Rendy Pandugo

Saya baru saja mendengar lagu Rendy Pandugo yang terbaru berjudul Silver Rain ini. Ya ampun..liriknya manis banget!! Bercerita soal temen masa kecil yang akhirnya membuka kapsul waktu mereka sepuluh tahun kemudian. Ngedengernya beneran bikin senyum senyum sendiri!!

Kalau cuma ngedenger lagunya aja, ga akan nyangka deh kalau penyanyinya orang Indonesia. Suaranya beneran renyah dan pelafalan kata Bahasa Inggrisnya pun bagus. Ngingetin saya sama lagu-lagu berbahasa Inggrisnya Mocca yang ga banyak orang yang nyangka kalau Indonesia punya pemusik-pemusik kayak mereka.

Sebenernya saya pertama kali kenal sama Rendy Pandugo ini dari sahabat saya, Yaya. Dia ngerekomendasiin buat denger dan nonton video klipnya Rendy Pandugo yang berjudul I don’t care.

Setelah ngedenger lagu dan video klipnya, saya beneran jatuh cinta. Video klipnya kereeen!! Simpel dan suasananya beneran pas aja sama lagunya. Memang sih, dari sisi lagu dan lirik bukan lagu yang membahagiakan kayak Silver Rain. Tapiii saya sukaaaakkk.

Selain dua singlenya ini, Rendy Pandugo juga pernah ngisi soundtrack untuk film Galih dan Ratna!! Memang lagu-lagunya masih jarang terdengar, mari kita doain aja Mas Rendy *akraaaabbb* bisa makin sukses 🙂 .

Advertisements

Yumaju Coffee Shop

IMG_8314

Terima kasih buat temen-temen di Instagram yang membuat saya kenal sama tempat ngopi di Jalan Maulana Yusuf ini. Saya lagi pengen nyari tempat baru untuk ngerjain laporan yang menumpuk plus ngerevisi tesis *iyaaahh udah wisuda kapan, baru mau ngerjain revisian kapan*. Tempatnya ga perlu aneh-aneh asal ada wifi, kopinya enak dengan harga terjangkau, plus ada cemilan buat temen ngopi. Semuanya ada di Yumaju.

IMG_8269

IMG_8273

Saya semakin suka ke sini karena baristanya ngasi pilihan mau pake biji kopi apa. Saya yang sebenernya buta sama perbijian kopi ini jadi mulai tahu perbedaan dari biji Kopi Toraja sama Aceh Gayo. Baristanya juga ramah-ramah dan suka ngajak kita ngobrol semakin menambah kehangatan di Yumaju.

IMG_9314

Latte

IMG_8270

salah satu varian tehnya

IMG_8196

cokelat panas

Selain kopi, mereka juga menyediakan beragam varian teh yang enak-enak. Temen saya pernah mesen teh berrynya dan beneran harum dan kerasa manis gitu tehnya. Apalagi mereka emang ngeracik sendiri alias pake daun teh beneran.

Untuk cemilannya, disini ada beragam pilihan pastry. Saya sih seneng banget sama bolen mereka yang enak, ga terlalu manis dan harganya cuma sepuluh ribu rupiah!! Duh bahagia banget rasanya. Kalau mau yang agak berat, di Yumaju juga ada sandwich dan pilihan cemilan-cemilan ringan kayak bitterbalen. Kalau laper banget mereka nyediain juga sih kayak lontong kari, garang asem, nasi goreng, dan nasi dengan daging sapi tapi memang bukan bagian dari menu utamanya mereka ya.

IMG_8203

bolen pisangnya enaakkk

IMG_8204

salah satu menu nasinya

Di sini mereka punya pantry untuk tempat air mineral, gula, tisu, hingga saos. Mereka juga punya tempat khusus untuk tempat gelas dan piring kosong. Semuanya self service.  Jadi jangan lupa buat nyimpen bekas minuman dan makanan kita di sana.

Saya suka kalau dateng ke sini pagi-pagi karena masih sepi. Enak banget buat ngerjain laporan yang sering saya tumpuk *salahkan prokrastinasi*. Kalau udah siang, saya pilih sekalian makan aja di sini dan tetep ngerjain laporan. Pokoknya pantang pulang sebelum target hari ini selesai. Nasib banget suka ga konsen kalau ngerjain di rumah. Bawaannya pengen nonton dan tidur mulu. Makanya ketika dateng ke Yumaju saya bisa loh pesen kopi plus bolennya pagi-pagi lanjut makan siang dan pesen teh buat nemenin makan. Paling baristanya yang bosen lihat saya di sana 😀 . Oia berhubung emang harga kopi, teh, dan makanannya masuk akal banget, sepanjang hari di sana saya ngeluarin uang ga sampai 100.000.

IMG_9325

bagian luarnya adem banget buat ngobrol

Kalau malem ke sini, saya lebih seneng untuk ngobrol-ngobrol. Kayak H+3 lebaran, saya dan seorang sahabat ke sini buat ngeteh dan minum cokelat sambil ngobrol ngalor ngidul. Suasana dengan pencahayaan kuningnya bikin suasanya makin hangat.

Yumaju
Jl. Maulana Yusuf No. 10 Bandung
Buka dari jam 07.00

Menjelang Agustus

It’s time to meet myself in the mirror. Someone looks at me. It’s just another side of myself. I just wanna smile. 

Sebulan ini perasaan saya naik turun. Mungkin ini efek ritme hidup yang beberapa bulan lalu berantakan sehingga efeknya masih terasa hingga hari ini. Ritme saya pun mulai berangsur-angsur pulih walaupun bagian begadang masih jadi pr.

Kalau sudah begini, saya biasanya memilih untuk kembali duduk di pojok-pojok tempat ngopi dan berkontemplasi sendiri. Kayak ngajak ngobrol dan merasa-rasa berbagai emosi yang lagi berkunjung. Saya pun sampai ke suatu kesimpulan bahwa semua perasaan ini terkadang datang menjelang bulan Agustus.

Agustus merupakan bulan di mana saya lahir. Jadi memang sering menjadi tempat saya check point atas kemajuan yang telah saya buat setahun belakangan ini. Sebenernya ada beberapa kemajuan yang saya buat ditahun ini. Sebut saja soal drama tesis dan dua kali sidang yang telah berakhir, wisuda di tahun ini, memutuskan untuk mengikuti training yang kayaknya dulu ga pernah kepikiran akan nyemplung ke sana, mencoba untuk tinggal di sebuah tempat lebih dari satu minggu, mencoba berbagai hal baru, berkenalan dengan lingkungan yang sebelumnya saya lihat dari jauh, mencoba melihat kota dari sudut pandang yang lain, serta merencanakan sebuah perjalanan yang menurut saya cukup lama. Banyak yah!!

In the morning, everything is alive, as always. But still, the darkness gets me down and won’t set me free.

Tapi belakangan saya merasa ada yang kurang. Mungkin karena pencapaian saya ini berbeda dengan teman-teman seumur yang sudah menikah, bahkan sudah memiliki dua anak, serta punya pekerjaan yang steady. Memang ya rumput tetangga itu selalu lebih hijau!!

Hal itu juga yang membuat saya ingin kembali menata semua aspek dalam hidup saya. Tahun lalu saya bisa melewati ini semua dengan tenang. Maka tahun ini saya pun kembali ingin berdamai dengan perasaan perasaan ini.

I’ll be ok. 

*cetak miring adalah lirik lagu CN Blue berjudul Be OK

Medan: Bersedih Hati di Istana Maimun

IMG_9387

Sejak mendapatkan kesempatan untuk kerja ke Medan bulan Februari 2017, rekan sekantor sudah mewanti-wanti agar kita pergi ke Istana Maimun.
“Biar lihat istana lain selain Keraton teh!!”.
Bener juga, selama ini kita lebih akrab dengan istana-istana dari kerjaan di Jawa. Sedangkan eksplorasi ke istana lain di Indonesia saya hanya pernah mengunjungi Istana Pagaruyuang di Batu Sangkar. Ya itu mah keharusan yak buat berkunjung ke Istana leluhur sendiri saat pulang kampung 😀 .

Saat ada waktu kosong di siang hari, pergilah kami berdua ke Istana Maimun. Sampai di sana, saya melihat hamparan lapangan besar dan Istana yang berdiri di bagian tengah sedikit ke belakang. Terasa mewah dan lapang dengan warna kuning terang. Kekhasan dari Istana Maimun adalah bentuk bangunannya yang berupa rumah panggung dengan atap depan seperti  kubah masjid. Melihat Istana Maimun berarti melihat keberagaman budaya, mulai dari unsur kebudayaan Melayu,  gaya Islam, India, Spanyol, serta Itali. Kalau dilihat-lihat posisi Istana Maimun juga tidak jauh dari Masjid Raya Medan.

Walaupun kekaguman itu sayangnya tidak berlangsung lama. Istana yang didirikan oleh Kesultanan Deli itu berdiri menyedihkan 😦 . Saat saya ke sana bulan Maret 2016, Istana ini terlihat kurang terawat. Saat masuk ke dalam, tidak tampak ada pemandu yang mendekati kami berdua. Kami pun melihat-lihat sekeliling dengan bingung. Di tengah kebingungan itu, kami dikagetkan dengan banyaknya orang berjualan cinderamata serta penyewaan kostum diruangan bagian belakang. Kami pun sesekali ikut mencuri dengar dari pemandu yang menceritakan sejarah museum kepada serombongan turis lokal. Sisi bagian depan museum pun lebih banyak debunya. Hanya pada bagian singgasana raja yang lebih terawat. Mungkin karena jadi tempat orang berfoto lengkap dengan baju sewaan sehingga lebih terjaga kebersihannya.  Saat melihat bagian sayap kanan dari museum, saya merasa bagian tersebut ditinggali oleh warga. Keliatan dari jemuran yang ada di bagian depannya. Saya sampai bengong saat melihat ada jemuran di istana. Ini istana loooh!!

IMG_9337

kelihatankan yah kemegahannya

IMG_9335

orang berjualan di dalam istana

IMG_9362

bagian kiri bangunan istana

IMG_9360

Memang harga tiket masuk sebesar lima ribu rupiah tentu tidak mencukupi untuk merawat istana ini. Padahal kalau dirawat, istana ini akan terlihat sangat megah dan lebih indah dari saat ini. Bagian dalam yang penuh dengan ukiran, bagian langit-langit dengan karya-karya geometri khas kebudayaan Islam itu kalau dipoles tentu bakal terlihat keindahannya. Jendela-jendela, bagian pagarnya itu juga bagus banget loh. Semoga pemerintah di Medan lebih menyadari tentang potensi wisata yang ada di Istana Maimun.

Dibuat Gemas sama Chicago Typewriter

Image result for chicago typewriter

Bisa dibilang saya rada telat nih baru nonton Chicago Typewriter. Saat awal penayangannya, saya pernah streaming nonton episode 1, tapi rasanya capek banget dengantema permainan waktu di drama Korea kayak Goblin, Tomorrow with you, sampai signal. Jadinya ga terlalu tertarik. Udah gitu dibulan-bulan ini saya sempet bosen sama drama Korea dan beralih ke Drama Taiwan, dorama Jepang, sampai lakorn Thailand. Akhirnya baru pasca lebaran saya baru kembali melirik Chicago Typewriter.

Sebenernya saya bukan orang yang bisa mereview drama. Lebih banyak subyektifnya dari pada objektifnya. Efek halu ini mah 😆 😆 . Terakhir kayaknya ngereview drama korea itu Goblin. Akhirnya ada lagi drama Korea yang membuat saya pengen nulis review dan perasaan setelah menontonnya.

Ceritanya sendiri tentang penulis yang hidup di bawah pemerintahan Jepang pada tahun 1930-an bereinkarnasi menjadi penulis buku laris  bernama Han Se Joo yang mengalami writer block. Premis awalnya sih begitu, sisanya nonton sendiri aja karena jadi lebih sulit untuk diceritakan :D. Dilihat-lihat hidupnya Han Se Joo ini udah kayak artis banget, banyak paparazi dan gosip yang menerpa! Selain itu berasa banget sih gimana harga diri jadi penulis untuk ga pakai ghost writer ataupun memplagiat tulisan orang lain.

Awalnya saya sempet ngira bakal ada time slip bolak balik ke masa depan kayak Tomorrow with you atau tiba-tiba terhubung dengan masa lalu macam Signal. Ternyata penulis naskahnya lebih canggih, potongan-potongan masa lalu disampaikan lewat tatapan mata, mimpi, dan cerita. It’s brilliant!!!

Saya suka drama ini sebenernya karena gemas sama ketiga pemeran utamanya. Menurut saya di drama ini ga ada pemeran second lead kayak drama Korea biasanya. Pembagian porsinya seimbang dan ada cerita dari sudut masing-masing tokohnya.

Pemeran utama yang pertama adalah seorang penulis novel bernama Han Se Joo (diperankan oleh Yoo Ah In). Sebagai peulis novel diawal cerita dia paling ga suka diganggu saat menulis. Selain itu doi juga ga suka harus ketemu banyak orang. Kebayangkan rumahnya sepi.

Di era 2017 sebenernya ngeliat Yo Ah in menjadi Han Se Jo ini biasa aja, tapi setelah episode tengah-tengah, tiap senyum ganteng banget!!! Aku lemah sama senyumannya. Apalagi ngeliat masa-masa dia hidup di tahun 1930, ya Allah rasanya pengen ga ngedip biar ga dosa ngeliatnya. Beneran ganteng maksimal dengan tipe dandanan dan rambut ga rapi, kacamata, serta tatapan dan bibirnya itu loh bikin halu maksimal.

Image result for chicago typewriter yoo ah in

Ditatap kayak gini aku kudu piye?!

Image result for chicago typewriter

 

Pemeran utama kedua adalah Jeon Seol yang diperankan oleh Lim Soo Jung. Saya sih jarang banget nonton film atau dramanya dan ternyata memang udah lama ga maen drama Korea. Tapi aktingnya di sini bagus. Perasaan campur aduk dari bahagia sampai perihnya berasa banget.

Jeon Seol ini pekerjaannya kayak “palugada” alias lo butuh gw ada 😆 😆 mulai dari pengantar barang sampai jadi dokter hewan. Jeon Seol juga orang yang seneng banget baca novel khususnya karya-karya dari Han Se Joo. Makanya begitu bisa ketemu langsung dengan penulis favoritnya langsung berbinar-binar. Jeon Seol ini merupakan atlet tembak kelas nasional, sayangnya karena sering mimpi buruk dia memutuskan untuk berhenti jadi atlit tembak.

Image result for chicago typewriter jeon seol

Jeon Seol-nya cantik

Pemeran utama terakhir adalah Go Kyung Pyo yang berperan sebagai Yoo Jin Oh. Sebagai jamaah reply 1988, saya termasuk yang menyukai Go Kyung Po yah walaupun tetep sebagai tim Jung Hwan sih. Aktingnya di sini pun beda sama saat dia maen di Jealousy Incarnate. Hmm lebih banyak humor, ketawa, dan ekspresi lucunya. Apalagi bromance Yoo Jin Oh sama Han Se Joo itu dapet banget chemistrynya. Sukaaa banget kalau udah ngeliat mereka akting berdua.

Di awal dramanya Yoo Jin Oh ini sering banget ngetik di ruang kerjanya Han Se Joo dan sempet dikira pencuri. Tapiii ya mending nonton sendiri aja 😀 *makasi mbak Dewi sudah mengingatkan buat ga spoiler*

Image result for chicago typewriter yoo jin oh

 

Image result for chicago typewriter yoo jin oh

Ekspresinya ga kuat

Dari sisi cerita berbeda dengan drama Korea umumnya, saya merasa unsur persahabatan dan perjuangannya lebih kental daripada sisi romantisnya. Apalagi setiap episodenya suka banyak petunjuk untuk memecahkan misteri masa lalu yang ngebayangin mereka semua. Endingnya juga epic banget!! Saya sampai bolak balik nonton dua episode terakhirnya.

 

Image result for chicago typewriter yoo jin oh

Image result for chicago typewriter

Terakhir, mau ga mau saya harus mengakui kalau soundtrack dramanya bagus-bagus!! Drama Korea Chicago Typewriter ini beneran paket komplit, mulai dari romantisme, misteri, lucu, bromance, twist, akting para pemain yang mumpuni, sampai pilihan lagunya semua baguuuus. Saya sampai susah move on dari drama ini.

*Gambar-gambarnya diambil dari berbagai forum
**Mbak Jo..akhirnya selesai juga bikin tulisannya 😆

Memperbaiki Ritme Hidup

IMG_4862

Sejujurnya ritme hidup saya sedikit kacau begitu selesai kuliah. Tidak ada lagi hari-hari di mana saya harus bangun pagi, beberes rumah, dan mulai menghidupkan pc atau laptop untuk mengerjakan tesis ataupun ketemu pembimbing di hari-hari tertentu. Di bulan-bulan awal hidup bagaikan sedang liburan, isinya leyeh-leyeh dan sesekali buka laptop ketika ada kerjaan yang mampir. Hingga bulan lalu saya mulai gelisah.

Hidup tanpa ritme yang jelas teryata memang bisa membuat kekacauan untuk diri saya. Kerasa banget jadi ga produktif, hidupnya diisi buat nonton drama Korea, drama Jepang, sampai drama Tiongkok hingga jalan-jalan sama temen. Ga ada sesuatu yang menurut saya menghasilkan dari beberapa bulan ini. Saya jadi membuktikan kata-kata seorang guru di kelas Teacher Training Waldorf Early Childhood bahwa sejatinya badan dan jiwa kita menyukai keteraturan dan ritme.

Ritme hidup bisa membuat keseimbangan dalam tubuh dan jiwa. Untuk anak-anak ritme sebenernya membantu untuk mereka lebih tenang, nyaman dan aman karena mereka bisa memprediksi apa yang terjadi dalam hidup lewat ritme hariannya. Selain itu, anak-anak yang udah terbiasa dengan ritme hidupnya jadi bisa eksplorasi lebih di hal yang lain seperti mainannya ataupun mengembangkan imajinasi yang mereka punya. Untuk orang dewasa, saya merasa jadi lebih produktif dan badan menjadi lebih fresh. Makanya kalau lagi ga enak badan atau sakit, saya biasanya jadi lebih memperbaiki ritme hidup kayak makan tiga kali sehari di waktu yang tepat ataupun tidur yang cukup.

Saat awal-awal belajar dan sadar akan ritme hidup, saya suka salah mengartikannya dengan jadwal harian. Padahal sifatnya beda banget. Ritme hidup ga harus melulu soal jadwal kayak bangun harus jam berapa, makan jam berapa, dan seterusnya. Tapi ritme itu lebih ke pembagian kegiatan mulai dari kegiatan yang butuh penyaluran energi atau yang fokus dengan diri sendiri. Kalau dalam pendidikan Waldorf biasanya dikenal dengan kegiatan-kegiatan “breathing in” dan “breathing out”. Contoh paling gampang untuk kegiatan “breathing out” adalah ketika anak bebas bermain, berlari, masak bareng, serta jalan-jalan. Sedangkan contoh untuk kegiatan “breathing in” seperti membaca, beberes rumah, ataupun kerja. Ritme hidup juga biasanya lebih fleksibel daripada jadwal harian, karena kita bisa mengganti beberapa kegiatannya selama tetap dalam mengalir bergantian antara kegiatan “breathing in” dan “breathing out”.

Saya merasakan ketika mulai membenahi ritme hidup, saya mulai membangun kembali keteraturan di dalam hidup saya. Bulan Ramadhan kemaren beneran saat yang tepat buat saya berbenah, sesimpel ngebenerin pola tidur yang sering begadang jadi kembali teratur tidur sebelum jam 11 malem karena mau bangun sahur. Berusaha menyicil setiap kerjaan yang ada. Bulan Ramadhan memang udah berakhir, tapi saya masih terus berbenah dengan ritme hidup agar bisa lebih produktif dan lebih sehat lagi.

Sumber bacaan soal Ritme diambil dari:
Rhythm Waldorf Style
Learning through rhythm
Rhythm the pulse of life
Daily rhythm at home