Sudah Sampai di Mana Thesisnya?

picture taken from here

Saat jadi mahasiswa akhir di jenjang Sarjana, ada satu kata yang “haram” diomongin lengkap. Kata itu adalah skripsi. Jadinya biasa disingkat menjadi “S”. Kalau buat yang menggunakan kata TA, biasanya diplesetin biar lebih sayang dan fokus sama TAnya. Teman saya sampai ganti nama akun plurknya jadi “mencinTAimu” demi menjaga semangat ngerjain TA dan inget terus buat ngeberesin si Tugas Akhir. Teman saya yang lain menamai foldernya jadi “si Sayang” biar kerasa romantis ama skripsi sendiri. Banyak cara ditempuh untuk dekat dan sayang sama urusan mahasiswa tingkat akhir ini. Begitu TA atau skripsinya beres, langsung ngubah nama plurk atau folder skripsi jadi biasa lagi.

Sekarang, ngomongin skripsi udah berasa ngomongin mantan. Tinggal menjadi kenangan. Terusiknya sama pertanyaan tingkat akhir buat mahasiswa S2 “Udah sampai mana Thesisnya?” atau “Udah mulai buat Usulan Penelitian (UP) belum?”, dan sederet pertanyaan mirip lainnya. Kata “Thesis” dan “UP” sekarang jadi musuh besar. Serasa haram banget didengernya *lebay*. Padahal itungannya saya belum semester akhir loh, tapi kedua hal ini mulai mengejar-ngejar terus. Temen-temen saya yang dulu ganti nama di media sosial atau folder thesisnya, mulai kembali menggunakan kata-kata sayang untuk kedua hal ini. Lucu juga sih cara mereka menghibur dan memotivasi diri buat ngerjain ThesisπŸ˜†

Sebagai mahasiswa profesi psikologi, sebelum mengerjakan UP atau Thesis, biasanya kita ada kuliah praktek atau biasa disebut dengan stase. Untuk setiap profesi beda-beda. Untuk anak profesi Psikologi Industri dan Organisasi, biasanya mereka secara kelompok kudu magang di perusahaan dan bikin analisis jabatan atau buat uraian jabatan. Berhubungan ama si organisasi dan printilannya gitu. Untuk anak profesi klinis, mereka perlu cari 10 klien yang terdiri dari dua klien RSJ (Rumah Sakit Jiwa), empat klien dari Lembaga Pemasyarakatan, dan empat klien neurotik. Untuk anak profesi pendidikan, saya perlu mencari delapan klien yang terdiri dari satu kasus SD, satu kasus ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), satu kasus SMP, satu kasus penjurusan SMA, dua kasus universitas, satu kasus lembaga pendidikan, dan satu pelatihan. Semuanya kudu bikin laporan lengkap plus ngonselingin si klien.

Sebenernya sih bisa aja disela-sela ngerjain stase itu kita kerjain UP. Tapi kok yah laporan ini menggunung banget. Iya, semuanya kudu bikin laporan plus bimbingan. Belum dikejer-kejer ketua program studi buat selesaian stase dan kita ngejer-ngejer pembimbingan buat bimbingan. Terus apa kabarnya UP? Kabarnya diangan-angan. Mencoba membayangkan, tapi belum ditulis sama sekali. Sementara sekitar saya dengan pedenya bilang “wah udah semester tiga nih, udah thesis dong yah?”. jawaban saya sih cuma “er,,,masih cari klien dulu. Tapi aamiin banget buat doanya dapet hidayah ngerjain UP”. Anggep aja doa ama motivasi buat segera lulus yahπŸ˜€ .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s