Pola Asuh Jangan Dikambinghitamkan

Sebagai anak psikologi yang lagi banyak nyentuh kasus, biasanya bakalan mengkaitkan setiap masalah berawal dari pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Saat masih kuliah di S1, malah setiap ada masalah atau coba-coba ngedinamikain masalah, jatoh-jatohnya nyalahin pola asuh orang tua yang ga bener. Malah jadi kayak defence kalau kita kayak gini, ya yang salah orang tua.

Sampai saat kuliah s2 di semester kedua salah seorang dosen nyeletuk “kalian kalau liat masalah, usahakan ngeliatnya ga dari pola asuh aja. Coba bayangin, kasian banget ya orang tua udah susah-susah ngegedein anak dengan cara yang menurut mereka paling bener dan disalah-salahin.” Saat dosen itu ngomong gitu, saya dan beberapa teman memang berusaha ga terlalu nyalahin pola asuh dan mencoba melihat dengan lebih bijaksana. Jadi biasanya kita cuma nangkep pola asuh yang diterapin seperti apa dan kontribusinya ke anak hingga seperti apa. Toh setiap kasus juga ga ngelihat masalah dari satu lingkungan, tapi dilihat dari berbagai lingkungan juga.

Sudah satu bulan ini saya bergelut dengan kasus stase satu psikologi pendidikan. Stase sendiri sebenarnya semacam kuliah lapangan agar kita terbiasa dengan kasus-kasus yang akan ditangani saat lulus nanti. Isinya sendiri kalau stase pendidikan adalah mencari kasus anak bermasalah mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi dan juga melihat kasus lembaga pendidikan serta pelatihan.

Kasus pertama saya adalah mengenai anak SD. Saat menangani klien ini, saya merasakan apa yang dimaksud dosen saya di atas. Memang ga bijak kalau ngeliat masalah cuma dari pola asuhnya yang kurang. Toh setiap orang tua saya yakin memiliki kebijakan saat memilih menerapkan sebuah pola asuh. Begitupun ketika sebuah keluarga memilih untuk tinggal bersama keluarga lain dalam satu rumah, ketika kedua orang tua harus bekerja, ataupun ketika memilih menggunakan pengasuh. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Berbagai jalan yang ditempuh agar anak mendapatkan pendidikan yang baik, lingkungan yang baik, dan juga segala hal untuk anak bisa bertahan di masa depan. Tetapi perlu diingat, jangan hanya intelegensi yang perlu ditingkatkan. Penerapan pengaturan emosi dan nilai-nilai moral juga perlu ditanamkan agar anak menjadi pribadi yang baik.

8 thoughts on “Pola Asuh Jangan Dikambinghitamkan

  1. Pola asuhan itu jelas berperan, kalau saya sendiri bilang malah berperan besar. Salah asuh itu ada, tapi menyalahkan pola asuh tidak akan menyelesaikan masalah yang ada bukan?

    Misalnya, di bidang saya, dunia kesehatan, saya melihat banyak orang tua tidak tahu dengan benar bagaimana merawat anaknya jika sakit, bagaimana mengawasi anaknya agar tidak jajan sembarang dan melindunginya dari penyakit. Kadang membiarkan anak-anak tumbuh dalam bahaya yang nyata, misalnya obesitas.

    Hal ini jelas salah kan? Tapi apa iya kita tidak boleh menyalahkan? Kalau mau membantu mengoreksi, maka saya kira kita harus bisa menunjukkan kesalahan mereka. Lalu menunjukkan apa yang sebaiknya dilakukan untuk melakukan koreksi. Setidaknya harapan kita, ini akan membantu mengarahkan ke arah yang lebih baik, bagi si orang tua dan anak mereka.

    Ini baru dari satu sisi, sedangkan pola asuhan memiliki banyak sisi.

    • iya mas Cahya…seperti yang mas bilang diawal…nyalahin polah asuh itu ga akan nyelesein masalah.
      itu yang ingin saya ucapkan juga dipostingan saya…lebih baik ketika tahu ada yg salah dalam pengasuhan, kita segera koreksi.
      kalau orangnya udah besar, harapannya adalah dengan dia yg sekarang bagaimana agar memaksimalkan potensi yang dimiliki dan mengubah yang belum optimal

    • udah dicobain na….ga berhasil mulu -.-
      iya…emang sih pola asuh juga berpengaruh, tapi lingkungan bermain dan sekolah juga berpengaruh

    • iya mbak Noni,,,masih banyak faktor selain pola asuh yang ngebuat seseorang jadi kayak gitu. Ga semua dipukul rata nyalahin orang tua

    • iya banget martil…mulai dari bahas kasus ampe ngedefence selalu deh ke pola asuh mulu…pas stase ini kerasa banget kalau ga cuma pola asuhnya yg salah…justru ada sesuatu dengan orangtuanya yg membuat mereka ngegunain pola asuh kayak gitu…nah itu yg perlu diketahuinya…jadi kita juga bisa berempati ke orang tua dan anaknya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s