Kuliah oh Kuliah

Tadinya menahan diri banget untuk ga nulis apapun sebelum ada kepastian masa depan yang jelas *tsah basahanya*. Saya memiliki niat berkuliah s2. Hal ini sudah terlintas sejak saya memulai kuliah di s1. Sudah rencana hidup yang saya ungkapkan dari dulu. Saya harus kuliah s2. Setelah selesai skripsi, saya memiliki beberapa pilihan yang bisa saya ambil. Sudah tentu tak sedikit orang yang ngerasa aneh dengan pilihan saya ini. Yups, di zaman kayak gini, tetep ada yang aneh ketika saya bilang mau lanjut kuliah s2. Mereka mengatakan kenapa saya tidak bekerja dulu di sebuah perusahaan, siapa tahu dikawinin sama s2 oleh perusahaan tersebut. Tak perlu pusing soal biaya dan gaji tetap datang setiap bulan. Tapi saya terikat dan saya tidak suka. Alasan kedua dan yang paling penting adalah, jurusan saya saat s1 ini kurang memenuhi harapan pada user di luar sana. Mereka butuh Psikolog, bukan sarjana Psikologi. Banyak yang mempekerjakan lulusan s1 psikologi dengan harapan kami dapat memberikan evaluasi kepribadian secara menyeluruh yang mana itu tidak sesuai dengan kode etik Psikologi. Hanya yang bergelar Psikolog yang boleh melakukan hal itu. Masalahnya, gelar keprofesian ini baru bisa saya dapatkan apabila mengikuti kuliah s2 dengan jurusan profesi. Bukan hal yang mudah memang memberitahukan alasan saya memilih magister. Akhirnya saya jadi suka pura-pura tuli ketika mulai ada yang ngajak debat soal “kenapa ga kerja dulu aja”. Capek meladeninya. Belum lagi ditanya soal kapan nikah. saya punya target dan masih ingin jalan-jalan. Ga mau jadi orang yang udah nikah dan sirik dengan orang yang bersinar ditempat kerja atau iri liat yang lagi liburan.

Bukan berarti selama 10 bulan ini saya terus menganggur. Saya mengasong kok. Saya menjajakan keahlian saya ke teman dan juga biro. Setiap ada proyek mengetes/wawancara/ skoring saya lakukan dengan segenap hati. Saya adalah freelancer sekaligus associate di sebuah biro Psikologi. Bekerja, tapi tidak terikat. Gajinya? Jelas bergantung berapa kali saya mengasong di bulan itu. Saya bahagia, tidak perlu menjual kebebasan saya, bisa mempunyai uang yang cukup, dan tetap bahagia menjalani pekerjaan dan hidup ini.

Sampai saatnya mulai mendaftar kuliah, saya mulai gelisah. Beban dipundak ini terasa berat. Tidak hanya dari orangtua, tap juga dari diri saya sendiri. Saya ingin membuktikan ke orang-orang bahwa saya mampu masuk kuliah di PTN. Saya dulu memilih kuliah s1 di swasta bukan terpaksa kuliah. Ego saya memegang kendali di sini. Saya memilih PTN yang berbeda, saya tidak memilih Bandung karena saya ingin memberi makan ego yang tertidur dan tertutup matanya selama saya mengambil skripsi. Saya ingin memberi makan ideologi yang terkubur saat penelitian yang saya inginkan ditolak karena dianggap hal yang tidak umum dan masih baru.

Hasil kelulusan gelombang pertama keluar, saya tidak lulus.
Sesak dan kesal rasanya. Tetapi saya coba ikhlaskan, mungkin jurusan yang memang saya pilih karena yang terbaik di sana itu memang bukan jalan saya. Akhirnya saya memutuskan ikut gelombang kedua, dengan niat baru, dan jalan yang sesuai dengan cita-cita saya ketika s1 dulu. Semoga kali ini berhasil. Aamiin

*gambar di dapat dari sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s