Melarikan Diri Ke Bali

Saya pergi ke Bali bulan Oktober tahun lalu. Seperti judulnya, tujuan utamanya adalah untuk melarikan diri. Tujuan lainnya untuk menghadiri Ubud Writer and Reader Festival *yang sayangnya tahun ini ga bisa dateng ke sana T__T*.

Kalau pembaca blog saya dari tahun lalu udah khatamlah ya apa yang terjadi beberapa bulan sebelum akhir tahun 2014. Pergi ke Bali ini juga ga ngoyo-ngoyo banget, ga bikin rencana jalan yang jelas. Inginnya hanya leyeh-leyeh menikmati Bali dan melihat diskusi panel para penulis di Ubud Writer and Reader Festival.Β Kalau melihat foto-foto saya selama di Bali, itu adalah hasil menghilangnya 8kg berat badan. Beda banget sama sekarang yang sudah kembali tembem.

Saya di Bali selama satu minggu. Dua hari di Kuta, dan sisanya di Ubud. Saya dan temen seperjalanan, Muti sudah membeli tiket penerbangan Bandung-Bali untuk pulang pergi sejak bulan Juli. Kami berdua hanya melihat bulan Oktober itu memang memungkinkan ke Bali, apalagi ada tanggal merahnya. Di luar dugaan, saya lupa kalau tanggal merah itu adalah Hari Idul Adha!! Jadilah ini pertama kalinya saya merayakan hari besar Idul Adha jauh dari keluarga. Jadilah ga berasa lagi Idul Adha. Apalagi di hari itu saya masih di Ubud dan kebetulan lagi sedang datang bulan sehingga tidak bingung untuk cari Masjid buat sholat Idul Adha.

Selama di Bali ini saya sempat pergi ke beberapa tempat seperti Kute, Garuda Wisnu Kencana, pantai Dreamland, nyobain makan seafood di Jimbaran, dan tentu saja ke Ubud! Semoga bisa diceritain satu-satu ya nantinya. Salah satu tempat yang sudah saya ceritakan adalah restoran vegetarian di Ubud yang bikin kangen, Clear Cafe. Saya banyak jalan loh di Bali, benar-benar mencoba menajamkan setiap indra, melihat sebanyak mungkin yang bisa saya lihat, dan berdialog bolak balik dengan diri sendiri.

Perjalanan melarikan diri ini benar-benar membuat saya banyak berpikir, dari setiap sudut, menggali setiap ingatan untuk menemukan sebuah jawaban. Saat di Ubud, saya masih susah untuk makan. Masih mual kalau kebanyakan makan dan mikir. Jadilah lebih memilih leyeh-leyeh sambil baca novel.

IMG_1389memandang Bukit Campuhan dari Museum Antonio Blanco

Mungkin karena banyak mikir dan cerita sedih di bulan-bulan saya ke Bali, sampai saya malas untuk menuliskan apa yang saya alami di Bali. Baru sekarang mulai ingin bercerita soal Bali. Terus kangen pengen mantai. Kapan ya bisa ke Bali lagi? Semoga tahun depan diperbolehkan kembali ke Pulau Dewata, dengan hari yang lebih lapang, dan niat bermain yang lebih kuat, aamiinπŸ™‚

7 thoughts on “Melarikan Diri Ke Bali

  1. Ubud Writers and Readers Festival itu kayaknya memang keren banget yak :hehe. Kemarin saya juga habis jalan dari Ubud, cuma tidak menginap, lha wong niatnya cuma ingin makan siang doang (peer banget yak makan siang saja mesti ke Ubud :hihi). Tapi tak apalah, yang penting bisa menyambangi tempat-tempat wisata yang unik selain pantai :hehe.
    Ayo, ditunggu tulisannya soal Bali! Senang atau sedih, setelah dituliskan pasti akan merasa lebih baik. Amin, moga-moga tahun depan bisa ke Bali lagi, apalagi kalau mau mensponsori saya :haha.

    • aku bacanya bakal disponsorin ama Gara loh ke Balinya :p

      iya, semoga bisa segera dituliskan yak ini, draftnya sih udah ada, tinggal editnya aja ini. Iya, biasanya setelah nuli ssuka jadi lebih baikπŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s