The Hardest Day

img_9093

One more day, one last look, before I leave it all behind

Buntu…ia pun kembali menyesap cokelat hangat yang ada di samping laptop. Berharap kehangatannya bisa mengaliri otak dan hatinya yang mulai dingin. Gerimis di luar jendela membuatnya berhenti mengetik.

“Ah kembali hujan hari ini….”

Pikirannya sejenak melayang. Hari-harinya sedang penuh dengan ketegangan dan kecemasan. Menyebabkannya lebih mudah buntu dan emosinya menjadi tidak stabil. Mudah terluka, mudah kesal, mudah sedih.Β Sayup-sayup terdengar suara Andrea The Coors dan Alejandro Sanz yang menyanyikan lagu paling sendu yang pernah didengarnya, The Hardest Day. Ia pun menghembuskan nafas panjang. Berusaha mengeluarkan semua pikiran yang menyebabkannya lelah.

But I never forget every single day…

Dilihatnya kembali rintikan hujan yang turun. Tempat ini memang paling sempurna untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Di pojok sebuah kedai kopi, ia bisa melihat taman hijau dan sejuk untuk sekedar melepas ketegangan dari revisi yang harus dilakukannya. Apalagi dengan gerimis yang membuatnya betah memandang taman tersebut lama.

Berdiam diri tentu tidak membuat permasalahan ataupun tugasnya selesai. Ia sungguh tahu hal itu.Β Setiap hal harus diselesaikan. Entah akan berakhir seperti apa, semuanya perlu dihadapi. Bukan dengan melarikan diri seperti ini. Kembali ia melihat tulisannya. Tidak ada yang bertambah. Ingin menyangkal apa yang sedang dirasakannya pun bukan pilihan bijak. Teringat kembali kepada kata-kata seseorang kepadanya.

“Terima semuanya…jangan kau tinggalkan..peluk rasa sakit dan sedih itu…jangan hanya kebahagiaan yang kau peluk.”

Never gonna forget every single thing you do…..

“Harusnya bisa sederhana….” Kembali ia menghembuskan nafas panjang. Kali ini ia benar-benar meletakkan kepalanya di jendela dan memandang keluar. Berusaha mengambil sebanyak mungkin kesegaran yang ditemukannya di sana. Tak lama kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan oksigen dan wangi kopi. Kemudian mulai kembali menekuni laptopnya. Kembali mengerjakan revisian yang harus diselesaikan. Membaca kembali dari awal semuanya bahan yang dimilikinya. Kali ini dengan pelan-pelan. Tidak terburu-buru.

7 thoughts on “The Hardest Day

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s