Menjadi Pembeli yang Mandiri

Sebagai orang Asia, khususnya Asia Tenggara, atau lebih tepatnya Indonesia, gw *kalo ga mau dibilang kita* udah biasa ‘disuapin’ dan dicekokin segala macem hal. Sampai terkadang kalo ga dilayanin dikit yang ada bakal ngamuk dan ngerasa terhina. Mungkin karena itu juga menjadikan maskapai penerbangan dari Asia menjadi favorit banyak orang yang suka dilayani. Senang dilayani, mungkin hal itu jugalah yang menjadikan kita (baca:gw) menjadi manja dan jadi tidak mandiri dalam menghadapi berbagai hal. Karena itulah seseorang kadang akan kaget begitu ada sesuatu yang berbeda dan berbau tidak adanya pelayanan.

Berhubung gw suka makan, gw sering mencoba berbagai tempat makan. Mulai dari yang mahal hingga yang murah, fine dinning hingga kaki lima. Kalo enak dan tempatnya bersih, gw mau aja kok makan di sono. Salah satu tempat makan yang membuat gw menjadi pembeli mandiri adalah Hanamasa. Restoran dengan konsep all you can eat tapi tetep kudu masak sendiri ini adalah salah satu restoran yang menurut gw memandirikan pembelinya dengan cara bertanggung jawab buat masak sesuai dengan seleranya. Jadi ga akan ada komplain soal masak kematengan atau masih mentah karena masakan itu kita yang masak.

Selain restoran, ada satu lagi convenience store yang juga memandirikan pembeli dan surganya buat yang suka kelaperan tengah malam, yaitu 711. Di toko 24jam ini, kita bisa menemukan berbagai jenis panganan dan minuman. Kita bisa membuat campuran minuman sendiri, menuangkan mau sebanyak apa yang kita mau memanaskan makanan sendiri, atau memilih makanan hangat yang sudah ada. Setelah itu bisa kita bayar dan duduk di dalam maupun di luar toko. Uniknya adalah terdapat tong sampah dan juga tulisan “selesai makan buanglah sampah pada tempatnya”. Hal in imembuat kita sebagai pembeli untuk membereskan bungkus makanan yang kita makan dan membuangnya ke tempat sampah. Pelayan di toko 24jam ini sebenarnya hanya bertanggung jawab untuk membantu memanaskan makanan, menambah stok makanan, dan menjadi kasir. Kebersihan toko sebenarnya merupakan tanggung jawab bersama, baik pekerjanya maupun pembelinya.

Satu lagi tempat makan yang menggunakan konsep ini adalah Domino Pizza. Di sana disediakan tempat sampah di ujung-ujung toko. Tujuannyapun sama, untuk membantu pembelinya menjadi sedikit lebih bertanggungjawab dan menjadi pembeli yang mandiri. Untuk mendapatkan pesanan kita, kitapun harus menunggu hingga nama kita dipanggil dan bukannya pesanan kita diantar ke meja. Setelah selesai makanpun ada baiknya kita langsung membuang sisa-sisa bungkus dan gelas plastik makanan kita ke tempat sampah.

Memulai menjadi pembeli yang mandiri adalah salah satu cara untuk menjadikan kita untuk mampu melayani diri sendiri dan bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan ^^v

One thought on “Menjadi Pembeli yang Mandiri

  1. We he he…, kalau di film-film Hollywood kan biasanya tinggal duduk di meja, trus dibawakan menu dan viola, makanan segera disajikan dengan apik😀.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s