Berlibur Kilat di Jambi: Hari Kedua

Hari kedua ini dimulai dengan sarapan bareng om dan uwa di Abadi hotel. Saat sarapan, gw baru tahu kalo ternyata hotel ini adalah satu-satunya hotel bintang lima di Jambi. Dulunya sih juga ada Novotel, tetapi udah tutup dan ganti nama jadi Novita hotel. Saat sarapan, gw perhatiin banyak banget orang yang udah siap-siap buat pergi ke lapangan dnegan menggunakan kemeja-celana bahan, kemeja-celana jeans, baju lapangan, dan menenteng backpack atau tas laptop. Selesai sarapan, uwa kembali ke kamarnya sebentar sementara gw dan om mengobrol di lobby hotel. Menurut om gw, banyak orang yang dateng ke Jambi ini kalu engga ke kebon yah ke pertambangan. Untuk sisi pariwisatanya jarang terjamah.

Setelah sarapan, rencana berikutnya adalah pergi ke kebun kelapa sawit. Sebelum memulai perjalan selama satu jam, kita mampir membeli makan siang di restoran padang “Pagi Sore” serta membeli ban untuk truk. Perjalanan selama satu jam ini, gw diceritain kalo diseberang Sungai Batanghari terdapat Jambi seberang. Dulu pusat pemerintahan kota ada di Jambi seberang, tetapi sekarang telah berpindah ke kota Jambi. Saat perjalanan melewati Sungai Batanghari, gw ampe terpukau liat betapa lebarnya sungai ini. Hahahahaha. Setelah melewati Sungai Batanghari, saya melihat di kiri dan kanan banyak rumah berbentuk panggung. Hal ini dikarenakan air sungai yang suka meluap, jadilah dibangun rumahnya seperti itu. Selain karena terletak didekat sungai, rumah di daerah Sumatra dibangun panggung seperti itu karena masyarakatnya dulu yang hidup dari berburu. Jadi untuk menghindari serangan hewan buas gitu.

Melihat pemdangan yang silih berganti mulai dari perumahan, daerah kabupaten, hingga akhirnya gw melihat hamparan kebun kelapa sawit sejauh mata memandang. Saat memasuki area menuju kebun, gw merasakan jalan yang off road abis!! Selain itu ternyata untuk mencapai kebun kelapa sawit, kami harus melewati hutan karet terlebih dahulu. Kemudian gw melihat rumah-rumah penduduk yang walau masih beratap seng dan berdinding kayu, pasti pada punya parabola untuk nangkep program tv. Sesampainya di kebun kelapa sawit, masih harus mengendari hingga 1km untuk mencapai barak tempat pekerja tinggal. Begitu keluar dari mobil, gw bisa melihat mobil udah kotor banget hasil off road. Di barak gw melihat uwa mengutamakan kesejahteraan serta kesehatan pekerjanya. Terlihat dari mulai menyediakan air bersih, menggunakan tenaga surya untuk listrik, sampai tersedia koperasi juga. Setelah mengobrol sebentar dengan mandor mandor yang berada di sana, gw diajak keliling kebun naik mobil. Wah gw bisa melihat kelapa sawit seperti apa, kemudian apa saja yang akan dilakukan ketika pohon ini sudah tidak berproduksi lagi (yang tentu aja ga ninggalin lahan dan buka lahan baru kayak kebanyakan pengusaha kelapa sawit). Gw bisa melihat apa yang diimpikan uwa 10 tahun yang lalu mulai tercapai, mulai menghasilkan. Yups pembangunan kebun kelapa sawit ini ga makan 2 atau 5 tahun, tapi 10 tahun untuk melihat hasilnya. Selain kelapa sawit, uwa juga menanam pohon kelapa kopyor yang setiap tahunnya selalu dibawa om gw saat lebaran. Setelah mengelilingi area kebun, kita kembali ke barak buat makan siang. Nikmat banget!!!

Setelah selesai makan siang, saatnya kembali pulang ke kota Jambi. Mengantar uwa dulu ke hotel, kemudian gw dan om beli pempek Selamat untuk oleh-oleh. Maklum sekeluarga besar gw keknya penggemar berat makanan yang satu ini, ga bawa pempek nampak akan jadi kurang sajen. Di pempek Selamat ini, kita bisa memilih mau paketan pempek untuk dibawa ke luar kota harga berapa. Setelah dari pempek Selamat, kita pulang untuk menjemput tanteku karena tujuan berikutnya adalah beli cemilan dan batik khas Jambi. Jambi memiliki batik loh, untuk motifnya terdapat angso duo, durian pecah, dan kapal. Sayangnya, orang Jambi masih menganggap memakai batik itu untuk ke kantor saja. Jadi saat gw mau beli kemeja batik, modelnya sama semua –“, langsung batal beli kemejanya. Di sini juga susah nyari pernak pernik kayak sapu tangan batik, gantungan kunci bantik, dsb. Nemu yang kayak begini malah di airport dong!! Tempat untuk beli kue-kue juga tidak ada tempat khusus. Nemunya malah di swalayan bernama Mandala.  Untuk makanan khas, sebenernya Jambi tidak memiliki ciri khas, karena orang-orang yang datang ke Jambi merupakan campuran dari orang Palembang dan Padang.

Di Jambi ini, gw menemukan sebuah taman yang keren banget dalam artian bersih dan terawat walau kalau malem gelep dan nampak jarang dipakai. Jadi terlihat hanya sebagai pemanis saja. Oia berhubung keesokan harinya pulang naik pesawat pagi, gw ga sempet berkunjung ke Candi Muaro Jambi. Mungkin lain waktu gw bisa maen ke sana serta mengunjungi museum dan foto-foto di tempat-tempat keren di Jambi. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s