Menikmati Pagelaran Ramayana

Siapa bilang anak muda tidak suka menari? Siapa bilang menyukai kesenian tradisional itu tidak keren? Menurut gw anak muda yang menyukai kesenian tradisional itu patut diacungin jempol. Apalagi untuk penggeraknya dan yang tetap berjuang melestarikannya. Dalam kapasitas ini, gw juga masih sebatas penikmat kok, karena menurut gw dengan menikmati sebenarnya gw sudah mulai mencoba untuk melestarikan kesenian tradisional.

Sebagai penikmat, gw kagum dengan kiprah temen-temen gw yang masuk UKM (Unit Kesenian Mahasiswa) yang berhubungan dengan melestarikan kesenian tradisional milik Indonesia ini. Gw berusaha buat dateng ke acara seperti pagelaran angklung dan juga selalu kagum ketika dateng kekawinan dan disuguhi musik tradisional dan tariannya. Salah satu acara yang baru gw datengin adalah pagelaran Ramayana yang digelar oleh temen-temen dari PSTK (Perkumpulan Seni Tari dan Kesenian) ITB.

Sebagai rangkaian dari acara tanggap warsa (ulang tahun) ke-40, PSTK ITB ini menggelar rangkaian kegiatan mulai acara Ganesha membatik, pagelaran Ramayana, dan juga festival gamelan internasional. Gw udah diajakin temen buat ikutan acara Ganesha membatik, tapi berhubung acaranya jam 8 pagi dan gw kesiangan bangun, jadilah ga dateng. Untuk pagelaran ini, gw diajakin dari 2 minggu sebelumnya, berhubung gw selalu kepingin untuk menonton pagelaran ini, gwpun menyanggupi. Tiap ke Yogya gw selalu penasaran dengan pagelaran yang selalu dipentaskan di Candi Prambanan ini, tapi apa daya tiket mahal. Gwpun memilih datang aja ke pagelaran yang ada di Bandung, harga tiketnyapun murah, cukup 15.000 saja๐Ÿ˜€.

Awalnya gw mengira pagelaran ini akan membosankan dan bakal ga ngerti ceritanya karena pagelaran ini akan menggunakan bahasa Jawa. Saat gw tinggal di Surabaya aja, bahasa Jawa ini adalah kelemahan gw, jadilah gw agak deg-degan nontonnya, takut ga ngerti (Walau ternyata 3 orang teman dan pasangan gw juga ga ngerti (LOL) ). Ternyata pagelaran ini disesuaikan dengan yang menonton. Cerita yang awalnya gw kira akan kaku tidak terjadi, karena terdapat humor segar di dalamnya. Misalnya saja ketika di tengah petarungan antara Rama dan Buta Marica sempet-sempetnya Rama minta minum ke yang nyinden dan menyerahkannya ke Buta Marica kemudian melanjutkan pertarungan mereka -___-!!. Pagelaran ini juga ada terjemahan cerita yang sedang terjadi. Sehingga orang yang menonton dan ga ngerti bahasa Jawa bisa mengikuti alur ceritanya.Para pemainnyapun cukup interaktif dengan penonton dan muncul di tempat yang ga disangka-sangka sama penonton, seperti penari yang turun dari bangku penonton, dan ada juga yang turun dari panggung untuk menari di dekat penonton. Tidak hanya itu di tengah-tengah pagelaran pada satu bagian ada yang menggunakan wayang. Ini pertama kalinya gw nonton wayang.

Gw puas menonton pagelaran ini, walau ternyata lama banget. Mulai jam 19.30 dan selesai jam 10.30 lebih!! Di luar ekspektasi gw. Seenggaknya malam itu gw mendengarkan bahasa Jawa yang sudah lama ga gw denger lagi, melihat suasana Jawa yang kental, bagai mengingat masa SD dan SMP dulu.

sumber foto: Facebook Mas Wendy (terima kasih sudah memperbolehkan memakai fotonya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s