Viatikara: Untuk Dia yang Mencintai dan Ingin Dicintai

129apple_img_9274

Saya jarang punya kesempatan untuk melihat pentas tari. Selain ga ada temen, ga tahu infonya juga. Kayaknya terakhir kali menonton adalah wayang orang yang ditampilkan dalam rangka “Tanggap Warsa”-nya PSTK ITB. Makanya saat mama memberikan tiket untuk menonton Pentas Tari Viatikara, saya bahagia banget.

Viatikara adalah grup tari yang sudah berusia 55 tahun!! Pertama kali dibentuk tahun 1961 oleh dua orang mahasiswa, Paul Kusardy dan Tanaka Hardy yang bekerja sama dengan Drs. Barli Sasmitawinata. Tema yang diusung grup tari ini adalah nasional Indonesia modern. Jadi tidak melulu tari tradisional yang dipelajari. Selama pertunjukkan pun banyak tari modern yang dipentaskan.

129apple_img_9276

Om Jaka Bimbo

Acara malam itu dimulai sedikit terlambat. Beruntung di tengah penonton ada Om Jaka Bimbo *akrab* yang diminta untuk bernyanyi sebelum acara dimulai. Selain itu kalau diperhatikan, penonton yang datang adalah oma dan opa yang ingin melihat kembali pentas tari Viatikara yang legendaris. Ada juga penonton yang datang sebagai bentuk support untuk temannya yang menari *salah tiganya adalah mama dan uwa-uwa*. Jangan salah, penari-penari yang pentas berusia mulai dari 20an hingga 60an loh!! Makanya selain menonton pentas tari, mereka pun datang sekalian reuni dengan teman-teman jaman sekolah dulu. Saya aja sampai dicuekin sama mama dan uwa. Mereka bertiga asyik menyapa teman-temannya, saya sibuk ngeliat kiri kanan. Siapa tahukan ketemu *jodoh* yang dikenal atau seumur.

 Pentas tarinya terdiri dari tiga bagian, di mana tari yang dipertunjukkan pun berbeda-beda. Bagian yang pertama dibuka dengan rampak kendang yang keren banget naikin suasana pentas. Dilanjut dengan tari kunang-kunang yang indah banget. Properti lampu kecil dan lampu panggung yang diredupkan sukses membuat seolah penonton melihat kunang-kunang berterbangan. Tarian pun dilanjutkan dengan tari potong padi, tari angin timur, serta rebana. Pada bagian kedua ada tari selendang sutra, tari nelayan, tari putri gunung, dan tari pemetik teh. Tarian di bagian kedua ini lebih memperlihatkan kehidupan masyarakat dari daerah pantai, gunung, maupun suasana berkebun.

129apple_img_9317

Tari Puteri Gunung

Bagian ketiga dari pentas tari Viatikara adalah bagian favorit saya!! Bagian ini merupakan drama musikal berjudul hari yang cerah. Menceritakan mengenai hari pernikahan antara dua suku: Minang dan Sunda. Kedatangan tamu dari berbagai suku turut memeriahkan acara pernikahan. Mereka menyajikan tarian dari Sumatera Utara, Minang, Kalimantan Timur, hingga Ambon. Kerasa banget keberagaman suku dan tarian di Indonesia. Saya senang sekali ketika mempelai pria yang berasal dari Sunda memasuki ruangan diiringi lagu Malam Bainai. Hatiku hangat. Drama musikal ini pun ditutup dengan mengangkat gelas sembari menyanyikan lagu Lisoi.

129apple_img_9319

Sedang mempersiapkan pelaminan

129apple_img_9320

Tari Tempurung

129apple_img_9321

Mempelai perempuan sudah hadir

129apple_img_9326

Berbagai suku memberikan selamat untuk pengantin

Saya tidak berhenti untuk takjub dengan tarian yang dipentaskan. Latar panggung, pencahayaan, suara, musik yang dilakukan secara live, hingga penyanyi yang bersuara prima menambah keindahan pentas tari.

Selesai pertunjukan, mama dan uwa sempat berpamitan dengan teman-temannya. Tadinya sih pengen menyapa teman SMA mereka yang sempat menari, tapi berhubung udah malem jadi kami memutuskan pulang duluan. Teman-teman SMA-nya yang lain sih masih pada ngobrol dong!! Warbiyasak sekali opa dan oma ini…malah saya yang berasa tua, udah ngantuk aja jam sepuluh x_x .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s