Bali: Ubud

Ruin is a gift
Ruin is a road to transformation
-Eat Pray Love-

Saya termasuk dari sekian orang yang tertarik dengan Ubud setelah menonton dan membaca “Eat, Pray, Love” yang merupakan kisah panjang dari perjalanan yang dilakukan olehย Elizabeth Gilbert. Cita-cita ke Ubud pun diaamiinkan oleh sahabat saya.

Hingga akhirnya tahun 2014 saya berkesempatan ke Ubud. Saya ditemani oleh Muti berencana untuk melihat Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) yang berlangsung selama lima hari. Tentu ย UWRF ini hanya merupakan salah satu alasan :p . Saya benar-benar penasaran dengan Ubud. Suasananya, deretan toko-tokonya, serta makanannya. Apalagi di kala itu saya sedang ingin menyendiri. Bertemu dengan orang-orang yang tidak mengenal saya. Berusaha membangun kembali pondasi pikiran yang kacau oleh masalah-masalah yang datang secara bersamaan.

Setiap hari saya berjalan mengitari Ubud. Keluar masuk toko yang menjual baju super nyaman untuk yoga dan pernak pernik lainnya. Benar-benar membuat saya harus menahan diri supaya ga belanja tiap hari. Orang-orangnya pun ramah. Selalu tersenyum dan terkadang mengajak kami mengobrol. Selain keluar masuk toko, kita pun keluar masuk galeri dan museum yang ada di sekitar Ubud. Beberapa nanti akan saya ceritakan secara terpisah. Untuk makanannya sendiri, penggemar Babi tentu bahagia banget, karena banyak rumah makan yang memiliki masakan Babi di sana. Untuk yang ingin sehat, banyak banget rumah makan yang meyediakan menu vegan. Kalau restoran favorit saya sih udah pasti Clear Cafe.

UWRF-nya sendiri menarik. Setiap hari saya dan Muti mendatangi dua hingga empat diskusi panel yang menarik. Maklum, jadwal UWRF ini sangat padat mulai dari jam 08.00 hingga 17.00 selalu ada diskusi panel yang diadakan di tiga tempat terpisah. Sehingga kami harus memilih untuk menonton yang mana diantara banyaknya pilihan. Diskusinya sendiri mulai dari novel yang difilmkan, puisi, prosa, hingga perjalanan penulis selama membuat novel tersebut. Tuhan memang Maha Baik, setiap diskusi panel yang saya ikuti, seperti memberikan obat dan pandangan baru untuk hidup saya.

Stop Trying!! Surrender..
Why don’t you just let it be?
Eat Pray Love

Seramainya Ubud, buat saya pribadi tentu berbeda dengan tempat lain di Bali. Saya merasa kehidupan berjalan lebih lambat di sini. Sehingga saya pun berusaha memelankan ritme hidup saya. Sepertinya beberapa bulan terakhir di tahun 2014 itu, saya terlalu terburu-buru, berusaha terlalu keras. Padahal semua yang terburu-buru dan dipaksakan itu tidak berjalan dengan baik.

IMG_1327UWRF

IMG_1332suasana diskusi panel UWRF

IMG_1352trotoar di jalan Raya Ubud

IMG_1403jembatan untuk pejalan kaki

IMG_1469kantor kelurahan Ubud, cantik banget ya

IMG_1479Salah satu Pura di Ubud

Semoga ke depan saya bisa kembali ke Ubud, tentu bukan dengan suasana hati seperti dulu, tetapi lebih baik lagi๐Ÿ™‚ .

16 thoughts on “Bali: Ubud

    • aku cari calon suami dulu mbak Shinta๐Ÿ˜€ . Tapi emang suasananya cocok buat honeymoon mbak, sepi sama adem gitukan ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s