Mengasah Rasa Bahasa

Dalam rangka memperbanyak kosa kata dan mengasah rasa bahasa, jadi mencoba untuk mencari-cari kata Bahasa Indonesia yang sebenernya keren-keren.

Ketika kita berbicara mengenai pengalaman berbahasa, saya mau berbagi sedikit teori, pemahaman, serta laporan pandangan mata serta pendengaran saya terhadap pengalaman orang-orang disekitar terhadap perkembangan bahasa untuk anak-anak.

Apabila merujuk ke perkembangan bahasa, terkadang sebagai orang dewasa, sering kali kita saya mengubah beberapa kata menjadi lebih imut ataupun dicadelkan ketika sedang berbicara dengan anaknkecil, seperti kata “makan” menjadi “mamam”, “tidur” menjadi “bobo”, ataupun “sayang” menjadi “tayang”. Selain itu, dulu saya juga sering menggunakan banyak kata-kata yang mudah untuk dipahami anak ketika sedang berbicara, mengarang cerita, atau memilih bacaan untuk anak. Padahal menurut beberapa jurnal penelitian yang saya baca, apabila kita ingin anak mendapatkan banyak kosa kata baru, maka lebih baik kalau mereka mengenal banyak kata, mulai dari yang biasa hingga yang asing didengar. Ketika ia tidak memahami kosa kata yang diberikan, saat itulah akan muncul keingintahuan mengenai arti dari kata tersebut. Sehingga rasa bahasanya menjadi lebih kaya.

Untuk dapat memperbanyak kosa kata ini, selain kita sebagai orang dewasa berbicara menggunakan kata-kata yang sering kita gunakan, dapat dilakukan juga dengan membacakan anak buku cerita, ataupun mendongeng. Bahasa-bahasa yang ada dibuku cerita seperti buku nabi, cerita rakyat, ataupun dongeng dari luar negeri, terkadang menggunakan beberapa kata-kata yang jarang kita ucapkan. Hal ini tentu akan menjadi pembelajaran baru untuk anak yang akhirnya dapat mengasah rasa bahasa mereka.

Selain itu, alangkah lebih baik ketika di masa awal, anak diajarkan untuk menggunakan bahasa yang menjadi bahasa ibu. Seperti contohnya ketika saya kecil, ibu saya berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia akan menjadi bahasa pijakan untuk saya ketika berada di lingkungan luar rumah, seperti saat berinteraksi dengan anak tetangga, tukang sayur, tukang becak, atau pun guru di sekolah. Oleh karena itu terkadang saya tdak menganjurkan anak untuk diajarkan Bahasa Inggris hingga usia SD. Hal ini dikarenakan untuk mematangkan terlebih dahulu bahasa yang menjadi pijakannya nanti ketika berinteraksi dengan orang disekitar.

Ketika kita mengasah rasa bahasa, mempelajari secara mendalam satu bahasa terlebih dahulu, tentu ketika membicarakan sebuah emosi nantinya tidak hanya ada kata “galau” tetapi bisa menjadi “saya sedang syakwasangka, mau minum kopi atau cokelat panas di hari yang mendung ini”.

*Gambar-gambar di atas diambil dari sini

24 thoughts on “Mengasah Rasa Bahasa

  1. Rekomendasinya sampai SD ya Ra? Gw sudah mulai kenalin bahasa Inggris dengan sebut apa vocab dari yang kita omongin di Bahasa Inggris sih. Tapi gak sampe yang percakapan. Bagus postingannya! 🙂

    • Rekomendasinya awal SD sih mas Dani kalau mau mulai ngajarin bahasa kedua. Sebelum itu, lebih baik dikuatin Bahasa Ibunya dulu. Terima kasih Mas Dani, semoga bermanfaat tulisannya🙂

  2. Iya, banyak kata yang sebenarnya asli dari bahasa Indonesia, tanpa harus berasa terjemahan atau serapan. Meski serapan juga gejala bahasa yang turut memproduksi kata, tapi sebenarnya banyak kata-kata asli yang dapat kita pakai tanpa harus meneguhkan gejala serapan itu. Berabe juga sih kalau bahasa Indonesia tapi isinya kata-kata bahasa Inggris yang di-Indonesiakan… :hehe.

    Mari banyak membaca!

  3. Ira, setuju banget!!! Saya heran dan gak setuju sama orang dewasa yang gaya bahasanya ke anak kecil apalagi bayi dibuat sok imut gitu (minum susu jadi mimi cucu, makan jadi mamam, sayang jadi chayang, dll..dll..). Menurut saya sebaiknya ajarkan saja bahasa yang benar dan sesungguhnya sejak awal.
    Kebetulan anakku umurnya baru 1 bulan, tapi saya sudah membiasakan bicara dengan gaya bahasa yang benar ke dia bahkan sejak dalam kandungan.. Dan meski suamiku penutur asli bahasa Inggris, tapi saya biasakan bicara bahasa ibu (Sunda) ke anakku terutama ketika saya sedang berdua saja dengan dia.

    • untuk beberapa kata yang berhubungan dengan bahasa teknologi seperti gawai, unduh, unggah, tetikus masih terasa asing ya mbak ditelinga. Aku juga dapet beberapa kata baru dari baca majalah dan koran😀

  4. Halo Ira,
    Setuju dengan ; anak kecil sebaiknya diajarkan bahasa ibunya dulu, kalau bahaa ibu sudah bagus baru dikenalkan dengan bahasa kedua. Karena sering orang tua menggunakan bahasa asu g kpd anaknya yg masih dibawah 5 tahun misalnya, adapun bahasa asing yg digunkan si ortu secara grammar atau pun pengucapan tidak benar, yg ada si anak malah jadi bingung dan ada kemungkinan menggunakan bahasa asing dengan pengucapan dan grammar yg salah.

    • iya Mbak Ria, takutnya ketika kita mengajarkan bahasa asing yang pengucapannya salah, jadi membuat anak salah menyerap maknanya juga.
      Kata-kata ini jarang digunakan soalnya, padahal menurutku bagus, makanya aku ambil beberapa kata dan ditaro ditulisan ini😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s