Mengunjungi Galeri Nasional

20161210_102901

Galeri Nasional

Saya pertama kali mengetahui soal Galeri Nasional saat lagi iseng mencari tempat wisata di seputaran Gambir, Jakarta Pusat. Jadi kalau menantikan kereta ke Bandung, saya ga nongkrong di Monas terus ūüėÜ *ga ada kerjaan emang, kalo sekarang sih pasti milih nongkrong di Gambir aja*.

Tahun ini ada dua pameran yang ingin saya kunjungi, pameran Lukisan Istana dan pameran Nautika. Sayangnya, saya ga bisa mengunjungi dua pameran tersebut. Ada aja halangannya >< . Makanya ketika kemarin ke Jakarta naik kereta, saya udah berniat untuk mengunjungi Galeri Nasional. Teman seperjalanan¬†Ko Er pun mau digeret ke sini ūüėÄ .

Beruntungnya, saat itu lagi ada pameran Ways of Clays yang udah saya ceritain di sini. Setelah muter-muter ngeliat berbagai bentuk karya lempung dan keramik, saya pun mengunjungi pameran tetap di Galeri Nasional. Ruang pamerannya berada di lantai 2 dan terbagi atas 2 ruangan. Ruangan sebelah kiri adalah karya seni kontemporer sedangkan sebelah kanan berisi karya seni modern.

Karya seni kontemporer lebih banyak berupa lukisan. Ada sih beberapa karya seperti patung, tetapi dikit banget. Sedangkan karya seni modern lebih banyak macamnya. Mulai dari audio hingga bentuk tiga dimensi. Sedangkan dari sisi lukisan, lebih banyak lukisan yang mudah diinterpretasi dibandingkan saat melihat lukisan kontemporer.

20161210_105736

Dua versi Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro

Ngomongin lukisan di sini banyak banget lukisan yang dipamerkan. Kayaknya saya bisa 2 jam sendiri muter-muter buat ngeliat detail lukisannya. Saya paling suka begitu masuk ruangan yang berisi lukisan dari Raden Saleh. Apalagi saat melihat dua lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang merupakan versi Raden Saleh dan¬†Nicolaas Pieneman, rasanya seneng banget!! Maklum biasanya cuma liat dari google ūüėÄ .

img_9959

Ada yang tahu buku apa saja ini?

Saya juga menemukan sebuah lukisan tentang orang berkumpul dan dihadapannya banyak buku-buku sastra seperti karya Pramoedya. Saya dan Koko sampai bertanya-tanya siapa saja yang ada dilukisan itu. Selain lukisan, dibagian dalam gedung ada patung-patung yang dipamerkan. Memang sih jumlahnya ga sebanyak koleksi lukisan. Patung-patung ini saya lihat lebih banyak berada di bagian karya seni modern dan biasanya digabung dengan audio serta visual.

img_9957

20161210_105025

img_9958

Karya yang ini unik, karena bisa timbul gitu

img_9962

Salah satu karya Raden Saleh

20161210_110338

Ga cuma karyanya, saya juga seneng sama ukiran di piguranya

20161210_110531

Benang Kusut

20161210_111028

20161210_111141

Di bagian luar gedung terdapat mural dan patung. Saat melihat patung yang ada di luar, mengingatkan dengan patung yang ada di Galeri Semarang!! Ini patung yang sama atau ada dua jenis patung ya? Sayang ga ada keterangannya.

page

Sebelah kiri di Galeri Nasional, Kanan di Galeri Semarang. Lihat detailnya sih beda ya

20161210_104222

Sekali-sekali kita swafoto

Senang sekali rasanya bisa muter-muter di Galeri Nasional. Kayaknya kalau ada kesempatan lagi, saya akan datang dan melihat koleksinya dengan lebih santai lagi.

Galeri Nasional
Jl. Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta Pusat
Waktu Berkunjung: 09.00 – 16.00
Website: galeri-nasional.or.id
Tiket Masuk: Gratis

*Foto-foto ini sebagian besar diambil dari hp Koko E

Advertisements

Ways Of Clay di Galeri Nasional

Sebelum ke Kota Kasablanka (Kokas) buat nonton Juru Bicara Pandji, saya dan seorang adik ketemu gede menyempatkan diri ke Galeri Nasional yang tinggal nyeberang dari Gambir. Saya sudah penasaran ingin ke Galeri Nasional saat ada pameran lukisan istana di sana, apa daya belum ada kesempatannya. Jadilah baru Sabtu kemarin bisa ke sana.

Bulan ini hingga tanggal 22 Januari nanti, Galeri Nasional sedang ada pameran bertajuk Ways of Clay: Perspective Toward the Future. Di sini kita bisa melihat berbagai bentuk dari tanah lempung hingga keramik yang dibuat oleh berbagai seniman dari dalam dan luar negeri.

Kalau melihat dari website Galeri Nasional, Ways of Clay: Perspective Toward the Future ini merupakan bagian dari perhelatan Jakarta Contemporary Ceramics Biennale (JCCB) yang keempat. Pameran Ways of Clay: Perspectives Toward the Future ini sebenarnya mau memahami hubungan antara gagasan seniman dan cara ekspresi, di mana perspektif terhadap material dan media memengaruhi proses kreasi serta apresiasi sebuah praktek seni.

20161210_103215

berbagai jenis lempung

Saya sendiri awalnya bingung dengan banyaknya bentuk karya yang dipamerkan, mulai dari koleksi tanah liat diberbagai belahan dunia, bentuk-bentuk lempung, keramik, ngegabungin antara visual dan lempung, ataupun keramik dan audio. Maklum sebagai orang awam, saya awalnya hanya berpikir melihat koleksi buatan tanah liat aja. Cetek banget ya -___-” . Jadilah begitu masuk dan melihat berbagai koleksinya, saya bolak balik bengong, kagum, dan sempet menginterpretasi bebas si karya seninya.

20161210_103229

siapa yang mau roti?

20161210_103350

20161210_103400

kucing!!

img_9945

img_9948

Salah satu karya favorit: HiToTema

20161210_103624

anggota band lengkap

20161210_103721

Untuk koleksi yang piring ini, awalnya saya bingung kenapa banyak berisi biji-biji. Ternyata liat di instagramnya The 4th JCCB ini adalah biji padi dong dan sekarang udah tumbuh padinya!!

20161210_103916

kancing kancing kancing!!

20161210_104354

salah satu koleksi favorit: Stargazers

img_9955

Untuk karya yang ini, sudah tentu adalah karya baru yang ditulis dengan tulisan¬†lama. Senimannya sendiri berasal dari Filipina loh. Awalnya saya kira dari Indonesia ūüėÄ .

20161210_104446

Seeds, The Journey of Life

20161210_104550

An Audience with Wisdom and A Gathering of Subconsciousness

Karya yang satu ini lama saya lihat untuk mencari bentuk-bentuk Subconsciousness dan juga mana yang merupakan audience with wisdom. Saya bahkan sampai berdiskusi dan menginterpretasikan bebas kira-kira mana yang merupakan subconsciousness.

20161210_104526

Liability: Between Lack and Achievement

Sayangnya, kita hanya sebentar keliling pameran ini. Padahal inginnya kan melihat satu persatu dan diperhatiin bener, tapi¬†waktunya ga cukup. Ini aja muter-muter Galeri Nasionalnya ada kali hampir satu jam lebih ūüėÄ . Semoga lain kali ada kesempatan ke sini.

Untuk info lebih lanjut soal pameran ini bisa cek langsung ke website JCCB ya ūüôā

*sebagian foto-fotonya diambil dari kamera Koko E

Juru Bicara Jakarta

img_9985

Ini adalah kali pertama saya nonton stand up comedy secara live. Bukan sembarang stand up comedy, tapi stand up comedy world tour!! Pandji merupakan komika Indonesia yang berhasil menggelar pertunjukan stand up-nya di 24 kota dan 5 negara. Jakarta merupakan kota terakhir untuk pertunjukan stand upnya yang diberi nama Juru Bicara.

Awalnya, saya masih bingung mau menonton apa engga. Beruntungnya, seorang kawan ingin menonton dan ngajakin saya juga. Tentu saja langsung saya iyakan. Kapan lagi ada temen buat nonton stand up ke Jakarta. Terus dia juga ngajak adik ketemu gede dan seorang temen maen di kampus. Yeay kita rame-rame nontonnya. Saya ga tahu seberapa besar perjuangan untuk membeli tiketnya, karena saya tahu beres. Tapi saya merupakan salah seorang yang beruntung karena berhasil mendapatkan tiket Juru Bicara Jakarta.

Pertunjukannya sendiri dimulai jam setengah delapan malam teng!! Stand upnya dibuka oleh Coki Pardede dan Indra Jegel. Mereka berdua berhasil membawa suasana menjadi hangat sebelum Pandji naik panggung. Sebelum Pandji naek panggung, ada sebuah video yang ditayangkan terlebih dahulu. Duh sampai merinding loh nonton videonya. Coba aja deh tonton video ini

Kemudian Pandji pun tampil di atas panggung. Sejak pertama kalli melihat programnya provokative proaktif, sebelas12, dan beberapa materi stand up-nya, saya sudah khatam kalau nanti Pandji akan membawakan materi yang sensitif dan kontroversial. Seperti materinya soal rating tv, sensor, pengalamannya di negeri lain, membuat sebuah karya, agama, isu radikalisme, HAM, ganja, prostitusi, hingga perlindungan hewan. Malam itu, Pandji benar-benar menjadi juru bicara dari banyak orang dan pihak yang jarang di dengar. Semua topik yang berat ini dibawakan dengan bumbu humor dan bikin saya mikir banyak!!

Sebut saja mulai dari berkarya. Kalau kata Pandji “karya itu yang penting dibuat dulu.”¬†atau “membuat karya itu sedikit lebih beda, lebih baik daripada sedikit lebih baik“. Terus kok yah keingetannya sama si tesis ini sih. Iya, saya lagi mandek dan males banget ngerjain bab sekian ini >< . Jadi keinget buat yang penting dibikin dulu aja, nantikan bakal ada bimbingan buat ngebenerinnya.

Saya juga baru tahu soal aksi kamisan. Iya ketinggalan banget ya?! Kalau yang mau tahu soal aksi kamisan ini, bisa cek langsung websitenya. Walaupun ada juga beberapa materinya yang saya ga setuju, tapi saya bisa melihat sudut pandang lain dari masalah yang dilontarkan Pandji.

img_9990

Pertunjukan 2,5 jam pun ga kerasa udah selesai aja. Begitu Pandji mengatakan terima kasih, saya bersama penonton lainnya segera berdiri dan bertepuk tangan. Pandji hari itu telah membuktikan bahwa ia bisa menggenapi mimpinya menjadi seorang komika yang berhasil menggelar pertunjukan stand up world tour. Saya sampai merinding nontonnya.

Selesai menonton, saya dan lima orang lainnya beruntung mendapatkan kartu prioritas untuk foto bareng Pandji. Kartu prioritas ini terbatas untuk 1000 orang pertama yang menukar tiketnya. Saya dan temen-temen sih memutuskan untuk antri terakhir saja buat foto bareng. Jadi kita duduk-duduk dan sibuk foto-foto ūüėÜ . Bahkan ada satu orang yang sempet buka laptop buat ngerjain kerjaannya *dedikasi tinggi ya Koko*. Hingga akhirnya pukul satu lebih dini hari, kita kebagian foto bareng pandji!!

20161211_011320

saya dan Pandji

Saya beneran salut karena Pandji masih melayani penontonnya untuk foto bareng. Pasti capek banget loh itu mulai dari nyiapin diri buat stand up, stand up selama 2,5 jam, dan masih dilanjut foto bareng. Saya juga salut sama usher-nya yang udah sabar buat bantuin foto dan ngatur antrian 1000 orang lebih!! Iya, saya paham banget capeknya kerja jadi usher, pengalaman pribadi kak! Ngurusin yang meet and greet 100an aja udah lelah apalagi ini lebih dari 1000.

Akhirnya, saya beneran bisa pulang sambil tersenyum senang malam itu.

Farewell Starbucks BIP

img_8329

Malam terakhir melihat pemandangan dari tempat duduk favorit

“Mbak, tahukan ya kalau ini hari terakhir kita buka?”

Hati saya mencelos. Bulan ini adalah kali pertama saya kembali menginjakkan kaki ke gerai kopi ini. Kalau saya tidak menguatkan tekad untuk membeli cokelat hangat demi mengurangi pusing dan menemani Teh Silva berdiskusi, mungkin saya akan menyesal keesokan harinya. Tuhan memiliki cara sendiri untuk membuat saya datang ke Starbucks BIP hari ini.

Sudah delapan bulan lebih sejak saya sering mendatangi tempat ini untuk berkegiatan. Mulai dari berdiskusi, menulis tesis, mengerjakan laporan, berkontemplasi, bersendau gurau, saling ngebully, cerita ngalor ngidul, menunggu waktu menonton gigs di IFI, mengunduh film atau tv series, hingga sekedar memandang hujan bersama orang-orang terdekat. Saya pun bertemu dengan beberapa teman lama ketika sedang duduk di sini.

Bulan-bulan sebelumnya tempat ini sesekali saya datangi untuk membaca novel, mendengarkan curhat adik-adik ketemu gede, bertukar pikiran dengan sepupu in crime, dan tempat saya curhat.

Sampai baristanya mengingat saya dan sering bertanya kalau saya jarang datang. Baristanya juga hafal dengan kebiasaan saya yang lebih memilih untuk menggunakan gelas kaca ataupun mug daripada gelas karton maupun plastik. Hari ini pun salah seorang baristanya sempat berkata “terima kasih ya mbak Ira sudah menjadi reguler customer kami”. Akkkk sungguh sedih mendengarnya ūüė•

Starbucks BIP memang berbeda dari starbucks yang lain. Tempatnya tidak terlalu ramai dan ada meja tersendiri yang sedikit terpisah dari meja-meja yang lain. Kalaupun sedang ramai, kami tetap bisa berkonsentrasi mengerjakan tesis di sini. Berbeda dengan suasana Starbucks Ciwalk yang lebih cocok untuk tempat mengobrol. Suhu ruangannya tidak terlalu dingin seperti Starbucks di Dipati Ukur. Jarak tempuh ke BIP pun bisa dilakukan dengan berjalan kaki dari kampus.

Tempat duduk favorit saya, Koko Erlang, Teh Silva, dan Ijal adalah di sebelah counter, dipisah oleh tempat display tumbler. Sedikit tersembunyi dari hiruk pikuk bagian depan. Dengan meja yang lebih tinggi dan colokan, kami betah duduk di sana dari pagi hingga sore atau dari siang hingga malam. Tempat ini memang membuat kami lebih leluasa untuk berdiskusi dan berkonsentrasi dengan apa yang sedang kami kerjakan. Bahkan ada waktu-waktu kami nyaris setiap hari ke sana untuk mengerjakan tesis. Berlama-lama di Starbucks BIP ini bahkan sudah menghasilkan seseorang yang lulus dari S2, dua orang yang seminar UP, dan seorang lagi yang hampir seminar UP.

page

Support Group Tesis

Tempat mungkin berganti, tetapi saya tidak akan lupa akan kenangan yang ada di sana. Farewell Starbucks BIP.

*Ditulis kala hujan menyapa Bandung, ditemani lagu-lagu Banda Neira

Doulce Memoire & Maestro Musik Sunda

IMG_0959

Awal bulan Mei, saya menyaksikan sebuah pertunjukan kolaborasi musik Renaisans dan¬†Sunda: Doulce Memoire dan¬†Maestro Musik Sunda di Ifi Bandung.¬†Acara kolaborasi ini merupakan¬†pembuka dari rangkaian Printemps¬†Francais 2016 di Bandung yang¬†merupakan Festival Seni Prancis-¬†Indonesia. Acara ini diselenggarakan¬†oleh Institut Prancis di Indonesia. Pertunjukkan memang sudah lama, acaranya pun sempat saya tulis di steller, tapi saya baru menuliskan versi blognya sekarang. Maklum baru dapet foto-foto dengan kualitas bagus¬†ūüėÄ .

SAMSUNG CSC

Sempet foto dulu

SAMSUNG CSC

Doulce Memoire

Doulce Memoire memulai pertunjukan dengan menyajikan sebuah musik dari zaman Renaisans. Petikan gitar zaman renaisans, seruling, serta perkusi membawa kita untuk menikmati musik istana. Ditambah dengan suara Sopran dan Tenor, sukses membuat saya merinding. 
SAMSUNG CSC

Maestro Musik Sunda

Setelah itu, giliran Maestro Musik Sunda yang terdiri dari Ibu Neneng, Kang Yoyon dan Bapak Dede menampilan kebolehannya menyanyikan lagu-lagu berbahasa Sunda. Tiupan seruling, petikan kecapi, serta suara halus Ibu Neneng menggetarkan sukma. Saya berasa kayak lagi di kondangan. Jarang-jarangkan ngedengerin lagu berbahasa Sunda seperti ini.
SAMSUNG CSC
Ketika Doulce Memoire dan pada maestro musik Sunda disatukan, saya hanya mampu berdecak kagum. Indah banget mendengar bagaimana seruling serta perkusi  disatukan dengan seruling khas Sunda dan kecapi. Baik lagu berbahasa Sunda maupun Prancis yang dinyanyikan malam itu, bikin saya merinding dan tidak henti-hentinya berdecak kagum.
Kolaborasi keduanya betul-betul membuat waktu satu jam tiga puluh menit berlalu tanpa terasa. Sungguh pertunjukkan kolaborasi yang mengagumkan. Saya benar-benar beruntung bisa menyaksikan pertunjukan ini.
*Foto-foto saya pinjam dari yang punya blog ini

Wisata Sejarah Kereta Api: Buitenzorg – Soekaboemi – Tjiandjoer

Tanggal 29 Mei 2016 saya, Dede Marin, dan Cice mengikuti Wisata Sejarah Kereta Api (Railway Heritage Tour)  yang diselenggarakan oleh unit Heritage PT. KAI dan ICOMOS (International Council on Monument & Sites) Indonesia. Wisata Sejarah Kereta Api kali ini akan melakukan perjalanan jalur kereta api pertama di Hindia Belanda, yaitu rute Buitenzorg РSoekaboemi РTjiandjoer.

IMG_1821

Pada hari Minggu, peserta berkumpul di ruang VIP Stasiun Bogor. Di sini kami disambut oleh presiden ICOMOS Indonesia yang berperan sebagai tour guide, Bapak Dicky AS Soeria Atmadja dan kepala stasiun Bogor, Bapak Sugi Hartanto. Setelah itu, sambil menantikan kereta menuju Sukabumi, peserta diajak berkeliling Stasiun Bogor.

IMG_1833Bogor, terletak 346m di atas permukaan laut

Pengenalan Stasiun Bogor dimulai dari menaiki tangga kayu berputar untuk ke lantai dua stasiun yang menggunakan kayu. Zaman Hindia Belanda dulu belum dikenal lantai yang dicor sehingga menggunakan lantai kayu. Untuk tangganya sendiri terbuat dari kayu jati dan merupakan satu-satunya stasiun yang memiliki tangga kayu berputar. Keunikan lain dari stasiun ini adalah bangunannya yang tinggi untuk dapat menghalau panas udara tropis. Selain itu apabila diperhatikan, pada bagian bawah pintu kayu terdapat plat besi yang berguna untuk menghindari gesekan kayu dengan lantai agar pintu tetap awet. Bagian lain yang menarik dari Stasiun Bogor adalah hall depan yang berfungsi sebagai ruang tunggu kereta. Bagian daun pintu yang diukir cantik dan langit-langitnya mengingatkan saya pada ballroom ruangan Eropa yang megah. Sayangnya saat ini hall tersebut dibiarkan kosong.

IMG_1847suasana pagi di Stasiun Bogor

IMG_1853Tangga berputar yang terbuat dari Kayu Jati

IMG_1854detail pintu depan dari stasiun lama Bogor

IMG_1859Hall yang megah di Stasiun Bogor

Stasiun Bogor sendiri merupakan landmark kota yang terletak tepat di seberang Istana Bogor.¬†Saat zaman Hindia Belanda, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg yang memiliki arti¬†‘tanpa¬†kecemasan’ atau ‘rasa aman’¬†yang merupakan tempat¬†beristirahat bagi pekerja yang¬†jauh dari hiruk pikuk kota¬†Batavia.

Tidak terasa, waktu pun menunjukkan pukul 07.30. Saatnya kami masuk ke kereta.¬†Sebenarnya saat ini perjalanan Bogor –¬†Sukabumi dimulai dari Stasiun¬†Paledang, akan tetapi khusus untuk tur heritage ini, kami¬†memulai perjalanan dari Stasiun Bogor. Di Stasiun Paledang, kereta sempat berhenti selama 20¬†menit untuk¬†menaikkan penumpang menuju¬†Sukabumi. Sambil menunggu, kami dibagian scraft dan peta perjalanan. Pada peta, dapat terlihat bahwa jalur yang kami lalui merupakan jalur yang berbeda dengan jalur kereta Jakarta menuju Bandung.

IMG_1894Pak Dicky sedang menjelaskan peta perjalanan hari ini

IMG_1899peta wisata sejarah kereta api

Perjalanan menuju Sukabumi ini, melalui Stasiun Batu Tulis, Ciomas, Maseng, Cigombong, Cicurug, Parung Kuda, Cibadak, Karang Tengah, hingga sampai dipemberhentian Sukabumi. Sepanjang perjalanan, Pak Dicky menceritakan mengenai sejarah yang ada di Jalur ini.

IMG_1905Gunung Pangrango yang terlihat dari sebelah kanan

IMG_1916Gunung Salak terlihat dari sebelah kiri kereta api

Pada perjalanan menuju Stasiun Batu Tulis kita bisa melihat Gunung Salak di kiri dan Gunung Pangrango di kanan. Pak Dicky menceritakan bahwa di kaki Gunung Pangrango terdapat enam makam tentara Nazi. Wouw, saya sampai bengong sendiri mengetahui fakta sejarah yang satu ini.

Sejarah lain yang diceritakan adalah mengenai sebuah danau buatan yang terletak tidak jauh dari Stasiun Cigombong yang bernama Danau Lido. Dahulu, danau ini digunakan untuk tempat peristirahatan bagi petinggi pengawasan pembangunan Jalan Raya Pos dan pemilik perkebunan. Hingga saat ini, Danau Lido masih digunakan untuk tempat peristirahatan pejabat negara. Para mantan Presiden Indonesia juga pernah bepergian ke Danau Lido untuk beristirahat.

Apabila kita sampai di Stasiun Cigombong, wajib banget untuk turun sejenak dari kereta dan mengagumi pemandangan Stasiun dengan latar belakang Gunung Salak yang sayang untuk dilewatkan. Beneran cantik banget pemandangannya!!

IMG_1926Indah!!

Setelah Stasiun Parung Kuda, terdapat Stasiun Cibadak. Tidak jauh dari Stasiun Cibadak ini terdapat daerah yang bernama Tjipetir. Akhir tahun 2014, di Eropa sempat digemparkan dengan berita mengenai seseorang yang menemukan sebuah balok persegi bertuliskan Tjipetir di dekat pantai daerah Cornwall, Inggris. Benda tersebut berbahan kenyal seperti karet. Balok karet Tjipetir tersebut menyebar di daerah pantai Inggris karena diangkut sebuah kapal yang karam. Banyak berita mengatakan bahwa kapal yang mengangkut balok karet Tjipetir adalah Titanic!!

Saya sampai bengong ngedengernya. Bayangkan saja, dulu balok berbahan karet asal Tjipetir ini dikirim ke Eropa untuk digunakan sebagai  insulator kabel telegraf bawah laut. Balok berbahan karet ini istimewa karena tidak terbuat dari getah pohon karet melainkan dari daun yang digiling untuk mendapatkan getah perca. Terbayangnya karet buatan Tjipetir ini kuat bangetkan sampai jadi insulator bawah laut.

IMG_1936Tjipetir

Melewati Stasiun Cisaat, kami pun sampai di Sukabumi dan berganti kereta perintis menuju Cianjur. Keretanya sendiri merupakan kereta ekonomi AC yang terdiri dari empat buah gerbong. Disebut kereta perintis, karena berada di bawah Departemen Perhubungan dan bukan merupakan bagian dari PT. KAI.

IMG_1929suasana Stasiun Sukabumi

Perjalanan pun dilanjutkan melewati¬†Stasiun Gandasoli, Cireugas, dan¬†Lampegan.¬†Dari Stasiun Cireugas ke Lampegan,¬†kita akan melewati sebuah¬†terowongan¬†kereta api pertama yang dibangun di Hindia Belanda bernama Terowongan Lampegan.¬†Disebut Lampegan karena dahulu¬†orang Indonesia sering mendengar¬†kata ‘Lampe ghan!!’ yang diteriakkan¬†oleh Menir Belanda saat ada kereta¬†yang akan memasuki terowongan. Kata¬†itu berarti ‘nyalakan lampu’. Saya dan beberapa orang peserta tur semangat banget merasakan detik-detik kereta api memasuki terowongan ini. Ternyata terowongannya lumayan panjang!! Seru banget merasakan momen melihat cahaya dari terowongan Lampegan.¬†Dari Stasiun Lampegan, perjalanan¬†dilanjutkan melewati Stasiun Cibeber,¬†Cilaku, hingga sampai di Stasiun
Cianjur.

IMG_1937sejauh mata memandang, terdapat hamparan sawah

IMG_1957Terowongan Lampegan

IMG_1958Stasiun Lampegan

IMG_1965selalu suka merasakan kereta berbelok

IMG_1986suasana Stasiun Cianjur

IMG_2019pemindah rel kereta manual!!

IMG_2027Foto bareng Pak Dicky

IMG_2039Foto bareng Kepala Stasiun Cianjur

Sesampainya di Stasiun Cianjur, kami pun beristirahat, berdiskusi, dan menikmati makan siang. Betul-betul perjalanan yang menyenangkan!! Banyak banget informasi dan pengetahuan sejarah yang saya dapatkan dari perjalanan kali ini. Rasanya tidak pernah belajar sejarah semenyenangkan ini.

*Saya juga membuat versi Steller tulisan ini

Classical Resital: Amatis Piano Trio

IMG_0770Amatis Piano Trio

Sejak kecil, saya sudah menyukai musik klasik dan ingin sekali bisa mempelajari piano ataupun biola. Apa daya orang tua saat itu menganggap les Bahasa Inggris dan Bimbingan Belajar lebih penting dari pada les musik, hingga sekarang saya hanya suka mendengarkan lagu klasik dan isntrumental.

Beruntungnya belakangan saya banyak dapet info soal pertunjukan musik klasik. Salah satunya adalah Amatis Piano Trio. Lea Hausmann (Biola), Samuel Shepherd (Cello) dan Mengjie Han (Piano) datang ke Bandung dalam rangkaian acara Erasmus Huis yang diadakan di Preanger hari Selasa minggu lalu. Grup Trio ini didirikan di Amsterdam, Belanda. Di usia mereka yang masih tergolong muda, 20an awal aja sudah bisa konser keluar Amsterdam.

Mendelssohn No. 1 in D Minor Op.49 2nd movement

Saya tentu saja lupa judul-judul lagu yang di mainkan!! Cuma bisa bengong ngeliat kerennya permainan mereka. Saya hanya mengingat judul permainan mereka setelah selesai istirahat yaitu Mendelssohn No. 1 in D Minor Op.49 1st movement hingga 5th movement. Beneran keren banget!!! Saya sampai merinding ngedenger alunan musiknya. Saya dan Ko Erlang bolak balik berdecak kagum mendengar permainannya. Rasanya waktu satu setengah jam tidak terasa saat mendengarkan mereka.

IMG_0798happy!!

Setelah resital selesai, ada sesi meet and greet serta bisa foto bareng loh. Tentu aja kita ikutan foto bareng mereka bertiga. Terima kasih banyak mas-mas Prama Preanger Hotel yang sudah mau dimintain tolong ūüôā .