Obrolan Warung Pasta

– karena ngobrol di warung kopi sudah terlalu mainstream

Psychology facts here!salah satu hasil obrolan

Kali ini saya ga mau ngreview tempat makan itu kok. Ini sih kebetulan aja ngobrol ngalor ngidulnya di sana. Selain itu, kita memang lama banget banget nongkrongnya. Sebut saja dari jam 12 siang sampai jam 07.30 malam. Saya sempet ke kantor temen dulu sih di sela-sela itu sekitar satu jam dan kembali lagi ke sana.

Jadi, hari Kamis malam, tiba-tiba kakak tingkat di S1 dulu ngajak ketemuan untuk bertukar tv series disertai makan dan ngobrol cantik gitukan. Tentu saja saya iya-in, karena ada beberapa tv series yang lagi pengen ditonton setelah menamatkan Grey’s Anatomy. Sebut saja nama orang-orang yang saya temui ini Zn dan W.

Obrolan dibuka sambil memesan cemilan terlebih dahulu. Saya memesan fried mushroom dan Zn memesan cheese ball, minumannya pilih lemon tea dan green tea. Dua duanya refill. Iya, kita udah feeling bakal lama banget nongkrongnya. Awal-awal masih ngobrolin kesibukan masing-masing. Saya dengan kegiatan sidang profesi, ngerjain proposal thesis, dan soal kerjaan sebagai asisten laboratorium. Sedangkan Zn ngomongin soal kerjaan dan lingkungan kerjanya. Tentu saja obrolannya jadi meluas soal nanya kabar dosen A, B, C, kemudian nanya soal si D, E, F, sampai berita-berita yang menggemparkan😀 .

Apakah kita ngegosip? Tentu tidak!! Kita saling betanya soal kabar orang-orang di sekeliling. Apalagi kitakan beda angkatan, jadi sekalian nanya kabar anak-anak diangkatan masing-masing plus pada kerja di mana *yah kitakan ga pernah tahu kalau tiba-tiba ada yang nawarin kerjaan*. Selain itu, jadi nyerempet-nyerempet ngobrolin soal s2. Jadi Zn sedang berpikir untuk melanjutkan S2, tapi masih bingung mau ambil profesi atau terapan, kemudian mau ambil profesi bidang apa. Saya yang sedang menempuh kuliah ini jadi bisa ngasi gambaran soal kuliah di profesi, kemudian ngasi tahu juga alasan saya memilih bidang pendidikan. I love to develop people and I can do that in educational psychology. Lagipula yang namanya profesi pendidikan masih bisa loh bekerja di perusahaan, tetapi memang bukan di bidang recruitment atau pun generalis HRD, tetapi lebih ke training and development. Walaupun begitu, memang keunggulan apabila memilih bidang psikologi terapan adalah kita bisa lebih menerapkan kepada bidang pekerjaan yang sedang kita jalani. Misalnya orang yang menyukai wilayah masalah-masalah sosial dan bekerja di LSM, komunitas, atau di perusahaan yang bergerak di masalah-masalah sosial (yang banyak banget di negeri ini) bisa memilih bidang terapan Intervensi Sosial.

Ditengah-tengah obrolan ini, W baru dateng dan ngajakin untuk memesan makanan. Jadilah saya memesan sweety pow, Zn memesan mac and cheese, dan W memesan snowy chip serta blackcurrant tea yang refill. Sambil makan dilanjutin bahasannya ke masalah kerjaan yang ditawarkan oleh W. Kebetulan ia bekerja dibidang kebencanaan dan lagi banyak banget bencana alam yang terjadi, sehingga membutuhkan psikologi untuk membantu menangani post traumatic stress disorder (PTSD). Ngobrol kayak gini, tentu saja teori-teori psikologinya dipakai semua. Ujung-ujungnya jadi diskusi teori dan mencari tambahan informasi soal teori tersebut. Obrolannya jadi meluas juga ke pelatihan-pelatihan dan cara-cara melakukannya. Hal ini jadi dibahas ketika ngomongin soal banyak orang-orang di daerah terpencil yang membutuhkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuannya sehingga bisa hidup dengan lebih baik lagi.

Sambil ngobrol dan sadar, makanan habis, W berinisiatif buat memesan pizza. Enyaakk pizzanya, kejunya meleleh banget. Sambil ngunyah pizza kita kembali ngebahas soal proyek dari W ini. Ditambah juga kita berganti informasi soal tren alat tes yang digunakan dan harga dari jasa kita. Di sela-sela obrolan inilah saya sempat pergi sebentar. Begitu kembali, sudah ada pandan cake aja di depan mata😆 .

Obrolan menjelang malam adalah mengenai perubahan yang terjadi kepada orang-orang disekitar kita. People change. Pilihannya tetap sama, menjadi lebih baik lagi atau mau berdiam diri atau lebih parah menjadi lebih buruk. Selain itu, kita juga membicarakan bagaimana kita sebagai anak psikologi lebih sering jadi tempat curhat dan dianggap bisa membantu menyelesaikan masalah  yang ada. Tetapi suka banyak yang lupa, kalau mahasiswa psikologi itu juga manusia, kadang lelah. Akhirnya, kalau mau cara paling gampang ketika menghadapi suatu masalah adalah don’t sweet the small stuff. Jangan membesarkan masalah-masalah yang sebenarnya mudah. Ketika wilayahnya sudah jelas-jelas hitam, coba jangan diabu-abukan. Ketika perilakunya salah, ya jangan mencari alasan untuk membenarkan perilaku yang salah. Kita perlu mengerti dan berempati sehingga seseorang melakukan perilaku tertentu, tetapi ketika salah, ya ga bisa jadi benar.

Akhirnya, saya sungguh-sungguh bahagia dengan pertemuan kemarin. Bahasan-bahasannya benar-benar membuat saya lebih banyak menerima informasi-informasi baru. Terima kasih banyak Zn dan W untuk obrolannya. Dipikir-pikir kita minum teh sampai bergelas-gelas loh itu😀

7 thoughts on “Obrolan Warung Pasta

  1. Obrolan kalian seru dan keren sekali. Kalau saya mungkin malah lebih fokus ke makanannya ketimbang ke topik obrolannya *ya iyalah, pinginnya makan terus sih :haha*. Tapi memang damai banget sih dunia, obrolan seru bersama teman baik di tempat enak dan makanan yang sedap :)).

    Iya, dalam hidup memang banyak pilihan, entah mau jadi lebih baik, atau lebih buruk, atau diam di tempat dengan tidak memilih dan membiarkan kesempatan itu berlalu, semua kembali ke diri orangnya masing-masing, ya. Soal melanjutkan pendidikan juga memang mesti dengar pendapat banyak orang sih, habisnya ini menyangkut masa depan :hehe. Top deh kalian, Mbak :hoho.

    • iya Gara, kalau soal melanjutkan kuliah itu, perlu dipikirkan masak-masak, mau dibidang apa, ke depannya kira-kira seperti apa, karena tenaga, usaha, dan waktu yang diluangkan untuk melakukannya berharga banget

      • Iya, ibarat kata investasinya memang besar sekali, jadi sebisa mungkin tidak boleh ada kekeliruan barang sekecil pun :hehe.

  2. Mmmm… Minuman isi ulang, hidangan utama, dan tiba-tiba pizza hahaha. Obrolannya edukatif sekali ini. Sering juga waktu dulu meski di virtual game sama temen. Biasanya di virtual game yang saya mainin itu isinya sbagian besar < 16 lah (yang masih labil dan suka aneh), tapi kita malah ngomong yg lebih berbobot gitu.

    "sebagai anak psikologi lebih sering jadi tempat curhat dan dianggap bisa membantu menyelesaikan masalah"

    Yep sudah dilabel + superglue banget ini mah. xD

    • kadang kita ga tahu di tempat seperti apa bakal dapet obrolan ngalor ngidul yang berakhir bikin mikir🙂

      iya, kalau soal labeling itu, ya sudahlah, anggep aja doa dan semoga bisa sesuai dgn harapan dari si pelaku curhatnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s