Prokrastinasi

pict from someecards.com

procrastination atau prokrastinasi merupakan bentuk kata kerja dari procrastinate yang berarti “to postpone, put off, defer, prolong“. Kata ini berasal dari gabungan dua kata Latin, yakni pro yang berarti “forward” serta crastinus yang berarti “belongin to tomorrow“. forward it to tomorrow atau istilah lainnya “I’ll do it later“.

Menurut Burka dan Yuen (2008), prokrastinasi adalah perilaku menunda-nunda suatu pekerjaan di mana seseorang merasa terganggu dengan penundaannya tersebut karena adanya rasa takut. Prokrastinasi dikatakan menjadi masalah ketika prokrastinator (orang yang prokrastinasi) merasakan konsekuensi dari perilaku menundanya. Konsekuensi yang didapatnya bisa berupa konsekuensi internal ataupun eksternal. Konsekuensi internal dapat berupa rangkaian perasaan dari merasa sakit hati dan menyesal hingga menyalahkan diri sendiri serta putus asa. Sedangkan konsekuensi eksternal dapat berupa shock yang timbul ketika ada hal yang terjadi di luar prediksi, seperti terkena hukuman ataupun sanksi.

Burka dan Yuen dalam bukunya Procrastination: Why you do it and what to do about it mengatakan procrastinator akan melalui beberapa fase dalam sikuls prokrastinasi. Saya pribadi menyebutnya sebagai lingkaran setan yang #rauwisuwis. Fase tersebut adalah “Saya akan memulai lebih awal saat ini”. Saat menerima suatu tugas, prokrastinator akan penuh dengan harapan bahwa kali ini ia akan mengerjakaannya dengan baik. Walaupun ga ingin mengerjakannya sekarang, ia tetap yakin akan dapat mengerjakannya secara spontan tanpa direncanakan.

Kemudian, waktu berlalu dan harapan berubah menjadi kekhawatiran. “Saya harus mulai secepatnya”. Prokrastinator mulai merasakan tuntutan untuk mengerjakan tugas, tetapi garis mati masih jauh, masih ada harapan untuk mengerjakannya di lain waktu. “Bagaimana jika saya tidak mulai mengerjakan?”. Waktu semakin sempit, idealisme untuk mengerjakan tugas secara sempurna luntur sudah. Pikirannya sudah bukan “harus mengerjakan tugas” tetapi “apa yang terjadi kalau tugas ini tidak dikerjakan?”.

Mulailah tahap penyesalan. Walaupun begitu, prokrastinator tetap optimis berpikir “masih ada waktu” walaupun kecil kemungkinan tugas dapat diselesaikan tepat waktu. Prokrastinator tetap berharap ada keajaiban yang datang untuk menyelesaikan tugasnya. Prokrastinator kemudian mulai berpikir “ada yang salah dengan diri saya”. Ia berpikir tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain sehingga tidak dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Pilihan untuk mengerjakan tugas atau tidak harus dilakukan oleh prokrastinator. Garis mati semakin dekat.

Apapun pilihannya, prokrastinator akan merasa lega terbebas dari konflik melelahkan ini. Kemudian perasaan tidak menyenangkan ini tidak ingin dirasakan kembali oleh prokrastinator. Ia pun berjanji apabila ada tugas kembali, ia akan mengerjakannya secara terencana dan tidak akan menunda-nunda mengerjakan lagi.

Terus ketika ada tugas baru apa yang terjadi? Muter lagi deh ke fase awal. Ada yang pernah merasa menghadapi siklus ini?

*sumber buku: Jane B. Burkam PhD., Lenora M. Yuen, PhD., (2008). Procrastination: Why you do it and what to do about it. New York: Da Capo Press

8 thoughts on “Prokrastinasi

    • aku banyak baca di zenhabits.net Nur.
      Baca beberapa buku, salah satu caranya bisa dengan komitmen, ngasi reward ke diri sendiri ketika rencana kecil tercapai, ataupun dengan mengatur kontrol diri.

      Gampang diomongin, tapi dilakukannya memang ga bisa langsung jadi. Pelan-pelan.

      Aku pun masih terus belajar🙂

  1. Seriing siih hahaha Tapi biasanya itu masalah di awal aja, kalo di awal kita mulai “meleng” ngerjain yg gak penting biasanya kebawa ke seharian (kalo saya sih). Beda saat dari awal lgsg foku yg pnting dulu, pasti ga akan jd procrast🙂

    • Aku jg suka gitu, kalau udah mulai ngerjain, bakal lanjut terus. Tapi kalau diawalnya banyak kegiatan ga penting, mau mulai susah banget😆

  2. Pingback: Diatur oleh Emosi | Coklat dan Hujan

  3. Sering banget merasakan kayak gini sampai-sampai pernah menjuluki diri sendiri dengan “my middle name is Procrastination”. Tapi cuma itu, belum ada belajarnya… tapi sekarang saya sedang mencoba menyelesaikan semua tepat waktu (penundaan sekarang hanyalah berupa ujaran, “Nanti-nantilah, masih banyak waktu ini…” #nakal).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s