Pendidikan Waldorf

Saya pernah menyinggung sedikit mengenai konsep pendidikan yang sedang saya pelajari di sini. Kali ini, saya mau mengutip tulisan Teh Kenny, orang yang mengenalkan dengan pendidikan Waldorf.

————————————————————-Tujuan dari pendidikan Waldorf adalah menghasilkan individu yang mampu, dalam diri dan dari diri mereka sendiri, memberi makna bagi kehidupan mereka.

Ini artinya sangat dalam. Coba tanya pada diri sendiri apakah sepanjang usia kita ini kita sudah mengetahui apa makna kehidupan kita? Dalam menjalankan peran kita sebagai orang tua, guru, ataupun peran yang berkaitan dengan profesi kita, nilai dan manfaat apa yang sudah kita berikan bagi diri kita sendiri dan orang lain? Ketika kita kuliah, apakah tujuan kita hanya sekedar mendapatkan nilai baik untuk bisa diterima bekerja di suatu perusahaan? Ketika sudah bekerja apakah tujuan kita hanya uang dan karir? Atau bekerja dengan label demi kepentingan anak ataupun keluarga tetapi kemudian ternyata kita hanya menyuplai kebutuhan material mereka dan lupa bahwa anak dan keluargapun butuh waktu, perhatian, kasih sayang, dan pengasuhan serta pendidikan yang tepat?

Coba tanya pada diri sendiri berapa jam dalam sehari kita punya waktu yang benar-benar didedikasikan pada anak kita? Benar-benar fokus mengobrol santai, bermain bersama anak, memasak untuk keluarga, dan kegiatan lainnya yang berfokus pada keluarga.

Seringkali terjadi, “doktrin” yang kita berikan kepada anak adalah : “Sekolah yang rajin ya, supaya nilainya bagus.” Karena tujuannya adalah supaya nilainya bagus, segala cara akan ditempuh anak asalkan nilainya bagus. Termasuk misalnya copy paste tugas dari temen, browsing bahan tugas tanpa memperhatikan sumbernya bisa dipercaya atau tidak. Yang penting adalah nilai bagus, ilmunya dikuasai atau tidak, itu masalah nanti….

Tujuan dari pendidikan Waldorf, menghasilkan individu yang mampu, dalam diri dan dari diri mereka sendiri, memberi makna bagi kehidupan mereka dapat dicapai dengan memberikan pendidikan secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada intelegensia ataupun kognitif anak saja tetapi melalui TANGAN, HATI, dan KEPALA. Apa yang dikerjakan oleh tangan, akan membangun keinginan yang kuat yang berasal dari dalam dirinya sendiri, (bukan karena orang lain) untuk mengerjakan sesuatu (WILLING).
Apa yang meresap masuk ke dalam hati, akan dirasakan oleh anak sebagai sesuatu hal yang menyenangkan (FEELING). Apa yang masuk ke dalam kepala, akan menstimulasi proses berpikir anak (THINKING).

Integrasi (bukan hal yang terpisah-pisah) dari willing, feeling, thinking melalui tangan, hati, dan kepala merupakan ciri khas dari pendidikan Waldorf dalam memberikan pendidikan yang utuh bagi anak sehingga nantinya mereka akan mampu menemukan makna dalam kehidupan mereka.

Coba tanya pada diri sendiri, berapa banyak orang dengan profesi/perkerjaan tertentu yang “terpaksa” menjalankan profesinya karena tuntutan kebutuhan? Bagaimana hasil pekerjaan mereka?

Melalui pendidikan yang terintegrasi ini, anak diharapkan akan mampu menghasilkan sendiri sebuah solusi, bukan meniru solusi yang sudah ada; mampu berpikir, bukan menghafal; melakukan inisiatif (self motivation) bukan menunggu perintah.
————————————————————-

Tulisan Teh Kenny di atas, mengingatkan saya tentang makna hidup. Sering kali saya bertemu dengan beberapa orang teman yang mereka pun terkadang tidak tahu apa yang mereka ingin lakukan dalam kehidupannya. Sekedar menjalani apa yang harus dijalani. Padahal menurut saya kehidupan ini perlu diberi makna.

Saya pun tidak ingin melihat anak-anak di sekitar saya hidup hanya sekedar menjalani hari-harinya saja, hanya memberi makan untuk pikiran tetapi bukan hatinya. Karena itulah menurut saya pendidikan Waldorf ini sesuai dengan harapan-harapan saya terhadap pendidikan untuk anak.

*Tulisan lengkap Teh Kenny di atas bisa dibaca melalui facebooknya🙂
**Saya juga sudah meminta izin untuk mengutip tulisan Teh Kenny di atas untuk dipublish ke blog

5 thoughts on “Pendidikan Waldorf

  1. Waldorf pernah dengar sih tapi nggak begitu paham. Mungkin ini bisa jadi solusi buat pendidikan kita yang semakin berantakan saja. Anak sekolah jaman sekarang pada malas belajar karena jarang didik moral oleh guru2 di masa sekarang.

  2. Waaah, makasih Iraaaa. Gw jadi mikir dan ngelihat ke dalam diri sendiri ini jadinya habis baca ini. Berat dan dalem bener ya konsep pendidikannya ini. Tapi gw yakin kalo bisa ter-apply dengan baik banyak manusia bahagia tercipta kayaknya…

    • Iya mas Dani, aku pun ngerasa kayak gitu dan aplikasinya pasti ga gampang soalnya kayak yg sempurna banget gitukan. Tapi kalau ga coba dilakukan kita ga akan pernah tahu hasilnya🙂

  3. Pingback: Desember | Coklat dan Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s