Critical 11

20130414_115533

Bukan, bukan,,saya ga akan ngomongin soal cerpennya penulis favorit saya itu kok. Kalau soal yang itu nanti deh. Tapi postingan ini mau ngomongin soal pengalaman saya kemarin saat ke Surabaya.

Buat saya, ke Surabaya kemarin itu adalah pelepasan beban dari tekanan pribadi yang saya rasakan selama beberapa bulan belakangan ini. Niat awalnya sih tetep, buat dateng ke nikahannya sahabat SD, ketemu dengan teman-teman SD, dan bisa makan enak di sana. Walau kejadiannya adalah pesawat delay dan ga sempet ke mana-mana, dan beneran kondangan doang. But I get something from this journey.

Pembimbing konseling yang kemarin sempat memberikan saya waktu untuk konsultasi diri mengatakan bahwa saya memerlukan strategi lain dalam menyelesaikan tekanan yang ada di dalam diri. Perjalanan mungkin efektif untuk itu, tapi masalahnya ga bisa setiap saat dilakukan dan butuh biaya. Yah tapi memang cara ini sih yang saya temukan cukup efektif dan sekarang-sekarang sih, saya juga berusaha terbuka dengan orang lain. Perjalanan ke Surabaya ini adalah salah satunya.

Sometimes we get something from everything that happen around us. Untuk perjalanan kemarin, kesempatan saya melepaskan beban terjadi saat critical 11 minutes flight. Critical 11 minutes flight sendiri adalah tiga menit pertama setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Selama masa critical 11 adalah masa-masa adrenalin saya terpacu karena deg-degan :)). Kemarin, adalah masa deg-degan saya setelah satu tahun tidak terbang. Rasanya saya sedang terbang sejenak untuk melihat masalah saya dari sudut pandang lain dan kembali turun untuk berhadapan dengan masalah saya tersebut. Seolah-olah saya diberi waktu istirahat untuk menenangkan diri dari kejenuhan yang saya alami beberapa bulan belakangan dan melihat semua masalah saya dengan lebih jernih dan objektif. Begitu mendarat di Surabaya, saya menjejakkan kaki di kota tempat saya tumbuh, bahagia rasanya.

Bagaimana dengan critical 11 saat saya pulang? Saya banyak berdoa. Parno banget saat perjalanan pulang karena saya naik Lion Air!! Jadi saat berita Lion Air yang di Bali itu, saya langsung pucat banget, karena keesokan harinya saya pulang naik Lion Air ke Bandung. Perasaan deg-degannya beneran parah banget. Selama 11 menit itu saya benar-benar berdoa dan merasakan sensai adrenalin rush yang luar biasa. Walau begitu sudah di atas, rasa deg-degan udah abis dan jadi capek, akhirnya bobo nyenyak sampai sebelum landing. Pas landing juga kembali deg-degan banget. Apalagi sempet kerasa turbolensi, pesawatnya goyang-goyang. Haduh parnonya parah banget dan makin kenceng berdoa. Begitu mulai terlihat jajaran pertokoan yang saya kenal, saya mulai tenang, dan rileks. Saat akhirnya pesawat landing beban yang saya rasakan, dan perasaan ga enak saya pun jadi hilang. Kaki terasa ringan, dan badan jadi seger. Mungkin efek adrenalin rush yang saya rasakan deh ini.

Perjalanan yang hanya dua hari satu malam, terjebak di bandara karena pesawat delay, ga sempet ke mana-mana, tetap membuat saya bahagia dan dapat melepaskan ketegangan dan beban yang saya rasakan. Alhamdulillah, still get something from this journey.

One thought on “Critical 11

  1. Pingback: It’s Too Personal | Coklat dan Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s