Kamu Orang Mana?

Itulah yang ditanyakan kakak saya ketika kami sekeluarga lagi makan pempek di meja makan. Jawaban hemat saya adalah Indonesia. Saya langsung dikatain bego. Menurut kakak saya ketika ditanya kayak gitu jawabannya harus berupa suku/ daerah di Indonesia. Sayapun balik bertanya, mau menurut apa nih? Tempat kelahiran? Darah? Atau berdasarkan saya besar di mana? Dikatain lagi kalo saya bego, karena menurut kakak saya, pertanyaan “orang mana” itu dijawab menurut kecintaannya atau perasaan bahwa dia tuh paling merasakan bahwa ia adalah orang suku/ daerah mana selama kehidupan kami yang emang rada nomaden (efek papa orang BUMN yang selalu berpindah kota). Sayapun jadi berpikir, sebenernya yang bego itu siapa. akhirnya setelah saya timbang-timbang, ga ada orang bego diantara kami, kami sama-sama sekolah dari TK sampai universitas yang artinya kemampuan IQ kami minimal adalah rata-rata sehingga ga mungkin kami bego. Ini semua adalah masalah persepsi.

Saya mengatakan bahwa saya adalah orang Indonesia, karena itulah yang saya banggakan. Kalo berdasarkan darah, saya memang orang Minang. Apalagi saya benar-benar berdarah Minang. Keduaorangtua saya asli banget darahnya dari suku tersebut. Sehingga bisa dikatakan saya orang Minang tulenπŸ˜„. Tetapi satu yang membuat saya suka dicela sama teman-teman, saya ga suka sambel dan makanan pedas! Kalaupun suka, itupun pilih-pilih. Membuat orang suka berkata saya Minang coret (LOL).

Kalo berdasarkan tempat kelahiran, saya adalah orang Palembang, karena lahir di Palembang. Saya suka sekali dengan pempek, tekwan, dan rujak mi. Saya tinggal selama 5 tahun dalam hidup saya di sana. Sayangnya saya ga terlalu suka cuko, yaitu kuah berwarna gelap yang merupakan pelengkap dari pempek atau rujak mi yang saya sukai. Berpuluh-puluh tahun saya makan pempek tanpa cuko. Kalopun pake kuah, saya membuatnya dari kecap yang ditambah air. Anehnya hal ini hanya saya lakukan ketika makan bareng keluarga saya. Kalo makan pempek bareng teman-teman, saya tidak punya pilihan selain mencoba rasa cuko, karena ketika saya memesan pempek, biasanya sudah ditambahkan cuko yang membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa selain memakannya. Hal ini membuat keluarga saya suka geleng-geleng, lahir di Palembang, makan pempek tapi tanpa cuko membuat saya gagal menjadi orang Palembang.

Kalo berdasarkan tempat saya besar, maka Surabayalah yang saya sebut. Saya besar di kota pahlawan ini. Saya menghabiskan TK-SD-SMP di kota ini. Di kota ini saya pernah mendapat bullying dari teman-teman SD saya. Tetapi berkat bullying itu saya menjadi orang yang kuat dan survive, masih bisa ketawa walau dicela orang. Selalu ada hikmah dibalik cobaanπŸ™‚. Saya mencintai kota ini walau panasnya ampun banget, walau angkot-angkotnya ga kayak di Bandung, di tiap gang ada. Saya mencintai makanannya, soto ayam, mi bakso, mi pangsit, dan rawon. Tetapi saya ga suka petis dan rujak cingur. Padahal makanan ini adalah khasnya Surabaya.

Karena berbagai kekurangan itulah saya lebih senang memilih bahwa saya orang Indonesia. Saya hidup dan besar di negara ini. Lagipula pertanyaan inikan bukan pertanyaan di Lembar Riwayat Hidup saat pemeriksaan psikologi yang mengharuskanΒ  menulis nama suku. Ini hanya pertanyaan mudah dari berbagai orang saat kita bertemu dan saling mengenal. Ketika saya menjawab Indonesia, saya merasa penuh, bahwa ketika kota yang saya sebutkan di atas bergabung di sebuah negara sehingga saya tidak perlu menjelaskan panjang-panjang bahwa darah saya ini, lahir di mana, dan besar di mana. Simpelkan alasan saya memilih menjawab Indonesia?πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s