Pelajaran Budi Pekerti

Tahu gaĀ sekarang itu tidak ada pelajaran khusus budi pekerti di sekolah? Saya kaget luar biasa mengetahui hal ini. Terus apa yang dipelajari selama PKn atau Pendidikan Kewarganegaraan? (soalnya zaman saya sekolah pendidikan budi pekerti termasuk di pelajaran ini) Mereka lebih banyak belajar tentang organisasi di dalam negara. Dari manakah anak-anak mendapatkan pelajaran budi pekertinya? Porsi terbesarnya adalah dari mata pelajaran agama.

Saya baru menyadari belakangan betapa pentingnya pelajaran budi pekerti yang biasa ada di mata pelajaran PMP atau PPKn (yang sesuai kurikulum, namanya sering berubah šŸ˜ ). Saat sekolah dulu saya tidak mengerti mengapa kita harus belajar soalĀ perbuatan terpuji dan tercela. Terlebih saat ulangan, kebanyakan orang saya lebih banyak mencari jawaban terpanjang dan terbagus. Tetapi berkat mata pelajaran itu, saya jadi tahu mana yang baik dan benar. Minimal saya tahu kenapa ga boleh mencuri atau mengejek teman.

Bukan berarti saya tidak setuju kalau budi pekerti dimasukkan ke pelajaran agama. Tetapi apakah setiap kita belajar agama akan mempelajari budi pekerti? Seingat saya dulu, ketika belajar agama yang dipelajari adalah soal sejarah, budi pekerti, hingga hapalan ayat. Jadi nilai-nilai budi pekerti itu tidak dipelajari setiap minggunya. Inilah yang menurut saya kurang maksimal.

Saya tahu bahwa penerapan budi pekerti ini sifatnya fleksibel, bisa diterapkan di setiap mata pelajaran. Tetapi bagaimana dengan penerapannya di sekolah? Lagi-lagi kebanyakan sekolah hanya mementingkan aspek kognisi. Padahal kalau merunut kepada pendidikan yang disampaikan Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran (intelek), dan jasmani anak-anak.

Membuat anak menjadi pintar secara kognisi jauh lebih mudah daripada membuat anak pintar secara budi pekerti. Sedih rasanya melihat anak yang terkadang berani melawan orang tua dan guru, bersikap kasar ke orang lain, suka terlambat, ataupun mencontek. Apalagi kalau melihat banyaknya tayangan yang mengandung kekerasan baik secara fisik maupun perkataan dan ditonton tanpa bimbingan dari orang tua, anak menjadi lebih mudah untuk mencontoh perbuatan-perbuatan tersebut. Dulu kalau salah, saya ga berani sama sekali menatap mata mama atau papa. Padahal belum dimarahin loh itu. Baru ditanya “kok pulangnya telat?”. Buat ngebela diri aja udah tidakĀ sanggup. Coba kalau melihat kejadian saat ini, kebanyakan anak-anak akan berani menjawab tanpa merasa bersalah.

Memang tidak semua anak memiliki budi pekerti yang seperti di atas. Ini adalah kasus-kasus yang sering saya temui di sekolah. Saya juga suka menemukanĀ anak-anak yang memiliki rasa empati dan kasih sayang yang besar, memiliki tata krama yang baik, dan sopan. Bahagia sekali melihat mereka tumbuh tidak hanya terpatok masalah kognisi saja, tetapi juga emosi dan moralnya.

Masih banyak pr untuk dunia pendidikan di Indonesia, pr untuk semua orang baik sekolah, guru, orang tua, atau psikolog sekolah. Seperti yang disampaikan Bapak Anis Baswedan, mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik.

mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik
-Anis Baswedan

Selamat hari pendidikan nasional!