Alex Chu – Flower Pot

Alex Chu ini adalah seorang penyanyi solo. Sebelum menjalani solo carrier, dia bergabung sebagai male vocal di grup musik Clazziquai Project yang sempat saya bahas diposting sebelumnya. Sebelum sadar kalau dia adalah male vocal grup aliran jazz techno, saya kenal Alex lewat drama “Pasta” (yang juga sempat saya bahas di blog ini). Hihihi di KDrama Pasta, dia kurus sih, jadi sempet ga ngeh gitu :D. Perkenalan saya dengan Alex, berlanjut saat saya baru sempat menonton Variety Show “We Got Married” season 1. Di sini Alex berpasangan dengan Shin Ae. Beneran deh,,lumer saya ngeliat perlakuan Alex ke Shin Ae *mau dongggggg*. Nah di acara ini, kedua pasangan ini sempet break dua bulan karena Alex menyiapkan album solo pertamanya. Sebelum mereka break, Alex sempet nyanyiin lagu berjudul Flower Pot buat Shin Ae. Simak deh liriknya, dalem!!!

Flower Pot

Meol li seo meol li seo meol li seo
geu dae ga o ne yo
I ddeol li neun ma eumeul eo ddeoh ke
malae ya ha na yo
Keu daen

Cheo eum bu teo na ui ma eumeul bbae eod go
Na eul su eobd neun byeong eul nae ge ju eodd jyo
Hwa buni doel lae yo
Na neun neul ki do ha jyo

Chorus
Nan geu dae jageun chang ga e
Hwa buni doel gge yo
A mu mal modhae do pa lal su eobseo do
Ka ggeum keu dae ui mi so wa son gileul padeu myeo
Jam deun keu dae eol gul han eobshi bul su idd gedd jyo

Verse

Meol li do meol li do meol li do
Keu dae ga ga ne yo
Ddeoleo ji neun nun muleul eo ddeoh ke
Dal lae ya ha na yo
Keu daen

Cheo eum bu teo na ui ma eumeul ka jyeodd go
Na eul su eobd neun byeong eulalh ge han geo jyo
Hwa buni doe go peun na neun neul ki do ha jyo

Chorus
Nan geu dae jageun chang ga e
Hwa buni doel gge yo
A mu mal modhae do ba lal su eobseo do
Ka ggeum geu dae ui mi so wa son gileul padeu myeo
Jam deun geu dae ui eol gul han eobshi bul su idd gedd jyo

Nan geu dae jageun chang ga e
Hwa buni doel gge yo
A mu mal modhae do pa lal su eobseo do
Ka ggeum keu dae ui mi so wa son gileul badeu myeo
Jam deun geu dae eol gul han eobshi ba la bol te jyo
Nan geu dae jageun chang ga e
Hwa buni doel gge yo
A mu mal modhae do pa lal su eobseo do
Ka ggeum keu dae ui mi so wa son gileul badeu myeo
Jam deun geu dae eol gul han eobshi ba la bol te jyo

TRANLATION

You come to me from some place far away
My heart trembles, how can I express my feeling?
You stole my heart from the start
And give me an incurable sickness
I want to become a flowerpot. I pray always

I’ll become a flowerpot that sits on your small windowsills
Though I can’t speak or want anything at all
I’ll be able to see you smile and feel your touch once a while
And I’ll be the one gazing at your face as you sleep

You leave me for some place far away
How can I stop my tears from falling?
You had my heart from the start
And made me suffer an incurable sickness
I want to become a flowerpot. I pray always.

I’ll become a flowerpot that sits on your small windowsills
Though I can’t speak or want anything at all
I’ll be able to see you smile and feel your touch once a while
And I’ll be the one gazing at your face as you sleep

I’ll become a flowerpot that sits on your small windowsills
Though I can’t speak or want anything at all
I’ll be able to see you smile and feel your touch once a while
And I’ll be the one gazing at your face as you sleep

Sayang WGM mereka cepet banget dan Shin Ae-nya sekarang udah nikah dengan orang lain. Poor Alex TT____TT

Gambar diambil dari sini
Lirik diambil dari sini dan sini

The Travel Journal

Kalau yang udah sering baca blog saya, mungkin pada sadar kali yah kalau selain suka menggalau, menyampah, dan makan enak, saya juga suka berlibur :D. Sampai-sampai teman kuliah saya kalo dapet proyekan bareng yang ada langsung nyindir “ini mencari segenggam berlian untuk berlibur yah?” atau “Ini yak kalo liat muka si Ira tulisannya liburannn mulu”. Hehehehe *pelukin satu-satu*. Jawaban sayapun akan selalu sama “daripada nyesel, mending sekarangkan?”. Teman-teman sayapun segera mengangguk karena toh alasan saya memang masuk akal :D.

Nah, kemaren-kemaren, saat melihat journ(al)ey di FB, ternyata ada jurnal baru yang bikin pengen punya. Temanya adalah “The Travel Journal“. Jurnal ini sendiri terdiri dari dua ukuran yaitu A5 dan A6. Harganya untuk yang A5 Rp.35,000,- dan A6 Rp.25,000,-. Kalau beli satu set yang terdiri dari sebuah buku A5, A6, dan pembatas buku totalnya adalah Rp.60,000,-. Saya sih memesan yang A5-nya saja. Maklum dulu sudah pernah pesan yang A6. Reviewnya sendiri bisa dilihat disini.

The Travel Journal ini memiliki sampul dengan gambar peta dunia. Warna sampul yang saya pilih adalah red burn. Jadi setelah dicetak, diwarnain lagi pake cat air dan kemudian dilaminasi gitu. Ditambah dengan tali yang membuat rapat si halaman jurnal, menambah kesan tua dan unik untuk dibawa-bawa ketika kita jalan-jalan.

Dihalaman pertama dari jurnal ini, akan ada tempat untuk menuliskan nama kita, in case kalo jatoh dan ditemukan orang.  Saya suka sekali dengan halaman awal ini karena ada gambar pesawatnya. Membuat saya pengen segera berlibur lagi :D. Di sini juga ada space lumayan kosong yang bisa dipake buat ngegambar atau naro foto kita saat liburan loh.

Tiga puluh halaman The Travel Journal ini terbuat dari bookpaper dengan beberapa sentuhan cipratan teh yang memberikan kesan tua pada halamannya. Membuat saya gatel pengen nulis dan bercerita serta memberikan foto-foto hasil perjalanan saya deh. Hihihi let see what I can do in this journal (mulai lihat-lihat foto liburan).

Disetiap akhir jurnal-jurnal yang dibuat, tidak lupa cap “journ(al)ey” ini akan kita temukan. Selain cap khusus ini, kita juga akan menemukan deskripsi jurnal disampul belakang. Kedua hal ini merupakan ciri khas dari journ(al)ey.

Nah buat yang ingin beli dan memesan, sekarang journ(al)ey sedang ada “It Was a Book, Now It’s an Art” Giveaway!! Caranya gampang banget. Kamu tinggal beli jurnal A5 yang bertema “The Travel Journal” seperti punya saya ini. Setelah itu silahkan diisi dan didesain sekeren mungkin terus difoto deh. Kirim hasil kerasi kamu itu ke jurnaley.indonesia@yahoo.com sebelum tanggal 1 Juli 2012. Keterangan hadiah dan info lebih lanjut, kamu tinggal klik link journ(al)ey aja yah ;).

The Vow

 I vow to help you love life, to always hold you with tenderness, to have the patience that love demands, to speak when words are needed, and to share the silence when they are not, to agree to disagree about red velvet cake, to live within the warmth of your heart, and always call it home
Paige

I vow to fiercely love you in all your forms, now and forever. I promise to never forget that this is a once in a lifetime love. 
I vow to love you. And no matter what challenges might carry us apart, we will always find a way back to each other
Leo

Mungkin telat banget yah kalo baru review filmnya sekarang, tapi lebih baik daripada engga. Saya ini penggemar berat film drama yang jarang banget tayang di bioskop Indonesia. Ga tau pangsa pasarnya kurang atau gimana, tapi seriously film drama itu jarang tayang loh di bioskop.

The Vow ini terinspirasi dari kisah nyata pasangan Kim dan Krickitt Carpenter dari New Mexico, Amerika Serikat. The Vow-nya sendiri diadaptasi dari novel karya Nicholas Sparks (yang juga merupakan penulis novel A Walk to Remember). Filmnya berkisah mengenai Paige dan Leo Collins. Mereka bertemu, kencan beberapa kali, dan akhirnya memutuskan menikah *Saya suka banget adegan mereka nikah di museum dan abis ngucap janji nikah langsung kabur karena ketahuan satpam*. Tidak lama setelah menjadi suami-istri, Paige dan Leo mengalami kecelakaan. Paige kehilangan ingatan saat-saat ia bersama dengan Leo. Disinilah diceritakan bagaimana Leo berusaha membantu Paige mengingat kembali masa-masa yang hilang.

Romantic? Yes!! Untuk saya pribadi, film ini tidak membosankan dan tidak bertele-tele. Apalagi menurut saya, film ini berjalan normal dan ngejejak tanah. Leo yang bisa frustasi karena Paige ga inget-inget soal apapun. Paige yang nolak Leo karena terasa asing buat dia. Akhir filmnya juga pas dan ga terlalu dipercepat serta dibuat-buat. Apalagi disini Channing Tatum (Leo) beneran ganteng dan aktingnya juga bagus :)). Rachel Mc Adams yang berperan jadi istrinya juga cantik. Chemistry yang kebangun juga bagus deh.  Filmnya juga bisa ngebuat saya meneteskan air mata *ambil tisu, elap mata*.

Life’s all about moments, of impact and how they changes our lives forever. But what if one day you could no longer remember any of them?
– Leo  

sumber gambar di sini

Menikah

Diumur awal 20-an ini, mau ga mau pertanyaan demi pertanyaan mulai banyak diajukan setiap ketemu siapapun. Mulai dari pertanyaan kapan lulus, udah punya pasangan apa belum, dan kapan nikah. Diawal-awal mungkin akan seru yah ngejawabnya, tapi kalo pertanyaan ini diulang-ulang kayak kaset rusak, errr,,, *garuk tembok*. Pertanyaan yang kayaknya bentuk perhatian atau basa basi ini bener-bener ngebuat jengah deh lama-lama. Saat saya dulu sedang skripsi, terima pertanyaan “kapan lulus?” itu menyebalkan banget. Udah emang belum selesai, stres karena ga maju-maju, dan ini ditanyain kapan lulus. Kalo saya lulus, pasti diumumin kok, minimal foto pake toga bakal saya pajang di FB. 

Saat lebaran kemarin, tiap ditanya udah lulus apa belum, akhirnya bisa dijawab dengan sumringah “sudahhh dong!!!”. Eh lanjut loh kepertanyaan berikutnya “udah kerja?” “kerja di mana?”, “kok mau langsung kuliah lagi sih?”, “ini kapan nikahnya?”. Om, tante, Uwa, Pak De, Bu De, Paman, Bibi,,,kalo sudah ada tanggalnya pasti bakal dapet undangan kok –“.

Hal ini pulalah yang menyebabkan saya belakangan ini ga akan bertanya ketiga pertanyaan itu ke temen-temen saya. Selain tahu ga enaknya ditanya begitu, saya juga ga mau ditanya balik. Mending nanya “Apa kabar?”. Toh nanti kita bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu secara tersirat kok.

Memang, sebagai anggota masa perkembangan dewasa dini (21 -40 tahun) ada beberapa tugas perkembangan yang harus saya laksanakan agar bisa maju ke jenjang perkembangan berikutnya. Fokusnya di sini adalah untuk mencapai interdependensi emosional, sosial, dan ekonomi yang dipusatkan pada harapan masyarakat. Tugas perkembangan untuk dewasa dini ini adalah mulai bekerja, memilih pasangan, belajar hidup dengan pasangan, membina keluarga, mengasuh anak, mengelola rumah tangga, mengambil tanggung jawab sebagau warga negara, dan mencari kelompok sosial yang cocok. Untuk umur saya, empat tugas perkembangan di depan sering sekali ditanyakan. Mengenai bekerja, saya sudah bekerja loh walau sebagai associate dengan jam kerja yang tidak menentu.

Kalau soal menikah,,, hmmm,,,
Belakangan memang sering banget kepikiran soal yang satu ini. Gimana ga kepikiran kalau di home FB mulai banyak undangan untuk datang ke nikahan teman, mulai banyak foto bayi serta balita yang bertebaran. Saya tahu sudah waktunya saya menerima kenyataan bahwa saya harus menghadapi hal ini dan mulai ditanyakan mengenai “kapan menikah?” –____–.

Kalau ditanya kapan sih, ya pengen secepatnya. Apalagi mengingat umur saya, kaka saya, dan orangtua saya yang sudah cukup matang untuk hal ini. Dulu sih punya target pengen nikah sebelum umur 25 tahun. Alesannya biar kalo punya anak bisa begaol bersama *ealah ternyata cetek*. Sekarang? Saya memilih untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke magister untuk mengejar impian menjadi psikolog. Tentunya hal ini membuat rencana umur pernikahan saya jadi tertunda. Maklum, setelah lulus, tentu saya pengen mencicipi dunia kerja dulu, senang-senang dengan uang hasil keringat sendiri. Hal ini saya lakukan agar tidak ada penyesalan ketika sudah menikah nanti. Saya tidak ingin ada kata-kata “coba dulu saya jalan-jalan dulu, sekarang mah boro-boro mikirin jalan-jalan” atau “duh pasangan itu kok enak yah begini begini, saya engga”.

Selain itu, saya sadar betul bahwa menikah itu ga ngomongin soal lamaran dan pestanya doang. Banyak kegiatan lain yang menanti setelahnya. Banyak pos-pos yang harus disiapkan. Saya harus siap soal itu. Ketika mikirin soal itulah, saya kok yah jadi ngerasa belum siap yah? Masih banyak yang ingin saya selesaikan dulu sebelum menikah, masih banyak yang harus disiapkan juga agar puas lahir dan batin.

Jodoh, rejeki, dan kematian itu sudah digariskan, manusia tinggal berusaha. Kalo memang jalannya seperti ini, mari kita jalankan dengan ikhlas dan bersuka ria.

sumber teori: Life Span Development jilid 2, Santrock.
sumber gambar: disini