengharuskannya akting seperti mayat hidup karena menerima berita harus ke Nederland. Saya sampai merinding!!

Saya paling kagum dengan akting Lukman Sardi sebagai Jean Marais. Walaupun porsi adegannya ga banyak, tapi ia bisa mencuri perhatian penonton. Ia bisa menggunakan aksen yang menandakan orang asing serta mempertahankan keseimbangannya sepanjang pertunjukan. Salut banget sama aktor senior ini.

IMG_3937

Agak burem, yang moto pun deg-degan sama kayak yang difoto

Akhirnya saya benar-benar merasa puas dan bahagia dengan pertunjukannya. Semoga pertunjukan-pertunjukan serupa bisa sering diadakan di Bandung.

Kekuatan yang kita miliki mungkinlah tidak sebanding dengan ketidakadilan yang ada, tapi satu hal yang pasti: Tuhan tahu bahwa kita telah berusaha melawannya (Anak Semua Bangsa)

Goblin: The Lonely and Great God

Goblin (Korean Drama)-p1.jpg

Saat ini saya sedang menonton sebuah drama korea berjudul Goblin: the lonely and great God. Alesannya secetek mau ngelihat om ganteng, Gong Yoo di sini. Selain itu juga ada Lee Dong Wook yang selalu saya ikuti drama-dramanya. Dipikir-pikir baru dua bulanan yang lalu saya menonton film Train to Busan yang diperankan oleh Gong Yoo, eh udah bisa liat lagi di Goblin.

Dramanya bermula dari zaman kerajaan di mana Kim Shin (Gong Yoo) adalah sebuah panglima perang yangtidak terkalahkan. Tetapi raja muda saat itu jealous dengan si panglima memutuskan untuk ngebunuh Kim Shin. Ia pun jadi goblin dan ga bisa mati hingga di kehidupan modern.

Kemudian drama pun berlanjut ke masa sekarang di mana Kim Shin udah nunggu 900 tahun buat mencari calon pengantinnya agar bisa mati. Sampai suatu hari ia menyelamatkan seorang perempuan hamil yang seharusnya mati. Hingga si grim reaper (Lee Dong Wook) ga bisa menemukan perempuan hamil yang harusnya mati tersebut. Perempuan yang hamilpun ngelahirin dan menamakan bayinya Ji Eun Tak (Kim Go Eun).

Cerita pun kembali berputar hingga Eun Tak sudah SMA dan bisa melihat hantu. Semua hantu tahu bahwa Eun Tak ini adalah calon pengantin goblin. Hingga akhirnya dia ketemu sama goblin dan cerita mereka pun bermula. Sementara, secara ga sengaja si grim reaper tinggal bareng Kim Shin. (cuplikan soal dramanya lihat disini)

Kebayangkan praharanya kayak gimana?! Tapi dramanya sendiri jauh dari kesan gelap ataupun nyeremin. Saya aja ketawa ngakak terus tiap nontonnya. Di awal-awal saya suka gaya Eun Tak yang ceria dan gampang banget!! Masa begitu tahu goblin bisa pindah tempat ke Kanada dengan nyentuh pintu langsung bilang “I’ll marry you, sarange!’. 😆

Tapi ngerti sih kenapa Eun Tak kayak gitu. Kalau punya pacar yang bisa pindah tempat dengan megang pintu kan berasa punya pintu ke mana saja ya!!  *mulai halu* . Ataupun saat Eun Tak sebel dan bete sama goblin, begitu ditawarin makan, langsung luluh dong!! Kan gampang bangetttt!!

Selaen adegan kayak di atas, saya juga suka ngetawain adegan Eun Tak sama Goblin kalau lagi berantem, suka impulsif gitu ngomongnya, terus jadi awkward karena malu-malu pas udah ngucapinnya. Atau pas Goblin sama Eun Tak lagi ngedate nonton di bioskop. Mereka nonton Train to Busan dan goblinnya ketakutan sendiri nontonnya. Saya sampai sakit perut ngetawain kelakuan goblin. Secara pemeran utama Train to Busan dan goblinkan sama-sama Gong Yoo ya!!

Image result for goblin, episode 7

kelakuan 😆

Selain ngeliat Eun Tak sama goblin, saya juga seneng sama bromance-nya goblin dan grim reaper!!! Lucu banget lihat love-hate relationship mereka. Goblin yang suka makan daging dan grim reaper yang vegetarian. Sampai kayaknya tiap pagi tuh ada aja adegan mereka berantem di meja makan. Selain itu yang satu tipe vintage dan yang lain punya kecenderungan OCD (Obsessive compulsive disorder).

Image result for goblin grim reaper

udah siap berantem

Paling bikin ngakak sebenernya kelakukan kedua orang ini sih. Mulai dari yang ga punya mobil, ga punya hp, sampai bikin frustrasi orang sekitarnya. Adegan yang paling gokil adalah waktu mereka belajar pake hp. Jadi kedua orang ini kan ga pernah pake hp karena bisa saling baca pikiran, sampai akhirnya dibeliin sama Duk Hwa. Pas awal-awal, goblin cuma bilang “ajarin aja grim reaper”. lalu saat adegan yang ini:

img_0384

saya hanya bisa ketawa ngakak ga brenti brenti 😆 😆 😆

Setiap episodenya selalu ada adegan yang bikin ketawa ngakak sampai sedih. naek turunin emosi penontonya bisa banget!! Tapi saya deg-degan nih sama akhir dramanya. Takut berakhir sedih đŸ˜„Â . Apalagi sampai episode 8 ini mulai keliatan siapa reinkarnasi siapa, dan terjawab sudah siapa cewe yang kena panah di episode 1 serta siapa sebenernya lady in red!!

Selain hal-hal yang bikin ketawa, nonton drama ini juga mesti siap-siap ganti wallpaper hp sama desktop pc atau laptop. Banyak banget pengambilan gambar yang bagus dan cantik. Lebih berasa nonton film bioskop daripada drama Korea deh. Selain itu soundtracknya juga bagus-bagus. Duh emang ya TvN ini kalau bikin drama super niat. Yah coba aja diinget seperti reply series atau Descendants of The Sun, itukan niat banget bikinnya.

Saya pun ga sabar nih menanti kelanjutan dramanya yang hari Jumat nanti bakal tayang episode 9-nya. Apa ya yang bakal dipilih sama Goblin? Gimana ya endingnya nanti? Yukk ditonton yuuuukkk

*gambarnya diambil dari google

Ada Apa Dengan Cinta 2

Kau yang panas di kening.
Kau yang dingin di kenang.

Catatan: Saya mau bercerita cukup detail tentang filmnya, jadi akan banyak spoiler. Buat yang belum nonton, mending nonton dulu baru baca tulisan ini 🙂 *geer amat Ra, bakal ada yang baca*.

Para remaja di tahun 2002, siapa yang tidak mengenal Ada Apa Dengan Cinta (AADC)? Sebuah film Indonesia yang berjaya dan menjadi trendsetter untuk remaja saat itu. AADC bercerita mengenai hubungan Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra) yang berakhir dengan Rangga pergi ke New York.

Kadang-kadang, kau pikir,
lebih mudah mencintai semua orang
daripada melupakan satu orang.

Dua belas tahun kemudian, Line menghadirkan sosok mereka dalam iklan alumninya. Tentu saja hal ini membuat gempar semua orang. Terlalu rindu dengan sosok-sosok di dalamnya. Saya aja sampai membuat tulisan mengenai hal ini.

Kini, 14 tahun kemudian Cinta dan Rangga kembali hadir. Tentu saja untuk temen-temen yang berumur 20an dan 30an seneng dan deg-degan menantikan film ini. Di grup kantor ataupun temen segeng udah heboh banget mau nonton dan mengenang kembali Geng Cinta yang terdiri dari Karmen (Adinia Wirasti), Milly (Sissy Pricilia), dan Maura (Titi Kamal). Iya, saya menonton film ini atas dasar mengenang dan tidak berharap terlalu tinggi. 

Film dibuka dengan adegan Cinta, Milli, Maura, serta pasangan mereka masing-masing kumpul di galerinya Cinta. Pasangan? Iya, merekakan udah dewasa, jadi ga aneh ketika Maura udah punya anak tiga sama Chris (Christian Sugiono), Milly berakhir dengan nikah sama Mamet (Dennis Adhiswara), dan Cinta bertunangan dengan Tria (Ario Bayu). Mereka semua menantikan Karmen yang baru keluar dari masa rehabnya. Alya? Di sini Alya diceritakan meninggal karena kecelakaan. Akhirnya mereka berkumpul dan memutuskan liburan ke Yogya. Di New York, Rangga pun dipertemukan dengan adik tirinya, Sukma yang memintanya untuk menemui ibu mereka di Yogya.

Buat saya, dengan umur 20 sekian akhir dan pergi liburan sama sahabat adalah sebuah kemewahan. Susah bener buat nyocokin jadwal!! Belum yang kudu izin suami, ataupun ninggalin anaknya. Saya paham aja gimana senengnya perasaan geng Cinta ini buat liburan bareng ke Yogya tanpa pasangan masing-masing.

Di Yogya sendiri mereka jalan-jalan ke pasar, makan gudeg, ngobrol-ngobrol di Vila. Hingga akhirnya Karmen dan Milly melihat Rangga. Rangga dateng ke Yogya untuk bertemu ibunya. Tapi apa daya, ternyata Rangga belum bisa maafin ibu yang telah meninggalkannya selama 20 tahunan.  Eh malah ketemu Geng Cinta duluan.

Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu,
mereka yang datang kemudian hanya akan
menemukan kemungkinan-kemungkinan

Adalah Karmen yang membuat Rangga mengetahui Cinta ada di Yogya. Awalnya Cinta ga mau ketemu Rangga. Ya iyalah, sembilan tahun lalu diputusin sepihak tanpa penjelasan, udah gitu diputusin lewat surat pula!! Jadi saya juga ngerti sih kenapa Cinta marah banget sama Karmen karena ngasi tahu Rangga buat dateng ke pamerannya Eko Nugroho. Tapiiii, saya juga ngerti perasaan Karmen yang ga pengen Cinta masih ada urusan yang belum beres di saat dia mau nikah.

Akhirnya Cinta pun mau menemui Rangga. Dimulailah Rangga yang menceritakan penyebab ia memutuskan Cinta dan berakhir dengan obrolan soal Ibunya Rangga. Kisah sehari semalam mereka ini beneran bikin senyum, ketawa dan deg-degan.   

Setelah nonton dengan teman-teman kantor, bahasan awalnya lebih ke perkembangan kepribadian setiap tokohnya. Maklum temen sekantor ini anak psikologi semua, jadi bahasannya ga jauh dari ilmu kita 😀 . Buat saya pribadi, saya senang melihat perkembangan setiap tokoh di cerita ini. Cinta yang masih dengan kepribadian plin plannya, butuh penguatan temen-temennya, gengsian, malu tapi mau. Ah sungguh Cinta banget!! Milly yang masih tetep polos dan lemot, Maura yang dulu dandan banget sekarang menjadi ibu rumah tangga yang ga bisa lihat meja berantakan, serta Karmen yang dulu preman tapi sekarang menjadi lebih kuat secara mental. Gimana ga jadi kuat kalau Karmen disini diceritakan baru keluar dari rehab setelah suaminya ninggalin dia. Kemudian Rangga yang dulu emosian dan egois, sekarang jadi lebih kalem dan bisa nahan emosinya demi ga bikin Cinta marah. Bahkan jadi pinter ngemodus!! Smooth bener ngajakin Cinta seharian jalan bareng sampai akhirnya ngeliat matahari terbit.

Selain ngomongin soal tokohnya, saya juga jadi ingin kembali ke Yogya. Kembali menelusuri Jalan Prawirotaman untuk duduk-duduk santai di cafe-cafenya, menginap di Lokal Hotel atau Greenhost Boutique Hotel, melihat pertunjukkan “surat untuk Praya” dari  Pappermoon Puppet Show, serta melihat matahari terbit dari Puthuk Setumbu. Semua itu impian saya sebelum AADC2 syuting di sana. Duh kebayang setelah syuting tempat-tempat ini bakal lebih ramai. Saya yang baru nonton aja jadi penasaran dengan Klinik Kopi. Semoga bisa kesampaian ke tempat-tempat ini, aamiin.

Satu lagi yang saya suka dari AADC2 adalah sisi humornya. Mulai dari humor-humor khas Milly yang bikin seger!! Duh beneran cuma Milly deh yang bisa nanya polos dan bikin semua orang geleng-geleng. Selain itu Cinta yang nampar Rangga terus balik lagi, itu juga adegannya bikin ngakak ga brenti-brenti.

Apa kabar hari ini?
Lihat, tanda tanya itu,
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi

Film AADC2 buat saya pribadi masih relate banget sama keadaan saya dan teman-teman. Mulai dari geng SMA yang mulai sibuk masing-masing dan susah ketemu, beresin urusan sama orang, dan perihal memaafkan. Saya langsung manggut-manggut ketika Cinta bilang “saya aja bisa maafin kamu, harusnya kamu bisa maafin ibu kamu”. Karena apa yang dilakuan Rangga ke Cinta itukan sama dengan perlakuan Ibunya ke Rangga, sama-sama ninggalin tanpa kejelasan.

Duh film ini bener-bener edisi nostalgia banget. Lebih enak ditonton rame-rame sama temen-temen. Apalagi temen zaman nonton AADC pertama. Saya pun sempat berpikir, kalau remaja sekarang nonton AADC2, mungkin ga terlalu kena kali ya. Ga seheboh penonton usia 20an atau 30an.

*Tulisan yang digaris miring merupakan puisi Aan Mansyur dari buku Tidak ada New York Hari Ini

Racun Descendants of The Sun

Descendants of the Sun-p1.jpg
pict from here

Masih ingat dengan tulisan awal bulan Maret ini? Di sana saya menuliskan mengenai drama terbaru Song Jong Ki, Descendants of the sun (DotS). Hari ini, ketika menulis postingan ini, saya sambil menantikan streaming episode terakhirnya. Iya, anggep aja udah gregetan pengen nonton tapi ga bisa, jadilah berujung nulis di blog.

Drama Korea satu ini memang lagi booming baik di dalam maupun di luar Korea Selatan. Numben banget KBS bisa melambungkan drama Korea hingga sehits ini. Racunnya menyebar ke seluruh dunia!! Dramanya sendiri bercerita mengenai kehidupan Yoo Si Jin, seorang kapten spesial tim di Angkatan Darat Korea Selatan dan Dokter Unit Gawat Darurat, Kang Mo Yun. Selain itu kisah ini juga bercerita mengenai wakil kapten Seo Dae Young dan dokter angkatan darat Yoon Myung Joo.

Menurut saya pribadi, cerita antara Yoo Si Jin dan Kang Mo Yun ini terlalu manis. Iya, kalau ga inget Song Jong Ki yang jadi pemeran utama, bakal angkat tangan deh nonton drama Korea ini. Untungnya drama ini berimbang dengan masalah berat yang terjadi antara Seo Dae Young dan Yoon Myung Joo. Selain itu ada Dokter Daniel dan istrinya yang menjadi pemandangan tambahan untuk drama ini. Hubungan bromance antara Si Jin dan Dae Yong ini bener-bener bikin ketawa terus. Humor fresh serta pemandangan indah Yunani pun ngebuat saya makin betah banget nontonnya dan pengen jalan-jalan ke sana (Oia, akting di Uruk itu, mereka bela-belain syuting ke Yunani loh). Para Cameonya pun ga main-main dipilihnya. Mulai dari Lee Kwang So, sahabat serta teman seumur dari Song Jong Ki muncul di episode awal, lalu ada Yoo Ah Inn, Lee Jong Hyuk, serta Ryi Hwa Young. Haduh sungguh kangen liat akting mereka dan terobati saat nonton DotS.

Pemandangannya indah banget!!
Pict from here

Hal lain yang saya sukai dari drama ini adalah soundtracknya. Bagus-bagus bener deh. Mulai dari lagu yang sedih sampai cheerful semua ada. Davichi, EXO, Gummy, serta K-Will adalah beberapa penyanyi yang mengisi soundtrack DotS. Di Korea Selatan, soundtrack film ini menjadi deretan teratas dari tangga lagu musik Korea.

Bagian paling menyebalkan dari DotS adalah preview episode berikutnya yang sering bikin orang salah paham dan itu berhasil banget bikin saya ga sabar menantikan episode berikutnya. Contohnya saja malam ini, saya ga sabar menantikan episode terakhirnya!!


muka imut dan jahilnya Joong Ki,
pict from here

Sebenarnya kalau dibandingkan akting Song Jong Ki di Innocent Man, saya lebih suka aktingnya di sana. Ia lebih gentle dan masalahnya juga lebih berat! Tapiii di DotS, dia jadi manusia seutuhnya. Maksud saya, mulai dari jahil, kesel, bete, marah, semua ada dan lengkap. Kapan lagi bisa lihat muka unyu tapi gentlenya Joong Ki? 😀

*Saya, yang sedang menantikan episode terakhir DotS

Racun Drama On Going

 

Menonton drama Korea dan Jepang itu beneran bisa meracuni diri sendiri dengan keinginan untuk terus menonton sampai tamat. Masih mending kalau dramanya sudah tamat, kalau masih on going? Bisa ga sabar menanti minggu depan untuk segera ngelanjutin nonton. Seperti saat saya lagi mengikuti drama Jepang “Itazura Na Kiss Love in Tokyo”. Beneran tersiksa nungguin tiap minggunya. Saya sampai menghibur diri nonton ulang episode-episode sebelumnya atau nonton ulang Itazura Na Kiss yang tahun 1996, versi anime, korea ataupun versi Taiwannya. Beneran ga ada kerjaan :lol:. Berhubung saya ga mau kesiksa sendiri, saya ngeracunin orang-orang disekitar saya buat ikutan nonton juga, jadi bisa galau berjamaah nungguin episode selanjutnya :lol:. Padahal kalau dipikir-pikir saya udah nonton berbagai versinya dan ceritanya juga kurang lebih sama, aktingnya dan ngebawain karakternya aja yang pada beda. Tapi tetep loh bikin penasaran.

Apakah saya kapok nonton drama on going? Tentu tidaaakkkkk *rada masokis*

Saat ini, saya mengikuti empat drama korea yang sedang on going. Drama terakhir yang saya ikuti ini sebenernya udah sadar diri ga akan menonton daripada nyiksa diri penasaran. Tapi kemarin berhubung ga ada tontonan akhirnya ditonton juga. Untungnya keempat drama ini tayangnya pada hari yang berbeda.

Jadi saya lagi ngikutin dramanya Jung Yong Hwa (iyaaa,,,,si vokalisnya CN Blue!! Ini emang ga move on move on deh) “Marry Him If You Dare” yang tayang Senin dan Selasa dimana jadwal ngunduhnya udah pasti Selasa – Rabu, terus ngikutin dramanya Min Hyuk (iyaa,,si drummernya CN Blue) “The Heirs” yang tayang Rabu – Kamis. Jadwal ngunduhnya hari Kamis – Jumat. Sebenernya ngikutin drama ini karena bertebaran laki-laki tampannya sik macam Min Hyuk, Lee Min Ho sama Wo Bin :lol:. Saya juga ngikutin “Medical Top Team” tayangnya sama kayak The Heirs, jadi jadwal ngunduhnyapun sama. Saya ngikutin drama ini karena merupakan versi Korea dari Team Medical Dragon (Iryu) yang merupakan drama Jepang soal politik rumah sakit plus bedah jantung. Terakhir saya nonton drama “Reply 1994”. Buat yang masa kejayaannya tahun segitu, serasa nostalgia deh. Ini kejadian banget saat saya nonton Reply 1997. Drama ini tayangnya tiap Jumat sama Sabtu, jadwal ngunduhnya minta tolong pasangan, soalnya bisa jebol quota internet :lol:.

Kalau dilihat, nonton drama on going dengan jadwal begini udah berasa bolak balik masuk jurang penasaran deh. Seperti saat saya penasaran dengan sebuah drama, kemudian sebel karena mesti nunggu minggu depan buat lanjutannya. Eh tapi sebelnya ga bertahan lama, soalnya malem-malem mulai kepikiran drama yang tayang hari itu. Besoknya udah lupa karena seru nonton drama yang laen. Pas drama yang ini bersambung dengan cara yang nyebelin, udah mulai kepikiran lagi sama drama yang lain. Sisi baiknya, seenggaknya ada yang mengalihkan perhatian dari drama yang bikin penasaran.

Bagaimana dengan drama atau tv series Barat? Saya jarang banget kesiksa penasaran. Kalaupun ada, itu juga cuma dikit dan udah keburu berubah jadi kesel karena lama banget nungguin lanjutannya. Ini kejadian saat saya nonton tv series “Sherlock”. Ini tv series, udah satu season cuma tiga episode, nungguin season selanjutnya bisa ampe lumutan. Seperti jarak antara season satu dan dua yang bisa mencapai 2 tahun, dan dari season dua sampai season tiga yang nyaris 3 tahun ini. Beneran di PHP-in. Tv series lain yang bikin nyiksa adalah “The Suits”. Tv series ini ditengah tengah season kadang ada breaknya dulu yang bisa nyampe 3 bulan. Memang sih tv series Barat suka ada winter break buat natal dan tahun baru, paling cuma satu bulan, sedangkan tv series ini bisa nyampe 3 bulan *garuk-garuk dinding*.

Saat ini sih untuk tv series Barat saya kebanyakan nontonnya sitkom. Jadi bebas kesiksa penasaran dan bawaannya seneng terus. Untuk tv series yang non sitkom, saya sih lebih banyak kesel dan sebel sama jalan ceritanya yang drama banget. Hihihi ini berlaku banget pas lagi nonton “Once Upon a Time”.

*gambar diambil dari sini

The Vow

 I vow to help you love life, to always hold you with tenderness, to have the patience that love demands, to speak when words are needed, and to share the silence when they are not, to agree to disagree about red velvet cake, to live within the warmth of your heart, and always call it home
Paige

I vow to fiercely love you in all your forms, now and forever. I promise to never forget that this is a once in a lifetime love. 
I vow to love you. And no matter what challenges might carry us apart, we will always find a way back to each other
Leo

Mungkin telat banget yah kalo baru review filmnya sekarang, tapi lebih baik daripada engga. Saya ini penggemar berat film drama yang jarang banget tayang di bioskop Indonesia. Ga tau pangsa pasarnya kurang atau gimana, tapi seriously film drama itu jarang tayang loh di bioskop.

The Vow ini terinspirasi dari kisah nyata pasangan Kim dan Krickitt Carpenter dari New Mexico, Amerika Serikat. The Vow-nya sendiri diadaptasi dari novel karya Nicholas Sparks (yang juga merupakan penulis novel A Walk to Remember). Filmnya berkisah mengenai Paige dan Leo Collins. Mereka bertemu, kencan beberapa kali, dan akhirnya memutuskan menikah *Saya suka banget adegan mereka nikah di museum dan abis ngucap janji nikah langsung kabur karena ketahuan satpam*. Tidak lama setelah menjadi suami-istri, Paige dan Leo mengalami kecelakaan. Paige kehilangan ingatan saat-saat ia bersama dengan Leo. Disinilah diceritakan bagaimana Leo berusaha membantu Paige mengingat kembali masa-masa yang hilang.

Romantic? Yes!! Untuk saya pribadi, film ini tidak membosankan dan tidak bertele-tele. Apalagi menurut saya, film ini berjalan normal dan ngejejak tanah. Leo yang bisa frustasi karena Paige ga inget-inget soal apapun. Paige yang nolak Leo karena terasa asing buat dia. Akhir filmnya juga pas dan ga terlalu dipercepat serta dibuat-buat. Apalagi disini Channing Tatum (Leo) beneran ganteng dan aktingnya juga bagus :)). Rachel Mc Adams yang berperan jadi istrinya juga cantik. Chemistry yang kebangun juga bagus deh.  Filmnya juga bisa ngebuat saya meneteskan air mata *ambil tisu, elap mata*.

Life’s all about moments, of impact and how they changes our lives forever. But what if one day you could no longer remember any of them?
– Leo  

sumber gambar di sini