Jodoh

Sejauh apapun berpaling, kalau jodoh akan kembali dipertemukan

Saya lupa, apakah sudah pernah menuliskan soal ini di wordpress atau belum, kalau ga salah sih masih cerita dikit-dikit gitu. Beberapa hari ini saya selalu kepikiran mengenai kegiatan yang sedang saya kerjakan. Soal lingkungan di sekitar, kerjaan, kuliah, dan pertemanan.

Saya bukanlah orang yang menyukai mengajar orang lain, tapi saya suka berbagi. Saya juga tidak begitu menyukai area pendidikan karena menurut saya mendidik identik dengan guru dan menggurui. Saya termasuk yang tidak suka digurui oleh orang lain, jadi yah ga tertarik aja.

Seperti pembuka tulisan ini, sejauh apapun saya berpaling, saya selalu kembali ke area pendidikan. Mari kita telusuri. Saat SMA saya diminta bergabung dengan sebuah organisasi pemuda yang berisikan anak SMA dan mahasiswa. Kerjaannya adalah membantu organisasi di atas kami untuk membagikan buku ke sekolah-sekolah terpilih. Seru banget rasanya bisa ngasi masukan buku dan novel untuk perpustakaan sekolah. Setelah kegiatan selesai, dilanjutkan kegiatan pelatihan untuk guru dan murid hingga perlombaan. Menyenangkan rasanya mengembangkan kemampuan diri dan orang lain.

Saat dibangku perkuliahan, saya sebenarnya tertarik dengan psikologi positif dan mengembangkan orang lain untuk lebih baik lagi. Saya merasa mungkin itu bisa dilakukan dengan psikologi klinis. Saat Kuliah Kerja Praktek maupun skripsi, saya berusaha menggunakan kasus-kasus klinis. Ternyata, usaha saya di skripsi akhirnya diarahkan lebih kepada pendidikan. Balik lagi ke jalur yang beberapa tahun terakhir saya kuliah jarang disentuh.

Pun saat akan melanjutkan kuliah profesi psikologi. Di akhir perkuliahan strata satu, saya mulai mencoba bekerja di bidang psikologi industri dan organisasi. Mulai dari melakukan psikotes, skoring, hingga wawancara. Tentunya saat awal mendaftar di sekolah yang berada di Depok, saya memilih untuk masuk ke Psikologi Industri dan Organisasi. Gagal dong!! Ga keterima T_T . Di gelombang selanjutnya, saya berpikir untuk mengikuti cita-cita tak tergapai saat jenjang strata satu,  masuk psikologi klinis dewasa. Ga keterima juga!! *mulai putus asa*. Akhirnya saya mendaftar ke magister kampus saya terdahulu dan lulus. Saat ditanya mau masuk jurusan apa, entah mengapa saya memilih jurusan pendidikan. Saya juga sampai saat ini masih menjadi asisten laboratorium psikologi yang kerjaannya juga share ilmu kepada adik-adik kelas.

Berhubung saya suka penasaran, saya mencari pekerjaan lain yang berbeda, menjadi associate di sebuah biro konsultan yang banyak bergerak di bidang industri. Belum lama saya di sana, dua orang teman mengenalkan sekolah tempat mereka bekerja. Kedua sekolah ini sama-sama unik dan membuat rasa keingintahuan saya tergelitik. Salah satu sekolahnya, sering mengadakan diskusi bareng untuk membicarakan pendekatan yang dianut sekolah yang mulai beroperasi di tahun depan. Seru banget!! Saya juga lagi ngebantuin temen yang senang membuat pelatihan-pelatihan terkait keahlian di bidang psikologi. Ah lagi-lagi soal mendidik dan mengembangkan orang.

Saya teringat, mungkin memang inilah jawaban dari doa-doa saya dari SMP. Serasa selalu dikasi tahu jalannya, dikenalkan dengan orang-orang yang luar biasa, dan  lingkungan yang tidak hanya membuat saya menjadi lebih baik, tetapi juga mengembangkan orang lain agar menjadi lebih baik lagi.

17 thoughts on “Jodoh

  1. Postingannya inspiratif sekali, Mbak. Memang ‘jodoh’ itu nggak bisa kita predikai ya🙂. Yang dikira ‘gue banget’ belum tentu yang terbaik🙂

    • Syukurlah Ami kalau postingannya bisa menginspirasi.
      Iya mi, kadang kita ditunjukin yang terbaik buat kita, bukan apa yang menurut kita baik

  2. Bener juga memang ya Ra. Kalau memang jodoh gak akan kemana itu bener ya ternyata. Seru sekali Ra menggeluti passion. Gw bisa membaca betapa dirimu suka dengan yang dilakukan🙂

  3. Iya, kalau Tuhan sudah menakdirkan kita untuk jodoh dengan satu bidang, maka sejauh apa pun kita pergi, Tuhan akan membuat jalan dan mengembalikan kita ke bidang itu ya Mbak :hehe. Dari tulisan ini saya juga belajar bahwa sesungguhnya Tuhan tahu apa yang terbaik bagi umatnya, maka ketika kita berada dalam satu bidang yang mungkin tidak begitu kita minati pada awalnya, kita cuma mesti percaya kalau semua pasti terjadi dengan suatu maksud, dan ketika kita tetap bertahan, maka hadiah dan hikmahnya akan besar banget.

    Terima kasih ya Mbak sudah menulis ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s