Pilihan

picture taken from here

Setiap orang akan membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya. Bersyukurlah apabila kita memiliki banyak pilihan dalam hidup. Lalu bagaimana dengan seseorang yang tidak memiliki pilihan? Misalkan saja ketika seorang anak tidak dapat masuk ke universitas yang ia inginkan dikarenakan orang tua menginginkannya masuk ke universitas yang lain? Ketika pilihan itu menjadi terbatas, ia akan menjadi tidak nyaman, cemas, ataupun bingung. Walau begitu ia tetap membuat pilihan apakah mempertahankan keinginannya atau keinginan orang tua.

Bagaimana kalau kita tidak memiliki pilihan? Pilihan seseorang biasanya didasarkan kepada kebutuhan serta tujuan yang ingin dicapai olehnnya. Bagaimana kalau tujuannya pun tidak ada? Bagai mengendarai mobil tetapi tidak tahu mau ke mana. Lebih parah apabila jadinya tujuan tersebut mengikuti tujuan dari orang lain. Jadi ikut-ikutan. Ketika tujuan tersebut tercapai, tujuan siapakah yang kita capai? Diri ini atau orang lain?

Sedang menjadi siapa sebenarnya diri ini? Tujuan saja mengikuti lingkungan. Hingga kapan mau bertahan di sana? Lingkungan selalu berubah. Apabila kita terlalu mengikuti arus, kita tidak akan pernah belajar untuk bertanggung jawab dengan pilihan yang dibuat. Apabila tidak berhasil, kita tinggal menyalahkan lingkungan. Padahal setiap pilihan, akan dimintai pertanggungjawabannya.

Beberapa hari lalu, saya dan beberapa sahabat membahas mengenai pilihan ini. Pertanyaan awalnya berangkat dari “bagaimana kalau pilihannya itu bukan bagian dari hidup yang diinginkan? Tetapi karena lingkungan sekitar cenderung memilih itu, maka dia memilih hal tersebut. Bagaimanakah ia memaknai hidupnya sendiri?”. Lalu saya pun jadi bertanya “bahagiakah hidupnya?”.

Oia, salah seorang sahabat diskusi saya, juga menuliskan hal yang berkaitan dengan obrolan ini diblognya. Siapa tahu bisa jadi bahan bacaan. Terakhir, saya ingin mengutip kata-kata Steve Jobs:
Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. Most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.”

30 thoughts on “Pilihan

  1. life is a choice. pilih kanan atau kiri, maju atau mundur,kesana atau kemari.
    sedangkan bahagia merupakan tujuan, jadi mana yang kita pilih agar bahagia?
    hayoo pilih mana mbak ira, kanan atau kiri hehe

  2. Ira, ada satu komen setelah baca lagi:
    Di saat kita memilih bahagia sesuai keinginan orang lain, kebahagiaan siapakah yang sedang diperjuangkan? Kebahagiaan saya, kamu, atau mereka?

    Komenku adalah:
    Walaupun kita memutuskan memilih karena keinginan orang lain, kita tetap harus bahagia karenanya. Gimana caranya? Karena setiap pilihan datang dengan akibat, maka kita harus menerima akibat itu saat kita sudah memutuskan. Jadikan pilihan dan akibat itu bagian dari hidup yang kita inginkan. Dengan begitu kita merasa memilki dan akhirnya… kita bisa berbahagia karena pilhan itu.IMHO ya

    • AKu setuju dengan pendapat Mas Ryan, ketika kita sudah memilih, maka kita akan bertanggung jawab dengan keputusan tersebut.
      Beberapa minggu lalu, aku dan beberapa temen diskusi soal hal ini, lalu jadi keingetan soal “bagaimana kalau pilihannya itu bukan bagian dari hidup yang diinginkan? Tetapi karena lingkungan sekitar cenderung memilih itu, maka dia memilih hal tersebut. Bakalan bahagian ga ya?”
      Tulisan ini sebenernya lebih mengarah ke sana sih.
      Akupun bikin tulisan ini sambil masih belajar mendalami teori berpikirnya, jadilah masih belum tersampaikan dengan baik ><

      • Oooo. background tulisannya ini toh. Coba tuliskan aja background kenapa tulisan ini timbul Ra. Gak apa kok. Bahkan lebi baik kalau menurut saya. Jadi orang tahu… oh gitu toh. Mungkin mereka bisa kasih pendapat lebih spesifik.
        Oprah pernah bilang, kebahagiaan itu masalah dari dalam diri sendiri. Jadi walaupun kita memilih karena ikut yang lain, tapi karena kebahagiaan itu dari dalam, takkan masalah.
        Mungkin bisa baca di beberapa postinganku soal kebahagiaan. cari bahagia sbg keyword atau happiness.

        O iya… satu lagi. Jangan pernah takut melawan arus.

      • yups, aku masih suka “playing safe” mas Ryan. Ketauan banget ya ini😀

        mangkanya jadi meragu buat nyambungin sama kebahagiaan di paragraf terakhir itu, soalnya belum menemukan kata-kata penghubung yang pas.

        Nah itu mas Ryan, kalau kebahagiaannya dari dalam tentu tidak akan menjadi masalah. Bagaimana kalau kebahagiaannya lebih karena faktor-faktor eksternal?

        Hmmm nampaknya paragraf terakhir ini lebih baik ditarik dulu deh sampai saya bisa mengkaitkan pola pikirnya dengan lebih baik lagi😕

      • Kalau aku bilang sih gak usah Ra. Justru salah satu tujuan menulis kan untuk mendapatkan masukan dari orang lain. Mendapat sudut pandang orang lain untuk hal yang kita punya.

        Faktor eksternal ada tapi hanya sementara – kebahagiaan sejati adalah bagaimana diri kita bisa merasakan syukur atas apa yg dah didapat dan apa pelajaran yg diberikan.

        Kalau saya biasa gini Ra. Begitu dpt masukan yang kira-kira cocok dan baik, saya edit post saya itu dan memasukkannya sebagai bagian postingan itu, cuma ditulis dengan: “tambahan dari xxx (link): ”

      • Wah terima kasih mas Ryan buat masukannya. Akhirnya beneran ngebongkar paragraf terakhir….nanti aku baca lagi tulisannya🙂

  3. Aq sudah memilih sebuah pilihan diluar tradisi keluarga besar dan yea… cercaan kiri kanan emang.. i just tired to be someone else, tired to pleased them.. i just want to be myself.. hehehhe

  4. Pingback: Kumpul Hore | Coklat dan Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s